OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM

PRAKATA

Selamat Datang

Semangat Hindu merupakan blog bersama umat Hindu untuk berbagi berita Hindu dan cerita singkat. Informasi kegiatan umat Hindu ini akan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan.
Semangat Hindu semangat kita bersama.

Bersama Semangat Hindu kita berbagi berita dan cerita, info kegiatan, bakti sosial dan kepedulian, serta kegiatan keagamaan seperti ; pujawali, Kasadha, Kaharingan, Nyepi, Upacara Tiwah, Ngaben, Vijaya Dhasami dan lain sebagainya.

Marilah Berbagi Berita, Cerita, Informasi, Artikel Singkat. Bagi yang mempunyai Web/Blog, dengan tautan URL maka dapat meningkatkan SEO Web/ blog Anda.

Terima Kasih
Admin

RANBB

---#### Mohon Klik Share untuk mendukung blog ini ####---

Tampilkan postingan dengan label Catur Brata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catur Brata. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Juni 2023

Percikan Dharma Catur Purusha Artha

Percikan Dharma Catur Purusha Artha


Om Swastyastu

Umat sedharma, perlu kita ketahui bahwa catur purusha artha berasal dari kata catur artinya empat, purusha artinya jiwa manusia dan artha artinya tujuan hidup. Jadi catur purusha artha artinya empat tujuan hidup manusia. Keempat tujuan hidup manusia itu terjalin erat sehingga juga disebut catur warga. Untuk itu dalam kitab suci disebutkan bahwa tujuan agama Hindu adalah untuk mencapai Jagadhita dan Moksa. Jagadhita artinya kesejahteraan hidup di dunia dan Moksa artinya kebebasan yang kekal abadi. 



Dharma artinya segala perilaku yang luhur, perilaku manusia yang sesuai dengan ajaram agama. Ajaran agama menuntun, membina, dan mengatur hidup manusia sehingga mencapai kesejahteraan hidup lahir dan batin. Ada dua hal yang perlu diketahui yakni swa dharma artinya kewajiban sendiri dan para dharma artinya menghormati dan menghargai tugas dan kewajiban orang lain. Dharma berasal dari kata dhr artinya menjinjing, memangku, memelihara dan mengatur. 


Artha artinya harta benda atau kekayaan. Harta benda didapat harus dengan berdasarkan dharma karena tanpa berdasar dharma harta yang kita dapat sia-sia. Arta atau kekayaan dibagi tiga yaitu 1. Untuk tujuan dharma, melaksanakan kegiatan keagamaan, 2. Sarana untuk memenuhi kama, keperluan sehari-hari, 3. Untuk kelangsungan usaha  dalam bidang artha agar bisa berkembang kembali. Dalam mencari artha harus berdasarkan dharma agar kekayaan atau harta benda yang didapat bermanfaat bagi keluarga.


Kama artinya hawa nafsu atau keinginan, keinginan dapat nemberikan kenikmatan dan tujuan hidup. Dalam kehidupan ini semua orang butuh kenikmatan dan keinginan tersebut harus diupayakan agar semua bisa tercapai namun semua itu harus dilandasi dengan dharma. Karena kama tanpa dilandasi dharma akan menjerumuskan kejurang neraka. hawa nafsu ibaratnya kuda liar kalau tidak kita kendalikan akan membuat kurang saja dan maunya harus dituruti terus menerus. Kalau semua itu sesuai dengan keinginannya maka ia akan puas, senang dan gembira tentunya. 


Moksa artinya kebebasan hidup yang keksl dan abadi. Bebas dari semua ikatan benda-benda duniawi serta bersatunya Atman dengan Brahman (Sang Hyang Widhi Wasa). Moksa adalah tujuan akhir dari kehidupan  manusia. Moksa mempunyai arti yang luas yang disebut mukti artinya kebebasan jiwatman atau kebahagiaan rohani yang berlangsung. Artinya tidak akan terlahir ke dunia ini lagi. 


Oleh karena itu untuk mencapai kebebasan ini modal yang harus dilalui melaksanakan dharma selama dalam hidupnya, artha yang didapatkan berdasarkan dharma, memenuhi keinginan berdasarkan dharma akhirnya moksalah didapatkannya. Demikian beratnya untuk mencapai moksa tidaklah semudah membalikkan telapak tangan dan usaha keras yang harus dilakukan tanpa henti niscaya moksa akan didapatkannya.

Om Santih Santih Santih Om


Aris Widodo

Penyuluh Agama Hindu

Kota Serang

Selasa, 07 Maret 2023

Catur Brata Penyepian

 Percikan Dharma

Catur Brata Penyepian


Om Swastyastu


Umat se-dharna, dalam perjalanan hidup manusia ini kita harus ada instrupeksi diri agar kehidupan berjalan sesuai apa yang direncanakan. Oleh karena itu dalam setahun ini kita harus mampu berkaca diri   setahun  lalu telah di perbuatnya.


Dalam rangka menjalani kehidupan ini ada waktunya untuk instropeksi diri yaitu bertepatan dengan hari raya Nyepi tahun baru saka yang dilaksanakan dalam setahun sekali oleh umat Hindu. Dengan Catur Brata Penyepian itulah umat Hindu menjalani instropeksi diri dalam perjalanan hidup satu tahun yang lalu, apa yang sudah dilakukan dan apa yang belum dilakukan.


Yang pertama, Amati Geni yaitu tidak menyalakan api maksudnya tidak melakukan kegiatan yang kaitannya dengan menggunakan api, terkait dengan memasak makanan dan minuman sehingga umat Hindu melaksanakan puasa atau pawasa dalam kurun waktu 24 jam atau 36 jam setelah melaksanakan Tawur Agung Kesanga. Hal ini agar umat manusia bisa merasakan bagaimana merasakan pawasa sehingga tubuh ini berhenti beraktivitas secara penuh.


Yang kedua, Amati karya yaitu tidak melakukan kerja maksudnya tidak melakukan pekerjaan apapun sehingga dalam masa ini khusus untuk instropeksi diri bagaimana diri ini hanya memikirkan langkah apa yang telah dilalukan dan apa yang akan dilakukan. Dengan menghentikan aktivitas kerja selama 24 jam atau 36 jam ini manusia diharapkan mawas diri agar kehidupsn ke depan lebih baik lagi.


