OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM

PRAKATA

Selamat Datang

Semangat Hindu merupakan blog bersama umat Hindu untuk berbagi berita Hindu dan cerita singkat. Informasi kegiatan umat Hindu ini akan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan.
Semangat Hindu semangat kita bersama.

Bersama Semangat Hindu kita berbagi berita dan cerita, info kegiatan, bakti sosial dan kepedulian, serta kegiatan keagamaan seperti ; pujawali, Kasadha, Kaharingan, Nyepi, Upacara Tiwah, Ngaben, Vijaya Dhasami dan lain sebagainya.

Marilah Berbagi Berita, Cerita, Informasi, Artikel Singkat. Bagi yang mempunyai Web/Blog, dengan tautan URL maka dapat meningkatkan SEO Web/ blog Anda.

Terima Kasih
Admin

RANBB

---#### Mohon Klik Share untuk mendukung blog ini ####---

Minggu, 23 April 2017

Nyepi, Kerja, dan Kemuliaan Hidup

Nyepi, Kerja, dan Kemuliaan Hidup



Om Swastiastu.
Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam Sejahtera untuk kita sekalian,
Namo Buddayo.

Yang terhormat Presiden RI, Bpk Ir. Joko Widodo
Ketua DPR RI dan anggota DPR RI asal Bali
Ketua DPD RI serta anggota perwakilan Bali
Menteri Agama Republik Indonesia dan Menteri lainnya
Pejabat Tertinggi dan Tinggi Negara
Panglima TNI RI
Ketua Dharna Adyaksa,
Sabha Walak Parisada Hindu Dharma Pusat
Ketua Pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Pusat,
Para Pimpinan Majelis Agama,
Para Pinisepuh Umat,
Para Undangan dan Umat Sedharma yang berbahagia.

Pada tanggal 28 Maret 2017 yang lalu, umat Hindu di seluruh pelosok nusantara baru saja melaksanakan hari raya Nyepi, sebagai penanda awal tahun baru saka 1939. Sebelumnya, dilaksanakan upacara melasti, yaitu upacara penyucian pratima ke sumber-sumber mata air atau laut.

Sehari sebelum Nyepi, umat Hindu secara nasional mengadakan upacara Tawur [ruwatan bumi] yang dipusatkan di depan candi Prambanan, Jateng diikuti dengan hal yang sama di masing-masing Provinsi lain. Setelah hari raya Nyepi, umat Hindu menyelenggarakan acara Dharmasanti sebagaimana dilaksanakan malam ini, sebuah acara formal untuk saling maafmemaafkan serta memberikan dukungan satu sama lain.

Bapak Presiden yang saya muliakan dan hadirin yang saya hormati,

Pada kesempatan dharma wacana ini, ijinkan saya menyampaikan petikan dialog yang inspiratif, antara Judistira dengan Yaksa [tentu bukan Jaksa atau Jaksa Agung]. Dialog terjadi, ketika Judistira melihat empat saudaranya tewas di tepi danau dalam hutan ganas Nandaka. Tempat panca pandawa menjalani hukuman akibat kalah berjudi.

Ketika Judistira melihat empat saudaranya tewas, ia bergumam dengan lirih: ”Ya Tuhan, kenapa empat saudaraku mengalami nasib seperti ini, tewas di tepi danau. Adakah hal salah telah dilakukannya ? Tiba-tiba terdengar suara menggelegar dari langit, yang tidak lain berasal dari Yaksa. “Wahai anakku Judistira, apa yang menimpa adik-adikmu, akibat perbuatannya sendiri.

Mereka dengan lancangnya mengambil air milikku tanpa terlebih dahulu meminta ijinkku. Siapapun tidak berhak melakukan tindakan seperti itu. Terlebih lagi sebagai Ksatrya, seharusnya lebih paham mengenai peraturan, tentu lebih tidak patut melakukan tindakan itu, mengambil sesuatu yang bukan haknya, menikmati sesuatu bukan karena hasil kerjanya.

Oleh karena itu, engkau jangan terlalu bersedih, itu adalah pahala dari karma nya sendiri, hukum karma-phala sedang berjalan. Duh paduka Yaksa, maafkanlah kesalahan dan dosa-dosa saudara hamba. Kesalahan yang dilakukannya, bukan semata-mata kesalahan mereka, melainkan hambalah yang memintanya untuk mencari air yang akan kami berikan kepada istri hamba, Drupadi.

Hamba saudara berlima tidak mungkin dipisahkan. Walau hamba berbeda dalam ciri fisik, watak, dan ibu yang melahirkan, kami tetap bersaudara dalam perbedaan [bina ika tunggal ika]. Bima, tinggi besar, kulitnya rada hitam, tempramental, sementara Arjuna tampan, kulitnya halus, semampai, dan lembut. Sedangkan adik hamba Nakula dan Sahadewa si kembar, bawaannya lemah-lembut, seniman, pintar, dan santun. Perbedaan itu adalah keindahan yang harus hamba pelihara Paduka.

Oleh sebab itu paduka Yaksa, sekali lagi kami mohon agar adik-adik hamba dapat dihidupan kembali, agar kami berlima dapat mendarma baktikan hidup kami untuk negeri yang kami amat cintai. Setelah mendengar motivasi permohonan memelas dari Judistira, maka Yaksa berkata: ”baiklah Judistira, Aku akan hidupkan saudara-saudaramu, dengan syarat kamu bisa menjawab tiga plus satu pertanyaanku’. Judistira pun sepakat “monggo paduka”, Judistira siaaap mengikuti UNBK.

