OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM

PRAKATA

Selamat Datang

Semangat Hindu merupakan blog bersama umat Hindu untuk berbagi berita Hindu dan cerita singkat. Informasi kegiatan umat Hindu ini akan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan.
Semangat Hindu semangat kita bersama.

Bersama Semangat Hindu kita berbagi berita dan cerita, info kegiatan, bakti sosial dan kepedulian, serta kegiatan keagamaan seperti ; pujawali, Kasadha, Kaharingan, Nyepi, Upacara Tiwah, Ngaben, Vijaya Dhasami dan lain sebagainya.

Marilah Berbagi Berita, Cerita, Informasi, Artikel Singkat. Bagi yang mempunyai Web/Blog, dengan tautan URL maka dapat meningkatkan SEO Web/ blog Anda.

Terima Kasih
Admin

RANBB

---#### Mohon Klik Share untuk mendukung blog ini ####---

Selasa, 28 Oktober 2014

Lontar Roga Sanghara Bhumi

Lontar Roga Sanghara Bhumi


Pemilik babon Lontar Roga Sanghara Bhumi adalah Ida Padanda Gde Tembau, Geria Aan Klungkung. Lontar ini tergolong lontar muda dan disusun di Bali. Lontar ini dapat memberikan petunjuk apa yang dapat dilakukan pada saat bumi mengalami sanghara. Sanghara tidak bisa ditolak, tidak bisa dihindari, pasti terjadi karena tarikan dari Sanghyang Catur Yuga yaitu Kali Yuga. 

Artikel Terkait Dengan Lontar Hindu :



Karena pengaruh Jaman Kali, maka manusia pada jaman itu teramat sangat kotor hingga mengotori bumi, sehingga dewa-dewa menjadi sangat murka kemudian menyebarkan malapetaka terhadap manusia di bumi. Sang Hyang Druwaresi yang berstana di langit memberikan tanda-tanda alam tidak baik yang disebut ‘Durmamanggala’ kepada manusia di bumi sebagai pertanda akan datangnya mala petaka. 

Dalam Lontar Roga Sanghara Bhumi disebutkan durmanggala itu sangat banyak seperti; terjadi gempa secara terus-menerus, manusia/binatang mengadakan hubungan dengan bukan pasangannya, bahkan dengan bukan jenisnya (manusia dengan binatang, babi dengan anjing, dll.), wujud kelahiran yang tidak seperti biasanya, air hujan berwarna merah, diterjang banjir, dsbnya.

Apabila ada tanda-tanda seperti itu maka pendeta kerajaan agar tanggap dan segera melaksanakan upacara selamatan dengan mempersembahkan sesaji atau caru agar bencana dapat dinetralisir serta kebaikan dunia dapat dikembalikan.

Artikel Terkait Dengan Lontar Hindu :




Sumber : http://baliculturegov.com/2009-10-06-09-01-33/konsep-konsep-budaya.html

LONTAR TUTUR KUMARATATWA

Lontar ini menguraikan tentang hakikat kamoksan. Kamoksan itu pada prinsipnya adalah suatu proses yang tidak dapat dicapai secara sekaligus tetapi dicapai secara bertahap. Kamoksan merupakan proses penunggalan Yang Ada dengan Yang Tiada setelah mengalami pembebasan dari keterikatan duniawi. Yang Tiada (kekosongan) merupakan sumber segala sesuatu dan tujuan terakhir yang meleburkan segala sesuatu. 

Kekosongan itu merupakan awal, tengah, dan akhir segala spekulasi. Tutur Kumaratatwa berisi ajaran filosofis tentang mengapa manusia menderita, dan bagaimana manusia melepaskan diri dari penseritaan. 

