OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM

PRAKATA

Selamat Datang

Semangat Hindu merupakan blog bersama umat Hindu untuk berbagi berita Hindu dan cerita singkat. Informasi kegiatan umat Hindu ini akan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan.
Semangat Hindu semangat kita bersama.

Bersama Semangat Hindu kita berbagi berita dan cerita, info kegiatan, bakti sosial dan kepedulian, serta kegiatan keagamaan seperti ; pujawali, Kasadha, Kaharingan, Nyepi, Upacara Tiwah, Ngaben, Vijaya Dhasami dan lain sebagainya.

Marilah Berbagi Berita, Cerita, Informasi, Artikel Singkat. Bagi yang mempunyai Web/Blog, dengan tautan URL maka dapat meningkatkan SEO Web/ blog Anda.

Terima Kasih
Admin

RANBB

---#### Mohon Klik Share untuk mendukung blog ini ####---

Tampilkan postingan dengan label Agama Hindu Dharma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama Hindu Dharma. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 April 2025

Dharma Wacana : Filosofi Pohon Bambu

Filosofi Pohon Bambu

 

Om Swastiastu;

Om Anobhadrah krtavoyanthu visvataha ; semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru

 

Pinandita Lanang Istri yang sudah disucikan yang saya hormati

Yang saya hormati; Sesepuh dan Penasehat Banjar

Yang saya hormati; Ketua dan Pengurus Banjar Ciledug

Yang saya hormati; ketua dan Pengurus Tempek se Banjar Ciledug

Dan Umat Sedharma yang berbahagia.

 

Pada hari ini saya ……………….. akan membawakan Dharma Wacana yang berjudul Filosofi Pohon Bambu.

 

Pujastuti angayubagia kami haturkan kehadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa/Sesuhunan sane melinggih ring Pura Dharma Sidhi, pada hari  ini kita dapat melakukan persembahyangan bersama, untuk memohon keselamatan, kesehatan, kesuksesan dan kebahagiaan.

 

Bapak-Ibu Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Pohon bambu tidak akan menunjukkan pertumbuhan berarti selama 5 tahun pertama. Walaupun setiap hari disiram dan dipupuk, tumbuhnya hanya beberapa puluh centimeter saja. Namun setelah 5 tahun kemudian, pertumbuhan pohon bambu sangat dahsyat dan ukurannya tidak lagi centimeter melainkan meter.

 

Sebetulnya apa yang terjadi pada sebuah pohon bambu ?

 

Ternyata, selama 5 tahun pertama, ia mengalami pertumbuhan dahsyat pada akar, dan bukan pada batang. Pohon bambu sedang mempersiapkan  pondasi yang sangat kuat, agar ia bisa menopang ketinggian yang berpuluh-puluh meter kelak kemudian hari.

 

*Moral of The story*

 

Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Jika kita mengalami suatu hambatan dan kegagalan, bukan berarti kita ridak mengalami perkembangan, justru kita sedang mengalami pertumbuhan yang luar biasa didalam diri kita. Ketika kita lelah dan hampir menyerah dalam menghadapi kerasnya kehidupan, jangan putus harapan.

 

“The hardest part of a rocket to reach orbit is to get through the earth’s gravity”. “Bagian terberat agar sebuah roket mencapai orbit adalah saat melalui gravitasi bumi”.

 

Jika kita perhatikan, bagian peralatan pendukung terbesar yang dibawa oleh sebuah roket adalah jet pendorong untuk melewati atmosphere dan gravitasi bumi. Setelah roket melewati atmosphere, jet pendorong akan dilepas dan roket akan terbang dengan bahan bakar minimum pada ruang angkasa tanpa bobot, melayang ringan dan tanpa usaha keras.

 

Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Demikian pula dengan manusia, bagian terberat dari sebuah kesuksesan adalah disaat awal seseorang Memulai Usaha dari sebuah perjuangan. Sehala sesuatu terasa begitu berat dan Penuh Tekanan.

 

Namun bila ia dapat melewati batas tertentu, sesungguhnya seseorang dapat merasakan segala kemudahan dan kebebasan dari tekanan dan beban. Namun sayangnya, banyak orang yang Menyerah disaat tekanan dan beban dirasakan terlalu berat, bagai sebuah roket yang gagal menembus atmosphere.

 

Bukan hanya berkata: “Kalau hidup sekedar hidup, babi dihutan juga hidup. Kalau kerja sekedar kerja, kera juga bekerja”.

 

Ketika pohon bambu ditiup angin kencang, dia akan merunduk. Setelah angin berlalu, dia akan tegak kembali.

Seperti perjalanan hidup seorang manusia, tak lepas dari cobaan dan rintangan.

 

Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Jadilah seperti pohon bambu! Fleksibilitas pohon bambu mengajarkan kita sikap hidup yang berpijak pada keteguhan hati dalam menjalani hidup, walaupun badai dan topan menerpa.

 

Tidak ada kata menyerah untuk terus tumbuh, tidak ada alasan untuk terpendam dalam keterbatasan, karena bagaimanapun pertumbuhan demi pertumbuhan harus diawali dari kemampuan untuk mempertahankan diri dalam kondisi yang paling sulit sekalipun.

 

Pastikan dalam tahun-tahun mendatang, hidup kita akan Menjulang Tinggi dan menjadi Pemberi Berkah Bagi Sesama, seperti halnya pohon Bambu.

 

Demikian kami sampaikan, Dharma Wacana Filosofi Pohon Bambu ini ini, atas segala perhatiannya diucapkan terimakasih, Semoga apa yang kami sampaikan, dapat bermanfaat.

