OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM

PRAKATA

Selamat Datang

Semangat Hindu merupakan blog bersama umat Hindu untuk berbagi berita Hindu dan cerita singkat. Informasi kegiatan umat Hindu ini akan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan.
Semangat Hindu semangat kita bersama.

Bersama Semangat Hindu kita berbagi berita dan cerita, info kegiatan, bakti sosial dan kepedulian, serta kegiatan keagamaan seperti ; pujawali, Kasadha, Kaharingan, Nyepi, Upacara Tiwah, Ngaben, Vijaya Dhasami dan lain sebagainya.

Marilah Berbagi Berita, Cerita, Informasi, Artikel Singkat. Bagi yang mempunyai Web/Blog, dengan tautan URL maka dapat meningkatkan SEO Web/ blog Anda.

Terima Kasih
Admin

RANBB

---#### Mohon Klik Share untuk mendukung blog ini ####---

Tampilkan postingan dengan label panca yadnya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label panca yadnya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Juni 2023

3 Tri Kerangka Agama Hindu

Percikan Dharma

Tri Kerangka Agama Hindu


Om Swastyastu

Umat Se-dharma, agama Hindu disusun dalam Tri Kerangka Agama Hindu untuk memudahkan umat mempelajari, memahami, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini tertuang dalam (Anonim: I.1968) yaitu



1. Brahma Widya (Widya Tattwa) yaitu:

    a. Widhi Tattwa

    b. Tattwa Upacara

2. Susila/Etika Agama yaitu :

    a. Samania Dharmasastra

    b. Naimitika Dharmasastra

    c. Karmya Dharmasastra

    d. Upacara Dharmasastra

3. Upacara Agama yaitu :

     a. Dewa Yajna

     b. Rsi Yajna

     c. Pitra Yajna

     d. Manusia Yajna

     e. Bhuta Yajna



Artikel Terkait Vasudhaiva Kutumbakam :

Dalam agama Hindu Tri Kerangka Agama Hindu dibagi menjadi tiga yaitu Widhi Tattwa, Susila/Etika dan Upacara.


Widhi Tattwa 

Widhi Tattwa disebut juga Brahma Widya adalah falsafah /ajaran tentang Sang Hyang Widhi Wasa yang dimuat didalsm kitab suci Weda yang langgeng dan abadi. Dalam Widhi Tattwa mengupas tentang Ketuhanan, bagaimana menghaturkan ucapan terima kasih atas semua yang diberikan pada umat manusia.


Susila

Susila/Etika memuat ajaran dan petunjuk moral berperilaku baik. Sering juga disamakan dengan Dharmasastra, terdiri dari samania dharmasastra, nitya dharmasastra, naimitika dharmasastra dan kamya dharmasastra.

Samania dharmasastra artinya mirip, identik, serupa. Samania dharmasastra artinya dharma itu identik/mirip/serupa kitab suci, Agama, sastra-sastra dan ilmu pengetahuan.

Naimitika Dharmasastra artinya etika atau tata susila yang berlaku di dalam lingkungan atau kelompok terbatas.

Kamya Dharmasaatra, kamya artinya wajib. Ada hal-hal yang wajib dilaksanakan umat Hindu. Misalnya melakukan upacara Panca Yadnya, melakukan sembah bhakti kehadapan Hyang Widhi.


Upacara

Upacara sering kali disamakan artinya dengan upakara seperti telah disebutkan sebelumnya. Upacara ialah ritual atau tatacara yang memuat aturan-aturan untuk melaksanakan kegiatan ritusl tertentu dari agama. Ada lima yadnya yang dilakukan yaitu Dewa yadnya, Rsi yadnya, Pitra yadnya, Manusia yadnya dan Bhuta yadnya.


Tattwa, Susila dan Upacara merupakan satu kesatuan dalam pelaksanaannya. Misalnya bila akan melakukan persembahyangan ke Pura. Sebelum datang di Pura, pikiran dan perasaan sudah ditujukan kehadapan Hyang Widhi.

Om Santih Santih Santih Om


Aris Widodo

Penyuluh Agama Hindu

Kita Serang

Jumat, 27 Januari 2023

Canakhya Nitisastra - Triji Ratna Permata

 Canakhya Nitisastra - Triji Ratna Permata 

Dalam Canakhya Nitisastra menyebutkan istilah Triji Ratna Permata yang artinya ada tiga ratna permata bumi yaitu air, tumbuh-tumbuhan dan kata-kata bijak. 


Berbicara mengenai hubungan manusia dengan alam, sudah tidak asing lagi bagi telinga kita, bahkan dalam keseharian, kita telah melaksanakan hubungan baik dengan alam ini. Ini berkat pengetahuan kita tentang alam, berkat didikan agama kita, agama Hindu tentang Tri Hita Karana yang sudah sangat kita pahami bersama.

Seperti seorang yang menggali sumur, memang akan sangat membahagiakan saat air kita temukan pertama kali. Sama halnya dalam belajar, saat kita menemukan sesuatu yang kita cari alangkah bahagia dan bangganya. Namun sebenarnya masih banyak pengetahuan yang patut kita pelajari lebih dalam, atau kita perlu menggali sumur yang lebih dalam demi memperoleh kemurnian air. Walaupun tattwa mengenai Tri Hita Karana sudah kita pahami, perlu kiranya kita perdalam lagi, sebab dalam Weda ilmu pengetahuan itu sangat luas dan dalam, tergantung dari kita untuk mempelajarinya.

Dalam Canakhya Nitisastra menyebutkan istilah Triji Ratna Permata yang artinya ada tiga ratna permata bumi yaitu air, tumbuh-tumbuhan dan kata-kata bijak. Dalam kitab Atharwaveda XVIII.1.17 ada disebutkan Trimi Chandra yang bermakna ada tiga yang indah bersinar di bumi ini yaitu air, udara dan tumbuh-tumbuhan bahan makanan serta obat-obatan sebagai tiga yang membuat bumi ini indah dan bersinar sejuk.

            Dari kedua pengetahuan diatas, Tri Hita Karana khususnya mengenai Hubungan Manusia dengan Alam menjadi sangat penting untuk dilakukan dengan tindakan nyata. Manusia sebagai sentral dari masalah pelestarian alam lingkungan, baik atau rusaknya alam sangat tergantung daripada perilaku manusia itu sendiri. Manusia Hindu dalam tindakan nyatanya untuk pelestarian alam melalui upaya ritual keagamaan  yaitu upacara Yadnya yang telah   pula   menjangkau   aspek   supra-empiris.

