OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM

PRAKATA

Selamat Datang

Semangat Hindu merupakan blog bersama umat Hindu untuk berbagi berita Hindu dan cerita singkat. Informasi kegiatan umat Hindu ini akan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan.
Semangat Hindu semangat kita bersama.

Bersama Semangat Hindu kita berbagi berita dan cerita, info kegiatan, bakti sosial dan kepedulian, serta kegiatan keagamaan seperti ; pujawali, Kasadha, Kaharingan, Nyepi, Upacara Tiwah, Ngaben, Vijaya Dhasami dan lain sebagainya.

Marilah Berbagi Berita, Cerita, Informasi, Artikel Singkat. Bagi yang mempunyai Web/Blog, dengan tautan URL maka dapat meningkatkan SEO Web/ blog Anda.

Terima Kasih
Admin

RANBB

---#### Mohon Klik Share untuk mendukung blog ini ####---

Tampilkan postingan dengan label sanatana dharma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sanatana dharma. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Juni 2023

Sanatana Dharma Artinya Agama Abadi

 Sanatana Dharma Artinya Agama Abadi 

Percikan Dharma
Sanatana Dharma

Om Swastyastu
Umat sedharma, perlu kita ketahui bahwa sebelum agama Hindu beredar di masyarakat dunia sebetulnya nama aslinya Sanatana Dharma. Sanatana Dharma artinya Agama Abadi atau hukum-hukum kuno yang didasarkan pada Weda. ini merupakan agama hidup yang tertua. Hinduisme dikenal dengan Sanatana Dharma. 



Weda sendiri menyatakan bahwa yang menjadi cara pencapaian pembebasan akhir adalah Sanatana Dharma atau Hindu Dharma. 
Pondasi dari sanatana dharma adalah Sruti, sedangkan Smerti merupakan dindingnya. 
Hinduisme berdiri kokoh dalam keadaan dan keagungan filsafatnya. Ajaran-ajaran kesusilaannya luhur, khas dan mulia, yang keluwesannya tinggi dan memenuhi kebutuhan setiap manusia. Ia adalah sebuah agama yang sempurna dengan sendirinya.

Sanatana Dharma telah menghasilkan demikian banyak orang-orang suci besar, para patriot, para pejuang dan patiwrata agung. Lebih banyak kamu mengetahuinya, kamu akan lebih hormat dan lebih mencintainya. Lebih banyak kamu mempelajarinya, lebih banyak memberimu penerangan dan memuaskan hatimu.
Om Santih Santih Santih Om

Aris Widodo
Penyuluh Agama Hindu
Kota Serang

Jumat, 07 April 2023

HINDU ADALAH SANATHANA DHARMA; VAIDHIKA DHARMA; ARYA DHARMA;

HINDU ADALAH SANATHANA DHARMA; VAIDHIKA DHARMA; ARYA DHARMA;

BANGGALAH MENJADI HINDU


Menjadi penganut Hindu, kadang-kadang umat merasa minder dengan jumlah yang sedikit atau minoritas. Kondisi ini diperparah dengan minimnya pemahaman pada tatwa agama yang baik, sehingga ketika mereka ditanya tentang agama yang terkadang menyudutkan, kita tidak mampu memberikan penjelasan secara komprehensif. Kondisi semacam ini akan menggairahkan para "misionaris marketing surga" untuk memojokkan Umat Hindu dan agama Hindu dengan menyematkan beberapa predikat, seperti 'Hindu Pemuja Berhala', Hindu bukanlah agama, yang hanya budaya hasil karya cipta manusia.

HINDU adalah ARYA DHARMA

HINDU adalah ARYA DHARMA yang dimaksud adalah bahwa agama Hindu merupakan agama ksatrya pemberani dan bertanggung jawab. Setiap perbuatannya dipertanggung jawabkan secara individu. Hindu tidak pernah mengajarkan keroyokan, berani berbuat berani bertanggung jawab, karena keyakinan akan Hukum Karmanya. Tidak seperti keyakinan tetangga sebelah, asal sudah satu agama akan selalu dibela mati-matian walaupun salah.😪

 

HINDU ADALAH VAIDHIKA DHARMA

HINDU ADALAH VAIDHIKA DHARMA yang dimaksud adalah bahwa Hindu merupakan 'Wahyu Suci Brahman' yang diterima langsung oleh para Maha Rsi kita melalui bahasa 'Daivivac' atau bahasa Deva. Hindu juga bersifat 'Apauruseya' yang artinya bukan karya purusa atau manusia. Jadi tidak benar tuduhan yang mengatakan Hindu sebagai agama Budaya, hasil karya cipta manusia. Veda dan Hindu diturunkan untuk mewujudkan kesejahteraan semesta 'Loka Samgraha', seperti dalam bait mantra Tri Sandya, yaitu : Sarva prani hitankarah, semoga seluruh makhluk sejahtera & bahagia, jadi Hindu tidak berfikir hanya untuk dirinya sendiri, tidak seperti agama tetangga sebelah kita. Sungguh mulia bukan....?

 

HINDU ADALAH SANATHANA DHARMA

HINDU ADALAH SANATHANA DHARMA yang dimaksud adalah agama Hindu mengusung kebenaran yang absolut, kebenaran yang hakiki, kebenaran yang sejati yaitu Brahman atau Tuhan yg Maha Sempurna, yang bisa dijumpai dengan berbagai cara dan sarana. Kalau kita lihat dalam agama tetangga, seolah olah Tuhan sangatlah membatasi manusia yang hanya bisa ditemui dengan satu bahasa saja, satu cara saja. Mereka akan menyatakan salah dan sesat jika ada sebagian umatnya yang menjalankan ibadah tidak sesuai dengan umat mayoritasnya. Sehingga jika ada umat yang menyandang cacat permanen, seperti bisu tuli, seolah mereka menyandang 'dosa permanen'.

Itulah Hindu, yang sangat menghargai perbedaan dan keragaman, yang tidak gampang menyatakan sesat walau tidak sehaluan, yang tidak mudah berkata salah pada sebagian yang tidak sama dalam ritual.

Utk itu melalui coretan ini saya mengajak kepada anak-anak muda mari kita pahami agama kita dengan baik , agar mendapatkan hasil yang baik. Jangan mudah digoyang keyakinan kita, janganlah minder walau kita minoritas.

BANGGALAH MENJADI HINDU!!!!


Kamis, 23 Februari 2023

Percikan Dharma Kepemimpinan Jawa Kuna

Percikan Dharma  Kepemimpinan Jawa Kuna


Om Swastyastu


Umat se-dharma, dalam kehidupan ini ada kepemimpinan menurut jawa kuna yang bisa dijadikan pedoman atau pegangan untuk memimpin. Ada tiga landasan atau pedonman yang bisa dipakai sebagai acuan yaitu:

1. Tri Dharma (tiga landasan pengabdian)

a. Rumangsa melu handarbeni (merasa ikut memiliki artinya seorang pemimpin merasa memiliki dan dimiliki rakyat dan negaranya.

b. Wajib melu hangrungkebi (wajib ikut mengamankan) artinya seorang pemimpin wajib melindungi rakyat dan mengamankan negaranya dari ancaman musuh-musuhnya.

c. Mulat sarira hangrasa wani (berani mawas diri / instrupeksi dan retrospeksi, untuk selanjutnya melakukan koreksi dan perbaikan.


2. Landasan Diplomasi

a. Sugih tanpa banda (kaya tanpa harta) maksudnya pemimpin selalu bersyukur dan merasa berkecukupan dan selalu mengutamakan kesejahteraan rakyat.

b. Ngelurug tanpa bala (menyerang tanpa bala tentara) maksudnya menggunakan cara persuasi/strategi pendekatan/lobiing serta diplomasi dalam memgalahkan lawan politiknya.

c. Menang tanpa ngasarake (menang tanpa mengalahkan) maksudnya berusaha cari jalan keluar tanpa orang lain merasa dirugikan (ambil ikannya, tetapi airanya jangan sampai keruh).

d. Weweh tanpa kelangan (memberi tanpa kehilangan) maksudnya setiap pengorbanan pemimpin dilandasi dengan ikhlas (karena setiap pengorbanan pasti berpahala/tidak sia-sia).


