OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM

PRAKATA

Selamat Datang

Semangat Hindu merupakan blog bersama umat Hindu untuk berbagi berita Hindu dan cerita singkat. Informasi kegiatan umat Hindu ini akan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan.
Semangat Hindu semangat kita bersama.

Bersama Semangat Hindu kita berbagi berita dan cerita, info kegiatan, bakti sosial dan kepedulian, serta kegiatan keagamaan seperti ; pujawali, Kasadha, Kaharingan, Nyepi, Upacara Tiwah, Ngaben, Vijaya Dhasami dan lain sebagainya.

Marilah Berbagi Berita, Cerita, Informasi, Artikel Singkat. Bagi yang mempunyai Web/Blog, dengan tautan URL maka dapat meningkatkan SEO Web/ blog Anda.

Terima Kasih
Admin

RANBB

---#### Mohon Klik Share untuk mendukung blog ini ####---

Rabu, 18 Desember 2013

4 Four Purusharthas - If you are new to Hinduism

If you are new to Hinduism, you might have a question in your mind that how to live an ideal life as a Hindu. Is it always necessary to denounce the normal life and become an ascetic to acquire salvation?  What are the aims of a Hindu’s life?

According to Vedas, there are four aims of a Hindu’s life:

1. Dharma.

2. Artha.

3. Kama.

4. Moksha.

We will discuss all these four aims in detail in this article.

1. Dharma : Dharma literally means religion or law but here it actually means righteousness i.e. duty towards the society, duty towards the family, duty towards the humanity. So, one has to observe Dharma while living in society by respecting the laws of society and doing the right things.

2. Artha
: Artha means wealth or the things related to earning money. This does not at all mean that Hinduism advocates acquisition of health only but Hinduism understands the importance of money in a person’s life. To live life happily as a common person, you need money but this money should be acquired by honest methods only. If there is a clash between Dharma and Artha, Dharma should be given more priority than Artha.

3. Kama : Kama means pleasure, especially “sexual pleasure.”  The word Kama here also means the pleasure we derive from cultural pursuits, sports, and other creative activities which help us enjoy the life.

People know Hinduism for spirituality but Hinduism is also a very practical religion. Hinduism honestly appreciates that sexual pleasure is one of the highest and purest pleasures that God had given to human. Sex is, no doubt, an important part of a human’s life and we should accept it wholeheartedly. It is the basic instinct through which procreate ourselves and preserve the human race.

4. Moksha : The Moksha means salvation i.e. liberation of the soul from the cycle of birth and rebirth. Hinduism believes in reincarnation. What we are today is the result of our past life Karma and what we would be in the next life would be the result of what we do in the present life. Our soul thus gets trapped in the cycle of birth and rebirth. Therefore, Moksha is necessary to liberate the soul from this cycle. Moksha is the ultimate aim of a Hindu’s life.

Hinduism not only tells the aims of life but also tells how to achieve them. A Hindu’s life is therefore divided in four stages or Asramas to achieve these aims.


source : http://hinduismfacts.org/four-purusharthas/


Selasa, 10 Desember 2013

Maha Shivratri

MAHA SHIVRATI

Maha Shivratri, which literally translates to “great night of Shiva” is a Hindu festival largely celebrated in India as well as in Nepal. The festival is celebrated on the new moon day in the month of Maagha according to the Hindu calendar. The day is celebrated to venerate Lord Shiva, an important deity in Hindu culture.

There are many mythological legends associated with this day. According to a popular legend, when a hunter could not find anything to kill for his food in a forest, he waited on the branch of a Woodapple tree. In order to attract deer, he started throwing the leaves of the tree on the ground, unaware that there was a Shiva Lingam beneath the tree. Pleased with the Woodapple leaves and the patience of the hunter, it is believed that Lord Shiva appeared in front of the hunter and blessed him with wisdom. From that day onwards, the hunter stopped eating meat.

Another legend has it that after the Earth was faced with an imminent destruction, Goddess Parvati pledged with Lord Shiva to save the world. Pleased with her prayers, Lord Shiva agreed to save the world on the pretext that the people of the Earth would have to worship him with dedication and passion. From that day onwards, the night came to be known as Maha Shivratri and people began worshipping Shiva with a great enthusiasm.

Some folklore also consider this to be Shiva’s day as this was believed to be the answer given by Lord Shiva when asked about his favorite day by Goddess Parvati.

Maha Shivratri is a Hindu festival which is celebrated by people following Hinduism in India. People often fast on the night of Shivratri and sing hymns and praises in the name of Lord Shiva. Hindu temples across the country are decorated with lights and colorful decorations and people can be seen offering night long prayers to Shiva Lingam. Woodapple leaves, cold water and milk are offered to the Shiva Lingam on this day as they are believed to be Lord Shiva’s favorite.

It is believed that the people who fast on this night and offer prayers to Lord Shiva bring good luck into their life. The most popular Maha Shivratri celebrations take place in Ujjain, believed to be the place of residence of Lord Shiva. Large processions are carried out throughout the city, with people thronging the streets to catch a glimpse of the revered idol of Lord Shiva.

sumber : http://www.calendarlabs.com/holidays/india/maha-shivratri.php

Rabu, 04 Desember 2013

Tugas dan Fungsi Bimas Hindu

A. TUGAS BIMAS HINDU



  • Melaksanakan pelayanan dan bimbingan di bidang masyarakat Hindu.
B. FUNGSI BIMAS HINDU 
  1. Melaksanakan fungsi penjabaran dan pelaksanaan kebijakan teknis di bidang bimbingan masyarakat Hindu, meliputi lembaga dan sarana agama penyuluh dan tenaga teknis keagamaan, pendidikan agama Hindu, supervise pendidikan, dan pelayanan Pura; dan 
  2. Penyiapan bahan pelayanan dan bimbingan di bidang bimbingan masyarakat Hindu.
Program Bimbingan Masyarakat Hindu di antaranya :
  1. Penyediaan tenaga pendidik dan kependidikan Agama Hindu yang terbina;
  2. Pengembangan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan Hindu yang terbina;
  3. Bantuan Penyuluh non PNS;
  4. Pembinaan Agama Hindu yang Profesional;
  5. Penyuluh Agama Hindu yang terbina.
Program ini disesuaikan dengan Visi dan Misi Kanwil Kemenag Provinsi Sulawesi Tenggara, yaitu :
A. VISI
  • Terwujudnya masyarakat Sulawesi Tenggara yang taat beragama, rukun, cerdas, mandiri, dan sejahtera lahir batin.
B. MISI
  1. Meningkatkan kualitas kehidupan beragama;
  2. Meningkatkan pembinaan keluarga sakinah, produk halal, ibadah sosial, dan kemitraan umat;
  3. Meningkatkan akses dan mutu raudhatul atfal, madrasah, dan pendidikan agama dan keagamaan;
  4. Meningkatkan kualitas penyelenggaraan ibadah haji dan umrah;
  5. Meningkatkan kualitas pelayanan zakat dan wakaf;
  6. Meningkatkan mutu penyelenggaraan Madrasah Diniyah dan Pondok Pesantren;
  7. Meningkatkan dan melestarikan kerukunan hidup umat beragama; Mewujudkan tata kelola kepemerintahan yang bersih dan berwibawa.
Kunjungi Bimas Hindu Sulawesi Tenggara di http://bimashindusultra.blogspot.com

Senin, 25 November 2013

Tempat Suci Sebagai Obyek Wisata

Tempat Suci Sebagai Obyek Wisata





Banyak sekali tempat suci berbagai agama yang menjadi obyek wisata. Beragam hal yang menarik bisa dilihat wisatawan. Ada mengenai artsitekturnya, sejarahnya, lokasi tempatnya berdiri yang begitu indah, atau gabungan dari unsur-unsur  itu.

Orangyang ke Roma (Italia) pasti berniatmengunjungi Kota Suci Vatikan.Kota Vatikan adalah salah satu obyek wisata menarik di dunia. Wisatawan mengagumi arsitekturnya, koleksi yang bersejarah, tentu pula suasana religius untuk wisatawan yang beragama Katolik. Karena ini adalah tempat suci, tak semua ruangan bisa dimasuki wisatawan. Kapel Sistina, misalnya, di mana para kardinal berkumpul pada saat pemilihan Paus yang baru, tak bisa dimasuki wisatawan. Pada hari-hari tertentu keagaman Katolik beberapa bangunan juga steril dari pengunjung.