 

Akhir kata, kami sampaikan Parama Shanti,

Om Santih, Santih, Samtih, Om 

Selasa, 16 Juli 2024

BELAJAR ISTILAH AGAMA HINDU

BELAJAR ISTILAH AGAMA HINDU

Asta Aiswarya delapan sifat Tuhan

Awatara penjelmaan Tuhan  ketika  alam  semesta terancam  kehancuran

Bhagavadgita nyanyian Tuhan (pancama veda)

Bhakti menghormat, tunduk, melayani dengan tulus ikhlas

Bajra genta  yang dipakai untuk menimlbukan bunyi dalam upacara yajña

Bramavidya ilmu ketuhanan hindu

Bhahuda pandita  penasihat  raja

Cetik racun untuk membunuh orang lain yang dikirim secara gaib dari jarak jauh

Cakra senjata sakti milik krisna yang  bisa kembali sendiri setelah melukai usuhnya. senjata ini bisa digerakkan dengan pikiran

Guru Lagu irama panjang/intonasi pengucapan

Itihasa bagian daripada veda berisi cerita kepahlawanan

Jadul akronim dari zaman dulu untuk mengungkapkan hal yang dianggap sudah kuno

Karmaphala hukum sebab akibat

Kirtanam menyebutkan nama suci Tuhan  secara berulang-ulang

Konversi mengubah dalam hal ini mengubah agama yang dipeluk sebelumnya

Loka Palasraya melayani umat dengan cara mengantarkan upacara

Mahabharata  cerita tentang keluarga pendawa dan kurawa

Mantra wahyu Tuhan, lagu pujian

Monoteisme paham tentang satu Tuhan

Narayana gelar Sang Hyang Widhi

Neraka Loka alam neraka

Orientalis  mereka yang memberikan kajian tentang masyarakat timur

Panca Gita lima jenis suara yang wajib ada dalam upacara agama

Pandita sulinggih dwijati

Pinandita pemangku ekajati

Politeisme paham tentang banyak Tuhan

Purana cerita yang mengandung ajaran kebenaran

Rajasika yajña upacara yajña dengan motivasi untuk memamerkan kekayaan dan kekuasaan

Ramayana cerita tentang perjalanan  rama dewa

Reinkarnasi menjelma/terlahir kembali

Sapta Rsi tujuh maharsi penerima  wahyu

Sapta Timira tujuh kegelapan penyebab kesombongan/kemabukan

Sat Atatayi  enam  cara melakukan pembunuhan secara kejam

Sattwika yajña yajña yang dilakukan secara benar

Sloka lagu pujian berbahasa jawa kuno

Surga Loka alam surga

Surya Sevana puja pemujaan kepada Dewa Surya

Tamasika yajña  yajña  dengan motivasi untuk mendapat untung

Tri Rnam tiga jenis hutang umat  manusia  kepada, Tuhan, orang tua, dan guru

Tri Hita Karana tiga penyebab kebahagiaan

Veda kitab suci agama hindu

Veda Vakya ucapan  veda atau kata mutiara yajña korban suci tanpa pamrih kepada Tuhan

Yazamana mereka yang menyelenggarakan upacara yajña

 

Minggu, 30 Juni 2024

Keruntuhan Agama Hindu di Indonesia

Keruntuhan Agama Hindu di Indonesia

Tidak adanya pergantian pemimpin yang baik, sehingga pemimpin berikutnya tidak mampu menjalankan tugas yang diperintahkan, sering terjadinya kecemburuan antar saudara sehingga memunculkan perang saudara yang menghabiskan banyak biayan dan pikiran akibatnya perekonomian kerajaan dan masayrakat menderita, melemahnya penataan agama Hindu karena kerajaan terlalu sibuk menghadapi peperangan, masuknya agama-agama baru ke Indonesia saat terjadi perang saudara hal ini memudahkan agama-agama baru mempengaruhi untuk beralih agama.PENGALAMAN INI SEMESTINYA JADI GURU BAGI KITA SAAT INI.

Agama Hindu berkembang di Indonesia, sejak awal abad ke-2 Masehi dengan berdirinya kerajaan Salakanagara di Jawa Barat, kemudian di Kalimantan Timur abad ke-4 Masehi. Kerajaan yang bernuansa Hindu adalah kerajaan Kutai. Pada masa kerajaan Kutai ditemukan tujuh buah Yupa, raja yang memerintah di Kutai adalah Kudungga, Aswawarman, dan Mulawarman. Di sini agama Hindu telah mengagungkan Dewa Shiwa yang dilaksanakan di lapangan Waprakeswara. Pada abad ke-4 berdiri kerajaan Tarumanegara sebagai rajanya adalah Purnawarman. Peninggalan kerajaan Tarumanegara, antara lain: Prasasti Ciaruteun, Tugu, Kebon Kopi, Pasir Awi, Muara Ciateun, Lebak, dan Jambu.

Setelah Jawa Barat, agama Hindu menyebar ke Jawa Tengah pada abad ke-7. Di sini ditemukan prasasti Tuk Mas bergambar atribut-atribut Dewa Tri Murti. Kemudian penyebaran agama Hindu memasuki Jawa Timur pada abad ke-8. Hal ini ditunjukkan dengan ditemukannya prasasti Dinoyo. Selain itu, terdapat juga peninggalan-peninggalan dalam bentuk karya sastra, seperti: Kitab Bharata Yudha, Sutasoma, Arjuna Wiwaha. Di Jawa Timur, agama Hindu mengalami perkembangan yang sangat pesat di bawah kerajaan Majapahit dengan rajanya Prabhu Hayam Wuruk dan Mahapatihnya Gajah Mada.