3. Berpedoman Pada Sifat Profesi

a. Sifat Raja/Ratu : bijaksana, adil, berpedoman pada kebenaran (ambeg Paramartha)

b. Sifat Pandita : menjauhi hal-hal/kemewahan duniawi, taat pada pantangan (brata).

c. Sifat Petani : jujur, sederhana, tekun, ulet, terbuka (blaka).

d. Sifat Guru : memberikan tauladan yang baik kepada pengikutnya.


Demikian sekelumit kepemimpinan menurut Jawa Kuna yang masih bisa diikuti atau diterapkan oleh pemimpin di masa kini dan masa mendatang karena masih relevan untuk diterapkan dalam kepemimpinan.

Om Ssntih Santih Santih Om


Aris Widodo

Penyuluh Agama Hindu

Kota Serang

Jumat, 23 Desember 2016

HINDU ADALAH VAIDHIKA DHARMA

BANGGALAH MENJADI HINDU

Menjadi penganut Hindu, kadang-kadang umat merasa minder dengan jumlah yang sedikit atau minoritas. Kondisi ini diperparah dengan minimnya pemahaman pada tatwa agama yang baik, sehingga ketika mereka ditanya tentang agama yang terkadang menyudutkan, kita tidak mampu memberikan penjelasan secara komprehensif. Kondisi semacam ini akan menggairahkan para "misionaris marketing surga" untuk memojokkan Umat Hindu dan agama Hindu dengan menyematkan beberapa predikat, seperti 'Hindu Pemuja Berhala', Hindu bukanlah agama, yang hanya budaya hasil karya cipta manusia.

HINDU adalah ARYA DHARMA

HINDU adalah ARYA DHARMA yang dimaksud adalah bahwa agama Hindu merupakan agama ksatrya pemberani dan bertanggung jawab. Setiap perbuatannya dipertanggung jawabkan secara individu. Hindu tidak pernah mengajarkan keroyokan, berani berbuat berani bertanggunh jawab, karena keyakinan akan Hukum Karmanya. Tidak seperti keyakinan tetangga sebelah, asal sudah satu agama akan selalu dibela mati-matian walaupun salah.😪

HINDU ADALAH VAIDHIKA DHARMA

HINDU ADALAH VAIDHIKA DHARMA yang dimaksud adalah bahwa Hindu merupakan 'Wahyu Suci Brahman' yang diterima langsung oleh para Maha Rsi kita melalui bahasa 'Daivivac' atau bahasa Deva. Hindu juga bersifat 'Apauruseya' yang artinya bukan karya purusa atau manusia. Jadi tidak benar tuduhan yang mengatakan Hindu sebagai agama Budaya, hasil karya cipta manusia. Veda dan Hindu diturunkan unttk mewujudkan kesejahteraan semesta 'Loka Samgraha', seperti dalam bait mantra Tri Sandya, yaitu : Sarva prani hitankarah, semoga seluruh makhluk sejahtera & bahagia, jadi Hindu tidak berfikir hanya untuk dirinya sendiri, tidak seperti agama tetangga sebelah kita. Sungguh mulia bukan....?

HINDU ADALAH SANATHANA DHARMA

HINDU ADALAH SANATHANA DHARMA yang dimaksud adalah agama Hindu mengusung kebenaran yang absolut, kebenaran yang hakiki, kebenaran yang sejati yaitu Brahman atau Tuhan yg Maha Sempurna, yang bisa dijumpai dengan berbagai cara dan sarana. Kalau kita lihat dalam agama tetangga, seolah olah Tuhan sangatlah membatasi manusia yang hanya bisa ditemui dengan satu bahasa saja, satu cara saja. Mereka akan menyatakan salah dan sesat jika ada sebagian umatnya yang menjalankan ibadah tidak sesuai dengan umat mayoritasnya. Sehingga jika ada umat yang menyandang cacat permanen, seperti bisu tuli, seolah mereka menyandang 'dosa permanen'.

Itulah Hindu, yang sangat menghargai perbedaan dan keragaman, yang tidak gampang menyatakan sesat walau tidak sehaluan, yang tidak mudah berkata salah pada sebagian yang tidak sama dalam ritual.

Uutuk itu melalui coretan ini saya mengajak kepada anak-anak muda mari kita pahami agama kita dengan baik , agar mendapatkan hasil yang baik. Jangan mudah digoyang keyakinan kita, janganlah minder walau kita minoritas.
BANGGALAH MENJADI HINDU!!!!
sumber : http://www.hindubanten.com/

Rabu, 24 Agustus 2016

Swara Hindu Dharma

Swara Hindu Dharma. 
Menjaga Sradha Menebar Dharma. 

http://www.swarahindudharma.com/

Adharmam dharmam iti ya manyate tamasavrta
Sarvarthan vipaitams ca buddhih sa partha tamasi


“Pengertian yang menganggap hal hal yang bertentangan dengan dharma sebagai dharma dan dharma sebagai hal-hal yang bertentangan dengan dharma, dibawah pesona khayalan dan kegelapan, dan selalu berusaha kearah yang salah berada dalam sifat kebodohan, wahai putera Prtha.” (Bhagawad Gita 18.32)
 Kecerdasan dalam sifat kebodohan selalu bekerja dengan cara yang berlawanan dengan cara yang sebenarnya. Kecerdasan tersebut mengakui dharma dharma yang sebenarnya bukan dharma dan menolak dharma yang sejati. Orang yang kurang cerdas menganggap roh yang mulia adalah manusia biasa  dan mengakui orang biasa  sebagai roh yang mulia. Mereka menganggap kebenaran tidak benar  dan mengakui hal-hal yang tidak benar sebagai kebenaran. Dalam segala kegiatan mereka hanya mengambil jalan yang salah; karena itu kecerdasan mereka berada dalam sifat kegelapan.
Sering kali dalam keseharian hidup kita menemukan orang orang dalam ciri ciri yang disebutkan dalam sloka diatas dan seringkali pula kita menempatkan seseorang dalam kedudukan yang tidak tepat. Kita memandang rendah bila orang itu tidak berpakaian seperti kita, kita memandang rendah karena orang yang kita temui lebih miskin dari kita. Jadi sloka diatas mengajak kita untuk keluar dari situasi seperti ini.
Bagaimana cara kita merespon kenyataan yang luhur ini? Dengan memulai dari diri kita sendiri untuk mempraktekkan hal hal yang sesuai dengan pandangan sastra…sastra caksuh. Dengan  demikian kita bisa selalu berada dalam kedudukan kita yang sebenarnya.
om tat sat.
ref: I Gede Suwardana, S.Ag
Penyuluh Agama Hindu Kemenag DIY.

Senin, 21 April 2014

Wiwaha dan Wijaya

Semangat Hindu
Buku Wija Kasawur
Ada sebuah karya sastra kakawin berjudul Arjuna Wiwaha Karya Mpu Kanwa namun ada pula yang memakai judul Arjuna Wijaya Karya Mpu Tan Tular. Karya yang lain memakai judul Abhimanyu Wiwaha, Subhadra Wiwaha, disamping karya sastra kakawin berjudul Pretu Wijaya, Hari Wijaya, Kresna Wijaya, Ratna Wijaya, Rama Wijaya dan yang lain. Baca artikel  Perempuan dalam Dunia Kakawin.


Wiwaha dan Wijaya menjadi menarik perhatian kita. Wiwaha di dalam kamus biasa diterjemahkan dengan "perkawinan" atau "membawa pergi"; sedangkan Wijaya diterjemahkan dengan "kemenangan", "keberhasilan". Namun makna dalam kamus tentu tidak sama dengan makna simbolik. Baca artikel Sudahhkah Dharma Mengalahkan Adharma?

