OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM

PRAKATA

Selamat Datang

Semangat Hindu merupakan blog bersama umat Hindu untuk berbagi berita Hindu dan cerita singkat. Informasi kegiatan umat Hindu ini akan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan.
Semangat Hindu semangat kita bersama.

Bersama Semangat Hindu kita berbagi berita dan cerita, info kegiatan, bakti sosial dan kepedulian, serta kegiatan keagamaan seperti ; pujawali, Kasadha, Kaharingan, Nyepi, Upacara Tiwah, Ngaben, Vijaya Dhasami dan lain sebagainya.

Marilah Berbagi Berita, Cerita, Informasi, Artikel Singkat. Bagi yang mempunyai Web/Blog, dengan tautan URL maka dapat meningkatkan SEO Web/ blog Anda.

Terima Kasih
Admin

RANBB

---#### Mohon Klik Share untuk mendukung blog ini ####---

Tampilkan postingan dengan label Mimbar Agama Hindu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mimbar Agama Hindu. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Juli 2024

BELAJAR ISTILAH AGAMA HINDU

BELAJAR ISTILAH AGAMA HINDU

Asta Aiswarya delapan sifat Tuhan

Awatara penjelmaan Tuhan  ketika  alam  semesta terancam  kehancuran

Bhagavadgita nyanyian Tuhan (pancama veda)

Bhakti menghormat, tunduk, melayani dengan tulus ikhlas

Bajra genta  yang dipakai untuk menimlbukan bunyi dalam upacara yajña

Bramavidya ilmu ketuhanan hindu

Bhahuda pandita  penasihat  raja

Cetik racun untuk membunuh orang lain yang dikirim secara gaib dari jarak jauh

Cakra senjata sakti milik krisna yang  bisa kembali sendiri setelah melukai usuhnya. senjata ini bisa digerakkan dengan pikiran

Guru Lagu irama panjang/intonasi pengucapan

Itihasa bagian daripada veda berisi cerita kepahlawanan

Jadul akronim dari zaman dulu untuk mengungkapkan hal yang dianggap sudah kuno

Karmaphala hukum sebab akibat

Kirtanam menyebutkan nama suci Tuhan  secara berulang-ulang

Konversi mengubah dalam hal ini mengubah agama yang dipeluk sebelumnya

Loka Palasraya melayani umat dengan cara mengantarkan upacara

Mahabharata  cerita tentang keluarga pendawa dan kurawa

Mantra wahyu Tuhan, lagu pujian

Monoteisme paham tentang satu Tuhan

Narayana gelar Sang Hyang Widhi

Neraka Loka alam neraka

Orientalis  mereka yang memberikan kajian tentang masyarakat timur

Panca Gita lima jenis suara yang wajib ada dalam upacara agama

Pandita sulinggih dwijati

Pinandita pemangku ekajati

Politeisme paham tentang banyak Tuhan

Purana cerita yang mengandung ajaran kebenaran

Rajasika yajña upacara yajña dengan motivasi untuk memamerkan kekayaan dan kekuasaan

Ramayana cerita tentang perjalanan  rama dewa

Reinkarnasi menjelma/terlahir kembali

Sapta Rsi tujuh maharsi penerima  wahyu

Sapta Timira tujuh kegelapan penyebab kesombongan/kemabukan

Sat Atatayi  enam  cara melakukan pembunuhan secara kejam

Sattwika yajña yajña yang dilakukan secara benar

Sloka lagu pujian berbahasa jawa kuno

Surga Loka alam surga

Surya Sevana puja pemujaan kepada Dewa Surya

Tamasika yajña  yajña  dengan motivasi untuk mendapat untung

Tri Rnam tiga jenis hutang umat  manusia  kepada, Tuhan, orang tua, dan guru

Tri Hita Karana tiga penyebab kebahagiaan

Veda kitab suci agama hindu

Veda Vakya ucapan  veda atau kata mutiara yajña korban suci tanpa pamrih kepada Tuhan

Yazamana mereka yang menyelenggarakan upacara yajña

 

Kamis, 07 September 2023

Mengapa Kita Beragama?

