OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM

PRAKATA

Selamat Datang

Semangat Hindu merupakan blog bersama umat Hindu untuk berbagi berita Hindu dan cerita singkat. Informasi kegiatan umat Hindu ini akan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan.
Semangat Hindu semangat kita bersama.

Bersama Semangat Hindu kita berbagi berita dan cerita, info kegiatan, bakti sosial dan kepedulian, serta kegiatan keagamaan seperti ; pujawali, Kasadha, Kaharingan, Nyepi, Upacara Tiwah, Ngaben, Vijaya Dhasami dan lain sebagainya.

Marilah Berbagi Berita, Cerita, Informasi, Artikel Singkat. Bagi yang mempunyai Web/Blog, dengan tautan URL maka dapat meningkatkan SEO Web/ blog Anda.

Terima Kasih
Admin

RANBB

---#### Mohon Klik Share untuk mendukung blog ini ####---

Selasa, 31 Juli 2018

PURA EKA WIRA ANANTHA SERANG BANTEN

Kata Mutiara Kitab Suci Weda
Yayurveda
PURA EKA WIRA ANANTHA

Nama Pura Eka Wira Anantha diambil dari bahasa Sanskerta Eka (satu) Wira (Ksatria) dan Anantha (tanpa akhir). Secara umum nama tersebut mencerminkan lokasi / tempat pura berada yaitu di Ksatrian Gatot Subroto Grup-1 Kopassus (Eka Wira) yang manaPura Eka Wira akanada selamanya untuk umat (Anantha). Namun dibalik nama tersebut  ada makna yang tersirat yaitu bahwa sifat ksatria (Wira) merupakan satu sikap (Eka) yang harus dianut oleh umat Hindu dalam melaksanakan dharma untuk mencapai keabadian (Anantha).


Lokasi Pura Eka Wira Anantha sangat terjangkau dan strategis yaitu terletak diantara Jakarta dan Merak. Hanya perlu waktu sekitar 20 menit dari arah Merak atau sebaliknya dari Jakarta waktu tempuhnya hanya sekitar 1 jam melalui jalan Toll Jakarta-Merak. Atau tepatnya keluar melalui pintu toll Serang Barat pada KM 66.




Sekitar 100 meter setelah keluar dari Pintu Toll Serang Barat kita bisa langsung masuk ke area Ksatrian Gatot Subroto (Kopassus Grup-1). Sebelum masuk Ksatrian Gatot Subroto, agar seluruh kaca pintu mobil dibuka dan melapor bahwa kita tangkil ke Pura Eka Wira Anatha, maka petugas akan segera memberikan izin untuk lanjut. Kemudian 50 meter dari pintu masuk Ksatrian Gatot Subroto, belok kiri setelah kolam pemancingan menuju Jl. Baladika II tempat Pura Eka Wira Anantha berada. Praktis dari keluar pintu toll Serang Barat sampai Pura Eka Wira Anantha tidak lebih dari 7 menit.


Pura Eka Wira Anantha terdiri dari tiga mandala dengan lingkungan yang sangat teduh penuh pepohonan rindang. Di area Utama Mandala terdapat Padmasana, Taksu Dewa, Penglurah, Bale Pawedan dan Bale Penyimpanan serta Tepas. Disebelah kanan Utama Mandala tersedia Taman Sari. Pada area Madya Mandala terdapat Bale Gong dan Dapur Suci. Pada area bagian barat Madya Mandala ada tempat sangat teduh dibawah Beringin Korea untuk melakukan kegiatan-kegiatan terkait pendalaman agama. Pada pojok Barat Laut berdiri Bale Kulkul.


Di area Kanista Mandala tersedia Bale Banjar (Wantilan), Dapur, Kamar Kecil, Pasraman, Rumah Penunggu Pura. Disebelah barat Wantilan terdapat Panggung Pertunjukkan untuk segala kegiatan yang bersifat profan. Seluruh area Pura Eka Wira Anantha sangat hijau  dan asri serta jauh dari lingkungan pemukiman (berada dalam area TNI) dengan area parkir sangat luas bahkan bisa menampung lebih dari 500 mobil penumpang dan 80 bus besar.


Tanpa bermaksud promosi, rasanya tidak berlebihan bila Bapak, Ibu, Para Dharmika, Para Bhakta, Jnanin dan Umat sekalian saat menuju Merak/Lampung atau menuju Jakarta dari arah Merak menyempatkan diri tangkil di Pura Eka Wira Anantha. Om Awignam Astu.


Periode Penjajagan dan Kelahiran(1970 – 1989)

Pada tahun 1970-an umat Hindu asal Bali pertama kali datang dan bekerja di daerah Serang, Cilegon dan sekitarnya. Para sesepuh ini bekerja sebagai karyawan perusahaan baja PT. Karakatau Steel (BUMN), ditugaskan sebagai TNI (Kopassus Grup-1), polisi dan sebagian sebagai PNS. Jumlah mereka tidak lebih dari 10 KK. Saat itu mereka mengadakan persembahyangan Purnama Tilem dan Hari Raya Hindu seperti Galungan, Kuningan, Saraswati dan lain-lain hanya di rumah saja atau kadang dari rumah ke rumah sekalian arisan. Tempat tinggal yang saling berjauhan dengan ekonomi yang relatif tidak terlalu besar tentu menyulitkan mereka untuk melakukan persembahyangan bersama.


