OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM

PRAKATA

Selamat Datang

Semangat Hindu merupakan blog bersama umat Hindu untuk berbagi berita Hindu dan cerita singkat. Informasi kegiatan umat Hindu ini akan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan.
Semangat Hindu semangat kita bersama.

Bersama Semangat Hindu kita berbagi berita dan cerita, info kegiatan, bakti sosial dan kepedulian, serta kegiatan keagamaan seperti ; pujawali, Kasadha, Kaharingan, Nyepi, Upacara Tiwah, Ngaben, Vijaya Dhasami dan lain sebagainya.

Marilah Berbagi Berita, Cerita, Informasi, Artikel Singkat. Bagi yang mempunyai Web/Blog, dengan tautan URL maka dapat meningkatkan SEO Web/ blog Anda.

Terima Kasih
Admin

RANBB

---#### Mohon Klik Share untuk mendukung blog ini ####---

Tampilkan postingan dengan label Semangat Hindu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Semangat Hindu. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Februari 2019

Naskah Mimbar Agama Hindu Acara Talkshow Radio.

Dalam acara Talkshow atau bincang-bincang biasanya dipersiapkan naskah siaran agar dapat berjalan dengan baik dan lancar. Naskah yang dipersiapkan disesuaikan dengan tema yang akan diperbincangkan. Seperti halnya kegiatan Talkshow mengenai Mimbar Agama Hindu dengan tema Makna Sembahyang bagi umat Hindu. Berikut Admin postingkan naskah Talkshow yang dapat dipersiapkan saat acara Talkshow, sumber-sumber naskah dari literatur kami, klik disini semoga bermanfaat.


Penyiar :
Membuka acara talkshow
Penyiar :   
Apa yang dimaksud dengan bersembahyang menurut agama Hindu. Mohon penjelasannya.
Narasumber :
Pendengar yang budiman. Sembahyang atau bisa disebut puja, artinya menyembah atau memuja Tuhan, Ida SangHyang Widhi Wasa, yang disampaikan dengan mantra, baik itu mantra dalam bahasa Sanskerta ataupun bahasa daerah kita, kemudian dilakukan dengan sikap tubuh tertentu, seperti duduk bersila untuk laki-laki dan duduk bersimpuh untuk perempuan serta dengan sikap tangan tertentu.

Penyiar :     
Lalu apa yang dimaksud denan  berdoa. Mohon penjelasannya.


Narasumber : 
Sedangkan berdoa, doa berasal dari bahasa Arab yang artinya memohon, bisa dilakukan dengan bebas, tidak perlu bahasa khusus atau sikap khusus. Ada yang hanya dengan menengadahkan tangan saja atau menundukkan kepala.

Penyiar :    
Apakah bisa diuraikan arti kata Sembahyang ?
Narasumber :
Sebutan “Sembahyang” berasal dari dua kata yaitu sembah dan hyang .
Sembah adalah memberikan dengan tulus ikhlas rasa hormat atau menyajikan dengan hati yang bersih tanpa meminta imbalan. Tata krama bersembah merupakan laku layan atas dasar pengabdian. Sama sekali tidak ada unsur paksaan atau dibawah tekanan dan ancaman apapun karena laku sembah merupakan kesadaran tertinggi.
Hyang ( eyang, biyang, moyang ) adalah bibit-bibit (cikal bakal) atau inti segala sumber. Pada pengertian yang lebih luah-mendalam maknanya ialah yang menyebabkan terjadinya sesuatu keberadaan dan keadaan atau sebagai sebab atas segala kejadian.
Maka Ber-Sembahyang  adalah menyediakan atau memberikan diri secara tulus penuh kepasrahan (sukarela) untuk dihidupkan oleh Hyang Maha Kuasa (sebagai sumber inti dari segala keberadaan dan keadaan).

Penyiar :     
Lalu benarkah bersembahyang itu lama ?
Narasumber  :
Para Pendengar Radio RRI Banten yang berbahagia. Bersembahyang itu tidak lama. Segala sesuatu yang kita lakukan dengan penuh keyakinan dan ketulusan, tidak ada waktu yang relatif lama. Duduk di hadapan Hyang Widhi seharusnya kita berbahagia, gembira dan tenang, karena waktu kita memang untuk Hyang Widhi.

Penyiar :     
Bersembahyang itu  kenapa harus didahului dengan ber-Trisandya.
Narasumber   :
Ber-Trisandya termasuk dalam bersembahyang harian, karena dalam agama kita ada waktu-waktu tertentu dalam bersembahyang, yang pertama pada hari raya umum, seperi Galungan dan Kuningan, Saraswati, Siwaratri dan lain sebagainya. Kemudian yang kedua kita bersembahyang pada saat ada upacara-upacara Panca Yadnya, yang ketiga secara berkala, seperti Purnama-Tilem, Tumpek, atau Rerainan. Dan Tri Sandya dikatagorikan dalam bersembahyang harian, rutin, Nitya Karma Puja yang dilakukan tiga kali sehari yang menurut petunjuk Kitab Suci Rg Weda Mandala V sukta 54 mantra 6 dan Rg Weda Mandala VIII sukta 31 mantra 1. Ini disebut Tri Sandya  (Tiga Peralihan Waktu)

Penyiar :   
 Dalam Sastra atau kitab suci Hindu, dimana terdapat petunjuk yang berkaitan dengan Tri Sandya itu.
Narasumber   :
Petunjuk tentang Tri Sandya terdapat dalam Veda dan di dalam Taittiriya Upanisad bahwa pelaksanaan sembahyang waktunya adalah pada saat sandya (peralihan waktu, yaitu pagi, tengah hari dan menjelang malam). Demikian juga petunjuk di dalam Chandogya Upanisad; prapataka II, canda 24, mantra 1, ketiga waktu sembahyang itu disebut dengan istilah Pratah Savanam (pagi), Madyandina Savanam (tengah hari) dan Trtiya Savanam atau disebut juga Sandya Savanam (menjelang malam).

Penyiar : 
Tadi disampaikan bahwa bersembahyang itu adalah menyembah Ida Sanghyang Widhi yang diiringi dengan mantra. Apakah Mantra itu ? Mohon pencerahannya.
Narasumber  :
 Pendengar yang budiman. Salah satu kata yang paling luas dipergunakan dalam teks keagamaan yang berbahasa Sanskerta adalah Mantra. Secara etimologi Mantra didefinisikan sebagai “Itu yang melindungi” . TRA ; Melindungi, to protect, ketika diucapkan secara berulang dan direnungkan. MAN ; berpikir, merenung, to think, to reflect.
Kata Mantra mempunyai dua arti; bagian-bagian yang berbentuk puisi dari Veda dan nama-nama dan suku kata yang digunakan untuk mengidentifikasikan atau mengambil hati para Dewa. Yang pertama bersifat Veda dan yang kedua bersifat Tantrik.

Penyiar :  
Selain dengan cara Bersembahyang, kegiatan apa lagi yang merupakan bagian dari ibadah Umat Hindu ?
Narasumber :
Dalam agama Hindu, hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan Tuhan bisa dalam bentuk Yadnya dan Yoga. Pemujaan kepada Tuhan dengan penuh cinta;
bhajan, atau bhajana , dari akar bhaj = mencintai, memuja, memuji, kidung, japa bhakti secara individu atau kelompok untuk memuja Yang Suci.
Kirtana atau kirtanam = menyanyikanpujian kepada Tuhan,
Japa, salah satu dari sembilan bentuk bhakti.
Kidung-kidung yang indah itu adalah ekspresi rasa cinta dan keindahan kita kepada Tuhan, dalam aspek Saguna Brahman.
Sembahyang sebenarnya adalah bentuk dari Bhakti Yoga. Sedangkan Jnana Yoga dan Raja Yoga, meditasi (Dhyana Yoga) adalah bentuk hubungan kita dengan Tuhan dalam aspek Nirguna Brahman.

