OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM

PRAKATA

Selamat Datang

Semangat Hindu merupakan blog bersama umat Hindu untuk berbagi berita Hindu dan cerita singkat. Informasi kegiatan umat Hindu ini akan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan.
Semangat Hindu semangat kita bersama.

Bersama Semangat Hindu kita berbagi berita dan cerita, info kegiatan, bakti sosial dan kepedulian, serta kegiatan keagamaan seperti ; pujawali, Kasadha, Kaharingan, Nyepi, Upacara Tiwah, Ngaben, Vijaya Dhasami dan lain sebagainya.

Marilah Berbagi Berita, Cerita, Informasi, Artikel Singkat. Bagi yang mempunyai Web/Blog, dengan tautan URL maka dapat meningkatkan SEO Web/ blog Anda.

Terima Kasih
Admin

RANBB

---#### Mohon Klik Share untuk mendukung blog ini ####---

Jumat, 23 Desember 2016

HINDU ADALAH VAIDHIKA DHARMA

BANGGALAH MENJADI HINDU

Menjadi penganut Hindu, kadang-kadang umat merasa minder dengan jumlah yang sedikit atau minoritas. Kondisi ini diperparah dengan minimnya pemahaman pada tatwa agama yang baik, sehingga ketika mereka ditanya tentang agama yang terkadang menyudutkan, kita tidak mampu memberikan penjelasan secara komprehensif. Kondisi semacam ini akan menggairahkan para "misionaris marketing surga" untuk memojokkan Umat Hindu dan agama Hindu dengan menyematkan beberapa predikat, seperti 'Hindu Pemuja Berhala', Hindu bukanlah agama, yang hanya budaya hasil karya cipta manusia.

HINDU adalah ARYA DHARMA

HINDU adalah ARYA DHARMA yang dimaksud adalah bahwa agama Hindu merupakan agama ksatrya pemberani dan bertanggung jawab. Setiap perbuatannya dipertanggung jawabkan secara individu. Hindu tidak pernah mengajarkan keroyokan, berani berbuat berani bertanggunh jawab, karena keyakinan akan Hukum Karmanya. Tidak seperti keyakinan tetangga sebelah, asal sudah satu agama akan selalu dibela mati-matian walaupun salah.😪

HINDU ADALAH VAIDHIKA DHARMA

HINDU ADALAH VAIDHIKA DHARMA yang dimaksud adalah bahwa Hindu merupakan 'Wahyu Suci Brahman' yang diterima langsung oleh para Maha Rsi kita melalui bahasa 'Daivivac' atau bahasa Deva. Hindu juga bersifat 'Apauruseya' yang artinya bukan karya purusa atau manusia. Jadi tidak benar tuduhan yang mengatakan Hindu sebagai agama Budaya, hasil karya cipta manusia. Veda dan Hindu diturunkan unttk mewujudkan kesejahteraan semesta 'Loka Samgraha', seperti dalam bait mantra Tri Sandya, yaitu : Sarva prani hitankarah, semoga seluruh makhluk sejahtera & bahagia, jadi Hindu tidak berfikir hanya untuk dirinya sendiri, tidak seperti agama tetangga sebelah kita. Sungguh mulia bukan....?

HINDU ADALAH SANATHANA DHARMA

HINDU ADALAH SANATHANA DHARMA yang dimaksud adalah agama Hindu mengusung kebenaran yang absolut, kebenaran yang hakiki, kebenaran yang sejati yaitu Brahman atau Tuhan yg Maha Sempurna, yang bisa dijumpai dengan berbagai cara dan sarana. Kalau kita lihat dalam agama tetangga, seolah olah Tuhan sangatlah membatasi manusia yang hanya bisa ditemui dengan satu bahasa saja, satu cara saja. Mereka akan menyatakan salah dan sesat jika ada sebagian umatnya yang menjalankan ibadah tidak sesuai dengan umat mayoritasnya. Sehingga jika ada umat yang menyandang cacat permanen, seperti bisu tuli, seolah mereka menyandang 'dosa permanen'.

