OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM

PRAKATA

Selamat Datang

Semangat Hindu merupakan blog bersama umat Hindu untuk berbagi berita Hindu dan cerita singkat. Informasi kegiatan umat Hindu ini akan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan.
Semangat Hindu semangat kita bersama.

Bersama Semangat Hindu kita berbagi berita dan cerita, info kegiatan, bakti sosial dan kepedulian, serta kegiatan keagamaan seperti ; pujawali, Kasadha, Kaharingan, Nyepi, Upacara Tiwah, Ngaben, Vijaya Dhasami dan lain sebagainya.

Marilah Berbagi Berita, Cerita, Informasi, Artikel Singkat. Bagi yang mempunyai Web/Blog, dengan tautan URL maka dapat meningkatkan SEO Web/ blog Anda.

Terima Kasih
Admin

RANBB

---#### Mohon Klik Share untuk mendukung blog ini ####---

Tampilkan postingan dengan label phdi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label phdi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Februari 2018

Upacara Amati Raga

UPACARA AMATIRAGA
Amati Raga




Merupakan suatu kebahagiaan yang luar biasa, umat Hindu di Provinsi Banten, pada hari  Kamis 23 Nopember 2017 telah melaksanakan Upacara Mediksa untuk sang Diksita Jero Mangku Gede Prof. Dr. I Wayan Ardana, M.Pd, M.Fil.H dan Istri Jero Mangku Ni Wayan Suadnyani, ST. Upacara Mediksa adalah Upacara Rsi Yadnya yang memiliki tujuan untuk menjadikan seorang Walaka (orang biasa) atau Jero Mangku Gede menjadi seorang Sulinggih (orang Suci). 

Upacara Mediksa memiliki tujuan mulia yaitu meningkatkan kesucian diri guna mencapai kesempurnaan sebagai manusia. Tahapan demi tahapan harus dilaksanakan yaitu Upacara   Ngaturang   Pejati   dan berkunjung ke tempat Calon Adi Guru (Nabe), Upacara Mepinton ke Tempat Calon Adi Guru, Upacara Sembah Pamitan, Upacara Nuwur Adi Guru (Nabe) dan Diksa Pariksa.  Yang menjadi Upacara inti Upacara Mediksa adalah Upacara Amati Raga.  Mesiram dan Upacara Mediksa dengan 16 rangkaiannya serta Upacara Ngelinggihang Weda sebagai syarat dalam kewenangan Ngeloka Palasraya.

Menjadi Sulinggih merupakan hal yang sangat membahagiakan dan Upacara Mediksa menjadi kewajiban untuk dilaksanakan bagi setiap Umat Hindu yang telah mampu baik secara mental maupun spiritual, sehingga ia akan mampu meningkatkan kesucian dirinya baik lahir maupun bathin. Mediksa bisa disebut juga Madwijati. Kata dwijati berasal dari bahasa sanskerta, dwi artinya 2 dan jati berasal dari akar kata ja yang artinya lahir. Secara sederhana dapat dikatakan Upacara Mediksa adalah Upacara Lahir yang kedua kali. Lahir pertama dari kandungan ibu dan kelahiran kedua dari kaki Sang Guru Suci yang disebut Nabe, jadi Upacara Mediksa ini bermakna seseorang yang dilahirkan kembali untuk dijadikan pemimpin suci bagi umat Hindu.


Dalam Kitab Suci Weda, Atharvaveda XI. 5. 3. menguraikan bahwa saat pelaksanaan diksa dvijati seorang Guru Nabe atau Acarya seakan-akan menempatkan murid (sisya) dalam badannya sendiri seperti seorang ibu mengandung bayinya, kemudian setelah melalui vrata murid dilahirkan sebagai orang yang sangat mulia (dvijati). Dengan demikian pelaksanaan diksa dvijati merupakan transisisi dari gelap menuju terang, dan avidya menuju vidya. Guru Nabe merupakan pembimbing moral sekaligus spiritual bagi sang murid.