Penyiar :
Apa perbedaan masing-masing sembah pada sembahyang Panca Sembah ? mohon pencerahannya
Narasumber    :
Sembah pertama itu adalah penyucian atman, sembah kedua memohon agar Siwa Raditya berkenan sebagai saksi. Sembah ketiga, pemujaan untuk Brahman atau Istadewata, termasuk para leluhur yang setingkat dengan dewata. Sembah keempat permohonan anugrah, dan ke lima ucapan terima kasih.

Penyiar : 
Setelah bersembahyang kita mendapat Tirtha dan Bija, mohon pencerahannya Apa manfaat Tirtha dan Bija ?
Narasumber    :
Di dalam Veda disebutkan manfaat tirtha sebagai berikut :
“Bersihkan, Air, apapun dosaku, kesalahanku apapun yang telah kulakukan, kutukan apapun yang telah kukatakan, dan kebohongan apapun yang telah kuucapkan”
Tirtha adalah air suci, yaitu air yang telah disucikan dengan suatu cara tertentu; Pertama dengan cara memohon dihadapan pelinggih Ida Bhatara melalui upacara tertentu. Yang kedua dengan cara membuat (ngareka) yang dilakukan dengan mengucapkan puja-mantra tertentu, tentunya hanya oleh orang yang sudah berwenang, yaitu seorang Pandita, Pedanda, Sulinggih lainnya.
Kemudian Bija, mebija dilakukan setelah metirtha merupakan rangkaian terakhir dari suatu upacara persembahyangan. Bija atau Wija adalah lambang dari Kumara, yaitu putra atau wija Bhatara Siwa. Mabija mengandung makna menumbuh-kembangkan benih ke-Siwa-an itu dalam diri manusia.

Penyiar : Closing



Senin, 07 Januari 2019

Gayatri Dalam Tri Guna



Percikan Dharma
Gayatri Dalam Tri Guna

Umat se-dharma, bahwa Gayatri mantram sebagai mantra Yoga, perlu pula dikenal adanya pembagian sifat mantram. Ada mantram yang bersifat Sattvam (kebaikan, kesucian, rohani), ada yang bersifat Rajah (kenafsuan), ada yang bersifat Tamah ( kegelapan).



Mantra di bawah pengaruh sattvam guna memberikan hasil kepada pelakunya berupa kedamaian, kesucian, keinsafan diri dan bhakti pada Sang Hyang Widhi Wasa. Mantra di bawah pengaruh rajah guna memberikan hasil kepada pelakunya berupa kesaktian, kekayaan, dan kepentingan duniawi lainnya. Sedangkan mantra di bawah pengaruh tamah guna memberikan hasil kepada pelakunya berupa merusak, menguasai, menyakiti dan bahka membunuh.

Gayatri mantra adalah mantra yang berada dalam sifat saytvam. Ini memberikan ketenangan, kesucian, kerohanian, dan keinsafan diri. Tetapi jika kesadaran sang pelaku dan aturan-atutan pengucapan berada dalam sifat rajah maka gayatri mantra akan memberikan hasil berupa keperluan duniawi seperti apa yang sedang diangankan dalam kesadaran sang pelaku di saat ia menguncapkan mantra.

Aris Widodo

Kamis, 12 Juli 2018

Sarassamuscaya Sloka 321

Pergaulan dengan sang sadhu
Kitab Agama Hindu
Bhagawadgita
Sarassamuscaya Sloka 321

drogdhavyam na ca mitresu na visvastesu karhicit, yasya camani bhunjita yatra ca syat pratisrayah

Nyang pangraksu kirti, haywa drohaka ring mitra, drohaka ngaraning mahyun ri patyanika, haywa drohaka ring kaparcaya, parcaya ri kita kunang, rjng pinsnganta sekulnya, pamarasraya kuneng apan krtaghna ngaraning papaning mangkana, tan purwarna.



Artinya
Inilah penjaga (pemelihara) nama baik; jangan berkhianat kepada sahabat; druhaka artinya menghendaki akan matinya sahabat itu; jangan berkhianat kepada orang yang dipercaya baik kepada orang yang menaruh kepercayaan kepada anda, maupun kepada orang yang nasinya anda makan, demikian pula kepada orang tempat mendapat perlindungan sebab tidak tahu berterima kasih dikatakan perbuatan nista yang demikian tidak tahu membayar hutang-hutang yang lampau.

Ulasan
Bahwa apa yang terjadi pada kehidupan ini memang dialami banyak orang, kadang memang jangan mengkhianati suatu persahabaan karena cari sahabat sangat sulit untuk didapatkan. Oleh karenanya sahanat harus dijaga agar apa yang telah terjadi sering kali lupa akan persahabatan yang telah tetjalin lama dan saling menguntungkan. Demikian persahabatan dalam hidup ini juga membutuhkan suatu pupuk untuk kelanjutan persahabatan yang akan datang.

Senin, 09 Juli 2018

Sarassamuscaya Sloka 318

Pergaulan dengan sang sadhu
Kata Mutiara Kitab Suci Yayur Weda
Yayurveda
Sarassamuscaya Sloka 318



arapyate sila saile klecena mahata yatha, patyate ca sukhenadhastathtama punyapapayoh.

Matangnyan haywa tan yatna, raksan kayatnakena katemwan iking si dadi wwang denta, sakarananyan entasa minduhura muwah, ta pwa gawayakena, apan atyanta iweh ning maminduhuraken, kunang yang pamingsorakena, emas ika, tonenta, nang wungkal pingruhurakena ryagraning wukir, antukning pariklesa ika, kunang yan tibakena ika, tan kewehan ngwang irika.

Artinya
Oleh karenanya janganlah tidak hati-hati, jagalah baik-baik karena telah dapat menjelma menjadi orang; segala yang menyebabkan akan dapat lulus dan meningkatkan penjelmaan, itulah hendaknya dilaksanakan, karena keliwat sukar untuk meningkatkan penjelmaan itu; akan tetapi untuk menurunkan, amat mudahnya; contohnya: batu yang telah dinaikkan ke puncak gunung; karena suatu gangguan maka dijatuhkan kembali dengan tanpa kesulitan sama sekali.

Ulasan
Bahwa dalam kehidupan ini memang tidak mudah untuk dijalani karena harus mampu mempertanggung jawabkannya apa yang telah dilakukannya. Pada dasarnya yang dilahirkan menjadi manusia sungguh-sungguh utama karena tidak mudah dilahirkan menjadi manusia, mengapa demikian karena yang dilahirkan menjadi manusia ini dalam hidupnya harus dapat melaksanakan perbuatan yang baik sebanyaj-banyaknya.
Oleh karena itu tidak gampang menjadi manusia yang utama sehingga dalam hidupnya yang harus dilakukan adalah bagaimana menjaga agar kelahiran menjadi manusia akan tetap terjaga. Karena itu apabila lengah sedikit saja melakukan kesalahan dalam hidup ini akan terjerumus ke jurang kesengsaraan dan tidak.mungkin akan lahir menjadi manusia kembali dalam kelahiran mendatang. Demikian yang harus diingat bahwa kelahiran menjadi manusia ini sungguh utama dan hendaknya terus ditingkatkan dalam kehidupan ini.