Itulah Hindu, yang sangat menghargai perbedaan dan keragaman, yang tidak gampang menyatakan sesat walau tidak sehaluan, yang tidak mudah berkata salah pada sebagian yang tidak sama dalam ritual.

Uutuk itu melalui coretan ini saya mengajak kepada anak-anak muda mari kita pahami agama kita dengan baik , agar mendapatkan hasil yang baik. Jangan mudah digoyang keyakinan kita, janganlah minder walau kita minoritas.
BANGGALAH MENJADI HINDU!!!!
sumber : http://www.hindubanten.com/

Rabu, 21 Desember 2016

HINDU ADALAH AGAMA MISI

HINDU ADALAH AGAMA MISI


Umat Hindu banyak yang ragu dan tidak Percaya Diri (PeDe) untuk mengatakan, bahwa Hindu adalah agama misi. Keraguaan dan rasa minder tersebut jelas tak beralasan. Secara bodoh saja, jika kita menyatakan Hindu bukan agama misi, buat apa PHDI yang didalamnya ada BPH (Badan Penyiaran Hindu), PERADAH, WHDI, MAJAPAHID dan lain sebagainya ??

Sementara di dalam sastra Veda terdapat pesan, baik tersurat maupun tersirat yang menyatakan bahwa Hindu adalah 'Agama Misi'

'yathemam vacam kalyanim,avadani janebhyah,brahma, rajanyabhyam, draya,caryaya,svaya,caranaya ca' Yajur Veda XXVI.2 
artinya: sampaikanlah ajaran suci ini kepada seluruh manusia, kepada Brahmana, Ksatrya, Waisya & sudra, kepada orang-orang ku,orang-orang mu dan bahkan orang asing sekalipun. Sloka Suci tersebut sangat jelas dan meyakinkan, bahwa Hindu adalah Agama Misi, namun cara mengemasnya yang mungkin berbeda, tidak vulgar dan radikal. Tidak harus kita berebut pengikut yang akhirnya menghalalkan segala cara.

“Nasti Veda Param sastram”, tidak ada kitab yang seagung Veda. 

Tugas kita, setidaknya bagaimana kita terpanggil untuk membuat rasa nyaman umat yang berada di dalamnya merasa yakin dan nyaman terhadap agama yang diyakininya. Anak2 dan keluarga sebagai bagian terkecil dari komponen Hindu merupakan dasar pembentuk komunitas Hindu yang besar dan kuat. 

Terdapat beberapa sloka suci yang patut kita jadikan referensi dan dasar meyakinkan anak, saudara, tetangga dan warga Hindu kita agar tetap di dalam 'Pangkuan Dharma':

'yah sastra vidhim utsrijya, vartate kama karatah, nasa sidhim avapnoti, nasukham naparam gatim',*Bh.G. VI.23 : 

siapapun yang meninggalkan ajaran Sastra Vidhi/Veda (agama Hindu) dan berada dalam pengaruh kama (keinginan duniawi), mereka tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan dan tujuan tertinggi.

'rnani tryapakritya, namomokse niwecayet, ana pakrtya moksamtu, sevamano vrajatyadah' MDS.VI.35: 

mereka yang telah membayar 3 hutangnya (tri rna), hendaknya ia menunjukkan kearah pembebasan terakhir (moksa), tapi mereka yang tidak menyelesaikan 3 hutangnya,maka akan jatuh ke ke dalam Neraka.


Berpijak dari sloka suci tersebut saya mengajak kepada seluruh umat Hindu, terlebih organisasi yang mengatasnamakan Hindu, mari kita sadar dan bangkit. Hindu sudah terlalu lama tertidur. Mari kita sadar dan bangkit bersama untuk membangun Hindu, dari diri kita, keluarga kita, dari sekarang dan dari lingkungan kecil kita...