Pada abad ke-8, agama Hindu berkembang terus ke arah timur sehingga tiba di Pulau Dewata (Bali). Bukti yang menunjukkan Hindu berkembang di Bali ditemukan prasasti Blanjong, kemudian di Bali agama Hindu berkembang dan terus di tata sehingga tetap bertahan sampai sekarang

Perkembangan agama Hindu mengalami kejayaan pada masa kerajaan Majapahit. Kerajaan Majapahit merupakan kerajaan terbesar dan termegah yang pernah ada di Indonesia. Kerajaan Majapahit berdiri pada abad ke-12 atau 1200 masehi, tepatnya tahun 1293 masehi atau 1215 saka. Pada masa kepemimpinan Prabu Rajasanegara dan Mahapatih Gajah Mada, kerajaan Majapahit mengalami puncak kejayaannya.

Agama Hindu mulai mengalami kemunduran sejak runtuhnya kerajaan Majapahit. Keruntuhan agama Hindu di Indonesia karena berbagai faktor, diantaranya faktor politik, ekonomi, agama, dan kaderisasi.

 

Jumat, 21 Juni 2024

Cinta Kasih Dalam Perspektif Hindu

Cinta Kasih Dalam Perspektif Hindu

Cinta Kasih Dalam Perspektif Hindu

 

Om Swastiastu;

Pinandita Lanang Istri yang sudah disucikan yang saya hormati

Yang saya hormati; Sesepuh dan Penasehat Banjar

Yang saya hormati; Ketua dan Pengurus Banjar Ciledug

Yang saya hormati; ketua dan Pengurus Tempek se Banjar Ciledug

Dan Umat Sedharma yang berbahagia.

 

Pada hari ini saya ……………….. akan membawakan Dharma Wacana yang berjudul Cinta Kasih Dalam Perspektif Hindu.

 

Sebelumnya saya juga menghaturkan rasa puja dan puji syukur kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa, Sesuhunan Yang Melinggih di Pura Dharma Sidhi karena atas waranugraha-Nya lah saya dan kita semua dapat hadir dalam persembahyangan ini dalam keadaan sehat walafiat.

 

Bapak-Ibu Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Sudah menjadi kata yang terpadu antara cinta dan kasih. Tentu makna kasih lebih dalam dari pada cinta. Dalam mengasihi sudah terkandung makna mencintai.

 

Cinta adalah perasaan pada kesenangan, kesetiaan, kepuasan terhadap suatu obyek. Sedangkan kasih adalah perasaan cinta yang tulus lascarya terhadap suatu obyek.

 

Kenapa dalam mengekspresikan sikap ini selalu digunakan gabungan kata cinta dan kasih? Pertanyaan ini menjadi menarik ketika seseorang baru sampai sebatas cinta. Lalu apa yang menjadi kebutuhan yang lebih tinggi lagi dari cinta? Dapat dipastikan jawabannya adalah kasih.

 

Ternyata perbedaannya terletak pada kesanggupan dan kemampuan memahami hakikat cinta dan kasih. Adapun yang menjadi obyek dari cinta kasih itu adalah semua ciptaan Sanghyang Widhi Wasa. Tuhan Yang Maha Esa.

 

Bapak-Ibu Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Ciptaan Tuhan dapat digolongkan dalam tingkatan sesuai eksistensinya atau kemampuannya yaitu :

1.   Eka pramana ialah makhluk hidup yang hanya memiliki satu aspek kemampuan berupa bayu/tenaga/ hidup, seperti tumbuh-tumbuhan.

 

2.   Dwi pramana ialah makhluk hidup yang memiliki dua aspek kemampuan berupa bayu dan sabda/bicara, seperti hewan/binatang.

 

3.   Tri pramana ialah makhluk hidup yang memiliki tiga aspek kemampuan berupa bayu, sabda dan idep/pikiran, seperti manusia. .

 

Untuk dapat menghayati lebih luas lagi, ajaran cinta kasih dapat diwujud-nyatakan dalam interaksi sosial religius melalui ajaran Tri Hita Karana yaitu

 

1.   Hubungan antara sesama manusia (pawongan),

2.   Hubungan antara manusia dengan alam lingkungan (palemahan),

3.   dan Hubungan antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa (parahyangan).

 

Ketiga hal ini dikenal dengan istilah Tri Hita Karana.

 

Bapak-Ibu Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Adapun yang mendasari cinta kasih adalah ajaran Tat Twam Asi yang menyatakan bahwa aku adalah kamu. Maknanya dikembangkan lagi: engkau adalah dia, dia adalah mereka dan seterusnya.

 

Inilah yang sering disebut dengan Tat Twam Asi yang dinyatakan dalam kitab Chandogya Upanisad VI. 14. 1.

 

Cinta kasih bukanlah sekedar penghias bibir atau buah bibir yang berbunga-bunga, akan tetapi sebuah realita yang tulus lascarya tanpa pamrih. Sesungguhnya bagi siapa saja yang telah mencapai tahap ini dapat dipastikan kehidupannya semakin tenteram, tenang, damai dan bahagia.