            Dalam setiap kegiatan upacara Yadnya selalu terkait dengan air, tumbuh-tumbuhan dan kata-kata bijak (wacika parisudha) dan upakara Yadnya pula sebagai wujud hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam lingkungan.

Menilik berita kerusakan alam saat ini memang sangat memprihatinkan, dalam setiap berita kita sering mendengar kualitas lingkungan hidup kita yang telah rusak, hutan-hutan berganti fungsinya, pencemaran air dimana-mana, dan ke semua itu akan mempengaruhi kualitas sumber daya alam itu sendiri. Kerusakan lapisan ozon yang melindungi bumi dari sinar ultra violet matahari, terkurasnya sumber daya mineral, minyak dan gas dari perut bumi akibat usaha pertambangan yang terjadi di seluruh dunia. Kerusakan demi kerusakan ini akan mengancam peradaban dan kehidupan manusia itu sendiri. Dengan demikian sudah menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menjaga sumber daya alam dan lingkungan hidup serta melestarikannya.

            Pelestarian alam seharusnya dapat diwujudkan dengan perbuatan nyata, seperti dalam RgVeda III.51.5 menyebutkan : “Lindungilah sumber-sumber kekayaan alam seperti atmosfir, tanam-tanaman dan tumbuh-tumbuhan berkhasiat obat, sungai, sumber-sumber air dan hutan-hutan belantara “.  Sangat jelas dinyatakan dalam kitab suci kita, sehingga pelaksanaannya menjadi keharusan dengan tindakan nyata. Manusia dan alam harus saling beryadnya, keduanya tidak dapat dipisahkan. Alam beryadnya kepada manusia, manusiapun wajib beryadnya kepada alam. Kitab Bhagawadgita III.16 menyatakan : “Barang siapa yang tidak memutar Cakra Yadnya ini sesungguhnya ia adalah penjahat “ Maknanya dalam hubungan antara manusia dengan alam agar adanya kesadaran manusia, bahwa tanpa yadnya dari alam, manusia tidak dapat mewujudkan tujuan hidupnya. 

Selasa, 24 Januari 2023

Percikan Dharma Pengorbanan Suci (Yajna)

Percikan Dharma Pengorbanan Suci (Yajna)

 

Om Swastyastu

Umat se-dharma, dalam hidup ini pasti ada suatu pengorbanan suci yang harus dilakukan oleh manusia itu sendiri. Untuk itu perlu sekali dilakukan agar hidup ini menjadi lebih indah dan memberikan inspirasi untuk selalu melakukan korban suci.


catur weda

Yajna adalah korban suci, yaitu yang dilandasi oleh kesucian hati, ketulusan dan tanpa pamrih. Yajna mengandung pengertian yang sangat luas, jauh lebih luas dibandingkan dengan pengertian upacara atau upakara. Yajna merupakan pusat alam semesta, diciptakan atas dasar Yajna, keiklhasan-Nya selanjutnya beliau bersabda supaya setiap manusia mengikuti jejak-Nya.


Orang yang telah melakukan yajna memperoleh pencerahan batin. Demikian pula dalam kehidupan modern, donor darah ataupun donor organ tubuhpun dapat disebut sebagai Yajna yang utama. Oleh karena itu dengan yajna yang kita lakukan niscaya semua anugrah pasti didapatkannya.


Pengorbanan untuk kebahagiaan abadi


Svar yanto napeksanta,

a dyam rohanti rodasi


yajnam ye vi vatodharam,

suvidvamso vitenire


Yajur Veda XVII. 68


Artinya

Para sarjana yang terkenal yang melaksanakan pengorbanan, mencapai kahyangan (swarga) tanpa suatu bantuan apapun. Mereka membuat jalan masuk mereka dengan mudah ke kahyangan (Swarga), yang menyeberangi bumi dan wilayah pertengahan.


Ulasan

Bahwa sesungguhnya dalam hidup ini ada sesuatu yang perlu dikorbankan yaitu apa yang kita punya tentunya, namun demikian apapun yang ķita korbankan apabila didasari dengan keikhlasan niscaya akan membuahkan hasil yang sesuai dengan pengj xucorbanan tersebut.


Dengan pengorbanan yang tulus dan ikhlas dan tanpa pamrih pasti Hyang Widhi akan memberikan yang terindah dalam hidupnya.

Om Santih Santih Santih Om


Aris Widodo

Penyuluh Agama Hindu

Kota Serang

Minggu, 10 April 2022

Kidung-Kidung Dewa Yadnya

 Kidung-Kidung Dewa Yadnya

Kidung yang terkait dengan Dewa Yadnya biasanya menggambarkan suasana yang khusyuk, dengan nada irama yang tenang dan mengalun seiring dengan puja mantra yang dihaturkan oleh para Sulinggih.



Ciri khas kidung Dewa Yadnya adalah liriknya mengandung unsur-unsur  pemujaan ,puji-pujian kepada Ida Sang Hyang Widhi, dilantunkan dengan perlahan-lahan dan penuh kekhusyukkan.

Berikut di bawah ini beberapa jenis kidung yang digunakan untuk mengiringi rangkaian upacara Dewa Yadnya, khususnya yang berlaku di Bali.




Tatkala nuntun Ida Bhatara: Kawitan Wargasari, Wargasari;


Artikel Terkait Vasudhaiva Kutumbakam :

  • tatkala mapiuning,menghaturkan upacara: Brahmara Ngisep Sari, Kawitan Wargasari, dan
  • menghaturkan byakaon,prayascita, dll: Kidung Wargasari
  • memendak atau melastiWargasari
  • tatkala muspa: Kakawin Mredu Komala, Kakawin Totaka;
  • tatkala nunas tirta: kidung wargasari; pupuh adri, rare kadiri
  • tatkala maprani: kidung warga sirang, kidung wargasari
  • tatkala nyineb: warga sirang.

Senin, 08 April 2019

Percikan Dharma Pengorbanan Suci (Yajna).

Percikan Dharma
Pengorbanan Suci (Yajna).


Umat se-dharma, dalam hidup ini pasti ada suatu pengorbanan suci yang harus dilakukan oleh manusia itu sendiri. Untuk itu perlu sekali dilakukan agar hidup ini menjadi lebih indah dan memberikan inspirasi untuk selalu melakukan korban suci.