Pertanyaan pertama Yaksa: “apakah yang lebih tinggi dari langit ? Mendengar pertanyaan itu, Judistira melongok ke atas melihat langit biru, dan mejawab: maaf paduka, yang lebih tinggi dari langit, tiada lain adalah akasa, ayah, purusa, lingga. Yaksa berkata: benar Judistira. Ayah, harus dihormati, ayah-akasa-purusa-lingga posisinya menjadi pandu bagi anggota lainnya.

Ida Bagus Gde Yudha Triguna
Kamu ada, juga karena benih purusa, lingga, dan ayah. Akan tetapi, perlu engkau ketahui, predikat ayah yang mulia itu, baru akan kamu pantas sandang, jika engkau bertanggung jawab, tidak abai terhadap keluargamu. Yaksa kemudian mengajukan pertanyaan kedua: “apakah yang lebih berat dari bumi” ? Sambil berfikir, Judistira melihat ke bawah ke tanah yang dipijaknya, sembari menjawab: menurut hemat hamba, yang lebih berat dari bumi tiada lain ibu, pertiwi, predana, yoni. Bagus Judistira ! Ibu, pertiwi, predana, dan yoni adalah lambang kesuburan. Bibit yang baik, tidak akan mungkin tumbuh menjadi kehidupan tanpa ditampung oleh wadah yang subur.

Satu hal yang juga perlu engkau ketahui Judistira, pertiwi selalu akan memberikan apa yang engkau tanam. Jikalau engkau menanam jagung, maka engkau akan memetik jagung, tidak mungkin ketela. Jika engkau berbuat baik, maka engkau akan memperoleh kebaikan, sebaliknya jika engkau menanam keburukan maka cepat atau lambat engkau akan memetiknya.

Oleh karena itu wahai Judistira, rawatlah ibu pertiwi ini dengan sebaik-baiknya, Engkau bisa menghentikan penjarahan dan eksploitasi alam yang sewenang-wenang. Alam mengandung percikan jiwa Tuhan, berupa energi [bayu] dan suara [sabda], alam juga bisa merintih sedih seperti halnya manusia. Orang Jawa, Madura, Bali, Batak, Minang, Dayak, Ambon, Papua, dan lainnya harus bersama-sama menjaga dan merawat ibu-pertiwi, vayam raster jagrayama purohitah [setiap orang berkewajiban melindungi bangsa dan negaranya, Yayurveda IX.23] agar dia tetap cantik-lestari, tidak bopengbopeng, di manapun engkau berada dan mencari kehidupan.

Yaksa melanjutkan petuahnya: “Ketahuilah Judistira, tiada energi apapun akan tercipta jika kedua unsur tadi [akasa dan pertiwi] tidak bersatu. Angin, hujan, petir, dan kamu sendiri ada karena penyatuan akasa dan pertiwi, karena bersatunya ayah dan ibu, lingga dengan yoni.

Dapat dibayangkan jika ekskutif dan legislatif tidak harmoni dan tidak bersatu, maka tidak akan ada dinamika pembangunan yang full power. Oleh karena itu Judistira, jangan pernah meremehkan satu di antara kedua unsur tadi. Keduanya harus diberi posisi yang equal dan dihormati.

Dua pertanyaan sudah dijawab dengan baik oleh Judistira, kemudian Yaksa melanjutkan pertanyaan ketiga: “apakah yang lebih banyak dari pasir di laut atau rumput di ladang” ? Waduh, soal UNBK semakin sulit gumam Judistira. Setelah pranayama, menarik nafas dalam-dalam melalui hidung, menahannya sebentar, dan mengeluarkannya secara pelan-pelan melalui mulut, Judistira kemudian menjawab: “keinginan” paduka Yaksa.

Betul Judistira, keinginan bergerak lebih cepat dari bilangan angka. Ketika kita menyatakan satu, keinginan langsung menjadi dua, tiga, dan seterusnya. Sudah punya mobil satu, ingin punya dua, tiga. Sudah punya rumah satu ingin punya rumah dua, tiga, dan seterusnya. Ayahmu dulu, sudah punya Dewi Kunti, masih juga pingin punya Dewi Madri, untung jaman itu belum terkenal Dewi........[stop press]. Keinginan yang menggelora dan liar harus dikendalikan Judistira.

Saat Nyepi, ketika melaksanakan catur berata dengan tidak bersenang-senang [amati lelanguan], tidak bepergian [amati lelungaan], tidak menyalakan api [amati gni], dan tidak bekerja [amati karya], itu merupakan usaha manusia mengendalikan diri dari pengaruh keinginan [ahangkara] dalam wujud rãga [nafsu], lobha [tamak], kroda [marah], mada [mabuk], irsya [iri hati], dan moho [bingung]. Itulah sebabnya, saat Nyepi umat Hindu harus melakukan kontemplasi terhadap dirinya, untuk senantiasa berusaha mengekang pengaruh keinginan [ahangkara] liar ke tingkat minimal.