 

Cinta kasih yang tulus lascarya memberikan dampak yang sangat fundamental dalam memberikan arti dan makna kehidupan ini dan kehidupan yang akan datang. Dimensi waktu yang lampau, yang sekarang dan yang akan datang merupakan perputaran cakra kehidupan yang harus dilalui dengan semangat cinta kasih nan kunjung padam kepada semua ciptaan Sanghyang Widhi Wasa.

 

Bapak-Ibu Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Dalam Brhadaranyaka Upanisad I. 4. 10. dinyatakan : Aham Brahman Asmi yang artinya Aku adalah Brahman/Tuhan.

 

Sedangkan dalam Chandogya Upanisad III. 14. 3. dinyatakan : Sarwam khalu idam Brahman yang artinya semua ini adalah Brahman/Tuhan.

 

Dengan demikian tidak ada satupun di dunia ini yang lepas dari Dia. Menyadari bahwa asal dan tujuan kembalinya semua yang ada di dunia ini adalah sama, maka tidak ada satupun di dunia ini yang memiliki kekuatan hukum yang abadi, kecuali Tuhan. Yang berbeda hanyalah jasad materi yang sewaktu-waktu bisa berubah atau tidak kekal.

 

Lalu apa yang harus dibangga-banggakan yang mengarah pada rusaknya perdamaian, kerukunan, ketenteraman, ketenangan, kebahagiaan dan kesejahteraan umat manusia di dunia ini? Sejatinya kebanggaan sebagai umat manusia yang religius, karena berbudi luhur dan prestasi.

 

Mengekspresikan kebanggaan hendaknya dengan arif dan bijaksana serta menampilkan simpati. Hal ini hendaknya menjadi renungan bagi tumbuhnya spiritualitas, moralitas dalam rangka meningkatkan sraddha kepada Sanghyang Widhi Wasa. Percaya kepada Tuhan sudah termasuk di dalamnya cinta kasih pada sesama manusia dan cinta kasih kepada alam lingkungan.

 

Bapak-Ibu Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Untuk mencapai keseimbangan cinta kasih dapat diwujudkan dalam hubungan garis vertikal dan horizontal. Terlebih lagi memasuki abad modern dan global dibutuhkan pemikiran secara arif dan bijaksana.

 

Di satu sisi dituntut bersikap rasional, namun di sisi lain masih diperlukan curahan emosi spiritual terutama dalam hubungan manusia dengan Tuhan sebagai Maha Pencipta alam semesta beserta isinya.

 

Jalan terbaik adalah bagaimana mensinergikan emosi spiritual dengan sikap rasional. Dalam hal ini relevansi keseimbangan cinta kasih dengan abad modern lebih difokuskan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia yang memegang teguh nilai-nilai ke-Tuhanan, kemanusiaan dan kealaman.

 

Saling mencintai dan mengasihi satu sama lain dan kepada siapa saja tanpa memandang perbedaan fisik akan memberikan keseimbangan cinta kasih.

 

Bapak-Ibu Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Dalam Yajur Weda 32. 8 dinyatakan Sa’atah protasca wibhuh prajasu yang artinya Tuhan terjalin dalam makhluk yang diciptakan.

 

Cinta kasih Dalam Keluarga. Yang sangat menonjol bagi manusia modern mengenai konsep cinta dalam kehidupan berkeluarga dalam Weda adalah keterbukaan. Masalah kehidupan rumah tangga ialah menciptakan keselarasan dan kesesuaian seperti pada alam sesuai dengan hukum abadi (Rta).

 

Dalam Atharwa Weda III.30 dinyatakan perkataan Pendeta kepada kelompok keluarga : ”Aku membuat engkau bersatu dalam hati, bersatu dalam pikiran, tanpa rasa benci, mempunyai ikatan satu sama lain seperti anak sapi yang baru lahir dari induknya.

 

Agar anak mengikuti Ayahnya dalam kehidupan yang mulia dan sehaluan dengan Ibunya. Agar si isteri berbicara yang manis, mengucapkan kata-kata damai kepada suaminya.

 

Agar sesama saudara, laki atau perempuan tidak saling membenci. Agar semua bersatu dan menyatu dalam tujuan yang luhur dan berbicara dengan sopan. Semoga minuman yang engkau minum bersama dan makan makanan bersama.”

 

Bapak-Ibu Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Konsep hubungan garis vertikal dan horizontal juga berlaku dalam kehidupan keluarga agar mencapai satu tujuan luhur yaitu keharmonisan, ketentraman, kedamaian dan kebahagiaan bersama. Kebersamaan yang begitu menonjol dalam kehidupan keluarga inti menjadi parameter ke tingkat kehidupan keluarga yang lebih besar dan kehidupan sosial kemasyarakatan.

 

Bapak-Ibu Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Kesimpulan.

 

Dari uraian tadi dapat disimpulkan bahwa ajaran cinta kasih adalah bersifat umum (Samana) dan universal (Sadharana). Dalam perspektif Hindu ajaran cinta kasih diwujudnyatakan dalam hubungan garis vertikal dan horizontal yang dikenal dengan Tri Hita Karana.

 

Cinta kasih dapat diwujudkan apabila manusia memahami secara sinergi antara perasaan emosi spiritual dan sikap rasional yang dilandasi dengan ajaran “Tat Twam Asi,” “Sarwam khalu idan Brahman,” dan “Aham Brahman asmi.”

 

Harapan saya dari apa yang telah  saya sampaikan dapat bermanfaat bagi kita semua, jika ada kekurangan dalam penyampaian dharma wacana ini saya mohon maaf. Karena tidak ada manusia yang sempurna, tiada gading yang tak retak. Akhir kata saya tutup dengan paramasantih.