Mengapa Kita Beragama?

 

Om Swastiastu;

Om Anobhadrah krtavoyanthu visvatah ; semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru

 

Pinandita Lanang Istri yang sudah disucikan yang saya hormati

Yang saya hormati; Sesepuh dan Penasehat Banjar

Yang saya hormati; Ketua dan Pengurus Banjar Ciledug

Yang saya hormati; ketua dan Pengurus Tempek se Banjar Ciledug

Dan Umat Sedharma yang berbahagia.

 

Pada hari ini saya ……………….. akan membawakan Dharma Wacana yang berjudul Mengapa Kita Beragama?.

 

Pertama-tama saya menghaturkan rasa puja dan puji syukur kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa, Sesuhunan Yang Melinggih di Pura Dharma Sidhi karena atas waranugraha-Nya lah saya dan kita semua dapat hadir dalam persembahyangan ini dalam keadaan sehat walafiat.

 

Bapak-Ibu Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Pada umumnya kita beragama karena mengikuti lingkungan, khususnya lingkungan terdekat yaitu orang tua kita. Sejak kecil kita diajak oleh orang tua kita mengikuti cara-cara agama. Kita diajak sembahyang bersama pada hari raya. Pada usia tertentu kita dibuatkan upacara-upacara agama.

 

 

Ketika kita mulai dewasa kita bertanya. "Mengapa kita beragama?". Jawabannya sebenarnya hampir sama dengan waktu kita sembahyang dimasa kanak-kanak, yaitu agar kita selamat dalam menjalani hidup ini!. Dengan cara bagaimana? Dengan jalan mendekatkan diri kepada Tuhan. Agama memberikan kita pedoman untuk mendekatkan diri kita kepada Yang Suci. 

 

Umat sedharma yang terkasih,

 

Carl Gustav Jung, psikiater terkenal kelahiran Swiss (1875-1967) mengatakan: "Masalah psikologis masa kini adalah masalah kerohanian, masalah agama. Manusia jaman ini haus dan lapar akan hubungan yang kokoh dengan kekuatan-kekuatan psikis yang terdapat dalam dirinya. Kekurangan suatu hubungan yang kokoh dengan hal-hal rohani (Tuhan) membuat manusia tidak mengalami pemekaran, rasa sejahtera dan keamanan di dalam suatu dunia yang tenteram sentosa". *)

 

Mengapa kita beragama Hindu?

 

Kita memeluk agama Hindu karena kita lahir dari orang tua Hindu. Atau karena kita kawin dengan seorang suami atau istri Hindu. Atau karena pilihan yang kita lakukan secara sadar. Tapi mengapa kita memilih agama Hindu?

 

 

 

Apakah Agama Hindu Agama yang Terbaik?

 

Bapak-Ibu Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Pemeluk Hindu tidak pernah menyatakan agamanya sebagai agama yang terbaik. Menyatakan Hindu sebagai "agama terbaik" terkesan sebagai suatu kesombongan. Agama melarang kesombongan.

 

Mari kita ambil contoh. Bila kita mengatakan suami atau istri kita sebagai suami atau istri yang terbaik di dunia, bila ini kita ucapkan ketika kita berdua saja. tidak ada orang lain yang mendengar, ini merupakan tanda cinta atau kasih sayang, sekalipun terasa sedikit berlebih- lebihan. Tapi bila itu kita ucapkan di depan orang lain, dengan sedikit membusungkan dada, maka kita akan dianggap orang yang sombong.

 

Dengan ucapan itu kita juga dianggap merendahkan suami atau istri orang lain. Lalu orang-orang mulai memperhatikan kita. Mencari-cari kehebatan kita. Tapi ternyata kemudian yang banyak ditemukan adalah kekurangan-kekurangan kita. Dan kemudian mereka berkomentar, "oh, itu toh suami yang terhebat di dunia". Atau "oh itu toh istri yang terbaik di dnuia. Hanya seperti itu?".