Berkat keuletan mereka dan atas suecan Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta dengan prakarsa Mayor (Inf) Sang NyomanSuwisma yang didukungsepenuhnyaolehseluruhumat Hindu di KabupatenSerang, Cilegon dan Pandeglang, padatahun 1980 keluarlah izin pembangunan Pura dariDan Grup-1 Kol(Inf)Yusman. Pura tersebut diberi nama Eka Wira Ananthadibangun di lingkunganKesatrian Gatot Subroto Kopassus Grup-1 Taman Serang.


Empat tahun kemudian, pada tahun 1984, Dan Grup-1 Kol(Inf)Soenarto menawarkan lokasi yang lebih lapang dan mudah dijangkau. Lokasi pun dipindahkan dari sebelumnya berdampingan dengan tempat ibadah umat non-Hindu keposisi pura saat ini. Adapun luas area diserahkan kepada umat untuk menentukannya. Dengan pertimbangan bahwa jumlah umat relatif sedikit maka kesepakatan umat jatuh pada angka 100 x 50 m2.


Selanjutnya, pada tahun 1985 beliau memerintahkan bahkan turun tangan langsung kelapangan memimpin pendirian Pura Agung Eka Wira Anantha. Untuk mempercepat pembangunan, dibentuklah tim kecil pembangunan terdiri dari pengarah Bapak Kol. Inf. Soenarto, Bapak Serka Gde Jata dan Bapak Serka Ida Bagus Rai Astawa dengan tim pelaksana Ir. I Wayan Gde Sudama, Ir. Wayan Gosio (alm) dan Bapak Nyoman Pujawan didukung oleh Suka Duka Umat Hindu Se-Banten serta PT. Krakatau Steel dan PT. Krakatau Pipe Industry
.

Tim pembangunan bau-membau bersama umat bergotong royong ngayah meratakan tanah dan meratakan area parkir, membuat pagar keliling dari besi beton dan membangun Padmasari. Pada tahun 1989 pembangunan Padmasari dapat dirampungkan, kemudian pada Purnama Kapat bulan Novemberdilakukan Pemelaspasan Alit yang dipuput oleh Ida Pedanda Istri Pidada Keniten dari Griya Kebon Jeruk Jakarta Barat didampingi oleh  Pembina Ida Bagus Sujana dan Serati Ida Ayu Biyang Sari dari Griya Kelapa Dua Jakarta Timur.


Periode Pengembangan 1990 – 1999

Pada tahun 1990-an atas sepengetahuan & seizin DanGrup-1, Bapak Kol (Inf) Pramono Edhi Wibowo, luas area Pura diukur ulang dengan menggunakan satuan depa beliau yaitu  menjadi 55 x 109 depa, atau hampir setara dengan 50 x 100 m2.


Kemudian atas dorongan Bapak Let Kol (Inf) Ngakan Gde Sugiartha Garjita (WaDan Grup-1 Kopassus) Padmasari ex paras bali diperbarui dengan Padmasana ukir pasir hitam,  juga dibangun Bale Pepelik & Bale Kulkul.Pada area Utama Mandala dibangun Gedong Penyimpenan dan Bale Pewedan. Juga disiapkan pelataran tempat persembahyangan dan asagan tempat sesajen.


Hal khusus terkait Padmasana Pura Eka Wira Anantha adalah pependeman pada pondasi Padmasana terdiri dari batu Himalaya, serta kain putih & benang tridatu dari kuil tertua di Nepal (sumbangan dari Serda Ismujiono, pendaki Kopassus,  pendaki pertama orang Indonesia untuk Himalaya. Tinggi Padmasana = 8, 848 cm merupakan miniatur ketinggian Himalaya = 8.848 mtr. Sedangkan pependeman pada Bale Pepelik terdiri dari benang Panca datu dan batu dari puncak Jaya wijaya, sumbangan dari Kapten (Inf) Iwan Setiawan, salah seorang pendakidari Grup-1 Kopassus.


Pada area Madya Mandala, dibangun Kori Agung dan Apit Surang, pagar besi sekeliling diganti dengan beton cetak. Jalan beton setapak diperluas, penataan taman, sistem penerangan, serta penghijauan. Pembangunan Bale Gong dilengkapi lantai keramik. Serta pembuatan tempat penyimpenan perlengkapan upakara/upacara pada bagian belakang bangunan Bale Gong tersebut.

Demikian juga pagar besi pada area Kanista Mandala seluruhnya diganti dengan beton cetak. Balai pertemuan dikeramik dan ruang tunggu/penunggu Pura yang lama dibongkar dan dibangun tersendiri dibelakang Bale Pertemuan.Penyambungan sarana listrik dari  KOPASSUS serta pembuatan distribusi air untuk seluruh area Pura.


Semua pembangunan tersebut dapat terlaksana tentu atas ledang Ida Sesuhunan memberikan tuntunan dan anugrahNYA. Dalam pelaksanaan pembangunan/ pengembangan Pura Eka Wira Anantha diprakarsai dan dimotivasi oleh Bapak Kolonel Inf Pramono Edhi Wibowo (Dan Grup-1 Kopassus) dan Bapak Let Kol Inf Ngakan Gde Sugiartha Garjita selaku WaDan Grup-1. Didukung oleh para dharmika antara lain Bapak Let Jen (Pur) Ida Bagus Sudjana & Kel (Cijantung), Bapak Let Jen (Pur) Putu Sukreta Soeranta & Kel (Kelapa Gading), Bapak May Jen TNI Sang Nyoman Suwisma Kel (Cijantung),  Bapak Kol Inf Soenarko MD &Kel (Taman, Serang & Cijantung), Bapak Kol (Pur) Nyoma Suwetha Arya & Kel (Cijantung),  Bapak Kol (Pol) Mangku Made Pastika & Kel (Cijantung),  Drs Anak Agung Gde Anom Suartha & Kel (Tangerang), Bapak I Wayan Gunastra &Kel (Tebet Barat, Jakarta Timur),  Bapak Tata Suwita & Keluarga (Jakarta) beserta seluruh umat se-Dharma SEJABOTABEK (Serang, Jakarta, Tangerang, Bogor  &  Bekasi).