Jumat, 06 Juli 2018

Sumpah Dalam Perkara

SUMPAH DALAM PERKARA



Alat-alat yang diperlukan :
-            Air Suci
-            Dupa
-            Bunga / Canang Sari
-            Api (Pasepan)

Petugas yang Menyumpah
-          Seorang Pedanda, Pinandita, Pemuka Agama
-          Berpakaian Resmi/Keagamaan
-          Sikap tangan Mustikarana, diletakkan di depan hulu hati, memegang dupa (menghadap Air Suci, Canang Sari dengan mengucapkan mantra)

Mantram :
Om atah Parama Wisesa, Om indah ta kamung Hyang Hari candani, Agastya Maharesi, kita prasidha rumaksa ring rahina wengi, anodyani wang angupa saksi.
Mon tan tuhu ulahnya, kapastu denira kadi we umili sang sara tinemunya
Mon bener ulahnya, kna sadya mwang rahayu.
Oam siddhir astu tat astu, astu

Artinya :
Sang Hyang Widdhi Waҫa yang Maha Besar dan Maha Kuasa, Sang Hyang Hari Candani (Prabhawa). Sang Hyang Widdhi Waҫa sebagai saksi perbuatan mahluk serta Maha Resi Agastya yang merupakan pengemban mahluk pada waktu siang dan malam, serta menjadi saksi dari mereka yang melakukan sumpah.
Kalau tidak benar segala perbuatannya agar ia (mereka) mengalami penderitaan yang datangnya tidak putus-putus sebagai air mengalir.
Tetapi jika benar segala perbuatannya semoga ia (mereka) dikaruniai kebahagiaan serta berhasil dalam segala karyanya.

Setelah selesai mengucapkan Mantram ini, dupa lalu diletakkan di atas Canang Sari sambil menunggu yang di sumpah mengucapkan sumpahnya.

Yang disumpah
-          Berpakaian Resmi/Keagamaan
-          Berdiri menghadap Air Suci/Canang Sari ke arah Matahari terbit
-          Di waktu mengucapkan sumpah, tangan memegang dupa yang telah dinyalakan, sikap sesuai dengan Penyumpah
-          Sikap tangan dan letak Dupa sama dengan sikap Panganjali yaitu diangkat sampai di dada. Sumpah dibacakan oleh Penyumpah, diikuti oleh yang disumpah.

Mantram
Hatur hulun ri Paduka Hyang Widdhi, ndah yan tan tuhu ulah ingulun moga hulun kena saupaddwaning upasaksi, kapastu denira Sang Hyang Hari Candani, Kunang yan tuhu bener pwa ulah inghulun moga umanggih sadya mwang rahayu.

Artinya :

Sembah sujud hamba kehadapan Mu Hyang Wddhi seandainya tidak benar segala perbuatan hamba, agar hamba dikenai oleh ganjaran dari sumpah persaksian disalahkan oleh Hyang Widdhi dalam manifestasiMu sebagai Hyang Hari Candani. Tetapi jika seandainya hamba selalu berbuat di jalan kebenaran semoa hamba dilimpahi kebahagiaan dan berhasil dalam segala karya hamba.

Senin, 02 Juli 2018

Sarassamuscaya Sloka 287

Daridra (miskin)
Kitab Suci Umat Hindu
RGVEDA
Sarassamuscaya Sloka 287



suhrdan hi dhanam bhukte (bhumkte) krtva pranayamipsitam, pratikartumacaktasya jivitanmaranam.

Apan ikang daridra ngaranya, bhinuktinya ta wibhawaning mitranya, tinekan saprayojananya, ndan pisaningu ya wenang amalesa ri mitranya, dening daridranya, dening kacmalaning buddhinya kuneng, lobha humet atengetx yan paramarthanya, lehengang mati sangkerika.

Artinya
Akan si miskin itu, dinikmatinya kekayaan sahabatnya dan segala keperluannya dipenuhinya akan tetapi tidak bisa membalas budi sahabatnya, oleh karena miskinnya; pun oleh sebab kekejian budi pekertinya, loba, tidak tulus hati dan kikir, berhubung dengan itu, lebih baik mati daripada berhal demikian.

Ulasan
Bahwa pada dasarnya orang yang tidak punya memang seperti itu, tidak usah diperhatikan dengan sepenuh hati karena ia akan merasa diperhatikan dan akhirnya akan tambah menjadi malas. Oleh karenanya biarkan apa adanya tidak usah terlalu diperhatikan biar ia berpikir sendiri mengatasi kemiskinan yang ia alami. Memang kalau ia diperhatikan ia tidak akan mengalami peningkatan hidupnya dan menjadikan kebiasaan buruk bagi mereka sehingga akan lupa ia seperti apa dan tidak tahu bagaimana keluar dari kemiskinan yang ia alami saat ini.

Senin, 12 Februari 2018

Dana Punia Sarassamuscaya Sloka 174

Dana Punia Sarassamuscaya Sloka 174
Kitab Suci Weda
rigweda
arthavanarthsmarthibiyo na dadatyatra kogunah, ekaiva gatirarthasya danamanya vipattayah.





Kuneng, an wwangujar sang sugih maweh dana ring kasyasih, tan padon ika, apan kewala tunggal doning mas, danakena juga karih, len sangkerika donya, lara katiwasan ngaranika.

Artinya
Akan tetapi, jika menggembar-gemborkan orang yang kaya memberi sedekah kepada orang yang patut dikasihani, sebenarnya tiadalah gunanya itu, sebab hanya satu saja gunanya kekayaan, yaitu untuk disedekahkan, jika lain dari pada itu kegunaannya disebut menimbulkan duka kemiskinan.

Ulasan
Apa yang menjadikan pembicaraan bahwa apabila mereka memberikan sedekah dengan memberitahukan kepada orang lain itu tidaklah baik dilakukan, karena kalau sudah mau memberi dana punia atau sedekah hendaklah jangan diketahui orang banyal.

Oleh karena itu mepunia harus berdasarkan keikhlasan hati sehingga akan betdampak pada bagaimana kehidupan dalam masyarakat saat ini.

Senin, 20 Maret 2017

verba volent scripta manent

Om Swastiastu, Semeton tentu pernah mendengar Peribahasa Latin kuno menyatakan verba volent scripta manent. Arti dari kata-kata ini intinya, “Apa yang terkatakan, akan segera lenyap. Apa yang tertulis akan menjadi abadi.”

Ya, peradaban kuno yang bisa kita ketahui hingga saat ini adalah akibat adanya pujangga yang menuliskannya, baik dalam prasasti-prasasti, lontar-lontar ataupun media lainnya. Kita harus berterima kasih kepada sang Pujangga yang dengan  penuh kesabaran menulis kisah-kisah peradaban hindu pada masa lampau yang kita banggakan pada masa kini.

Bagaimana mungkin kita mengetahui Sumpah Palapanya Patih Gajahmada dan kejayaan kerajaan Majapahit pada jaman dahulu, kalau bukan dari tulisan-tulisan prasasti. Tentunya sumpah yang diucapkan akan lenyap ditelan waktu bila tidak ada pujangga yang menuliskan dalam prasasti..

Bagaimana mungkin kisah Mahabarata kita ketahui bila tidak ada sang Bhagawan Byasa yang dengan penuh kesabaran dalam menuliskan kisah demi kisah sang Pandawa … Atau kisah Rama, Rahwana dan Sinta dalam kisah Ramayana yang ditulis Bhagawan Walmiki

Dan banyak lagi peradaban Hindu kuno yang sangat-sangat mulia, penuh dengan kejayaan, penuh dengan kegiatan Dharma akan kita dapat ketahui bila tanpa ada yang menuliskannya ….