Dengan kekuatan budhi dan wiweka-nya, manusia menimbang betapa mengumbar nafsu, menjadi manusia tamak, iri hati, dengki, pemarah dan melakukan tindakan kekerasan [krurakarma] kepada semua makhluk, terlebih dilakukan kepada manusia, tidak akan pernah menginspirasi manusia mencapai kemuliaan hidup.

Bapak Presiden dan hadirin yang saya muliakan,

Setelah Judistira menjawab ketiga pertanyaan sesei pertama, Yaksa kemudian bersabda: Wahai Judistira putra Kunti, engkau telah mampu menjawab ketiga pertanyaanku dengan baik.

Oleh karena itu, aku akan memberimu satu poucer untuk menghidupkan satu dari empat saudaramu yang tewas. Silahkah pilih mana di antara keempat saudaramu yang akan engkau hidupkan kembali. Dengan sedih Judistira memohon, ‘paduka Yaksa, jika memungkinkan, hamba mohon keempat saudara hamba dihidupkan kembali, bukan hanya satu.

Bagaimana mungkin hamba dan salah satu di antara mereka saja yang hidup, sementara tiga lainnya tewas. Yaksa dengan berwibawa dan bergeming menjawab, “tidak bisa Judistira”, silahkan pilih satu di antara saudaramu untuk dihidupkan kembali. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Judistira menjawab dengan perlahan.

Baik paduka Yaksa, jika demikian halnya, maka saya mohon yang dihidupkan salah satu di antara Nakula atau Sahadewa. Begitu mendengar jawaban Judistira, giliran Yaksa yang terkejut. Apa ? Nakula atau Sahadewa ? Bukankah engkau memerlukan Bima, yang badannya tinggi-besar-perkasa-ahli menggunakan senjata gada. Apa tidak lebih baik engkau menghidupkan Arjuna, si tampan, ahli strategi, ahli perang dan juga ahli dalam menggunakan busur panah ? Bagaimana logikamu Judistira ?

Paduka yang mulia, hamba ini putra Dewi Kunti sudah hidup seorang, seharusnya putra Dewi Madri juga hidup satu orang. Jika hamba menggunkan poucer ini untuk menghidupkan saudara kandung hamba Bima atau Arjuna, maka hamba telah berlaku tidak adil, hanya memikirkan diri sendiri, memikirkan kerabat seibu sendiri, tanpa pernah memikirkan saudara lain.

Jika ibu Madri mendengar dan tahu, betapa sedihnya melihat kenyataan ini. Betapa remuk hati seorang ibu Madri, jika keturunannya musnah, sementara keturunan yang berasal dari ibu lainnya hidup. Oleh karena itu Paduka Yaksa, Keadilan tidak ditentukan oleh seberapa banyak produk perundang-undangan serta peraturan yang dibuat dan telah ada, tetapi keadilan itu akan tegak jika pemimpinnya mau bertindak adil dan memiliki good will untuk mewujudkan keadilan.

Mohon ampun paduka yang mulia, sampurasun...hamba tidak mencoba menggurui paduka, hamba hanya menjelaskan pikiran hamba yang sederhana ini, kata Judistira. Keadilan tidak ditentukan oleh jumlah, ciri fisik, watak, Bahasa, ataupun daerah. Yang lebih banyak jumlahnya, memang seharusnya dapat lebih banyak, tetapi juga tidak boleh mengabaikan yang kecil. Hitam-kriting-besar ciri fisiknya tidak boleh diabaikan karena yang putih-bersih-dan semampai. Yang bersih kelihatan bersih, karena ada yang hitam. Yang besar kelihatan besar, karena ada yang kecil. Barat-Tengah-Timur, utara-selatan semuanya itu harus dilihat sebagai bagian-bagian yang membuat negeri ini indah [Bhineka Tunggal Ika].

Itulah yang ada dalam pikiran hamba yang bodoh ini, maafkan hamba jika paduka tidak berkenan. Bapak Presiden dan Hadirin yang saya muliakan, Begitu mendengar jawaban Judistira, Yaksa tersenyum puas dan bersabda: Engkau lulus dengan predikat Summa Cumlaude, predikat kelulusan tertinggi, dan berhak atas penghargaan serta poucer tambahan. Lagi pula engkau pantas menjadi Raja yang berkeadilan.

Oleh karena itu, aku akan hidupkan keempat saudaraku yang tewas, agar kamu bisa mendarma baktikan hidupmu untuk negeri tercinta ini, sekali lagi Aku tegaskan “untuk mendharma bhaktikan sisa hidupmu untuk negeri ini, sekalipun engkau sudah tidak menjadi Raja lagi”.

Sebagai tambahan, Aku akan memberimu empat pesan penting, yaitu pertama: agar engkau dan saudaramu tetap dekat dengan rakyatmu, hiduplah selalu di hati rakyat, perilakumu jangan pernah berubah karena kedudukan.

Jika engkau hidup rakus, tamak, dan egois dengan mengumbar kemarahan, memaki-maki orang lain, itu sama artinya engkau memarahi dan menyakiti dirinya sendiri anakku Judistira, itu bertentangan dengan ajaran tat twam asi.

Pada waktu, hari, dan bulan yang baik lakukan Japa, meditasi, semadi, dan puasa, sebagai momentum memuliakan diri dan orang lain sesama anak bangsa dengan cara lebih peka terhadap kemiskinan yang masih menimpa sebagian anak negeri ini.