Para pelaksana pengembangan terdiri dari Bapak Dewa Nyoman Oka dan Made Suteja (Lampung), Bapak Wagiman dan tim (Jawa Timur). Pengawas lapangan Anak Agung Gde Raka Sutardhana dan Serka Wayan Suwanda. Pengendalian kualitas, biaya dan pelaksanaan pembangunan dilakukan oleh para sesepuh:Let Kol (Inf) Ngakan Gde Sugiartha Garjita, Nyoman Pujawan, Ir. Ketut Sukada dan Ketut Siartha.


Seluruh tahapan pengembangan tanpa disadari dapat diselesaikan tepat waktu, tepat biaya dan tepat kualitas. Selanjutnya direncanakan untuk Ngenteg Linggih, namun seminggu sebelum Ngenteg Linggih dilakukan Peresmian oleh Bapak May Jen Syahrir MS selaku Dan Grup-1 Kopassus pada hari Senin, tanggal 18 Oktober 1999.Prasasti peresmian ditulis dan ditandatangani diatas batu fosil yang khusus didatangkan dari Kabupaten Lebak Rangkas Bitung. Adapun Koordinator peresmian adalah Kapten (Inf) Ketut Gde Wetan dibantu oleh prajurit Hindu Kopassus dan Dharma Taruna/i serta umat sedharma didukung oleh Permudhita Tangerang dan IPHB Provinsi Banten. Tetabuhan dari Banjar Tangerang.


Karya Agung Ngenteg Linggih dilaksanakan pada hari Soma Pon Wuku Sinta tanggal 25 Oktober 1999, dipuput oleh Ida Pedanda Istri Pidada Keniten (Ciwa) dari Griya Kebon Jeruk Jakarta Baratdan Ida Pedanda (Budha) Gde Nyoman Jelantik Oka dari Griya Cimanggu Bogor. Tingkat upacara yang diaturkan adalah madyaning utama dengan nyatur rebah, kerbau sebagai titi mah-mah serta pecaruan manca kelud, dengan ulam caru kambing, asu belang bungkem, angsa, ayam dan bebek bulu sikep.

Sebagai koordinator pelaksana Ngenteg Linggih dipercayakan kepada Ir. Made Pastiarsa M.Eng yang mana mulang pependeman dilakukan oleh May Jen Sang Nyoman Suwisma (Padmasana), Ir. Wayan Gde Sudama MM, PhD (Bale Pepelik), Let Kol (Inf) Ngakan Gde Sugiartha Garjita (Pengelurah) dan Ir. Wayan Gosio, MM (Taksu Dewa). Adapun Pinandita yang diwinten adalah: Pinandita Made Sudiada, (Griya Serdang, Cilegon), Pinandita lanang & Istri Gde Jata (Bayangkara, SERANG), Pinandita lanang& Istri A.A.Gde Raka Sutardhana (Cilegon) dan Pinandita Nyoman Artawan (Keramat Watu, Serang).


Periode Penyempurnaan(2000 – Sekarang)

Pura Eka Wira Anantha adalah satu-satunya Pura di Wilayah Banten yang dilengkapi dengan Tri Mandala, oleh karenanya dijadikan sebagai Pura Jagatnatha Provinsi Banten, yang mana kegiatan-kegiatan melibatkan wilayah tingkat provinsi seperti Tawur Agung Kesanga dipusatkan di Jaba Utara Pura Eka Anantha.  Sebagai informasi untuk umat Hindu di seluruh Nusantara, bahwa seluruh kegiatan keagamaan dikoordinasikan oleh PHDI Provinsi Banten dan dalam pelaksanaannya dilakukan oleh 6 Banjar yang merepresentasikan 6 Pura yang ada di Provinsi Banten.


Sebagai Pura Jagatnatha Provinsi Banten, Pura Eka Wira Anantha terus disempurnakan paska Ngenteg Linggih. Penyempurnaan dilakukan pada area yang relatif lebih “shoft” yaitu penataan Asta Kosala Kosali, pembangunangedung sekolah agama (Pasraman Eka WiraAnanthadan PAUD BalaDhika), penataan taman, perluasan jalan melingkari Pura, penataan air dan listrik, perluasan area parkir di depan area Pura, revitalisasi bale banjar, penataan tempat pertunjukan serta pembangunan rumah untuk penunggu Pura.


Pada tahun 2006 atas berkenan Ida Pedanda Nabe Gede Putra Sidemen, dilakukan pengukuran ulang batas utara-selatan dan timur barat untuk area Utama dan Madya Mandala mengacu pada perhitungan Asta Kosala Kosali.  Berbasis pada perhitungan tersebut, kemudian dilakukan penyempurnaan genah Kori Gelung, Apit Surang serta Pintu Masuk Pura diubah yang tadinya dari arah samping (barat) dipindah menjadi dari arah selatan.


