OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM

PRAKATA

Selamat Datang

Semangat Hindu merupakan blog bersama umat Hindu untuk berbagi berita Hindu dan cerita singkat. Informasi kegiatan umat Hindu ini akan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan.
Semangat Hindu semangat kita bersama.

Bersama Semangat Hindu kita berbagi berita dan cerita, info kegiatan, bakti sosial dan kepedulian, serta kegiatan keagamaan seperti ; pujawali, Kasadha, Kaharingan, Nyepi, Upacara Tiwah, Ngaben, Vijaya Dhasami dan lain sebagainya.

Marilah Berbagi Berita, Cerita, Informasi, Artikel Singkat. Bagi yang mempunyai Web/Blog, dengan tautan URL maka dapat meningkatkan SEO Web/ blog Anda.

Terima Kasih
Admin

RANBB

---#### Mohon Klik Share untuk mendukung blog ini ####---

Semangat Menanam Pohon Demi Masa Depan Cerah

Rabu, 24 Agustus 2016

Swara Hindu Dharma

Swara Hindu Dharma. 
Menjaga Sradha Menebar Dharma. 

http://www.swarahindudharma.com/

Adharmam dharmam iti ya manyate tamasavrta
Sarvarthan vipaitams ca buddhih sa partha tamasi


“Pengertian yang menganggap hal hal yang bertentangan dengan dharma sebagai dharma dan dharma sebagai hal-hal yang bertentangan dengan dharma, dibawah pesona khayalan dan kegelapan, dan selalu berusaha kearah yang salah berada dalam sifat kebodohan, wahai putera Prtha.” (Bhagawad Gita 18.32)

http://banjarciledug.org/?page_id=32 Kecerdasan dalam sifat kebodohan selalu bekerja dengan cara yang berlawanan dengan cara yang sebenarnya. Kecerdasan tersebut mengakui dharma dharma yang sebenarnya bukan dharma dan menolak dharma yang sejati. Orang yang kurang cerdas menganggap roh yang mulia adalah manusia biasa  dan mengakui orang biasa  sebagai roh yang mulia. Mereka menganggap kebenaran tidak benar  dan mengakui hal-hal yang tidak benar sebagai kebenaran. Dalam segala kegiatan mereka hanya mengambil jalan yang salah; karena itu kecerdasan mereka berada dalam sifat kegelapan.
Sering kali dalam keseharian hidup kita menemukan orang orang dalam ciri ciri yang disebutkan dalam sloka diatas dan seringkali pula kita menempatkan seseorang dalam kedudukan yang tidak tepat. Kita memandang rendah bila orang itu tidak berpakaian seperti kita, kita memandang rendah karena orang yang kita temui lebih miskin dari kita. Jadi sloka diatas mengajak kita untuk keluar dari situasi seperti ini.
Bagaimana cara kita merespon kenyataan yang luhur ini? Dengan memulai dari diri kita sendiri untuk mempraktekkan hal hal yang sesuai dengan pandangan sastra…sastra caksuh. Dengan  demikian kita bisa selalu berada dalam kedudukan kita yang sebenarnya.
om tat sat.
ref: I Gede Suwardana, S.Ag
Penyuluh Agama Hindu Kemenag DIY.

Kamis, 21 Januari 2016

Pura Parahyangan Bhuana Raksati

Pura Parahyangan Bhuana Raksati, berlokasi di Desa Sodong, Tigaraksa Tanggerang Banten. Selain Pura Parahyangan Bhuana Raksati ini, di propinsi Banten telah ada Pura Dharma Sidhi di Parung Serab Ciledug Tangerang , Pura Kertajaya di Kota Tangerang, Pura Eka Wira Anantha Taman Serang di Kopassus grup 1 Serang Banten, Pura Merta Sari di Rempoa serta Pura Parahyangan Jagatguru di Bumi Serpong Damai (BSD).

Propinsi Banten dengan kota-kotanya telah memiliki Pura Hindu, tempat umat Hindu melaksanakan persembahyangan,mengucapkan Puji-Syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Kuasa,  kegiatan keagamaan, kegiatan sosial kemasyarakatan, kegiatan sosial, kegiatan pendidikan agama  hindu.

RATUSAN UMAT HINDU SEJABODETABEK, BERKUMPUL DI DESA SODONG, TIGARAKSA, TANGERANG BANTEN, GUNA MELAKUKAN PENGGALANGAN DANA PEMBANGUNAN PURA PARAHYANGAN BHUANA RAKSATI. SEJUMLAH ACARA MENARIK DIGELAR SEPERTI PEMENTASAN TARI PUSPA WRESTI, TARI TENUN, PAGELARAN MUSIK HINGGA DHARMA WACANA .

Berikut nama dan alamat Pura di Propinsi Banten

Pura Dharma Sidhi, Ciledug , 1993 
  • Jl. Pasraman No. 28-29 Komplek Kav. P & K Parung Serab Ciledug Tangerang
  • Ngenteg Linggih pada 11 Juli 1990, Pujawali Budha Kliwon Ugu
  • Lokasinya Klik disini Fotonya Klik disini
Pura Parahyangan Jagat Guru, Bumi Serpong Damai –
  •  Depan Cluster Catalonia, Sektor 14,5, Nusaloka BSD City
  • Ngenteg Linggih pada 19 Oktober 2014, Pujawali Redite Umanis Ukir
  • Lokasinya Klik disini Fotonya Klik disini
Pura Eka Wira Anantha, Serang, 1999 
  • Komplek Kopassus Group I Taman, Serang Banten
  • Ngenteg Linggih pada 25 Oktober 1999, Pujawali Purnama Kapat
  • Lokasinya Klik disini Fotonya Klik disini
Pura Kerthajaya, Tangerang
  • Jl. Pasar Baru No 102 Tangerang
  • Pujawali pada Saniscara Kliwon Tumpek Krulut.
  • Lokasinya  Klik disini Fotonya Klik disini
Pura Merta Sari, Rempoa, 1982 
  • Alamat : Jl. Kenikir No. 20 Rt.006/Rw.009 Kelurahan Rempoa – Bintaro. Telp. 021-7421161
  • Ngenteg Linggih pada 14 Juni 1984, Pujawali pada Purnamaning Sasih Sadha.
  • Lokasinya Klik disini Fotonya Klik disini

Minggu, 10 Januari 2016

Maha Siwa Ratri Puja

OM suastyastu. 