Ada sebuah jawaban yang diberikan oleh Sang Arjuna kepada Bhatara Indra yang menyamar sebagai pandita ketika menggodanya : .......hana pinaka kakangkwan Sri Dharmatmaja karengo, sira ta pinatapaken mahyun digjaya wijaya. "............. ada kakak hamba Sang Dharmawangsa, kepadanyalah hamba mengabdikan diri demi kejayaannya ". Dan ketika Mpu Kanwa menggambarkan perasaan Sang Arjuna setelah bertemu dengan saudara-saudaranya disuratkan dalam kakawin Arjuna Wiwaha sebagai berikut : ...........Saksat wah suka ramya rakwa kadi megha manuruni tasik, sangsiptan ri huwus nikang samaya digwijaya gati nira .".........bagaikan air bah kesenangan beliau atau bagaikan mendung menjatuhkan hujan di samudera; singkatnya mereka telah berikrar untuk mencapai kemenangan yang dilang gemilang."


Bahwa Jaya, Wijaya, Digjaya, itulah yang menjadi tujuan Sang Arjuna melakukan pertapaan. Dan semua itu dilukiskan dengan indah dalam sebuah karya sastra kakawin Arjuna Wiwaha. Arjuna dalam karya sastra yang digubah oleh Mpu Kanwa dari itihasa Mahabharata (pada bagian Wana-parwa) itu memang melukiskan perkawinan antara Arjuna dengan para bidadari setelah ia berhasil mengalahkan maharaja sakti namun sombong Niwatakawaca, para bidadari yang sebelumnya ternyata telah gagal menggodanya. Tetapi di balik itu Mpu Kanwa sesungguhnya ingin melukiskan perkawinan antara sang pertapa Arjuna dengan sakti yang diterimanya atas anugerah Hyang Siwa.

Setelah Sang Arjuna berhasil mengalahkan segala godaan yang ditimpakan kepada dirinya, Hyang Siwa, Dewata Penganugerah hadir dihadapannya. "Ananda ternyata telah berhasil menemukan segala kehendakmu; ada anugerah berupa Cadu Sakti (empat kekuatan) dalam bentuk senjata, panah Pasupati namanya sangat terkenal, lihatlah !". Arjuna mendapat anugerah berupa "senjata" Cadusakti, empat sakti. Dalam kitab-kitab Siwa-tattwa dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan Cadusakti tiada lain adalah Wibhusakti, Prabhusakti, Jnanasakati dan Kriya sakti.
Wibhusakti bermakna maha ada, menyusup pada semua yang ada (bagaikan api dalam kayu, minyak dalam santan), Prabhusakti bermakna maha kuasa, Jnanasakti bermakna maha mengetahui, dan Kriya sakti bermakna maha karya.

Itulah sakti yang diterima oleh ksatria pertapa Arjuna. dan Arjuna manunggal, bersatu atau kawin (samyoga, samgama wiwaha), dengan keempat sakti itu. Maka Arjuna pun kemudian disebut sebagai "manusia sakti". Baca artikel Seberapa Dekatkah Anda dengan Tuhan Anda ?

Ketika Daitya Niwatakawaca mendapat anugerah Hyang Siwa karena kuatnya tapa yang dilakukannya, anugerah berupa kekuatan utama yaitu tidak akan terbunuh oleh dewa, yaksa dan raksasa, Hyang Siwa berpesan kepadanya, "nghing yan manusa sakti yanta juga ko !" (tetapi jika ada manusia sakti, hati-hati engkau). Dan ternyata "manusia sakti" yang harus dihadapinya tiada lain adalah Sang Arjuna yang telah mendapat anugerah senjata Cadusakti. Maka Arjuna telah melakukan Wiwaha dengan mencapai Wijaya.

Sumber bacaan buku Wija Kasawur 2 Ki Nirdon. (RANBB)

Jumat, 21 Maret 2014

Sanghara Wija Kasawur

Si Bhanggala membeli secutak tanah milik Si Jarembha. Setelah mendirikan rumah si Bhanggala membuat sumur di pojok pekarangan. Tanah pun digali, dan ternyata segumpal emas ia temui dalam galian itu.

Mengetahui hal itu si  Jarembha mendatangi si Bhanggala dan meminta emas tersebut. Alasannya ia tidak menjual emas yang ada di tanah itu, tetapi hanya menjual tanahnya saja. Si Bhanggala menolaknya karena ia beranggapan apapun yang terdapat di dalam secutak tanah yang ia beli adalah miliknya.
Maka perdebatan pun terjadi. Orang-orang pada berdatangan, lalu menganjurkan supaya mereka menyampaikan persoalannya kepada maharaja Dharmawangsa.

Sang Dharmawangsa yang telah memerintah hampir empat puluh tahun sejak kemenangannya dalam peranbf besar Bharatayuddha melihat persoalan ini sebagai tanda-tanda zaman, terlebih lagi ciri-ciri alam pun menunjukkan bahwa zaman kehancuran akan tiba, zaman kali sanghara.

Ida Pedanda Made Sidemen mengolah cerita tersebut ke dalam bentuk kakawin yang indah. Kakawin Kalpha Sanghara, dikarang pada tahun Saka 1866 atau tahun 1944 Masehi. Tidak jelas dari mana pengarang besar Bali tersebut mendapatkan sumbernya. Tetapi dalam kitab Mosalaparwa, kitab ke-enambelas yang membangun Mahabharata kita menemui cerita lain yang maknanya sama.

Tiga puluh enam tahun setelah perang besar Bharata Yuddha berakhir, terjadilah pertanda alam yang buruk. Maharaja Dharmawangsa menyadari akan adanya tanda-tanda itu. Angin kering bertiup kencang. Debu, pasir dan bahkan batu-batu kerikil berterbangan dari berbagai penjuru. Cirit bintang berjatuhan menghantam bumi dengan bara panas berpijar. Matahari selalu bagaikan tertutup debu. Pada saat terbit dan terbenam bundaran matahari seolah-olah disilang oleh tubuh-tubuh tanpa kepala. Dan memang benar. Sang Dharmawangsa mendapat kabar tentang kehancuran bangsa Wresni. Bangsa ini hancur karena saling bunuh, yang merupakan perwujudan dari kutuk para pandita. Baca Sudahkah Dharma Mengalahkan Adharma ?

Bermula dari tindakan yang dilakukan oleh para ksatria untuk mengelabui para pandita : Sang Samba menyamar sebagai wanita hamil, labu beramai-ramai diarak dan diantar menghadap sang pandita. Salah seorang mengajukan pertanyaan apakah yang akan lahir dari kandungan tersebut. Dengan sangat marah para pandita tersebut menyatakan bahwa wanita hamil tersebut sesungguhnya adalah Sang Samba, dan ia akan melahirkan bom yang akan meledak dan menghancurkan bangsa-bangsa Wresni dan Andakasa. "Kalian semua sungguh berhati jahat, kejam mabuk kesombongan. Kalian akan saling bunuh dan bom-bom besi akan memusnahkan seluruh bangsa ini", kutuk para pandita.

Maka hancurlah bangsa Wresni dalam perang saudara itu. Memang mereka diselimuti oleh kemabukan, kesombongan, asusila. Dalam kitab ini disebutkan hanya Janardhana atau Sri Kresna di antara bangsa Wresni yang bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan norma-norma kesusilaan. Maka Beliaupun terbebas dari kehancuran itu.