Pesan tambahanku yang kedua, sebagai manusia yang hendak mencapai kemuliaan hidup, engkau harus semakin menyadari betapa pendidikan menjadi modal untuk mencapai kemuliaan hidup sebagaimana tersirat dalam sloka vidya dhanam sarvadhana pradhanam [pengetahuan adalah kekayaan tertinggi]. Ketiga, Manusia Hindu juga diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi hidup damai [shanti] dalam suasana kehidupan yang multikultural.

Bapak Presiden yang amat saya hormati dan banggakan,

Pesan tambahan terakhir yang ingin Aku sampaikan kepadamu Judistira, setelah melaksanakan hening satu hari dan setelah jiwa dan raga beristirahat, maka jiwa memiliki energi baru untuk memulai hidup baru yang lebih berharga bagi keluarga, nusa, dan bangsa. Salah satu cara memuliakan hidupmu adalah dengan bekerja lebih keras dengan menganggap kerja itu sendiri bagian dari yadnya, bagian dari jalan menuju Tuhan. “Tuhan (Prajapati) melakukan kerja untuk dapat menciptakan dunia, yang bergerak berdasarkan hukum-hukum yang berlaku atas ciptaan-Nya itu yang disebut Rta (Rg Veda I.22:18; Rg Veda X. 190:1).

Dalam Atharva Veda (III.24:5); Yajur Veda (20:7) Hindu mengajarkan umatnya bekerja keras dengan penuh konsentrasi dan disiplin (Yoga Sutra, I.15). Oleh karena itu, engkau harus bekerja dengan penuh konsentrasi dan disiplin sebagaimana halnya Tuhan telah memberikan Kamadhuk melalui yadnya-Nya.

Dengan landasan bahwa kerja adalah yadnya, maka tidak ada alasan yang bagi setiap manusia untuk tidak melaksanakan pekerjaan dengan penuh rasa tanggung jawab, kerja-kerja-dan kerja. Dalam Yajur Weda.19.30 disebutkan sebagai berikut.

Pratena diksam apnoti Diksaya apnoti daksinam Daksina sraddham apnoti Sraddhaya satyam apyate [Yajur Weda.19.30]

Artinya: Melalui pengabdian kita memperoleh kesucian, Dengan kesucian kita mendapat kemuliaan Dengan kemuliaan kita mendapat kehormatan Dan dengan kehormatan kita memperoleh kebenaran

Menempatkan kerja sebagai yadnya [tanpa pamrih] juga memungkinkan memperoleh kesucian, hasil yang suci tak ternoda, energi yang mengalir dalam uang yang diperoleh dengan jalan suci akan memberikan vibrasi positif bagi seluruh anggota keluarga yang menikmatinya.

Seluruh keluarga akan tenang hidupnya, dan dalam kondisi demikian, keluarga itu akan memperoleh kemuliaan dan kehormatan sebagai keluarga sukhinah bawantu [memperoleh kemuliaan, kehormatan, dan dipercaya].

Oleh karena itu, mari kita kerja-kerja-kerja bersama Guru Wisesa [pemerintah], sebagai bagian dari catur guru bhakti, agar kita semua memperoleh kehormatan dan kebenaran.

Demikianlah beberapa hal yang dapat saya sampaikan kepada bapak Presiden Republik Indonesia dan para hadirin, disertai permohonan maaf atas segala kekurangan dan kesalahan yang ada. Terima kasih.

Om Shanti, Shanti, Shanti, Om. Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Salom, Namo Buddayo.

Mabes TNI Cilangkap, Jakarta, 22 April 2017 Prof. Dr. Ida Bagus Gde Yudha Triguna, M.S.


Naskah disampaikan pada acara Dharmasanti Nasional Hari Raya Nyepi Tahun baru Saka 1939 di Mabes TNI Cilangkap Jakarta, Sabtu 22 April 2017.

Kamis, 20 April 2017

PRESIDEN JOKOWI AKAN HADIRI DHARMASANTI NASIONAL HARI RAYA NYEPI

Press Release.
PRESIDEN JOKOWI AKAN HADIRI DHARMASANTI NASIONAL HARI RAYA NYEPI





Jakarta,....

Presiden Joko Widodo menurut rencana akan menghadiri pelaksanaan Dharmasanti (silaturahmi) Nasional hari Raya Nyepi tahun Saka 1939 pada hari Sabtu, 22 April 2017 di GOR Mabes TNI Cilangkap.

Ketua Umum Panitia Nasional Perayaan Nyepi Saka 1939 tahun 2017, Irjen Pol  Drs. I Ketut Untung Yoga menjelaskan bahwa dalam Dharmasanti Nasional esensinya sebagai momentum silaturahmi antar umat Hindu dan antar umat beragama.
Kehadiran Presiden dan stakeholders lainnya sangat diharapkan umat Hindu dalam menguatkan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ini tentunya diharapkan sesuai dengan tema Perayaan Nyepi tahun ini yaitu "Jadikan Catur Brata Penyepian memperkuat toleransi kebhinekaan berbangsa dan bernegara demi keutuhan NKRI".

