OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM

PRAKATA

Selamat Datang

Semangat Hindu merupakan blog bersama umat Hindu untuk berbagi berita Hindu dan cerita singkat. Informasi kegiatan umat Hindu ini akan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan.
Semangat Hindu semangat kita bersama.

Bersama Semangat Hindu kita berbagi berita dan cerita, info kegiatan, bakti sosial dan kepedulian, serta kegiatan keagamaan seperti ; pujawali, Kasadha, Kaharingan, Nyepi, Upacara Tiwah, Ngaben, Vijaya Dhasami dan lain sebagainya.

Marilah Berbagi Berita, Cerita, Informasi, Artikel Singkat. Bagi yang mempunyai Web/Blog, dengan tautan URL maka dapat meningkatkan SEO Web/ blog Anda.

Terima Kasih
Admin

RANBB

---#### Mohon Klik Share untuk mendukung blog ini ####---

Rabu, 25 Oktober 2017

Hari Raya Hindu Hari raya Sarasvati

Oleh : Ida Bagus Wika Krishna
“ Science without religion is blind,

religion without science is lame “

Hari raya Sarasvati jatuh pada hari ke-210 kalender Bali, yaitu hari Sabtu-Umanis-Wuku Watugunung, pemujaan terhadap dewi Saraswati sesungguhnya telah dimulai sejak dahulu kala, dalam naskah Rg Veda disebutkan : Maho Arnah Sarasvati pra cetayati ketuna, Dhiyo visy virajati, yang artinya ; Oh Sarasvati, sungai yang besar, Dia yang dengan cahayanya memberikan terang, dia menerangi setiap pikiran yang mulia.


Di dalam naskah-naskah Veda Dewi Saraswati di-identikkan dengan Dewi Vac sebagai personifikasi kata-kata, beliau merupakan dewi kebijaksanaan dan pengetahuan yang merupakan sakti dari Dewa Brahma. Saraswati dipuja sebagai personifikasi pengetahuan karena dengan pengetahuan manusia dipermulia. 

Semakin tinggi pengetahuan orang maka akan semakin dihormatilah orang tersebut, hal ini dijelaskan pula dalam Niti sastra I.5 :

Hemani sang mamukti dumadak tika tan hana guna,
yowana rupawan kula wisala tika pada hana,
de nika tanpa sastra tan ateja wadana makucem,
lwir sekar ning sami murub abang tan hana wangi nika.

Artinya :

Sangat disayangkan bila orang kaya tiada mempunyai kepandaian,
biarpun muda, tampan, keturunan bangsawan dan berbadan sehat,
bila tiada pengetahuan mukanya pucat tiada bercahaya,
seperti bunga dapdap, merah menyala namun tiada wangi.

Demikianlah nitisastra menyebutkan betapa pentingnya pengetahuan tersebut, walaupun berkelimpahan materi, wajah yang tampan, semuanya tiada artinya apabila tidak memiliki pengetahuan, karena pengetahuan merupakan kekayaan berharga yang abadi. itulah sebabnya mengapa Hindu sangat menghormati ilmu pengetahuan dan menghayatinya melalui pemujaan hari raya Saraswati. Dengan harapan agar umat Hindu tiada henti-hentinya mengejar ilmu pengetahuan.

Hindu merayakan Saraswati karena secara simbolis beliau merupakan aspek Tuhan sebagai penguasa ilmu pengetahuan, dalam ajaran Hindu pengetahuan demikian penting, karena dengan pengetahuanlah manusia sadar akan tujuan hidupnya, tanpa pengetahuan maka tanpa gunalah manusia itu. Demikian pentingnya arti pengetahuan dalam agama Hindu, maka saraswati dirayakan sehingga umat semakin sadar akan pentingnya pengetahuan dalam mengarungi lautan kehidupan, lebih-lebih pengetahuan spiritual (para widya).

v Cerita I Belog (perbedaan konsep pria dan wanita) dan Pan balang tamak.
v Kepradnyanan (Wiweka) jalan tengah= inner beauty

Pengetahuan disampaikan melalui bahasa, mahkota bahasa adalah aksara, dan inti aksara adalah aksara suci ‘Om’ maka aksara suci merupakan linggasthana dari Hyang Saraswati. itulah sebabnya pada saat hari raya Saraswati kita melakukan brata, agar pada hari itu kita menjaga, membersihkan pustaka-pustaka suci sebagai tanda hormat pada beliau penguasa dari segala pengetahuan.