Tjokorda Mantuk Dirana, raja Badung yang melakukan puputan mengolah cerita itu dalam sebagian karya besarnya Geguritan Purwa Sanghara. Raja yang pengarang produktif ini menulis; Reh kocap tan saking sastra, tan mantra tatan mas manik, sida manulak sanghara, kewala sane asiki, kasusilaning budi, punika kangken perau, kukuh kaliwat-liwat, tuara keweh tempuh angin, sida mentas saking sanghara sagara. Sebab bukan sastra, bukan pula mantra atau emas permata, yang mampu menolak sanghara, hanya satu, yaitu kesusilaan budi, yang bagaikan perahu yang kukuh, yang tiada goyah diterpa angin, yang akan mampu menyebrangi lautan sanghara.

Sebuah perbandingan yang sangat berkesan, tetapi juga sebuah penegasan yang amat penting; hanya dengan kesusilaan budi kita dapat menyebrangi lautan zaman kehancuran. Sumber bacaan buku Wija Kasawur Ki Nirdon 1992. (RANBB)

Senin, 20 Januari 2014

Mahanarayana Upanisad

Mahanarayana Upanisad; Krsna Yayurveda: 80 bagian; 259 mantra.

Taiitiriya Aranyaka dari Krsna Yayurveda mengandung dua Upanisad yang terkenal: Taiitiriya Upanisad dan Mahanarayana Upanisad. Yang kedua juga dikenal sebagai Narayana Upanisad dan Yajniki Upanisad. Dua hal revisi atas teks tersedia sekarang: Andrapatha dan Dravipatha, yang pertama sudah tidak ada lagi.

Upanisad ini tempaknya merupakan komposisi dari berbagai macam subyek, hampir seperti appendix atau tambahan terhadap beberapa karya lain. Tidak ada perlakuan sistematis terhadap doktrin-doktrin utama. Setiap bagian tampak seperti unit yang berdiri sendiri. Dia membahas seluruh tiga aspek dari agama Veda yaitu; Karma (ritual), Jnana (pengetahuan) dan Upasana (meditasi).

Beberapa sukta Veda yang paling populer yang dijapakan sampai sekarang selama upacara sandhya, sampai sekarang selama upacara keagamaan - seperti Narayanasukta, Durgasukta dan Medhasukta - menemukan tempatnya di sini.
Mantra-mantra biasanya digunakan selama upacara sandhya, mantra-mantra digunakan selama samnyasasadiksa (mau masuk pertapaan). Beberapa kidung Gayatri atas berbagai Dewa berbeda dan beberapa mantra terkenal seperti Trisuparnamantra juga menemukan tempat penting.

Berbagai aspek dari kehidupan spiritual seperti Satya (kebenaran), Tapa (asketik), Dama (pengendalian indria), Dana (memberi hadiah), Dharma (kehidupan yang benar) dan Sama (kedamaian mental) diberikan penekanan yang besar.
Penjelasan indah tentang Pribadi Kosmik di dalam bulatan matahari, kontemplasi atas berbagai bagian Yajna atau pengorbanan dalam satu jalan simbolik dan perjalanan ke Brahmaloka juga dimasukkan di antara topik-topik yang dibahas dalam Upanisad ini.
Sumber bacaan buku Upanisad Himalaya Jiwa Intisari Upanisad oleh Juan Mascaro & Swami Harshananda. (RANBB)

Minggu, 20 Oktober 2013

Banjar Ciledug Tangerang Ngiring Tiga Pekuluh

Kerama Suka Duka Hindu Dharma  
(KSDHD) banjar Ciledug melaksanakan kegiatan Ngiring Pekuluh. Pada Sabtu Umanis Sungsang (19/10) yang bertepatan dengan bulan Purnama Kapat (sasih ke empat), KSDHD banjar Ciledug Ngiring Pekuluh ke 3 (tiga) pura yang sedang melaksanakan pujawali. Ke tiga pura tersebut adalah Pura Giri Kusuma Bogor, Pura Eka Wira Anantha Serang Banten dan Pura Penataran Agung Kerta Bumi di TMII Jakarta Timur.

Video kegiatan Ngiring Pekuluh. Klik disini.

Tradisi Ngiring Pekuluh setiap Pujawali  Umat Hindu Jakarta, Bogor, Bekasi dan Banten merupakan tradisi "ngelunganin" pada pujawali salah satu Pura di lingkungan wilayah ini. Ini sedikit berbeda dengan pujawali di Bali. Namun hal ini juga terjadi di Bali saat pujawali besar di Pura Besakih, pada saat Bhatara Turun Kabeh atau pada satu dua pura yang mempunyai ciri khusus.

Kerama Suka Duka Hindu Dharma banjar Ciledug sebagai pengempon pura Dharma Sidhi dengan didukung oleh tempek-tempek yang ada melaksanakan kegiatan Ngiring Pekuluh dengan penuh antusias dan tentunya karena akan memperoleh kesempatan untuk tangkil ring ajeng Ida Panembahan disaat Beliau katurin pujawali. Tempek-tempek membagi diri untuk Ngiring Pekuluh yang ke Pura Eka Wira Anantha Serang terdiri dari tempek Parung Serab, Tempek Ciledug Indah dan Tempek Kunciran, yang ke Pura Penataran Agung Kerta Bumi TMII adalah tempek Mahartika. Tempek Joglo yang pada kesempatan ini sebagai 'panitia' persiapan Ngiring Pekuluh mendapat ngiring Ida Panembahan Pura Dharma Sidhi ke Pura Giri Kusuma Bogor.

Foto-foto Pura Hindu se Jabodetabek. klik disini.

Tradisi Ngiring Pekuluh ini sangat bermanfaat bagi umat Hindu didalam meningkatkan Srada dan Bhakti-nya, meningkatkan rasa memiliki Pura Kahyangan di wilayah ini, meningkatkan rasa menyama braya, dan meningkatkan solidarias umat. Sagilik Saguluk Paras Paros Sarpanaya menyama Braya di daerah rantauan. (RANBB)

Rabu, 28 Agustus 2013

Kenapa Hindu Weda Mengajarkan Kasih Tapi Umat Hindu Tidak Menjalankannya

Berikut admin sampaikan bahan diskusi yang dikirimkan oleh Sahabat Ravi dengan judul Pesata Adat, artikel nya berupa pertanyaan sebagai berikut :

Om Swastiastu, Saya seorang Hindu. Saya keturunan India. Saya ingin bertanya, kenapa Hindu Weda mengajarkan kasih tapi umat Hindu tidak menjalankannya, pada sebagian festival adat digunakan babi, padahal babi tidak dimakan dikeluarga saya, dan pemotongan kambing. Saya rasa kita perlu berbenah diri untuk menerapkan vegetarian, karena hanya itu kita mengorbankan mahluk hidup, persembahan apapun tetap diterima Tuhan jika dengan tulus dan ikhlas, sekian saran saya, maaf jika ada salah kata saya jika kurang saya tau mohon penjelasannya. (waktu 28-082013. 09.21)

Admin mencoba berbagi pemikiran yang sedikit berbeda dalam cara memandang Yadnya. Yadnya yang secara umum di dalam agama Hindu sudah sangat banyak dibahas, baik dalam buku-buku agama Hindu, situs dunia maya dan diskusi-diskusi agama lainnya.

Admin sangat mengharapkan adanya diskusi agar terjadi pertukaran pemikiran walaupun pada intinya perbedaan pemahaman dan penerapan Veda sudah memiliki dasar pelaksanaannya yang dikembalikan pada jiwa dan ajaran kita masing-masing. Baca artikel kesepakatan bersama umat Hindu klik disini.