Pemelaspasan Pemedang Agung (Kori Gelung), Bale Pawedan dan Taman sari dilakukan pada Anggara Kasih tanggal 14 Oktober 2008. Candi Bentar di Madya Mandala dipelaspas pada Purnamaning Kapat Anggara Paing tanggal 11 Oktober 2011. Dua tahun kemudian dilakukan pemelaspasan Candi Bentar Kanista Mandala pada Purnamaning Sadha Redite Pon tanggal 23 Juni 2013 dan Pemerayastita Penyengker Utama Mandala pada Purnamaning Kapat Saniscara Umanis tanggal 19 Oktober 2013.


KETUA SUKA DUKA BANJAR  SERANG

SUMBER : WWW.PHDIBANTEN.ORG
 

Senin, 30 Juli 2018

6 Sad Darҫana Hindu

Kata Bijaksana Kitab Suci Weda
Atharvaveda
 Sad Darҫana, terdiri dari enam sistem atau aliran filsafat yang terdiri dari pada : (1) Nyaya, (2) Vaisesika, (3) Sankhya, (4) Yoga, (5) Purwa Mimamsa, (6) Vedanta.



Adapun penjelasan singkat daripada sistem-sistem tersebut adalah sebagai berikut :
1.      NYAYA
Adalah sistem realisme yang logis (Logical Realism). Sistem ini mempercayai eksistensi dunia luar yang tidak tergantung dari jiwa-jiwa yang memikirkannya dan berusaha untuk membentuk kepercayaan melalui pemikiran yang logis.



Menurut sistem Nyaya, ada empat alat untuk mencapai pengetahuan yang valid, yang memenuhi persyaratan, yaitu : persepsi (perception = pengamatan indria = pratyaksa), inferensi (inference = penarikan kesimpulan = anumana), komparasi (comparison = perbandingan = umpamanya), dan testimony (bukti yang berasal dari authoritas = ҫabda).
Sistem Nyaya ini mengenal 16 katagori yaitu :
1.         Alat-alat untuk memperoleh pengetahuan yang valid, yang memenuhi persyaratan (Pramana).
2.         Obyek-obyek pengetahuan yang memenuhi persyaratan (Prameya)
3.         Keragu-raguan (Samsaya)
4.         Tujuan (Prayojana)
5.         Contoh-contoh (Drstanta)
6.         Kesimpulan-kesimpulan yang telah terbentuk (Siddhanta)
7.         Bagian-bagian dari sylogisme (Avayava)
8.         Reductio ad absurdum (Tarka)
9.         Pengetahuan yang tertentukan (Nirnaya)
10.     Pengargumentasian untuk memperoleh  kenyataan (Vada)
11.     Pengargumentasian secara konstruktif atau secara destruktif untuk mencapai kemenangan (Jalpa)
12.     Pengargumentasian yang melulu bersifat destruktif (Vitanda)
13.     Alasan-alasan yang salah (Hetvabhasa)
14.     Permainan kata (Chala)
15.     Penolakan untuk memenangkan, yang tampaknya benar, tetapi sebenarnya salah (Jati)
16.     Titik-titik kelemahan (Nigrahasthana)

2.      VAISESIKA
Adalah sistem pluralisme atomistis, yang mempercayai pluralitas dari realitas dan menganggap dunia physik, alam jasmani ini, sebagai terdiri dari benda-benda, yang masing-masing dapat diredusir menjadi sejumlah atoom-atoom.
Sekalipun sistem Vaisesika ini pada mulanya merupakan sistem yang berdiri sendiri, tetapi begitu memulai masa perkembangannya segera bergabung dengan sistem Nyaya, karena ada hubungan meta-physika yang erat dengan sistem Nyaya.
Syncretisme dari Nyaya dan Vaisesika begitu lengkap, sehingga para penulis pada masa-masa belakangan, memperlakukannya sebagai sistem hyphenated, yaitu sistem Nyaya Vaisesika, yang merupakan gabungan theori pramana dari Nyaya, dan schema katagori-katagori (padartha) dari Vaisesika.
Doktrin yang paling penting dari Vaisesika, ialah mengenai katagori-katagori. Sistem katagori (padartha) adalah apa yang diketahui (jneya), dapat dikenal dengan melalui persyaratan-persyaratan (prameya), dan dapat dinamai atau ditunjukkan (abhid heyi). Jumlah katagori itu ada tujuh, yaitu : substansi (dravya), kwalitas (guna), aktivitas (karma), generalitas (samanya), particularitas (visesa), inherensi (samavaya), dan non-existensi (abhava).
Aslinya hanya ada enam katagori saja, lalu dengan ditambah katagori non-existensi (abhava), menjadi berjumlah tujuh.

3.      SANKHYA
Adalah suatu sistem realisme, dualisme dan pluralisme. Kita namakan realisme, karena Sankhya itu mengenal realitas dunia yang tidak tergantung dari jiwa atau roh; kita namakan dualisme karena Sankhya itu berpendapat bahwa ada dua realitas yang fundamental, dimana keadaannya yang satu berbeda dengan yang lain, yaitu zat (matter) dan roh (spirit); kita namakan pluralisme, karena Sankhya mengajarkan ajaran tentang pluralitasnya roh atau jiwa. Dengan pendek dapat kita katakan bahwa Sankhya itu adalah sistem dualisme yang bersifat kwalitatif dan adalah sistem pluralisme yang bersifat numerical.
Doktrin pokok dari Sankhya adalah bahwa di alam semesta ini terdapat dua katagori fundamental yang bersifat constitutive, dari realitas, yaitu purusa dan prakerti, atau roh (spirit) dan zat (matter). Purusa adalah kesadaran murni yang tidak mengalami perubahan dan bersifat multiple (banyak); prakreti adalah prius (dasar utama) dari sesuatu ciptaan yang sifatnya kaku dan tunggal.
Kedua hal tersebut yaitu purusa dan prakreti berlawanan secara diametrical, yang satu terhadap yang lainnya. Sekaligus purusa dan prakreti itu merupakan antithetical satu terhadap yang lainnya, namun terdapat kenyataan bahwa adanya evolusi dunia itu karena adanya kerja sama dari kedua unsur tersebut.