Adapun sumber penderitaan manusia adalah Dasendriya, dan manusia harus mampu mengendalikannya dengan cara mengenali dan memahami kejatidiriannya sehingga manusia dapat mengerahkan segala kekuatan yang ada di dalam dirinya.
Sumber : http://baliculturegov.com/2009-10-06-09-01-33/konsep-konsep-budaya.html

Selasa, 14 Oktober 2014

Lontar Sundarigama Menggunakan Bahasa Kawi

LONTAR SUNDARIGAMA 

Lontar Sundarigama menggunakan bahasa Kawi, dan mengandung teks yang bersifat filosofis-religius karena mendeskripsikan norma-norma, gagasan, perilaku, dan tindakan keagamaan, serta jenis-jenis sesajen persembahan yang patut dibuat pada saat merayakan hari-hari suci umat Hindu Bali, mengajarkan kepada umatnya untuk berpegang kepada hari-hari suci berdasarkan wewaran, wuku, dan sasih dengan mempergunakan benda-benda suci/yang disucikan seperti api, air, kembang, bebantenan disertai kesucian pikiran terutama dalam mencapai tujuan yang bahagia lahir bathin (moksartam jagadhita) berdasarkan agama yang dianutnya. 



Teks Sundarigama merupakan penuntun dan pedoman tentang tata cara perayaan hari-hari suci Hindu yang meliputi aspek tattwa (filosofis), susila, dan upacara/upakara. Teks Sundarigama tidak hanya mendeskripsikan hari-hari suci menurut perhitungan bulan (purnama atau tilem) atau pun pawukon serta jenis-jenis upakara yang patut dibuat umat Hindu pada saat merayakan hari-hari suci tersebut, tetapi juga menjelaskan tujuan bahkan makna perayaan hari-hari suci tersebut. 

Secara umum dapat dikatakan bahwa tujuan dan makna perayaan hari-hari suci umat Hindu menurut Lontar Sundarigama adalah menjaga keseimbangan dan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan /Ida Sanghyang Widhi Wasa; Hubungan manusia dengan manusia; dan hubungan manusia dengan alam lingkungan. 

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa umat Hindu Bali melakukan upacara agama adalah dari dan untuk keselamatan alam semesta beserta seluruh isinya. 

LONTAR PENUGRAHAN DALEM 

Lontar Penugrahan Dalem ini menggunakan bahasa Bali, sehingga menandakan bahwa Lontar ini bukanlah lontar kuna. Penugrahan Dalem merupakan salah satu dari sekian banyak lontar yang mengungkapkan kehidupan dunia “mistik” masyarakat Bali, baik “kiwa” maupun “tengen”
Baca Gudha Artha adalah Mistik Hindu

Pada naskah ini banyak diajarkan mengenai sesuatu hal yang berkaitan dengan kekuatan dalam diri manusia (ilmu tenaga dalam) atau kesaktian. Mengingat isinya yang begitu “pingit”, maka di dalam mempelajari perlu pentahapan, dari tingkat yang paling sederhana sampai ke tingkat yang lebih tinggi agar tidak membingungkan, diperlukan persiapan batin yang matang dan mantap serta terolah secara meditatif. Itulah sebabnya, dalam Lontar Penugrahan Dalem ada kata “aywa wera”, “aywa cauh” yang tiada lain agar mempelajarinya haruslah berhati-hati dan harus dicamkan secara baik. Lontar ini mempunyai nilai kesakralan tinggi dan tidak sembarang orang bisa mempraktekkannya, sehingga perlulah kiranya orang yang ingin mempraktekkannya dibimbing oleh seorang guru pembimbing agar tidak terjadi kesalahan dalam mempraktekkannya. 

Jumat, 10 Oktober 2014

BABAD PURI ANDHUL JEMBRANA

BABAD PURI ANDHUL JEMBRANA 
Babad ini berisikan tentang keberadaan Puri Andhul beserta keturunannya serta keterkaitan Puri Andhul dengan kerajaan Mengwi. 