Di India, tempat suci umat Hindu pun menjadi obyek wisata yang menarik, tak hanya dikunjungi oleh pemeluk Hindu. Bahkan ada masjid atau tempat suci umat Islam yang menjadi obyek wisata yang penuh sesak pengunjung. Yakni Taj Mahal yang terletak di Agra. Arsitekturnya sangat dikagumi orang.
Di dalam negeri begitu banyak tempat suci di luar tempat suci umat Hindu yang jadi obyek wisata. Bukan saja pura yang dikunjungi wisatawan, juga masjid, gereja dan wihara. Masjid Istiqlal di Jakarta tiap hari (kecuali Jumat) dikunjungi pelancong yang tak semuanya beragama Islam. Ini masjid terbesar di Asia Tenggara yang dibangun oleh Presiden Soekarno pada 21 Agustus 1951. Arsitektur masjid bertingkat lima ini justru dibuat oleh penganut Kristen Protestan yaitu Frederich Silaban.

Masyarakat non-Muslim yang berkunjung ke masjid ini sebelumnya mendapat pembekalan informasi mengenai Islam dan Masjid Istiqlal, seperti halnya wisatawan yang berkunjung ke Pura Besakih mendapat informasi dari pemandu wisata. Tentu ada aturan yang harus dipatuhi, misalnya, melepas alas kaki, tidak merokok dan berlaku sopan. Saya beberapa kali berkeliling ke sini terutama melihat perpustakaannya. Kebetulan di masjid ini juga berkantor berbagai ormas Islam.

Masjid Kudus yang lebih dikenal dengan nama Masjid Menara Kudus, juga menjadi daya tarik wisatawan. Masjid yang dibangun tahun 1530oleh Sunan Kudus (nama asli Ja’far Sodiq)ini memanfaatkan peninggalan kuil Hindu yang dijadikan menara masjid, sampai kini. Bahkan karena memakai peninggalan budaya Hindu, Sunan Kudus meminta masyarakatnya untuk tidak menyembelih sapi, menghormati agama Hindu yang memuliakan sapi. Sampai sekarang tak ada penyembelihan sapi di Kudus, di sana yang terkenal daging kerbau. Kalau pun ada dijual sate sapi, daging sapi itu didatangkan dari Pati. Masjid Menara Kudus dijadikan lambang perpaduan harmonis budaya Hindu dan Islam dengan arsitekturnya yang tinggi. Saya berkali-kali ke masjid ini.

Masjid Agung Demak pun menarik bagi wisatawan. Ini masjid peninggalan Wali Songo yang dibangun tahun 1479. Masjid ini mengungkap banyak sekali sejarah Islam di Tanah Jawa selain arsitekturnya yang sangat dikagumi dengan begitu banyak tiang penyangga. Kisah unik adalah pembangun soko guru (tiang utama) masjid. Sunang Bonang membuat tiang di bagian barat lau, Sunan Kalijaga di timur laut, Sunan Ampel di tenggara, Sunan Gunung Jati di barat daya. Satu dari tiang utama ini tidak memakai kayu yang utuh, tetapi potongan-potongan kayu yang direkatkan begitu saja.

Masjid Menara Kudus dan Masjid Agung Demak sudah masuk ke dalam destinasi pariwisata nasional. Dalam rencana induk kepariwisataan nasional 2011-2026 masjid-masjid ini masuk dalam KPPN (Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional) dan belum berhasil masuk ke dalam KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional). Tinggal menunggu giliran saja.

Gereja Katedral Jakarta yang berdiri kokoh di sebelah utara Lapangan Banteng Jakarta setiap hari dikunjungi banyak wisatawan. Bahkan gereja umat Katolik yang bangunannya bergayaarsitektur neo-Gotik ini dijadikancagar budaya nasional.  Ini membuat gereja itu terpelihara dengan baik dan koleksinya terus bertambah. Kita di Bali jangankan menjadikan Pura Besakih sebagai cagar budaya, untuk dijadikan warisan budaya dunia saja menolak, bahkan kini masuk KSPN juga ditolak. Takut kesuciannya luntur, padahal terbukti gereja dan masjid terkenal tak pernah takut kesuciannya luntur hanya karena wisatawan.

Tentu ada bagian-bagian yang suci dan bagian-bagian yang bebas untuk dinikmati. Gereja Katedral Jakarta yang dibangunpada 1891 ini dilengkapi museum yang padat dikunjungi wisatawan.  Salah satu yang menarik, misalnya, bagian yang menyimpan busana rohaniawan Katolik, mulai dari jubah, topi, kasula berbagai warna. Kasula adalah lapisan terluar busana yang dikenakan rohaniwan Katolik. Warna kasula yang dikenakan seorang pastor memiliki makna tertentu. Kasula berwarna putih biasanya dipakai untuk ibadah sehari-hari, sedangkan ungu dan merah digunakan untuk acara duka seperti misa tutup peti dan paskah.

Hal serupa juga saya lihat ketika mengunjungi vihara yang disebut-sebut sebagai terbesar di Asia, yaitu Maha Vihara Duta Maitreya di kota Batam. Banyak sekali ornamen yang digunakan oleh para bhiku dalam ritual maupun pernik-pernik ritual itu sendiri. Pengunjung bahkan bisa membeli replikanya untuk kenang-kenangan.

Belajar dari sejumlah tempat suci non-Hindu yang jadi obyek wisata dan mau dikembangkan menjadi kawasan strategis pariwisata, saya lalu membayangkan Pura Besakih menjadi tempat suci yang juga kawasan strategis pariwisata. Boleh saja Pura Besakih tak perlu dijadikan cagar budaya seperti Kaderal Jakarta, karena kita takut. Atau tetap menolak dijadikan warisan budaya dunia seperti Taj Mahal dan sebagainya, karena kebetulan pendaftarannya sudah selesai. Namun, sekiranya Besakih mau dimasukkan dalam KSPN “Besakih – Gunung Agung dan Sekitarnya” dan kemudian terbentuk Badan Otorita Besakih, maka pura ini akan bersinar kesuciannya dan menjadi obyek wisata yang menarik.

KSPN Besakih itu yang  dibangun pusat, hanya jalan lokal ke hutan lindung untuk melindungi flora dan fauna. Namun karena target wisata adalah tempat ibadah atau peninggalam masa lalu, dana dari pusat bisa dikelola Badan Otorita untuk membangun hal-hal di luar areal suci. Seperti halnya Katedral yang areal kebaktiannya tak bisa dimasuki turis, Pura Besakih tak bisa dimasuki turis pada bagian manda utama (jeroan). Semua jeroan tak boleh dimasuki apalagi yang mahasuci Penataran Padma Tiga. Apapun alasannya, jika tidak bersembahyang, tak boleh masuk ke sana. Nah di luar itu lorong-lorong dibangun yang bagus. Wantilan Besakih di jaba bisa dijadikan museum (atau membangun yang baru), pamerkan berbagai sarana ritual, dokumentasi yadnya dan – meniru Katedral – pamerkan busana sembahyang. Kalau walaka (orang biasa) bagaimana busananya, kalau pemangku bagaimana, kalau sulinggih bagaimana pernik-pernik dan artinya itu. Sekarang ini banyak yang tak tahu apa arti warna ketu (bawa) sulinggih, apa arti genitri dan sebagainya.

Kesucian Besakih tak akan ternoda kalau kita meniru Katedral. Juga meniru masjid-masjid, di mana saat  sholat Jumat tak boleh ada kunjungan turis. Nanti di Besakih diperlakukan pula, saat ada Panca Wali Krama dan sejenisnya Pura Besakih ditutup untuk wisatawan. Besakih jadi semakin suci (dibandingkan sekarang) dan semakin tertata rapi jika Badan Otorita mau menata lingkungannya. Dana KSPN bisa ditarik untuk ini. Tapi kalau KSPN sudah ditolak, ya sudahlah, kita akan tetap melihat Besakih yang semerawut seperti sekarang, pedagang merangsek sampai lorong-lorong dan turis seenaknya masuk Penataran asal memakai kain. Kita kekurangan dana mengelola tempat suci ini jika hanya mengandalkan Pemda. Mengurusi sampah upacara saja sulit.
sumber : http://m.mpujayaprema.com/index.php/?x=r&i=286

Rabu, 20 November 2013

Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis Kabupaten Nganjuk

Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis
Kabupaten Nganjuk merupakan Pura tertua di Pulau Jawa ini, terletak di lereng Gunung Wilis Dusun Cukrik Desa Bajulan Kecamatan Loceret Kabupaten Nganjuk Jawa Timur. Piodalan Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis jatuh pada Purnama ke Lima.
Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis
 Foto Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis dikirim oleh ponakan (Fua) yang kuliah di ITS Surabaya.