Seseorang yang telah Madwijati sering kita sebut dengan Ida Pedanda, Pandita, Rsi, Sri Empu, atau Jero Dukuh, sebutan pendeta-pendeta Hindu di Bali. Gelar ini diperoleh setelah menjalani pendidikan spiritual yang cukup lama sampai mendapat pengakuan dari gurunya (Nabe) melalui suatu upacara penobatan serta telah mendapat persetujuan dari pemerintah dan Parisada Hindu Dharma Indonesia.



Setelah upacara penobatan atau diksa, atas anugerah gurunya, seorang Pandita mendapat wewenang untuk membuat Air Suci / Tirtha sendiri yang dapat menentukan kedudukan hukum seseorang dalam perkawinan, pengangkatan anak dan lain sebagainya. Seorang Pandita juga berkewajiban memberi jasa pelayanan kepada umatnya (Loka Palasraya). Disamping itu Sulinggih juga berkewajiban mempersembahkan pujaan (Meweda) setiap hari yaitu melakukan pemujaan kepada Dewa Siwa dalam manifestasinya sebagai Bhatara Surya (Surya Sewana), serta membantu umatnya dalam upacara pembakaran jenazah (Ngaben) dan juga dalam setiap perayaan Nyepi atau tahun Baru Caka.

Kamis, 20 April 2017

PRESIDEN JOKOWI AKAN HADIRI DHARMASANTI NASIONAL HARI RAYA NYEPI

Press Release.
PRESIDEN JOKOWI AKAN HADIRI DHARMASANTI NASIONAL HARI RAYA NYEPI




Jakarta,....

Presiden Joko Widodo menurut rencana akan menghadiri pelaksanaan Dharmasanti (silaturahmi) Nasional hari Raya Nyepi tahun Saka 1939 pada hari Sabtu, 22 April 2017 di GOR Mabes TNI Cilangkap.

Ketua Umum Panitia Nasional Perayaan Nyepi Saka 1939 tahun 2017, Irjen Pol  Drs. I Ketut Untung Yoga menjelaskan bahwa dalam Dharmasanti Nasional esensinya sebagai momentum silaturahmi antar umat Hindu dan antar umat beragama.
Kehadiran Presiden dan stakeholders lainnya sangat diharapkan umat Hindu dalam menguatkan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ini tentunya diharapkan sesuai dengan tema Perayaan Nyepi tahun ini yaitu "Jadikan Catur Brata Penyepian memperkuat toleransi kebhinekaan berbangsa dan bernegara demi keutuhan NKRI".

Dalam Dharmasanti yang akan dihadiri 3.000 umat Hindu  itu dimohonkan Sambutan Presiden Joko Widodo dan dharma wacana rohani oleh Prof.Dr. Ida Bagus Yudha Triguna.

Kehadiran Presiden dan Ibu Iriana Joko Widodo serta undangan lainnya akan disambut dengan tarian Sri Kamelawi dan hiburan kesenian dalam bentuk oratorium dalam lakon "Mulat Sarira" (Introspeksi diri) pimpinan sanggar I Gusti Ngurah Kompiang  Raka.

Selama Dharmasanti juga akan dimeriahkan dengan Ibu-Ibu WHDI Banten  yang akan menyanyikan Indonesia Raya.


Selain itu juga akan menampilkan pembacaan sloka kitab suci Weda oleh dua juara se DKI Jaya yaitu Pande Nyoman Lokasandhiyasa dan Made Nararya Radya Kumara. *

Jumat, 04 September 2015

Swara Hindu Dharma

Swara Hindu Dharma, Menjaga Sradha Menebar Dharma. 


Umat Hindu di Kabupaten Kulonprogo berkumpul di pura atau tempat Ibadahnya yang disebut Sanggar Panepen Parahyangan Tirto lanceng. Ini yang berbeda dengan diwilayah – wilayah D.I.Yogyakarta seperti Gunungkidul, Sleman, Bantul dan Kota Yogyakarta yang biasa tempat sucinya disebut Pura tetapi berbeda dengan di Kabupaten Kulonprogo umat Hindunya menyebut tempat ibadahnya dengan Sanggar Penepen Parahyangan. 