Berikut pendapat admin tentang hal diatas.
--> Yadnya sebagai jalan bhakti umat Hindu utamanya umat Hindu Bali yang menjalankan Yadnya dengan kurban binatang. Umat Hindu Bali mencoba untuk menyatakan rasa bakti yang tulus ini bersama-sama dengan ciptaan-Nya yang lain. Umat manusia dengan kecerdasan pemikiran yang dianugerahkan oleh Nya, mampu menyatakan dengan tegas bahwa binatang dan tumbuhan merupakan ciptaan-Nya pula, sehingga memiliki hak dan kewajiban yang sama terhadap Tuhan. Manusia, binatang dan  tumbuhan mengikuti hukum Karma, lahir, hidup dan mati, demikian pula dalam pembentukan Karma itu sendiri, dapat berupa Karma baik maupun Karma buruk.
Sehingga Hukum Karma bersifat universal terhadap semua ciptaan-Nya. Manusia dengan kelebihan pemikiran menyadari hal ini, bahwa binatang dan tumbuhan harus diberikan kesempatan untuk berbuat baik, meningkatkan Karma baik mereka, agar dikemudian hari dapat hidup sebagai manusia. Pernah pula kita membaca artikel sang penolong adalah seekor binatang, atapun tumbuhan ini rela hidup untuk kesejahteraan manusia, itu semua adalah Karma baik.
Baca artikel Sekali menjadi manusia apakah selalu menjadi manusia ? Klik disini.

Seperti halnya binatang dan tumbuhan dalam menjalani hukum Karma lahir hidup dan mati, tetap membutuhkan pengorbanan. Tumbuhan sebagai ciptaan-Nya dirangkul oleh manusia untuk menyatakan rasa baktinya kepada Tuhan melalui Yadnya ini yang berupa bahan-bahan Yadnya, seperti daun, buah, biji-bijian, batang, umbi, ranting dan lain sebagainya. Demikian pula binatang yang selalu aktif bersama dalam Yadnya ini, seperti babi, ayam, itik, anjing, dan lain sebagainya. Dengan partisapasi mereka (binatang dan tumbuhan) dan manusia menjadi satu kesatuan menyatakan rasa syukur kepada sang Pencipta dan menciptakan karma baik akan diterima jiwa mereka masing-masing.

Pernah kita mendengar cerita pangeran kodok, seekor binatang yang berubah menjadi pangeran tampan setelah dicium oleh sang putri, demikian pula dengan binatang dalam Yadnya. Ketulusan hati dan kasih cinta dari manusia, kepasrahan binatang dan kesetiaan tumbuhan dalam ber-Yadnya menciptakan kebahagiaan bersama. Pengorbanan mereka sungguh mulia, terdapat doa yang tulus dari manusia sebelum mereka dikorbankan, doa mengantarkan sang jiwa pada-Nya.

Demikian kiranya jawaban sederhana yang admin coba sampaikan, pengorbanan binatang dan tumbuhan bukan semata-mata untuk kesenangan dan keserakahan manusia, ada doa yang tulus agar mereka bisa hidup berbahagia. Admin sangat berharap dapat masukan dari sahabat-sahabat Hindu dari segala jenis aliran, sekte dan dari tingkat keimanan yang jauh lebih menguasai, terima kasih. (RANBB)

Sabtu, 24 Agustus 2013

Perayaan Deepavali Disambut Penganut Hindu Setiap Tahun

Hindu Malaysia. Deepavali Perayaan Cahaya Penuh Simbolik
Perkataan Deepavali merupakan gabungan perkataan "Dipa" yang bererti cahaya dan perkataan "Gavali" yang bererti barisan. Perayaan Deepavali ini disambut pada hari ke 14 bulan Aipasi dalam kalendar Tamil (antara bulan Oktober dan November) dan juga dikenali sebagai pesta Cahaya.

Deepavali bermaksud ‘sebarisan pelita’. Dengan memasang pelita, mereka percaya bahawa kecerahan mengatasi kegelapan, kebaikan mengatasi kejahatan, keadilan mengatasi kezaliman dan kebijaksanaan mengatasi kejahilan.

Sambutan Perayaan di Malaysia

Hari Deepavali merupakan perayaan yang disambut oleh semua penganut yang beragama Hindu di seluruh dunia dan merupakan hari cuti di Malaysia.  Deepavali atau lebih dikenali sebagai ‘pesta cahaya’ disambut oleh masyarakat India yang beragama Hindu dan Sikh di negara kita.


Mitos Hari Deepavali
Mitos yang paling terkenal di kalangan masyarakat India di Malaysia berhubung tujuan perayaan Deepavali adalah kisah Dewa Krishna membunuh Narakasura.   Seterusnya penduduk kampong telah meraikan kemenangan Kebaikan menewaskan Kejahatan dengan menyalakan lampu serta berpesta. Satu lagi mitos yang lebih terkenal di Benua Kecil India adalah berdasarkan epik Ramayana di mana Rama berjaya membunuh Ravana dengan bantuan Laksamana dan Hanuman. Lalu, mereka bersama-sama Sita pulang dari Langka ke Ayodhya. Kepulangan mereka selepas 14 tahun disambut para penduduk dengan menyalakan lampu dan berpesta. Memandangkan kedua-duanya hanyalah mitos, tidak menjadi masalah kisah mana satu yang menjadi ikutan dan turutan di kalangan kaum India beragama Hindu yang menyambut Deepavali. Apa yang penting, simbol kebaikan atau Cahaya menumpaskan Kejahatan atau Kegelapan adalah menjadi pegangan utama mereka .

Malam Sebelum Perayaan Deepavali

Pada malam itu juga diadakan upacara memasang pelita yang disertai oleh seluruh ahli keluarga. Tidak ketinggalan juga upacara yang dinamakan 'Rangoli' iaitu upacara menyusun beras atau hampas kelapa yang telah diwarnakan dengan pelbagai warna di hadapan pintu. Kaum wanita juga pada malam itu akan mengenakan inai pada jari tangan dan kaki mereka untuk tujuan menghias diri.

Memasang Vilakku
Pada malam perayaan Deepavali, upacara memasang pelita dijalankan yang disertai oleh seluruh ahli keluarga. Mereka akan memasang lampu “vilakku”. Lampu “vilakku” adalah sejenis pelita tradisi yang diperbuat daripada tanah liat. Perayaan Deepavali juga akan bertambah meriah dengan adanya lampu-lampu moden. Penganut agama Hindu percaya akan Dewa kekayaan dan kemakmuran iaitu Dewi Laksmi yang akan datang melawat rumah mereka pada masa itu. Persiapan memasang lampu tersebut dilakukan untuk menyambut kedatangan Dewi Laksmi.
Penganut Hindu akan menghiasi rumah mereka dengan “kolam ” atau “rangoli” iaitu hiasan lantai yang diperbuat daripada beras yang diwarnakan sebelum tertib matahari. Biasanya “kolam ” ini dibuat di depan pintu rumah sebagai tanda selamat dan rahmat supaya setiap isi rumah mendapat kesejahteraan.

Kemahiran membuat “kolam” ini biasanya diwarisi secara turun-temurun. Walaupun nampak susah, tetapi penganut Hindu boleh membuatnya dengan cantik, unik dan menarik yang kebanyakannya bermotifkan tumbuhan. Upacara ini membawa maksud yang amat bererti kerana perayaan ini tidak hanya dirayakan oleh penganut Hindu tetapi juga makhluk lain di dunia

Hiasan "kolam" ini merupakan lambang penyembahan dewa Lakshimi, Dewa Kekayaan yang dipercayai hanya akan mengunjungi rumah mereka yang mempunyai hiasan "kolam" di pintu masuk rumah mereka.


Persiapan Di Pagi Hari Deepavali
Pada pagi perayaan pula, pada kebiasaannya seluruh ahli keluarga akan bangun lebih awal iaitu sebelum matahari terbit.
Seluruh keluarga akan mandi dan membersihkan diri sebelum bersalam dan memohon maaf dengan kedua ibu bapa dan ahli keluarga yang lain. Selain itu, upacara mandi minyak bijan turut dilakukan pada awal pagi sebelum matahari terbit. Penganut Hindu akan menjalankan upacara mandi minyak bijan bertujuan untuk penyucian badan dan semangat. Minyak bijan ini akan disapukan ke atas kepala setiap ahli keluarga oleh mereka yang lebih tua seperti ibu atau nenek.