Radio Online Bali

SMARTPHONE ANDROID, BLACKBERRY DAN IPHONE
1. Download dan Instal aplikasi Tunein Radio melalui PLAY STORE/APP STORE
2. Buka aplikasi Tunein Radio yang sudah terinstall tersebut,
3. Search Gitabali… u ready to go…….

Selamat mencoba.
Terima kasih atas semua dukungan Gitabaliners semua. Kami ada dan tetap semangat, karena dukungan dan partisipasi aktif Gitabaliners.

Selasa, 29 November 2016

PAUD Hindu

Pemkab Gianyar Bangun PAUD Berbasis Hindu


Gianyar (Antara Bali) - Pemerintah Kabupaten Gianyar, Bali melalui Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga setempat membangun pendidikan anak usia dini (PAUD) berbasis Hindu secara bertahap mulai tahun 2016.

Bunda PAUD Kabupaten Gianyar, Ny. Surya Adnyani Mahayastra bersama pembicara Prof Wayan Windia, SH mulai mengadakan sosialisasi Pengembangan PAUD berbasis Hindu di Plut UMKM Bedulu, Senin.

Ny. Surya Adnyani Mahayastra mengatakan, PAUD Berbasis Hindu merupakan program dari pemerintah pusat dan Pemkab Gianyar sangat mendukung.

Pemkab telah membentuk tiga PAUD Hindu yang dibagi menjadi tiga zone yang meliputi zone Utara (Kecamatan Payangan, Tegallalang, Payangan dan Tampaksiring). Zone Tengah (Kecamatan Gianyar dan Blahbatuh) dan Zona Selatan (Kecamatan Sukawati dan Ubud).

Menurut Ny. Adnyani Mahayastra, dalam PAUD Hindu nanti metode pembelajaran sama seperti biasanya. Upaya tersebut mengedepannkan belajar sambil bermai.

Dalam pendidikan anak usia dini tersebut akan diselipkan permainan tradisional Bali yang mengandung konsep-konsep agama dan budaya Hindu. 


Ia mengharapkan Pemkab Gianyar mampu membangun 14 PAUD Hindu tersebar di tujuh kecamatan di daerah "gudang seni" di Bali tersebut.

Menurut Prof Windia PAUD Hindu merupakan pendidikan anak usia dini yakni metode pendidikan berbasis Hindu pada perangkat pendidikan dan atmosfernya. 

Hal itu dinilai sangat penting karena anak-anak PAUD selama ini hanya diperkenalkan salam menurut ajaran agama Hindu dan trisandya. 

Untuk itu dalam PAUD berbasis Hindu, akan diberikan pendidikan agama Hindu lebih banyak, namun tetap dalam metode pembelajaran anak usia dini yakni dengan cara bermain.

PAUD Hindu didukung kelembagaan yang menaunginya yaitu berbadan hukum atau yayasan, memiliki sarana dan prasarana, terutama tenaga pendidik yang terlatih. 

"PAUD berbasis Agama Hindu perlu dikembangkan, mengingat makin derasnya era teknologi saat ini mengancam degradasi moral anak bangsa. Jadi mereka harus diberi bekal pendidikan agama sedini mungkin," ujar Prof Windia. (WDY)
Editor: I Gusti Bagus Widyantara
sumber : http://www.antarabali.com/berita/99055/pemkab-gianyar-bangun-paud-berbasis-hindu

Senin, 03 Oktober 2016

Pura Nirwana Jati Dan Pura Di Jawa Timur

Pura Nirwana Jati terletak di Dusun Sekelor, Kecamatan Balong Bendo Sidoarjo. Pura ini disungsung oleh kurang lebih 16 KK Umat Hindu asli etnis Jawa.Pura ini mengalami proses yang cukup berliku, akhirnya astungkara Pura ini dapat berdiri dan selesai tahun 2011. Pura ini dipimpin oleh seorang pemangku asli Jawa yaitu Mangku Sampan.

Pura Agung Blambangan yang ada di Kecamatan Muncar merupakan pura terbesar di Kabupaten Banyuwangi. Pura ini sering dikunjungi umat Hindu Bali terutama saat merayakan Hari Raya Kuningan.