Dalam setiap kegiatan keumatan ataupun kehidupan bermasyarakat umat Hindu selalu kompak, bersatu padu serta penuh ketulus-ikhlasan dalam berkegiatan. Umat Hindu yang tangkil (datang untuk bersembahyang) saat piodalan selain dari Nganjuk Jawa Timur, juga dari Surabaya, Jakarta, Bali, Kediri dan lain sebagainya. Ini menunjukkan bahwasanya umat Hindu sangat bersatu dan penuh rasa cinta bhakti kepada Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa.

Tirtayatra Mahasiswa
 Foto Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis dikirim oleh ponakan (Fua) yang kuliah di ITS Surabaya.




Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis ini sering pula dikunjungi umat Hindu dari seluruh nusantara walaupun bukan pada saat pujawali. Kegiatan ini disebut dengan Tirtayatra, yaitu mengunjungi dan ngaturang bakti pada tempat-tempat suci yang dikunjungi, selain mengenal secara dekat juga untuk meningkatkan Sradha dan Bhakti kita kehadapan Ida Hyang Widhi Wasa.

Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis (ada yang menulis dengan kata Buana) merupakan Pura Penyawangan dari Candi Sapto Argo yang berada di puncak Gunung Wilis. Candi Sapto Argo yang dipuncak Gunung Wilis dipercaya sebagai tempat pemujaan Dewa Wisnu, Dewi Sri dan leluhur. Disekitar Candi Sapto Argo terdapat situs-situs, dilereng Gunung Wilis terdapat tempat-tempat pertapaan, serta goa besar sebagai tempat bersamadhi. Kawasan Candi Sapto Argo memiliki lima Mandala, dan Candi Sapto Argo terletak di tengah-tengah Mandala tersebut. Pajenengan yang ditemukan di areal Candi Sapto Argo saat ini disimpan dan dirawat sebagai Pajenengan Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis, yaitu berupa Genta berhulu Triwikrama, Lonceng berhulu Narasingha dan Pasepan yang berukiran empat dewa-dewa.

Dari berbagai sumber. (RANBB)

Selasa, 19 November 2013

Candi Kurung dan Candi Bentar Pura Agung Wana Kerta Jagatnata Sulteng

Peresmian Dua Candi Dihadiri Ribuan Umat Hindu
Wakil Gubernur Sulawesi Tengah H Sudarto SH MHum, mewakili Gubernur Longki Djanggola saat peresmian Candi Kurung dan Candi Bentar Pura Agung Wana Kerta Jagatnata, Sabtu (16/11), mengatakan sebagai sebuah tempat suci Pura Agung Wana Kerta Jagatnata ini diharapkan dapat difungfsikan semakin baik ke depan.

Dengan rampungnya proses renovasi dan pembangunan untuk kembali memperindah dan memperkokoh Pura Agung Wana Kerta Jagatnata ini, setelahnya diharapkan akan mampu memberi dampak pada kualitas keimanan umat Hindu di Sulawesi Tengah. Selaku pemerintah daerah, apresiasi itu pun diberikan khusunya kepada parisada hindu dalam hal ini PHDI Sulteng secara khusus.
“Agar menjadi orang-orang yang berguna bagi bangsa dan negara khususnya berguna bagi masyarakat untuk membangun kebersamaan, kerukunan dan kedamaian agar lebih kokoh dalam mengahdapi segala perubahan di tengah kehidupan umat beragama,” tandas Wagub, dalam sambutan tertulis Gubernur yang dibacakannya.


Wagub yang ikut pula didampingi oleh Asisten I Setdaprov Sulteng H Baharuddin HT tersebut, mengatakan umat Hindu merupakan rahmat bagi daerah Sulawesi Tengah yang peranannya dapat terus ditingkatkan di dalam membangun umat beragama yang rukun dan damai di daerah ini.


“Saya mengajak  untuk meningkatkan keimanan didalam kehidupan berbangsa dan bernegara dan bermasyarakat. Mari kita jadikan upacara piodalan sebagai sarana untuk mempertebal keimanan dari pengaruh-pengaruh negatif akibat perubahan yang semakin modern bagi generasi kita,” harapnya.


Menandai peresmian tersebut, Wagub didampingi jajaran PHDI Sulteng, melakukan pemukulan gong menandai difungsikannya Candi Kurung dan Candi Bentar di Pura Agung Wana Kerta Jagatnata tersebut.


Kesempatan tersebut, dihadiri oleh ribuan umat Hindu yang antusias menyaksikan berlangsungnya parisada night yang usai itu, dilanjutkan dengan pertunjukan hiburan termasuk penampilan dari penyanyi lokal Sulteng dan penyanyi asal Bali.


sumber : http://www. radarsulteng. co. id

Jumat, 15 November 2013

Vrata dalam Kitab Suci Veda

VRATA ATAU BRATA

Vrata atau Brata adalah janji dengan sungguh-sungguh melaksanakan disiplin atau latihan rohani tertentu. Brata diartikan disiplin tertentu. Seorang yang melaksanakan Vrata atau Brata akan memperoleh penyucian diri (diksa). Brata harus ditandai dengan Sraddha (keimanan) yang mantap. Keberadaan Tuhan Yang Maha Esa dapat dirasakan melalui Brata, dan dengan tapa seseorang mencapai sorga.


 

Brata atau Vrata mengantarkan menuju Tuhan Yang Maga Agung

Vratena diksam apnoti
diksaya-apnoti daksinam
daksina sraddham apnoti
sraddhaya satyam apyate

Yayurveda XIX.30
"Dengan menjalankan brata, seseorang mencapai diksa (penyucian diri). Dengan diksa seseorang mencapai daksina (penghormatan). Dengan daksina seseorang mencapai sraddha (kepercayaan/keyakinan) dan melalui sraddha seseorang menyadari kebenaran sejati/Tuhan Yang Maha Agung"

Semoga kami dapat mewujudkan Brata dan Sraddha

Vratam ca sraddham ca-upaimi

Yayurveda XX.24
"Dengan melaksanakan persembahan (korban), semoga kami mewujudkan brata dan kepercayaan / keyakinan (sraddha)"

Jalankanlah Brata dengan sungguh-sungguh

Vrata raksante amrtah sahobhih

Rgveda I. 62. 10
"Para Dewa menjalankan brata, mereka menggunakan sarana"

Kebenaran Tuhan Yang Maha Esa dapat dirasakan melalui Tapa

Ataptatanur na tada asnute

Rgveda XIX. 83. 1
"Orang yang tanpa menjalankan tapa (pengekangan diri) yang keras, tidak dapat menyadari Tuhan Yang Maha Esa"

Dengan Tapa menuju Sorga / Kahyangan

Tvam tapah paritapya-ajayah svah

Rgveda X.167.1
"Ya Sang Hyang Indra, Engkau menjalankan Tapa dan memenangkan (memperoleh) sorga/kahyangan"

Semoga nafsu seksual tidak mengganggu kesucian kami

Ma sisnadeva api gur rtam nah

Rgveda VII.21.5
"Ya, Tuhan Yang Maha Esa, semoga dorongan nafsu seksual tidak mengganggu kesalehan kami"

Sumber bacaan Buku Veda Sabda Suci Pedoman Praktis Kehidupan oleh I Made Titib. (RANBB)

Senin, 11 November 2013

Hindu Setara Artha Vidya Ashram

Hindu Setara Artha Vidya Ashram 



Artha Vidya Ashram ingin mewujudukan Hindu Setara yang dilakukan dengan membangun umat Hindu yang berkarakter; yang memiliki kemandirian dan semangat entrepreneurship serta akhirnya mempunyai rasa bangga sebagai pemeluk HIndu.