Yang ketiga, Amati Lelanguan yaitu tidak melakukan kesenangan maksudnya tidak melakukan segala kesenangan baik kesenangan melalui panca indria maupun dasa indria. Dengan menghentikan semua kesenangan ini agar terfokus pada pengendalian diri sehingga manusia mampu menghadirkan bagaimana menyikapi bahwa kesenangan dapat membuat manusia lupa diri.


Yang keempat, Amati Lelungan yaitu tidak melakukan aktivitas berpergian maksudnya tidak melakukan berpergian agar umat manusia hanya fokus pada mawas diri sehingga tidak melakukan kesalahan dalam suatu perjalanan di luar sana. Dengan tidak berpergian ini diharapkan umat manusia dapat mawas diri bagaimana yang bisa setahun yang lalu dan setahun harus dilakukan setahun ke depan.


Demikian yang perlu diingat dan selalu dilakukan oleh umat Hindu dalam perjalanan hidup manusia setiap tahunnya sehingga dapat terus ditingkatkan dari tahun ke tahun. Oleh karena itu umat manusia dihimbau untuk instropeksi diri atau mawas diri karena tidak selamanya manusia melakukan yang baik saja namun juga masih melakukan kesalahan-kesalahan baik yang disengaja maupun tidak disengaja.

Om Santih Santih Santih Om


Aris Widodo

Penyuluh Agama Hindu

Kota Serang

Minggu, 01 Januari 2023

Catur Brata Penyepian

 Catur Brata Penyepian

Percikan Dharma

Catur Brata Penyepian

Om Swastyastu

Umat se-dharna, dalam perjalanan hidup manusia ini kita harus ada instrupeksi diri agar kehidupan berjalan sesuai apa yang direncanakan. Oleh karena itu dalam setahun ini kita harus mampu berkaca diri   setahun  lalu telah di perbuatnya.

Dalam rangka menjalani kehidupan ini ada waktunya untuk instropeksi diri yaitu bertepatan dengan hari raya Nyepi tahun baru saka yang dilaksanakan dalam setahun sekali oleh umat Hindu. Dengan Catur Brata Penyepian itulah umat Hindu menjalani instropeksi diri dalam perjalanan hidup satu tahun yang lalu, apa yang sudah dilakukan dan apa yang belum dilakukan.

Yang pertama, Amati Geni yaitu tidak menyalakan api maksudnya tidak melakukan kegiatan yang kaitannya dengan menggunakan api, terkait dengan memasak makanan dan minuman sehingga umat Hindu melaksanakan puasa atau pawasa dalam kurun waktu 24 jam atau 36 jam setelah melaksanakan Tawur Agung Kesanga. Hal ini agar umat manusia bisa merasakan bagaimana merasakan pawasa sehingga tubuh ini berhenti beraktivitas secara penuh.

Yang kedua, Amati karya yaitu tidak melakukan kerja maksudnya tidak melakukan pekerjaan apapun sehingga dalam masa ini khusus untuk instropeksi diri bagaimana diri ini hanya memikirkan langkah apa yang telah dilalukan dan apa yang akan dilakukan. Dengan menghentikan aktivitas kerja selama 24 jam atau 36 jam ini manusia diharapkan mawas diri agar kehidupsn ke depan lebih baik lagi.

Yang ketiga, Amati Lelanguan yaitu tidak melakukan kesenangan maksudnya tidak melakukan segala kesenangan baik kesenangan melalui panca indria maupun dasa indria. Dengan menghentikan semua kesenangan ini agar terfokus pada pengendalian diri sehingga manusia mampu menghadirkan bagaimana menyikapi bahwa kesenangan dapat membuat manusia lupa diri.

Yang keempat, Amati Lelungan yaitu tidak melakukan aktivitas berpergian maksudnya tidak melakukan berpergian agar umat manusia hanya fokus pada mawas diri sehingga tidak melakukan kesalahan dalam suatu perjalanan di luar sana. Dengan tidak berpergian ini diharapkan umat manusia dapat mawas diri bagaimana yang bisa setahun yang lalu dan setahun harus dilakukan setahun ke depan.

Demikian yang perlu diingat dan selalu dilakukan oleh umat Hindu dalam perjalanan hidup manusia setiap tahunnya sehingga dapat terus ditingkatkan dari tahun ke tahun. Oleh karena itu umswwwat manusia dihimbau untuk instropeksi diri atau mawas diri karena tidak selamanya manusia melakukan yang baik saja namun juga masih melakukan kesalahan-kesalahan baik yang disengaja maupun tidak disengaja.
Om Santih Santih Santih Om

Aris Widodo
Penyuluh Agama Hindu
Kota Serang



Rabu, 18 Mei 2022

Percikan Dharma Catur Asrama

 Percikan Dharma Catur Asrama  (Empat tahapan hidup manusia)

Om Swastyastu

Umat sedharma, dalam kehidupan ini ada empat tahapan kehidupan yang disebut Catur Asrama.

1. Brahmacasri Asrama, artinya suatu tingkatan atau tahapan untuk menuntut ilmu pengetahuan. Dalam kitab manawa dharma sastra disebutkan bahwa umur untuk mulai belajar adalah semasa ansk-anak yaitu dimulai dari umur 5 tahun dam selambat-lambatnya umur 8 tahun. Pada masa ini wajib menuntut ilmu pengetahuan untuk mempersiapkan diri menuju masa depan yang gemilsng, "taki katining sewaka guna widya". Artinya seorang siswa wajib menuntut mu samasa muda.


2. Grhasta, artinya suatu tingkatsn atau tahapan hidup berumah tangga. Grhasta berasal dari dua kata grha dan stha. Grha  artinya rumah, stha artinya berdiri atau membina. Jadi Grhasta artinya masa membina rumah tangga. Pada masa grhasta tujusn hidup yang diprioritaskan adalah mendapatkan artha dan memenuhi kama. Adapun tujuan grhasta yang utama adalah mencari harta benda untuk dapat memenuhi hidup (kama) dengan berdasarkan dharma. Kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang grhasta adalah

1. Bekerja mencari harta

2. Menjadi pemimpin rumah tangga

3. Menjadi anggota masyarakat yang baik

4. Melanjutkan keturunan.


3. Wanaprastha, artinya suatu tingkatan atau tahapan hidup manusia pada masa persiapan untuk melepaskan diri dari ikatan keduniawian. Wanaprastha artinya mengasingkan diri ke dalam hutan dengan mendirikan pertapaan. Pada masa ini kewajiban sudah tidak ada lagi di dunia seperti anak-anaknya sudah pada berumah tangga.tujuan hidup pada masa grhastha adalah persiapan mental dan fisik untuk dapat menyatu dengan Hyang Widhi.