Didalam salah satu banten saraswati ada jajan yang berbentuk cecak lengkap dengan telurnya, sehingga seolah-olah hindu adalah pemuja binatang, Hindu bukanlah penganut totemisme, walaupun seringkali ada anggapan masyarakat bahwa cicak mewakili kehadiran dewi saraswati, namun tidak berarti Hindu memuja cicak, namun ada makna yang sangat dalam dibalik semua itu. (Cara Membuat Banten Saraswati)

Seperti yang kita ketahui inti mahkota dari pengetahuan adalah aksara, dalam aksara Bali ada yang disebut cecek, yaitu titik yang mengawali penulisan dan diikuti selalu dengan mantra mangajapa Om. Jadi cecek itu adalah benih dari tiada menjadi ada, beliau tiada lain adalah Sang Sangkan Paraning dumadi. Cecek adalah bundar terkecil dalam aksara bali, Bundar mengingatkan kita pada windu dalam aksara suci Omkara, yang berarti kosong atau sunya.
Jnana Sidhanta disebutkan ;

Niskala mijilaken nada, nada mijilaken windu.
windu mijilaken ardhacandra, ardhacandra mijilaken wiswa.
mawaluy-waluy laksanannya. wiswa ngaranya sang Hyang Pranawa

Artinya :

Yang tak nampak melahirkan gema, dari gema nampaklah titik (Windu).
Dari Windu lahirlah ardha candra, ardha candra melahirkan wiswa.
perputaran ini terjadi terus menerus, wiswa berarti bunyi suci OM

Pebratan yang dilakoni saat menyambut perayaan saraswati tersebut, antara lain: Pemujaan Saraswati dilaksanakan pada saat pagi hari sebelum tengah hari tiba, Saat melaksanakan pemujaan saraswati dilarang membaca dan menulis lebih-lebih yang berkaitan dengan pustaka-pustaka suci, dan melakukan jagra atau tidak tidur hingga keesokan harinya pada hari redite paing wara sinta melakukan upacara penyucian atau banyu pinaruh ditempat sumber mata air atau di segara, dan asuci laksana dengan air kumkuman.



Kamis, 19 Oktober 2017

Peranan Sulinggih Hindu

Agama Hindu dikenal sebagai agama yang sangat luwes. Keluwesan itu salah satunya tercermin dari kegiatan ritualnya atau yadnya dan berbagai tradisi yang muncul di masing-masing daerah di mana komunitas Hindu berada. Berbagai tradisi yang muncul dibiarkan mengalir karena secara langsung tradisi tersebut memperkaya nilai-nilai ritual agama Hindu itu sendiri.

Dalam pelaksanaan upacara yadnya, peranan seorang pemimpin upacara merupakan suatu keharusan. Dalam hal ini umat Hindu mempercayakan kepada para sulinggih sebagai pemimpin upacara yadnya yaitu Ida Pedanda, Rsi, Sri Empu, Jero Dukuh, Pandita, dan para sulinggih lainnya termasuk pemangku.
Seorang Sulinggih memiliki peran yang sangat besar dalam kehidupan umat Hindu. Beliau mendapatkan wewenang untuk membuat air suci sendiri dalam setiap upacara yadnya, Dewa Yadnya, Manusa Yadnya, Pitra Yadnya, Butha Yadnya dan Rsi Yadnya. Air Suci yang dibuatnya akan menentukan kedudukan hukum seseorang dalam perkawinan, pengangkatan anak dan lain sebagainya. Air Suci sebagai sarana penting dalam setiap upacara kita. Demikian pula dalam upacara pembakaran jenasah dan kegiatan Tawur Agung / Nyepi yang memerlukan Air Suci.


Itulah sekelumit peran seorang Sulinggih dalam kehidupan kita sebagai umat Hindu. Matur suksma atas dukungan moral, materiil, dana Punia, yang telah diberikan dalam persiapan-persiapan upacara Mediksa yang akan kita laksanakan, dan kami Panitia senantiasa memohon kepada umat sedharma dapat berperan aktif guna suksesnya kegiatan upacara tersebut. Sekretaris Panitia 

Selasa, 22 Agustus 2017

Majapahid : Manunggal Jawa Dwipa Hindu Dharma


Majapahid : Manunggal Jawa Dwipa Hindu Dharma

Pelantikan dan Pengukuhan Pengurus Majapahid Nusantara DPD Banten Masa Bakti 2017-2022, bertema “Dengan Pelantikan Pengurus Majapahid Nusantara DPD Banten Kita Mantapkan Srada Dan Bhakti Guna Menyonsong Kebangkitan Hindu Masa Depan”.


Diawali dengan Doa Pembuka, Tari Gambyong sebagai tari penyambutan, kemudian dilanjutkan sambutan-sambutan Ketua Panitia, Ketua Banjar Tangerang Selatan, Sambutan Ketua PHDI, dan Pembimas Provinsi Banten,  kemudian dilakukan pelantikan Pengurus baru oleh DP Majapahid Pusat.

Harjanto S.Pd.H sebagai Ketua Pengurus Majapahid DPD Banten, dengan dewan penasehatnya, Bapak Surono, S.Pd.H, Bapak Aris Wibowo SE, S.Ag. M.Pd, Ir. Ketut Suada MM dan Putu Gita S.Ag, MM.

Salah satu Program Kerja paguyuban ini adalah  memberikan pelayanan kepada Umat Hindu di provinsi Banten dalam hal Dharma Wacana saat-saat Pujawali bila diperlukan.
Dengan anggota 60 orang yang tersebar di Serang, BSD, Tangerang dan Tigaraksa. Bersekretariat PJG Tangerang Selatan.