Beranjak dari kesadaran untuk membangun Hindu Setara, Yayasan Tat Twam Asi mempersembahkan Arta Vidya Ashram. Mengapa Ashram? Ashram adalah lembaga pendidikan  keumatan yang memiliki akar sejarah yang panjang sebagai tempat memeperoleh pengetahuan, ajang untuk melatih jasmani-rohani dan sekaligus untuk menempa nilai-nilai kehidupan  yang bersumber dari ajaran Wedha. Ashram  yang berasal dari akar kata “aashraya”, yang berarti perlindungan, juga difungsikan sebagai tempat untuk menyiapkan fondasi  yang kokoh bagi umat Hindu dalam menghadapi realitas kehidupan serta dalam upaya mencapai idealitas-lokasamgraha.

Meneruskan misi suci Ashram, Arta Vidya Ashram yang diinisiasi Yayasan Tat Twam Asi menawarkan konsep Ahram modern yang mengintegrasikan antara pendidikan karakter yang berbasis nilai-nilai ke Hindu-an,  pelatihan-pendampingan entrepreneurship serta  pelayanan sosial (Seva). Dengan demikian,  ketika berada dalam Ashram, sisya (siswa yang belajar) bukan hanya mendapatkan pengetahuan dari sisi kognitif, tetapi  diharapkan memiliki kesadaran  dan kepekaan sosial yang tinggi untuk berbuat untuk sesama serta memiliki attitude, ketrampilan dan kompetensi sebagai entrepreneur dalam memberdayakan dirinya sendiri, keluarga,  dan lingkungannya.  Melaui Ashram ini juga ingin ditumbuhkan kesadaran sosial bahwa masing-masing dari kita adalah bersaudara satu sama lain. Oleh karena itu, tanggung jawab sosial harus menjadi bagian dari kehidupan umat  Hindu sehari-hari. Setiap umat Hindu harus empati terhadap kebutuhan orang lain, karena merupakan bagian dari yang lainnya.

Visi-Misi Artha Vidya Ashram


Artha Vidya Ashram
ingin mewujudukan Hindu Setara yang dilakukan dengan membangun umat Hindu yang berkarakter; yang memiliki kemandirian dan semangat entrepreneurship serta akhirnya mempunyai rasa bangga sebagai pemeluk HIndu.

Kunjungi segera website Artha Vidya Ashram di www.hindusetara.com

Banten Suci Hindu Bali

Banten Suci Hindu Bali

Banten merupakan nama sebuah propinsi yang dipimpin oleh Gubernur perempuan yaitu Ratu Atut Chosiyah. Foto Ratu Atut Chosiyah Klik disini 
Dalam agama Hindu, Banten adalah Yadnya yang sering kita lihat saat-saat umat Hindu melaksanakan suatu kegiatan keagamaan. Yang kita bahas saat ini adalah Banten Suci, bukan Banten yang dipimpin Ratu Atut Chosiyah tadi. Banten Suci merupakan sarana Yadnya umat Hindu, antara lain : alasnya dipakai beberapa buah tamas, banyak sedikitnya tamas ini tergantung dari tingkatan Banten Suci yang dibuat. Warna jajannya adalah putih dan kuning. Pada waktu menata jajan yang berwarna putih ditempatkan disebelah kanan dan yang kuning disebelah kiri. Diantara jajan tersebut ada yang dinamakan "Sasamuhan", terbuat dari tepung beras dicampur sedikit tepung ketan, parutan kelapa serta air, dibuat bentuk lalu digoreng. Jajan-jajan tersebut ada yang bernama : kekeber, kuluban, puspa, karna, ketibuan-udang, panji, ratu-magelung, bungan temu dan masih banyak yang lain.

Perbandingan jumlah jajan berwarna putih dengan berwarna kuning adalah 12 :6, 9:5, 7:5, 5:4, dan seterusnya. Selain itu pula jajan yang dinamakan "raka-raka", misalnya; jaja-gina, jaja-uli, sirat, kaliadrem, dan sebagainya. Jajan ini pula berwarna putih, kuning. Pemakaian gula dalam hal ini hendaknya dipakai gula tebu/gula pasir atau gula ental.




 
Di samping jajan-jajan yang telah dikemukakan di atas ada dua jajan yang disebut "Jaja-Saraswati" dab "Jaja dodol-Madhuparka". Kedua jajan ini dipergunakan pula pada beberapa Banten yang dianggap memegang peranan penting dalam suatu upacara.

Pada Banten Suci tiap tempat "tamas" diisi perlengkapan yang jumlahnya telah ditentukan, umpama : tamas paling bawah berisi pisang, tape, buah-buahan / panca, masing-masing 5 biji / iris, jaja-sesamuhannya 1 biji tiap jenis; tamas yang kedua berisi 2 biji/iris, dan seterusnya. 

Secara sederhana satu soroh suci terdiri dari ; suci, daksina, peras, ajuman, tipat kelanan, duma (sejenis banten), pembersihan, cang lengawangi-buratwangi, canang sari, dan dua buah pisang (sejenis banten). Pada upacara yang agak besar dilengkapi dengan perayunan. Sumber bacaan buku Teologi & Simbol-Simbol dalam Agama Hindu oleh I Made Titib. (RANBB)

Minggu, 10 November 2013

Catur Weda Empat Buku Suci

Catur Weda, Empat (4) macam buku suci, yaitu :

  1. Rg Veda ; Berisikan pengetahuan suci merupakan kumpulan mantra-mantra pujaan, terdiri dari 10 Mandala, 21 Sakha, 1.028 Cukta, 10.552 rik / bait / mantra, disusun oleh Bhagawan Pulaka.
  2. Sama Veda ; Memuat kumpulan mantra-mantra tentang ajaran umumnya mengenai lagu-lagu pujaan, terdiri dari 1875 Sakha. Bagian Samhita ini ditulis oleh Bhagawan Jaimini.
  3. Yayur Veda ; Weda ini berisikan mantra-mantra dalam bentuk prosa, terdiri dari 109 Sakha, 1.975 mantra. Bagian ini membentangkan tentang tata cara yadnya keagamaan yang harus dilakukan oleh setiap umat Hindu. Yayur Weda disusun oleh Bhagawan Waisampayana.
  4. Atharva Veda ; Membentang soal sihir, mantra-mantra dan pengobatan. terdiri dari 50 Sakha, 5.987 mantra. Di samping itu diuraikan juga Ilmu Bintang dan Ilmu Pasti. Atharva Veda ditulis oleh Bhagawan Sumantu.





BACA JUGA ARTIKEL TERKAIT

Agama Hindu mengenal 4 hal utama dalam menjalankan Dharma, sebagai penuntun hidup umat Hindu. Klik disini tentang empat hal utama atau empat pilar penyangga kehidupan umat Hindu. 

Kamis, 07 November 2013

Kecemerlangan adalah Kejernihan Jiwa

KECEMERLANGAN JIWA

Kecemerlangan adalah kejernihan jiwa, sebab pada jiwa yang jernih akan mudah memperoleh ketenangan atau kedamaian (santih). Kedamaian jiwa menyebabkan kondisi badan tetap sehat, badan menjadi kuat, dan terakumulasinya tenaga yang mengagumkan.

Semoga kami memiliki kecemerlangan

Sam ma-agne varcasa srja

Rgveda I.23.24
"Ya, Sang Hyang Agni, berkahilah kami kecemerlangan.

Semoga kami cemerlang

Tigmena nas tejasa sam sisadhi

Rgveda VI. 15. 19
"Ya, Sang Hyang Agni, tajamkanlah kami dengan kecemerlangan yang unggul"




Semoga Tuhan Yang Maha Esa melimpahkan tenaga kepada kami.