4. Bhiksuka atau Sannyasin, artinya peminta-minta, maksudnya pada masa ini orang sudah tidak mampu lagi untuk mencari kehidupannya sendiri, sehingga mereka hidup dari belas kasihan dari anak-anaknya. Bhiksika atau Sannyadin adalah tingkatan atau tahapan kehidupan telah lepas sama sekali dari segala ikatan keduniawian (Moksa) dan hanya mengabdikan diri kepada Hyang Widhi.


Demikian umat sedharma bahwa dalam Catur Asrama yang harus dijalaninya sesuai tahapan-tahapan yang sudah diberikan dari Hyang Widhi melalui para Maharsi kita sehingga kita tinggal menjalaninya.

Om Santih Santih Santih Om


Aris Widodo

Penyuluh Agama Hindu

Kota Serang

Minggu, 10 Maret 2019

Percikan Dharma Pemimpin Menurut Asta Brata

Percikan Dharma
Pemimpin Menurut Asta Brata


Umat se-dharma, perlu kita ketahui bahwa suatu bangsa pasti ada seseorang yang akan menjadi pemimpin. Untuk itu pemimpin yang baik dalam memimpin suatu bangsa menurut Asta Brata. Asta Brata artinya ajaran utama rentang kepemimpinan, yang merupakan petunhuk Sri Rama kepada Bharata (adiknya) yang akan dinobatkan menjadi raja Ayodhya.



Asta Brata disimbolkan dari sifat-sifat mulia dari alam semesta yang patut dijadikan pedoman bagi setiap pemimpin yaitu:



1. Indra Brata. Seorang pemimpin hendaknya seperti hujan yaitu senantiasa mengusahakan kemakmuran bagi rakyatnya dan dalam tindakannya dapat membawa kesejukan dan penuh kewibawaan.

2. Yama Brata. Pemimpin hendaknya meneladani sifat-sifat Dewa Yama yaitu berani menegakkan keadilan menurut hukum atau peraturan yang berlaku demi mengayomi masyarakat.

3. Surya Brata. Pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat seperti Matahari (Surya) yang mampu memberikan semangat dan kekuatan pada kehidupan  yang penuh dinamika dan sebagai sumber energi.

4. Candra Brata. Pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat seperti Bulan yaitu mampu memberikan penerangan bagi rakyatnya yang berada dalam kegelapan/kebodohan dengan menampilkan wajah yang penuh kesejukan dan penuh simpati sehingga masyarakatnya merasa tentram dan hidup nyaman.

5. Vayu Brata. Pemimpin hendaknya ibarat angin, senantiasa berada ditengah-tengah masyarakatnya, memberikan kesegaran dan selalu turun ke bawah untuk mengenal denyut kehidupan masyarakat yang dipimpinnya.

6. Bhumi Brata (Danada). Pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat utama dari Bumi yaitu teguh, menjadi landasan berpijak dan memberi segala yang dimiliki untuk kesejahteraan masyarakatnya.

7. Varuna Brata. Pemimpin hendaknya bersifat seperti Samudra yaitu memuliki wawasan yang luas, mampu mengatasi setiap gejolak (riak) dengan baik, penuh kearifan dan kebijaksanaan.

8. Agni Brata. Pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat mulia dari Api yaitu mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan, tetap teguh dan tegak dalam prinsip dan menindal/menghanguskan ysng bersalah tanpa pilih kasih.

Demikianlah seharusnya seorang pemimpin harus memiliki semua sifat-sufat alam semesta kalau bisa minimal salah dua atau satu sehingga rakyat benar-benar diperhatikan oleh pemimpin tersebut.

Narasumber : Aris Widodo

Minggu, 23 April 2017

Nyepi, Kerja, dan Kemuliaan Hidup

Nyepi, Kerja, dan Kemuliaan Hidup



Om Swastiastu.
Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam Sejahtera untuk kita sekalian,
Namo Buddayo.

Yang terhormat Presiden RI, Bpk Ir. Joko Widodo
Ketua DPR RI dan anggota DPR RI asal Bali
Ketua DPD RI serta anggota perwakilan Bali
Menteri Agama Republik Indonesia dan Menteri lainnya
Pejabat Tertinggi dan Tinggi Negara
Panglima TNI RI
Ketua Dharna Adyaksa,
Sabha Walak Parisada Hindu Dharma Pusat
Ketua Pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Pusat,
Para Pimpinan Majelis Agama,
Para Pinisepuh Umat,
Para Undangan dan Umat Sedharma yang berbahagia.

Pada tanggal 28 Maret 2017 yang lalu, umat Hindu di seluruh pelosok nusantara baru saja melaksanakan hari raya Nyepi, sebagai penanda awal tahun baru saka 1939. Sebelumnya, dilaksanakan upacara melasti, yaitu upacara penyucian pratima ke sumber-sumber mata air atau laut.

Sehari sebelum Nyepi, umat Hindu secara nasional mengadakan upacara Tawur [ruwatan bumi] yang dipusatkan di depan candi Prambanan, Jateng diikuti dengan hal yang sama di masing-masing Provinsi lain. Setelah hari raya Nyepi, umat Hindu menyelenggarakan acara Dharmasanti sebagaimana dilaksanakan malam ini, sebuah acara formal untuk saling maafmemaafkan serta memberikan dukungan satu sama lain.

Bapak Presiden yang saya muliakan dan hadirin yang saya hormati,

Pada kesempatan dharma wacana ini, ijinkan saya menyampaikan petikan dialog yang inspiratif, antara Judistira dengan Yaksa [tentu bukan Jaksa atau Jaksa Agung]. Dialog terjadi, ketika Judistira melihat empat saudaranya tewas di tepi danau dalam hutan ganas Nandaka. Tempat panca pandawa menjalani hukuman akibat kalah berjudi.