Adanya peradaban Hindu masa kini akibat dari adanya peradaban Hindu masa lalu yang tertulis, dan peradaban Hindu masa depan ditentukan oleh peradaban Hindu masa kini. Peradaban Hindu di masa depan akan sirna bila tidak ada sumber (tertulis) yang dapat dibaca oleh anak-cucu-cicit kita dimasa depan.

Pentingnya menuliskan kegiatan-kegiatan keumatan yang terjadi agar kelak dapat diketahui oleh generasi penerus agama dan budaya kita tercinta..

Karena Tulisan “scripta”  Kejayaan Hindu akan ada selamanya dan abadi “manent” om swaha... #ktBudiasa/BPHBanten

Senin, 12 Oktober 2015

Hulu Teben Kiblat Hindu Bali

 Apakah Dalam Ajaran Hindu Ada Kiblat ?

Jika dikutip dari pengertiannya secara umum kiblat berarti arah tertentu yang bersifat mutlak. Lantas apakah dalam sembahyang agama Hindu ada kiblat? Sebenarnya dalam Hindu tidak terdapat kiblat, dalam ajaran Hindu semua arah adalah suci karena Tuhan ada dimana-mana dan memenuhi seluruh alam raya semesta ini.

Seperti halnya terdapat konsep Dewata Nawa Sanga (sembilan penguasa di setiap penjuru mata angin) dan semua adalah perwujudan dari kekuatan Tuhan dalam berbagai manifestasi beliau. Dengan demikian semua arah ialah suci.

Namun dalam perkembangan Hindu di Bali, dalam pemujaan kepada Tuhan terdapat sebuah istilah yaitu “Hulu Teben”. Hulu Teben adalah konsep penataan sebuah tempat secara vertikal dan horisontal yang dapat membawa tatanan kehidupan skala (nyata) dan niskala (tidak nyata). Hulu Teben berasal dari dua kata yaitu hulu dan teben :
  • Hulu artinya arah yang utama, sedangkan
  • Teben artinya hilir atau arah berlawanan dengan hulu
Hulu – Teben memakai dua acuan yaitu :
  • Timur sebagai hulu dan Barat sebagai teben, atau
  • Gunung sebagai hulu dan Laut sebagai teben
Timur sebagai hulu karena di timur merupakan arah matahari terbit. Matahari dalam pandangan Hindu merupakan sumber energi yang menghidupi semua mahluk. Timur artinya juga wetan, berasal dari kata wit  yang berarti asal mula. Jadi semua mahluk dan alam semesta berasal dari-Nya dan akan kembali ke asal-Nya.

Sedangkan Gunung sebagai hulu karena berfungsi sebagai pengikat awan yang turun menjadi hujan kemudian ditampung dalam humus hutan yang merupakan sumber mata air kehidupan karena tiada kehidupan tanpa air.

Penetapan Hulu Teben hanya sebagai kesepakatan dan etika pemujaan Hindu di Bali. Akan tetapi ada juga tempat pemujaan yang menghadap ke barat, ke selatan dll. Tapi itu bukanlah sebuah hal yang perlu di debatkan atau menjadi pertentangan karena seperti yang sudah diterangkan diatas bahwa dalam Hindu sejatinya semua arah adalah suci.

Semoga bermanfaat untuk semeton. Jika terdapat penjelasan yang kurang lengkap atau kurang tepat. Mohon dikoreksi bersama. Suksma…
(sumber : Buku Cara Mudah Memahami Hindu)

http://inputbali.com/budaya-bali/apakah-dalam-ajaran-hindu-ada-kiblat

Selasa, 22 September 2015

Forum Aliansi Bahasa Daerah Bali

​FABDB Tuntut Lulusan Bahasa Bali Dan Agama Hindu Diberdayakan


Forum Aliansi Bahasa Daerah Bali (FABDB) mendatangi Kantor DPRD setempat untuk menyampaikan aspirasi agar pemerintah memperjuangkan lulusan bahasa Bali dan agama Hindu diangkat menjadi guru pengajar dan penyuluh agama.

"Kedatangan kami ke gedung Dewan ingin menyampaikan aspirasi agar para lulusan bahasa Bali dan Pendidikan Agama Hindu diperjuangkan untuk diangkat menjadi guru dan tenaga penyuluh di masyarakat," kata Ketua Aliansi Bahasa Daerah Bali (ABDB) Nyoman Suka Ardiyasa di Denpasar, Senin (21/9).
Ia mengatakan saat ini lulusan bahasa Bali dan Agama Hindu mencapai 7.400 orang lebih, namun Pemerintah Provinsi Bali belum ada formasi untuk mengangkat tenaga pengajar bahasa Bali dan penyuluh Agama Hindu.
"Oleh karena itu, kami ke sini untuk menyampaikan aspirasi para alumni bahasa Bali, sehingga para anggota Dewan memberikan perhatian kepada kami dari lulusan bahasa Bali," ujarnya.


Sementara Ketua DPRD Bali Nyoman Adi Wiryatama mengatakan pihaknya menyambut baik kedatangan dari rekan Forum Aliansi Bahasa Bali untuk menyampaikan aspirasinya ke pihak dewan.
"Kami mendukung Forum Aliansi Bahasa Daerah Bali untuk para alumninya diperjuangkan menjadi tenaga guru dan penyuluh Agama Hindu," katanya.

Adi Wiryatama mengatakan pihaknya akan merekomendasi ke eksekutif bila ada pengangkatan guru untuk formasinya diarahkan mengangkat guru bahasa daerah Bali dan penyuluh Agama Hindu.
"Apalagi mendengar dari Ketua Forum Aliansi Bahasa Daerah Bali, bahwa pihak Pemerintah Provinsi Bali berjanji dalam formasi mendatang dalam pengangkatan guru, akan mencari guru bahasa Bali," ucapnya.

Adi Wiryatama lebih lanjut mengatakan pihaknya selain merekomendasi untuk formasi pengangkatan guru bahasa Bali, juga terkait regulasi penempatan guru bahasa Bali agar merata di pelosok desa serta penyediaan penyuluh Agama Hindu di desa adat (pakraman) di Bali.

"Desa pakraman se-Bali sudah mendapat dana hibah sebesar Rp200 juta. Bisa saja disiapkan program untuk peyediaan dana penyuluh agama," katanya.

Selain itu, kata dia, pihaknya juga mendukung adanya revisi terhadap Perda Provinsi Bali Nomor 3 tahun 1992 tentang Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali.

"Perda Nomor 3/1992 tersebut perlu dilakukan revisi, sebab banyak telah terjadi perubahan seiring dengan perkembangan zaman dan kondisi masyarakat saat ini. Kalau memang pihak eksekutif tidak melakukan revisi, kami di Dewan akan melakukan revisi melalui hak inisiatif," katanya.

Editor: Agus Panjaitan
sumber : http://sentananews.com

Selasa, 04 Agustus 2015

Pegajahan, Desa Hindu di Sumatera

Ada Bali Di Sumatera Utara (Desa Pegajahan)

Bali, siapa yang tidak mengenal destinasi wisata ini. Mata dunia seolah terpaku melihat eksostisme dan keindahan pesona alam, budaya, religi, dan sejarahnya. Namun bagi anda yang tidak memiliki budget cukup, datang dan berkunjunglah ke Desa Pegajahan di Serdang Bedagai. Maka anda akan merasakan atmosfer layaknya di pulau Dewata. 