Dipenghujung Brahma muhurta, setelah menyelesaikan puja ke4 dalam rangkaian maha Siwa Ratri puja, sempat merenungkan tentang keberadaan sang diri. Secara jujur harus kuaui bahwa belum mampu memasuki salah satu lintasan progresif untuk mendekati Nya. Masih jauh dari sifat dan prilaku ikhlas dalam pelayanan secara vertical maupun horizontal. Apalagi bakti murni dengan penyerahan diri secara total. 

Kemungkinan besar masih berada dalam lintasan ego, lintasan kegelapan juga disebut “aanawa maarga”. Berikut adalah ciri-ciri prilaku manusia yang berada dalam lintasan tersebut : 

 Sama sekali tidak meyadari bahwa semua yang ada dan akan ada sesungguhnya bersumber dari Brahman. 

 Tidak percaya karma phala, bahwa semua perilakunya akan kembali kepadanya, melalui bibir, tangan orang lain atau sesuatu diluar dirinya. 

 Sama sekali tidak relijius. Bila ada kegiatan relijius hanya berpangku tangan, bahkan selalu ada penolakan dalam hati, bahkan seringkali sampai terucapkan. 

 Sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk ikhlas, memberikan pelayanan. Semua kegiatan termasuk ditempat suci semuanya berlatar belakang pemikiran dunia-materi. 

  Merasa dirinyalah yang selalu benar “self oppointed teacher”, dan bergerak mengikuti langkahnya sendiri, artinya diberi masukan apapun akan cuek saja, tidak menggubris pandangan orang lain. 

 Emosinya hanya untuk diri sendiri dan keluarga. Kalau menyangkut kepentingan diri sendiri dan kelurganya, sangat protektif dan pemurah. Philosofinya adalah instingtif hewani “ Let,s preserve the nest and the lair at all cost”. Emosinya sangat labil, berputar-putar hanya disatu tempat yaitu kepentingan sendiri (ego sangat menonjol). 

 Kesadaranannya masih sangat dibawah, hidupnya masih diselimuti kemarahan yang meluap, ketakutan dan irihati (super lower concsiusness/ kesadaran-tala-tala).

  Mengabaikan dharma. Bisa saja orang seperti ini ada yang dalam hidupnya memperoleh artha cukup banyak dan kehidupan duniawi yang mapan. Semua itu karena karma masa lalunya (sanchitta karma). Namun pada umumnya, semuanya cepat atau lambat akan hilang terpralina, karena prilakunya yang sekarang. Ingat sloka suci yang mengajarkan bahwa bagi seorang penyembah Tuhan akan diberikan yang menjadi haknya, dan dilindungi yang sudah didapatnya. Masih banyak ciri lainnya yang merupakan penjabaran dari lima ciri pokok diatas seperti : 

a. Tidak ada waktu untuk sadhana (disiplin spiritual). 
b. Menghindari/tidak melakukan tirtha yatra tahunan. 
c. Tidak melakukan persembahyangan sendiri/bersama (kel, komunitas) ditempat-tempat suci. 
d. Tidak membaca kitab suci Veda. 
e. Tidak ada keinginan mencapai mukti. 
f. Tidak sungguh-sungguh meningkatkan kesucian diri. Walau tidak semua, ternyata masih ada ciri-ciri tersebut mewarnai sifat dan perilaku keseharian. 

Semoga Dewa Siwa sebagai penguasa tamasika guna, berkenan mengijinkan setiap usaha untuk membebaskan diri dari kegelapan dan kebodohan. Dan akhirnya hormat dan bhakti kepada para guru yang telah memberikan ajaran serta membukakan mata hati ini dari kegelapan yang pekat. 

OM ajananam timiran dasya, jananan jana salakaya, caksur unmilitamyena, tasmae Shri Gruru we namah. OM shanti,shanti,shanti OM.

sumber copas #group PAJK GN SALA

Sabtu, 09 Januari 2016

MAHA SIWA RATRI

MAHA SIWA RATRI. 
Berikut saya kutipkan sepotong isi Siwa Purana yang bermuatan tentang asal muasal malam pemujaan kepada Dewa Siwa.               

Pada awal penciptaan, semesta ini suniya, yang ada hanya Brahman.   Brahman yang diluar jangkauan pikiran, oleh para sidhaatma, para sadhu diungkapkan dengan ”neti-neti”, bukan ini bukan itu.   

Berikutnya nampak air dimana-mana dan diatas lautan yang maha luas berbaring Dewa Wisnu dengan sangat santainya.  Disatu tempat Dewa Brahma mengadakan perjalanan sambil mencari informasi siapakah dirinya, dari mana asalnya.   

Dalam kebingungan tersebut Dewa Brahma bertemu dengan dewa Wisnu, yang bertangan empat bersenjatakan cakra sudarsana, sankha, gada dan padma. Dewa Brahma bertanyakepada Dewa Wisnu ” Siapakah anda gerangan, berada ditempat ini?  Dewa Wisnu  menjawab, ”Nak kamu adalah ciptaanku”.   