Ketika Judistira melihat empat saudaranya tewas, ia bergumam dengan lirih: ”Ya Tuhan, kenapa empat saudaraku mengalami nasib seperti ini, tewas di tepi danau. Adakah hal salah telah dilakukannya ? Tiba-tiba terdengar suara menggelegar dari langit, yang tidak lain berasal dari Yaksa. “Wahai anakku Judistira, apa yang menimpa adik-adikmu, akibat perbuatannya sendiri.

Mereka dengan lancangnya mengambil air milikku tanpa terlebih dahulu meminta ijinkku. Siapapun tidak berhak melakukan tindakan seperti itu. Terlebih lagi sebagai Ksatrya, seharusnya lebih paham mengenai peraturan, tentu lebih tidak patut melakukan tindakan itu, mengambil sesuatu yang bukan haknya, menikmati sesuatu bukan karena hasil kerjanya.

Oleh karena itu, engkau jangan terlalu bersedih, itu adalah pahala dari karma nya sendiri, hukum karma-phala sedang berjalan. Duh paduka Yaksa, maafkanlah kesalahan dan dosa-dosa saudara hamba. Kesalahan yang dilakukannya, bukan semata-mata kesalahan mereka, melainkan hambalah yang memintanya untuk mencari air yang akan kami berikan kepada istri hamba, Drupadi.

Hamba saudara berlima tidak mungkin dipisahkan. Walau hamba berbeda dalam ciri fisik, watak, dan ibu yang melahirkan, kami tetap bersaudara dalam perbedaan [bina ika tunggal ika]. Bima, tinggi besar, kulitnya rada hitam, tempramental, sementara Arjuna tampan, kulitnya halus, semampai, dan lembut. Sedangkan adik hamba Nakula dan Sahadewa si kembar, bawaannya lemah-lembut, seniman, pintar, dan santun. Perbedaan itu adalah keindahan yang harus hamba pelihara Paduka.

Oleh sebab itu paduka Yaksa, sekali lagi kami mohon agar adik-adik hamba dapat dihidupan kembali, agar kami berlima dapat mendarma baktikan hidup kami untuk negeri yang kami amat cintai. Setelah mendengar motivasi permohonan memelas dari Judistira, maka Yaksa berkata: ”baiklah Judistira, Aku akan hidupkan saudara-saudaramu, dengan syarat kamu bisa menjawab tiga plus satu pertanyaanku’. Judistira pun sepakat “monggo paduka”, Judistira siaaap mengikuti UNBK.

Pertanyaan pertama Yaksa: “apakah yang lebih tinggi dari langit ? Mendengar pertanyaan itu, Judistira melongok ke atas melihat langit biru, dan mejawab: maaf paduka, yang lebih tinggi dari langit, tiada lain adalah akasa, ayah, purusa, lingga. Yaksa berkata: benar Judistira. Ayah, harus dihormati, ayah-akasa-purusa-lingga posisinya menjadi pandu bagi anggota lainnya.

Ida Bagus Gde Yudha Triguna
Kamu ada, juga karena benih purusa, lingga, dan ayah. Akan tetapi, perlu engkau ketahui, predikat ayah yang mulia itu, baru akan kamu pantas sandang, jika engkau bertanggung jawab, tidak abai terhadap keluargamu. Yaksa kemudian mengajukan pertanyaan kedua: “apakah yang lebih berat dari bumi” ? Sambil berfikir, Judistira melihat ke bawah ke tanah yang dipijaknya, sembari menjawab: menurut hemat hamba, yang lebih berat dari bumi tiada lain ibu, pertiwi, predana, yoni. Bagus Judistira ! Ibu, pertiwi, predana, dan yoni adalah lambang kesuburan. Bibit yang baik, tidak akan mungkin tumbuh menjadi kehidupan tanpa ditampung oleh wadah yang subur.

Satu hal yang juga perlu engkau ketahui Judistira, pertiwi selalu akan memberikan apa yang engkau tanam. Jikalau engkau menanam jagung, maka engkau akan memetik jagung, tidak mungkin ketela. Jika engkau berbuat baik, maka engkau akan memperoleh kebaikan, sebaliknya jika engkau menanam keburukan maka cepat atau lambat engkau akan memetiknya.

Oleh karena itu wahai Judistira, rawatlah ibu pertiwi ini dengan sebaik-baiknya, Engkau bisa menghentikan penjarahan dan eksploitasi alam yang sewenang-wenang. Alam mengandung percikan jiwa Tuhan, berupa energi [bayu] dan suara [sabda], alam juga bisa merintih sedih seperti halnya manusia. Orang Jawa, Madura, Bali, Batak, Minang, Dayak, Ambon, Papua, dan lainnya harus bersama-sama menjaga dan merawat ibu-pertiwi, vayam raster jagrayama purohitah [setiap orang berkewajiban melindungi bangsa dan negaranya, Yayurveda IX.23] agar dia tetap cantik-lestari, tidak bopengbopeng, di manapun engkau berada dan mencari kehidupan.

Yaksa melanjutkan petuahnya: “Ketahuilah Judistira, tiada energi apapun akan tercipta jika kedua unsur tadi [akasa dan pertiwi] tidak bersatu. Angin, hujan, petir, dan kamu sendiri ada karena penyatuan akasa dan pertiwi, karena bersatunya ayah dan ibu, lingga dengan yoni.

Dapat dibayangkan jika ekskutif dan legislatif tidak harmoni dan tidak bersatu, maka tidak akan ada dinamika pembangunan yang full power. Oleh karena itu Judistira, jangan pernah meremehkan satu di antara kedua unsur tadi. Keduanya harus diberi posisi yang equal dan dihormati.

Dua pertanyaan sudah dijawab dengan baik oleh Judistira, kemudian Yaksa melanjutkan pertanyaan ketiga: “apakah yang lebih banyak dari pasir di laut atau rumput di ladang” ? Waduh, soal UNBK semakin sulit gumam Judistira. Setelah pranayama, menarik nafas dalam-dalam melalui hidung, menahannya sebentar, dan mengeluarkannya secara pelan-pelan melalui mulut, Judistira kemudian menjawab: “keinginan” paduka Yaksa.