Pura Penataran Luhur Medang Kamulan terletak di Dusun Buku Desa Mondoluku Kecamatan Wringinanom Kabupaten Gresik Provinsi Jawa Timur. Semoga semua junjungan menganugerahi kehidupan abadi, semoga berhasil sesuai keinginan kita bersama dan selalu mengampuni segala kekurangan maupun keterbatasan kami sebagai hamba NYA.

Pura Mandara Giri Semeru Agung salah satu Pura mbak-mbak mejeng di depan Pura Mandara Giri Semeru Agung. Setiap akhir pekan ada saja rombongan yang berkunjung ke pura ini. Kebanyakan pengunjung adalah dari pulau seberang, pulau Bali. Dan acara paling ramai yang diselenggarakan disini adalah pada saat ulang tahun pura (Piodalan).

Pura Agung Jagad Karana terletak di jalan Gresik-Surabaya atau di Jalan Ikan Lumba-Lumba No 1, Perak Barat, Krembangan dekat dengan Museum Loka Jala Srana Sehingga membuat ibadah lebih hikmat dan tenang. Lokasinya jauh dari keramaian sehingga membuat suasana tempat ini tenang dan hikmat.

Pura Jala Siddhi Amertha, Juanda-Sidoarjo. Seperti bangunan suci umat hindu di tempat lain. Pura yang berlokasi di Juanda Sidoarjo ini juga terlihat sangat besar dan indah.

Pura Sunialoka terletak di Dusun Tangjung Rejo, Desa Kebon Dalem, Kecamatan Bangorejo, Kabupaten Banyuwangi. Pura ini letaknya di atas bukit bebatuan yang disebut Gunung Sari, dan di sebelah Gunung Sari terdapat sebuah bukit yang lebih tinggi yang disebut Gunung Srawet yang dikelilingi hutan jati dengan aura terasa angker.

Pura Natar Sari. Terletak di Dusun Kali Wadung, Desa Kali Gondo, Kecamatan Genteng, Kabupaten Banyuwangi. Pura ini dapat dicapai sekitar satu jam perjalanan dari Pura Agung Blambangan ke arah barat laut menuju lereng Gunung Raung. Pura ini dibangun sekitar tahun 1967 oleh sekelompok masyarakat setempat yang masih kuat memegang keyakinan leluhur. Walaupun pada saat itu mereka mengalami intimidasi yang kuat oleh golongan tertentu. Namun di tengah tekanan dan intimidasi, mereka masih memiliki keyakinan akan keagungan agama leluhur.



Pura Candi Purwo diadakan setiap Purnama Ketiga, sesuai dengan pesan Prabu Brawijaya lima ratus tahun yang lalu,

PURA LUHUR POTEN (pura yang berada di lautan pasir). Pura ini menjadi pusat kegiatan pemujaan dalam rangka yadnya kesada dan kegiatan keagamaan Suku Tengger. Pura Luhur Poten sebagai tempat pemujaan kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam Prabhawa sebagai Batara Brahma. Pura ini disungsung oleh ribuan umat di kawasan Tengger yang terdiri dari desa-desa pegunungan seperti desa Argosari, Ngadisari, Ngadas, Sukapura, Tosari, Wonokitri, dll., yang tersebar di empat kabupaten yakni Lumajang, Probolinggo, Pasuruan, dan Malang.

Pura Penataran Agung Kilisuci Kediri dikunjungi pada kali kedua kami ke Kawasan Wisata Gua Selomangleng, sesaat setelah meninggalkanMuseum Airlangga. Karena letak Pura Penataran Agung Kilisuci ini bersebelahan dengan Museum Airlangga, maka kami hanya berjalan kaki menuju ke lokasi pura saat matahari sudah mulai naik sepenggalah.