 

Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Demikian pula dengan agama. Bila kita mengatakan agama kita adalah agama yang terbaik, berarti kita juga mengatakan agama lainnya hanya sekerdar "baik" atau "tidak baik". Pemeluk agama lain akan merasa tidak enak atau mungkin tersinggung. Lalu mereka akan melihat kepada kita. Dan segera mereka menemukan, "Oh, disana juga banyak kejahatan, kemiskinan dan penderitaan, korupsi, ".

 

Apa gunanya agama yang baik bila ia tidak mampu membuat para pemeluknya menjadi baik?. Atau apakah agama dapat dikatakan sebagai agama terbaik bila ia tidak mampu membuat para pemeluknya menjadi umat yang terbaik?.

 

 

Apakah Semua Agama itu sama saja?

 

Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Agama-agama memiliki persamaan dan perbedaan! Agama-agama pada dasarnya memiliki fungsi yang sama. Agama-agama memberikan kita jalan untuk berhubungan dengan Hyang Suci (Tuhan), untuk berhubungan dengan diri kita sendiri (spiritualitas) dan untuk berhubungan dengan lingkungan, mahluk hidup dan alam sekitar kita (etika atau moral). Agama-agama juga mewajibkan kita untuk menghormati hidup, hidup kita sendiri dan hidup orang lain.

 

Tapi bagaimana hubungan itu dilakukan, bagaimana kewajiban kita dilaksanakan, masing-masing agama memiliki cara serta aturannya sendiri. Tiap-tiap agama memiliki kitab sucinya sendiri, ajaran-ajarannya sendiri, ibadahnya sendiri, tokoh-tokohnya dan sejarahnya sendiri.

 

Bahkan pandangan mereka masing-masing tentang Tuhan juga berbeda. Inilah sebabnya mengapa ada agama Hindu, agama Budha, agama Shinto, agama Khong Hu cu, agama Tao, agama Islam, agama Kristen dan agama Yahudi.

Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Pada umumnya agama Hindu atau orang-orang Hindu karena sikapnya yang sangat toleran, lebih suka menekankan persamaan-persamaan agama. Namun ini akan membawa kita pada satu kesalahan lain, yaitu mengabaikan aspek-aspek khusus dari masing-masing agama yang mencari ciri khas dan identitas dari masing-masing agama tersebut.

 

Bapak-Ibu Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Mari kita ambil contoh. Agama-agama tertentu percaya pada takdir dimana nasib manusia sepenuhnya telah ditentukan oleh Tuhan. Agama Hindu percaya pada Hukum Karma dimana nasib manusia ditentukan oleh manusia itu sendiri.

 

Ada agama yang percaya bahwa manusia hanya hidup sekali, setelah mati, menunggu hari kiamat. Pada saat itu manusia dibangkitkan kembali untuk diadili. Agama Hindu percaya pada reinkarnasi, dimana manusia lahir kembali, diberikan kesempatan untuk menyempurnakan dirinya.

 

Perbedaan antar agama adalah suatu fakta yang harus diketahui. Agar kita tidak mencampur adukkan agama. Ibarat orang bertetangga, pagar yang baik atau tanda batas yang tegas justru akan mencegah tetangga itu bertengkar karena memperebutkan pekarangan. Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tapi untuk saling memperkaya wawasan.

 

Umat Sedharma yang berbahagia;

 

 

Bagimana dengan Penggolongan Agama?

 

Ada orang yang menggolongkan agama menjadi agama langit dan agama bumi. Ada yang menggolongkannya menjadi agama hukum dan agama pembebasan. Ada penggolongan agama berdasarkan wilayah asal kelahiran agama-agama tersebut. 

 

Kecuali penggolongan yang terakhir, dua penggolongan sebelumnya bersifat sangat subyektif. Setiap pemeluk agama dapat membuat penggolongan berdasarkan ukuran-ukuran yang ditetapkannya sendiri dengan maksud menempatkan agamanya sendiri dengan maksud menempatkan agamanya pada kedudukan yang paling tinggi.