Dalam Dharmasanti yang akan dihadiri 3.000 umat Hindu  itu dimohonkan Sambutan Presiden Joko Widodo dan dharma wacana rohani oleh Prof.Dr. Ida Bagus Yudha Triguna.

Kehadiran Presiden dan Ibu Iriana Joko Widodo serta undangan lainnya akan disambut dengan tarian Sri Kamelawi dan hiburan kesenian dalam bentuk oratorium dalam lakon "Mulat Sarira" (Introspeksi diri) pimpinan sanggar I Gusti Ngurah Kompiang  Raka.

Selama Dharmasanti juga akan dimeriahkan dengan Ibu-Ibu WHDI Banten  yang akan menyanyikan Indonesia Raya.


Selain itu juga akan menampilkan pembacaan sloka kitab suci Weda oleh dua juara se DKI Jaya yaitu Pande Nyoman Lokasandhiyasa dan Made Nararya Radya Kumara. *

Senin, 20 Maret 2017

verba volent scripta manent

Om Swastiastu, Semeton tentu pernah mendengar Peribahasa Latin kuno menyatakan verba volent scripta manent. Arti dari kata-kata ini intinya, “Apa yang terkatakan, akan segera lenyap. Apa yang tertulis akan menjadi abadi.”

Ya, peradaban kuno yang bisa kita ketahui hingga saat ini adalah akibat adanya pujangga yang menuliskannya, baik dalam prasasti-prasasti, lontar-lontar ataupun media lainnya. Kita harus berterima kasih kepada sang Pujangga yang dengan  penuh kesabaran menulis kisah-kisah peradaban hindu pada masa lampau yang kita banggakan pada masa kini.

Bagaimana mungkin kita mengetahui Sumpah Palapanya Patih Gajahmada dan kejayaan kerajaan Majapahit pada jaman dahulu, kalau bukan dari tulisan-tulisan prasasti. Tentunya sumpah yang diucapkan akan lenyap ditelan waktu bila tidak ada pujangga yang menuliskan dalam prasasti..

Bagaimana mungkin kisah Mahabarata kita ketahui bila tidak ada sang Bhagawan Byasa yang dengan penuh kesabaran dalam menuliskan kisah demi kisah sang Pandawa … Atau kisah Rama, Rahwana dan Sinta dalam kisah Ramayana yang ditulis Bhagawan Walmiki

Dan banyak lagi peradaban Hindu kuno yang sangat-sangat mulia, penuh dengan kejayaan, penuh dengan kegiatan Dharma akan kita dapat ketahui bila tanpa ada yang menuliskannya ….

Adanya peradaban Hindu masa kini akibat dari adanya peradaban Hindu masa lalu yang tertulis, dan peradaban Hindu masa depan ditentukan oleh peradaban Hindu masa kini. Peradaban Hindu di masa depan akan sirna bila tidak ada sumber (tertulis) yang dapat dibaca oleh anak-cucu-cicit kita dimasa depan.

Pentingnya menuliskan kegiatan-kegiatan keumatan yang terjadi agar kelak dapat diketahui oleh generasi penerus agama dan budaya kita tercinta..

Karena Tulisan “scripta”  Kejayaan Hindu akan ada selamanya dan abadi “manent” om swaha... #ktBudiasa/BPHBanten

Rabu, 01 Maret 2017

Bimbingan Masyarakat Hindu - Bimas Hindu

Visi dan Misi

Visi
Terwujudnya masyarakat Hindu yang taat beragama, rukun, cerdas, dan sejahtera lahir dan bathin
Misi
  1. Peningkatan kualitas pemahaman dan pengamalan ajara agama Hindu dalam kehidupan sehari-hari;
  2. Peningkatan kualitas pelayanan kehidupan Beragama;
  3. Peningkatan kualitas kerukunan umat beragama Hindu;
  4. Peningkatan kualitas pengelolaan dan pelayanan Pendidikan Agama dan Keagamaan;
  5. Mewujudkan tata kelola kepemerintahan yang bersih dan berwibawa.

Tugas dan Fungsi

Tugas
Merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standarisasi teknis di bidang bimbingan masyarakat Hindu
Fungsi
1. Perumusan kebijakan di bidang bimbingan masyarakat Hindu;
2. Pelaksanaan kebijakan di bidang bimbingan masyarakat Hindu
3. Penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang bimbingan masyarakat Hindu;
4. Pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang bimbingan masyarakat Hindu; dan
5. Pelaksana administrasi Direktorat Jenderal Mimbingan Masyarakat Hindu.

sumber : https://bimashindu.kemenag.go.id/

Senin, 30 Januari 2017

Umat Hindu harus cerdas agar mampu memilih pemimpin yang cerdas

Dharma Tula DR.Arya Wedakarna



Dharma Tula dalam rangkaian Pujawali Parahyangan Jagatguru Bumi Serpong Damai Tangerang Selatan dilaksanakan pada Minggu 29 Januari 2017, satu minggu sebelum puncak Pujawali pura tersebut yaitu Rdite Umanis Ukir (Manis Tumpek Landep) 5 Februari 2017.

Dua nara sumber penting bagi umat Hindu dihadirkan oleh panitia, yang pertama Bapak Mayjen TNI (purn) Wisnu Bawa Tenaya ketua PHDI Pusat dan Dr.Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III. SE (MTRU). Msi Senator Bali.