Dipanggil dengan sebutan ”nak”, dewa Brahma merasa tidak puas, sehingga terjadilah perdebatan sengit, sehingga mengarah kepada pertikaian.   Peristiwa tersebut berlangsung terus, hingga jangka waktu lama.    

Suatu malam hari yang gelap gulita tiba-tiba muncul balok cahaya cemerlang dengan ukuran besar dan sangat panjang.   Kemunculan cahaya yang terang benderang tersebut membuat kedua dewa yang sedang bersitegang, menjadi terperangah.   

Dewa Wisnu berprakarsa mengajak Dewa Brahma berhenti bersitegang, bersama-sama mencari tahu siapa atau apa sesungguhnya cahaya cemerlang tersebut.    Yang lebih dulu mendapatkan informasi adalah pemenangnya.    Mereka sepakat dan Dewa Wisnu mengambil wujud seekor angsa melesat keatas, Dewa Brahma mengambil wujud seekor babi menukik kebawah.   Ribuan tahun berlalu, namun keduanya belum menemukan ujung atau pangkal cahaya tersebut, sehingga akhirnya dalam kelelahan keduanya kembali ketitik semula.    

Dewa Wisnu dengan jujur mengatakan bahwa tidak menemukan ujung dari cahaya tersebut. Dewa Brahma dengan menyodorkan setangkai bunga capaka atau ketaki, mengatakan bahwa sudah menemukan pangkal cahaya tersebut.   

Ketika dialog sedang berlangsung tiba tiba terdengar dengingan suara OM.... bergitu panjang dan merdu dan dari dalam cahaya tersebut muncul satu sosok baru yang kemudian dikenal sebagai Dewa Siwa atau Mahadewa.    Dewa Wisnu kemudian berkata ”rupanya anda muncul karena, pertengkaran kami berdua, siapa anda”.     Dewa Siwa menjawab, ”Kita bertiga adalah bagian dari yang tunggal, dengan tugas masing-masing.   

Brahma sebagai pencipta, Wisnu sebagai pemelihara ciptaan dan tugasku pada waktunya mengembalikan semuan ciptaan tersebut keasalnya.   Karena Brahma sudah berbohong, mengatakan sudah menemukan pangkal dari cahaya ini, maka kupastu agar Brahma tidak banyak dipuja umat manusia.   Demikian juga bunga capaka/ketaki yang dijadikan sarana berbohong kupantangkan untuk dijadikan sarana pemujaan kepadaku”.     

Setelah Dewa Siwa berkata demikian, Dewa Brahma dan Dewa Wisnu sujud menyembah Dewa Siwa, yang selanjutnya gaib kedalam balok cahaya.   Dari sini muncul tradisi pemujaan kepada Dewa Siwa, setiap malam yang paling gelap dalam kurun waktu tertentu.     Balok cahaya tersebut adalah joytir linggam, yang merupakan lingga pemujaan ditempat Dewa  Siwa pernah memberikan pemunculan ”darshan”.   

Diseluruh India terdapat 12 joytir linggam, satu diantaranya di Kedarnath temple, dimana Dewa Siwa Muncul dihadapan Panca Pandawa yang melakukan tapasya pengampunan perasaan berdosa atas pembunuhan yang mereka lakukan selama Bharata yudha.     Ditempat ini juga Sri Adi Sangkara acharya mokhsa setelah menyelesaikan tugas memurnikan ajaran Siwa pakca.                                       

Pastu yang didapat Dewa Brahma ternyata terbukti, dimana hingga saat ini di India sangan sedikit dijumpai mandir pemujaan Dewa Brahma, sedangkan dimana-mana dijumpai dengan mudah Wisnu dan Siwa Mandir.
    
Di lingkungan kita, melaksanakan upacara dan brata Ciwaratri, yang pertama kita ingat adalah karya mahakawi Mpu Tanakung tentang Lubdhaka, dalam kekawin Siwaratrikalpa.    ”Lubdaka” adalah tokoh pengejar kenikmatan duniawi, bahkan untuk mencapainya tidak segan melakukan himsa-karma.  

Dalam konteks kekinian, tokoh Lubdaka bisa jadi telah numitis menjadi Lubdaka kontemporer. Reinkarnasi menjadi orang yang tidak pernah puas dengan harta dan tahta yang didapat.   

Menjadi pemburu gunung, hutan, danau, teluk, dan laut, dengan tujuan mengeruk dan menumpuk keuntungan, tanpa memperhatikan kelestriannya.    Walau saya yakin semeton pengayah adalah orang-orang yang berhati ikhlas.   

Namun demikian malam pemujaan kepada Dewa Siwa, perwani tilem sasih kepitu, sepatutnya kita jadikan malam perenungan, sehingga menyadari kemungkinan adanya  dosa dosa yang telah dilakukan dalam kurun waktu 12 perwani yang lalu.   

Barangkali dapat menemukan jauh dalam diri masih tersembunyi Lubdaka kecil.    Sadar akan dosa, dan berupaya  untuk tidak mengulagi lagi, merupakan salah satu syarat cairnya dosa tersebut.
 
Selamat melaksanakan bratha Siwaratri, semoga anugrah Dewa Siwa menyucikan hidup ini.  OM shanti, shanti, shanti OM.

sumber copas #group PAJK GN Salak

Minggu, 03 Januari 2016

MAKNA UPACARA NGULAPIN

MAKNA UPACARA NGULAPIN
(dikutip dari berbagai sumber)

Upacara Ngulapin merupakan bagian dari upacara Manusa Yadnya, yang mana biasanya Upacara Ngulapin dilakukan untuk menormalisasi kehidupan seseorang setelah mengalami kejadian yang mengejutkan. Karena jika seseorang mengalami suatu kejadian yang mengejutkan, hal ini akan berdampak pada kehidupannya. Jika dibiarkan tanpa dilakukan suatu upacara, dapat membuat kehidupan seseorang menjadi tidak normal.