Diceritakan, Ki Gusti Basang Tamiang berasal dari bumi Brambangan memerintah di Jembrana. Setelah wafat, Beliau kemudian digantikan oleh Ki Gusti Brambang Murti. Ki Gusti Brambang Murti sangat sakti dan berkeinginan menyerang Brambangan, dan Brambangan pun berhasil dikuasainya.
Kini diceritakan, raja yang memerintah di negeri Singapura, Ki Gusti Panji Sakti berkeinginan menyerang Jembrana, sehingga pada akhirnya Jembrana dan Brambangan pun berhasil ditaklukkan. Setelah itu diceritakan pula, baginda raja di Mengwi, Ida Anake Ngurah Made Agung berkeinginan untuk berperang dengan Negeri Singapura, dan hingga pada akhirnya Negeri Singapura (Buleleng) pun dapat ditaklukkan, dan secara otomatis Jembrana dan Brambangan pun menjadi taklukan Kerajaan Mengwi.
Diceritakan, putra Ki Gusti Brambang Murti yang bernama Gusti Gedhe Giri, setelah Kerajaan Jembrana ditaklukan oleh Mengwi, sangat tunduk dan bakti terhadap Mengwi dan sering menghadap bersama putranya. Sangat berbahagia dan sejahtera menikmati kesenangan di Brambangan, memerintah negeri Jembrana. Gusti Gedhe Giri akhirnya meninggal dunia karena sudah tua. Karena akan dibuatkan upacara pitra yadnya, upacara maligya dan ngaluwer oleh Ki Gusti Ngurah Tapa dan Ki Gusti Made Yasa, maka Ki Gusti Made Yasa pergi ke Mengwi menghadap Ida Anake Agung Ngurah Made Agung untuk memberitahukan tentang upacara itu dan sekaligus mengundang agar sang raja berkenan hadir ke Brambang menyaksikan upacara itu, dan minta ben suci. Sekembalinya Ki Gusti Made Yasa dari Mengwi, Beliau didekati oleh seseorang dan mengatakan bahwa negeri Beliau di Brambang telah hancur akibat air bah dan semua isinya habis tanpa bekas. Raja Mengwi yang mengetahui hal itu lalu memerintahkan Ki Gusti Made Yasa untuk kembali menghadap ke Mengwi. 
Ki Gusti Made Yasa karena belum beristri lalu oleh raja Mengwi diberikan seorang gadis bernama I Gusti Luh Resik. Setelah menikah dengan wanita yang diberikan oleh raja, Ki Gusti Made Yasa juga dipersilakan untuk kembali pulang ke Jembrana, dan rumahnya dinamakan Jro Andhul. Perintah raja, jika kelak mereka memiliki putra maka dinamakan I Gusti Gedhe Andhul. 
Ki Gusti Made Yasa sangat rukun bersuami istri dengan Ni Luh Resik hingga pada akhirnya memiliki seorang putra dan diberi nama Ki Gusti Gedhe Andhul, dan menurunkan keturunan Puri Andhul berikutnya.

Sabtu, 04 Oktober 2014

BABAD ARYA KEPAKISAN

BABAD ARYA KEPAKISAN (1998)

 BABAD ARYA KEPAKISAN

Babad ini menceritakan tentang keturunan Arya Kepakisan di Bali. Arya Kepakisan adalah putra dari Arya Kadhiri, yang datang ke Bali diikuti oleh para bangsawan Kepakisan. Dinamakan Kepakisan karena pakis berarti paku, dipakukan menjadi raja oleh Mpu Dang Guru. Arya Kepakisan dijadikan raja oleh Rakryan Madha. Arya artinya Wisnu, yakni Bhatara Hari, hakikatnya keluarga bangsawan keturunan Wisnu, tiada kesatria yang berasal dari Batara Brahma, karena berasal dari Batara Wisnu asalnya. Itulah sebabnya raja yang baru tiba dinamakan Sri Kresna Kepakisan. Sri berarti raja, Kresna berarti Wisnu. Demikianlah atas kebijaksanaan Mahapatih Gajahmadha. Itulah sebabnya Sri Kresna Kepakisan beserta Arya Kepakisan terutama para Wesia dari Jawa bersama-sama pergi ke Bali atas perintah patih Gajahmadha sebagai penjelmaan Wisnu yang menjadi menteri dan paham akan perihal kenegaraan.
Sri Kresna Kepakisan keturunan Brahmana menjadi raja    di Bali dan Arya Kepakisan menjadi patihnya, diiringi oleh para arya yang dilantik, terutama para Wesia dari Jawa sebagai delapan penjaga raja yang berkuasa di Samprangan. Arya Kepakisan memiliki dua orang putra yang bernama Arya Asak dan Arya Arya Nyuhaya. Merekalah yang selanjutnya menurunkan keturunan berikutnya. Demikianlah keturunan Arya Kapakisan pada jaman dahulu.