Dipandu moderator Bapak Dewa Sanjaya, Dharma Tula yang sudah ditunggu umat Hindu sejak pagi diawali dengan doa bersama, dilanjutkan dengan sambutan ketua panitia Pujawali dan sambutan Ketua Banjar Tangerang Selatan sekaligus membuka acara Dharma Tula.

Kesempatan pertama diberikan kepada Ketua PHDI Pusat untuk menyampaikan Dharma Wacananya, belia memaparkan pentingnya mencerdaskan masyarakat umumnya dan umat Hindu khususnya sehingga masyarakat yang cerdas akan mampu memilih pemimpin yang cerdas pula. “Umat Hindu harus cerdas agar mampu memilih pemimpin yang cerdas “ Kata Pak Wisnu yang disambut tepuk tangan meriah umat.

Berlatar belakang Tentara Nasional Indonesia, beliau dengan tegap dan semangat dalam menyampaikan Dharma Wacananya. Sekali-sekali memunculkan kelucuan, seperti “orang Bali harus the Best ( bhs inggris terbaik ), bukan the bes (bhs Bali) yang artinya “terlalu” , the bes ajum, the bes belog …

Pada kesempatan ini pula sebagai pemimpin lembaga umat tertinggi di Indonesia beliau mengajak lembaga-lembaga Hindu senantiasa meningkatkan komunikasi dengan lembaga-lembaga pemerintahan, Kepolisian, Penguasa daerah setempat secara terus-menerus, sehingga dengan terjalinnya komunikasi yang baik akan dapat melaksanakan pembinaan umat dengan baik dan lancar pula.

Hal-hal yang disampaikan memberikan semangat kebersamaan, semangat dalam mewujudkan Grand Design Hindu Indonesia. Dengan menumbuhkan semangat vasudewa kutumbakam kita memberikan berkontribusi dalam pembangunan karakter bangsa ini.

Pada sesi kedua dari Dharma Tula ini, dengan nara sumber Dr.Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III. SE (MTRU). Msi. (sekretaris)


Simak Dharma Tula DR.Arya Wedakarna

Kamis, 26 Januari 2017

Hari Raya Pagerwesi

Om Swastyastu



Om Guru deva guru rupam, Guru madhya guru purvam, Guru pantara devanam, Guru deva sudha nityam.
Om Shri Guru bhyo namah svaha

ata “pagerwesi” artinya pagar dari besi. Ini merupakan simbolisasi dari suatu perlindungan yang kokoh dan kuat, karena sesuatu yang dipagari berarti sesuatu yang bernilai tinggi, agar jangan mendapat gangguan atau dirusak baik oleh diri sendiri pun oleh pihak dari luar diri.

Hari Raya Pagerwesi dilaksanakan pada hari Budha Kliwon Wuku Shinta. Hari raya ini dilaksanakan 210 hari sekali. Sama halnya dengan Galungan, Pagerwesi termasuk pula rerahinan gumi, artinya hari raya untuk semua masyarakat, baik para rohaniwan (sulinggih, pemangku) maupun umat umum (walaka).

Hari Raya Pagerwesi sering diartikan oleh umat Hindu sebagai hari untuk memagari diri yang dalam bahasa Bali disebut “magehang raga”. Nama Tuhan yang dipuja pada hari raya ini adalah Sanghyang Paramesti Guru. Sanghyang Paramesti Guru adalah nama lain dari Dewa Siwa sebagai manifestasi Tuhan untuk melimpahkan perlindungan atau proteksi agar terhindar dari hal-hal negatif, juga adalah untuk melebur segala hal yang buruk. Dalam kedudukannya sebagai Sanghyang Paramesti Guru, Beliau menjadi gurunya alam semesta terutama manusia.

Hidup tanpa guru sama dengan hidup tanpa penuntun, sehingga tanpa arah dan segala tindakan jadi ngawur ini yang disebut oleh aksara suci: “sing nawang kaje kelod kangin kauh dalem kelawan daken”.

Dalam lontar Sunarigama disebutkan “Budha Kliwon Shinta Ngaran Pagerwesi payogan Sang Hyang Para Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanggha ngawerdhiaken sarwa tumitah sarwa tumuwuh ring bhuana kabeh.”

Artinya:

Rabu Kliwon Shinta disebut Pagerwesi sebagai pemujaan Sang Hyang Paramesti Guru yang diiringi oleh Dewata Nawa Sanggha (sembilan dewa) untuk mensejahterakan segala yang lahir dan segala yang tumbuh di seluruh dunia.

Pelaksanaan upacara/upakara Pagerwesi sesungguhnya titik beratnya pada para pendeta atau rohaniawan pemimpin agama ini sesuai dengan petikan lontar Sunarigama disebutkan: “Sang Purohita ngarga apasang lingga sapakramaning ngarcana paduka Prameswara. Tengahiwengi yoga samadhi ana labaan ring Sang Panca Maha Bhuta, sewarna anut urip gelarakena ring natar sanggah”.

Artinya:

Sang Pendeta hendaknya ngarga dan mapasang lingga sebagaimana layaknya memuja Sang Hyang Parameswara (Paramesti Guru). Tengah malam melakukan yoga samadhi, ada labaan (persembahan) untuk Sang Panca Maha Bhuta, segehan (terbuat dari nasi) lima warna menurut uripnya dan dihaturkan di halaman sanggah (tempat persembahyangan).