Kebaikan mandi minyak bijan bagaikan mandi di Sungai Ganges yang suci bertujuan membersihkan diri daripada segala kejahatan dan sifat dengki. Selepas mandi dimestikan memakai pakaian dan perhiasan serba baru pada pagi Deepavali bertujuan untuk menghilangkan segala sifat buruk dan kejahatan dalam diri seseorang. Kemudian mereka bersembahyang di rumah atau di kuil-kuil. Selepas bersembahyang, mereka berkunjung ke rumah kaum keluarga. Penganut Hindu akan mengunjungi kuil di mana patung dewa Hindu akan dikalungkan dengan kalungan bunga.


Manisan dan Juadah Deepavali
Manisan merupakan identiti masyarakat India. Manisan ini bukan sahaja diminati oleh kaum India tetapi juga masyarakat lain di negara ini termasuk pelancong asing. Dalam masyarakat India, manisan sering menjadi acara pembuka sebelum memulakan sesuatu majlis, acara atau hari perayaan. Mereka percaya ia mampu membawa kegembiraan, keseronokan, nilai positif dan kesejahteraan yang berpanjangan. Itulah juga sebabnya manisan yang lebih manis dan sedap dianggap lebih baik dan dialu-alukan.


Mereka akan dihidangkan dengan juadah tradisional kaum india yang terkenal seperti halwa dan laddu. Malah sembilan jenis hidangan sayur-sayuran turut disediakan pada pagi Deepavali. Antaranya ialah “aloogobi” iaitu campuran ubi kentang dan kobis bunga, “paneer” campuran masala bersama yourgart dan kari dal. Tidak ketinggalan kuih-muih tradisional lain seperti maruku dan adivasam dan payasam.  Muruku, Neiurundai dan Atherasam adalah merupakan kuih-muih tradisional orang India.

Pakaian Tradisional Deepavali
Mengenai pakaian yang sering dikenakan oleh kaum India semasa perayaan Deepavali adalah “Sari” untuk kaum wanita dan “Dhoti” untuk kaum lelaki.


Upacara Sembahyang
Penganut Hindu akan mengunjungi kuil untuk bersembahyang selepas menjalankan upacara penyucian. Penganut Hindu akan mengalungkan Patung Dewa Hindu dengan kalungan bunga untuk mendapatkan kesejahteraan diri dan keluarga serta memperingati ahli keluarga yang telah meninggal dunia. Selepas sembahyang, mereka akan dihidangkan dengan pelbagai manisan yang dinamakan “Prasad” sebelum pulang ke rumah.

Sambutan  Deepavali Masyarakat Sikh
Masyarakat Sikh menyambut hari Deepavali atau dikenali sebagai Diwali di kalangan mereka di atas sebab yang berbeza.
Guru Nanak, yang juga merupakan pengasas agama Sikh pada suatu masa dahulu telah dipenjarakan oleh seorang Raja. Raja itu memaksanya makan tetapi beliau enggan dan berpuasa. Sejurus itu , barulah Guru Nanak sedar yang ramai orang telah berkumpul di luar penjara dengan memegang lampu sebagai tanda protes untuk membebaskannya.   Akhirnya, Raja itu sedar akan kesilapannya. Oleh kerana sikap tamaknya, dia telah mengabaikan tanggungjawabnya sebagai seorang raja dan sebagai balasannya, dia membebaskan Guru Nanak. Kaum Sikh menyambut pembebasan Guru Nanak sebagai hari Deepavali.
Rumusan
Kehadiran perayaan ini bukan sahaja membuka ruang sanak-saudara merapatkan hubungan, malah kunjungan rakan daripada bangsa dan agama lain juga dialu-alukan. Mereka percaya ia mampu membawa kegembiraan, keseronokan, nilai positif dan kesejahteraan yang berpanjangan di antara pelbagai kaum.

sumber : http://pmr.penerangan.gov.my

Kamis, 15 Agustus 2013

Pura Lawangan Agung Bali

 
Prof. Louis Renou

Umat Hindu Bali. Pura Lawangan Agung merupakan tempat suci tergolong ke dalam pura umum,pura jagat,atau kahyangan jagat karena keberadaannya berkaitan dengan Pura Penataran Agung Besakih dan mesti dipuja oleh semua umat Hindu sebagai tempat bersthananya Ida Sang Hyang Widhi beserta manifestasi-Nya. Secara lebih spesifik Pura Lawangan Agung merupakan pintu gerbang untuk masuk ke dalam kawasan suci yang besar,luhur,dan mulia (sthana Ida Sang Hyang Widhi Wasa),di Bali kompleks pura terbesar terletak di Pura Besakih.


Pura Lawangan Agung berdiri pada tahun Saka 835 (913 Masehi) ketika Rsi Markandeya juga mendirikan pura Besakih pada masa pemerintahan Sri Kesari Warmadewa.


Fungsi Pura Lawangan Agung adalah Sebagai tempat suci sthana Ida Sang Hyang Widhi dan manifestasinya, Sebagai tempat umat Hindu untuk menghubungkan diri dan atau memuliakan serta memuja kebesaran Ida Sang Hyang Widhi dan segala manifestasiNya, Sebagai tempat persembahyangan bersama bagi umat sedharma khususnya ketika piodalan atau tibanya hari-hari raya, Sebagai tempat untuk melaksanakan pendidikan dan atau meningkatkan pengetahuan,pendalaman,penghayatan,dan pengamalan Agama Hindu bagi umatnya, Sebagai tempat untuk melaksanakan paruman guna membahas berbagai masalah tentang pura dan krama dadia penyungsung pura, sebagai tempat untuk melaksanakan sangkepan yaitu membayar iuran dan kewajiban lain dari Krama Dadia untuk kepentingan Pura dan lain-lain.   Selain itu terdapat pula tiga fungsi khusus pura yakni : Fungsi Religius Magis, Fungsi Didaktis, dan Fungsi sosial budaya.

Struktur Palinggih Pura Lawangan Agung terdiri dari : Bale Kulkul, Gedong Linggih Sang Hyang Pasupat, Rong Tiga Linggih Hyang Pramesti Guru,Balai Gong, Apit Lawang Linggih Bhuta Panandiswara,Palinggih Pamangkalan Agung, Sanggar Agung, Pelinggih Dasar, Gedong Linggih Bhatara Sakti Lawangan Agung, Bale Pasamuhan, dan Bale Pegat.


Gedong Linggih Bhatara Sakti Lawangan Agung

Bhatara Sakti Lawangan Agung diyakini sebagai Dewa Penguasa Pintu Gerbang niskala untuk memasuki kawasan suci Pura Besakih. Seyogianya umat yang hendak sembahyang ke Pura Besakih meminta restu dan berkat kepada Bhatara Sakti Lawangan Agung. Tradisi seperti ini merupakan budaya yang umum di Bali,seperti halnya pada Puri Klungkung juga ada keyakinan kepada Bhatara Pamedal Agung yang bersthana pada Gelung (pintu gerbang Puri). Atau pada masing-masing rumah,pada bagian pintu gerbang dipercaya terdapat Dewa Penjaga yang menjaga penghuni rumah dari mara bahaya.

Keunikan pada Pura Lawangan Agung terletak pada bentuk Bale Kulkulnya. Bale kulkul di Bali umumnya hanya beratap satu , namun tidak demikian halnya dengan Bale kulkul Pura Lawangan Agung dimana atapnya terdiri dari dua tumpang (atap),sehingga menyerupai bentuk meru tumpang dua. (lebih lengkap silakan ke http://mekarnya.blogspot.com)

(RANBB)

Senin, 12 Agustus 2013

Istilah Kebangkitan Hindu Membahayakan ?

hindu banten
Mundakopanisad
Semangat Hindu. Istilah Kebangkitan Hindu bagi saya sebagai orang Hindu sangat memberikan semangat, namun dilain pihak menyebabkan "kegerahan". Kebangkitan Hindu banyak dimaknai sebagai Hindunisasi masyarakat kita, atau meng-Hindu-kan umat yang ada atau mungkin ada yang lebih keras mengartikan pembalasan Hindu. Marilah berfikir jernih.