 

Ambil contoh penggolongan agama langit dan agama bumi. Agama langit (samawi) katanya agama yang dibentuk berdasarkan wahyu Tuhan. Agama bumi atau agama alamiyah katanya agama yang berdasar renungan manusia atau kasarnya agama buatan manusia.

 

Siapa saja dapat mengatakan bahwa agamanya agama wahyu sedangkan agama orang lain adalah agama buatan manusia. Kalau kita mengatakan kitab suci orang lain hanya buatan manusia belaka, mereka juga dapat mengatakan hal yang sama terhadap kitab suci kita.

 

Bapak-Ibu Umat Sedharma yang berbahagia;

 

 

Seperti dikatakan oleh seorang ahli sosiologi agama yang terkenal, Peter Berger, wahyu memang tidak dapat dibuktikan. Kebenaran wahyu hanya didasarkan oleh keyakinan semata. Karena wahyu itu keluar melalui mulut seseorang maharesi atau nabi. Siapa yang tahu apakah kata-kata Tuhan itu masuk melalui telinga atau otaknya? Dan apakah bedanya?.

Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Apakah Sifat Utama Agama Hindu?

 

Agama Hindu bukanlah agama dogmatik. Agama Hindu adalah agama yang terbuka, artinya keyakinan-keyakinan Hindu dapat ditafsirkan sesuai dengan semangat jaman. Agama-agama yang dogmatik sangat menekankan kepada "iman" yang bersifat dogma, yang harus percayai begitu saja, sekalipun tidak dapat dipahami dengan akal.

 

Penganut agama-agama ini biasanya mengatakan "Percayalah, atau masuklah agama saya, maka kamu akan selamat". Agama Hindu, adalah agama yang menekankan pada amal, perbuatan- perbuatan yang baik dan benar maka kamu akan selamat".

 

Apakah akibat Sifat-sifat itu Bagi Kehidupan Nyata Manusia?

 

Agama-agama dogmatik bisa membuat manusia memisahkan antara ibadah dengan perbuatan. Cukup dengan percaya saja, atau cukup dengan melakukan ibadat secara taat, mereka merasa sudah selamat (masuk surga). Atau ibadat dianggapnya sebagai "imbangan" dari perbuatannya. Dosa-dosa dalam kehidupan nyata seolah-olah ditebus oleh ibadat.

 

Agama Hindu menyatakan keyakinan dengan perbuatan, iman dan amal. Keyakinan dan ibadah itu harus tercermin dalam tingkah laku sehari-hari. Orang yang beragama dituntut untuk bertingkah laku pantas di masyarakat. Sering kita dengar ucapan "tak ada artinya ibadat, kalau tingkah lakunya tidak benar!". 

 

Bapak-Ibu Umat Sedharma yang berbahagia;

 

 

Agama-agama dogmatik cenderung menimbulkan fanatisme buta. Penganut agama ini biasanya berpendapat hanya agamanya sendiri yang benar. Agama orang lain salah. Agama Hindu, karena menekankan pada amal, bersifat sangat toleran. Pemeluk Hindu tidak pernah merasa lebih suci dari pemeluk agama lain.

 

Pemeluk Hindu tidak merasa paling benar sendiri, apalagi mengkafirkan pemeluk agama lain.

 

Sri Swami Sivananda, mengatakan "keramah-tamahan yang tulus dari agama Hindu sangat terkenal. Agama Hindu memberi perhatian terhadap semua agama. Agama Hindu tidak pernah mencela atau mencaci maki agama lain.

 

Agama Hindu menghormati kebenaran dari manapun datangnya. Inilah salah satu alasan mengapa kita memeluk agama Hindu. Alasan-alasan lain akan kita jumpai dalam pembicaraan- pembicaraan selanjutnya.

 

 

 

Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Harapan saya dari apa yang telah  saya sampaikan dapat bermanfaat bagi kita semua, Jika ada kekurangan dalam penyampaian dharma wacana ini saya mohon maaf. Karena tidak ada manusia yang sempurna, tiada gading yang tak retak. Akhir kata saya tutup dengan paramasantih.

Om Santih, Santih, Santih Om...