Ojo-asi-ojo medah

Atharvaveda II.7.1
" Ya Tuhan Yang Maha Esa, Engkau adalah sumber segala tenaga, berkahilah tenaga kepada kami"

Semoga semua rakyat menjadi kuat

Dhehi-ojo janesu

Rgveda V.31.13
"Berkahilah semua orang dengan kekuatan"

Keberhasilan dicapai melalui kekuatan

Uttisthan ojasa saha

Rgveda VIII. 76. 10
"Sukses dicapai melalui kekuatan/keberanian"

Keberanian yang ulung selalu dipuja

Ugram tat patyate savah

Rgveda I.84.9
"Keberanian yang ulung selalu dipuji"

Semoga kami memiliki kekuatan yang mengagumkan

Panayyam ojo asme sam-invatam

Rgveda I. 160.5
"Ya Tuhan Yang Maha Esa, limpahkanlah kekuatan yang mengagumkan kepada kami"

Sumber bacaan Buku Veda Sabda Suci Pedoman Praktis Kehidupan oleh I Made Titib. (RANBB)

Selasa, 05 November 2013

Pernikahan Dewayani - Kisah Mahabharata

PERNIKAHAN DEWAYANI


Resi Sukra sangat sedih mendengar kisah putrinya. Ia segera menemui putrinya. Katanya, menghibur Dewayani : " Perbuatan kita sendirilah yang membuat kita bahagia atau menderita, bukan kebajikan atau kejahatan orang lain. " Dengan kata-kata bijak, Rsi Sukra berusaha menghibur putrinya.

Dalam konteks ini, Bhagawan Wiyasa memberikan nasihat kepada umat manusia secara umum dengan kata-kata penghiburan Rsi Sukra kepada putrinya :

"Orang yang dapat menaklukkan dunia adalah orang yang sabar menghadapi caci maki orang lain. Orang yang dapat mengendalikan emosi ibarat seorang kusir yang dapat menaklukkan dan mengendalikan kuda liar. Dia dapat mengambil jarak dari amarahnya seperti ular yang menanggalkan kulitnya. Hanya mereka yang tidak gentar menghadapi siksaan akan berhasil mencapai apa yang dicitakan.

Seperti yang tertulis dalam kitab suci, mereka yang tidak pernah marah jauh lebih mulia daripada orang yang taat menjalankan ibadah selama seratus tahun. Orang yang tidak mampu mengendalikan amarah akan ditinggalkan oleh para pelayan, teman, saudara, istri, anak, kebajikan dan kebenaran. 

Orang yang bijaksana tidak akan memasukkan kata-kata anak muda yang penuh emosi ke dalam hatinya "

Dikutip dari buku Mahabharata-Ramayana oleh C.Rajagopalachari hal 44/885. Umat Hindu sebaiknya membaca buku Kitab Epos Terbesar Sepanjang Masa ini, agar mendapatkan informasi yang benar, bukan dari sinetron atau lawakan di televisi yang menggunakan nama-nama besar tokoh Mahabharata-Ramayana, namun dengan karakter yang tidak sesuai.

Senin, 04 November 2013

Hindu Membangun Kerukunan Universal

HINDU MEMBANGUN KERUKUNAN UNIVERSAL



Umat Hindu Bali yang berdomisili di luar Pulau Bali, hidup berkelompok dalam satu komunitas Hindu selalu berkeinginan untuk membangun kerukunan hidup, baik dengan umat Hindu daerah setempat maupun dengan umat agama lain, seperti umat Islam, Nasrani, Budha maupun dengan aliran kepercayaan yang lain. Landasan utama dari umat Hindu adalah Panca Sradha, Lima Keyakinan Umat Hindu. Inilah hal utama yang selalu melandasi gerak-gerik umat Hindu dimanapun berada. Panca Sradha telah menjadi dasar yang kokoh bagi umat Hindu didalam menjalani kehidupan di dunia ini.

Dalam hal Keyakinan kepada Tuhan, Percaya Kepada Brahman salah satu dari Panca Sradha itu, umat Hindu membangun tempat suci yang disebut Pura Kahyangan Jagat. Untuk di Bali terdapat beberapa Pura Kahyangan Jagat yaitu Pura Besakih, Pura Lempuyang Luhur, Pura Andakasa, Pura Goa Lawah, Pura Luhur Uluwatu, Pura Luhur Batu Karu, Pura Puncak Mangu, Pura Batur, dan Pura Pusering Jagat.

Sedangkan umat Hindu di luar Bali telah memiliki tempat suci Pura Kahyangan Jagat pada setiap kota propinsi, bahkan ada yang memiliki lebih dari satu. Tidak hanya di kota propinsi, namun juga hingga ke kota madya ataupun kabupaten. Ini tergantung dari jumlah umat yang ada didaerah tersebut.

Di Pura Kahyangan Jagat inilah umat Hindu membangun kerukunan universal. Kerukunan universal adalah kerukunan dengan tidak membeda-bedakan asal-usul keturunan, asal desa, perbedaan jenis profesi, perbedaan warna (catur warna) dan lain sebagainya. Demikian pula untuk di Bali. Leluhur kita telah membangun tempat, tempat yang suci untuk kita semua, untuk umat Hindu agar terjalin kerukunan antar umat, antar golongan, antar jabatan dan masyarakat luas.

Memang tidak mudah membangun kerukunan universal, namun inilah tugas umat Hindu, umat yang berada di jalan Kebajikan, Jalan Dharma. Berbahagialah selalu, bersemangatlah selalu umat Hindu dimanapun berdomisili dalam membangun kerukunan universal ini. (RANBB)

Minggu, 03 November 2013

Sifat Hukum Karma Dalam Ajaran Hindu

Dalam ajaran Hindu disebutkan bahwa manusia memiliki 3 sifat dalam dirinya, yaitu Iccha (keinginan, perasaan), Jnana (tahu) dan Kriya (kehendak), yang ketiganya ini membentuk karmanya.

Adapun Sifat Hukum Karma adalah :

Karma pradham vishva raci rakha
Jos jas karai so tas fal chaka

Sri Gosvami Tulsidas
" Seisi semesta diliputi oleh hukum karma, apa pun yang ditanam, maka hal yang sama juga akan didapatkan "


  1. Hukum Karma Bersifat Abadi. Hukum ini dimulai pada saat semesta ini berfungsi, dan akan berakhir pada saat semesta ini musnah (pralaya). Namun tidak seorang pun tahu dan paham kapan semesta ini dimulai dan kapan berakhir.
  2. Hukum Karma Mengikat Secara Universal. Hukum ini berlaku bagi setiap ciptaan baik kecil maupun besar, yang kasatmata maupun tidak kasatmata. Semua mahluk terikat oleh hukum ini, termasuk dewa, maupun awatar.
  3. Hukum Karma Berlaku Sepanjang Jaman. Hukum ini berlaku sepanjang jaman, Sathya Yuga, Treta Yuga, Dwapara Yuga maupun Kali Yuga.
  4. Hukum Karma Bersifat Sempurna. Hukum ini tidak dapat diganggu gugat, diubah, dipaksa berubah, atau berubah sendiri, karena sifatnya konstan dari jaman ke jaman. Hukum ini hanya dapat ditaklukkan dengan mengikuti hukumnya.
  5. Tidak Ada Pengecualian Dalam Pelaksanaan Hukum Ini. Tiada seorang pun yang dapat lolos dari hukum ini, termasuk para Awatara yang agung, seperti Sri Rama, Krishna dan lain-lainnya. 
Sumber bacaan Buku Evolusi Melalui Reinkarnasi dan Karma oleh Anadas Ra. (RANBB)

-->

Kamis, 31 Oktober 2013

7 Maharsi Penerima Wahyu Kitab Suci Weda

Kitab Suci Veda. Wahyu Tuhan yang terhimpun dalam Veda diterima oleh Tujuh (7) Rsi yang dikenal dengan Sapta Rsi. SaptaRsi itu adalah Maharsi Grtsamada, Visvamitra, Vamadewa, Atri, Bharadvaja, Vasistha dan Kanva. Menurut kitab-kitab Purana maupun Manawa Dharmasastra wahyu itu diturunkan bertahap dalam yuga atau jangka waktu tertentu. Pada mulanya Veda diterima secara lisan kemudian diperkenalkan scara lisan pula karena waktu itu belum dikenal tulisan.