Dalam Dharma Wacananya Romo Broto Sejati sebagai panutan umat Hindu di Nusantara memberikan tuntunan kepada umat Hindu khususnya Hindu Jawa agar senantiasa tetap menjaga warisan leluhur kita. Bahwasanya kebangkitan Hindu semakin nyata kita rasakan, untuk itu masyarakat Hindu agar mampu meningkatkan pemahaman Tattwa , Susila dan Upakara dengan baik. Menimba Ilmu agama dan Mengamalkan ilmu-ilmu agama Hindu, yang merupakan ajaran Dharma. 

Senin, 10 Juli 2017

Provinsi Banten Juara 1 Dharma Wacana

Utsawa Dharma Gita





Utsawa Dharma Gita Tingkat Nasional ke XIII dilaksanakan di Palembang dari tanggal 6 – 10 Juli 2017

Astungkara, kontingen UDG Nasional ke XIII, provinsi Banten, meraih Prestasi Sebagai berikut:

1. Juara I, dharma wacana bhs Indonesia Anak2 Putera.
2. Juara I, dharma wacana bhs Inggris Dewasa Puteri.
3. Juara II, dharma wacana Anak2 Puteri.
4. Juara harapan I, Palawakya Dewasa Puteri.
5. Juara harapan I, dharma widya SD.
6. Juara harapan II,  menghafal sloka Anak2 Puteri.
7.  Juara harapan III, menghafal sloka Anak2 Putera.
8. Juara harapan III, membaca sloka Dewasa Putera.



Berikut Daftar juara Utsawa Dharma Gita Nasional ke XIII , UDG 2017 :
Soka anak anak putra:
Jatim (harapan 3)
Sumsel (harapan 2)
Sulteng (harapan 1)
Bali (juara 1)
NTB (juara 2)
Kep. Riau (juara 3)

Sloka anak anak putri:
Kalteng (harapan 1)
Kaltim (harapan 2)
Sumsel (harapan 3)
Sulteng (juara 3)
Jatim (juara 2)
Bali (juara 1)

Sloka remaja putra
Sultenggara (harapan 1)
NTB (harapan 2)
Kep. Riau (harapan 3)
Papua (juara 3)
Jatim (juara 2)
Bali (juara 1)

Sloka remaja putri
Sulteng (harapan 3)
Sumsel (harapan 2)
Jatim (Harapan 1)
Lampung (juara 3)
DIY (juara 2)
Bali (juara 1)

Sloka dewasa putra
NTB (harapan 1)
DKI (harapan 2)
Banten (harapan 3)
NTT (juara 3)
DIY (juara 2)
Bali (juara 1)

Sloka dewasa putri
Bali (juara 1)
Jabar (juara 2)
DIY (juara 3)
Lampung (harapan 1)
Sumut (harapan 2)
NTB (harapan 3)

Palawakya remaja putra
Sumut (harapan 3)
Jatim (harapan 2)
NTT (harapan 1)
Jabar (juara 3)
Sumsel (juara 2)
Bali (juara 1)

Palawakya remaja putri
Jatim (harapan 3)
Sumsel (harapan 2)
NTT (harapan 1)
Papua (juara 3)
Sulsel (juara 2)
Bali (juara 1)

Palawakya dewasa putra
Bali (juara 1)
DKI (juara 2)
Kaltim (juara 3)
Sumsel (harapan 1)
Papua (harapan 2)
Jatim (harapan 3)

Palawakya dewasa putri
Kaltim (harapan 3)
Kep Riau (harapan 2)
Banten (harapan 1)
NTT (juara 3)
DKI (juara 2)
Bali (juara 1)

Kekawin remaja putra
Sumsel (harapan 3)
Sulsel (harapan 2)
DKI (harapan 1)
Jatim (juara 3)
Jabar (juara 2)
Bali (juara 1)

Kekawin remaja putri
Sulsel (harapan 1)
Lampung (harapan 2)
DIY (harapan 3)
Sulut (juara 3)
Jateng (juara 2)
Bali (juara 1)

Kekawin dewasa putra
Jabar (juara 1)
Bali (juara 2)
Sulsel (juara 3)
Sumsel (harapan 1)
Lampung(harapan 2)
Sultenggara (harapan 3)

Kekawin dewasa putri
Papua (juara 3)
DIY (juara 2)
Bali (juara 1)
Jatim (harapan 1)
NTB (harapan 2)
Lampung (harapan 3)

Dharma widya SD
Bali (juara 1)
Sulsel (juara 2)
NTN (juara 3)
Banten (harapan 1)
DIY (harapan 2)
Lampung (harapan 3)

Dharma widya SMP
DKI (harapan 3)
Lampung (harapan 2)
Jatim (harapan 1)
Sumsel ( juara 3
NTB (juara 2)
Bali(juara 1)

Dharma widya SMA
DIY (harapan 3)
Jateng (harapan 2)
NTT (harapan 1)
SULSEL (juara 3)
NTB (juara 2)
BALI (juara 1)