Banyak pihak dengan banyak penilaian tentunya menyebabkan arti Kebangkitan Hindu sangat beraneka ragam, bisa menyebabkan kemajuan dan bisa pula menyebabkan ketakutan apabila salah dalam mengartikan Kebangkitan Hindu. Apakah Hindu itu selama ini tertidur sehingga perlu dibangkitkan ? Lalu siapakah yang berhak memberikan penjelasan dan pemberian makna yang tepat untuk istilah Kebangkitan Hindu ?


Dari beberapa buku-buku tentang Hindu dewasa ini, menurut saya istilah Kebangkitan Hindu lebih bersifat intern umat Hindu, sama sekali tidak ada hubungannya dengan umat lain (ekstern umat). Kebangkitan Hindu sebagai instrospeksi umat  dalam beragama Hindu, karena diskusi umat tentang agama Hindu dan ajaran-ajarannya sangat terbuka. Diskusi tentang Weda sebagai sumber dari segala sumber ajaran Hindu sangat terbuka. Weda memberikan kesempatan yang sama pada setiap umat Hindu untuk mencari kebenaran yang hakiki dari ajaran Weda. Baik dari Tattwa yang ada dalam Weda yang harus semakin dipahami oleh umat Hindu. Penguasaan dan pendalaman Susila yang diajarkan Weda untuk kehidupan modern ini, atapun tentang Upakara (Yadnya) yang harus diperdalam pemahamannya oleh umat Hindu. inilah inti Kebangkitan Hindu. Weda bukan doktrin yang menutup semua lubang diskusi dan nalar manusia dalam mencari kebahagiaan. Mungkin banyak yang tidak dapat berdiskusi dengan terbuka karena ajarannya sudah berupa doktrin, sehingga "menyebrang" untuk menyalurkan bakat diskusinya.

Kebangkitan Hindu bersifat intern saja, meningkatkan pemahaman umat akan agama yang dianutnya. Ajaran suci yang pertama ada dimuka bumi ini, dapat diyakini dari buku-buku filsafat Hindu karya para ilmuwan, cendikiawan dan filsof-filsof dunia. Umat Hindu harus bangkit dan memahami ajaran-ajaran Hindu nya melalui membaca dan berdiskusi. Metode ceramah (seperti jaman dulu yang belum ada buku, kita hanya bisa mendengarkan dan mendengarkan, seberapa besar yang dapat kita pahami dari mendengar dan menderngar itu). saatnya Hindu bangkit dengan banyak membaca , metode yang sangat baik dalam memahami ajaran agama kita. Jaman telah berubah, metodepun sudah saatnya berubah. Dahulu sang Guru duduk dan memberikan ceramah sementara sang murid duduk mendengarkan. Jaman ada kesenian seperti wayang, drama, umat mendapatkan ajaran dengan menonton dan mendengarkan wejangan sang panutan yang berasal dari ajaran-ajaran Weda. Jaman kembali berganti dengan terbitnya buku-buku agama, saatnya metode mendengarkan dengan duduk manis harus diseimbangkan dengan membaca buku-buku agama Hindu.
Inilah Kebangkitan Hindu sebenarnya,kebangkitan akan pemahaman ajaran Hindu melalui membaca bukan mendengarkan dongeng, legenda ataupun mendengarkan ceramah terus menerus.  Nanusia bukan mahluk super dan tak terbatas, manusia butuh pendamping mahluk lain sehingga disebut mahluk sosial, manusia butuh tantangan agar hormon adrenalin diproduksi sehingga membentuk kekebalan mental.

Untuk umat Hindu, mari bangkitkan agama Hindu melalui pemahaman yang mendalam ajaran-ajaran suci Weda dalam kehidupan sehari-hari, dari 4 jalan yang telah dibukakan-Nya, Bhakti, Karma, Jnana dan Yoga Marga, marilah tekuni salah satunya agar kita dapat menemukan spiritualitas dan mencapai moksha.
inilah opini saya tentang Kebangkitan Hindu, bagaimana dengan Anda.

(RANBB)

Kamis, 08 Agustus 2013

Bagaimana Menjadi Hindu

Umat Hindu Dharma.

Pada zaman Kaliyuga ini setiap insan manusia dapat saja mengalami perubahan secara, sosial politik, ekonomi, budaya, karakter, maupun agama. Banyak yang telah berbagi cara untuk perpindahan atau perubahan agama, seperti bagaimana cara masuk Islam, syarat-syarat menjadi Kristen, bagaimana cara masuk agama Budha, demikian pula bagaimana menjadi Hindu. Apakah syaratnya masuk Hindu, bagaimana caranya ikut agama Hindu, Saya agama Islam ingin masuk Hindu bagaimana caranya, atau seorang kristiani ingin memeluk Hindu. Artikel ini merupakan pengetahuan umum yang tak perlu dipertentangkan apalagi dianggap menghasut umat lain, namun perubahan adalah hal yang alami dalam masyarakat kita.

Dalam agama Hindu ada upacara sederhana yang wajib untuk dilaksanakan oleh seseorang untuk bisa menjadi Hindu, sama halnya dalam agama yang lain yang mewajibkan mengucapkan suatu kalimat atau doa pernyataan, dalam agama Hindu doanya adalah : Om. Sa, ba, ta, a, i, na, ma, si, wa, ya, Ang Ung Mang. Om. Dan upacaranya bernama Upacara Sudi Wadani.

Upacara Sudhi Wadani adalah Upacara yang wajib dilakukan bagi umat non-Hindu yang ingin memeluk Hindu. Upacara ini  tidak hanya sebagai pencatatan administratif bagi yang menjalankannya, melainkan juga bermakna sebagai bentuk penyucian diri dan pernyataan spiritual bahwa yang bersangkutan siap melaksanakan seluruh ajaran agama Hindu .

Sudhi Wadani terdiri dari 2(dua) suku kata yaitu Sudhi artinya penyucian, Wadani artinya ucapan- ucapan/ pernyataan berupa kata- kata. Sudhi Wadani adalah perkataan penyucian. Jadi upacara Sudhi Wadani adalah upacara pada waktu melakukan penyucian, menjadi Agama Hindu.

Adapun persyaratan masuk Hindu dan dilangsungkannya upacara sudhi wadani adalah sebagai berikut :

  1.  Buat Surat Pernyataan masuk Hindu atas dasar kemauan sendiri/tanpa ada paksaan dari siapapun (bermaterai).
  2.  Tunjukkan surat pernyataan tersebut untuk meminta blangko Sudi Wadani kepada PHDI setempat.
  3.  Lakukan upacara Sudi Wadani di tempat rohaniawan (baik Sulinggih atau Pemangku/Pinandita).
  4.  Blangko Sudi Wadani dari PHDI kemudian ditandatangani oleh orang yang bersangkutan, PHDI (sebagai saksi) dan rohaniawan yang muput upacara.
  5.  Setelah blangko selesai diisi dan ditandatangani maka tinggal menunggu sertifikat Sudi Wadani yang akan dikeluarkan oleh PHDI setempat.
  6.  Setelah sertifikat ini keluar secara administratif  yang bersangkutan sudah sah menjadi Hindu.

Untuk lebih jelasnya dapat datang langsung ke sekretariat Parisada Hindu Dharma Indonesia setempat, ke Pura yang ada disekitar anda, ke sahabat yang beragama Hindu, atau pada Pasraman, Candi, Kuil, Mandir, atau tempat peribadatan Hindu disekitar anda.