ARTIKEL TERKAIT SAD DARSANA 


4.      YOGA
Sistem Yoga tidak mempunyai metaphysicanya sendiri. Sistem yoga menerima filsafat Sankhya dan memformulasikan suatu methode untuk mencapai tujuan manusia, seperti yang digambarkan oleh Sankhya.
Untuk mencapai tujuan hidup, yang harus dikerjakan ialah mengisolasikan purusa  dari  prakreti; pengisolasian itu dapat dilaksanakan dengan proses pengontrolan pikiran.
Apabila pikiran dapat diterangkan dan dikosongkan, dan apabila di situ tidak ada refleksi lagi, maka purusa akan dapat menyadari sifatnya sendiri dan dapat menghindari jeratan prakreti. Methode untuk dapat menyadarkan purusa akan sifatnya sendiri itu disebut yoga.
5.      PURWA-MIMAMSA
Sistem-sistem filsafat yang telah kita bicarakan di muka, sekalipun menerima autoritas Kitab Suci Weda, dengan demikian kita namakan astika,  tetapi sistem-sistem filsafat tersebut tidak menggantungkan diri sepenuhnya kepada ajaran-ajaran Veda.
Sekarang akan kita bicarakan sistem-sistem filsafat yang secara ketat menggantungkan diri kepada Kitab Suci Weda; yaitu Purwa-Mimamsa dan Uttara-Mimamsa.
Seperti namanya telah menyebutkan, kedua mazab filsafat tersebut berturut-turut berusaha untuk mengadakan penyelidikan tentang bagian permulaan (Purwa) dari Kitab Suci Weda, dan bagian akhir (=Uttara) dari Kitab Suci Weda. Bagi Purwa-Mimamsa, bagian Weda yang penting yang diselidiki adalah, mengenai Brahmana;  sedangkan bagi Uttara-Mimamsa yang diselidiki adalah Upanisad.
Sekalipun kedua sistem tersebut mengikut secara setia kepada text-text dari Kitab Suci Weda dan mempelajarinya menurut ilhamnya sendiri-sendiri, tetapi kedua sistem itu dapat kita namai filsafat, karena yang menonjol dari ajarannya adalah segi methodenya yang berdasarkan penyelidikan yang rasional atau berdasar logika (mimamsa) itu.
Kalau Uttara-mimamsa  itu lebih dikenal dengan nama Vedanta,  maka Purwa-mimamsa demi untuk singkatnya kita namai mimamsa saja. Tujuan utama dari mimamsa ialah untuk membentuk authoritas Kitab Suci Weda, dan menonjolkan segi ritualnya dari Weda. Oleh karena itu dalam Purwa-Mimamsa ini juga dikenal dengan nama Karma-Mimamsa. Mengenai posisi philosophisnya, Purwa-Mimamsa ini banyak sedikitnya sama dengan realisme-pluralitasnya Nyaya-Vaisesika.
6.      VEDANTA
Berarti bagian akhir dari Kitab Suci Weda (Veda+anta). Perkataan anta , seperti perkataan bahasa Inggris end berarti titik akhir atau tujuan. Kitab Suci Upanisad dinamakan Vedanta, karena Kitab Suci Upanisad itu kebanyakan merupakan bagian penutup dari Kitab Suci Weda dan karena makna atau inti sari Weda itu terdapat pada Kitab-Kitab Suci Upanisad.
Sistem-sistem filsafat yang menganggap Kitab Suci Upanisad sebagai text-text-nya yang fundamental, dikenal juga dengan Vedanta. Kalau Mimamsa dan Vedanta itu dua-duanya berhubungan dengan Kitab Suci Weda, dan menganggapnya sebagai pramana  yang paling agung, maka perbedaannya terletak pada masalah : Bagian yang mana dari Kitab Suci Weda itu yang primair ?
Kalau segi ritualnya, maka Vedanta mendapatinya ada segi pengetahuannya. Karena di dalam ajaran Kitab Suci Upanisad yang membentuk bagian pengetahuan dari Kitab  Suci Veda itu, Brahman (Tuhan Yang Maha Esa) merupakan realitas yang tertinggi, maka Vedanta dinamakan Brahma-Mimamsa.
Oleh karena Kitab Suci Vedanta itu juga membicarakan sifat dari roh yang mempergunakan badan jasmani, maka Vedanta juga dinamakan Sariraka-Mimamsa.

Jumat, 27 Juli 2018

5 SRADHA - PANCA ҪRADDHA TATTWA

PANCA SRADHA
Kisah Mahabharata
MAHABHARATA ANUSASANA
Ҫraddha (Keimanan).

Ҫraddha adalah bahasa Sanskerta, dapat diartikan ; keyakinan, kepercayaan, keimanan. Ҫraddha sebagai kepercayaan dirumuskan dalam Atharwa Weda, XII. 1.1.Satyam Brhad rtam ugram diksa, tapo brahma yajna prthiwim dharayanti“. ( Sesungguhnya, Satya, Rta. Diksa, Tapa, Brahman dan Yajna yang menyangga dunia ).
Dengan ayat ini dijelaskan bahwa dunia ini ditunjang oleh ; Satya, Rta, Diksa, Tapa, Brahma dan Yajna. Tentang arti kata menyangga (dharayanti), dijelaskan bahwa alam semesta ini merupakan unsur Dharma yang memelihara kehidupan ini. Dapat pula kita katakan bahwa keenam unsur-unsur tersebut merupakan kerangka isi Dharma (Agama Hindu).