Sebagaimana telah disebutkan dalam lontar Sunarigama; Pagerwesi yang jatuh pada Budha Kliwon Shinta merupakan hari Payogan Sang Hyang Paramesti Guru diiringi oleh Dewata Nawa Sanggha. Hal ini mengandung makna bahwa Hyang Paramesti Guru adalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai guru sejati.

Mengadakan yoga berarti Tuhan menciptakan diri-Nya sebagai guru. Dengan demikian, siapa saja yang menyucikan dirinya akan dapat mencapai kekuatan yoga dari Hyang Paramesti Guru. Kekuatan itulah yang akan dipakai memagari diri. Pagar yang paling kuat untuk melindungi diri kita adalah “ilmu” yang berasal dari guru sejati pula. Guru yang sejati adalah Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu inti dari perayaan Pagerwesi itu adalah memuja Tuhan sebagai guru yang sejati. Memuja berarti menyerahkan diri, menghormati, memohon, memuji dan memusatkan diri. 
Ini berarti kita harus menyerahkan kebodohan kita pada Tuhan agar beliau sebagai guru sejati dapat megisi kita dengan kesucian dan pengetahuan sejati.

Dalam pelaksanaannya, umat menghaturkan upakara/banten pejati, (daksina, peras, ajuman, penyeneng), dapetan, sesayut pageh urip dan prayascitta sebagai upakara penyucian, serta banten segehan seperti biasa.

Beberapa pengastawa yang umum digunakan untuk memuja Sanghyang Paramesti Guru, yakni:

1. Om Giripati maha viryam, Mahadeva pratista lingam, sarva Deva Pranayanam. Sarva Jagat Pratistanam. Om Giripati dipata ya namah.

2. Om Gurur adir anadis ca Guruh param daivatam. Guroh parataram nasti, tasmai Shri Guruve Namah svaha.

3. Om Mata guru shri jagad guruh. Mad atma sarva bhutatma, tasmai Shri Guruve Namah svaha.

4. Om Guru deva guru rupam, Guru madhya guru purvam, Guru pantara devanam, Guru deva sudha nityam.
Om Shri Guru bhyo namah svaha (sumber: Guru Sotramala)

Demikian secara singkat saya sampaikan yang berkenaan dengan Hari Pagerwesi. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

“Selamat Hari Suci Pagerwasi, Rabu Kliwon Shinta, 12 Maret 2014, Semoga atas anugerah Hyang Widhi kita memperoleh kekuatan lahir bathin (sekala-niskala), sehingga dapat dan mampu menjaga kesejatian diri”.
Om Santih Santih Santih Om
~ I W Sudarma (Jro Mangku Danu)


Jumat, 23 Desember 2016

HINDU ADALAH VAIDHIKA DHARMA

BANGGALAH MENJADI HINDU

Menjadi penganut Hindu, kadang-kadang umat merasa minder dengan jumlah yang sedikit atau minoritas. Kondisi ini diperparah dengan minimnya pemahaman pada tatwa agama yang baik, sehingga ketika mereka ditanya tentang agama yang terkadang menyudutkan, kita tidak mampu memberikan penjelasan secara komprehensif. Kondisi semacam ini akan menggairahkan para "misionaris marketing surga" untuk memojokkan Umat Hindu dan agama Hindu dengan menyematkan beberapa predikat, seperti 'Hindu Pemuja Berhala', Hindu bukanlah agama, yang hanya budaya hasil karya cipta manusia.

HINDU adalah ARYA DHARMA

HINDU adalah ARYA DHARMA yang dimaksud adalah bahwa agama Hindu merupakan agama ksatrya pemberani dan bertanggung jawab. Setiap perbuatannya dipertanggung jawabkan secara individu. Hindu tidak pernah mengajarkan keroyokan, berani berbuat berani bertanggunh jawab, karena keyakinan akan Hukum Karmanya. Tidak seperti keyakinan tetangga sebelah, asal sudah satu agama akan selalu dibela mati-matian walaupun salah.😪

HINDU ADALAH VAIDHIKA DHARMA

HINDU ADALAH VAIDHIKA DHARMA yang dimaksud adalah bahwa Hindu merupakan 'Wahyu Suci Brahman' yang diterima langsung oleh para Maha Rsi kita melalui bahasa 'Daivivac' atau bahasa Deva. Hindu juga bersifat 'Apauruseya' yang artinya bukan karya purusa atau manusia. Jadi tidak benar tuduhan yang mengatakan Hindu sebagai agama Budaya, hasil karya cipta manusia. Veda dan Hindu diturunkan unttk mewujudkan kesejahteraan semesta 'Loka Samgraha', seperti dalam bait mantra Tri Sandya, yaitu : Sarva prani hitankarah, semoga seluruh makhluk sejahtera & bahagia, jadi Hindu tidak berfikir hanya untuk dirinya sendiri, tidak seperti agama tetangga sebelah kita. Sungguh mulia bukan....?