 

Rabu, 11 Januari 2023

PENGERTIAN CUNTAKA DAN RUANG LINGKUPNYA

NASKAH DIALOG : MIMBAR AGAMA HINDU

TEMA 2 : PENGERTIAN CUNTAKA DAN RUANG LINGKUPNYA

Ditulis untuk kegiatan BPH (Badan Penyiaran Hindu) Provinsi Banten oleh Admin Blog.


 

Prolog – Durasi 5 Menit

Menceritakan kegiatan umat Hindu

1.      Kegiatan Karawitan diiringi gambelan Geguntangan.

2.      Dibuka oleh presenter

3.      Dilanjutkan dengan dialog (sesuai skrip)



Dialog – durasi 15 Menit

Presenter & Narasumber : Om Swastiastu,

Presenter : Bapak Ibu se dharma yang berbahagia, pada Mimbar Agama Hindu kali ini kita telah disuguhi Kerawitan yang diiringi Geguntangan. Dari kegiatan kerawitan ini, ada beberapa hal yang memerlukan penjelasan bagi kita umat Hindu. Pada kesempatan yang baik ini telah hadir dihadapan kita, Ida Pandita Dharma Putra Paseban sebagai narasumber dalam Mimbar Agama Hindu ini yang bertema, Cuntaka.

 

Presenter : Ratu Pandita yang sampun meraga suci yang kami muliakan. Apa yang dimaksud dengan Cuntaka ?

Pandita  : Pemirsa yang budiman dan umat Hindu yang berbahagia. Cuntaka adalah keadaan tidak suci atau tidak bersih secara Niskala yang disebabkan oleh beberapa hal tertentu, seperti haid (datang bulan) bagi perempuan, melahirkan, keguguran dan kematian salah seorang anggota keluarga. Demikian ketentuan yang ada dalam Manawa Dharma Sastra, kemudian dalam Widhi Sastra, Catur Cuntakantaka, Pangalantaka, memerinci 11 keadaan yang menyebabkan Cuntaka dengan ruang lingkup dan jangka waktunya.

                   Sehingga Cuntaka itu tidak hanya datang bulan saja, dan tidak hanya perempuan saja. Tidak hanya orang dewasa saja, tetapi juga kepada anak-anak kita apabila ada salah satu anggota keluarga kita, ada yang meninggal.

                   Dalam keadaan Cuntaka umat Hindu tidak diperkenankan untuk memasuki tempat suci ataapun melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang dianggap suci.

 

Presenter : Apakah pekerjaan-pekerjaan suci yang dimaksudkan ?

Pandita  : Dalam agama kita, pekerjaan suci sering dikaitkan dengan pekerjaan yang berhubungan dengan keagamaan. Seperti membuat sesaji, banten atau upakara lainnya. Secara psikologis, wanita yang sedang datang bulan emosinya dalam keadaan tidak stabil, sehingga bisa berpengaruh pada perasaan, jiwa yang mana kita ketahui bersama, membuat banten atau upakara memerlukan jiwa yang tenang, seni, bergembira, penuh ketulus-ikhlasan.

 

Presenter : Apakah dalam keadaan Cuntaka bisa belajar Megeguritan seperti yang kita saksikan tadi ? bagaimana nike Ratu Pandita.

Pandita  : Para Pemirsa Televisi yang berbahagia. Kegiatan megeguritan, megending pupuh dalam keadaan latihan, bukan dalam situasi sedang melaksanakan Yadnya, Upacara Panca Yadnya, dalam keadaan Cuntaka tidak apa-apa. Sepanjang rasa hati kita tidak bertentangan, perasaan kita tidak ada penolakan, kegiatan itu tidak apa-apa. Kembali kepada jiwa emosional kita, semasih hal tersebut menyangkut pribadi kita, dan tidak melibatkan kepentingangan umum, itu dapat dilaksanakan.

Presenter : Bagaimana dengan membaca Sloka-Sloka, atau mempelajari mantra-mantra yang ada dalam lontar, Kitab Suci kita, apakah dalam keadaan Cuntaka diperbolehkan.