Umat Hindu yang ada di Kabupaten Kulonprogo merupakan masyarakat local atau asli orang local bukan pendatang seperti yang ada di Kabupaten Bantul yang merupakan orang – orang Bali. Mereka tinggal di pegunungan yang memang jauh dari akses perkotaan serta tempat ibadahnya juga masih baru dibangun dan masih berupa Padmasana, Linggam dan arca Semar.

Untuk meningkatkan sradha dan bhakti umat Hindu yang terdapat di Kabupaten Kulonprogo, maka Bimas Hindu Kanwil Kementerian Agama D.I.Yogyakarta melaksanakan kegiatan pembinaan Agama dan Keagamaan. Dalam pelaksanaan kegiatan pembinaan Agama dan Keagamaan, Ida Bagus Wika Krishna, S.Ag, M.Si selaku Bimas Hindu Kanwil Kementerian Agama D.I.Yogyakarta memberikan pengarahan. 

Dalam pengarahannya beliau mengharap kepada umat Hindu yang ada di Kulonprogo untuk terus semangat dalam menjalan ibadahnya dan selalu menjaga local genius yang ada di daerah tersebut, seperti dalam melaksanakan ibadah atau bersembahyangan untuk menggunakan mantra dan juga sesajinya supaya tetap menjaga tradisi yang sudah berjalan.

Pelaksanaan kegiatan tersebut hadir I Wayan Sumerta sebagai lembaga PHDI D.I.Yogyakarta, bapak Wayan Budriana sebagai PHDI Kabupaten Kulonprogo. Pada kesempatan itu juga bapak Wayan Budriyana yang memohon bantuannya kepada lembaga ataupu terkait untu ikut memberikan pembinaan terhadap umat Hindu yang ada di Kabupaten Kulonprogo serta memberikan pemahaman dan wawasan tentang agama Hindu, agar keyakinan umat yang ada di Kulonprogo kian meningkat dan tambah bersemangat dalam meyakini agamanya yang dianutnya.

sumber berita http://www.swarahindudharma.com

Senin, 23 September 2013

PHDI, Bhisama tentang Kesucian Pura

Pertahankan Pura sebagai Kawasan Suci. 

Pura sebagai kawasan suci memegang peranan penting dalam konteks hubungan spiritual umat Hindu dengan Sang Hyang Widhi Wasa. Keberadaan Pura di Bali yang jumlahnya sangat banyak sehingga Bali dikenal dengan sebutan Pulau Seribu Pura. Sebagai tempat suci yang disakralkan, terdapat banyak aturan atau pantangan yang memang harus diikuti, baik oleh krama Hindu dalam melakukan persembahyangan, wisatawan yang berkunjung atau para penggiat ekonomi seperti para pedagang. Aturan itu dimaksudkan agar Pura memiliki radius tertentu sehingga tidak sembarang orang bisa masuk di luar kepentingan persembahyangan.

Parisada Hindu Dharma Indonesia, PHDI dalam Keputusan Nomor: 11/Kep/I/PHDIP/1994 tanggal 25 Januari 1994 mengeluarkan Bhisama tentang kesucian Pura, di mana ditetapkan bahwa kawasan suci meliputi: gunung, danau, campuhan (pertemuan sungai-sungai), pantai, laut. Maksudnya lingkungan Pura dalam jarak tertentu agar dijaga tidak tercemar, yang bisa mengganggu konsentrasi umat bersembahyang di Pura, baik dalam bentuk pandangan, penciuman, bunyi-bunyian, yang tidak ada hubungannya dengan upacara persembahyangan. Apalagi banyak pura di Bali sudah dijadikan destinasi kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara. Melihat kenyataan di lapangan demikian bebasnya wisatawan yang berkunjung ke pura, misalnya wisatawan sampai masuk ke jeroan, padahal ada umat Hindu yang sedang bersembahyang, sebaiknya aturan berwisata ke Pura dikaji lagi. Wisatawan diizinkan berkunjung ke Pura hanya sampai di jaba tengah.