Betul Judistira, keinginan bergerak lebih cepat dari bilangan angka. Ketika kita menyatakan satu, keinginan langsung menjadi dua, tiga, dan seterusnya. Sudah punya mobil satu, ingin punya dua, tiga. Sudah punya rumah satu ingin punya rumah dua, tiga, dan seterusnya. Ayahmu dulu, sudah punya Dewi Kunti, masih juga pingin punya Dewi Madri, untung jaman itu belum terkenal Dewi........[stop press]. Keinginan yang menggelora dan liar harus dikendalikan Judistira.

Saat Nyepi, ketika melaksanakan catur berata dengan tidak bersenang-senang [amati lelanguan], tidak bepergian [amati lelungaan], tidak menyalakan api [amati gni], dan tidak bekerja [amati karya], itu merupakan usaha manusia mengendalikan diri dari pengaruh keinginan [ahangkara] dalam wujud rãga [nafsu], lobha [tamak], kroda [marah], mada [mabuk], irsya [iri hati], dan moho [bingung]. Itulah sebabnya, saat Nyepi umat Hindu harus melakukan kontemplasi terhadap dirinya, untuk senantiasa berusaha mengekang pengaruh keinginan [ahangkara] liar ke tingkat minimal.

Dengan kekuatan budhi dan wiweka-nya, manusia menimbang betapa mengumbar nafsu, menjadi manusia tamak, iri hati, dengki, pemarah dan melakukan tindakan kekerasan [krurakarma] kepada semua makhluk, terlebih dilakukan kepada manusia, tidak akan pernah menginspirasi manusia mencapai kemuliaan hidup.

Bapak Presiden dan hadirin yang saya muliakan,

Setelah Judistira menjawab ketiga pertanyaan sesei pertama, Yaksa kemudian bersabda: Wahai Judistira putra Kunti, engkau telah mampu menjawab ketiga pertanyaanku dengan baik.

Oleh karena itu, aku akan memberimu satu poucer untuk menghidupkan satu dari empat saudaramu yang tewas. Silahkah pilih mana di antara keempat saudaramu yang akan engkau hidupkan kembali. Dengan sedih Judistira memohon, ‘paduka Yaksa, jika memungkinkan, hamba mohon keempat saudara hamba dihidupkan kembali, bukan hanya satu.

Bagaimana mungkin hamba dan salah satu di antara mereka saja yang hidup, sementara tiga lainnya tewas. Yaksa dengan berwibawa dan bergeming menjawab, “tidak bisa Judistira”, silahkan pilih satu di antara saudaramu untuk dihidupkan kembali. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Judistira menjawab dengan perlahan.

Baik paduka Yaksa, jika demikian halnya, maka saya mohon yang dihidupkan salah satu di antara Nakula atau Sahadewa. Begitu mendengar jawaban Judistira, giliran Yaksa yang terkejut. Apa ? Nakula atau Sahadewa ? Bukankah engkau memerlukan Bima, yang badannya tinggi-besar-perkasa-ahli menggunakan senjata gada. Apa tidak lebih baik engkau menghidupkan Arjuna, si tampan, ahli strategi, ahli perang dan juga ahli dalam menggunakan busur panah ? Bagaimana logikamu Judistira ?

Paduka yang mulia, hamba ini putra Dewi Kunti sudah hidup seorang, seharusnya putra Dewi Madri juga hidup satu orang. Jika hamba menggunkan poucer ini untuk menghidupkan saudara kandung hamba Bima atau Arjuna, maka hamba telah berlaku tidak adil, hanya memikirkan diri sendiri, memikirkan kerabat seibu sendiri, tanpa pernah memikirkan saudara lain.

Jika ibu Madri mendengar dan tahu, betapa sedihnya melihat kenyataan ini. Betapa remuk hati seorang ibu Madri, jika keturunannya musnah, sementara keturunan yang berasal dari ibu lainnya hidup. Oleh karena itu Paduka Yaksa, Keadilan tidak ditentukan oleh seberapa banyak produk perundang-undangan serta peraturan yang dibuat dan telah ada, tetapi keadilan itu akan tegak jika pemimpinnya mau bertindak adil dan memiliki good will untuk mewujudkan keadilan.

Mohon ampun paduka yang mulia, sampurasun...hamba tidak mencoba menggurui paduka, hamba hanya menjelaskan pikiran hamba yang sederhana ini, kata Judistira. Keadilan tidak ditentukan oleh jumlah, ciri fisik, watak, Bahasa, ataupun daerah. Yang lebih banyak jumlahnya, memang seharusnya dapat lebih banyak, tetapi juga tidak boleh mengabaikan yang kecil. Hitam-kriting-besar ciri fisiknya tidak boleh diabaikan karena yang putih-bersih-dan semampai. Yang bersih kelihatan bersih, karena ada yang hitam. Yang besar kelihatan besar, karena ada yang kecil. Barat-Tengah-Timur, utara-selatan semuanya itu harus dilihat sebagai bagian-bagian yang membuat negeri ini indah [Bhineka Tunggal Ika].

Itulah yang ada dalam pikiran hamba yang bodoh ini, maafkan hamba jika paduka tidak berkenan. Bapak Presiden dan Hadirin yang saya muliakan, Begitu mendengar jawaban Judistira, Yaksa tersenyum puas dan bersabda: Engkau lulus dengan predikat Summa Cumlaude, predikat kelulusan tertinggi, dan berhak atas penghargaan serta poucer tambahan. Lagi pula engkau pantas menjadi Raja yang berkeadilan.

Oleh karena itu, aku akan hidupkan keempat saudaraku yang tewas, agar kamu bisa mendarma baktikan hidupmu untuk negeri tercinta ini, sekali lagi Aku tegaskan “untuk mendharma bhaktikan sisa hidupmu untuk negeri ini, sekalipun engkau sudah tidak menjadi Raja lagi”.

Sebagai tambahan, Aku akan memberimu empat pesan penting, yaitu pertama: agar engkau dan saudaramu tetap dekat dengan rakyatmu, hiduplah selalu di hati rakyat, perilakumu jangan pernah berubah karena kedudukan.

Jika engkau hidup rakus, tamak, dan egois dengan mengumbar kemarahan, memaki-maki orang lain, itu sama artinya engkau memarahi dan menyakiti dirinya sendiri anakku Judistira, itu bertentangan dengan ajaran tat twam asi.

Pada waktu, hari, dan bulan yang baik lakukan Japa, meditasi, semadi, dan puasa, sebagai momentum memuliakan diri dan orang lain sesama anak bangsa dengan cara lebih peka terhadap kemiskinan yang masih menimpa sebagian anak negeri ini.