Pandita   : Pemirsa televisi yang budiman dan umat Hindu yang berbahagia. Membaca Sloka atau Gegitaan, kemudian ada megeguritan, ada yang disebut Mekidung, Karawitan, itu semua adalah seni Suara atau Dharma Gita. Di Bali kita sudah mengenal yang namanya “Sekar” yang ada empat; yaitu Sekar Rare, Sekar Alit, Sekar Madya dan Sekar Agung. Melalui kreasi seni suara ini ajaran keagamaan diselipkan di dalamnya. Ajaran yang menyangkut Tattwa, Susila dan Upacara, yang mana kita pahami ketiganya ini merupakan tiga kerangka dasar agama Hindu. Dalam bagian Upacara ada Panca Yadnya; Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Resi Yadnya, Manusa Yadnya dan Bhuta Yadnya.

                   Bagaimana kaitannya dengan keadaan Cuntaka ? Melantunkan “Sekar Rare” dan “Sekar Alit” lebih bersifat hiburan, melila cita, menyenangkan hati, membuat suasana menjadi indah dan tentram, tentu dalam keadaan Cuntaka tidak ada masalah. Berbeda halnya dengan Sekar Madya dan Sekar Agung yang pada umumnya dikaitkan dengan pelaksanaan Yadnya, yaitu Panca Yadnya.

                   Sekar Agung sering disebut dengan kekawin yang dibentuk berdasarkan wrtta, matra. Wrtta artinya banyak suku kata dalam tiap kalimat. Matra artinya kedudukan guru laghu dalam tiam Wrtta. Dalam satu pada kakawin biasanya terdiri dari empat baris kalimat, umumnya adalah sloka-sloka dalam Bhagawad Gita, yang diperdengarkan dalam kegiatan upacara Yadnya. Sehingga tidak boleh dilakukan oleh orang yang sedang Cuntaka.

Presenter : Seperti disebutkan diawal Cuntaka tidak hanya untuk perempuan tetapi juga laki-laki. Apa saja yang menjadi penyebab Cuntaka tersebut ?

Pandita   : Pemirsa yang budiman, adapun Penyebab Cuntaka dan Ruang Lingkupnya serta jangka waktu seseorang masih dalam keadaan Cuntaka adalah

1.      Kematian : Keluarga terdekat sampai dengan mindon, serta orang-orang yang ikut mengantarkan jenasah, demikian pula alat-alat yang dipergunakan dalam keperluan tersebut. Untuk jangka waktunya disesuaikan dengan, Loka Dresta (kebiasaan setempat) dan Sastra Dresta (ketentuan sastra).

2.      Datang Bulan / Haid, Cuntaka hanya untuk yang mengalami saja, termasuk juga kamar tidurnya. Untuk jangka waktu selama masih mengeluarkan darah sampai membersihkan diri.

3.      Bersalin atau melahirkan, Cuntaka untuk yang melahirkan dan suami (laki-laki), beserta seluruh rumah yang ditempati. Jangka waktu sekurang-kurangnya 42 hari dan berakhir setelah mendapat tirtha pebersihan.

4.      Keguguran, Cuntaka untuk yang mengalami dan suami (laki-laki) beserta seluruh rumah yang ditempati dalam jangka waktu sekurang-kurangnya 42 hari dan berakhir setelah mendapat tirtha pebersihan.

Presenter : Selain yang sudah Ratu Pandita sebutkan, apakah masih ada penyebab Cuntaka ?

Pandita   : Penyebab lain kita dikatakan Cuntaka, tadi baru disebutkan sebanyak 4, kita lanjutkan yang ke-5 

5.      Gamia Gamana, incest hubungan seks antara anak dengan orangtua, antara saudara sekandung. Ada pula yang menggolongkan pedofile, termasuk Gamia Gamana selain tentunya sebagai perbuatan kriminal. Ruang lingkup Cuntaka ini cukup luas, selain pada diri si pelaku juga desa adatnya. Jangka waktu berakhir sampai diadakan pebersihan baik terhadap pribadi pelaku maupun desa adatnya.