Selain wisatawa, perlu juga mendapatkan perhatian serius adalah keberadaan pedagang-pedagang kaki lima yang hilir mudik sampai pelataran Pura. Apalagi diketahui banyak pedagang non-Hindu seenaknya keluar masuk areal Pura. Hal ini, selain terkesan mengganggu juga kebanyakan pedagang tersebut tidak mengindahkan aturan yang ada. Karena itu perlu dikaji ulang kebijakan yang membebaskan wisatawan berkunjung ke Pura, agar tidak mengganggu kesakralan Pura dan konsentrasi umat yang bersembahyang terjaga.

Perlu juga dibuatkan radius/jarak untuk memisahkan kegiatan persembahyangan dengan kegiatan perekonomian penunjang pariwisata. Sehingga, fungsi awal Pura sebagai kawasan suci umat Hindu kembali terwujud, karena banyak juga pihak-pihak luar ingin mengeruk keuntungan dengan memanfaatkan Pura sebagai lahan bisnis pariwisata yang potensinya cukup menjanjikan.

Menjadi tanggung jawab umat Hindu untuk menjaga keberadaan kawasan suci. Menjaga kesakralan Pura merupakan harga mati yang mesti dipertahankan. Pura adalah kawasan spiritualitas bukan untuk kepentingan komersial berbasis profit.

Sumber : I Gusti Bagus Usada (Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Mahendradatta Bali)
http://www.balipost.co.id


-->

Kamis, 08 Agustus 2013

Pura Vaikuntha Vyomantara Jogjakarta Jawa Tengah

Umat Hindu Jogjakarta.

Pura Vaikuntha Vyomantara berada di komplek Pangkalan TNI AU Adi Sucipto Janti Sleman Jogjakarta. Pura ini tidak saja diperuntukkan untuk warga di kesatuan TNI AU, namun juga sebagai Pura untuk umum di mana umat dari di luar juga dapat mengikuti persembahyangan di Pura ini yang biasanya dilaksanakan tepat pada pukul 17.00 setiap rerahinan Purnama dan Tilem. Pura Vaikuntha Vyomantara letaknya yang berada di dalam komplek Pangkalan TNI mengharuskan kita melewati pos penjagaan, tapi cukup dengan mengatakan akan ke Pura maka kita dipersilahkan untuk lewat. Bangunan pura sangat luas dan saat ini masih berada dalam tahap pengembangan fasilitas-fasilitas pendukungnya.


Pura Vaikuntha Vyomantara di Pangkalan TNI AU Adisutjipto yogyakarta,dibangun diatas Lahan seluas + 5000 m2 ( 50 Are ) yang  berlokasi di Pangkalan TNI AU Adisutjipto, Bantul,  Yogyakarta yang bersebelahan dengan Museum Dirgantara Mandala TNI AU Yogyakarta. Dalam perawatan  pura sehari-hari dilaksanakan oleh   pembinaan mental TNI AU, bersama-sama dengan Paguyuban Umat Hindu Lanud Adisutjipto “Dharma Laksana” sebagai pengempon pura . 

Nama Pura “Vaikuntha  Vyomantara

Vaikuntha  artinya Inkarnasi Shri Wisnu, yang diliputi oleh Maya, tanaman Suci atau Shri Wisnulah yang menyatukan ke-33 Dewa yang menjaga semesta alam.
Vyomantara  artinya  Angkasa, Loka, Luhuring Acintya

Jadi Pura Vaikuntha Vyomantara artinya  alam dimana dewa Wisnu mencapai kesempurnaan tertinggi, luhuring Acintya,pura angkasa yang penuh dengan tanaman suci dan tempat untuk mencapai ketenangan,kebijaksanaan dan pengetahuan suci ( kitab Suci Wisnu Purana )

Upacara Pawedalan pura Vaikuntha Vyomantara

Hari Pawedalan Pura Vaikuntha Vyomantara  di Pangkalan TNI AU Adisutjipto Yogyakarta dilaksanakan setiap tahun sekali bertepatan dengan Purnama  yaitu “ Purnamaning Sasih Kedasa

Pura  Vaikuntha Vyomantara di Lanud Adisutjipto  Yogyakarta  dibangun atas kebutuhan  umat Hindu yang  berdinas dan bertugas  di Pangkalan  TNI AU Adisutjipto  Yogyakarta,di samping itu  juga merupakan  kebijakan dari pimpinan TNI Angkatan Udara untuk menyiapkan sarana tempat ibadah bagi prajurit TNI beserta keluarganya  yang beragama Hindu dalam bentuk Pura, Mengingat di pangkalan TNI AU Adisutjipto belum Memiliki pura sebagai tempat untuk melakukan persembahyangan, Pembinaan Mental bagi Prajurit TNI AU beserta keluarganya,Karbol AAU,dan Siswa Sekolah penerbang khususnya  yang beragama Hindu ,untuk itu sangat dibutuhkan adanya tempat Ibadah/pura.