Yajna adalah korban suci, yaitu yang dilandasi oleh kesucian hati, ketulusan dan tanpa pamrih. Yajna mengandung pengertian yang sangat luas, jauh lebih luas dibandingkan dengan pengertian upacara atau upakara. Yajna merupakan pusat alam semesta, diciptakan atas dasar Yajna, keiklhasan-Nya selanjutnya beliau bersabda supaya setiap manusia mengikuti jejak-Nya.

Orang yang telah melakukan yajna memperoleh pencerahan batin. Demikian pula dalam kehidupan modern, donor darah ataupun donor organ tubuhpun dapat disebut sebagai Yajna yang utama. Oleh karena itu dengan yajna yang kita lakukan niscaya semua anugrah pasti didapatkannya.

Pengorbanan untuk kebahagiaan abadi

Svar yanto napeksanta,
a dyam rohanti rodasi

yajnam ye vi vatodharam,
suvidvamso vitenire

Yajur Veda XVII. 68

Artinya
Para sarjana yang terkenal yang melaksanakan pengorbanan, mencapai kahyangan (swarga) tanpa suatu bantuan apapun. Mereka membuat jalan masuk mereka dengan mudah ke kahyangan (Swarga), yang menyeberangi bumi dan wilayah pertengahan.

Ulasan
Bahwa sesungguhnya dalam hidup ini ada sesuatu yang perlu dikorbankan yaitu apa yang kita punya tentunya, namun demikian apapun yang ķita korbankan apabila didasari dengan keikhlasan niscaya akan membuahkan hasil yang sesuai dengan pengorbanan tersebut.

Dengan pengorbanan yang tulus dan ikhlas dan tanpa pamrih pasti Hyang Widhi akan memberikan yang terindah dalam hidupnya.

oleh : Bapak Aris Widodo


Kamis, 26 Januari 2017

Hari Raya Pagerwesi

Om Swastyastu




Om Guru deva guru rupam, Guru madhya guru purvam, Guru pantara devanam, Guru deva sudha nityam.
Om Shri Guru bhyo namah svaha

ata “pagerwesi” artinya pagar dari besi. Ini merupakan simbolisasi dari suatu perlindungan yang kokoh dan kuat, karena sesuatu yang dipagari berarti sesuatu yang bernilai tinggi, agar jangan mendapat gangguan atau dirusak baik oleh diri sendiri pun oleh pihak dari luar diri.

Hari Raya Pagerwesi dilaksanakan pada hari Budha Kliwon Wuku Shinta. Hari raya ini dilaksanakan 210 hari sekali. Sama halnya dengan Galungan, Pagerwesi termasuk pula rerahinan gumi, artinya hari raya untuk semua masyarakat, baik para rohaniwan (sulinggih, pemangku) maupun umat umum (walaka).

Hari Raya Pagerwesi sering diartikan oleh umat Hindu sebagai hari untuk memagari diri yang dalam bahasa Bali disebut “magehang raga”. Nama Tuhan yang dipuja pada hari raya ini adalah Sanghyang Paramesti Guru. Sanghyang Paramesti Guru adalah nama lain dari Dewa Siwa sebagai manifestasi Tuhan untuk melimpahkan perlindungan atau proteksi agar terhindar dari hal-hal negatif, juga adalah untuk melebur segala hal yang buruk. Dalam kedudukannya sebagai Sanghyang Paramesti Guru, Beliau menjadi gurunya alam semesta terutama manusia.

Hidup tanpa guru sama dengan hidup tanpa penuntun, sehingga tanpa arah dan segala tindakan jadi ngawur ini yang disebut oleh aksara suci: “sing nawang kaje kelod kangin kauh dalem kelawan daken”.

Dalam lontar Sunarigama disebutkan “Budha Kliwon Shinta Ngaran Pagerwesi payogan Sang Hyang Para Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanggha ngawerdhiaken sarwa tumitah sarwa tumuwuh ring bhuana kabeh.”

Artinya:

Rabu Kliwon Shinta disebut Pagerwesi sebagai pemujaan Sang Hyang Paramesti Guru yang diiringi oleh Dewata Nawa Sanggha (sembilan dewa) untuk mensejahterakan segala yang lahir dan segala yang tumbuh di seluruh dunia.

Pelaksanaan upacara/upakara Pagerwesi sesungguhnya titik beratnya pada para pendeta atau rohaniawan pemimpin agama ini sesuai dengan petikan lontar Sunarigama disebutkan: “Sang Purohita ngarga apasang lingga sapakramaning ngarcana paduka Prameswara. Tengahiwengi yoga samadhi ana labaan ring Sang Panca Maha Bhuta, sewarna anut urip gelarakena ring natar sanggah”.

Artinya:

Sang Pendeta hendaknya ngarga dan mapasang lingga sebagaimana layaknya memuja Sang Hyang Parameswara (Paramesti Guru). Tengah malam melakukan yoga samadhi, ada labaan (persembahan) untuk Sang Panca Maha Bhuta, segehan (terbuat dari nasi) lima warna menurut uripnya dan dihaturkan di halaman sanggah (tempat persembahyangan).

Sebagaimana telah disebutkan dalam lontar Sunarigama; Pagerwesi yang jatuh pada Budha Kliwon Shinta merupakan hari Payogan Sang Hyang Paramesti Guru diiringi oleh Dewata Nawa Sanggha. Hal ini mengandung makna bahwa Hyang Paramesti Guru adalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai guru sejati.

Mengadakan yoga berarti Tuhan menciptakan diri-Nya sebagai guru. Dengan demikian, siapa saja yang menyucikan dirinya akan dapat mencapai kekuatan yoga dari Hyang Paramesti Guru. Kekuatan itulah yang akan dipakai memagari diri. Pagar yang paling kuat untuk melindungi diri kita adalah “ilmu” yang berasal dari guru sejati pula. Guru yang sejati adalah Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu inti dari perayaan Pagerwesi itu adalah memuja Tuhan sebagai guru yang sejati. Memuja berarti menyerahkan diri, menghormati, memohon, memuji dan memusatkan diri. 
Ini berarti kita harus menyerahkan kebodohan kita pada Tuhan agar beliau sebagai guru sejati dapat megisi kita dengan kesucian dan pengetahuan sejati.

Dalam pelaksanaannya, umat menghaturkan upakara/banten pejati, (daksina, peras, ajuman, penyeneng), dapetan, sesayut pageh urip dan prayascitta sebagai upakara penyucian, serta banten segehan seperti biasa.