HINDU ADALAH SANATHANA DHARMA

HINDU ADALAH SANATHANA DHARMA yang dimaksud adalah agama Hindu mengusung kebenaran yang absolut, kebenaran yang hakiki, kebenaran yang sejati yaitu Brahman atau Tuhan yg Maha Sempurna, yang bisa dijumpai dengan berbagai cara dan sarana. Kalau kita lihat dalam agama tetangga, seolah olah Tuhan sangatlah membatasi manusia yang hanya bisa ditemui dengan satu bahasa saja, satu cara saja. Mereka akan menyatakan salah dan sesat jika ada sebagian umatnya yang menjalankan ibadah tidak sesuai dengan umat mayoritasnya. Sehingga jika ada umat yang menyandang cacat permanen, seperti bisu tuli, seolah mereka menyandang 'dosa permanen'.

Itulah Hindu, yang sangat menghargai perbedaan dan keragaman, yang tidak gampang menyatakan sesat walau tidak sehaluan, yang tidak mudah berkata salah pada sebagian yang tidak sama dalam ritual.

Uutuk itu melalui coretan ini saya mengajak kepada anak-anak muda mari kita pahami agama kita dengan baik , agar mendapatkan hasil yang baik. Jangan mudah digoyang keyakinan kita, janganlah minder walau kita minoritas.
BANGGALAH MENJADI HINDU!!!!
sumber : http://www.hindubanten.com/

Rabu, 21 Desember 2016

HINDU ADALAH AGAMA MISI

HINDU ADALAH AGAMA MISI


Umat Hindu banyak yang ragu dan tidak Percaya Diri (PeDe) untuk mengatakan, bahwa Hindu adalah agama misi. Keraguaan dan rasa minder tersebut jelas tak beralasan. Secara bodoh saja, jika kita menyatakan Hindu bukan agama misi, buat apa PHDI yang didalamnya ada BPH (Badan Penyiaran Hindu), PERADAH, WHDI, MAJAPAHID dan lain sebagainya ??

Sementara di dalam sastra Veda terdapat pesan, baik tersurat maupun tersirat yang menyatakan bahwa Hindu adalah 'Agama Misi'

'yathemam vacam kalyanim,avadani janebhyah,brahma, rajanyabhyam, draya,caryaya,svaya,caranaya ca' Yajur Veda XXVI.2 
artinya: sampaikanlah ajaran suci ini kepada seluruh manusia, kepada Brahmana, Ksatrya, Waisya & sudra, kepada orang-orang ku,orang-orang mu dan bahkan orang asing sekalipun. Sloka Suci tersebut sangat jelas dan meyakinkan, bahwa Hindu adalah Agama Misi, namun cara mengemasnya yang mungkin berbeda, tidak vulgar dan radikal. Tidak harus kita berebut pengikut yang akhirnya menghalalkan segala cara.

“Nasti Veda Param sastram”, tidak ada kitab yang seagung Veda. 

Tugas kita, setidaknya bagaimana kita terpanggil untuk membuat rasa nyaman umat yang berada di dalamnya merasa yakin dan nyaman terhadap agama yang diyakininya. Anak2 dan keluarga sebagai bagian terkecil dari komponen Hindu merupakan dasar pembentuk komunitas Hindu yang besar dan kuat. 

Terdapat beberapa sloka suci yang patut kita jadikan referensi dan dasar meyakinkan anak, saudara, tetangga dan warga Hindu kita agar tetap di dalam 'Pangkuan Dharma':

'yah sastra vidhim utsrijya, vartate kama karatah, nasa sidhim avapnoti, nasukham naparam gatim',*Bh.G. VI.23 : 

siapapun yang meninggalkan ajaran Sastra Vidhi/Veda (agama Hindu) dan berada dalam pengaruh kama (keinginan duniawi), mereka tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan dan tujuan tertinggi.

'rnani tryapakritya, namomokse niwecayet, ana pakrtya moksamtu, sevamano vrajatyadah' MDS.VI.35: 

mereka yang telah membayar 3 hutangnya (tri rna), hendaknya ia menunjukkan kearah pembebasan terakhir (moksa), tapi mereka yang tidak menyelesaikan 3 hutangnya,maka akan jatuh ke ke dalam Neraka.


Berpijak dari sloka suci tersebut saya mengajak kepada seluruh umat Hindu, terlebih organisasi yang mengatasnamakan Hindu, mari kita sadar dan bangkit. Hindu sudah terlalu lama tertidur. Mari kita sadar dan bangkit bersama untuk membangun Hindu, dari diri kita, keluarga kita, dari sekarang dan dari lingkungan kecil kita...

Radio Online Bali

SMARTPHONE ANDROID, BLACKBERRY DAN IPHONE
1. Download dan Instal aplikasi Tunein Radio melalui PLAY STORE/APP STORE
2. Buka aplikasi Tunein Radio yang sudah terinstall tersebut,
3. Search Gitabali… u ready to go…….

Selamat mencoba.
Terima kasih atas semua dukungan Gitabaliners semua. Kami ada dan tetap semangat, karena dukungan dan partisipasi aktif Gitabaliners.

Cari Artikel di Blog ini

Cari Uang Dengan Robot ? Apa Mungkin ?

Cari Uang Dengan Robot ? Apa Mungkin ?
Bagaimana jika ada sebuah #software yang bisa membuat #robot secara instant dan menghasilkan uang untuk Anda

Berita Terkait Semangat Hindu