Biasanya upacara ngulapin ini lebih sering dijumpai ketika ada seseorang yang mengalami kecelakaan. Karena ketika kecelakaan dikatakan bahwa  bayu yang ada pada diri manusia akan terlepas. Ini tentu akan berdampak negatif karena bayu menjadi penggerak kehidupan manusia. Upacara pengulapan inilah yang akan mengembalikan bayu, sehingga hidup orang yang bersangkutan bisa kembali normal seperti sedia kala. Upacara pengulapan bisa dilakukan di perepatan terdekat, karena tujuannya untuk memanggil bagian diri yang tertinggal di tempat kejadian.

Upacara Ngulapin juga dilakukan untuk menyeimbangkan empat saudara yang ada dalam diri manusia yang dikenal dengan sebutan catur sanak — anggapati, rajapati, banaspati dan banaspati raja. Jika manusia terkejut, maka keempat saudara yang ada pada diri seseorang akan menjadi tidak seimbang. Keseimbangan inilah yang akan dikembalikan melalui berbagai sarana yang digunakan dalam upacara pengulapan. Selain itu juga dikatakan bahwa dengan upacara ngulapin, dapat mengurangi atau menghilangkan trauma pada seseorang yang mengalami kecelakaan atau kejadian yang mengejutkan.

Upacara Ngulapin selain untuk orang yang mengalami kecelakaan, juga ada ada beberapa macam  Upacara Ngulapin yang mempunyai maksud dan tujuan yang berbeda. Yaitu sebagai berikut:

1. Ngulapin Pitra

Mula pertama dari proses pembakaran mayat, adalah upacara ngangkid atau ngulapin di setra. Yang dimaksud dengan upacara ini adalah mencari galih atau tulang yang akan diaben. Setelah pelaksanaan ini selesai maka terjadilah macam-macam versi, ada juga yang diajak pulang untuk sembahyang pada sanggah kemulan Ring Bhatara Yang Guru.

2. Ngulapin Orang baru Sembuh dari Penyakit

Adapun maksudnya disini adalah supaya orang yang diupacarai ini bisa makan segala macam makanan, maksudnya tidak terpengaruh oleh makanan yang menyebabkan sakitnya kumat/kambuh, dalam bahasa Bali disebut dengan betus. Kendatipun ia sudah sehat tapi kalau belum diadakan upacara pengulapan ia tidak boleh makan sewenang-wenang seperti makan jotan, daging guling dan lain sebagainya, dan juga tidak diperkenankan keluar rumah.

3. Ngulapin Pretima

Yang dimaksud dengan upacara ngulapin ini ialah apabila pretima itu pernah jatuh, disebabkan karena disenggol oleh binatang, seperti kucing tat kala ada upacara di sekitar pratima itu, jatuh karena tempatnya tidak baik, dibawa oleh manusia, selain dari it-u mungkin pratima itu pernah dicuri atau dimasuki oleh pencuri.

Suksme..kiranglangkung ampure..Rahayu

Sumber Copas : Group Banjar Ciledug

Minggu, 27 Desember 2015

Atribut Dari Dewa Siwa

MAKNA DAN KISAH DI BALIK ATRIBUT DARI DEWA SIVA..

Beliau adalah Deva yang paling agung sehingga nama lainnya adalah Mahadewa. Tetapi penampilannya sungguh tidak mencerminkan keagunganNya. Dewa Siva mengolesi seluruh tubuhnya dengan abu mayat, bercelana kulit binatang, berkalung dan bergelang ular cobra, menghias tubuhnya dengan tulang belulang dan kadang kala untaian tengkorak manusia melingkar dileher beliau.

Dengan kata lain, Dewa Siva berpenampilan sungguh nyentrik. Mengapa demikian? Padma Purana Uttara-Khanda Bab 235-236 menjawab dengan penuturan cerita dialog antara Dewa Siva sendiri dengan istrinya, Dewi Parwati.

Dewi Parwati berkata, Junjunganku, anda pernah memberitahu saya agar seseorang menghindar bicara dengan pasandi, orang asurik yang atheistic. Jika bicara dengannya, maka itu akan lebih buruk daripada berbicara dengan orang candala, orang buangan amat kotor dan hina, Mohon beritahu hamba, bagaimana tanda-tanda orang pasandi dan cirri-ciri pisik yang nampak pada dirinya.

Dewa Siva menjawab, orang-orang yang diliputi kebodohan menyatakan deva lain siapapun lebih tinggi kedudukannya dari Visnu, sang penguasa jagat, mereka inilah disebut pasandi, orang orang brahmana yang tidak mengenakan tanda dan simbul seperti sanka, cakra dan tilaka pada dahinya, mereka inilah disebut pasandi. Orang brahmana yang tidak menuruti sastra, tidak memiliki bakti kepada Tuhan, orang yang berperilaku menurut kemauannya sendiri, dan menghaturkan persembahan ke dalam api korban suci (yajna) untuk memuja dewa-dewa selain Tuhan Yang Maha Agung, Sri Visnu, juga disebut pasandi. Sebab Sri Visnu lah penikmat segala persembahan yajna dan pujaan para brahmana.

Mereka yang menganggap Sri Visnu setingkat dengan dewa-dewa lain seperti Brahma dan saya sendiri Rudra, harus selamanya dianggap pasandi.