 

Om Santih, Santih, Santih Om..

 

Senin, 15 April 2024

Ajaran Hindu Dharma Kesadaran Diri Yang Sejati

 Ajaran Hindu Dharma Kesadaran Diri Yang Sejati

Ajaran Hindu Dharma Kesadaran Diri Yang Sejati

Om Swastiastu;

Om Anobhadrah krtavoyanthu visvatah ; semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru

 

Pinandita Lanang Istri yang sudah disucikan yang saya hormati

Yang saya hormati; Sesepuh dan Penasehat Banjar

Yang saya hormati; Ketua dan Pengurus Banjar Ciledug

Yang saya hormati; ketua dan Pengurus Tempek se Banjar Ciledug

Dan Umat Sedharma yang berbahagia.

 

Pada hari ini saya ……………….. akan membawakan Dharma Wacana yang berjudul Ajaran Hindu Dharma Kesadaran Diri Yang Sejati

 

Pertama-tama saya menghaturkan rasa puja dan puji syukur kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa, Sesuhunan Yang Melinggih di Pura Dharma Sidhi karena atas asung kerta waranugraha-Nya lah saya dan kita semua dapat hadir dalam persembahyangan ini dalam keadaan sehat walafiat.

 

Bapak-Ibu Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Tujuan hidup tertinggi dalam ajaran Hindu Dharma adalah menyadari kenyataan diri yang sejati  [Atma Jnana], sehingga Atma dapat terbebas dari siklus samsara dan mencapai Moksha.

Guna mencapai Moksha sangatlah perlu menyadari tentang kenikmatan indriya, mencari keuntungan, harta kekayaan, serta mengejar bentuk-bentuk fisik dan materi lainnya. Hal inilah yang telah mengundang banyak manusia enggan melaksanakan dharma dan malah bahkan menciptakan berbagai karma buruk.

Berbagai karma buruk ini justru mengakibatkan kelak dikemudian hari membawa kesengsaraan.

Umat Sedharma yang berbahagia;

Lahir dan hidup sebagai manusia itu penuh dengan dinamika. Hidup selalu berada dalam dinamika naik-turun dengan berbagai dualitas; kebahagiaan dan kesengsaraan, kesenangan dan kesedihan, serta ada baik ada pula yang buruk.

Dengan kata lain, sebagai manusia  untuk segera ”sadar”, karena kita dikelilingi oleh berbagai lubang perangkap kehidupan yang akan menjadi karma buruk. Jika kita salah melangkah, cepat atau lambat kita akan terbawa masuk ke dalam jurang kesengsaraan.

Umat Sedharma yang berbahagia;

Di dalam Rig Veda V.12.5 disebutkan sebagai berikut :

Adhursata svayam ete vacobhir

Rjuyate vrjinani bruvantah

Artinya :

Orang-orang yang tidak berjalan lurus [tidak melaksanakan ajaran dharma], akan mengalami kehancuran semata karena perbuatan-perbuatan [karma buruk] mereka sendiri.

Umat Sedharma yang berbahagia;

Selama kita hidup mengarungi samsara [siklus kelahiran-kematian yang berulang-ulang], melewati berjuta-juta kehidupan, kita tidak punya sumber keselamatan lain selain melaksanakan ajaran dharma.

Tekun dan tulus melaksanakan ajaran dharma akan menjadi pelindung utama yang menyelamatkan perjalanan kita dalam roda samsara.

Di alam semesta ini berlaku hukum karma, ada akibat karena ada sebab. Hukum Karma menjelaskan bahwa diri kita sendirilah yang menentukan garis nasib kita. Jika dalam kehidupan sebelumnya kita banyak membuat karma buruk, maka hidup kita disaat ini akan berat dan sengsara. Jika dalam kehidupan sebelumnya kita banyak membuat karma baik, maka hidup kita disaat ini akan banyak kemudahan dan bahagia.

Umat Sedharma yang berbahagia;

Disinilah pentingnya terus-menerus melakukan kebaikan, kebaikan dan kebaikan atau melaksanakan Dharma, karena karma baik akan membantu meringankan karma buruk kita.

Bila sifat-sifat dharma tersebut terus-menerus diperkuat dan dikembangkan pada kehidupan saat ini, hal itu akan semakin kuat dan menonjol pada kehidupan kita selanjutnya.

Melaksanakan dharma tidak saja merupakan satu-satunya sumber keselamatan kita dalam siklus kehidupan dan kematian [roda samsara], tapi juga sekaligus adalah landasan dasar yang sangat menentukan di dalam upaya sadhana untuk memurnikan pikiran [citta-suddhi] dan melenyapkan ke-aku-an [nirahamkarah], dalam rangka upaya mencapai Moksha atau pembebasan sempurna.

Umat Sedharma yang berbahagia;

Tekun melaksanakan ajaran dharma, tidak saja akan menjadi penjaga, pelindung dan pembimbing kita yang abadi dalam mengarungi roda samsara, tapi juga akan menjadi pondasi dasar pikiran bersih dan kesadaran terang bagi setiap aktifitas religius kita.

Ketika kita sembahyang atau japa mantra pikiran kita jadi lebih mudah terhubung dengan vibrasi kemahasucian dari alam-alam luhur, ketika kita meditasi kita menjadi lebih mudah mencapai samadhi, ketika kita mempelajari dharma kita akan lebih mudah paham dan mengerti, ketika kita melaksanakan kerja kita akan berbahagia melaksanakan svadharma [tugas kehidupan] kita.