Para Rsi penerima wahyu tersebut yaitu :


  1. Maharsi Grtsamada, adalah Rsi yang banyak menerima mantra-mantra Veda terutama Rgveda Mandala II.
  2. Maharsi Visvamitra adalah Rsi yang banyak menerima Rgveda Mangdala III. Sebelum menerima wahyu Visvamitra adalah seorang Ksatrya; putra dari Rsi Musika.
  3. Maharsi Vamadewa adalah penerima wahyu Rgveda Mandala IV. Dalam kitab Purana diceritakan bahwa Vamadewa sempat mengadakan dialog dengan Dewa Indra dan Aditi. Maharsi Vamadewa selagi beliau masih muda mampu memberikan petunjuk untuk mencapai kesempurnaan sejati.
  4. Maharsi Atri adalah penerima wahyu Rgveda Mandala V. Maharsi Atri banyak disebut dalam Matsya Purana baik dalam nama keluarga maupun pribadi.
  5. Maharsi Bharadvaja adalah penerima mantra-mantra dari Mandala VI.
  6. Maharsi Vasistha adalah penerima wahyu Rgveda mantra-mantra Mandala VII. Di dalam kitab Matsya Purana dinyatakan Rsi Vasistha mengawini Arundhati saudara perempuan Rsi Narada, lahir seorang putra bernama Sakti. Setelah Sakti menjadi Rsi ia juga terkenal sebagai penerima wahyu.
  7. Maharsi Kanva adalah penerima wahyu Rgveda Mandala VIII, atau merupakan wahyu yang diterima oleh keluarga Sakuntala.

Adapun Mandala IX dan X Rgveda merupakan kumpulan wahyu yang diterima oleh beberapa Maharsi. Mandala X merupakan Mandala terlengkap yang memuat pokok-pokok ajaran agama Hindu. Wahyu-wahyu yang diterima tersebut tersebar dalam berbagai sakha atau sampradaya atau asrama tempat pembelajaran Veda. Maharsi Vyasa diyakini sebagai Maharsi yang menghimpun mantra-mantra Veda yang tersebar tersebut dengan dibantu oleh Sumantu, Jaimini, Pulaha atau Paila dan Vaisampayana. Penemuan tulisan Sanskerta oleh Rsi Panini membuat Veda semakin populer dan tersebar.

Sumber lengkap buku Kebangkitan Hindu oleh Sargede. (RANBB)

-->

Rabu, 30 Oktober 2013

Veda Mengajarkan Wujudkan Keserasian

Bila kita mampu mewujudkan keserasian hidup, maka kemakmuran akan dapat direalisasikan. Bila keserasian dapat diwujudkan maka persatuan dapat diwujudkan. Keserasian mulai dirintis dalam keluarga, masyarakat dan lingkungan sekitar. Keserasian merupakan landasan untuk mewujudkan kerukunan baik intra keluarga maupun dengan masyarakat, demikian pula kerukunan hidup beragama baik intra, antar dan antara umat beragama dengan pemerintahan akan dapat diwujudkan.

Keserasian untuk kesejahteraan masyarakat

Sam vo manamsi sam vrata
sam akutir namamasi
ami ye vivrata sthana
tan vah sam namayamasi

Atharvaveda III. 8. 5
"Aku menyatukan pikiran-pikiranmu, tindakan-tindakanmu dan gagasan-gagasanmu (pemikiran-pemikiranmu). Kami mengantarkan para pelaku kejahatan menuju jalan yang benar"

Keserasian membawa persatuan

Yena feva na viyanti
no ca vidvisate mithah
tat krnmo brahma vo grhe
Samjnanam purunebhyah

Atharvaveda III. 30. 4
"Wahai umat manusia, persatuanlah yang menyatukan semua para dewa. Aku memberikan yang sama kepadamu juga sehingga anda mampu menciptakan persatuan di antara anda"

Keserasian untuk peningkatan masyarakat

Samjnanam nah svebhih
samjnanam aranebhih
samjnanam asvina yuvam
ihasmasu ni 'acchatam

Atharvaveda VII. 52. 1
"Semoga kami memiliki kerukunan yang sama dengan orang-orang yang sudah dikenal dengan akrab dan dengan orang-orang yang asing. Ya, para dewa Asvin, semoga Engkau kedua-duanya memberkahi kami dengan keserasian (keharmonisan)"

Sumber bacaan buku Veda Sabda Suci Pedoman Praktis Kehidupan oleh I Made Titib. (RANBB)

-->

Selasa, 29 Oktober 2013

Seni Musik dalam Samaveda

Seni musik Samaveda. Untuk memahami musik, pelajari nada-nada seni bunyi dan kitab suci Samaveda dapat dilagukan dengan berbagai cara. Lagu atau irama Samaveda (termasuk juga kita suci Rgveda dan yang lain) hendaknya merdu seperti suara burung bernyanyi. Buatlah lagu-lagu keagamaan dan nyanyikan yang mengagungkan Tuhan Yang Maha Esa.

Belajarlah nada-nada musik (gamelan)

Svaras ca me, slokas ca me

Yayurveda XVIII.1
"Hendaknya anda belajar nada-nada seni bunyi-bunyian (musik) dan penggubahan lagu"

Nyanyikanlah dalam nada-nada yang berbeda

Gaye sasasravartani

Samaveda 1829
"Kami menyanyikan mantra-mantra Samaveda dalam ribuan cara"

Ubhe vacau vadati samaga iva,
gayatram ca traistubham canu rajati.

Rgveda II.43.1
"burung menyanyi dalam nada-nada yang berbeda, seperti seorang perapal Samaveda, yang mengidungkan mantra dalam irama Gayatri dan Tristubh"

Nyanyikanlah lagu-lagu bagi keagungan Tuhan Yang Maha Esa

Gayanti tva gayatrinah,
arcanti - arkam arkinah.

Samaveda 342
"Ya, Tuhan Yang Maha Esa, para penyanyi memuliakan Engkau dengan mantra Gayatri dan para perapal Rgveda memuja Engkau dengan mantra-mantra Rgveda"

Nyanyikan mantra-mantra untuk Tuhan Yang Maha Esa

Indra sama gayata

Samaveda 388
"Wahai para penyanyi, nyanyikanlah Samaveda bagi Sang Hyang Indra"

Bernyanyi (berkidung) dalam paduan suara

Sakhaya a ni sidata
punanaya pra gayata

Rgveda IX.104.1
"Ya, teman-teman, duduk dan nyanyikanlah lagu-lagu dalam paduan suara bagi dewa"

Sumber bacaan Buku Veda Sabda Suci Pedoman Praktis Kehidupan oleh I Made Titib. (RANBB)

-->

Jumat, 25 Oktober 2013

Pergaulan dengan Orang-orang Mulia

Hendaknya setiap orang menghindarkan dirinya bergaul dengan orang-orang yang tercela, dan bergaulah dengan orang-orang yang bijaksana, demikian pula kebangsawanan sesungguhnya hanya dapat diperoleh melalui amal kebajikan.

Tinggalkan pergaulan dengan orang-orang tercela.

Asmanvati riyate sam rabhadhyvam
uttisthata pra tarata sakhayah
atra jahama ye asan asevah
sivan vayam uttaremabhi vajan

Rgveda X.53.8
'Wahai teman-teman, dunia yang penuh dosa dan penuh duka ini berlalu bagaikan sebuah sungai yang alirannya dirintangi oleh batu besar (yang dimakan oleh arus air) yang berat. Tekunlah, bangkitlah, dan seberangilah ia. Tinggalkan persahabatan dengan orang-orang tercela. Seberangilah sungai kehidupan untuk pencapaian kesejahteraan dan kemakmuran'

Bergaullah dengan orang bijaksana

Punar dadataghnata
janata sam gamemahi

Rgveda V. 51.15
'Ya, para dewa, semoga kami memiliki pergaulan dengan orang yang bijaksana, (yang tidak picik dan tidak berbahaya)'

Vayam sahasram rsibhih sanema

Rgveda I. 189.8
'Semoga kami memiliki pergaulan dengan para bijaksanawan (orang-orang suci) dan memperoleh kekayaan dalam ribuan'

Kebangsawanan dengan cara amal

Ye ca deva ayajanta
atho ye ca paradadih

Atharvaveda XX. 128. 5
'Orang-orang yang mulia adalah mereka yang melaksanakan persembahan bagi para dewa dan memberikan uang dalam bentuk dana punia'

Buku Veda Sabda Suci Pedoman Praktis Kehidupan oleh I Made Titib. (RANBB)


Kamis, 24 Oktober 2013

Pura Girinatha Satu-satunya Pura di Dili Timor Leste

Pura Girinatha Satu-satunya Pura di Dili, Timor Leste Peninggalan Indonesia
Pura Girinatha, adalah satu-satunya pura peninggalan jaman Indonesia di Dili, Timor Leste. Pura ini dibangun pada jaman Gubernur Mario Vegas Carrascalao, 1987 lalu. Meski kondisinya memprihatinkan, tapi pura ini masih tetap digunakan oleh sedikit umat Hindu di Dili.