Desa Pegajahan berdiri dan hidup dengan pola hindu di Sumatera Utara. Patung, ukiran, dan tradisi turun temurun dari leluhur umat hindu bali di desa Pegajahan menyatu dan memberikan indahnya toleransi ditengah masyarakat Serdang Bedagai yang mayoritas beragama muslim dan dengan latar suku melayu dan batak. Selain budaya bali yang kental di desa Pegajahan.
Disini juga terdapat berbagai usaha kerajinan masyarakat. Jadi bagi anda yang hobby berwisata belanja tidak perlu was-was melewatkan kegemaran anda. 
Kebudayaan bali di Sumatera Utara mulai muncul sejak tahun 1962. Kala itu sebuah PT Perkebunan mendatangkan tenaga kerja dari pulau dewata Bali. 

Namun seiring perkembangan dari masa ke masa, mereka hidup dan tinggal di Serdang Bedagai dengan mendirikan sebuah desa yang mana keseluruhan warganya merupakan keturunan Bali. 

Desa Pegajahan biasa dikunjungi oleh wisatawan dan masyarakat hindu. Selain karena keunikannya, Pegajahan juga memiliki pura hindu tempat mereka beribadat dan sering menjadi pusat perayaan hari raya keagamaan Hindu. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai desa bali alias pegajahan. Hanya sekitar 2 jam dari kota Medan dan 20 menit dari Perbaungan. 

Kabupaten Serdang Bedagai memang memiliki destinasi wisata yang beragam, sehingga kerap dikunjungi oleh wisatawan. Beberapa destinasi wisata lain sebagai refrensi perjalanan anda adalah Pulau Berhala, Pantai Labu, Arung Jeram Bah Bolon, Pantai Cermin, Pantai Gudang Garam, dan masih banyak lagi.

sumber artikel : https://komunitastkj.wordpress.com

Kamis, 07 Mei 2015

Hindu Kupang Nusa Tenggara Timur



Selasa, 19 November 2013

Candi Kurung dan Candi Bentar Pura Agung Wana Kerta Jagatnata Sulteng

Peresmian Dua Candi Dihadiri Ribuan Umat Hindu
Wakil Gubernur Sulawesi Tengah H Sudarto SH MHum, mewakili Gubernur Longki Djanggola saat peresmian Candi Kurung dan Candi Bentar Pura Agung Wana Kerta Jagatnata, Sabtu (16/11), mengatakan sebagai sebuah tempat suci Pura Agung Wana Kerta Jagatnata ini diharapkan dapat difungfsikan semakin baik ke depan.

Dengan rampungnya proses renovasi dan pembangunan untuk kembali memperindah dan memperkokoh Pura Agung Wana Kerta Jagatnata ini, setelahnya diharapkan akan mampu memberi dampak pada kualitas keimanan umat Hindu di Sulawesi Tengah. Selaku pemerintah daerah, apresiasi itu pun diberikan khusunya kepada parisada hindu dalam hal ini PHDI Sulteng secara khusus.
“Agar menjadi orang-orang yang berguna bagi bangsa dan negara khususnya berguna bagi masyarakat untuk membangun kebersamaan, kerukunan dan kedamaian agar lebih kokoh dalam mengahdapi segala perubahan di tengah kehidupan umat beragama,” tandas Wagub, dalam sambutan tertulis Gubernur yang dibacakannya.


Wagub yang ikut pula didampingi oleh Asisten I Setdaprov Sulteng H Baharuddin HT tersebut, mengatakan umat Hindu merupakan rahmat bagi daerah Sulawesi Tengah yang peranannya dapat terus ditingkatkan di dalam membangun umat beragama yang rukun dan damai di daerah ini.


“Saya mengajak  untuk meningkatkan keimanan didalam kehidupan berbangsa dan bernegara dan bermasyarakat. Mari kita jadikan upacara piodalan sebagai sarana untuk mempertebal keimanan dari pengaruh-pengaruh negatif akibat perubahan yang semakin modern bagi generasi kita,” harapnya.


Menandai peresmian tersebut, Wagub didampingi jajaran PHDI Sulteng, melakukan pemukulan gong menandai difungsikannya Candi Kurung dan Candi Bentar di Pura Agung Wana Kerta Jagatnata tersebut.


Kesempatan tersebut, dihadiri oleh ribuan umat Hindu yang antusias menyaksikan berlangsungnya parisada night yang usai itu, dilanjutkan dengan pertunjukan hiburan termasuk penampilan dari penyanyi lokal Sulteng dan penyanyi asal Bali.


sumber : http://www. radarsulteng. co. id

Senin, 11 November 2013

Banten Suci Hindu Bali

Banten Suci Hindu Bali

Banten merupakan nama sebuah propinsi yang dipimpin oleh Gubernur perempuan yaitu Ratu Atut Chosiyah. Foto Ratu Atut Chosiyah Klik disini 
Dalam agama Hindu, Banten adalah Yadnya yang sering kita lihat saat-saat umat Hindu melaksanakan suatu kegiatan keagamaan. Yang kita bahas saat ini adalah Banten Suci, bukan Banten yang dipimpin Ratu Atut Chosiyah tadi. Banten Suci merupakan sarana Yadnya umat Hindu, antara lain : alasnya dipakai beberapa buah tamas, banyak sedikitnya tamas ini tergantung dari tingkatan Banten Suci yang dibuat. Warna jajannya adalah putih dan kuning. Pada waktu menata jajan yang berwarna putih ditempatkan disebelah kanan dan yang kuning disebelah kiri. Diantara jajan tersebut ada yang dinamakan "Sasamuhan", terbuat dari tepung beras dicampur sedikit tepung ketan, parutan kelapa serta air, dibuat bentuk lalu digoreng. Jajan-jajan tersebut ada yang bernama : kekeber, kuluban, puspa, karna, ketibuan-udang, panji, ratu-magelung, bungan temu dan masih banyak yang lain.

Perbandingan jumlah jajan berwarna putih dengan berwarna kuning adalah 12 :6, 9:5, 7:5, 5:4, dan seterusnya. Selain itu pula jajan yang dinamakan "raka-raka", misalnya; jaja-gina, jaja-uli, sirat, kaliadrem, dan sebagainya. Jajan ini pula berwarna putih, kuning. Pemakaian gula dalam hal ini hendaknya dipakai gula tebu/gula pasir atau gula ental.




 
Di samping jajan-jajan yang telah dikemukakan di atas ada dua jajan yang disebut "Jaja-Saraswati" dab "Jaja dodol-Madhuparka". Kedua jajan ini dipergunakan pula pada beberapa Banten yang dianggap memegang peranan penting dalam suatu upacara.

Pada Banten Suci tiap tempat "tamas" diisi perlengkapan yang jumlahnya telah ditentukan, umpama : tamas paling bawah berisi pisang, tape, buah-buahan / panca, masing-masing 5 biji / iris, jaja-sesamuhannya 1 biji tiap jenis; tamas yang kedua berisi 2 biji/iris, dan seterusnya. 

Secara sederhana satu soroh suci terdiri dari ; suci, daksina, peras, ajuman, tipat kelanan, duma (sejenis banten), pembersihan, cang lengawangi-buratwangi, canang sari, dan dua buah pisang (sejenis banten). Pada upacara yang agak besar dilengkapi dengan perayunan. Sumber bacaan buku Teologi & Simbol-Simbol dalam Agama Hindu oleh I Made Titib. (RANBB)

Minggu, 20 Oktober 2013

Pujawali Pura Giri Kusuma Bogor Purnama Kapat

Pujawali ke 15 Pura Giri Kusuma Bogor dilaksanakan pada Purnamaning Kapat (bulan purnama sasih ke empat), tanggal 19 Oktober 2013 dengan tingkatan Uttamaning Nista. Pura Giri Kusuma Bogor terletak di komplek Institut Pertanian Bogor (IPB) Baranangsiang IV Bogor Baru Bogor. Pura ini disungsung dan diempon oleh Kerama Suka Duka Hindu Dharma banjar Bogor yang peristiwa Ngenteg Linggih nya pada 6 Oktober 1998 dipuput oleh Ida Pedanda Mabe Gde Putra Sidemen.