Karena kesucian hanya bisa terhubung dengan kesucian. Itulah sebabnya juga disebut "gerbang depan" atau titik berangkat yang terpenting untuk memasuki dunia spiritual yang mendalam.

Umat Sedharma yang berbahagia;

Dalam kehidupan sebagai manusia ini, adalah merupakan suatu kebodohan [avidya] untuk membuang-buang energi kita dalam kesedihan, dalam kemarahan, dalam dendam, dalam kebencian, dalam sakit hati, dalam iri hati, dalam kecemburuan, dalam ketidakpuasan, dalam keserakahan, dalam kesombongan, atau dalampengumbaran hawa nafsu.

Lebih baik kita melakukan sesuatu dengan energi kita yang akan membawa kita menuju dimensi kesadaran yang lebih tinggi. Gunakanlah energi kita untuk melaksanakan kebaikan, untuk menolong mahluk lain, untuk melaksanakan praktek meditasi, untuk rajin sembahyang, untuk melaksanakan dharma, untuk membersihkan diri dengan cara melukat.

Umat Sedharma yang berbahagia;

Dalam perjalanan kehidupan ini manusia itu “svatantra katah”, yaitu mahluk yang sepenuhnya bebas, memiliki kehendak bebas dan sekaligus bertanggung jawab atas semua pilihan perbuatannya sendiri.

Diri kita sendiri-lah yang sepenuhnya merancang dan menentukan jalan kehidupan kita sendiri. Kita memiliki peluang yang sangat besar untuk memperoleh kebahagiaan dan ketenangan hidup.

Bapak-Ibu Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Harapan saya dari apa yang telah  saya sampaikan dapat bermanfaat bagi kita semua, Jika ada kekurangan dalam penyampaian dharma wacana ini saya mohon maaf. Karena tidak ada manusia yang sempurna, tiada gading yang tak retak. Akhir kata saya tutup dengan paramasantih.

Om Santih, Santih, Santih Om...

 

 

Sabtu, 13 April 2024

Bagaimana Hindu memahami Agamanya

 Bagaimana Hindu memahami Agamanya

Om Swastiastu;

Om Anobhadrah krtavoyanthu visvatah ; semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru

 

Pinandita Lanang Istri yang sudah disucikan yang saya hormati

Yang saya hormati; Sesepuh dan Penasehat Banjar

Yang saya hormati; Ketua dan Pengurus Banjar Ciledug

Yang saya hormati; ketua dan Pengurus Tempek se Banjar Ciledug

Dan Umat Sedharma yang berbahagia.

 

Pada hari ini saya ……………….. akan membawakan Dharma Wacana yang berjudul Bagaimana Hindu memahami Agamanya.

 

Pertama-tama saya menghaturkan rasa puja dan puji syukur kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa, Sesuhunan Yang Melinggih di Pura Dharma Sidhi karena atas waranugraha-Nya lah saya dan kita semua dapat hadir dalam persembahyangan ini dalam keadaan sehat walafiat.

 

Bapak-Ibu Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Dilihat dari kata agama itu berasal dari kata Sanskerta A dan Gam. A artinya tidak dan Gam artinya pergi. (Dalam bahasa Inggris Gam=Go, dalam bahasa Belanda Ga, yang artinya sama juga yaitu “pergi”

 

Jadi kata Agama berarti “tidak pergi”, “tetap di tempat”, “Langgeng” diwariskan secara turun temurun. Inilah arti istilah kata Agama.

 

Dalam agama Hindu kita memahami agama sebagai arti dalam jiwa kerohaniannya agama bagi kita adalah Dharma dan kebenaran abadi yang mencakup seluruh jalan kehidupan (way of life) manusia.

Bapak-Ibu Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Agama adalah kepercayaan hidup pada ajaran-ajaran suci yang diwahyukan oleh Sang Hyang Widhi, yang kekal abadi. Dan agama Hindu ini diwahyukan oleh Sang Hyang Widhi yang diturunkan ke dunia, dan pertama kalinya berkembang di sekitar sungai suci Sindhu.

 

Tujuan agama Hindu ini adalah untuk mencapai kedamaian rohani dan kesejahteraan hidup jasmani. Di dalam pustaka suci Weda tersebut “ Mokshartham Jagadhita Ya Ca iti Dharma” yang artinya Dharma atau agama itu ialah untuk mencapai moksa (Moksartham) dan mencapai kesejahteraan hidup mahluk (Jagadhita).

 

Moksa juga disebut “mukti” artinya mencapai kebebasan Jiwatman atau kebahagiaan rohani yang langgeng.

 

“Jagadhita” juga disebut dengan istilah “bhukti” yaitu membina “Abhyudaya” atau kemakmuran kehidupan masyarakat dan Negara.

 

Umat Sedharma yang berbahagia;

Dalam agama Hindu ada 3 bagian utama yang menjadi dasar dari agama Hindu, yang merupakan intisari dari pustaka suci Weda yang diwahyukan oleh Sang Hyang Widhi Wasa, yaitu : Tattwa (Filsafat), Susila (ethika) dan Upacara (ritual).

 

Sehingga ritual merupakan inti dari agama Hindu dimanapun berada, yang disesuaikan dengan local genius (kebiasaan adat setempat).

 

Ketiganya tidak dapat dipisahkan satu sama yang lain. Jika filsafat agama saja yang diketahui tanpa melaksanakan ajaran-ajaran susila dan upacara, tidaklah sempurna.