6.      Salah Timpal itu artinya berhubungan badan dengan hewan atau binatang, juga disebut dengan Agamia. Yang Cuntaka adalah yang melakukan dan desa adat setempat. Jangka waktu berakhir sampai diadakan pebersihan baik terhadap pribadi pelaku maupun desa adatnya.

7.      Hamil tanpa Upakara Keakaon juga termasuk dalam Cuntaka untuk pribadi dan kamar tidurnya. Jangka waktu berakhir bila telah dilaksanakan upacara Beakaon atau upacara perkawinan yang sah.

8.      Mitra Ngalang (nyolong semara, semara dudu) dalam bahasa Indonesia disebut pemerkosaan. Selain termasuk kriminal juga yang mengalami akan Cuntaka yang akan berakhir bila diadakan upacara beakaon

9.      Perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan agama dapat dikatagorikan sebagai Cuntaka pada pelakunya, seperti melakukan perbuatan Sad Tatayi yaitu Agnida ; membakar milik /diri orang lain, Visada ; Meracuni, Atharva ; melakukan praktek ilmu hitam, Sastragna ; Mengamuk, gelap mata, Dratikrama ; memperkosa, melakukan pelecehan, dan Rajapisuna ; menghasut,memfitnah.

Hal ini merupakan hal yang berkaitan dengan Susila kita, sehingga dalam kegiatan-kegiatan suci kita diharakan untuk senantiasa dalam keadaan bersih, suci pikiran, perkataan dan perbuatan.

Presenter : Pemirsa televisi yang budiman, demikian sudah dijelaskan kepada kita hal-hal yang berkaitan dengan Cuntaka, jadi tidak hanya perempuan saja yang mengalaminya tetapi juga bisa laki-laki, bahkan suatu desa.

                   Marilah kita sebagai umat Hindu untuk senantiasa meningkatkan Susila kita dalam pergaulan sehari-hari, sehingga kegiatan keagamaan yang kita lakukan senantiasa dapat suci nirmala tanpa leteh.

Umat Hindu Sedharma, demikianlah acara Mimbar Agama Hindu pada hari ini, semoga kita senantiasa dalam lindungan Ida Sanghyang Widhi Wasa.