Pura Vaikuntha Vyomantara  di Pangkalan TNI AU Adisujtipto Yogyakarta dirintis dan didirikan dalam waktu yang cukup panjang mulai  tahun 1997 sampai tepatnya  23 Mei 2007 dapat dilaksanakannya proses peletakan Batu pertama berdirinya Pura Vaikuntha Vyomantara oleh komandan Pangkalan TNI AU Adisutjipto Marsma TNI Benyamin Dandel,S.IP selaku Komandan pangkalan TNI AU Adisutjipto. Pada acara peletakan batu pertama berdirinya  Pura  Vaikuntha Vyomantara  dihadiri oleh seluruh Pejabat dilingkungan Lanud Adisutjipto, PHDI DIY,PHDI Kabupaten dan Kota Se-DIY dan Peguyuban Umat Hindu lanud Adisutjipto “Dharma laksana” dan masyarakar Hindu sekitarnya.

Pada kesempatan tersebut  Marsma TNI Benyamin Dandel,SIP mengharapkan dengan dibangunnya Pura Vaikuntha Vyomantara betul –betul dapat dimanfaatkan dan difungsikan dengan sebaik-bainya Untuk melaksanaakan fungsi pembinaan mental ( Bintal ) bagi prajurit TNI AU beserta keluarganya, para Karbol  AAU, Siswa Sekolah penerbang khususnya yag beragama Hindu untuk dapat berperan dalam menyiapkan insan prajurit yang Sapta Marga, Pancasilais serta memiliki mental yang prima.

Dari berbagai sumber. (RANBB)

Senin, 05 Agustus 2013

Pasraman Kilat Siswa dan Siswi se-Samarinda

Libur, Ratusan Siswa Ikut Pasraman Kilat

Umat Hindu Samarinda.

Mengisi libur sekolah, siswa di Samarinda yang beragama Hindu diajak mengikuti Pasraman Kilat yang berlangsung 2 – 4 Agustus lalu. Acara tahunan yang digagas Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Samarinda tersebut dilaksanakan di Pura Jagat Hita Karana dan diikuti ratusan siswa dan siswi dari berbagai tingkatan sekolah se-Samarinda.


Wali Kota Samarinda H Syaharie Jaang ketika membuka Pasraman Kilat mengatakan, kegiatan ini salah satu sarana penting dalam membangun karakter siswa dan siswi, khususnya yang beragama Hindu agar mereka tumbuh dengan pemahaman agama yang baik, sehingga berimbang dengan ilmu pengetahuan yang diperoleh di bangku sekolah.

“Pendidikan agama yang diterima siswa di sekolah selama 2 jam pelajaran tentu kurang untuk membentuk pemahaman siswa terhadap nilai agama yang dianut. Karena itu peran para pemimpin umat dan orangtua sangat penting untuk membimbing anak-anak agar dapat memahami nilai agama yang dianut sehingga tidak mudah terikut dalam arus globalisasi dan gaya hidup yang tidak benar,” paparnya.

Sementara itu, Ketua PHDI Samarinda I Made Subamia mengatakan, Pasraman Kilat ini untuk menunjang dan memperluas pengetahuan mengenai ajaran agama Hindu bagi para siswa. “Pasraman Kilat ini juga melatih anak-anak untuk disiplin, mandiri dan belajar bertanggung jawab sejak dini,” ujarnya

sumber : http://www.kaltimpost.co.id

Rabu, 24 Juli 2013

Piodalan Pura Giri Arjuno Kota Batu Malang Jawa Timur

Piodalan Pura Giri Arjuno Diikuti Umat dari Bali

Umat Hindu Malang. Acara piodalan Pura Giri Arjuno ke V di Desa Giripurno Kota Batu, Senin (22/7/2013), dihadiri sejumlah warga asal Pulau Dewata Bali. Mereka berbaur dengan ratusan umat hindu dari berbagai daerah, untuk mengikuti doa bersama dipimpin oleh Pinandita Mangku Suparman.