Dewi Parvati berkata, Junjunganku, oh dewa terbaik, hamba ingin bertanya sesuatu yang rahasia. Atas dasar cinta kepadaku, mohon jawab pertanyaan hamba, hamba sangat ragu, sastra mencela memakai tengkorak manusia, menghias badan dengan abu mayat dan mengenakan kulit binatang. Tapi anda sendiri melakukan semua itu, anda belum pernah menjelaskan semua ini kepda hamba, karena itu, oh junjungan hamba, maafkan pertanyaan hamba.

Ditanya seperti itu, Dewa Siva menjelaskan kepada sang istri rahasia besar tentang perilakunya sendiri. Dahulu kala pada masa pemerintahan Syayambhu Manu, hidup banyak asura perkasa seperti Mamuci, musuh para dewa (Bhagavata Purana 8.11.23-40). Mereka gagah perkasa, semua memuja Sri Visnu, dan melakukan penebusan dosa. Melihat kenyataan ini, para dewa yang dipimpin oleh deva Indra menjadi frustasi dan ketakutan, lalu mendatangi Sri Visnu dan berlindung kepada-Nya.

Para Dewa berkata, oh Kesava, hanya andalah yang mampu menaklukkan para asura yang perkasa ini. Mereka tidak bisa dikalahkan oleh para Dewa, dan mereka telah menghapus dosa-dosanya melalui pertapaan.

Dewa Siwa dan Dewi Parwati
Dewa Siva lanjut berkata, mendengar kata-kata para dewa yang ketakutan, Sri Visnu, Purusotama, memenangkan mereka. Lalu Beliau berkata kepadaku sebagai berikut, oh Rudra yang berlengan perkasa, oh Dewa yang terbaik, untuk membingungkan musuh-musuh para dewa, mohon dirancang perilaku untuk diikuti oleh para pasandi. Tuturkan kepada mereka kitab-kitab purana gelap (purana dalam sifat tamas) yang akan menyesatkan mereka, Oh anda yang cerdas, anda hendaknya ciptakan kitab-kitab agama yang akan menyebabkan para asura kebingungan.

Melalui kebhaktian kepada-Ku dan demi kebaikan seluruh jagat, anda hendaknya mendekati para rishi yang perperangai atheistic seperti Kanada, Gautama, Sakti, Upamanyu, Jaimini, Kapila (bukan Kapila putra Devahuti), Durvasa, Mrikiandu, Brhaspati, Bhargava dan Jamadagni. Masukan kedalam pikiran mereka tenagamu yang mengandung kemauanmu.

Dengan dimasuki oleh tenagamu, mereka akan menjadi para pasandi besar. Dengan diberikan kekuatan olehmu, orang-orang brahmana ini akan menuturkan keseluruh tiga dunia kitab-kitab purana dan ajaran-ajaran rohani dalam sifat kegelapan (tamasa-guna) Oh Siva, pada dirimu sendiri, anda hendaklah mengenakan hiasan berupa tulang-tulang dan tengkorak manusia, abu mayat dan kulit binatang. Dengan penampilan demikian, bingungkan semua di seluruh tiga dunia. Anda juga hendaklah meresmikan ajaran kehidupan Pasupata beserta bagian-bagian kelompoknya seperti Kankala, Saiva, Pasanda, dan Mahasaiva. Melalui orang-orang ini hendaknya anda ajarkan satu doktrin yang para pengikutnya tidak mengenakan pengenal khusus dan mereka hidup diluar ajaran veda. Berhiaskan tulang-tulang dan abu mayat,mereka akan kehilangan kesadaran yang lebih tinggi dan akan menganggap anda sebagai Tuhan.

Dengan menuruti doktrin demikian, semua asura dalam sekejap akan menjadi tidak peduli kepada-Ku, tidak ada keraguan tentang hal ini, oh Rudra nan perkasa, dalam setiap jaman, dalam reinkarnasi-Ku yang berbeda-beda, Aku juga akan memuja dirimu untuk menipu para asura. dengan menuruti doktrin-doktrin demikian, pasti mereka akan jatuh.

Dewa Siva lanjut berkata kepada Devi Parvati, oh anda nancantik, setelah mendengar kata-kata Sri Visnu, meskipun saya berbicara fasih, saya jadi tak berdaya dan diam. Kemudian setelah sujud kepada Beliau, saya berkata, oh Tuhan ku, jika hamba laksanakan apa yang anda telah katakana, itu pasti akan menuntun diri hamba menuju kehancuran spriritual. Tidaklah mungkin bagi hamba melaksanakan perintah-Mu. Tetapi perintah-Mu harus dilaksanakan, ini sungguh menyakitkan.

Oh, Dewi, mendengar kata-kataku, Sri Visnu bicara begitu rupa untuk mengembalikan kebahagiaanku, Beliau berkata ini tidak akan menyebabkan kehancuranmu. Lakukan seperti apa yang saya perintahkan demi kebaikan para Dewa. Saya juga akan memberi anda cara-cara mempertahankan diri sementara anda sibuk mengajarkan filsafat asurik ini.

Lalu dengan penuh kasih Sri Visnu memberikan doa-doa pujian yang dikenal dengan nama Visnu-sahasra-nama kepadaku. Beliau berkata dengan menempatkan diri-Ku dihatimu, ucapkan mantra-Ku yang abadi ini. Mantra nan perkasa yang terdiri dari enam baris kata ini, berhakekat spiritual dan menganugrahkan pembebasan bagi mereka yang memuja-Ku dengan bhakti.
Tidak ada keraguan akan hal ini.