ALIH AKSARA DAN ALIH BAHASA LONTAR SRI PURANA TATTWA (2004)

Sri Purana Tattwa adalah salah satu lontar purana yang memakai bahasa Jawa Kuna. Isinya mengandung ajaran agama hindu yang memuliakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Dewi Sri, yang menganugrahkan kesejahteraan serta melindungi segala jenis tanaman pertanian. Sri Purana Tattwa menguraikan tentang sistem ritual dalam mekanisme pengolahan sawah dari permulaan/awal kegiatan sampai akhir panen termasuk juga pengendalian hama dan penyakit melalui upacara dan upakara panangluk marana.

BACA : BABAD BULELENG, BABAD ARYA GAJAHPARA, BABAD KI TAMBYAK



Sumber : http://baliculturegov.com/2009-10-06-09-01-33/konsep-konsep-budaya.html
 
MENGENAL PURA GUNUNG SALAK 

LONTAR KRAMA PURA, PUTRU PASAJI, TATTWA SANGKANING DADI JANMA, DEWA RUCI, CATUR YUGA

ALIH AKSARA DAN ALIH BAHASA LONTAR

KRAMA PURA, PUTRU PASAJI, TATTWA SANGKANING DADI JANMA,

DEWA RUCI, CATUR YUGA (2008)

KRAMA PURA
Lontar Krama Pura yang dialihaksarakan ini adalah lontar yang ditulis oleh Putu Mangku dari Banjar Jro Dikit Seririt pada Tahun Saka 1919 (1997 M). Lontar Krama Pura tergolong naskah muda karena dilihat dari bahasa yang dipakai sebagai wahananya yaitu bahasa Kawi-Bali. Lontar ini termasuk lontar sesana, yang lebih mengkhusus pada tata cara masuk tempat suci.
Dalam lontar ini disebutkan bahwa orang yang bertindak sebagai pengemong pura hendaknya waspada dan mematuhi ajaran Sangyang Dewa Sasana tentang tata cara orang masuk pura. Bila krama desa ingin menghaturkan sesajen, pada saat membuat hendaknya disucikan dahulu dengan tirtha dari Sulinggih karena sesajen yang tidak diperciki tirtha dianggap kotor (leteh). Penyebab kekotoran itu adalah dilangkahi anjing, dilangkahi manusia, dipakai mainan oleh anak-anak, hasil belanjaan di pasar yang dijual oleh orang kotor, diterbangkan ayam, kena rambut, bedak, ludah. Bila banten tersebut dihaturkan, dianggap akan dapat mengusir dewa dan mengundang bhuta.



Selain itu, orang yang tidak boleh masuk pura adalah orang gila, orang yang menstruasi, orang cuntaka karena kematian, pencuri. Di areal pura, orang dilarang untuk marah sampai memaki-maki, bicara ngacuh, bersanggama, berselingkuh, bahkan untuk memperbaiki pakaian. Yang paling dilarang masuk pura adalah orang panten (orang yang dosanya tidak terampuni), yaitu orang yang memperkosa, yang laki-laki dari golongan sudra sedangkan wanitanya dari golongan tri wangsa (brahmana, ksatriya, wesya). Orang yang mengawini yang tidak patut dikawini (gamia-gamana) juga dilarang masuk pura. Ada juga yang disebut cacilaka, yaitu seorang wanita yang telah cukup umur namun tidak menstruasi, walaupun sudah berobat pun juga tidak menstruasi, dilarang masuk pura lebih-lebih untuk membuat perlengkapan sesajen.
  