Beberapa pengastawa yang umum digunakan untuk memuja Sanghyang Paramesti Guru, yakni:

1. Om Giripati maha viryam, Mahadeva pratista lingam, sarva Deva Pranayanam. Sarva Jagat Pratistanam. Om Giripati dipata ya namah.

2. Om Gurur adir anadis ca Guruh param daivatam. Guroh parataram nasti, tasmai Shri Guruve Namah svaha.

3. Om Mata guru shri jagad guruh. Mad atma sarva bhutatma, tasmai Shri Guruve Namah svaha.

4. Om Guru deva guru rupam, Guru madhya guru purvam, Guru pantara devanam, Guru deva sudha nityam.
Om Shri Guru bhyo namah svaha (sumber: Guru Sotramala)

Demikian secara singkat saya sampaikan yang berkenaan dengan Hari Pagerwesi. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

“Selamat Hari Suci Pagerwasi, Rabu Kliwon Shinta, 12 Maret 2014, Semoga atas anugerah Hyang Widhi kita memperoleh kekuatan lahir bathin (sekala-niskala), sehingga dapat dan mampu menjaga kesejatian diri”.
Om Santih Santih Santih Om
~ I W Sudarma (Jro Mangku Danu)


Selasa, 18 Agustus 2015

Penyu untuk Upacara Umat Hindu

Pemerintah Izinkan Penyu untuk Upacara Umat Hindu, Asal ...

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Bali menegaskan penggunakan hewan penyu untuk upacara keagamaan di Pulau Dewata harus mendapat rekomendasi dari Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali.

"Kalau masyarakat belum mengantongi izin dan rekomendasi dari majelis tertinggi umat hindu itu, kami tidak akan mengizinkan pemanfaatan penyu untuk sarana upacara," kata Kepala BKSDA Bali, Sumarsono di Denpasar, Rabu (12/08/2015).

Ia menjelaskan, aturan tersebut merupakan perjanjian antara BKSDA dengan PHDI mengenai pemanfaatan dan penggunaan salah satu fauna dilindungi di Nusantara tersebut.

Dalam aturan tersebut tertulis bahwa hanya diperbolehkan memakai satu ekor penyu untuk satu jenis upacara keagamaan baik tingkat besar, sedang, maupun kecil.



"Kami membatasi jumlah pemanfaatan penyu karena jumlah penyu yang ada di penangkaran dan di beberapa pusat pengembangbiakan peyu sudah semakin terbatas," kata dia.

Selain itu, pihak penyelenggaran upacara mesti mengganti uang yang dihabiskan selama proses pengembangbiakan penyu di beberapa daerah perlindungan dan pengembangbiakan fauna langka itu. "Saat ini, di Bali terdapat beberapa tempat pengembangbiakan penyu, dua di antaranya di daerah Benoa dan Serangan, Denpasar.

Lebih lanjut, aturan berupa perjanjian itu kata Sumarsono sebagai langkah antisipasi semakin berkurangnya jumlah penyu, utamanya penyu hijau yang sudah semakin langka di Bali.

Apalagi, menurutnya, saat ini banyak pihak memanfaatkan penyu menggunakan alasan untuk upacara agama, padahal, dagingnya digunakan untuk kebutuhan bisnis dan komersil.

"Daging penyu harganya cukup mahal di pasaran, jadi, banyak yang menghalalkan segala cara memanfaatkan daging penyu untuk diperjualbelikan," katanya.


sumber : http://nasional.rimanews.com

Kamis, 30 April 2015

Upakara Yadnya; Ajaran Hindu Bersifat Fleksibel

UPAKARA YADNYA HINDU
upakara bali
Upakara Yadnya
Mengenai Upakara Yadnya atau Banten ini sudah ada sorotan tajam dipertanyakan dari segi eksistensinya maupun faktor ekonominya, apakah masih relevan pada masa kehidupan sekarang ini?. Apakah tidak bisa disederhanakan karena banyak menyita waktu, tenaga dan dana ?

Dulu, para pendahulu kita dalam mengamalkan Ajaran Kitab Suci Weda memilih Upakara Yadnya atau Banten sebagai perwujudan konkrit rasa bakti itu kepada Sang Hyang Widhi. Jadi tidak heran jika dalam kehidupan kita sehari-hari diliput oleh Upakara Yadnya ini. Karena setiap Yadnya pasti ada Upacara dan setiap Upacara pasti ada Upakara Yadnya atau Banten ini. Jadi kita rupanya tidak hanya cukup hanya memuja dan memohon kepada SangHyang Widhi pada saat Puja Wali tetapi juga harus menunjukkan prilaku atau bukti tanda bakti kepada-Nya sesuai petunjuk Sastra. 

Baca Juga Apakah Hindu Tak Bisa Tanpa Ritual Banten ?



Sebenarnya Ajaran Hindu bersifat fleksibel dan elastis dalam arti ajarannya dapat dilaksanakan menurut Desa (tempat), Kala (waktu) dan Patra (keadaan). Landasannya adalah Catur Dresta yaitu Purwa Dresta (norma-norma terdahulu yang baik), Desa Dresta (uger-uger yang dibuat oleh Desa Pakraman), Loka Dresta (undang-undang atau peraturan yang dibuat oleh Pemerintah) dan Sastra Dresta yaitu ketentuan-ketentuan berdasarkan Pustaka-Pustaka yang ada atau Kitab Suci Weda. Begitu juga wujud Upakara Yadnya dari segi materi Bantennya, bisa kecil (kanistama), sedang (madyama) dan besar (uttama). Walaupun demikian masih perlu adanya Pedoman pelaksanaan mengenai Upakara Yadnya atau Banten ini menyangkut Puja Wali untuk dijadikan pegangan bersama. Hal ini perlu untuk menghindari terjadinya friksi atau perbedaan-perbedaan yang mendasar.

Tantangan dan tuntutan yang dihadapi oleh Agama Hindu tepatnya Umat Hindu bukannya dari eksternal saja tetapi juga dari dalam diri sendiri atau internal yaitu para Cendekiawan Hindu. Ada kelompok yang menghendaki agar Agama Hindu dikembalikan kepada kemurnian ajaran Kitab Suci Weda seperti halnya di India. Ada kelompok yang cendrung berpikiran rasional pragmatis dengan menggunakan pertimbangan-pertimbangan ekonomis dalam mengaplikasikan nilai-nilai Ajaran Hindu kedalam aktivitas hidup sehari-hari. Ada juga kelompok yang berpikiran tradisional yang berpegangan kepada tradisi-tradisi warisan Leluhur dengan mengikuti praktek-praktek keagamaan yang sudah ada di Bali.