 

Demikian juga jika hanya melakukan upacara saja tanpa dasar-dasar filsafat dan ethika, percuma pulalah upacara itu, bagaimanapun besarnya.

 

Umat Sedharma yang berbahagia;

Memahami tattwa menjadi sangat penting bagi pemeluk agama Hindu, salah satunya mengenai Filsafat Panca Sradha. Ini adalah kepercayaan, keyakinan agama Hindu yang ada 5 bagian. Panca itu Lima, Sradha adalah kepercayaan yaitu :

 

1.   Percaya adanya Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa)

2.   Percaya adanya Atma (Roh leluhur)

3.   Percaya adanya Hukum Karma Phala

4.   Percaya adanya Samsara (Punarbhawa)

5.   Percaya adanya Moksa

 

Sang Hyang Widhi adalah Ia Yang Maha Kuasa sebagai Pencipta, Pemelihara, Pemrelina segala yang ada di alam semesta ini. Sang Hyang Widhi adalah Maha Esa. Agama Hindu percaya ke-Esa-an Tuhan sesuai dengan pustaka suci Weda .

 

“Ekam Eva Adwityam Brahman” . yang artinya “Hanya satu (Ekam Eva) tidak ada duanya (Adwityam) Hyang Widhi (Brahman) itu”

 

Selaian itu kita mengenal “Eko Narayana Na Dwityo Sti Kaccit” artinya “Hanya satu Tuhan sama sekali tidak ada duanya”

 

Umat Sedharma yang berbahagia;

Hindu percaya pada ke-Esa-an Tuhan, Tuhan itu hanya satu dan Maha Kuasa, sehingga memiliki kemahakuasaan yang berbeda-beda.

Dalam lontar Sutasoma disebutkan “Bhineka Tunggal Ika, tan hana Dharma Mangrwa” artinya “Berbeda-beda tetapi satu, tidak ada Dharma yang dua” juga dikatakan “Ekam Sat Wiprah Bahuda Wadanti” artinya “Hanya satu (Ekam) Sang Hyang Widhi (Sat=hakekat), hanya orang bijaksana (Viprah) menyebutkan (Wadanti) dengan banyak nama (bahuda).

 

Sifat-sifat Sang Hyang Widhi yang Maha Mulia, Maha Kuasa, Maha Pengasih, dan tiada terbatas sedangkan kekuatan manusia untuk menggambarkan Sang Hyang Widhi sangat terbatas adanya.

 

Maha Rsi-Maha Rsi kita tidak hanya mampu memberi sebutan dengan banyak nama menurut fungsinya. Dan yang paling utama adalah Tri Sakti, yaitu Brahma, Wisnu, Siwa.

 

·         Brahma ialah sebutan Sang Hyang Widhi dalam fungsinya sebagai Pencipta dalam bahasa Sanskerta disebut Uttpeti

 

·         Wisnu ialah sebutan Sang Hyang Widhi dalam fungsinya sebagai Pelindung, pemelihara dengan segala kasih sayangnya. Pelindung dalam bahasa Sanskerta disebut Sthiti.

 

·         Ciwa ialah sebutan Sang Hyang Widhi dalam fungsinya melebur (pralina) dunia serta isinya dan mengembalikan dalam peredarannya ke asal. Dalam bahasa Kawinya diistilahkan dengan “Sangkan Paran” (Kembali ke asal)

 

Umat Sedharma yang berbahagia;

Agama Hindu mengajarkan adanya tiga cara untuk mengetahui sesuatu yang disebut Tri Pramana yaitu Pratyaksa Pramana, Anumana Pramana dan Agama Pramana.

 

Tri Pramana memiliki arti dengan cara melihat langsung (Pratyaksa), dengan cara mengambil kesimpulan dari suatu analisa (Anumana) dan dengan mempercayai pemberitahuan orang-orang suci yang tidak pernah bohong (Agama).

 

Demikian juga mengenai Sang Hyang Widhi. Hanya orang-orang yang sangat suci yang mengetahui Sang Hyang Widhi dengan melihat langsung, dengan cara Pratyaksa.

 

Kita percaya bahwa kita seluruh alam ini, ada. Tentu ada yang menciptakan yaitu Sang Hyang Widhi. Dan kita percaya bahwa kita akan mati tentu ada tempat bagi Atman kita yang telah lepas dari badan. Inipun adalah Sang Hyang Widhi. Kita contohkan dengan seekor kumbang.

 

Kumbang itu hinggap ke suatu bunga dan dari sana ke bunga yang lain. Pada kakinya penuh bulu tersangkut benang-benang sari bunga yang nantinya menyebabkan perkawinan antara bunga-bunga itu.

Nah siapakah yang membuat kaki kumbang itu berbulu yang gunanya justru untuk melekatnya benang-benang sari bunga itu ? Tentu Sang Hyang Widhi. Cara Agama Pramana adalah hanya dengan cara mempercayai isi pustaka suci kita.

 

Umat Sedharma yang berbahagia;

Harapan saya dari apa yang telah  saya sampaikan dapat bermanfaat bagi kita semua, Jika ada kekurangan dalam penyampaian dharma wacana ini saya mohon maaf. Karena tidak ada manusia yang sempurna, tiada gading yang tak retak. Akhir kata saya tutup dengan paramasantih.

Om Santih, Santih, Santih Om...