Ketua panitia Piodalan, Tri Suhasto menyebutkan ada dua rombongan bus dari Bali. Tujuan mereka datang, memang berkunjung ke pura-pura untuk sembahyang. Piodalan digelar bertepatan dengan purnama kasa yang jatuh pada Senin (22/7/2013) dan diikuti sekitar 500 umat. “Diperkirakan pura ini ramai dikunjungi umat Hindu, hingga dua hari ke depan,” terang Suhasto.
--> Umat Hindu mulai bersembahyang pukul 11.30 WIB hingga pukul 12.30 WIB. Dengan khidmat, baik perempuan maupun laki-laki duduk bersila di dalam pura memanjatkan doa-doa.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Jatim, I Ketut Sudiarta menceritakan, Pura Giri Arjuno itu terletak di pertengahan Gunung Arjuno 1.600 meter di atas permukaan laut (dpl). Pura itu beridiri sejak 1998, dibangun oleh para resi, tokoh umat Hindu di Malang Raya. "Yang perlu diketahui, kehadiran pura ini sudah tersosialisasi sampai seluruh nusantara. Hampir tiap hari Sabtu dan Minggu, warga Hindu dari berbagai belahan Indonesia ke pura ini,” paparnya.

Ketut berharap, piodalan kali dijadikan media mengintegrasikan perbedaan antar umat Hindu. Mulai romo resi, pemangku, dan umat biasa supaya umat Hindu selalu sehat walafiat, sejahtera, bahagia. "Bagaimana kita umat Hindu, baik dari Jawa, luar Jawa, Bali,  semua umat Hindu yang hanya dibedakan oleh wilayah, budaya, dan tata cara, mari kita memahami perbedaan itu. Kalau kita memahami itu, perbedaan memberi kekuatan dan membentuk hidup harmonis,” harapnya.

sumber : http://surabaya.tribunnews.com

Selasa, 23 Juli 2013

Umat Hindu Klaten Melaksanakan Tirta Yatra ke Candhi Merak

Upacara Tirta Yatra Ing Candhi Merak

Umat Hindu Klaten. Puluhan lare pangrasuk Agami Hindu, warganing Pasraman Saraswati, Desa Pasung, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten ngadani Upacara Tirta Yatra utawi  lampah suci dhateng situs Candhi Merak, ingkang dumunung ing Kecamatan Karangnongko, Klaten. Ancasing upacara kangge nyaketaken dhiri utawi bakti dhateng Sang Hyang Widi sarta kangge njurung raos tresna lare dhateng benda cagar budaya.

--> Upacara Tirta Yatra, ajeg dipun tindakaken dening Umat Hindu, makaten ugi  lare-lare pangrasuk Agami Hindu warganing Pasraman Saraswati, Desa Pasung, Kecamatan Wedi. Upacara Tirta Yatra padatanipun dipun adani ing papan ingkang suci, antawisipun pura, candhi lan sawetawis cagar budaya tilaran leluhur. Bimas Hindu Kemenag Klaten Suyamto ngandharaken, ancasipun ngadani Upacara Tirta Yatra dhateng Candhi Merak kangge nepangaken lare-lare dhateng benda cagar budaya supados lare wanuh dhateng cagar budaya satemah saged ngaosi, lan nresnani budayanipun. Ing kalodhangan kasebat ugi dipun adani upacara puja bakti, pralambang kewajiban pangrasuk agami kangge ngibadah.