Menapak kedepan menghadapi perkembangan jaman dan tantangan serta tuntutan kehidupan yang semakin sulit dan semakin majunya IPTEK dan semakin meningkatnya daya pikir atau nalar Umat Hindu membuat mereka lebih mengembangkan pemikiran rasional filosofis dimana ini mau tidak mau nantinya akan secara pelan-pelan mendesak dogmatisme.

Jadi Upakara Yadnya atau Banten ini karena menjadi ciri khas suatu Yadnya yang mempunyai nilai magis dan daya cipta spiritual yang tinggi maka Upakara Yadnya atau Banten ini tetap harus ada dan bisa disederhanakan dengan cara mengambil tingkat sederhana (Kanistama) sesuai ketentuan Sastra Agama.



Hal ini sesuai dengan himbauan dari Danghyang Dwijendra atau Bhatara Sakti Wau Rawuh yang diunggah dalam Pustaka Eka Dasa Rudra dimana beliau mengatakan : "Bahwa jaman akan berubah maka perlu ada perubahan atau pembaharuan dalam ritual agama. Perubahan dan pembaharuan ini bukannya merusak agama dan ajarannya tetapi justru untuk menyelaraskan cara berpikir agama dengan budaya manusia yang sedang berkembang. ". Ini dilakukan agar Sradha atau keimanan Hindu tidak kandas dalam perjalanan sejarah. Yang penting menurut beliau dalam perubahan dan pembaharuan itu nilai dan Sradha atau keimanan Hindu tidak berubah. Dikutip dari makalah Ida Pedanda Nabe Gde Putra Sidemen. (RANBB)

Minggu, 25 Januari 2015

16 ( Enam Belas ) Upacara Manusia

Orang Hindu sudah diupacarai sejak sebelum lahir, ketika masih dalam kandungan. 

Ed. Visvanathan, mencatat 16 (enam belas) upacara, atau samkara, sebagai berikut : 
1. Garbadhana - Upacara untuk menjamin pembentukan janin. 
2. Pumsavana - Upacara untuk melindungi janin dan untuk mendapat anak laki-laki. 
3. Simantonayanan - Upacara dilakukan pada bulan terakhir kehamilan untuk pembentukan mental yang benar pada bayi.
 4. Jatakarna - Upacara kelahiran termasuk persiapan peta astrologi bagi si anak. 
5. Namakarana - Upacara pemberian nama. Upacara ini dilakukan di rumah ketika bayi berusia sebelas aatau empat belas hari. 
6. Nishkramana - Upacara membawa anak ke luar rumah untuk pertama kali. 
7. Annaprasana - Upacara pertama kali memberi makan nasi pada bayi, biasanya dilakukan di pura. 
8. Chudakarana - Upacara potong rambut pertama. 
9. Karnavedha - Upacara pembolongan telinga untuk diberi anting-anting emas. 
10. Vidyarambha - Upacara permulaan anak belajar huruf. 
11. Upanayana - Upacara benang suci dengan mana seorang anak menjadi dwijati, lahir kedua kalinya. Upacara ini dilakukan ketika anak berumur sembilan atau lima belas tahun. 
12. Vedarambha - Upacara permulaan belajar Veda. 
13. Keshenta - Upacara pencukuran rambut pertama (berbeda dengan no 8, dimana rambut hanya dipotong ujungnya) 
14. Samavartana - Upacara pulang setelah selesai belajar Veda. 
15. Viweha - Upacara perkawinan 
16. Anthyesti - Upacara kematian.

Bagaimana dengan di Bali ? ada 13 upacara manusa yadnya, dan lima upacara pitra yadnya, sebagai berikut : 
1. Pagedong-gedongan - Enam bulan setelah kehamilan jadi. 
2. Upacara pada waktu lahir. 
3. Kepus pungsed - Upacara pada waktu putusnya tali puser. 
4. Nglepas Awon - Upacara dua belas hari setelah kelahiran. (Biasanya diikuti dengan nunas bangket untuk menanyakan siapa yang menjelma pada bayi itu) 
5. Tutug Kambuhan - Upacara empat puluh dua hari setelah kelahiran. 
6. Telubulanan - Upacara tiga bulan Bali (105 hari) setelah kelahiran. 
7. Otonan - Upacara enam bulan Bali (210 hari) setelah kelahiran. 
8. Ngempugin - Upacara ketika gigi dewasa mulai tumbuh. 
9. Meketus - Upacara ketika gigi susu terakhir tanggal. 
10. Munggah Daha Teruna atau Rajasewala - Upacara ketika memasuki usia remaja, pada waktu mulai haid pada perempuan dan mimpi basah pada laki-laki. 
11. Mepandes - Upacara potong gigi. 
12. Pawiwahan - Upacara perkawinan (Sebetulnya terdiri dari tiga bagian; mebiakaon, mesakapan, mepejati) 
13. Pawintenan - Pembersihan untuk mulai belajar. 
14. Ngaben 
15. Ngrorasin - Upacara dua belas hari setelah ngaben 
16. Nyekah 
17. Memukur 
18. Maligia

sumber blog : http://rare-angon.blogspot.com

Sabtu, 19 Oktober 2013

Pura Giri Bhuana Manokwari Papua

Pura Giri Bhuana Manokwari Papua terletak di jalan Brawijaya, Manokwari, Papua Barat. Umat Hindu di Manokwari dalam melaksanakan kegiatan keagamaan untuk meningkatkan Sradha dan Bakthi nya kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa banyak dipusatkan di Pura Giri Bhuana ini. Seperti sekarang ini dalam menyambut perayaan hari raya Galungan dan Kuningan, umat Hindu sudah bersiap-siap,  mejejahitan, membuat penjor dan Yadnya lainnya.

Pura Giri Bhuana sebagai tempat yang sangat strategis bagi umat Hindu untuk bertemu, berkumpul dan bertukar pengalaman serta informasi yang bermanfaat. Melaksanakan kegiatan kerohanian seperti belajar mekidung, matembang, belajar filsafat dan diskusi agama. Dari segala lapisan masyarakat terutama umat Hindu yang merantau di Manokwari ini selalu berkumpul, baik untuk acara pujawali Pura Giri Bhuana maupun dalam meningkatkan persatuan umat, segalak segilik selunglung sabayan taka menyama braya ring perantauan.