Kunjungi site Bimas Hindu Jatim http://bimashindujatim.blogspot.co.id/

Rabu, 24 Agustus 2016

Swara Hindu Dharma

Swara Hindu Dharma. 
Menjaga Sradha Menebar Dharma. 

http://www.swarahindudharma.com/

Adharmam dharmam iti ya manyate tamasavrta
Sarvarthan vipaitams ca buddhih sa partha tamasi


“Pengertian yang menganggap hal hal yang bertentangan dengan dharma sebagai dharma dan dharma sebagai hal-hal yang bertentangan dengan dharma, dibawah pesona khayalan dan kegelapan, dan selalu berusaha kearah yang salah berada dalam sifat kebodohan, wahai putera Prtha.” (Bhagawad Gita 18.32)

http://banjarciledug.org/?page_id=32 Kecerdasan dalam sifat kebodohan selalu bekerja dengan cara yang berlawanan dengan cara yang sebenarnya. Kecerdasan tersebut mengakui dharma dharma yang sebenarnya bukan dharma dan menolak dharma yang sejati. Orang yang kurang cerdas menganggap roh yang mulia adalah manusia biasa  dan mengakui orang biasa  sebagai roh yang mulia. Mereka menganggap kebenaran tidak benar  dan mengakui hal-hal yang tidak benar sebagai kebenaran. Dalam segala kegiatan mereka hanya mengambil jalan yang salah; karena itu kecerdasan mereka berada dalam sifat kegelapan.
Sering kali dalam keseharian hidup kita menemukan orang orang dalam ciri ciri yang disebutkan dalam sloka diatas dan seringkali pula kita menempatkan seseorang dalam kedudukan yang tidak tepat. Kita memandang rendah bila orang itu tidak berpakaian seperti kita, kita memandang rendah karena orang yang kita temui lebih miskin dari kita. Jadi sloka diatas mengajak kita untuk keluar dari situasi seperti ini.
Bagaimana cara kita merespon kenyataan yang luhur ini? Dengan memulai dari diri kita sendiri untuk mempraktekkan hal hal yang sesuai dengan pandangan sastra…sastra caksuh. Dengan  demikian kita bisa selalu berada dalam kedudukan kita yang sebenarnya.
om tat sat.
ref: I Gede Suwardana, S.Ag
Penyuluh Agama Hindu Kemenag DIY.

Kamis, 21 Januari 2016

Pura Parahyangan Bhuana Raksati

Pura Parahyangan Bhuana Raksati, berlokasi di Desa Sodong, Tigaraksa Tanggerang Banten. Selain Pura Parahyangan Bhuana Raksati ini, di propinsi Banten telah ada Pura Dharma Sidhi di Parung Serab Ciledug Tangerang , Pura Kertajaya di Kota Tangerang, Pura Eka Wira Anantha Taman Serang di Kopassus grup 1 Serang Banten, Pura Merta Sari di Rempoa serta Pura Parahyangan Jagatguru di Bumi Serpong Damai (BSD).

Propinsi Banten dengan kota-kotanya telah memiliki Pura Hindu, tempat umat Hindu melaksanakan persembahyangan,mengucapkan Puji-Syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Kuasa,  kegiatan keagamaan, kegiatan sosial kemasyarakatan, kegiatan sosial, kegiatan pendidikan agama  hindu.

RATUSAN UMAT HINDU SEJABODETABEK, BERKUMPUL DI DESA SODONG, TIGARAKSA, TANGERANG BANTEN, GUNA MELAKUKAN PENGGALANGAN DANA PEMBANGUNAN PURA PARAHYANGAN BHUANA RAKSATI. SEJUMLAH ACARA MENARIK DIGELAR SEPERTI PEMENTASAN TARI PUSPA WRESTI, TARI TENUN, PAGELARAN MUSIK HINGGA DHARMA WACANA .