PUTRU PASAJI
Lontar yang dialihaksarakan ini adalah lontar koleksi pribadi Perpustakaan Lontar Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.
Dalam lontar ini disebutkan ada ikan/daging yang dilarang untuk dijadikan persembahan, karena akan menghilangkan kesucian sehingga kembali pada papa dan neraka. Dalam Pitra Yadnya, ada banyak jenis ikan yang dapat dijadikan persembahan kepada sang pitara. Lamanya kesenangan yang dapat diberikan oleh masing-masing ikan berbeda. Ikan laut kualitasnya paling rendah karena dapat memberikan kesenangan hanya selama satu bulan. Sedangkan ikan/daging yang kualitasnya tertinggi adalah badak, karena akan dapat memberikan kesenangan selamanya di sorga.
Dalam lontar ini disebutkan juga nama beberapa gunung seperti: Gunung Malaya, Suktiman, Wreksawan, Himawan, Makuta, dan Nindana yang harus dilalui oleh para pitara menuju sorga. Pada gunung-gunung itulah tempat penyiksaan para pitara yang berdosa menunggu untuk dientas agar bisa masuk sorga. Pitara yang telah dientas kemudian masuk sorga memperoleh penyambutan yang luar biasa dari makhluk-makhluk kahyangan. Dengan diantar oleh burung kahyangan, Sang Wimana, sang pitara dapat menyaksikan keindahan masing-masing sorga.
Dalam sorga disebutkan ada banyak sorga seperti: Iswarapada, Brahmaloka, Budhaloka, Wisnupada, Swarga Manik, Sri Manuh, Indrapada, Darapada, Wilasatya, Siwapada, Ganda Langha Jandewa Pralabda, dan lain-lain. Sorga-sorga itulah tempat bagi atma yang telah dientas dan sesuai dengan pekerjaannya di bumi ketika masih hidup. Misalnya, ketika masih hidup dia suka belajar, menggubah kidung, pralambang, akan tinggal di Swarga Manik, yaitu kahyangan Sanghyang Saraswati.
Amanat dari Lontar Putru Pasaji ini adalah agar keluarga yang ditinggalkan segera melaksanakan upacara bagi yang meninggal, agar tidak berlama-lama menderita dan bisa segera masuk sorga. Dalam melaksanakan upacara agar dipilih ikan/daging yang dianjurkan agar dapat memberikan kesenangan kepada para pitara di sorga. Sesorang jika telah berhasil melaksanakan upacara terhadap orang yang telah meninggal, ia akan memperoleh pahala dari pelaksanaan upacara itu. Ada empat pahala yang akan dinikmati, seperti: saksi, bhakti, sura, dan wira. Lebih-lebih jika upacara itu dilaksanakan dengan didasari hati yang suci dan tulus ikhlas.
  