Ketua Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI) Kecamatan Wedi, I Ketut Ketis ngajab Upacara Tirta Yatra sageda dados beteng menggahing  wiranem kangge nebihi lampah nalisir, antawisipun kangge ngawekani penyalahgunaan narkoba, kenakalan remaja sarta  pergaulan bebas.

sumber : www.jogjatv.tv

Rabu, 17 Juli 2013

Umat Hindu Lampung Tengah Ingin Memiliki Gamelan

Umat Hindu Lampung. Surat Pembaca  16 Juli 2013 | BP. Warga kami dari Buana Makmur Kampung Mataram Udik Kecamatan Bandar Mataram Kabupaten Lampung Tengah mau mewujudkan keinginan membeli gamelan baleganjur yang sudah terkirim/diterima dari warga Buana Makmur Kampung Mataram Udik Kecamatan Bandar Mataram pada tanggal 14 Maret 2013 dari pihak pemilik gamelan Gema Kencana Denpasar bernama Bapak Wayan Redana. Gamelan yang sudah dikirim ke warga kami masih tersangkut/belum lunas. Karenanya saat ini warga kami sangat mengharapkan uluran tangan/bantuan punia dari umat se-dharma di mana pun berada. Sehingga kami bisa melunasi pembelian gamelan tersebut, karena kemalangan warga kami yang jauh berada di wilayah pedalaman Kabupaten Lampung Tengah dalam kondisi kurang mampu, tetapi mereka sangat ingin memiliki seperangkat gamelan baleganjur untuk dapat mereka jadikan sarana upacara dan melestarikan seni budaya Bali.

--> Dana yang dibutuhkan Rp 26.800.000 (dua puluh enam juta delapan ratus ribu rupiah). Masyarakat kami yang berada di Buana Makmur berjumlah 140 KK dan 554 jiwa. Memiliki tempat ibadah Pura Puseh, Desa dan Dalem, piodalan-nya pada Purnamaning Kasa dan piodalan di Pura Dalem jatuh pada Purnamaning Kapat. Untuk itu, Ketua Parisada Hindu Dharma Kecamatan Bandar Mataram memohon dengan sangat uluran tangan umat se-dharma agar dapat kiranya warga kami memiliki seperangkat gamelan sida karya atau balegajur hingga dapat menambah sakralnya upacara tersebut serta tetap dapat mengajegkan Bali walaupun jauh di seberang sana.



PHDI Desa Adat Buana Makmur

I Ketut Suwitra Yasa

PHDI Kec. Bandar Mataram

I Made Sudarte, S.Pd., M.Pd.

Mengetahui

Ketua PHDI Kab. Lampung Tengah

I Ketut Suryadi


 sumber : Surat Pembaca  16 Juli 2013 | BP  http://www.balipost.co.id

MOHON PADA UMAT YANG MENGETAHUI NO CONTACT  ATAU NO REKENING UNTUK MENYALURKAN BANTUAN, DAPAT DI TULISKAN DISINI.