Video pujawali pura Giri Kusuma Bogor. Klik disini. Video ini milik pribadi (bukan laporan resmi panitia).

Pujawali Pura Giri Kusuma Bogor dalam guyuran hujan dipuput oleh Ida Pedanda Gede Nyoman Jelantik Oka dari griya Cimangu Depok. Sebelumnya telah dilaksanakan rangkaian persiapan pujawali meliputi nuasen karya, negtegang karya pada hari jumat 4 Oktober yang dipuput oleh Ida Pedanda Nabe Gde Putra Sidemen griya Ciledug, kemudian Nuur tirtha ke sepuluh pura dilingkungan Jabodetabek dan matur piuning di lima pura di lingkungan Bogor pada 18 Oktober. Lihat foto Ida Pedanda Nabe Gde Putra Sidemen. Klik disini.

Puncak pujawali pada Sabtu Umanis Sungsang Purnama Kapat Saka 1935 dipuput oleh Ida Pedanda Gede Nyoman Jelantik Oka dari griya Cimangu Depok, serta akan dilanjutkan dengan penyineban pada malam harinya pukul 23.00. Dalam puncak pujawali Pura Giri Kusuma ini ditarikan tarian sakral tari Rejang dan tari Topeng Sidakarya dengan tujuan agar pujawali yang dilaksanakan stata labda karya paripurna. Tarian Bali-balian (hiburan) ditampilkan di jaba tengah seperti tari panyembrama, tari truna jaya dan lain sebagainya.

Dilanjutkan dengan persembahyangan bersama yang dipimpin oleh Ida Pedanda Gede Nyoman Jelantik Oka. Lihat foto Ida Pedanda Gede Nyoman Jelantik Oka, klik disini. Pada kesempatan nunas tirtha diselingi laporan ketua panitia pujawali, Ibu dokter, sambutan ketua banjar Prof. Suastijaya dan Dharma wacana dari Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Bogor bapak Wayan Suastika.

Dalam Dharma wecananya bapak Wayan Suastika menyatakan kesuksesan pujawali ini didasari oleh keiklasan lascharya dari semua pihak baik itu panitia, banjar maupun masyarakat Hindu di Bogor ini. Semua jenis pekerjaan dalam persiapan pujawali harus didasarkan dengan keiklasan, kegiatan dalam pujawali bukan hanya mejejahitan membuat Yadnya, tetapi juga termasuk mencuci piring, menyapu maupun membuat tekor. Semua kegiatan ini adalah sama dihadapan Ida Hyang Widhi asalkan didasari atas keiklasan.

Bapak Wayan Suastika (PHDI kota Bogor) menegaskan bahwa dengan pujawali diharapkan rasa bhakti kita kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa semakin tinggi, yang kedua; rasa tresna yang meningkat di lingkungan umat, pekedek pekenyum menyama braya, dan yang ke tiga adalah rasa peduli pada lingkungan disekitar kita baik itu kebersihan maupun toleransi beragama.

Kerama Suka Duka Hindu Dharma banjar Ciledug melaksanakan kegiatan Ngiring Pekuluh ke pura Giri Kusuma ini diwakili oleh tempek Joglo. (RANBB)

Kamis, 17 Oktober 2013

Implikasi Keyakinan Atas Prilaku

Semangat Hindu. Kepercayaan akan Karma seharusnya membawa implikasi-implikasi etis pada prilaku, seperti suka bekerja keras, bertanggung jawab dan jujur.

Bekerja keras atau rajin. Karena dengan bekerja lebih keras ia menjadi manusia yang lebih baik. Kebahagiaan terletak pada upaya, makin besar upaya, makin besar kebahagiaan. Demikian kata Mahatma Gandhi.

Bertanggung jawab. Jika suatu yang buruk terjadi, orang yang percaya pada Karma, pertama akan melakukan instrospeksi atau mulat sarira, apa yang salah pada dirinya. Ini tanda ia mengakui tanggung jawabnya dan ingin memperbaiki kesalahan itu. Dia tidak menyalahkan puhak lain (Tuhan, Setan, atau Orang disekitarnya). Sekalipun pihak lain mungkin merupakan salah satu faktor, tetapi ia tidak dapat memperbaiki mereka.

Jujur. Karena kalau berbuat tidak baik, hasil buruk akan menimpa si pelaku. Dalam Karma tidak ada penebusan dosa melalui ibadah, misalnya puasa. Upawasa, tapa, samadi bahkan sembahyang adalah untuk kepentingan kita, untuk kejernihan, ketenangan dan kedamaian pikiran dan hati, untuk kesehatan mental kita, untuk memperdalam spiritualitas. Sama seperti olah raga untuk memperkuat badan si pelaku, bukan untuk menyehatkan Tuhan. Ada yang mengajarkan bahwa ibadah itu karena dan untuk Tuhan. Ini adalah cara beragama kanak-kanak. Waktu kecil kita makan, mandi atau belajar karena takut pada orang tua. Tetapi setelah dewasa, kita melakukan semua itu karena sadar akan manfaatnya bagi diri sendiri.

Jujur sangat bersifat pribadi, sering saat berdoa atau bersembahyang kita memohon ampun kepada Tuhan atas kesalahan yang telah diperbuat baik disengaja maupun tidak. Pertanyaannya, kenapa harus memohon ampun pada kesalahan yang disengaja ? Bukankah kita sadar akan perbuatan tersebut salah, kenapa harus dilakukan ? Karma tidak mengenal perbuatan sengaja maupun tidak, semua akan memberikan hasil yang setimpal, maka berbuatlah selalu berdasarkan Tri Kaya Parisudha; berpikir yang baik, berkata yang baik dan berbuat yang baik. Selalu berada di Jalan Dharma akan menuntun kita pada kebahagiaan abadi. (RANBB)

-->

Jumat, 30 Agustus 2013

Upacara Vratyastoma adalah Upacara Peng-Hindu-an

UPACARA VRATYASTOMA

Upacara vratyastoma sendiri adalah upacara penyucian diri dalam agama hindu, sebelum seseorang masuk dalam agama hindu dan menjadi anggota suatu kasta. Upacara vratyastoma juga dilakukan ketika ada seseorang yang di keluarkan dari kasta. Melalui upacara yang cukup berat ini, segala macam kesalahan dan dosa yang pernah dilakukan oleh seorang anggota kasta dapat di hapus, dan orang yang telah di keluarkan dari kasta dapat di terima kembali menjadi anggota kasta.