(1). Satya
Kebenaran, sifat hakekat Tuhan Yang Maha Esa; Kesetiaan, Kejujuran, setia.
(2). Rta dan Dharma
Rta ialah hukum Tuhan yang murni yang bersifat absolut transcendental.
Dharma ialah bentuk hukum yang dijabarkan ke dalam alam manusia.
(3). Diksa
Diksa (inisiasi) berarti penyucian, penasbihan, inisiasi, abhiseka.
(4). Tapa
Tapa berarti pengendalian indriya.
(5). Brahma
Brahma berarti pujian. Pujian adalah semacam doa yang dalam sehari-hari disebut mantra atau stuti. Mantra adalah ayat-ayat suci yang dipergunakan untuk melaksanakan pemujaan karena itu mantra itu juga dinamakan doa, tetapi sebagai alat doa itu adalah mantra. Kata lain yang sering dipergunakan yang sama artinya ialah stotra atau stawa. Jadi stawa atau stotra adalah ayat-ayat yang dipergunakan untuk melakukan pujian kepada Tuhan atau lainnya.
(6). Yajna
Menurut Etimologi, Yajna berasal dari bahasa Sanskerta, dengan urat kata Yaj, yang artinya : memuja atau memberi pengorbanan atau menjadikan suci. Kata ini juga diartikan mempersembahkan; bertindak sebagai perantara. Dari urat kata ini timbul kata Yajna (kata-kata dalam pemujaan, ritus agama) dan Yajna (pemujaan, doa, persembahan) yang kesemuanya berarti sama dengan Brahma.

Ҫraddha ialah keimanan atau kepercayaan yang tulus yang menegaskan kebenaran dan hukum untuk mengikat nilai-nilai spiritual pada diri manusia. Di dalam pengupasan ajaran kepercayaan kepada Tuhan yang merupakan pokok-pokok ajaran kefilsafatan Hindu, untuk menjelaskan sistem kepercayaan kepada Tuhan itu dikembangkan pula ajaran Panca Ҫraddha (Lima dasar pokok keyakinan). Ajaran Agama Hindu (Hindu Dharma), dapat dibagi atas tiga unsur besar atau atas tiga kerangka yaitu :
  1. Tattwa (Filsafat).
  2. Tata Susila (Etika)
  3. Upacara (Ritual)
Tattwa merupakan istilah filsafat yang telah umum dipakai oleh umat Hindu di Indonesia, sedangkan di India pada umumnya disebut Darҫana. Darҫana ada kaitannya dengan ajaran Agama Hindu dengan uraian yang ilmiah mengupas inti hakekat kebenaran yang kekal abadi (Brahman).

Tattwa merupakan apinya Agama, yang memberikan sinar kepada bagian lainnya dan refleksinya diwujudkan pada upacara-upacara. Upacara, Banten, Simbul-simbul (Lambang), Gambar-Gambar (Rerajahan), Huruf-huruf Suci, merupakan perwujudan dari Tattwa.
Adapun kata Tattwa dapat kita artikan; Kebenaran, Inti Hakekat, Filsafat; Tat itu : Kebenaran, Twa : Bersifat, mempunyai sifat.

Darҫana-Darҫana, Weda Sruti dan Smerti, dipelajari oleh umat Hindu di Indonesia sejak dahulu kala, kemudian diolah lagi oleh alam pikiran para Rohaniwan, Bijaksanawan, Resi, Empu, Pandita, sehingga muncullah berbagai macam Tattwa.
Adapun contoh Tattwa yang pada saat ini masih mendapatkan perhatian yang baik ialah :

  1. Wrehaspati Tattwa
  2. Ganapati Tattwa
  3. Ҫiwa Tattwa
  4. Tattwa Jnana
  5. Kala Tattwa
  6. Widdhi Tattwa

Dan banyak lagi rontal-rontal yang memakai nama Tattwa maupun yang memuat ajaran Tattwa.

Ajaran Tattwa merupakan bagian ajaran Agama yang penting sebagai inti sari; jika diumpamakan Agama (Dharma) itu sebagai sebutir telur, maka Tattwa itu adalah sarinya, Susila itu adalah airnya (putihnya), sedangkan Upacara-Upacara adalah kulitnya.

Susila memberikan dukungann kepada yang mempelajari Tattwa, supaya jangan menjadi orang intar-busuk, dan Susila itupun memberikan dorongan kepada yang melaksanakan Upacara-Upacara (Yajna) supaya tidak sia-sia.
Secara singkat dapat kita katakan bahwa Tuhan maupun Dewa-Dewa yang disebutkan dalam Tattwa, sudah menjadi objek pemujaan, penyembahan dalam pelaksanaan keagamaan.

Apa arti dan pengertian Panca Ҫraddha itu ?
Panca = Lima, Ҫraddha = Keyakinan, Kepercayaan.
Panca Ҫraddha Tattwa = Lima dasar pokok keyakinan (kepercayaan) yang mengandung kebenaran.