" Indivara-dala syamam padma patra-vilocanam

sankhanga-sarngesu-dharam sarvabharana-bhusitam

pita-vastram catur bahum janaki-priya vallabham

sri ramaya nama ity evam uccaryam mantram-uttamam

sarva duhkha haram caitat papinam api mukyi-dam

imam mantram japan nityam amalas tvam bhavisyasi "

Hamba sujud kepada Beliau yang berwarna gelap bagaikan bunga padma biru, yang bermata seindah bunga padma, memegang sanka, cakra dan busur sranga, berdandankan berbagai macam perhiasan, mengenakan jubah kuning, bertangan empat dan pujaan tercinta sita devi. Mantra paling utama sriramaya namah hendaklah diucapkan. Mantra ini meniadakan segala kesedihan dan bahkan memberikan pembebasan kepada orang-orang berdosa.Orang yang secara teratur mengucapkan mantra ini, akan bebas dari segala dosa. (Padma purana 235.44-46)

Segala reaksi dosa akibat memoleskan abu mayat dan mengenakan tulang-tulang orang mati sebagai hiasan pada badan akan hapus dan segala sesuatu jadi bertuah dengan mengucapkan mantra-Ku ini. Oh Dewa yang paling baik, atas karunia-Ku, bhakti hanya kepada-Ku akan timbul. Pujalah diri-Ku, didalam hatimu, turuti perintah-Ku, karena cinta kasih (bhakti) kepada-Ku, maka segala sesuatu akan menjadi bertuah bagimu.

Setelah memberi perintah demikian kepadaku, oh Dewi, lalu Beliau meninggalkan para dewa yang berkumpul itu, kembali ketempat tinggalnya masing-masing. Para dewa yang dipimpin oleh Indra itu memohon kepadaku, oh Mahadeva, Siva segeralah laksanakan kegiatan kegiatan yang menguntungkan ini, sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Sri Visnu.

Mahadeva lanjut berkata kepada Dewi Parvati, oh anda nan suci, demi kebaikan para dewa, maka saya berperilaku seperti pasandi. Semenjak itu saya mulai mengenakan untaian kalung tengkorak dan tulang-tulang, memoleskan abu mayat dan mengenakan kulit binatang pada badanku. oh anda nan suci, sebagaimana diperintahkan oleh Sri Visnu, kemudian saya menyebarkan kitab-kitab purana tamasik (purana dalam sifat tamas, kegelapan) dan ajaran-ajaran saivaisme yang pasandi, atheistik.

Oh, anda yang tak berdosa, dengan memasuki Gautama dan para brahmana lain melalui tenagaku, saya menyebarkan ayat-ayat agama diluar ajaran veda. Dengan menuruti sistim pemujaan yang saya berikan, maka semua asura jahat menjadi tak perduli kepada Sri Visnu, dan mereka diliputi kebodohan. Dengan mengoleskan abu mayat ketubuhnya dan melaksanakan pertapaan keras, mereka berhenti memuja Sri Visnu dan hanya memujaku dengan mempersembahkan daging, darah dan pasta cendana.

Dengan mendapar berkah dariku, orang-orang asura itu menjadi mabuk dengan kekuatan dan kebanggan. Mereka amat melekat pada objek-objek indriya, penuh nafsu dan kemarahan. Dalam keadaan seperti itu, tanpa sifat baik apapun, mereka akhirnya dikalahkan oleh para deva. Tanpa pengetahuan tentang jalan kehidupan yang benar, mereka yang menuruti ajaranku ini pasti masuk neraka.

Oh Dewi, demikianlah perilaku ini hanya untuk diriku saja demi kebaikan para dewa. Dengan menuruti perintah Sri Visnu, maka saya menghias diriku dengan abu mayat dan tulang tulang orang mati. Ciri-ciri jasmani ini hanya dimaksudkan untuk menipu orang-orang asurik. Didalam hatiku saya selalu bermeditasi kepada Tuhan, Sri Visnu dan senatiasa mengucapkan mantra-Nya. Dengan mengucapkan mantra utama yang terdiri dari enam suku kata (om ramaya namah) ini, kita senantiasa merasakan gairah amrita kekal kebahagiaan. Oh wanita mulia berwajah indah, saya telah jawab semua yang anda tanyakan. Dengan penuh kasih, saya bertanya kepadamu, apa lagi yang anda ingin dengar ?.

Dewi Parvati berkata, Oh anda nan suci, beritahulah saya tentang kitab-kitab suci tamasik bikinan para brahmana yang tidak memiliki bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Oh penguasa para dewa, mohon beritahu nama-namanya secara berurutan.

Deva Siva menjawab, Oh Devi, dengarlah. secara berurutan saya akan sebutkan kepadamu tentang ayat-ayat agama tamasik. Hanya dengan mengingat ayat-ayat agama tamasik ini, bahkan orang bijaksana sekalipun akan tertipu. Pertama, saya sendiri menyebarkan ajaran saiva, pasupata dan ayat-ayat agama serupa. Setelah tenagaku memasuki dirinya, lalu Rishi Kanada menyebarkan filsafat vaisesika. Begitu pula Gautama mengajarkan filsafat nyaya, dan Kapila mengajarkan pilsafat samkhya yang atheistik. Brhaspati mengajarkan doktrin Carvaka yang banyak dicela, dan Visnu sendiri dalam wujud sang Buddha menyebarkan ajaran palsu buddhisme untuk menghancurkan para asura.

Filsafat mayavada ini adalah kepercayaan kotor dan jahat.Pilsafat ini adalah ajaran Buddhisme terselubung. Parwati tercinta, pada masa Kali-Yuga saya lahir dalam wujud seorang brahmana dan mengajarkan pilsafat rekayasa ini. (Padma Purana 6.236.7).