Pesan tambahanku yang kedua, sebagai manusia yang hendak mencapai kemuliaan hidup, engkau harus semakin menyadari betapa pendidikan menjadi modal untuk mencapai kemuliaan hidup sebagaimana tersirat dalam sloka vidya dhanam sarvadhana pradhanam [pengetahuan adalah kekayaan tertinggi]. Ketiga, Manusia Hindu juga diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi hidup damai [shanti] dalam suasana kehidupan yang multikultural.

Bapak Presiden yang amat saya hormati dan banggakan,

Pesan tambahan terakhir yang ingin Aku sampaikan kepadamu Judistira, setelah melaksanakan hening satu hari dan setelah jiwa dan raga beristirahat, maka jiwa memiliki energi baru untuk memulai hidup baru yang lebih berharga bagi keluarga, nusa, dan bangsa. Salah satu cara memuliakan hidupmu adalah dengan bekerja lebih keras dengan menganggap kerja itu sendiri bagian dari yadnya, bagian dari jalan menuju Tuhan. “Tuhan (Prajapati) melakukan kerja untuk dapat menciptakan dunia, yang bergerak berdasarkan hukum-hukum yang berlaku atas ciptaan-Nya itu yang disebut Rta (Rg Veda I.22:18; Rg Veda X. 190:1).

Dalam Atharva Veda (III.24:5); Yajur Veda (20:7) Hindu mengajarkan umatnya bekerja keras dengan penuh konsentrasi dan disiplin (Yoga Sutra, I.15). Oleh karena itu, engkau harus bekerja dengan penuh konsentrasi dan disiplin sebagaimana halnya Tuhan telah memberikan Kamadhuk melalui yadnya-Nya.

Dengan landasan bahwa kerja adalah yadnya, maka tidak ada alasan yang bagi setiap manusia untuk tidak melaksanakan pekerjaan dengan penuh rasa tanggung jawab, kerja-kerja-dan kerja. Dalam Yajur Weda.19.30 disebutkan sebagai berikut.

Pratena diksam apnoti Diksaya apnoti daksinam Daksina sraddham apnoti Sraddhaya satyam apyate [Yajur Weda.19.30]

Artinya: Melalui pengabdian kita memperoleh kesucian, Dengan kesucian kita mendapat kemuliaan Dengan kemuliaan kita mendapat kehormatan Dan dengan kehormatan kita memperoleh kebenaran

Menempatkan kerja sebagai yadnya [tanpa pamrih] juga memungkinkan memperoleh kesucian, hasil yang suci tak ternoda, energi yang mengalir dalam uang yang diperoleh dengan jalan suci akan memberikan vibrasi positif bagi seluruh anggota keluarga yang menikmatinya.

Seluruh keluarga akan tenang hidupnya, dan dalam kondisi demikian, keluarga itu akan memperoleh kemuliaan dan kehormatan sebagai keluarga sukhinah bawantu [memperoleh kemuliaan, kehormatan, dan dipercaya].

Oleh karena itu, mari kita kerja-kerja-kerja bersama Guru Wisesa [pemerintah], sebagai bagian dari catur guru bhakti, agar kita semua memperoleh kehormatan dan kebenaran.

Demikianlah beberapa hal yang dapat saya sampaikan kepada bapak Presiden Republik Indonesia dan para hadirin, disertai permohonan maaf atas segala kekurangan dan kesalahan yang ada. Terima kasih.

Om Shanti, Shanti, Shanti, Om. Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Salom, Namo Buddayo.

Mabes TNI Cilangkap, Jakarta, 22 April 2017 Prof. Dr. Ida Bagus Gde Yudha Triguna, M.S.


Naskah disampaikan pada acara Dharmasanti Nasional Hari Raya Nyepi Tahun baru Saka 1939 di Mabes TNI Cilangkap Jakarta, Sabtu 22 April 2017.

Kamis, 20 April 2017

PRESIDEN JOKOWI AKAN HADIRI DHARMASANTI NASIONAL HARI RAYA NYEPI

Press Release.
PRESIDEN JOKOWI AKAN HADIRI DHARMASANTI NASIONAL HARI RAYA NYEPI




Jakarta,....

Presiden Joko Widodo menurut rencana akan menghadiri pelaksanaan Dharmasanti (silaturahmi) Nasional hari Raya Nyepi tahun Saka 1939 pada hari Sabtu, 22 April 2017 di GOR Mabes TNI Cilangkap.

Ketua Umum Panitia Nasional Perayaan Nyepi Saka 1939 tahun 2017, Irjen Pol  Drs. I Ketut Untung Yoga menjelaskan bahwa dalam Dharmasanti Nasional esensinya sebagai momentum silaturahmi antar umat Hindu dan antar umat beragama.
Kehadiran Presiden dan stakeholders lainnya sangat diharapkan umat Hindu dalam menguatkan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ini tentunya diharapkan sesuai dengan tema Perayaan Nyepi tahun ini yaitu "Jadikan Catur Brata Penyepian memperkuat toleransi kebhinekaan berbangsa dan bernegara demi keutuhan NKRI".

Dalam Dharmasanti yang akan dihadiri 3.000 umat Hindu  itu dimohonkan Sambutan Presiden Joko Widodo dan dharma wacana rohani oleh Prof.Dr. Ida Bagus Yudha Triguna.

Kehadiran Presiden dan Ibu Iriana Joko Widodo serta undangan lainnya akan disambut dengan tarian Sri Kamelawi dan hiburan kesenian dalam bentuk oratorium dalam lakon "Mulat Sarira" (Introspeksi diri) pimpinan sanggar I Gusti Ngurah Kompiang  Raka.

Selama Dharmasanti juga akan dimeriahkan dengan Ibu-Ibu WHDI Banten  yang akan menyanyikan Indonesia Raya.


Selain itu juga akan menampilkan pembacaan sloka kitab suci Weda oleh dua juara se DKI Jaya yaitu Pande Nyoman Lokasandhiyasa dan Made Nararya Radya Kumara. *

Selasa, 18 Agustus 2015

Penyu untuk Upacara Umat Hindu

Pemerintah Izinkan Penyu untuk Upacara Umat Hindu, Asal ...