Dharma wacana remaja putra bahasa inggris
Kalteng (juara 1)
NTB (juara 2)
Bali (juara 3)
Kep. Riau (harapan 1)
Kaltim (harapan 2)
DIY (harapan 3)

Dharma wacana remaja putri bahasa inggris
NTB (juara 1)
Jateng (juara 2)
NTT (juara 3)
Sumut (harapan 1)
Sultenggara (harapan 2)
Kep. Riau (harapan 3)

Dharma wacana dewasa putra bahasa inggris
Kep. Riau (juara 1)
Kalbar (juara 2)
Bali (juara 3)
DIY (harapan 1)
NTB (harapan 2)
Sulteng (harapan 3)

Dharma wacana dewasa putri bahasa inggris
Banten (Juara 1)
Lampung (juara 2)
Bali (juara 3)
Sulsel (harapan )
Kalteng (harapan 2)
Sultenggara (harapan )

DW anak2 putra bahasa Indonesia
Bali (harapan 1)
NTB (harapan 2)
Sulsel (harapan 3)
DIY (juara 3)
Jabar (juara 2)
Banten (juara 1)

DW anak2 putri bahasa Indonesia
NTT (harapan 1)
Jatim (harapan 2)
DIY (harapan 3)
Lampung (juara 3)
Banten (juara 2)
Bali (juara 1)

DW remaja putra bahasa Indonesia
Jatim (juara 3)
Sumsel (juara 2)
Bali (juara 1)
Kalbar (harapan 1)
Sulsel (harapan 2)
Jabar (harapan 3)

DW remaja putri bahasa Indonesia
Sulut (harapan 1)
Sumsel (harapan 2)
Sultenggara (harapan 3)
Jabar (juara 3)
Lampung (juara 2)
Bali (juara 1)

DW dewasa putra bahasa Indonesia
NTB (harapan 1)
Sulsel (harapan 2)
Sulteng (harapan 3)
DKI (juara 3)
DIY (juara 2)
Bali (juara 1)

DW dewasa putri bahasa Indonesia
NTB (juara 1)
DKI (juara 2)
Bali (juara 3)
Lampung (harapan 1)
Kalteng (harapan 2)
Sultenggara (harapan 3)

Nyanyian keagamaan hindu
DIY (juara 1)
Bali (juara 2)
Sulteng(juara 3)
Kalteng (harapan 3)
Lampung (harapan 2)
DKI (harapan 1)

Menghafal Sloka anak2 putra
Lampung (juara 1)
Bali (juara 2)
Jabar (juara 3)
Sumsel (harapan 1)
Kalbae (harapan 2)
Banten (harapan 3)

Menghafal sloka anak2 putri
Jabar (juara 1)
Bali (juara 2)
Papua (juara 3)
Sulsel (harapan 1)
Banten (harapan 2)
Kalteng (harapan 3)

Menghafal sloka remaja putra
Lampung (juara 1)
Bali (juara 2)
Kep. Riau (juara 3)
DIY (harapaj 1)
Jabar (harapan 2)
Sulteng (harapan 3)

Menghafal sloka remaja putri
Sulteng ( harapan 3)
Papua (harapan 2)
Lampung (harapan 1)
Kep. Riau (juara 3)
Jabar (juara 2)
Bali (juara 1)

Menghafal sloka dewasa putra
Sulteng (harapan 1)
Lampung (harapan 2)
Kaltin (harapan 3)
Bali (juara 1)
Sumsel (juara 2)
Jatim (juara 3)

Menghafal sloka dewasa putri
Lampung (harapan 3)
Sulsel (harapan 2)
Kalteng (harapan 1)
Sumsel (juara 3)
Sultenggara (juara 2)
Bali (juara 1)

Minggu, 23 April 2017

Nyepi, Kerja, dan Kemuliaan Hidup

Nyepi, Kerja, dan Kemuliaan Hidup



Om Swastiastu.
Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam Sejahtera untuk kita sekalian,
Namo Buddayo.

Yang terhormat Presiden RI, Bpk Ir. Joko Widodo
Ketua DPR RI dan anggota DPR RI asal Bali
Ketua DPD RI serta anggota perwakilan Bali
Menteri Agama Republik Indonesia dan Menteri lainnya
Pejabat Tertinggi dan Tinggi Negara
Panglima TNI RI
Ketua Dharna Adyaksa,
Sabha Walak Parisada Hindu Dharma Pusat
Ketua Pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Pusat,
Para Pimpinan Majelis Agama,
Para Pinisepuh Umat,
Para Undangan dan Umat Sedharma yang berbahagia.

Pada tanggal 28 Maret 2017 yang lalu, umat Hindu di seluruh pelosok nusantara baru saja melaksanakan hari raya Nyepi, sebagai penanda awal tahun baru saka 1939. Sebelumnya, dilaksanakan upacara melasti, yaitu upacara penyucian pratima ke sumber-sumber mata air atau laut.