PURA yang biasa digunakan umat Hindu di Dili pada jaman Indonesia dulu, terletak di daerah Taibesi. Seperti layaknya pura-pura lain di Indonesia di luar Bali, pura ini terletak di perbukitan. Tapi, bukit yang ada di sini tidak terlalu tinggi. Sehingga tidak begitu sulit untuk sampai di jaba (bagian terluar) pura. Bahkan, bisa ditempuh dengan mobil.

Jalan aspal yang menuju pura yang diresmikan Gubernur Timtim, Mario Vegas Carrascalao, 27 Juni 1987 ini juga masih bagus. Cuma, karena kemungkinan jarang dilalui kendaraan roda dua, sebagian bibir jalan mulai dijalari rumput liar.

Memang ada saja yang masih datang ke sini. Tapi tidak seperti dulu. Paling orang datang dua atau tiga orang yang datang. Kadang ada juga yang sendirian. Mungkin banyak yang tidak tahu kalau ada tempat sembahyang di sini. Yang datang paling sering hari Sabtu dan Minggu. Tapi tidak pernah malam seperti dulu.

Keberadaan Pura di kota Dili Timor Leste hingga kini tetap dipertahankan. Hal ini tak terlepas dari keinginan Xanana Gusmao, sewaktu masih menjabat sebagai presiden.

Akhirnya hingga kini, Pura di sana sampai kini masih utuh. Beruntung di negeri itu ada umat Hindu walau jumlahnya segelintir saja.

sumber : http://binginbanjah.wordpress.com/2011/03/16/pura-di-timor-leste/

Hasil penelusuran lain diantaranya :

DILI, Jan 15 - Malaysian Ambassador to Timor Leste joins the Malaysian Hindus celebrate the Hindu?s Pongal Festival Celebration yesterday (14 January 2010). The celebration was organized by the Indian Community & the International Hindu Community in Timor Leste. The prayer ceremony was held at the Acient Balinese Temple in Lahane, Dili.

http://www.kln.gov.my/web/tls_dili/home

-->

Ajaran Dharma : Ikuti Jalan Kebajikan

Ajaran Dharma. Seseorang hendaknya selalu mengikuti jalan yang benar, jalan kebajikan, sebab siapa saja yang berjalan di jalan yang benar (dharma) akan memperoleh kemakmuran, jasa dan kebajikan. Dekatkanlah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk senantiasa memdapat bimbingan-Nya. Orang yang memiliki keyakinan menjalankan kebenaran, maka kebajikannya itu akan melenyapkan kesusahan dan dengan kebajikan dapat menolong diri sendiri.

Rgveda V. 51.15
  " Mari kita terus berjalan pada jalan yang benar seperti jalannya matahari dan bulan. Kita seharusnya bergaul dengan orang-orang yang bermurah hati yang puas (dengan diri sendiri) dan yang berpengetahuan tinggi " Rgveda V. 51.15


Rgveda X.63.13
  " Wahai dewa-matahari, semua umat manusia yang Engkau alihkan dari jalan kejahatan, menempuh ke jalan yang berbudi, diberkati dengan kemakmuran dan juga dilimpahi dengan keturunan (generasi) yang berbudi luhur, berkat sikap keagamaan mereka ". Rgveda X.63.13


Atharvaveda XVIII. 3. 24
  " Para dewa, kami melaksanakan perbuatan-perbuatan yang baik bagi engkau dan kami menjadi berbudi. Fajar-fajar yang cemerlang itu bersinar menurut hukum-hukum alam. Bimbingan yang disiapkan oleh para dewa bermanfaat bagi kami. Kami, orang-orang yang berani, yang mungkin ikut serta ambil vagian di dalam perbincangan-perbincangan akademis ". Atharvaveda XVIII. 3. 24


Rgveda VIII. 83. 6
  " Para dewa yang bermurah hati, kami yang hidup di tempat tinggal kami dan mengikuti jalan kebajikan, memohon kepada-Mu untuk kemakmuran kami " Rgveda VIII. 83. 6

Atharvaveda VII. 97. 7
" Para dewa, Engkau mengetahui jalan kebajikan. Semoga Engkau memberi bimbingan untuk mengikuti jalan kebajikan ". Atharvaveda VII. 97. 7

Atharvaveda XX. 63. 9
" Sang Hyang Indra (Tuhan Yang Maha Esa), semoga Engkau memaksa kami untuk mengikuti jalan kebenaran ". Atharvaveda XX. 63. 9

Rgveda 133.6
" Tuhan Yang Maha Esa, semoga Engkau menuntun kami ke jalan kebajikan sehingga kami bisa meniadakan semua kesusahan (kekalutan) ". Rgveda 133.6

Yayurveda XXIII.15
" Wahai orang yang gagah berani, buatlah dirimu kuat dan kokoh olehmu sendiri, laksanakan sendiri perembahan (yajna). Jalanilah kehidupan keagamaan. (tak seorang pun mampu mencapai kejayaanmu) ". Yayurveda XXIII.15


Atharvaveda X. 2. 3
  " A devanam api pantham aganma , Semoga kami mengikuti jalan kebenaran " Atharvaveda X. 2. 3

Minggu, 20 Oktober 2013

Pujawali Pura Giri Kusuma Bogor Purnama Kapat

Pujawali ke 15 Pura Giri Kusuma Bogor dilaksanakan pada Purnamaning Kapat (bulan purnama sasih ke empat), tanggal 19 Oktober 2013 dengan tingkatan Uttamaning Nista. Pura Giri Kusuma Bogor terletak di komplek Institut Pertanian Bogor (IPB) Baranangsiang IV Bogor Baru Bogor. Pura ini disungsung dan diempon oleh Kerama Suka Duka Hindu Dharma banjar Bogor yang peristiwa Ngenteg Linggih nya pada 6 Oktober 1998 dipuput oleh Ida Pedanda Mabe Gde Putra Sidemen.

Video pujawali pura Giri Kusuma Bogor. Klik disini. Video ini milik pribadi (bukan laporan resmi panitia).

Pujawali Pura Giri Kusuma Bogor dalam guyuran hujan dipuput oleh Ida Pedanda Gede Nyoman Jelantik Oka dari griya Cimangu Depok. Sebelumnya telah dilaksanakan rangkaian persiapan pujawali meliputi nuasen karya, negtegang karya pada hari jumat 4 Oktober yang dipuput oleh Ida Pedanda Nabe Gde Putra Sidemen griya Ciledug, kemudian Nuur tirtha ke sepuluh pura dilingkungan Jabodetabek dan matur piuning di lima pura di lingkungan Bogor pada 18 Oktober. Lihat foto Ida Pedanda Nabe Gde Putra Sidemen. Klik disini.

Puncak pujawali pada Sabtu Umanis Sungsang Purnama Kapat Saka 1935 dipuput oleh Ida Pedanda Gede Nyoman Jelantik Oka dari griya Cimangu Depok, serta akan dilanjutkan dengan penyineban pada malam harinya pukul 23.00. Dalam puncak pujawali Pura Giri Kusuma ini ditarikan tarian sakral tari Rejang dan tari Topeng Sidakarya dengan tujuan agar pujawali yang dilaksanakan stata labda karya paripurna. Tarian Bali-balian (hiburan) ditampilkan di jaba tengah seperti tari panyembrama, tari truna jaya dan lain sebagainya.

Dilanjutkan dengan persembahyangan bersama yang dipimpin oleh Ida Pedanda Gede Nyoman Jelantik Oka. Lihat foto Ida Pedanda Gede Nyoman Jelantik Oka, klik disini. Pada kesempatan nunas tirtha diselingi laporan ketua panitia pujawali, Ibu dokter, sambutan ketua banjar Prof. Suastijaya dan Dharma wacana dari Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Bogor bapak Wayan Suastika.

Dalam Dharma wecananya bapak Wayan Suastika menyatakan kesuksesan pujawali ini didasari oleh keiklasan lascharya dari semua pihak baik itu panitia, banjar maupun masyarakat Hindu di Bogor ini. Semua jenis pekerjaan dalam persiapan pujawali harus didasarkan dengan keiklasan, kegiatan dalam pujawali bukan hanya mejejahitan membuat Yadnya, tetapi juga termasuk mencuci piring, menyapu maupun membuat tekor. Semua kegiatan ini adalah sama dihadapan Ida Hyang Widhi asalkan didasari atas keiklasan.