Artikel Terkait Vasudhaiva Kutumbakam :


Upacara vratyastoma dalam agama hindu ini dikenal dan diterapkan oleh bangsa Indonesia pertama kali diperkirakan di wilayah Kalimantan Timur, karena pada tahun 1879 ditemukan 7 buah prasasti yupa, tepatnya di Bukit Berubus, Muara Kaman, yang mengindikasikan adanya kerajaan pada masa itu, pada prasasti yupa ini bahasa yang di gunakan adalah bahasa sansekerta dan menggunakan huruf palawa yang diperkirakan berasal dari abad ke-V Masehi, yang berarti kebudayaan India telah masuk pada kerajaan itu, kerajaan ini adalah kerajaan Kutai, yang didirikan oleh Kudungga yang merupakan orang asli Indonesia, kebudayaan India mulai masuk kerajaan ini, ketika raja yang memimpin adalah Asmawarman,anak dari kudungga, dari prasasti yupa itulah kita mengetahui bahwa kebudayaan india pertama kali masuk di Indonesia berasal dari kerajaan kutai, karena tidak ada bukti yang lebih tua dari prasasti yupa.




Upacara vratyastoma dan adanya sistem kasta pertama di Indonesia, berasal dari Agama hindu ber aliran Saiwa-siddhanta, adapun kemungkinan upacara vratyastoma pertama kali dilakukan oleh para brahmana di Indonesia di lakukan untuk mengangkat Asmawarman menjadi anggota dari suatu kasta dan beragama Hindu. Karena tidak ada bukti lain yang lebih tua dari prasasti tentang Asmawaran. Dari sinilah akhirnya kebudayaan India dan agama Hindu akhirnya berkembang di Indonesia.  http://lintas-sejarah.blogspot.com/2013/04/upacara-vratyastoma-dan-sistem-kasta.html

Vratyastoma iku salah sijining upacara keagamaan ing agama Hindu yaiku upacara pemberkatan nganut agama Hindu. http://jv.wikipedia.org/wiki/Vratyastoma

Dari berbagai sumber. (RANBB)


Senin, 26 Agustus 2013

Pujawali Pura Agung Jaganatha Pekanbaru Riau

Umat Hindu Pekanbaru Gelar Odalan Pura Agung
Umat Hindu di Kota Pekanbaru baru saja menggelar Odalan Pura Agung di Pura Agung Jaganatha jalan Rawa Mulya, Rabu (21/8/2013) malam. Direktur Agama Hindu Indonesia Ketut Lancar SE, MM turut hadir dalam acara tersebut dan memberikan Karma Carita  atau ceramah keagamaan kepada umat yang hadir disana.

Tak hanya berdoa bersama, Umat Hindu dan masyarakat yang hadir juga disuguhkan dengan beragam tontonan menarik. Mulai dari pagelaran tarian khas Bali hingga kabaret komedi yang dimainkan oleh para remaja Hindu disana.

Pantauan Tribun disana, tak kurang dari 250 orang hadir dalam kegiatan religius tersebut. Acara yang dimulai sejak pukul 18.00 tersebut berlangsung khidmat dan tertib. Setelah mendoa bersama, seluruh umat yang hadir diajak untuk mendengarkan ceramah bersama-sama.

"Sesama umat beragama, kita harus mengedepankan toleransi kepada sesama. Dengan begitu, rasa saling pengertian dan kerukunan antar sesama bisa terpelihara dengan baik," ujarnya dalam ceramah tersebut.
Pinandita Pura Agung Jaganatha Wayan Sutama juga menyebutkan hal yang sama. Ia menilai, Odalan Pura Agung tak hanya bicara nilai spiritual umat agama tertentu, tapi juga memiliki nilai budaya yang menarik untuk disimak.

"Indonesia merupakan bangsa yang majemuk. Banyak kebudayaan yang berbasis pada nilai spiritual, dan ini harus dilestarikan atas dasar keberagaman tersebut," tuturnya.
Disebutkannya juga, Odalan Pura Agung biasa dilakukan untuk menghormati kelahiran Pura sebagai tempat ibadah Umat Hindu. Biasanya dilakukan dalam waktu tertentu untuk mengumpilkan seluruh umat Hindu untuk berdoa bersama.

Namun, dikarenakan ada unsur budaya yang kental, maka Odalan Pura Agung Jaganatha selalu dibuka untuk umum dan bebas dinikmati oleh setiap lapisan masyarakat. "Saya yakin, Odalan memiliki nilai spiritualitas yang tinggi dan bisa menjadi pendukung nilai wisata di Riau," katanya lagi.
Diantara masyarakat yang hadir, nampak beberapa orang yang bukan beragama Hindu disana. Seperti Mulyadi, tenaga pengajar salah satu kampus teknik swasta di Pekanbaru ini hadir karena penasaran dengan acara Odalan tersebut.

"Ini yang pertama kali saya datang di Odalan Pura Agung. Bagi saya, acara ini merupakan kegiatan menarik dan sangat terbuka sekali," ucapnya.

sumber : http://pekanbaru.tribunnews.com

Rabu, 21 Agustus 2013

Pura Adhitya Jaya Rawamangun Daerah Khusus Ibukota Jakarta

Umat Hindu Jakarta.

Prasasti-prasasti yang ada di Pura Adhitya Jaya Rawamangun Daerah Khusus Ibukota Jakarta bertuliskan sebagai berikut :

Upacara Ngenteg Linggih Hari Sabtu Umanis Watugunung Pada Tanggal 12 Mei 1973, Diresmikan oleh Manggala Upacara Ida Pedanda Wayan Sidemen, Wakil Gubernur KDKI, Ir. Prayogo

Om Swastiastu, Upacara Tawur Labuh Genduh Dan Pemelaspas Purna Pugar Pura "Adhitya Jaya" DKI Jakarta Dilaksanakan Pada Hari Sabtu Umanis Watugunung (Saraswati) Tanggal 5 Juli 1997 Oleh Ida Pedanda Gde Sidemen (DKI Jakarta), Ida Pedanda Djelantik (Mataram NTB) dan Sri Empu Eka Darma Santi (Negara Bali)

Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, Purna Pugar Pura Adhitya Jaya Diresmikan Oleh Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Surjadi Soedirdja, Jakarta, 2 Juli 1997

Senin, 19 Agustus 2013

Pujawali atau Piodalan Pura Hindu saat Rerahinan Tumpek

Tumpek Landep.

Tumpek Landep.  (Saniscara Kliwon Landep ) Mengadakan upacara selamatan terhadap semua jenis alat yang tajam atau senjata, serta memohon kehadapan Bhatara Siwa dan Sang Hyang Pasupati agar semua alat/senjata tetap bertuah.
Pujawali Pura bertepatan dengan Hari Raya Tumpek Landep
  • Pura Agung Tirta Bhuana, Bekasi, Jawa Barat.
  • Pura Ksatria Dharma - Asrama Pusdik Polwan, Pasar Jumat, Jakarta  Selatan.
  • Pura Giri Purwa Dharma, Bengkayang Kalimantan Barat
  • Pura Dharma Praja - Bambu Apus Tangerang Selatan

Tumpek Wayang.
Tumpek Wayang. (Saniscara Kliwon Wayang).Pada hari ini diadakan upacara yang berkenaan dengan kesenian khususnya wayang, persembahan kehadapan Bhatara Iswara memohon agar kesenian itu lestari, menyenangkan, dan bertuah.
Pujawali Pura bertepatan dengan Hari Raya Tumpek Wayang.
  • Pura Penataran Giri Purwa dan Pesraman Dusun Kuto Rejo Kendal Rejo Tegal Delimo Banyuwangi. Pura Agung Widya Mandala - Komplek Yon Zikon, Desa Putra, Lenteng Agung, Jakarta – Selatan.
  • Pura Dalem Sakti - Jln Adi Sucipto Komplek Pemakaman Bakthi Suci Sui Raya Kalimantan Barat
  • Pura Prajapat -  Jln Adi Sucipto Komplek Pemakaman Bakthi Suci Sui Raya Kalimantan Barat
  • Pura Giri Penataran Agung, Sintang Kalimantan Barat.
  • Pura Jala Siddhi Amertha Juanda Sidoarjo.
  • Pura Jala Sidhi Amertha Juanda. Surabaya
  • Pura Jati Pramana, Jl. Cinemai Raya Cirebon
  • Pura Penataran Giri Purwa, Banyuwangi.
  • Pura Agung Arga Sunya, Blitar Jawa Timur