Sehari sebelum Nyepi, umat Hindu secara nasional mengadakan upacara Tawur [ruwatan bumi] yang dipusatkan di depan candi Prambanan, Jateng diikuti dengan hal yang sama di masing-masing Provinsi lain. Setelah hari raya Nyepi, umat Hindu menyelenggarakan acara Dharmasanti sebagaimana dilaksanakan malam ini, sebuah acara formal untuk saling maafmemaafkan serta memberikan dukungan satu sama lain.

Bapak Presiden yang saya muliakan dan hadirin yang saya hormati,

Pada kesempatan dharma wacana ini, ijinkan saya menyampaikan petikan dialog yang inspiratif, antara Judistira dengan Yaksa [tentu bukan Jaksa atau Jaksa Agung]. Dialog terjadi, ketika Judistira melihat empat saudaranya tewas di tepi danau dalam hutan ganas Nandaka. Tempat panca pandawa menjalani hukuman akibat kalah berjudi.

Ketika Judistira melihat empat saudaranya tewas, ia bergumam dengan lirih: ”Ya Tuhan, kenapa empat saudaraku mengalami nasib seperti ini, tewas di tepi danau. Adakah hal salah telah dilakukannya ? Tiba-tiba terdengar suara menggelegar dari langit, yang tidak lain berasal dari Yaksa. “Wahai anakku Judistira, apa yang menimpa adik-adikmu, akibat perbuatannya sendiri.

Mereka dengan lancangnya mengambil air milikku tanpa terlebih dahulu meminta ijinkku. Siapapun tidak berhak melakukan tindakan seperti itu. Terlebih lagi sebagai Ksatrya, seharusnya lebih paham mengenai peraturan, tentu lebih tidak patut melakukan tindakan itu, mengambil sesuatu yang bukan haknya, menikmati sesuatu bukan karena hasil kerjanya.

Oleh karena itu, engkau jangan terlalu bersedih, itu adalah pahala dari karma nya sendiri, hukum karma-phala sedang berjalan. Duh paduka Yaksa, maafkanlah kesalahan dan dosa-dosa saudara hamba. Kesalahan yang dilakukannya, bukan semata-mata kesalahan mereka, melainkan hambalah yang memintanya untuk mencari air yang akan kami berikan kepada istri hamba, Drupadi.

Hamba saudara berlima tidak mungkin dipisahkan. Walau hamba berbeda dalam ciri fisik, watak, dan ibu yang melahirkan, kami tetap bersaudara dalam perbedaan [bina ika tunggal ika]. Bima, tinggi besar, kulitnya rada hitam, tempramental, sementara Arjuna tampan, kulitnya halus, semampai, dan lembut. Sedangkan adik hamba Nakula dan Sahadewa si kembar, bawaannya lemah-lembut, seniman, pintar, dan santun. Perbedaan itu adalah keindahan yang harus hamba pelihara Paduka.

Oleh sebab itu paduka Yaksa, sekali lagi kami mohon agar adik-adik hamba dapat dihidupan kembali, agar kami berlima dapat mendarma baktikan hidup kami untuk negeri yang kami amat cintai. Setelah mendengar motivasi permohonan memelas dari Judistira, maka Yaksa berkata: ”baiklah Judistira, Aku akan hidupkan saudara-saudaramu, dengan syarat kamu bisa menjawab tiga plus satu pertanyaanku’. Judistira pun sepakat “monggo paduka”, Judistira siaaap mengikuti UNBK.

Pertanyaan pertama Yaksa: “apakah yang lebih tinggi dari langit ? Mendengar pertanyaan itu, Judistira melongok ke atas melihat langit biru, dan mejawab: maaf paduka, yang lebih tinggi dari langit, tiada lain adalah akasa, ayah, purusa, lingga. Yaksa berkata: benar Judistira. Ayah, harus dihormati, ayah-akasa-purusa-lingga posisinya menjadi pandu bagi anggota lainnya.

Ida Bagus Gde Yudha Triguna
Kamu ada, juga karena benih purusa, lingga, dan ayah. Akan tetapi, perlu engkau ketahui, predikat ayah yang mulia itu, baru akan kamu pantas sandang, jika engkau bertanggung jawab, tidak abai terhadap keluargamu. Yaksa kemudian mengajukan pertanyaan kedua: “apakah yang lebih berat dari bumi” ? Sambil berfikir, Judistira melihat ke bawah ke tanah yang dipijaknya, sembari menjawab: menurut hemat hamba, yang lebih berat dari bumi tiada lain ibu, pertiwi, predana, yoni. Bagus Judistira ! Ibu, pertiwi, predana, dan yoni adalah lambang kesuburan. Bibit yang baik, tidak akan mungkin tumbuh menjadi kehidupan tanpa ditampung oleh wadah yang subur.

Satu hal yang juga perlu engkau ketahui Judistira, pertiwi selalu akan memberikan apa yang engkau tanam. Jikalau engkau menanam jagung, maka engkau akan memetik jagung, tidak mungkin ketela. Jika engkau berbuat baik, maka engkau akan memperoleh kebaikan, sebaliknya jika engkau menanam keburukan maka cepat atau lambat engkau akan memetiknya.