Presenter & Narasumber : Om Santih-Santih-Santih Om

CHANNEL YOUTUBE SAYA - MOHON DI SUBSCRIBE

Cari Artikel di Blog ini

Berita Terkait Semangat Hindu

Artikel Agama Hindu

108 Mutiara Veda 3 kerangka agama hindu advaita visistadviata dvaita Agama Hindu Dharma agama islam Ajaran Hindu aksara suci om alien menurut hindu Apa yang dimaksud Cuntaka Apa yang dimaksud dengan Japa Apa yang dimaksud dengan Puja arcanam nyasa aris widodo artikel hindu arya dharma Arya Wedakarna Asta Brata Atharvaveda Atman avatara sloka babad Badan Penyiaran Hindu bagian catur weda bahasa jawa kuno bahasa kawi bahasa sanskerta Banggalah Menjadi Hindu banten hindu bali Belajar Hindu BELAJAR ISTILAH AGAMA HINDU bhagavad gita Bhagawadgita bhagawan bhuta yadnya Bimas Hindu BPH Banten brahma wisnu siwa Brahman Atman Aikyam brahmana ksatriya wesia sudra budaya bali budha kliwon sinta Bukan Heroisme buku hindu terpopuler Canakhya Nitisastra cara sembahyang hindu catur asrama Catur Brata Catur Cuntakantaka Catur Purusha Artha Catur Purusharta catur veda Catur Warna Catur Weda Cendekiawan Hindu Cinta Kasih Dalam Perspektif Hindu Dana Punia Deva adalah sinar suci Brahman Deva Brahma Deva Indera dewa dewi hindu dewa yadnya dewata nawa sanga dewi kata-kata dewi saraswati dharma artha kama moksa Dharma Santi dharma wacana Doa Anak Hindu donasi buku hindu epos mahabharata ramayana filosofi pohon bambu filsafat agama hindu ganesha Gayatri Sebagai Mantra Yoga Hari Raya Galungan Hari Raya Kuningan Hari Raya Nyepi Hari Raya Pagerwesi Hari Raya Saraswati Hari Raya Siwaratri HINDU adalah ARYA DHARMA HINDU ADALAH SANATHANA DHARMA HINDU ADALAH VAIDHIKA DHARMA Hindu Agama Terbesar di Dunia Hindu Banten Hindu beribadah di Pura Hindu Festival Hindu Indonesia hindu nusantara Hindu Tengger Hinduism Facts Hinduism the Greatest Religion in the Word Hukum Karma Ida Pedanda sakti isi catur weda Jadilah Manusia Setia Japa dan Mantram Jiwa jual buku hindu kakawin Kamasutra Keagungan Aksara Suci OM Kekawin Lubdhaka kepemimpinan jawa kuna Kerajaan Hindu Keruntuhan Agama Hindu kesadaran diri kidung dewa yadnya Kitab Suci Weda lontar Lontar Kala Maya Tattwa Maharsi Atri Maharsi Bharadvaja Maharsi Gritsamada Maharsi Kanva Maharsi Vamadeva Maharsi Vasistha Maharsi Visvamitra manawa dharma sastra Mantra Mantra Yoga manusa yadnya Meditasi Matahari Terbit Mengapa Kita Beragama menghafal sloka Mimbar Agama Hindu Moksha Motivasi Hindu Mpu Jayaprema nakbalibelog Naskah Dialog Nuur Tirtha Om or Aum one single family opini hindu moderat Panca Sradha panca yadnya Panca Yajna pandita Panglong 14 Tilem Kepitu parahyangan agung jagatkartta paras paros segilik seguluk Pasraman Pasupati Pembagian Kitab Suci Veda Pemuda Hindu Indonesia pendidikan hindu pengertian catur weda Pengertian Cuntaka penyuluh agama hindu Peradah percikan dharma Percikan Dharma Dewa Yajna phdi pinandita Pitra Yadnya Ngaben Pitrapuja potong gigi Principle Beliefs of Hinduism Proud To Be Hindu Puja dan Prathana Pujawali purana purnama tilem Purwaning Tilem Kapitu Radio online Bali rare angon nak bali belog Reinkarnasi Rgveda ritual hindu Roh Rsi yadnya sabuh mas sad darsana sad guru Samaveda sanatana dharma sang hyang pramesti guru Sang Kala Amangkurat Sang Kala Dungulan Sang Kala Galungan Sang Kala Tiga sapta rsi Sapta Timira Sarassamuscaya Sarassamuscaya Sloka sattvam rajah tamah sejarah agama hindu Sekta Hindu Semangat Hindu seni budaya hindu Sex and Hinduism siwa budha waesnawa siwa ratri Sloka sloka bhagawad gita sloka bhatara sloka Rgveda sloka yayurveda Slokantara Sloka Spiritual Bersifat Misterius spiritualitas hindu spma ribek sradha dan bhakti sri rama krishna paramahansa Sri Sathya Sai Baba Sri Svami Sivananda sumpah dalam perkara tabuh gesuri tabuh kreasi baru tabuh telu lelambatan tantri kamandaka tat twam asi tattwa susila upakara Tempat Suci Hindu tiga hubungan harmonis tri hita karana Tri kaya parisudha tri kerangka agama hindu tri mala tri pramana Triji Ratna Permata tujuan perkawinan tujuh penerima wahyu tumimbal lahir upacara hindu upacara menek deha Upanisad upaweda Utsawa Dharma Gita vaidhika dharma Vasudhaiva Kutumbakam VEDA ADALAH ILMU PENGETAHUAN SUCI vedangga Vijaya Dashami Wasudewa Kutumbhakam widhi tatwa wija kasawur wiwaha agama hindu Yajna dan Sraddha yajna dan sradha Yayurveda Yoga Kundalini