 

CHANNEL YOUTUBE SAYA - MOHON DI SUBSCRIBE

Cari Artikel di Blog ini

Berita Terkait Semangat Hindu

Artikel Agama Hindu

108 Mutiara Veda 3 kerangka agama hindu advaita visistadviata dvaita Agama Hindu Dharma agama islam Ajaran Hindu aksara suci om alien menurut hindu Apa yang dimaksud Cuntaka Apa yang dimaksud dengan Japa Apa yang dimaksud dengan Puja arcanam nyasa aris widodo artikel hindu arya dharma Arya Wedakarna Asta Brata Atharvaveda Atman avatara sloka babad Badan Penyiaran Hindu bagian catur weda bahasa jawa kuno bahasa kawi bahasa sanskerta Banggalah Menjadi Hindu banten hindu bali Belajar Hindu BELAJAR ISTILAH AGAMA HINDU bhagavad gita Bhagawadgita bhagawan bhuta yadnya Bimas Hindu BPH Banten brahma wisnu siwa Brahman Atman Aikyam brahmana ksatriya wesia sudra budaya bali budha kliwon sinta Bukan Heroisme buku hindu terpopuler Canakhya Nitisastra cara sembahyang hindu catur asrama Catur Brata Catur Cuntakantaka Catur Purusha Artha Catur Purusharta catur veda Catur Warna Catur Weda Cendekiawan Hindu Cinta Kasih Dalam Perspektif Hindu Dana Punia Deva adalah sinar suci Brahman Deva Brahma Deva Indera dewa dewi hindu dewa yadnya dewata nawa sanga dewi kata-kata dewi saraswati dharma artha kama moksa Dharma Santi dharma wacana Doa Anak Hindu donasi buku hindu epos mahabharata ramayana filosofi pohon bambu filsafat agama hindu ganesha Gayatri Sebagai Mantra Yoga Hari Raya Galungan Hari Raya Kuningan Hari Raya Nyepi Hari Raya Pagerwesi Hari Raya Saraswati Hari Raya Siwaratri HINDU adalah ARYA DHARMA HINDU ADALAH SANATHANA DHARMA HINDU ADALAH VAIDHIKA DHARMA Hindu Agama Terbesar di Dunia Hindu Banten Hindu beribadah di Pura Hindu Festival Hindu Indonesia hindu nusantara Hindu Tengger Hinduism Facts Hinduism the Greatest Religion in the Word Hukum Karma Ida Pedanda sakti isi catur weda Jadilah Manusia Setia Japa dan Mantram Jiwa jual buku hindu kakawin Kamasutra Keagungan Aksara Suci OM Kekawin Lubdhaka kepemimpinan jawa kuna Kerajaan Hindu Keruntuhan Agama Hindu kesadaran diri kidung dewa yadnya Kitab Suci Weda lontar Lontar Kala Maya Tattwa Maharsi Atri Maharsi Bharadvaja Maharsi Gritsamada Maharsi Kanva Maharsi Vamadeva Maharsi Vasistha Maharsi Visvamitra manawa dharma sastra Mantra Mantra Yoga manusa yadnya Meditasi Matahari Terbit Mengapa Kita Beragama menghafal sloka Mimbar Agama Hindu Moksha Motivasi Hindu Mpu Jayaprema nakbalibelog Naskah Dialog Nuur Tirtha Om or Aum one single family opini hindu moderat Panca Sradha panca yadnya Panca Yajna pandita Panglong 14 Tilem Kepitu parahyangan agung jagatkartta paras paros segilik seguluk Pasraman Pasupati Pembagian Kitab Suci Veda Pemuda Hindu Indonesia pendidikan hindu pengertian catur weda Pengertian Cuntaka penyuluh agama hindu Peradah percikan dharma Percikan Dharma Dewa Yajna phdi pinandita Pitra Yadnya Ngaben Pitrapuja potong gigi Principle Beliefs of Hinduism Proud To Be Hindu Puja dan Prathana Pujawali purana purnama tilem Purwaning Tilem Kapitu Radio online Bali rare angon nak bali belog Reinkarnasi Rgveda ritual hindu Roh Rsi yadnya sabuh mas sad darsana sad guru Samaveda sanatana dharma sang hyang pramesti guru Sang Kala Amangkurat Sang Kala Dungulan Sang Kala Galungan Sang Kala Tiga sapta rsi Sapta Timira Sarassamuscaya Sarassamuscaya Sloka sattvam rajah tamah sejarah agama hindu Sekta Hindu Semangat Hindu seni budaya hindu Sex and Hinduism siwa budha waesnawa siwa ratri Sloka sloka bhagawad gita sloka bhatara sloka Rgveda sloka yayurveda Slokantara Sloka Spiritual Bersifat Misterius spiritualitas hindu spma ribek sradha dan bhakti sri rama krishna paramahansa Sri Sathya Sai Baba Sri Svami Sivananda sumpah dalam perkara tabuh gesuri tabuh kreasi baru tabuh telu lelambatan tantri kamandaka tat twam asi tattwa susila upakara Tempat Suci Hindu tiga hubungan harmonis tri hita karana Tri kaya parisudha tri kerangka agama hindu tri mala tri pramana Triji Ratna Permata tujuan perkawinan tujuh penerima wahyu tumimbal lahir upacara hindu upacara menek deha Upanisad upaweda Utsawa Dharma Gita vaidhika dharma Vasudhaiva Kutumbakam VEDA ADALAH ILMU PENGETAHUAN SUCI vedangga Vijaya Dashami Wasudewa Kutumbhakam widhi tatwa wija kasawur wiwaha agama hindu Yajna dan Sraddha yajna dan sradha Yayurveda Yoga Kundalini