Oleh karena itu wahai Judistira, rawatlah ibu pertiwi ini dengan sebaik-baiknya, Engkau bisa menghentikan penjarahan dan eksploitasi alam yang sewenang-wenang. Alam mengandung percikan jiwa Tuhan, berupa energi [bayu] dan suara [sabda], alam juga bisa merintih sedih seperti halnya manusia. Orang Jawa, Madura, Bali, Batak, Minang, Dayak, Ambon, Papua, dan lainnya harus bersama-sama menjaga dan merawat ibu-pertiwi, vayam raster jagrayama purohitah [setiap orang berkewajiban melindungi bangsa dan negaranya, Yayurveda IX.23] agar dia tetap cantik-lestari, tidak bopengbopeng, di manapun engkau berada dan mencari kehidupan.

Yaksa melanjutkan petuahnya: “Ketahuilah Judistira, tiada energi apapun akan tercipta jika kedua unsur tadi [akasa dan pertiwi] tidak bersatu. Angin, hujan, petir, dan kamu sendiri ada karena penyatuan akasa dan pertiwi, karena bersatunya ayah dan ibu, lingga dengan yoni.

Dapat dibayangkan jika ekskutif dan legislatif tidak harmoni dan tidak bersatu, maka tidak akan ada dinamika pembangunan yang full power. Oleh karena itu Judistira, jangan pernah meremehkan satu di antara kedua unsur tadi. Keduanya harus diberi posisi yang equal dan dihormati.

Dua pertanyaan sudah dijawab dengan baik oleh Judistira, kemudian Yaksa melanjutkan pertanyaan ketiga: “apakah yang lebih banyak dari pasir di laut atau rumput di ladang” ? Waduh, soal UNBK semakin sulit gumam Judistira. Setelah pranayama, menarik nafas dalam-dalam melalui hidung, menahannya sebentar, dan mengeluarkannya secara pelan-pelan melalui mulut, Judistira kemudian menjawab: “keinginan” paduka Yaksa.

Betul Judistira, keinginan bergerak lebih cepat dari bilangan angka. Ketika kita menyatakan satu, keinginan langsung menjadi dua, tiga, dan seterusnya. Sudah punya mobil satu, ingin punya dua, tiga. Sudah punya rumah satu ingin punya rumah dua, tiga, dan seterusnya. Ayahmu dulu, sudah punya Dewi Kunti, masih juga pingin punya Dewi Madri, untung jaman itu belum terkenal Dewi........[stop press]. Keinginan yang menggelora dan liar harus dikendalikan Judistira.

Saat Nyepi, ketika melaksanakan catur berata dengan tidak bersenang-senang [amati lelanguan], tidak bepergian [amati lelungaan], tidak menyalakan api [amati gni], dan tidak bekerja [amati karya], itu merupakan usaha manusia mengendalikan diri dari pengaruh keinginan [ahangkara] dalam wujud rĂ£ga [nafsu], lobha [tamak], kroda [marah], mada [mabuk], irsya [iri hati], dan moho [bingung]. Itulah sebabnya, saat Nyepi umat Hindu harus melakukan kontemplasi terhadap dirinya, untuk senantiasa berusaha mengekang pengaruh keinginan [ahangkara] liar ke tingkat minimal.

Dengan kekuatan budhi dan wiweka-nya, manusia menimbang betapa mengumbar nafsu, menjadi manusia tamak, iri hati, dengki, pemarah dan melakukan tindakan kekerasan [krurakarma] kepada semua makhluk, terlebih dilakukan kepada manusia, tidak akan pernah menginspirasi manusia mencapai kemuliaan hidup.

Bapak Presiden dan hadirin yang saya muliakan,

Setelah Judistira menjawab ketiga pertanyaan sesei pertama, Yaksa kemudian bersabda: Wahai Judistira putra Kunti, engkau telah mampu menjawab ketiga pertanyaanku dengan baik.

Oleh karena itu, aku akan memberimu satu poucer untuk menghidupkan satu dari empat saudaramu yang tewas. Silahkah pilih mana di antara keempat saudaramu yang akan engkau hidupkan kembali. Dengan sedih Judistira memohon, ‘paduka Yaksa, jika memungkinkan, hamba mohon keempat saudara hamba dihidupkan kembali, bukan hanya satu.

Bagaimana mungkin hamba dan salah satu di antara mereka saja yang hidup, sementara tiga lainnya tewas. Yaksa dengan berwibawa dan bergeming menjawab, “tidak bisa Judistira”, silahkan pilih satu di antara saudaramu untuk dihidupkan kembali. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Judistira menjawab dengan perlahan.

Baik paduka Yaksa, jika demikian halnya, maka saya mohon yang dihidupkan salah satu di antara Nakula atau Sahadewa. Begitu mendengar jawaban Judistira, giliran Yaksa yang terkejut. Apa ? Nakula atau Sahadewa ? Bukankah engkau memerlukan Bima, yang badannya tinggi-besar-perkasa-ahli menggunakan senjata gada. Apa tidak lebih baik engkau menghidupkan Arjuna, si tampan, ahli strategi, ahli perang dan juga ahli dalam menggunakan busur panah ? Bagaimana logikamu Judistira ?