Filsafat mayavada ini menyebabkan kata-kata dari ayat-ayat kitab suci kehilangan makna sebenarnya, sehingga filsafat ini dicela di dunia. Filsafat ini menganjurkan supaya orang meninggalkan tugas-kewajibannya, sebab orang yang telah jatuh dari tugas dan kewajibannya berkata bahwa meninggalkan tugas dan kewajiban adalah ajaran agama yang sebenarnya. Saya juga mengajarkan bahwa Tuhan dan roh individual adalah sama. (Padma Purana 6.236.8-9).

Dengan maksud untuk membingungkan orang-orang atheistik pada masa Kali-Yuga, saya jelaskan bahwa Tuhan Yang Maha Esa adalah tanpa wujud dan tanpa sifat serta ciri apapun (Padma Purana 6.236.10).

Begitu pula dalam menjelaskan Vedanta-sutra, saya ajarkan pilsafat mayavada yang sama dengan maksud untuk menyesatkan seluruh penduduk ke arah atheisme dengan menolak adanya wujud pribadi Tuhan Yang Maha Esa. (Padma Purana 6.236.11).

Demikian dewa Siva menjelaskan tentang diri dan ajarannya kepada sang istri dewi Parvati.

Sloka-sloka Padma-Purana diatas dikutip dalam Caitanya-Caritamrta Adi – Lila Bab VII. Sri Caitanya mengutip sloka-sloka ini ketika berdiskusi dengan Prakasananda Sarasvati dan para sannyasi mayavadi di Benares. Beliau berkehendak menunjukkan kepada mereka bagaimana Deva Siva telah muncul pada masa Kali-Yuga sebagai Sripada Sankaracarya untuk mengajarkan pilsafat monisme ( yaitu Tuhan dan makhluk hidup adalah satu dan sama).

sumber copas Group PAJK Gunung Salak

Senin, 21 Desember 2015

Kemajuan Kesadaran Atman

Kemajuan kesadaran atman/jiwatman sejak mulai eksis, dalam ajaran Siwa pakca, dapat dibagi menjadi 3 tahapan (avasthai)  yaitu kevala avasthai, sakala avasthai dan suddha avasthai.
1.            Kevala avasthai.   Ketika atman mulai eksis, belum mendapatkan badan kecil, atman bagaikan bibit/benih yang tersembunyi ditanah. Demikian juga ketika atman telah menikmati pahala karma kehidupan didunia, dalam penantian mendapatkan tubuh baru.  Tahapan itu disebut sebagai “kevala avasthai”. Kilatan kesucian tersembunyi dibalik awan anawa (kegelapan ego), sebagai aspek pertama dari tirodhana shakti (anugrah penyamaran, pengaburan ingatan) dariNya.
2.            Sakala avasthai, sang jiwatman mempunyai kesadaran tubuh, sebagai evolusi melingkar dari perjalanan atman berpindah dari satu tubuh ke tubuh lainnya. (samsara punarbhawa).   Ini adalah aspek kedua dan ketiga tirodhana shaktiNya.    

Perjalanan jiwatman tahapan ini juga dapat dibagi menjadi tiga sub-tahapan yaitu sub tahap  irul, marul dan arul.

Sub tahapan Irul juga disebut masa kegelapan, dimana semangat jiwatman adalah kepada pasa-jnanam, yaitu pengetahuan dan pengalaman duniawi.   Berpangkal dari kepentingan sendiri (ahamkara dan mamakara).

Sub tahapan marul atau masa kebingunan/confusing; sang jiwatman mulai mempunyai kesadaran diri, serta terjebak dalam kebingungan antara keterikatan duniawi dan kesadaran spiritual, kesadaran ke-Tuhanan, serta belum tahu kemana harus menuju.      

Juga disebut sebagai “pasu-jnanam” dimana sang jiwa berupaya tahu tentang dirinya yang sejati dan kebenaran dunia.
Sub tahapan arul adalah masa mendapatkan anugrah mulai terbebaskan dari cengkraman dunia materiil.  Pada tahap ini sang jiwatman sangat merindukan penampakan (dharshan) yang dipujanya.    

Disinilah evolusi relijius yang sesungguhnya baru dimulai, bercirikan perilaku sebagai penyembah yang sangat konsisten.   Mendapatkan kesadaran bahwa jika berperilaku suci (virtous deed) dan baik (good conduct), hidup akan selalu mengarah kepada hal positif.   Dalam keyakinan mengarah kepada kebaikan dan kesucian.    

Keseimbangan meresap dalam kehidupan. Kesenangan tidak melambungkannya kelangit, sebaliknya kedukaan tidak menghempaskannya kebumi.   Semua ini tidak muncul tiba-tiba, namun sebagai hasil dari sebuah perjalanan dan pengalaman panjang, ratusan kali kelahiran.     

Tanpa disadari tri mala sudah mulai terkendali; maya semakin kurang menarik, cengkraman anawa mulai merenggang dimana hidup sudah bergerak dari mementingkan diri sendiri “self-centered” ke rasa kasih-universal.     

Perkembangan ini disebut “malaparikam”- penyesalan terhadap mala.   Inilah merupakan saat yang tepat bagi turunnya anugrah (saktinipaata).  Anugrah tersebut kedalam dirasakan sebagai kerinduan luar biasa terhadap Siwa. Ingin lebih jauh lagi mengabdikan dirinya kepada segala aspek yang bernuansa spiritualitas dan kesucian.     

Keluar ditandai dengan munculnya seorang satguru, bisa nyata ataupun tidak nyata, tanpa  mengacuhkah siapa ataupun dari mana (aliran) dia karena semuanya dianggap  mengalirkan vibrasi.    Sang jiwatman merasakan sesuatu mengalir dari sang Guru.  