TATTWA SANGKANING DADI JANMA
Tattwa Sangkaning Dadi Janma adalah sebuah pustaka lontar yang memuat ajaran tentang hakikat Siwa. Lontar ini mengacu pada pustaka yang lebih tua seperti, Bhuwanakosa, Wrehaspati Tattwa, Tattwa Jnana, Jnana Siddhanta, Ganapati Tattwa.
Materi Pokok yang diajarkan dalam pustaka Tattwa Sangkaning Dadi Janma adalah pengetahuan rahasia, yaitu tentang ilmu kadyatmikan, ilmu untuk melepaskan Sang Hyang Urip untuk kembali ke asalnya atau kamoksan, kalepasan, kesunyataan.
Janganlah mengajarkan kepada murid yang tidak mentaati tata krama. Dan kepada orang yang tidak terpelajar, rahasiakanlah ajaran Beliau para Resi, sebab murid yang pandai tetapi tidak bermoral, tidak mentaati tata krama dan tidak hormat kepada guru, itu akan mendapat petaka besar bagi si murid. Sebaliknya, walaupun murid itu agak kurang, kalau mentaati ajaran tata krama dari guru, pastilah murid itu akan berhasil.
DEWA RUCI
Dewaruci dimulai dengan cerita keberangkatan Sang Bhima atas perintah Bhagawan Drona ke laut untuk mencari Toya Amreta. Terlihat olehnya tepi laut dengan ombaknya beriak, bergulung menerjang batu karang. Dengan tiada rasa takut ia menceburkan diri ke dalam laut, diempas gelombang, ditindih air.
Tiba-tiba datanglah seekor ular besar bernama Si Nakatnawa mengambang di atas air. Ular yang sedang kelaparan itu kemudian menyerang Sang Bhima dengan sangat buas. Akan tetapi ular tersebut akhirnya dapat ditangkap oleh Sang Bhima, lalu dipotong-potong dengan kukunya sehingga air laut menjadi merah karena darah ular itu.
Tersebutlah Sang Hyang Wisesa, sangat kasihan terhadap Sang Bhima. Sang Bhima sangat senang melihat Sang Hyang Wisesa yang berbadan kecil seperti boneka. Sang Hyang Wisesa bertanya apa tujuan Sang Bhima datang ke tengah laut yang berbahaya itu. Sang Bhima pun menjawab bahwa tentunya Sang Hyang Wisesa telah mengetahuinya. Sang Bhima kemudian menanyakan nama Sang Hyang Wisesa sebagai resi berbadan kecil. Sang resi menjawab ia adalah Dewaruci. Kemudian ia memberi wejangan kepada Sang Bhima agar jangan gegabah berbuat. “Janganlah mencari bila belum tahu apa yang dicari”.
Dewaruci senang karena sang Bhima mau menerima ajarannya. Ia menyuruh Sang Bhima masuk ke dalam garbanya (perutnya) melalui telinga kirinya. Setelah Sang Bhima masuk, dilihatlah olehnya lautan yang amat luas, alam kosong. Kemudian Sang Resi kembali mewejang tentang indriya, tentang dasa, tiga musuh sang pertapa, tentang subyek dan obyek, tentang yang tunggal menjadi banyak, tentang jiwa, tentang Tuhan yang tanpa wujud, tanpa ruang.



CATUR YUGA
Lontar ini pada intinya menceritakan tentang seorang raja yang bertahta di kerajaan Purbbhasasana bergelar Maharaja Bhanoraja sedang mencari pertimbangan dari para pendeta, para mahaguru, para mentri, dll., perihal putrinya yang bernama Dewi Ratnarum yang hendak dilamar oleh raja dari Negara Sunyantara yang bergelar Sri Maharaja Rekatabyuha yang sangat kaya dan gagah berani, akan tetapi berjiwa jahat karena dipengaruhi oleh zaman kali.
Para pendeta, mahaguru pun memberi pertimbangan/petuah kepada sang raja. Pada zaman dahulu, disebutkan bahwa Hyang Parameswara (Sang Hyang Siwa) memberikan ajaran tentang Catur Yuga. Empat perbedaannya yaitu: Kretha Yuga, Traita Yuga, Dwapara Yuga, dan Kali Yuga. Kretha Yuga lamanya 4.444.400 tahun, Traita Yuga 3.333.300 tahun, Dwapara Yuga 2.222.200 tahun, dan Kali Yuga 1.111.100 tahun lamanya.
 Pada zaman Kretha Yuga, keadaan manusia tidak banyak mengalami perubahan, tidak tertimpa rasa sakit, tidak akan mati semasih bayi, tidak memikirkan baik buruk, mati hidup, suka duka, sakit lapar. Adapun umur manusia pada Zaman Kretha Yuga adalah seratus ribu tahun, sepuluh-puluh kurangnya, kecatur sunyaning rat.
Pada Zaman Traita Yuga, demikian juga tentang umur manusia selalu suka, lima ratus tahun umurnya, ukurannya lima-lima, tiga kakinya dunia, seperti air dalam perigi, berkurang sekendi dari tempurung kelapa, mendung yang tebal akan menjatuhkan hujan, selaku dalam keadaan suka semua manusia, tidak ingat dengan hari tua.
Zaman Dwapara Yuga, dua ratus tahun umurnya manusia, ukurannya dua-dua, dua kakinya dunia, demikianlah ukuran manusia patut disikapi, berlaksana harus bijaksana, pemberani, tahu tentang siasat, tahu dengan tanda-tanda, dapat mengendalikan indera, sayang kepada orang melarat, kasih kepada orang yang tahu membalas budi, taat aturan, melaksanakan ajaran weda, dll.
Zaman Kali Yuga, seratus tahun umurnya manusia, ukurannya satu-satu, satu kakinya dunia, itu sebabnya huru-hara di dunia, hampir-hampir rusak tiada tara, mendung tebal akan menurunkan hujan, perigi akan kering, nempuluh tahun penuh dengan kekerasan, itu yang disebut sapta, tiada tenggelam di Barat, selalu berpisah tiada mau bersatu, dari Utara datangnya ciri-ciri yang tidak baik. Dari hal itu timbullah Tri Mala. Itulah sebanya dunia manjadi kacau, bisa merajalela menyakiti, merampok, memperkosa, membunuh sesama manusia yang tidak berdosa, aneka rupa kejahatan di muka bumi, yang berlaksana benar mati, yang sombong hidup dan mendapatkan kesenangan, tamak, bersifat kejam.