Paduka yang mulia, hamba ini putra Dewi Kunti sudah hidup seorang, seharusnya putra Dewi Madri juga hidup satu orang. Jika hamba menggunkan poucer ini untuk menghidupkan saudara kandung hamba Bima atau Arjuna, maka hamba telah berlaku tidak adil, hanya memikirkan diri sendiri, memikirkan kerabat seibu sendiri, tanpa pernah memikirkan saudara lain.

Jika ibu Madri mendengar dan tahu, betapa sedihnya melihat kenyataan ini. Betapa remuk hati seorang ibu Madri, jika keturunannya musnah, sementara keturunan yang berasal dari ibu lainnya hidup. Oleh karena itu Paduka Yaksa, Keadilan tidak ditentukan oleh seberapa banyak produk perundang-undangan serta peraturan yang dibuat dan telah ada, tetapi keadilan itu akan tegak jika pemimpinnya mau bertindak adil dan memiliki good will untuk mewujudkan keadilan.

Mohon ampun paduka yang mulia, sampurasun...hamba tidak mencoba menggurui paduka, hamba hanya menjelaskan pikiran hamba yang sederhana ini, kata Judistira. Keadilan tidak ditentukan oleh jumlah, ciri fisik, watak, Bahasa, ataupun daerah. Yang lebih banyak jumlahnya, memang seharusnya dapat lebih banyak, tetapi juga tidak boleh mengabaikan yang kecil. Hitam-kriting-besar ciri fisiknya tidak boleh diabaikan karena yang putih-bersih-dan semampai. Yang bersih kelihatan bersih, karena ada yang hitam. Yang besar kelihatan besar, karena ada yang kecil. Barat-Tengah-Timur, utara-selatan semuanya itu harus dilihat sebagai bagian-bagian yang membuat negeri ini indah [Bhineka Tunggal Ika].

Itulah yang ada dalam pikiran hamba yang bodoh ini, maafkan hamba jika paduka tidak berkenan. Bapak Presiden dan Hadirin yang saya muliakan, Begitu mendengar jawaban Judistira, Yaksa tersenyum puas dan bersabda: Engkau lulus dengan predikat Summa Cumlaude, predikat kelulusan tertinggi, dan berhak atas penghargaan serta poucer tambahan. Lagi pula engkau pantas menjadi Raja yang berkeadilan.

Oleh karena itu, aku akan hidupkan keempat saudaraku yang tewas, agar kamu bisa mendarma baktikan hidupmu untuk negeri tercinta ini, sekali lagi Aku tegaskan “untuk mendharma bhaktikan sisa hidupmu untuk negeri ini, sekalipun engkau sudah tidak menjadi Raja lagi”.

Sebagai tambahan, Aku akan memberimu empat pesan penting, yaitu pertama: agar engkau dan saudaramu tetap dekat dengan rakyatmu, hiduplah selalu di hati rakyat, perilakumu jangan pernah berubah karena kedudukan.

Jika engkau hidup rakus, tamak, dan egois dengan mengumbar kemarahan, memaki-maki orang lain, itu sama artinya engkau memarahi dan menyakiti dirinya sendiri anakku Judistira, itu bertentangan dengan ajaran tat twam asi.

Pada waktu, hari, dan bulan yang baik lakukan Japa, meditasi, semadi, dan puasa, sebagai momentum memuliakan diri dan orang lain sesama anak bangsa dengan cara lebih peka terhadap kemiskinan yang masih menimpa sebagian anak negeri ini.

Pesan tambahanku yang kedua, sebagai manusia yang hendak mencapai kemuliaan hidup, engkau harus semakin menyadari betapa pendidikan menjadi modal untuk mencapai kemuliaan hidup sebagaimana tersirat dalam sloka vidya dhanam sarvadhana pradhanam [pengetahuan adalah kekayaan tertinggi]. Ketiga, Manusia Hindu juga diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi hidup damai [shanti] dalam suasana kehidupan yang multikultural.

Bapak Presiden yang amat saya hormati dan banggakan,

Pesan tambahan terakhir yang ingin Aku sampaikan kepadamu Judistira, setelah melaksanakan hening satu hari dan setelah jiwa dan raga beristirahat, maka jiwa memiliki energi baru untuk memulai hidup baru yang lebih berharga bagi keluarga, nusa, dan bangsa. Salah satu cara memuliakan hidupmu adalah dengan bekerja lebih keras dengan menganggap kerja itu sendiri bagian dari yadnya, bagian dari jalan menuju Tuhan. “Tuhan (Prajapati) melakukan kerja untuk dapat menciptakan dunia, yang bergerak berdasarkan hukum-hukum yang berlaku atas ciptaan-Nya itu yang disebut Rta (Rg Veda I.22:18; Rg Veda X. 190:1).