Umat Hindu semakin meningkat baik secara kuantitas maupun kualitas di Manokwari ini, dimana Parisada Hindu Dharma sudah terbentuk lengkap dengan susunan pengurusnya yang selalu bekerja meningkatkan dalam pelayanan umat Hindu di ibukota Papua Barat ini.  Warga Hindu di Manokwari berasal dari latar belakang pekerjaan berbeda. Selain banyak sebagai polisi, PNS, juga ada petani yang menempati areal kompleks trasmigrasi di daerah Wasege, SP 3 Perapi dan Desa Mantegi.

Pura Giri Bhuawa merupakan pusat kegiatan keagamaan hari besar seperti hari raya Nyepi juga dipusatkan di pura Giri Bhuana, selain rerahinan Purnama-Tilem, Kajeng Kliwon, Pagerwesi, Saraswati maupun Tumpek. (RANBB)

-->

Rabu, 28 Agustus 2013

Kenapa Hindu Weda Mengajarkan Kasih Tapi Umat Hindu Tidak Menjalankannya

Berikut admin sampaikan bahan diskusi yang dikirimkan oleh Sahabat Ravi dengan judul Pesata Adat, artikel nya berupa pertanyaan sebagai berikut :

Om Swastiastu, Saya seorang Hindu. Saya keturunan India. Saya ingin bertanya, kenapa Hindu Weda mengajarkan kasih tapi umat Hindu tidak menjalankannya, pada sebagian festival adat digunakan babi, padahal babi tidak dimakan dikeluarga saya, dan pemotongan kambing. Saya rasa kita perlu berbenah diri untuk menerapkan vegetarian, karena hanya itu kita mengorbankan mahluk hidup, persembahan apapun tetap diterima Tuhan jika dengan tulus dan ikhlas, sekian saran saya, maaf jika ada salah kata saya jika kurang saya tau mohon penjelasannya. (waktu 28-082013. 09.21)

Admin mencoba berbagi pemikiran yang sedikit berbeda dalam cara memandang Yadnya. Yadnya yang secara umum di dalam agama Hindu sudah sangat banyak dibahas, baik dalam buku-buku agama Hindu, situs dunia maya dan diskusi-diskusi agama lainnya.

Admin sangat mengharapkan adanya diskusi agar terjadi pertukaran pemikiran walaupun pada intinya perbedaan pemahaman dan penerapan Veda sudah memiliki dasar pelaksanaannya yang dikembalikan pada jiwa dan ajaran kita masing-masing. Baca artikel kesepakatan bersama umat Hindu klik disini.

Berikut pendapat admin tentang hal diatas.
--> Yadnya sebagai jalan bhakti umat Hindu utamanya umat Hindu Bali yang menjalankan Yadnya dengan kurban binatang. Umat Hindu Bali mencoba untuk menyatakan rasa bakti yang tulus ini bersama-sama dengan ciptaan-Nya yang lain. Umat manusia dengan kecerdasan pemikiran yang dianugerahkan oleh Nya, mampu menyatakan dengan tegas bahwa binatang dan tumbuhan merupakan ciptaan-Nya pula, sehingga memiliki hak dan kewajiban yang sama terhadap Tuhan. Manusia, binatang dan  tumbuhan mengikuti hukum Karma, lahir, hidup dan mati, demikian pula dalam pembentukan Karma itu sendiri, dapat berupa Karma baik maupun Karma buruk.
Sehingga Hukum Karma bersifat universal terhadap semua ciptaan-Nya. Manusia dengan kelebihan pemikiran menyadari hal ini, bahwa binatang dan tumbuhan harus diberikan kesempatan untuk berbuat baik, meningkatkan Karma baik mereka, agar dikemudian hari dapat hidup sebagai manusia. Pernah pula kita membaca artikel sang penolong adalah seekor binatang, atapun tumbuhan ini rela hidup untuk kesejahteraan manusia, itu semua adalah Karma baik.
Baca artikel Sekali menjadi manusia apakah selalu menjadi manusia ? Klik disini.

Seperti halnya binatang dan tumbuhan dalam menjalani hukum Karma lahir hidup dan mati, tetap membutuhkan pengorbanan. Tumbuhan sebagai ciptaan-Nya dirangkul oleh manusia untuk menyatakan rasa baktinya kepada Tuhan melalui Yadnya ini yang berupa bahan-bahan Yadnya, seperti daun, buah, biji-bijian, batang, umbi, ranting dan lain sebagainya. Demikian pula binatang yang selalu aktif bersama dalam Yadnya ini, seperti babi, ayam, itik, anjing, dan lain sebagainya. Dengan partisapasi mereka (binatang dan tumbuhan) dan manusia menjadi satu kesatuan menyatakan rasa syukur kepada sang Pencipta dan menciptakan karma baik akan diterima jiwa mereka masing-masing.

Pernah kita mendengar cerita pangeran kodok, seekor binatang yang berubah menjadi pangeran tampan setelah dicium oleh sang putri, demikian pula dengan binatang dalam Yadnya. Ketulusan hati dan kasih cinta dari manusia, kepasrahan binatang dan kesetiaan tumbuhan dalam ber-Yadnya menciptakan kebahagiaan bersama. Pengorbanan mereka sungguh mulia, terdapat doa yang tulus dari manusia sebelum mereka dikorbankan, doa mengantarkan sang jiwa pada-Nya.

Demikian kiranya jawaban sederhana yang admin coba sampaikan, pengorbanan binatang dan tumbuhan bukan semata-mata untuk kesenangan dan keserakahan manusia, ada doa yang tulus agar mereka bisa hidup berbahagia. Admin sangat berharap dapat masukan dari sahabat-sahabat Hindu dari segala jenis aliran, sekte dan dari tingkat keimanan yang jauh lebih menguasai, terima kasih. (RANBB)

Senin, 12 Agustus 2013

Istilah Kebangkitan Hindu Membahayakan ?

hindu banten
Mundakopanisad
Semangat Hindu. Istilah Kebangkitan Hindu bagi saya sebagai orang Hindu sangat memberikan semangat, namun dilain pihak menyebabkan "kegerahan". Kebangkitan Hindu banyak dimaknai sebagai Hindunisasi masyarakat kita, atau meng-Hindu-kan umat yang ada atau mungkin ada yang lebih keras mengartikan pembalasan Hindu. Marilah berfikir jernih.