Tumpek Krulut.
Tumpek Krulut. Menghaturkan sesaji kepada Ida Sang Hyang Widi / Bhatara Iswara di Sanggah Kemulan, mohon keselamatan. Tumpek Krulut (Saniscara Kliwon Wuku Krulut).
Pujawali Pura bertepatan dengan Hari Raya Tumpek Krulut.
  • Pura Kertha Jaya - Jl. KS. Tubun Dalam No. 108, Tangerang, Banten.
  • Pura Raditya Dharma - Komplek TNI – AD (Ditbekang), Cibinong


Tumpek Kandang.
Tumpek Kandang. (Saniscara Kliwon Uye). Hari ini merupakan weton wewalungan, mengadakan upacara selamatan terhadap binatang peliharaan/ternak dan pemujaan terhadap Sang Rare Angon sebagai dewanya ternak, supaya terhindar dari segala penyakit dan tetap dalam keadaan sehat, selamat serta menyenangkan.

Tumpek Pengatag / Wariga / Uduh/
Tumpek Uduh (Saniscara Kliwon Wariga ). Hari ini merupakan peringatan "Kemakmuran'
Pujawali Pura bertepatan dengan Hari Raya Tumpek Pengatag.
  • Pura Wira Dharma Samudra - Komplek Marinir KKO, Cilandak, Jakarta – Selatan
  • Pura Tri Bhuana Agung - Jl. Kerinci Raya No. 10 Depok II Timur 16417
(RANBB)


Mohon di tambahin data ini karena masih sangat kurang, terima kasih.

CHANNEL YOUTUBE SAYA - MOHON DI SUBSCRIBE

Cari Artikel di Blog ini

Berita Terkait Semangat Hindu

Artikel Agama Hindu

108 Mutiara Veda 3 kerangka agama hindu advaita visistadviata dvaita Agama Hindu Dharma agama islam Ajaran Hindu aksara suci om alien menurut hindu Apa yang dimaksud Cuntaka Apa yang dimaksud dengan Japa Apa yang dimaksud dengan Puja arcanam nyasa aris widodo artikel hindu arya dharma Arya Wedakarna Asta Brata Atharvaveda Atman avatara sloka babad Badan Penyiaran Hindu bagian catur weda bahasa jawa kuno bahasa kawi bahasa sanskerta Banggalah Menjadi Hindu banten hindu bali Belajar Hindu BELAJAR ISTILAH AGAMA HINDU bhagavad gita Bhagawadgita bhagawan bhuta yadnya Bimas Hindu BPH Banten brahma wisnu siwa Brahman Atman Aikyam brahmana ksatriya wesia sudra budaya bali budha kliwon sinta Bukan Heroisme buku hindu terpopuler Canakhya Nitisastra cara sembahyang hindu catur asrama Catur Brata Catur Cuntakantaka Catur Purusha Artha Catur Purusharta catur veda Catur Warna Catur Weda Cendekiawan Hindu Cinta Kasih Dalam Perspektif Hindu Dana Punia Deva adalah sinar suci Brahman Deva Brahma Deva Indera dewa dewi hindu dewa yadnya dewata nawa sanga dewi kata-kata dewi saraswati dharma artha kama moksa Dharma Santi dharma wacana Doa Anak Hindu donasi buku hindu epos mahabharata ramayana filosofi pohon bambu filsafat agama hindu ganesha Gayatri Sebagai Mantra Yoga Hari Raya Galungan Hari Raya Kuningan Hari Raya Nyepi Hari Raya Pagerwesi Hari Raya Saraswati Hari Raya Siwaratri HINDU adalah ARYA DHARMA HINDU ADALAH SANATHANA DHARMA HINDU ADALAH VAIDHIKA DHARMA Hindu Agama Terbesar di Dunia Hindu Banten Hindu beribadah di Pura Hindu Festival Hindu Indonesia hindu nusantara Hindu Tengger Hinduism Facts Hinduism the Greatest Religion in the Word Hukum Karma Ida Pedanda sakti isi catur weda Jadilah Manusia Setia Japa dan Mantram Jiwa jual buku hindu kakawin Kamasutra Keagungan Aksara Suci OM Kekawin Lubdhaka kepemimpinan jawa kuna Kerajaan Hindu Keruntuhan Agama Hindu kesadaran diri kidung dewa yadnya Kitab Suci Weda lontar Lontar Kala Maya Tattwa Maharsi Atri Maharsi Bharadvaja Maharsi Gritsamada Maharsi Kanva Maharsi Vamadeva Maharsi Vasistha Maharsi Visvamitra manawa dharma sastra Mantra Mantra Yoga manusa yadnya Meditasi Matahari Terbit Mengapa Kita Beragama menghafal sloka Mimbar Agama Hindu Moksha Motivasi Hindu Mpu Jayaprema nakbalibelog Naskah Dialog Nuur Tirtha Om or Aum one single family opini hindu moderat Panca Sradha panca yadnya Panca Yajna pandita Panglong 14 Tilem Kepitu parahyangan agung jagatkartta paras paros segilik seguluk Pasraman Pasupati Pembagian Kitab Suci Veda Pemuda Hindu Indonesia pendidikan hindu pengertian catur weda Pengertian Cuntaka penyuluh agama hindu Peradah percikan dharma Percikan Dharma Dewa Yajna phdi pinandita Pitra Yadnya Ngaben Pitrapuja potong gigi Principle Beliefs of Hinduism Proud To Be Hindu Puja dan Prathana Pujawali purana purnama tilem Purwaning Tilem Kapitu Radio online Bali rare angon nak bali belog Reinkarnasi Rgveda ritual hindu Roh Rsi yadnya sabuh mas sad darsana sad guru Samaveda sanatana dharma sang hyang pramesti guru Sang Kala Amangkurat Sang Kala Dungulan Sang Kala Galungan Sang Kala Tiga sapta rsi Sapta Timira Sarassamuscaya Sarassamuscaya Sloka sattvam rajah tamah sejarah agama hindu Sekta Hindu Semangat Hindu seni budaya hindu Sex and Hinduism siwa budha waesnawa siwa ratri Sloka sloka bhagawad gita sloka bhatara sloka Rgveda sloka yayurveda Slokantara Sloka Spiritual Bersifat Misterius spiritualitas hindu spma ribek sradha dan bhakti sri rama krishna paramahansa Sri Sathya Sai Baba Sri Svami Sivananda sumpah dalam perkara tabuh gesuri tabuh kreasi baru tabuh telu lelambatan tantri kamandaka tat twam asi tattwa susila upakara Tempat Suci Hindu tiga hubungan harmonis tri hita karana Tri kaya parisudha tri kerangka agama hindu tri mala tri pramana Triji Ratna Permata tujuan perkawinan tujuh penerima wahyu tumimbal lahir upacara hindu upacara menek deha Upanisad upaweda Utsawa Dharma Gita vaidhika dharma Vasudhaiva Kutumbakam VEDA ADALAH ILMU PENGETAHUAN SUCI vedangga Vijaya Dashami Wasudewa Kutumbhakam widhi tatwa wija kasawur wiwaha agama hindu Yajna dan Sraddha yajna dan sradha Yayurveda Yoga Kundalini