Bapak Wayan Suastika (PHDI kota Bogor) menegaskan bahwa dengan pujawali diharapkan rasa bhakti kita kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa semakin tinggi, yang kedua; rasa tresna yang meningkat di lingkungan umat, pekedek pekenyum menyama braya, dan yang ke tiga adalah rasa peduli pada lingkungan disekitar kita baik itu kebersihan maupun toleransi beragama.

Kerama Suka Duka Hindu Dharma banjar Ciledug melaksanakan kegiatan Ngiring Pekuluh ke pura Giri Kusuma ini diwakili oleh tempek Joglo. (RANBB)

Banjar Ciledug Tangerang Ngiring Tiga Pekuluh

Kerama Suka Duka Hindu Dharma  
(KSDHD) banjar Ciledug melaksanakan kegiatan Ngiring Pekuluh. Pada Sabtu Umanis Sungsang (19/10) yang bertepatan dengan bulan Purnama Kapat (sasih ke empat), KSDHD banjar Ciledug Ngiring Pekuluh ke 3 (tiga) pura yang sedang melaksanakan pujawali. Ke tiga pura tersebut adalah Pura Giri Kusuma Bogor, Pura Eka Wira Anantha Serang Banten dan Pura Penataran Agung Kerta Bumi di TMII Jakarta Timur.

Video kegiatan Ngiring Pekuluh. Klik disini.

Tradisi Ngiring Pekuluh setiap Pujawali  Umat Hindu Jakarta, Bogor, Bekasi dan Banten merupakan tradisi "ngelunganin" pada pujawali salah satu Pura di lingkungan wilayah ini. Ini sedikit berbeda dengan pujawali di Bali. Namun hal ini juga terjadi di Bali saat pujawali besar di Pura Besakih, pada saat Bhatara Turun Kabeh atau pada satu dua pura yang mempunyai ciri khusus.

Kerama Suka Duka Hindu Dharma banjar Ciledug sebagai pengempon pura Dharma Sidhi dengan didukung oleh tempek-tempek yang ada melaksanakan kegiatan Ngiring Pekuluh dengan penuh antusias dan tentunya karena akan memperoleh kesempatan untuk tangkil ring ajeng Ida Panembahan disaat Beliau katurin pujawali. Tempek-tempek membagi diri untuk Ngiring Pekuluh yang ke Pura Eka Wira Anantha Serang terdiri dari tempek Parung Serab, Tempek Ciledug Indah dan Tempek Kunciran, yang ke Pura Penataran Agung Kerta Bumi TMII adalah tempek Mahartika. Tempek Joglo yang pada kesempatan ini sebagai 'panitia' persiapan Ngiring Pekuluh mendapat ngiring Ida Panembahan Pura Dharma Sidhi ke Pura Giri Kusuma Bogor.

Foto-foto Pura Hindu se Jabodetabek. klik disini.

Tradisi Ngiring Pekuluh ini sangat bermanfaat bagi umat Hindu didalam meningkatkan Srada dan Bhakti-nya, meningkatkan rasa memiliki Pura Kahyangan di wilayah ini, meningkatkan rasa menyama braya, dan meningkatkan solidarias umat. Sagilik Saguluk Paras Paros Sarpanaya menyama Braya di daerah rantauan. (RANBB)

Sabtu, 19 Oktober 2013

Pura Giri Bhuana Manokwari Papua

Pura Giri Bhuana Manokwari Papua terletak di jalan Brawijaya, Manokwari, Papua Barat. Umat Hindu di Manokwari dalam melaksanakan kegiatan keagamaan untuk meningkatkan Sradha dan Bakthi nya kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa banyak dipusatkan di Pura Giri Bhuana ini. Seperti sekarang ini dalam menyambut perayaan hari raya Galungan dan Kuningan, umat Hindu sudah bersiap-siap,  mejejahitan, membuat penjor dan Yadnya lainnya.

Pura Giri Bhuana sebagai tempat yang sangat strategis bagi umat Hindu untuk bertemu, berkumpul dan bertukar pengalaman serta informasi yang bermanfaat. Melaksanakan kegiatan kerohanian seperti belajar mekidung, matembang, belajar filsafat dan diskusi agama. Dari segala lapisan masyarakat terutama umat Hindu yang merantau di Manokwari ini selalu berkumpul, baik untuk acara pujawali Pura Giri Bhuana maupun dalam meningkatkan persatuan umat, segalak segilik selunglung sabayan taka menyama braya ring perantauan.

Umat Hindu semakin meningkat baik secara kuantitas maupun kualitas di Manokwari ini, dimana Parisada Hindu Dharma sudah terbentuk lengkap dengan susunan pengurusnya yang selalu bekerja meningkatkan dalam pelayanan umat Hindu di ibukota Papua Barat ini.  Warga Hindu di Manokwari berasal dari latar belakang pekerjaan berbeda. Selain banyak sebagai polisi, PNS, juga ada petani yang menempati areal kompleks trasmigrasi di daerah Wasege, SP 3 Perapi dan Desa Mantegi.

Pura Giri Bhuawa merupakan pusat kegiatan keagamaan hari besar seperti hari raya Nyepi juga dipusatkan di pura Giri Bhuana, selain rerahinan Purnama-Tilem, Kajeng Kliwon, Pagerwesi, Saraswati maupun Tumpek. (RANBB)

-->

Cari Artikel di Blog ini

Berita Terkait Semangat Hindu

Artikel Agama Hindu

108 Mutiara Veda Agama Hindu Dharma agama islam Ajaran Hindu aris widodo artikel hindu Arya Wedakarna Asta Brata Atharvaveda babad bagian catur weda bahasa jawa kuno bahasa kawi bahasa sanskerta banten hindu bali Belajar Hindu bhagavad gita bhagawan bhuta yadnya Bimas Hindu brahma wisnu siwa brahmana ksatriya wesia sudra budaya bali Catur Brata Catur Purusharta catur veda Catur Warna Catur Weda Cendekiawan Hindu Dana Punia dewa dewi hindu dewa yadnya dharma artha kama moksa Dharma Santi dharma wacana Doa Anak Hindu epos mahabharata ramayana filsafat agama hindu ganesha Hari Raya Galungan Hari Raya Kuningan Hari Raya Nyepi Hari Raya Pagerwesi Hari Raya Saraswati Hindu Agama Terbesar di Dunia Hindu Banten Hindu beribadah di Pura Hindu Festival Hindu Indonesia hindu nusantara Hindu Tengger Hinduism Facts Hinduism the Greatest Religion in the Word Hukum Karma Ida Pedanda sakti isi catur weda kakawin Kamasutra Kerajaan Hindu Kitab Suci Weda lontar Mantra manusa yadnya Meditasi Matahari Terbit menghafal sloka Moksha Motivasi Hindu Mpu Jayaprema nakbalibelog Nuur Tirtha Om or Aum opini hindu moderat Panca Sradha panca yadnya pandita parahyangan agung jagatkartta Pasraman Pasupati Pembagian Kitab Suci Veda Pemuda Hindu Indonesia pendidikan hindu pengertian catur weda Peradah percikan dharma phdi pinandita Pitra Yadnya Ngaben Pitrapuja potong gigi Principle Beliefs of Hinduism Pujawali purana purnama tilem Radio online Bali rare angon nak bali belog Reinkarnasi Rgveda ritual hindu Rsi yadnya sad darsana sad guru Samaveda sanatana dharma Sarassamuscaya Sarassamuscaya Sloka sattvam rajah tamah Sekta Hindu Semangat Hindu Sex and Hinduism siwa budha waesnawa Sloka sloka bhagawad gita sloka Rgveda sloka yayurveda spiritualitas hindu sradha dan bhakti sri rama krishna paramahansa Sri Sathya Sai Baba sumpah dalam perkara tat twam asi tattwa susila upakara Tempat Suci Hindu Tri kaya parisudha upacara hindu Upanisad Utsawa Dharma Gita Vasudhaiva Kutumbakam Vijaya Dashami wija kasawur Yayurveda