Banyak pihak dengan banyak penilaian tentunya menyebabkan arti Kebangkitan Hindu sangat beraneka ragam, bisa menyebabkan kemajuan dan bisa pula menyebabkan ketakutan apabila salah dalam mengartikan Kebangkitan Hindu. Apakah Hindu itu selama ini tertidur sehingga perlu dibangkitkan ? Lalu siapakah yang berhak memberikan penjelasan dan pemberian makna yang tepat untuk istilah Kebangkitan Hindu ?


Dari beberapa buku-buku tentang Hindu dewasa ini, menurut saya istilah Kebangkitan Hindu lebih bersifat intern umat Hindu, sama sekali tidak ada hubungannya dengan umat lain (ekstern umat). Kebangkitan Hindu sebagai instrospeksi umat  dalam beragama Hindu, karena diskusi umat tentang agama Hindu dan ajaran-ajarannya sangat terbuka. Diskusi tentang Weda sebagai sumber dari segala sumber ajaran Hindu sangat terbuka. Weda memberikan kesempatan yang sama pada setiap umat Hindu untuk mencari kebenaran yang hakiki dari ajaran Weda. Baik dari Tattwa yang ada dalam Weda yang harus semakin dipahami oleh umat Hindu. Penguasaan dan pendalaman Susila yang diajarkan Weda untuk kehidupan modern ini, atapun tentang Upakara (Yadnya) yang harus diperdalam pemahamannya oleh umat Hindu. inilah inti Kebangkitan Hindu. Weda bukan doktrin yang menutup semua lubang diskusi dan nalar manusia dalam mencari kebahagiaan. Mungkin banyak yang tidak dapat berdiskusi dengan terbuka karena ajarannya sudah berupa doktrin, sehingga "menyebrang" untuk menyalurkan bakat diskusinya.

Kebangkitan Hindu bersifat intern saja, meningkatkan pemahaman umat akan agama yang dianutnya. Ajaran suci yang pertama ada dimuka bumi ini, dapat diyakini dari buku-buku filsafat Hindu karya para ilmuwan, cendikiawan dan filsof-filsof dunia. Umat Hindu harus bangkit dan memahami ajaran-ajaran Hindu nya melalui membaca dan berdiskusi. Metode ceramah (seperti jaman dulu yang belum ada buku, kita hanya bisa mendengarkan dan mendengarkan, seberapa besar yang dapat kita pahami dari mendengar dan menderngar itu). saatnya Hindu bangkit dengan banyak membaca , metode yang sangat baik dalam memahami ajaran agama kita. Jaman telah berubah, metodepun sudah saatnya berubah. Dahulu sang Guru duduk dan memberikan ceramah sementara sang murid duduk mendengarkan. Jaman ada kesenian seperti wayang, drama, umat mendapatkan ajaran dengan menonton dan mendengarkan wejangan sang panutan yang berasal dari ajaran-ajaran Weda. Jaman kembali berganti dengan terbitnya buku-buku agama, saatnya metode mendengarkan dengan duduk manis harus diseimbangkan dengan membaca buku-buku agama Hindu.
Inilah Kebangkitan Hindu sebenarnya,kebangkitan akan pemahaman ajaran Hindu melalui membaca bukan mendengarkan dongeng, legenda ataupun mendengarkan ceramah terus menerus.  Nanusia bukan mahluk super dan tak terbatas, manusia butuh pendamping mahluk lain sehingga disebut mahluk sosial, manusia butuh tantangan agar hormon adrenalin diproduksi sehingga membentuk kekebalan mental.

Untuk umat Hindu, mari bangkitkan agama Hindu melalui pemahaman yang mendalam ajaran-ajaran suci Weda dalam kehidupan sehari-hari, dari 4 jalan yang telah dibukakan-Nya, Bhakti, Karma, Jnana dan Yoga Marga, marilah tekuni salah satunya agar kita dapat menemukan spiritualitas dan mencapai moksha.
inilah opini saya tentang Kebangkitan Hindu, bagaimana dengan Anda.

(RANBB)

Sabtu, 10 Agustus 2013

Hindu Sebagai Pembawa Kedamaian di Ketiga Alam

Umat Hindu Dharma.

Pada dasarnya semua agama menginginkan kedamaian, tetapi pada kenyataannya kedamaian yang sesungguhnya dapat diperoleh dalam agama Hindu.
Bagaimana dapat dikatakan kedamaian agama yang sesungguhnya ? Jika mengatakan damai kepada tuhan saja itu belum cukup, realitasnya kita harus menjalankan kedamaian terhadap ciptaan Tuhan itu sendiri terutama yang memiliki jiwa seperti sesama manusia, hewan, tumbuhan bahkan roh leluhur dan roh mahluk lainnya.


Orang Hindu menyebarkan kedamaian tidak hanya bagi umat Hindu saja tetapi untuk semua umat manusia di bumi bahkan sampai ketiga lapisan loka. Ketiga lapisan loka itu yaitu alam manusia itu sendiri (Bhur), alam semesta dengan segala isinya (bhuwah) dan kedamaian akhirat (Svah). Doa atau salam kedamaian tersebut dibuktikan dengan mantra :

"Om, Santih, Santih, Santih, Om "
Makna dari mantra kedamaian tersebut yaitu : Om adalah Tuhan, Om adalah awal dan akhir dari segala yang ada dan yang akan ada, Om adalah suara Tuhan yang kekal, Om menggerakkan prana atau kekuatan kosmik yang vital. Santih artinya "damai" yang diulang 3 kali yang secara singkat ditujukan untuk kedamaian di hati, damai di dunia, dan damai di akhirat.

Mantra kedamaian tersebut sangat sering dipakai oleh umat Hindu, biasanya pada akhir mantra inti, pada upacara keagamaan, acara resmi maupun dalam kehidupan sehari-hari karena keampuhan mantra tersebut sebagai pembawa kedamaian.

Di samping dengan mantra, umat Hindu juga menyebarkan kedamaian dengan melakukan upacara kurban (yadnya) untuk persembahan kepada roh terutama kepada roh mahluk halus, bhuta kala, iblis dan sejenisnya yang ada disekitar manusia maupun alam gaib. (Anda tidak percaya gaib ? Tuhan adalah Gaib berarti anda tidak percaya Tuhan- red)

Pada dasarnya orang-orang Hindu tidak membenci keberadaan mereka justru bisa saling menghargai. Rasa menghargai umat Hindu yang diberikan kepada mereka dapat dibuktikan dengan persembahan kurban (yajna) yang biasanya dengan upacara "Bhuta Yadnya".