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Bali menegaskan penggunakan hewan penyu untuk upacara keagamaan di Pulau Dewata harus mendapat rekomendasi dari Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali.

"Kalau masyarakat belum mengantongi izin dan rekomendasi dari majelis tertinggi umat hindu itu, kami tidak akan mengizinkan pemanfaatan penyu untuk sarana upacara," kata Kepala BKSDA Bali, Sumarsono di Denpasar, Rabu (12/08/2015).

Ia menjelaskan, aturan tersebut merupakan perjanjian antara BKSDA dengan PHDI mengenai pemanfaatan dan penggunaan salah satu fauna dilindungi di Nusantara tersebut.

Dalam aturan tersebut tertulis bahwa hanya diperbolehkan memakai satu ekor penyu untuk satu jenis upacara keagamaan baik tingkat besar, sedang, maupun kecil.



"Kami membatasi jumlah pemanfaatan penyu karena jumlah penyu yang ada di penangkaran dan di beberapa pusat pengembangbiakan peyu sudah semakin terbatas," kata dia.

Selain itu, pihak penyelenggaran upacara mesti mengganti uang yang dihabiskan selama proses pengembangbiakan penyu di beberapa daerah perlindungan dan pengembangbiakan fauna langka itu. "Saat ini, di Bali terdapat beberapa tempat pengembangbiakan penyu, dua di antaranya di daerah Benoa dan Serangan, Denpasar.

Lebih lanjut, aturan berupa perjanjian itu kata Sumarsono sebagai langkah antisipasi semakin berkurangnya jumlah penyu, utamanya penyu hijau yang sudah semakin langka di Bali.

Apalagi, menurutnya, saat ini banyak pihak memanfaatkan penyu menggunakan alasan untuk upacara agama, padahal, dagingnya digunakan untuk kebutuhan bisnis dan komersil.

"Daging penyu harganya cukup mahal di pasaran, jadi, banyak yang menghalalkan segala cara memanfaatkan daging penyu untuk diperjualbelikan," katanya.


sumber : http://nasional.rimanews.com

Selasa, 01 April 2014

Wija Kesawur : Kala dan Kali

KALA DAN KALI. Setiap kita mengadakan acara Dharma Santi, acara yang terangkai dengan penyambutan Tahun Baru Saka atau Hari Raya Nyepi, kita senantiasa ingin merenungkan makna perjalanan "waktu", yang disebut sebagai Kala. Dalam kita Santi Parwa. Kala mendapat uraian penting dari Maharesi Wyasa, uraian yang disampaikan kepada Maharaja Yuddhistira : Bila menjadi kehendak Sang Kala, maka ilmu pengetahuan, mantra dan japa, demikian juga obat-obatan tidak akan membawa hasil.


Setelah menjelaskan secara mendalam tentang Sang Kala, juga Sang Kala Mretyu (Waktu Kematian, baca artikel terkait Menyadari Datangnya Kematian) yang mengerikan, Maharesi Wyasa membuat sebuah kesimpulan : " An mangkana purih niking janma, kinawasakening kala, sangsara swabhawanya, haywa ta pramada, pahahening ikang budhhi, heneben wehen remegepang moksamarga "

Demikianlah keadaannya menjadi manusia dikuasai oleh waktu, dan biasanya menderita, oleh karena itu janganlah alpa, sucikanlah budi anda, tenangkan, berilah kesempatan untuk bermeditasi untuk mencapai alam "kebebasan".

Dalam karya-karya sastra, khususnya mahakawya Mahabharata dan Ramayana, senantiasa kita diajak untuk merenungkan hakikat Waktu itu, kita juga disarankan untuk "bersahabat" dengannya. Suatu kali Sri Rama bercakap-cakap dengan Sang Kala, ketika beliau mengunjungi Ayodhya, dan Sang Kala hadir berwujud seorang pandita (tapa-sarupa). Setelah bercakap-cakap dengan pandita siluman ini, tidak lama kemudian Sri Rama meletakkan kerajaan.

Agaknya para pemimpin diajarkan untuk memahami hakikat waktu itu. Maka dalam kitab Niti Sastra, sebuah kitab sastra-filsafat yang secara khusus ditulis untuk para pemimpin (niti) diuraikan secara mendalam dan menarik apa yang disebut zaman Kali, bagian keempat dari tahapan waktu atau zaman (Kali-Yuga). Menurut kitab ini siklus waktu ada empat tahapan disebut Catur Yuga; Kreta, Dwapara, Treta dan Kali. Kali-yuga adalah zaman kehancuran, ketika krisis terjadi dimana-mana. Ciri-ciri zaman Kali menurut kitab tersebut : ketika orang yang berkuasa adalah orang-orang kaya, dan semua lapisan masyarakat mengabdi kepada orang-orang kaya (dhaneswara). "Apabila zaman Kali tiba pada akhir masa, hanya kekayaan yang dihargai orang; kaum pejuang dan pemberani akan mengabdi kepada orang-orang kaya ( guna sura pandita widagdha pada mangayap ing dhaneswara ); semua pelajaran para pandita yang rahasia menjadi hilang, keluarga-keluarga yang baik dan para anak menipu dan mengumpat orang tuanya, orang-orang jahat mendapat penghargaan dan kepandaian ".

Selanjutnya dengan sangat mengesankan disuratkan : " Negara guncang dan diselubungi kebingungan, para pemimpin tidak lagi memberikan sedekah, melainkan disedekahi oleh orang-orang kaya ( ratu hina dina dinananing dhaneswara ). " Sementara itu struktur dan sistem alam menjadi kacau : pohon-pohon cempaka, cendana, nagasari yang harum ditebang untuk memagari pohon-pohon belatung yang berduri dan gatal; angsa, merak dibunuh untuk memanjakan burung gagak dan bangau, burung-burung pemakan daging.

Sungguh mengerikan gambaran yang diberikan terhadap zaman Kali itu, ketika Sang Kala (Mretyu) semakin mengicar manusia. Manusia tidak dapat menghindar dari Dewa Maut itu, karena waktu merupakan tubuhnya ( kala pinakawaknira ), ia memakan semua mahluk hidup yang ada ( sira ta amangan iking sarwabhawa ). Itulah Sang Kala, yang secara simbolik-religius adalah putra Hyang Siwa. Sumber bacaan buku Wija Kasawur (2) Ki Nirdon. (RANBB)

Senin, 01 Juli 2013

Melaksanakan Brata Penyepian

Julianatamanbali Om Swastyastu,
Titiang admin "Sutha Abimanyu" ngucapang Swasti Rahinan Jagat NYEPI Çaka 1935, dumogi Ida Sang Hyang Widhi Wasa mapaica kerahayuan lan Kerahajengan ring iraga, keluarga lan jagat.