Berikut nama dan alamat Pura di Propinsi Banten

Pura Dharma Sidhi, Ciledug , 1993 
  • Jl. Pasraman No. 28-29 Komplek Kav. P & K Parung Serab Ciledug Tangerang
  • Ngenteg Linggih pada 11 Juli 1990, Pujawali Budha Kliwon Ugu
  • Lokasinya Klik disini Fotonya Klik disini
Pura Parahyangan Jagat Guru, Bumi Serpong Damai –
  •  Depan Cluster Catalonia, Sektor 14,5, Nusaloka BSD City
  • Ngenteg Linggih pada 19 Oktober 2014, Pujawali Redite Umanis Ukir
  • Lokasinya Klik disini Fotonya Klik disini
Pura Eka Wira Anantha, Serang, 1999 
  • Komplek Kopassus Group I Taman, Serang Banten
  • Ngenteg Linggih pada 25 Oktober 1999, Pujawali Purnama Kapat
  • Lokasinya Klik disini Fotonya Klik disini
Pura Kerthajaya, Tangerang
  • Jl. Pasar Baru No 102 Tangerang
  • Pujawali pada Saniscara Kliwon Tumpek Krulut.
  • Lokasinya  Klik disini Fotonya Klik disini
Pura Merta Sari, Rempoa, 1982 
  • Alamat : Jl. Kenikir No. 20 Rt.006/Rw.009 Kelurahan Rempoa – Bintaro. Telp. 021-7421161
  • Ngenteg Linggih pada 14 Juni 1984, Pujawali pada Purnamaning Sasih Sadha.
  • Lokasinya Klik disini Fotonya Klik disini

Minggu, 10 Januari 2016

Maha Siwa Ratri Puja

OM suastyastu. 

Dipenghujung Brahma muhurta, setelah menyelesaikan puja ke4 dalam rangkaian maha Siwa Ratri puja, sempat merenungkan tentang keberadaan sang diri. Secara jujur harus kuaui bahwa belum mampu memasuki salah satu lintasan progresif untuk mendekati Nya. Masih jauh dari sifat dan prilaku ikhlas dalam pelayanan secara vertical maupun horizontal. Apalagi bakti murni dengan penyerahan diri secara total. 

Kemungkinan besar masih berada dalam lintasan ego, lintasan kegelapan juga disebut “aanawa maarga”. Berikut adalah ciri-ciri prilaku manusia yang berada dalam lintasan tersebut : 

 Sama sekali tidak meyadari bahwa semua yang ada dan akan ada sesungguhnya bersumber dari Brahman. 

 Tidak percaya karma phala, bahwa semua perilakunya akan kembali kepadanya, melalui bibir, tangan orang lain atau sesuatu diluar dirinya. 

 Sama sekali tidak relijius. Bila ada kegiatan relijius hanya berpangku tangan, bahkan selalu ada penolakan dalam hati, bahkan seringkali sampai terucapkan. 

 Sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk ikhlas, memberikan pelayanan. Semua kegiatan termasuk ditempat suci semuanya berlatar belakang pemikiran dunia-materi. 

  Merasa dirinyalah yang selalu benar “self oppointed teacher”, dan bergerak mengikuti langkahnya sendiri, artinya diberi masukan apapun akan cuek saja, tidak menggubris pandangan orang lain. 

 Emosinya hanya untuk diri sendiri dan keluarga. Kalau menyangkut kepentingan diri sendiri dan kelurganya, sangat protektif dan pemurah. Philosofinya adalah instingtif hewani “ Let,s preserve the nest and the lair at all cost”. Emosinya sangat labil, berputar-putar hanya disatu tempat yaitu kepentingan sendiri (ego sangat menonjol). 

 Kesadaranannya masih sangat dibawah, hidupnya masih diselimuti kemarahan yang meluap, ketakutan dan irihati (super lower concsiusness/ kesadaran-tala-tala).