Dalam Atharva Veda (III.24:5); Yajur Veda (20:7) Hindu mengajarkan umatnya bekerja keras dengan penuh konsentrasi dan disiplin (Yoga Sutra, I.15). Oleh karena itu, engkau harus bekerja dengan penuh konsentrasi dan disiplin sebagaimana halnya Tuhan telah memberikan Kamadhuk melalui yadnya-Nya.

Dengan landasan bahwa kerja adalah yadnya, maka tidak ada alasan yang bagi setiap manusia untuk tidak melaksanakan pekerjaan dengan penuh rasa tanggung jawab, kerja-kerja-dan kerja. Dalam Yajur Weda.19.30 disebutkan sebagai berikut.

Pratena diksam apnoti Diksaya apnoti daksinam Daksina sraddham apnoti Sraddhaya satyam apyate [Yajur Weda.19.30]

Artinya: Melalui pengabdian kita memperoleh kesucian, Dengan kesucian kita mendapat kemuliaan Dengan kemuliaan kita mendapat kehormatan Dan dengan kehormatan kita memperoleh kebenaran

Menempatkan kerja sebagai yadnya [tanpa pamrih] juga memungkinkan memperoleh kesucian, hasil yang suci tak ternoda, energi yang mengalir dalam uang yang diperoleh dengan jalan suci akan memberikan vibrasi positif bagi seluruh anggota keluarga yang menikmatinya.

Seluruh keluarga akan tenang hidupnya, dan dalam kondisi demikian, keluarga itu akan memperoleh kemuliaan dan kehormatan sebagai keluarga sukhinah bawantu [memperoleh kemuliaan, kehormatan, dan dipercaya].

Oleh karena itu, mari kita kerja-kerja-kerja bersama Guru Wisesa [pemerintah], sebagai bagian dari catur guru bhakti, agar kita semua memperoleh kehormatan dan kebenaran.

Demikianlah beberapa hal yang dapat saya sampaikan kepada bapak Presiden Republik Indonesia dan para hadirin, disertai permohonan maaf atas segala kekurangan dan kesalahan yang ada. Terima kasih.

Om Shanti, Shanti, Shanti, Om. Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Salom, Namo Buddayo.

Mabes TNI Cilangkap, Jakarta, 22 April 2017 Prof. Dr. Ida Bagus Gde Yudha Triguna, M.S.


Naskah disampaikan pada acara Dharmasanti Nasional Hari Raya Nyepi Tahun baru Saka 1939 di Mabes TNI Cilangkap Jakarta, Sabtu 22 April 2017.

Cari Artikel di Blog ini

Berita Terkait Semangat Hindu



Artikel Agama Hindu

108 Mutiara Veda Agama Hindu Dharma agama islam Ajaran Hindu Arya Wedakarna Atharvaveda Balipost Belajar dari Sejarah Bhagavadgita Bhagawan Wiyasa Brahmana Cendekiawan Hindu Dharma Doa Anak Hindu Doa Melayat Orang Meninggal Dunia Doa Mengheningkan Cipta Doa Mengujungi Orang Sakit Doa Mohon Ketengangan dalam Keluarga Durga Puja Evolusi Melalui Reinkarnasi & Karma Eyang Roro Anteng Ganesha Chaturthi Gayatri Mantram Hari Raya Galungan Hari Raya Nyepi Hari Raya Saraswati Hindu Agama Terbesar di Dunia Hindu Bali Hindu Banten Hindu Batam Hindu Bogor Hindu Ciledug Hindu Festival Hindu German Hindu India Hindu Jakarta Hindu Jawa Hindu Jawa Barat Hindu Jawa Tengah Hindu Jawa Timur Hindu Jogjakarta Hindu Kaharingan Hindu Kalimantan Hindu Klaten Hindu Kresna Hindu Malang Hindu Maluku Hindu Nepal Hindu Palembang Hindu Papua Hindu Pekanbaru Hindu Pematangsiantar Hindu Sulawesi Hindu Sulawesi Tengah Hindu Tengger Hinduism Facts Hinduism the Greatest Religion in the Word Hukum Karma Ida Pedanda Gede Made Gunung Implikasi Keyakinan Atas Prilaku Joko Seger Juan Mascaro Kasada Kebangkitan Hindu Kemenag ki nirdon Kitab Suci Veda Kuil Mariaman lontar Mahabharata Ramayana Mantra Meditasi Matahari Terbit Moksha Motivasi Hindu Mpu Jayaprema Mundakopanisad nakbalibelog Nirukta pandita Pasraman Pitra Yadnya Ngaben Principle Beliefs of Hinduism Pujawali Pujawali Pura Hindu Pura Agung Blambangan Pura Agung Raksa Buana Pura Dharma Sidhi Pura Giri Kusuma Pura Kerta Buana Giri Wilis Pura Mandara Giri Semeru Agung Pura Sangga Buwana Hamburg renungan suci Rgveda Rig Weda sad guru Samaveda Semangat Hindu Swami Harshananda Swami Vivekananda Tanya Jawab Hindu Tirtayatra Tuhan Krishna tutur Upanisad Upanisad Himalaya Jiwa Vasudhaiva Kutumbakam Veda Veda Sabda Suci wija kasawur