Titiang nunas pangampura yening wenten keiwangan parilaksana, raos lan postingan titiang sane sampun lintang. Dumogi iraga sida raket masawitra mawit saking dunia maya puniki.
Suksma.

Om Santih Santih Santih Om.

CHANNEL YOUTUBE SAYA - MOHON DI SUBSCRIBE

Cari Artikel di Blog ini

Berita Terkait Semangat Hindu

Artikel Agama Hindu

108 Mutiara Veda 3 kerangka agama hindu advaita visistadviata dvaita Agama Hindu Dharma agama islam Ajaran Hindu aksara suci om alien menurut hindu Apa yang dimaksud Cuntaka Apa yang dimaksud dengan Japa Apa yang dimaksud dengan Puja arcanam nyasa aris widodo artikel hindu arya dharma Arya Wedakarna Asta Brata Atharvaveda Atman avatara sloka babad Badan Penyiaran Hindu bagian catur weda bahasa jawa kuno bahasa kawi bahasa sanskerta Banggalah Menjadi Hindu banten hindu bali Belajar Hindu BELAJAR ISTILAH AGAMA HINDU bhagavad gita Bhagawadgita bhagawan bhuta yadnya Bimas Hindu BPH Banten brahma wisnu siwa Brahman Atman Aikyam brahmana ksatriya wesia sudra budaya bali budha kliwon sinta Bukan Heroisme buku hindu terpopuler Canakhya Nitisastra cara sembahyang hindu catur asrama Catur Brata Catur Cuntakantaka Catur Purusha Artha Catur Purusharta catur veda Catur Warna Catur Weda Cendekiawan Hindu Cinta Kasih Dalam Perspektif Hindu Dana Punia Deva adalah sinar suci Brahman Deva Brahma Deva Indera dewa dewi hindu dewa yadnya dewata nawa sanga dewi kata-kata dewi saraswati dharma artha kama moksa Dharma Santi dharma wacana Doa Anak Hindu donasi buku hindu epos mahabharata ramayana filosofi pohon bambu filsafat agama hindu ganesha Gayatri Sebagai Mantra Yoga Hari Raya Galungan Hari Raya Kuningan Hari Raya Nyepi Hari Raya Pagerwesi Hari Raya Saraswati Hari Raya Siwaratri HINDU adalah ARYA DHARMA HINDU ADALAH SANATHANA DHARMA HINDU ADALAH VAIDHIKA DHARMA Hindu Agama Terbesar di Dunia Hindu Banten Hindu beribadah di Pura Hindu Festival Hindu Indonesia hindu nusantara Hindu Tengger Hinduism Facts Hinduism the Greatest Religion in the Word Hukum Karma Ida Pedanda sakti isi catur weda Jadilah Manusia Setia Japa dan Mantram Jiwa jual buku hindu kakawin Kamasutra Keagungan Aksara Suci OM Kekawin Lubdhaka kepemimpinan jawa kuna Kerajaan Hindu Keruntuhan Agama Hindu kesadaran diri kidung dewa yadnya Kitab Suci Weda lontar Lontar Kala Maya Tattwa Maharsi Atri Maharsi Bharadvaja Maharsi Gritsamada Maharsi Kanva Maharsi Vamadeva Maharsi Vasistha Maharsi Visvamitra manawa dharma sastra Mantra Mantra Yoga manusa yadnya Meditasi Matahari Terbit Mengapa Kita Beragama menghafal sloka Mimbar Agama Hindu Moksha Motivasi Hindu Mpu Jayaprema nakbalibelog Naskah Dialog Nuur Tirtha Om or Aum one single family opini hindu moderat Panca Sradha panca yadnya Panca Yajna pandita Panglong 14 Tilem Kepitu parahyangan agung jagatkartta paras paros segilik seguluk Pasraman Pasupati Pembagian Kitab Suci Veda Pemuda Hindu Indonesia pendidikan hindu pengertian catur weda Pengertian Cuntaka penyuluh agama hindu Peradah percikan dharma Percikan Dharma Dewa Yajna phdi pinandita Pitra Yadnya Ngaben Pitrapuja potong gigi Principle Beliefs of Hinduism Proud To Be Hindu Puja dan Prathana Pujawali purana purnama tilem Purwaning Tilem Kapitu Radio online Bali rare angon nak bali belog Reinkarnasi Rgveda ritual hindu Roh Rsi yadnya sabuh mas sad darsana sad guru Samaveda sanatana dharma sang hyang pramesti guru Sang Kala Amangkurat Sang Kala Dungulan Sang Kala Galungan Sang Kala Tiga sapta rsi Sapta Timira Sarassamuscaya Sarassamuscaya Sloka sattvam rajah tamah sejarah agama hindu Sekta Hindu Semangat Hindu seni budaya hindu Sex and Hinduism siwa budha waesnawa siwa ratri Sloka sloka bhagawad gita sloka bhatara sloka Rgveda sloka yayurveda Slokantara Sloka Spiritual Bersifat Misterius spiritualitas hindu spma ribek sradha dan bhakti sri rama krishna paramahansa Sri Sathya Sai Baba Sri Svami Sivananda sumpah dalam perkara tabuh gesuri tabuh kreasi baru tabuh telu lelambatan tantri kamandaka tat twam asi tattwa susila upakara Tempat Suci Hindu tiga hubungan harmonis tri hita karana Tri kaya parisudha tri kerangka agama hindu tri mala tri pramana Triji Ratna Permata tujuan perkawinan tujuh penerima wahyu tumimbal lahir upacara hindu upacara menek deha Upanisad upaweda Utsawa Dharma Gita vaidhika dharma Vasudhaiva Kutumbakam VEDA ADALAH ILMU PENGETAHUAN SUCI vedangga Vijaya Dashami Wasudewa Kutumbhakam widhi tatwa wija kasawur wiwaha agama hindu Yajna dan Sraddha yajna dan sradha Yayurveda Yoga Kundalini