Hindu tetap menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Apalah artinya menyembah Tuhan Yang Maha Esa jika membenci keberadaan mahluk lain ciptaan-Nya. Manusia yang membenci keberadaan mahluk lain di bumi ini tak akan pernah ada kedamaian di hatinya.

Buku Kebangkitan Hindu, Dalam Kritik, Himpitan, Kesadaran, Kedamaian dan Kebahagiaan Rohani, oleh Sargede. (RANBB)

CHANNEL YOUTUBE SAYA - MOHON DI SUBSCRIBE

Cari Artikel di Blog ini

Berita Terkait Semangat Hindu

Artikel Agama Hindu

108 Mutiara Veda 3 kerangka agama hindu advaita visistadviata dvaita Agama Hindu Dharma agama islam Ajaran Hindu aksara suci om alien menurut hindu Apa yang dimaksud Cuntaka Apa yang dimaksud dengan Japa Apa yang dimaksud dengan Puja arcanam nyasa aris widodo artikel hindu arya dharma Arya Wedakarna Asta Brata Atharvaveda Atman avatara sloka babad Badan Penyiaran Hindu bagian catur weda bahasa jawa kuno bahasa kawi bahasa sanskerta Banggalah Menjadi Hindu banten hindu bali Belajar Hindu BELAJAR ISTILAH AGAMA HINDU bhagavad gita Bhagawadgita bhagawan bhuta yadnya Bimas Hindu BPH Banten brahma wisnu siwa Brahman Atman Aikyam brahmana ksatriya wesia sudra budaya bali budha kliwon sinta Bukan Heroisme buku hindu terpopuler Canakhya Nitisastra cara sembahyang hindu catur asrama Catur Brata Catur Cuntakantaka Catur Purusha Artha Catur Purusharta catur veda Catur Warna Catur Weda Cendekiawan Hindu Cinta Kasih Dalam Perspektif Hindu Dana Punia Deva adalah sinar suci Brahman Deva Brahma Deva Indera dewa dewi hindu dewa yadnya dewata nawa sanga dewi kata-kata dewi saraswati dharma artha kama moksa Dharma Santi dharma wacana Doa Anak Hindu donasi buku hindu epos mahabharata ramayana filosofi pohon bambu filsafat agama hindu ganesha Gayatri Sebagai Mantra Yoga Hari Raya Galungan Hari Raya Kuningan Hari Raya Nyepi Hari Raya Pagerwesi Hari Raya Saraswati Hari Raya Siwaratri HINDU adalah ARYA DHARMA HINDU ADALAH SANATHANA DHARMA HINDU ADALAH VAIDHIKA DHARMA Hindu Agama Terbesar di Dunia Hindu Banten Hindu beribadah di Pura Hindu Festival Hindu Indonesia hindu nusantara Hindu Tengger Hinduism Facts Hinduism the Greatest Religion in the Word Hukum Karma Ida Pedanda sakti isi catur weda Jadilah Manusia Setia Japa dan Mantram Jiwa jual buku hindu kakawin Kamasutra Keagungan Aksara Suci OM Kekawin Lubdhaka kepemimpinan jawa kuna Kerajaan Hindu Keruntuhan Agama Hindu kesadaran diri kidung dewa yadnya Kitab Suci Weda lontar Lontar Kala Maya Tattwa Maharsi Atri Maharsi Bharadvaja Maharsi Gritsamada Maharsi Kanva Maharsi Vamadeva Maharsi Vasistha Maharsi Visvamitra manawa dharma sastra Mantra Mantra Yoga manusa yadnya Meditasi Matahari Terbit Mengapa Kita Beragama menghafal sloka Mimbar Agama Hindu Moksha Motivasi Hindu Mpu Jayaprema nakbalibelog Naskah Dialog Nuur Tirtha Om or Aum one single family opini hindu moderat Panca Sradha panca yadnya Panca Yajna pandita Panglong 14 Tilem Kepitu parahyangan agung jagatkartta paras paros segilik seguluk Pasraman Pasupati Pembagian Kitab Suci Veda Pemuda Hindu Indonesia pendidikan hindu pengertian catur weda Pengertian Cuntaka penyuluh agama hindu Peradah percikan dharma Percikan Dharma Dewa Yajna phdi pinandita Pitra Yadnya Ngaben Pitrapuja potong gigi Principle Beliefs of Hinduism Proud To Be Hindu Puja dan Prathana Pujawali purana purnama tilem Purwaning Tilem Kapitu Radio online Bali rare angon nak bali belog Reinkarnasi Rgveda ritual hindu Roh Rsi yadnya sabuh mas sad darsana sad guru Samaveda sanatana dharma sang hyang pramesti guru Sang Kala Amangkurat Sang Kala Dungulan Sang Kala Galungan Sang Kala Tiga sapta rsi Sapta Timira Sarassamuscaya Sarassamuscaya Sloka sattvam rajah tamah sejarah agama hindu Sekta Hindu Semangat Hindu seni budaya hindu Sex and Hinduism siwa budha waesnawa siwa ratri Sloka sloka bhagawad gita sloka bhatara sloka Rgveda sloka yayurveda Slokantara Sloka Spiritual Bersifat Misterius spiritualitas hindu spma ribek sradha dan bhakti sri rama krishna paramahansa Sri Sathya Sai Baba Sri Svami Sivananda sumpah dalam perkara tabuh gesuri tabuh kreasi baru tabuh telu lelambatan tantri kamandaka tat twam asi tattwa susila upakara Tempat Suci Hindu tiga hubungan harmonis tri hita karana Tri kaya parisudha tri kerangka agama hindu tri mala tri pramana Triji Ratna Permata tujuan perkawinan tujuh penerima wahyu tumimbal lahir upacara hindu upacara menek deha Upanisad upaweda Utsawa Dharma Gita vaidhika dharma Vasudhaiva Kutumbakam VEDA ADALAH ILMU PENGETAHUAN SUCI vedangga Vijaya Dashami Wasudewa Kutumbhakam widhi tatwa wija kasawur wiwaha agama hindu Yajna dan Sraddha yajna dan sradha Yayurveda Yoga Kundalini