Ketika sang jiwatman sudah berada pada perkembangan “malaparikam”, fungsi tirodhana/concealing grace (anugrah pengaburan) Brahman mulai berhenti, dan berubah menjadi revealing grace (anugraha shakti), ditandai dengan munculnya kesadaran tentang sesuatu yang sudah dan sedang berlangsung atas dirinya.   Sub tahapan arul akan mangantarkan kepada tahapan sudha avasthai, sebagai fondasi kuat mencapai tujuan agama.

Semeton pengayah pembangunan PAJK, bila dalam proses ngayah melanjutkan pembangunan di PAJK atau ayah-ayahan lainnya, kita lakukan dengan keihlasan, semata mata sebagai persembahan, sekecil apapun kemampuan kita; sama sekali bebas dari niat memetik keuntungan materi maupun keinginan mendapatkan popularitas, nama besar, sanjungan dllnya, OM awighnamastu sahabat semua adalah orang-orang yang sudah meninggalkan sub tahapan marul, bahkan mungkin memasuki atau sudah berada pada sub tahapan irul.    

Semoga anugrah  anugrah Dewa Ganesha berupa kecerdasan dan terbebas dari rintangan, anugrah Ratu Niang dan Ratu Gde terbebas dari ganguan niskala, Dewa Hyang Prabhu Siliwangi, berupa pahala “desa abhimana” serta anugrah para Dewa lain dapat dirasakan.   Amunika dumun semoga berguna.

Sumber : Copas saking Group Undagi PAJK GN.Salak

Rabu, 02 Desember 2015

Indonesia Maju Tirulah Bali

Tirulah Bali jika Indonesia ingin maju. Tidak berlebihan bukan ? Bali bukanlah sebuah negara merdeka, Bali bagian dari propinsi di Indonesia, namun (saya dengar) diluar negeri, Bali lebih terkenal dari Indonesia."Bali next to where Indonesia?" "Bali sebelah mananya Indonesia ?" begitulah kira-kira kata mereka para wisatawan luar negeri yang ingin ke Bali.

Budaya Indonesia
Indonesia kaya Budaya, Budaya adi luhur yang telah diwariskan nenek moyang kita. Kekuatan Indonesia ada pada Budaya sendiri. Budaya Indonesia sumber kehidupan dan kedamaian. Indonesia jika ingin maju HARUS mempertahankan Budaya sendiri. Cintailah Budaya kita sendiri. Budaya nenek moyang Indonesia Budaya yang sangat luhur. Jika Budaya Indonesia dikedepankan Indonesia akan maju. Budaya adalah darah daging Indonesia. Indonesia kaya Budaya luhur yang sangat bagus. Budaya itu Indah, Budaya itu Indonesia. Jagalah Budaya Kita. Tiada keindahan tanpa Budaya Indonesia. 

Senin, 12 Oktober 2015

Hulu Teben Kiblat Hindu Bali

 Apakah Dalam Ajaran Hindu Ada Kiblat ?

Jika dikutip dari pengertiannya secara umum kiblat berarti arah tertentu yang bersifat mutlak. Lantas apakah dalam sembahyang agama Hindu ada kiblat? Sebenarnya dalam Hindu tidak terdapat kiblat, dalam ajaran Hindu semua arah adalah suci karena Tuhan ada dimana-mana dan memenuhi seluruh alam raya semesta ini.

Seperti halnya terdapat konsep Dewata Nawa Sanga (sembilan penguasa di setiap penjuru mata angin) dan semua adalah perwujudan dari kekuatan Tuhan dalam berbagai manifestasi beliau. Dengan demikian semua arah ialah suci.

Namun dalam perkembangan Hindu di Bali, dalam pemujaan kepada Tuhan terdapat sebuah istilah yaitu “Hulu Teben”. Hulu Teben adalah konsep penataan sebuah tempat secara vertikal dan horisontal yang dapat membawa tatanan kehidupan skala (nyata) dan niskala (tidak nyata). Hulu Teben berasal dari dua kata yaitu hulu dan teben :
  • Hulu artinya arah yang utama, sedangkan
  • Teben artinya hilir atau arah berlawanan dengan hulu
Hulu – Teben memakai dua acuan yaitu :
  • Timur sebagai hulu dan Barat sebagai teben, atau
  • Gunung sebagai hulu dan Laut sebagai teben
Timur sebagai hulu karena di timur merupakan arah matahari terbit. Matahari dalam pandangan Hindu merupakan sumber energi yang menghidupi semua mahluk. Timur artinya juga wetan, berasal dari kata wit  yang berarti asal mula. Jadi semua mahluk dan alam semesta berasal dari-Nya dan akan kembali ke asal-Nya.

Sedangkan Gunung sebagai hulu karena berfungsi sebagai pengikat awan yang turun menjadi hujan kemudian ditampung dalam humus hutan yang merupakan sumber mata air kehidupan karena tiada kehidupan tanpa air.

Penetapan Hulu Teben hanya sebagai kesepakatan dan etika pemujaan Hindu di Bali. Akan tetapi ada juga tempat pemujaan yang menghadap ke barat, ke selatan dll. Tapi itu bukanlah sebuah hal yang perlu di debatkan atau menjadi pertentangan karena seperti yang sudah diterangkan diatas bahwa dalam Hindu sejatinya semua arah adalah suci.

Semoga bermanfaat untuk semeton. Jika terdapat penjelasan yang kurang lengkap atau kurang tepat. Mohon dikoreksi bersama. Suksma…
(sumber : Buku Cara Mudah Memahami Hindu)

http://inputbali.com/budaya-bali/apakah-dalam-ajaran-hindu-ada-kiblat

Cari Artikel di Blog ini

Memuat...

Berita Terkait Semangat Hindu



Green Warrior International