CHANNEL YOUTUBE SAYA - MOHON DI SUBSCRIBE

Cari Artikel di Blog ini

Berita Terkait Semangat Hindu

Artikel Agama Hindu

108 Mutiara Veda 3 kerangka agama hindu advaita visistadviata dvaita Agama Hindu Dharma agama islam Ajaran Hindu aksara suci om alien menurut hindu Apa yang dimaksud Cuntaka Apa yang dimaksud dengan Japa Apa yang dimaksud dengan Puja arcanam nyasa aris widodo artikel hindu arya dharma Arya Wedakarna Asta Brata Atharvaveda Atman avatara sloka babad Badan Penyiaran Hindu bagian catur weda bahasa jawa kuno bahasa kawi bahasa sanskerta Banggalah Menjadi Hindu banten hindu bali Belajar Hindu BELAJAR ISTILAH AGAMA HINDU bhagavad gita Bhagawadgita bhagawan bhuta yadnya Bimas Hindu BPH Banten brahma wisnu siwa Brahman Atman Aikyam brahmana ksatriya wesia sudra budaya bali budha kliwon sinta Bukan Heroisme buku hindu terpopuler Canakhya Nitisastra cara sembahyang hindu catur asrama Catur Brata Catur Cuntakantaka Catur Purusha Artha Catur Purusharta catur veda Catur Warna Catur Weda Cendekiawan Hindu Cinta Kasih Dalam Perspektif Hindu Dana Punia Deva adalah sinar suci Brahman Deva Brahma Deva Indera dewa dewi hindu dewa yadnya dewata nawa sanga dewi kata-kata dewi saraswati dharma artha kama moksa Dharma Santi dharma wacana Doa Anak Hindu donasi buku hindu epos mahabharata ramayana filosofi pohon bambu filsafat agama hindu ganesha Gayatri Sebagai Mantra Yoga Hari Raya Galungan Hari Raya Kuningan Hari Raya Nyepi Hari Raya Pagerwesi Hari Raya Saraswati Hari Raya Siwaratri HINDU adalah ARYA DHARMA HINDU ADALAH SANATHANA DHARMA HINDU ADALAH VAIDHIKA DHARMA Hindu Agama Terbesar di Dunia Hindu Banten Hindu beribadah di Pura Hindu Festival Hindu Indonesia hindu nusantara Hindu Tengger Hinduism Facts Hinduism the Greatest Religion in the Word Hukum Karma Ida Pedanda sakti isi catur weda Jadilah Manusia Setia Japa dan Mantram Jiwa jual buku hindu kakawin Kamasutra Keagungan Aksara Suci OM Kekawin Lubdhaka kepemimpinan jawa kuna Kerajaan Hindu Keruntuhan Agama Hindu kesadaran diri kidung dewa yadnya Kitab Suci Weda lontar Lontar Kala Maya Tattwa Maharsi Atri Maharsi Bharadvaja Maharsi Gritsamada Maharsi Kanva Maharsi Vamadeva Maharsi Vasistha Maharsi Visvamitra manawa dharma sastra Mantra Mantra Yoga manusa yadnya Meditasi Matahari Terbit Mengapa Kita Beragama menghafal sloka Mimbar Agama Hindu Moksha Motivasi Hindu Mpu Jayaprema nakbalibelog Naskah Dialog Nuur Tirtha Om or Aum one single family opini hindu moderat Panca Sradha panca yadnya Panca Yajna pandita Panglong 14 Tilem Kepitu parahyangan agung jagatkartta paras paros segilik seguluk Pasraman Pasupati Pembagian Kitab Suci Veda Pemuda Hindu Indonesia pendidikan hindu pengertian catur weda Pengertian Cuntaka penyuluh agama hindu Peradah percikan dharma Percikan Dharma Dewa Yajna phdi pinandita Pitra Yadnya Ngaben Pitrapuja potong gigi Principle Beliefs of Hinduism Proud To Be Hindu Puja dan Prathana Pujawali purana purnama tilem Purwaning Tilem Kapitu Radio online Bali rare angon nak bali belog Reinkarnasi Rgveda ritual hindu Roh Rsi yadnya sabuh mas sad darsana sad guru Samaveda sanatana dharma sang hyang pramesti guru Sang Kala Amangkurat Sang Kala Dungulan Sang Kala Galungan Sang Kala Tiga sapta rsi Sapta Timira Sarassamuscaya Sarassamuscaya Sloka sattvam rajah tamah sejarah agama hindu Sekta Hindu Semangat Hindu seni budaya hindu Sex and Hinduism siwa budha waesnawa siwa ratri Sloka sloka bhagawad gita sloka bhatara sloka Rgveda sloka yayurveda Slokantara Sloka Spiritual Bersifat Misterius spiritualitas hindu spma ribek sradha dan bhakti sri rama krishna paramahansa Sri Sathya Sai Baba Sri Svami Sivananda sumpah dalam perkara tabuh gesuri tabuh kreasi baru tabuh telu lelambatan tantri kamandaka tat twam asi tattwa susila upakara Tempat Suci Hindu tiga hubungan harmonis tri hita karana Tri kaya parisudha tri kerangka agama hindu tri mala tri pramana Triji Ratna Permata tujuan perkawinan tujuh penerima wahyu tumimbal lahir upacara hindu upacara menek deha Upanisad upaweda Utsawa Dharma Gita vaidhika dharma Vasudhaiva Kutumbakam VEDA ADALAH ILMU PENGETAHUAN SUCI vedangga Vijaya Dashami Wasudewa Kutumbhakam widhi tatwa wija kasawur wiwaha agama hindu Yajna dan Sraddha yajna dan sradha Yayurveda Yoga Kundalini