  Mengabaikan dharma. Bisa saja orang seperti ini ada yang dalam hidupnya memperoleh artha cukup banyak dan kehidupan duniawi yang mapan. Semua itu karena karma masa lalunya (sanchitta karma). Namun pada umumnya, semuanya cepat atau lambat akan hilang terpralina, karena prilakunya yang sekarang. Ingat sloka suci yang mengajarkan bahwa bagi seorang penyembah Tuhan akan diberikan yang menjadi haknya, dan dilindungi yang sudah didapatnya. Masih banyak ciri lainnya yang merupakan penjabaran dari lima ciri pokok diatas seperti : 

a. Tidak ada waktu untuk sadhana (disiplin spiritual). 
b. Menghindari/tidak melakukan tirtha yatra tahunan. 
c. Tidak melakukan persembahyangan sendiri/bersama (kel, komunitas) ditempat-tempat suci. 
d. Tidak membaca kitab suci Veda. 
e. Tidak ada keinginan mencapai mukti. 
f. Tidak sungguh-sungguh meningkatkan kesucian diri. Walau tidak semua, ternyata masih ada ciri-ciri tersebut mewarnai sifat dan perilaku keseharian. 

Semoga Dewa Siwa sebagai penguasa tamasika guna, berkenan mengijinkan setiap usaha untuk membebaskan diri dari kegelapan dan kebodohan. Dan akhirnya hormat dan bhakti kepada para guru yang telah memberikan ajaran serta membukakan mata hati ini dari kegelapan yang pekat. 

OM ajananam timiran dasya, jananan jana salakaya, caksur unmilitamyena, tasmae Shri Gruru we namah. OM shanti,shanti,shanti OM.

sumber copas #group PAJK GN SALA

Sabtu, 09 Januari 2016

MAHA SIWA RATRI

MAHA SIWA RATRI. 
Berikut saya kutipkan sepotong isi Siwa Purana yang bermuatan tentang asal muasal malam pemujaan kepada Dewa Siwa.               

Pada awal penciptaan, semesta ini suniya, yang ada hanya Brahman.   Brahman yang diluar jangkauan pikiran, oleh para sidhaatma, para sadhu diungkapkan dengan ”neti-neti”, bukan ini bukan itu.   

Berikutnya nampak air dimana-mana dan diatas lautan yang maha luas berbaring Dewa Wisnu dengan sangat santainya.  Disatu tempat Dewa Brahma mengadakan perjalanan sambil mencari informasi siapakah dirinya, dari mana asalnya.   

Dalam kebingungan tersebut Dewa Brahma bertemu dengan dewa Wisnu, yang bertangan empat bersenjatakan cakra sudarsana, sankha, gada dan padma. Dewa Brahma bertanyakepada Dewa Wisnu ” Siapakah anda gerangan, berada ditempat ini?  Dewa Wisnu  menjawab, ”Nak kamu adalah ciptaanku”.   


Dipanggil dengan sebutan ”nak”, dewa Brahma merasa tidak puas, sehingga terjadilah perdebatan sengit, sehingga mengarah kepada pertikaian.   Peristiwa tersebut berlangsung terus, hingga jangka waktu lama.    

Suatu malam hari yang gelap gulita tiba-tiba muncul balok cahaya cemerlang dengan ukuran besar dan sangat panjang.   Kemunculan cahaya yang terang benderang tersebut membuat kedua dewa yang sedang bersitegang, menjadi terperangah.   

Dewa Wisnu berprakarsa mengajak Dewa Brahma berhenti bersitegang, bersama-sama mencari tahu siapa atau apa sesungguhnya cahaya cemerlang tersebut.    Yang lebih dulu mendapatkan informasi adalah pemenangnya.    Mereka sepakat dan Dewa Wisnu mengambil wujud seekor angsa melesat keatas, Dewa Brahma mengambil wujud seekor babi menukik kebawah.   Ribuan tahun berlalu, namun keduanya belum menemukan ujung atau pangkal cahaya tersebut, sehingga akhirnya dalam kelelahan keduanya kembali ketitik semula.    

Dewa Wisnu dengan jujur mengatakan bahwa tidak menemukan ujung dari cahaya tersebut. Dewa Brahma dengan menyodorkan setangkai bunga capaka atau ketaki, mengatakan bahwa sudah menemukan pangkal cahaya tersebut.   