Panca Ҫraddha Tattwa disingkat jadi Panca Ҫraddha, terdiri dari :
  1. Brahma (Widdhi) Tattwa
  2. Atma (n) Tattwa
  3. Karma Phala Tattwa
  4. Punarbhawa (Samsara) Tattwa
  5. Moksa Tattwa

Kalau kita pelajari ajaran Agama Hindu, maupun membaca Sad Darҫana, dan Tattwa-Tattwa lainnya, maka dapat disimpulkan secara garis besarnya memuat persoalan : Brahman, Atman, Karma, Samsara, Moksa.
Panca Ҫraddha Tattwa ini, bukan pelajaran yang baru bagi umat Hindu, namun merupakan pengolahan sari-sari Darҫana dan Tattwa yang telah ada, perumusan inti sari ajaran yang tak pernah selesai dipelajari sepanjang masa.

Pengertian Panca Ҫraddha Tattwa :
1.      Brahman (Widdhi) = Yakin akan adanya Tuhan Yang Maha Esa.
2.      Atma (n) = Yakin akan adanya Atma (Jiwa) yang tak dapat mati.
3.      Karma Phala = Yakin bahwa setiap perbuatan ada buahnya.
4.      Samsara (Punarbhawa) = Yakin akan adanya kelahiran yang berulang-ulang.

5.      Moksa = Bersatunya Atma dengan Brahman.

Kamis, 12 Juli 2018

Sarassamuscaya Sloka 321

Pergaulan dengan sang sadhu
Kitab Agama Hindu
Bhagawadgita
Sarassamuscaya Sloka 321

drogdhavyam na ca mitresu na visvastesu karhicit, yasya camani bhunjita yatra ca syat pratisrayah

Nyang pangraksu kirti, haywa drohaka ring mitra, drohaka ngaraning mahyun ri patyanika, haywa drohaka ring kaparcaya, parcaya ri kita kunang, rjng pinsnganta sekulnya, pamarasraya kuneng apan krtaghna ngaraning papaning mangkana, tan purwarna.



Artinya
Inilah penjaga (pemelihara) nama baik; jangan berkhianat kepada sahabat; druhaka artinya menghendaki akan matinya sahabat itu; jangan berkhianat kepada orang yang dipercaya baik kepada orang yang menaruh kepercayaan kepada anda, maupun kepada orang yang nasinya anda makan, demikian pula kepada orang tempat mendapat perlindungan sebab tidak tahu berterima kasih dikatakan perbuatan nista yang demikian tidak tahu membayar hutang-hutang yang lampau.

Ulasan
Bahwa apa yang terjadi pada kehidupan ini memang dialami banyak orang, kadang memang jangan mengkhianati suatu persahabaan karena cari sahabat sangat sulit untuk didapatkan. Oleh karenanya sahanat harus dijaga agar apa yang telah terjadi sering kali lupa akan persahabatan yang telah tetjalin lama dan saling menguntungkan. Demikian persahabatan dalam hidup ini juga membutuhkan suatu pupuk untuk kelanjutan persahabatan yang akan datang.

Senin, 09 Juli 2018

Sarassamuscaya Sloka 318

Pergaulan dengan sang sadhu
Kata Mutiara Kitab Suci Yayur Weda
Yayurveda
Sarassamuscaya Sloka 318



arapyate sila saile klecena mahata yatha, patyate ca sukhenadhastathtama punyapapayoh.

Matangnyan haywa tan yatna, raksan kayatnakena katemwan iking si dadi wwang denta, sakarananyan entasa minduhura muwah, ta pwa gawayakena, apan atyanta iweh ning maminduhuraken, kunang yang pamingsorakena, emas ika, tonenta, nang wungkal pingruhurakena ryagraning wukir, antukning pariklesa ika, kunang yan tibakena ika, tan kewehan ngwang irika.

Artinya
Oleh karenanya janganlah tidak hati-hati, jagalah baik-baik karena telah dapat menjelma menjadi orang; segala yang menyebabkan akan dapat lulus dan meningkatkan penjelmaan, itulah hendaknya dilaksanakan, karena keliwat sukar untuk meningkatkan penjelmaan itu; akan tetapi untuk menurunkan, amat mudahnya; contohnya: batu yang telah dinaikkan ke puncak gunung; karena suatu gangguan maka dijatuhkan kembali dengan tanpa kesulitan sama sekali.

Ulasan
Bahwa dalam kehidupan ini memang tidak mudah untuk dijalani karena harus mampu mempertanggung jawabkannya apa yang telah dilakukannya. Pada dasarnya yang dilahirkan menjadi manusia sungguh-sungguh utama karena tidak mudah dilahirkan menjadi manusia, mengapa demikian karena yang dilahirkan menjadi manusia ini dalam hidupnya harus dapat melaksanakan perbuatan yang baik sebanyaj-banyaknya.
Oleh karena itu tidak gampang menjadi manusia yang utama sehingga dalam hidupnya yang harus dilakukan adalah bagaimana menjaga agar kelahiran menjadi manusia akan tetap terjaga. Karena itu apabila lengah sedikit saja melakukan kesalahan dalam hidup ini akan terjerumus ke jurang kesengsaraan dan tidak.mungkin akan lahir menjadi manusia kembali dalam kelahiran mendatang. Demikian yang harus diingat bahwa kelahiran menjadi manusia ini sungguh utama dan hendaknya terus ditingkatkan dalam kehidupan ini.