Sumber : http://baliculturegov.com/2009-10-06-09-01-33/konsep-konsep-budaya.html
 

Cari Artikel di Blog ini

Berita Terkait Semangat Hindu

Artikel Agama Hindu

108 Mutiara Veda Agama Hindu Dharma agama islam Ajaran Hindu aris widodo artikel hindu Arya Wedakarna Asta Brata Atharvaveda babad bagian catur weda bahasa jawa kuno bahasa kawi bahasa sanskerta banten hindu bali Belajar Hindu bhagavad gita bhagawan bhuta yadnya Bimas Hindu brahma wisnu siwa brahmana ksatriya wesia sudra budaya bali Catur Brata Catur Purusharta catur veda Catur Warna Catur Weda Cendekiawan Hindu Dana Punia dewa dewi hindu dewa yadnya dharma artha kama moksa Dharma Santi dharma wacana Doa Anak Hindu epos mahabharata ramayana filsafat agama hindu ganesha Hari Raya Galungan Hari Raya Kuningan Hari Raya Nyepi Hari Raya Pagerwesi Hari Raya Saraswati Hindu Agama Terbesar di Dunia Hindu Banten Hindu beribadah di Pura Hindu Festival Hindu Indonesia hindu nusantara Hindu Tengger Hinduism Facts Hinduism the Greatest Religion in the Word Hukum Karma Ida Pedanda sakti isi catur weda kakawin Kamasutra Kerajaan Hindu Kitab Suci Weda lontar Mantra manusa yadnya Meditasi Matahari Terbit menghafal sloka Moksha Motivasi Hindu Mpu Jayaprema nakbalibelog Nuur Tirtha Om or Aum opini hindu moderat Panca Sradha panca yadnya pandita parahyangan agung jagatkartta Pasraman Pasupati Pembagian Kitab Suci Veda Pemuda Hindu Indonesia pendidikan hindu pengertian catur weda Peradah percikan dharma phdi pinandita Pitra Yadnya Ngaben Pitrapuja potong gigi Principle Beliefs of Hinduism Pujawali purana purnama tilem Radio online Bali rare angon nak bali belog Reinkarnasi Rgveda ritual hindu Rsi yadnya sad darsana sad guru Samaveda sanatana dharma Sarassamuscaya Sarassamuscaya Sloka sattvam rajah tamah Sekta Hindu Semangat Hindu Sex and Hinduism siwa budha waesnawa Sloka sloka bhagawad gita sloka Rgveda sloka yayurveda spiritualitas hindu sradha dan bhakti sri rama krishna paramahansa Sri Sathya Sai Baba sumpah dalam perkara tat twam asi tattwa susila upakara Tempat Suci Hindu Tri kaya parisudha upacara hindu Upanisad Utsawa Dharma Gita Vasudhaiva Kutumbakam Vijaya Dashami wija kasawur Yayurveda