Ketika dialog sedang berlangsung tiba tiba terdengar dengingan suara OM.... bergitu panjang dan merdu dan dari dalam cahaya tersebut muncul satu sosok baru yang kemudian dikenal sebagai Dewa Siwa atau Mahadewa.    Dewa Wisnu kemudian berkata ”rupanya anda muncul karena, pertengkaran kami berdua, siapa anda”.     Dewa Siwa menjawab, ”Kita bertiga adalah bagian dari yang tunggal, dengan tugas masing-masing.   

Brahma sebagai pencipta, Wisnu sebagai pemelihara ciptaan dan tugasku pada waktunya mengembalikan semuan ciptaan tersebut keasalnya.   Karena Brahma sudah berbohong, mengatakan sudah menemukan pangkal dari cahaya ini, maka kupastu agar Brahma tidak banyak dipuja umat manusia.   Demikian juga bunga capaka/ketaki yang dijadikan sarana berbohong kupantangkan untuk dijadikan sarana pemujaan kepadaku”.     

Setelah Dewa Siwa berkata demikian, Dewa Brahma dan Dewa Wisnu sujud menyembah Dewa Siwa, yang selanjutnya gaib kedalam balok cahaya.   Dari sini muncul tradisi pemujaan kepada Dewa Siwa, setiap malam yang paling gelap dalam kurun waktu tertentu.     Balok cahaya tersebut adalah joytir linggam, yang merupakan lingga pemujaan ditempat Dewa  Siwa pernah memberikan pemunculan ”darshan”.   

Diseluruh India terdapat 12 joytir linggam, satu diantaranya di Kedarnath temple, dimana Dewa Siwa Muncul dihadapan Panca Pandawa yang melakukan tapasya pengampunan perasaan berdosa atas pembunuhan yang mereka lakukan selama Bharata yudha.     Ditempat ini juga Sri Adi Sangkara acharya mokhsa setelah menyelesaikan tugas memurnikan ajaran Siwa pakca.                                       

Pastu yang didapat Dewa Brahma ternyata terbukti, dimana hingga saat ini di India sangan sedikit dijumpai mandir pemujaan Dewa Brahma, sedangkan dimana-mana dijumpai dengan mudah Wisnu dan Siwa Mandir.
    
Di lingkungan kita, melaksanakan upacara dan brata Ciwaratri, yang pertama kita ingat adalah karya mahakawi Mpu Tanakung tentang Lubdhaka, dalam kekawin Siwaratrikalpa.    ”Lubdaka” adalah tokoh pengejar kenikmatan duniawi, bahkan untuk mencapainya tidak segan melakukan himsa-karma.  

Dalam konteks kekinian, tokoh Lubdaka bisa jadi telah numitis menjadi Lubdaka kontemporer. Reinkarnasi menjadi orang yang tidak pernah puas dengan harta dan tahta yang didapat.   

Menjadi pemburu gunung, hutan, danau, teluk, dan laut, dengan tujuan mengeruk dan menumpuk keuntungan, tanpa memperhatikan kelestriannya.    Walau saya yakin semeton pengayah adalah orang-orang yang berhati ikhlas.   

Namun demikian malam pemujaan kepada Dewa Siwa, perwani tilem sasih kepitu, sepatutnya kita jadikan malam perenungan, sehingga menyadari kemungkinan adanya  dosa dosa yang telah dilakukan dalam kurun waktu 12 perwani yang lalu.   

Barangkali dapat menemukan jauh dalam diri masih tersembunyi Lubdaka kecil.    Sadar akan dosa, dan berupaya  untuk tidak mengulagi lagi, merupakan salah satu syarat cairnya dosa tersebut.
 
Selamat melaksanakan bratha Siwaratri, semoga anugrah Dewa Siwa menyucikan hidup ini.  OM shanti, shanti, shanti OM.

sumber copas #group PAJK GN Salak

Semangat Menanam Pohon Demi Masa Depan Cerah

Cari Artikel di Blog ini

Memuat...

Berita Terkait Semangat Hindu



Green Warrior International