Jumat, 06 Juli 2018

Sumpah Dalam Perkara

SUMPAH DALAM PERKARA



Alat-alat yang diperlukan :
-            Air Suci
-            Dupa
-            Bunga / Canang Sari
-            Api (Pasepan)

Petugas yang Menyumpah
-          Seorang Pedanda, Pinandita, Pemuka Agama
-          Berpakaian Resmi/Keagamaan
-          Sikap tangan Mustikarana, diletakkan di depan hulu hati, memegang dupa (menghadap Air Suci, Canang Sari dengan mengucapkan mantra)

Mantram :
Om atah Parama Wisesa, Om indah ta kamung Hyang Hari candani, Agastya Maharesi, kita prasidha rumaksa ring rahina wengi, anodyani wang angupa saksi.
Mon tan tuhu ulahnya, kapastu denira kadi we umili sang sara tinemunya
Mon bener ulahnya, kna sadya mwang rahayu.
Oam siddhir astu tat astu, astu

Artinya :
Sang Hyang Widdhi Waҫa yang Maha Besar dan Maha Kuasa, Sang Hyang Hari Candani (Prabhawa). Sang Hyang Widdhi Waҫa sebagai saksi perbuatan mahluk serta Maha Resi Agastya yang merupakan pengemban mahluk pada waktu siang dan malam, serta menjadi saksi dari mereka yang melakukan sumpah.
Kalau tidak benar segala perbuatannya agar ia (mereka) mengalami penderitaan yang datangnya tidak putus-putus sebagai air mengalir.
Tetapi jika benar segala perbuatannya semoga ia (mereka) dikaruniai kebahagiaan serta berhasil dalam segala karyanya.

Setelah selesai mengucapkan Mantram ini, dupa lalu diletakkan di atas Canang Sari sambil menunggu yang di sumpah mengucapkan sumpahnya.

Yang disumpah
-          Berpakaian Resmi/Keagamaan
-          Berdiri menghadap Air Suci/Canang Sari ke arah Matahari terbit
-          Di waktu mengucapkan sumpah, tangan memegang dupa yang telah dinyalakan, sikap sesuai dengan Penyumpah
-          Sikap tangan dan letak Dupa sama dengan sikap Panganjali yaitu diangkat sampai di dada. Sumpah dibacakan oleh Penyumpah, diikuti oleh yang disumpah.

Mantram
Hatur hulun ri Paduka Hyang Widdhi, ndah yan tan tuhu ulah ingulun moga hulun kena saupaddwaning upasaksi, kapastu denira Sang Hyang Hari Candani, Kunang yan tuhu bener pwa ulah inghulun moga umanggih sadya mwang rahayu.

Artinya :

Sembah sujud hamba kehadapan Mu Hyang Wddhi seandainya tidak benar segala perbuatan hamba, agar hamba dikenai oleh ganjaran dari sumpah persaksian disalahkan oleh Hyang Widdhi dalam manifestasiMu sebagai Hyang Hari Candani. Tetapi jika seandainya hamba selalu berbuat di jalan kebenaran semoa hamba dilimpahi kebahagiaan dan berhasil dalam segala karya hamba.

Cari Artikel di Blog ini

Berita Terkait Semangat Hindu

Artikel Agama Hindu

108 Mutiara Veda Agama Hindu Dharma agama islam Ajaran Hindu aris widodo artikel hindu Arya Wedakarna Asta Brata Atharvaveda babad bagian catur weda bahasa jawa kuno bahasa kawi bahasa sanskerta banten hindu bali Belajar Hindu bhagavad gita bhagawan bhuta yadnya Bimas Hindu brahma wisnu siwa brahmana ksatriya wesia sudra budaya bali Catur Brata Catur Purusharta catur veda Catur Warna Catur Weda Cendekiawan Hindu Dana Punia dewa dewi hindu dewa yadnya dharma artha kama moksa Dharma Santi dharma wacana Doa Anak Hindu epos mahabharata ramayana filsafat agama hindu ganesha Hari Raya Galungan Hari Raya Kuningan Hari Raya Nyepi Hari Raya Pagerwesi Hari Raya Saraswati Hindu Agama Terbesar di Dunia Hindu Banten Hindu beribadah di Pura Hindu Festival Hindu Indonesia hindu nusantara Hindu Tengger Hinduism Facts Hinduism the Greatest Religion in the Word Hukum Karma Ida Pedanda sakti isi catur weda kakawin Kamasutra Kerajaan Hindu Kitab Suci Weda lontar Mantra manusa yadnya Meditasi Matahari Terbit menghafal sloka Moksha Motivasi Hindu Mpu Jayaprema nakbalibelog Nuur Tirtha Om or Aum opini hindu moderat Panca Sradha panca yadnya pandita parahyangan agung jagatkartta Pasraman Pasupati Pembagian Kitab Suci Veda Pemuda Hindu Indonesia pendidikan hindu pengertian catur weda Peradah percikan dharma phdi pinandita Pitra Yadnya Ngaben Pitrapuja potong gigi Principle Beliefs of Hinduism Pujawali purana purnama tilem Radio online Bali rare angon nak bali belog Reinkarnasi Rgveda ritual hindu Rsi yadnya sad darsana sad guru Samaveda sanatana dharma Sarassamuscaya Sarassamuscaya Sloka sattvam rajah tamah Sekta Hindu Semangat Hindu Sex and Hinduism siwa budha waesnawa Sloka sloka bhagawad gita sloka Rgveda sloka yayurveda spiritualitas hindu sradha dan bhakti sri rama krishna paramahansa Sri Sathya Sai Baba sumpah dalam perkara tat twam asi tattwa susila upakara Tempat Suci Hindu Tri kaya parisudha upacara hindu Upanisad Utsawa Dharma Gita Vasudhaiva Kutumbakam Vijaya Dashami wija kasawur Yayurveda