Sarana Upacara Sudhi Wadani:

  •     Mempergunakan bebanten biyakala prayascita dan tataban sesuai dengan kemampuan (utama).
  •     Mempergunakan Bhasma air cendana (madya).
  •     Mempergunakan air, bunga, bija, (nista),

Pelaksanaannya selalu disertai dengan api(agni hotra), dengan Mantram: Om. Sa, ba, ta, a, i, na, ma, si, wa, ya, Ang Ung Mang. Om.

Semoga artikel singkat ini bermanfaat bagi masyarakat indonesia, alam keterbukaan dan kebebasan beragama serta untuk mendapatkan pencerahan spiritual kita dengan tujuan hidup yang jelas yaitu untuk mencapai Moksha, kebebasan abadi. Astungkara.

(RANBB)

Rabu, 07 Agustus 2013

Dimana Letak Keampuhan Agama Hindu ?

Umat Hindu Dharma

Kami kira bahwa sumber kekuatannya terletak pada kebenaran yang abadi dan jiwa yang tangguh pada naskah asli Veda, dan kehidupan Hindu yang damai, penuh nilai-nilai moral yang tinggi serta ajaran spiritualnya sangat bijaksana dan universal.


Jika Veda diamalkan dengan sungguh-sungguh dengan tafsiran yang benar akan mempunyai pengaruh yang besar terhadap umat Hindu dan lebih banyak lagi dapat dilakukan untuk kemanusiaan serta spiritual. Hindu tak perlu membanding-bandingkan agama lain (yang lebih muda) dengan silau, karena semua ajaran agama di dunia ini telah dipersiapkan oleh Veda itu sendiri jika dicermati dengan bijaksana dan kebenaran tinggi.

Yang perlu kita cari ialah menggali sebanyak-banyaknya pengetahuan-pengetahuan Veda yang asli dalam tafsiran dengan kebenaran mutlak. Satu-satunya dapat melenyapkan kebodohan adalah pengetahuan, kebijaksanaan dan spiritual.

Sri Krsna mengatakan dalam Bhagavadgita :
"Bila engkau mengembangkan pengetahuan spiritual, segala ketidaktahuanmu akan lenyap, maka kesusahan, kesulitan dan kesedihan akan lenyap pula ".

buku Kebangkitan Hindu oleh Sargede. (RANBB)

Selasa, 30 Juli 2013

Festival Seni Budaya Keagamaan Hindu

Umat Hindu Indonesia.

Festival Seni Budaya Keagamaan Hindu Tingkat Nasional sebelumnya bernama Festival Seni Sakral Keagamaan Hindu Tingkat Nasional yang  pertama kali digelar  di Kota Surakarta Solo pada tahun 2010. Untuk Festival Seni Budaya Keagamaan Hindu Tingkat Nasional ke dua diadakan di Jogjakarta yang dipusatkan di Kraton Pura Pakualaman Yogyakarta pada tahun 2012.
--> Festival Seni Budaya Keagamaan Hindu Tingkat Nasional  menampilkan berbagai keragaman ekspresi seni dan budaya masyarakat Hindu di Indonesia baik dalam bahasa, musik tradisi, lagu-lagu daerah, tari, maupun ritual keagamaannya.

Festival Seni Budaya Keagamaan Hindu  Tingkat Nasional mempresentasikan bagaimana agama sangat mempengaruhi penciptaan karya seni yang menjadi ciri khas masing-masing agama dan daerah. Bagi umat Hindu, seni tidak bisa dipisahkan dengan agama. Dalam setiap kegiatan ritual upacara keagamaan, umat Hindu selalu menyertakan berbagai kesenian, baik musik maupun tari, sebagai bagian dari ritual upacara.

Festival Seni Budaya Keagamaan Hindu Tingkat Nasional ini menjadi salah satu media pelestarian seni keagamaan sekaligus meningkatkan kerukunan umat beragama di Indonesia. Jangan sampai seni-seni yang sakral yang mengiringi upacara keagamaan semakin ditinggalkan. Lebih dari itu, dengan penyelenggaraan festival dua tahunan ini diharapkan potensi-potensi seni keagamaan Hindu mampu mengambil peran untuk meningkatkan kualitas srada dan bhakti umat Hindu di Indonesia.

Catatan :
Festival Seni Sakral Keagamaan Hindu Tingkat Nasional  I di Kota Solo tahun 2010
Festival Seni Budaya Keagamaan Hindu Tingkat Nasional  II di Kota Jogjakarta tahun 2012
Festival Seni Budaya Keagamaan Hindu Tingkat Nasional III di Kota wilayah Indonesia semoga dapat kembali berlangsung, serta dapat diikuti oleh seluruh propinsi di Indonesia. Awighnamastu..

Dari berbagai sumber (RANBB)  

Senin, 29 Juli 2013

Ratha Yatra adalah festival utama Hindu

Umat Hindu India. Ratha Yatra adalah festival utama Hindu terkait dengan Tuhan Jagannath (avatar Dewa Wisnu) yang diselenggarakan di Puri di India selama bulan Juni atau Juli.

Puri Rath Yatra terkenal di dunia dan menarik lebih dari satu juta peziarah setiap tahun, tidak hanya dari India, tetapi juga dari berbagai belahan dunia. Rath Yatra dengan kata lain Festival Chariot adalah satu-satunya hari ketika umat yang tidak diizinkan masuk ke kuil bisa mendapatkan kesempatan untuk melihat para dewa. Festival ini merupakan simbol kesetaraan dan integrasi.
--> Tiga (3) dewa, Tuhan Jagannath, kakaknya Tuhan Balabhadra dan adik mereka Subadra disembah dalam kuil, pada festival ini mereka dibawa ke jalan-jalan Puri sehingga setiap orang dapat memiliki keberuntungan untuk melihat mereka. Tiga (3) dewa membuat perjalanan tahunan ke kuil bibi mereka (Gundicha Temple), 2 km dari Jagannath rumah TUHAN.

Kuil Jagannath di Puri adalah salah satu di antara empat kuil paling suci di India. Tiga lainnya adalah: Rameshwaram di selatan, Dwarika di barat dan Badrinath di utara.

sumber : http://www.calendarlabs.com/holidays/india/rath-yatra.php

Minggu, 28 Juli 2013

Pura Kahyangan Jagad Amerta Jati Balekambang Malang

Umat Hindu Malang.

Pura Kahyangan Jagad Amerta Jati terletak di Pantai Balekambang  Kabupaten Malang, Jawa Timur. Seperti pantai pada umumnya yang dihiasi pulau-pulau. Balekambang dihiasi tiga buah pulau kecil yang diberi nama khas tokoh pewayangan, yakni: Pulau Ismoyo, Pulau Anoman, dan Pulau Wisanggeni. Pulau Ismoyo tampak berbeda karena didirikan sebuah Pura diatasnya pada tahun 1985. Pura Kahyangan Jagad Amerta Jati namanya.

--> Untuk menuju pura, kita bisa mengaksesnya melalui sebuah jembatan selebar 1,5 m. Dari atas jembatan bisa dinikmati panorama yang indah dengan cakupan mata memandang yang lebih luas. Jika air sedang pasang, akan terlihat pulau dengan puranya yang indah seolah mengambang di atas air. Sepintas mirip dengan Tanah Lot di Bali. Inilah yang membuat khas Balekambang. Itu pula yang menyebabkan mengapa pantai ini diberi nama Balekambang.

Adanya pura di kawasan ini dapat menjadi tanda bahwa penduduk setempat menganut Agama Hindu. Setiap agama pasti punya hari tertentu untuk melakukan ritual khusus. Tidak berbeda dengan masyarakat di pesisir Balekambang. Setiap tahun, banyak wisatawan yang berkunjung ke tempat ini untuk melihat, bahkan mengikuti upacara adat Jalanidhipuja dan Suroan. Upacara adat Jalanidhipuja atau Melasti dalam rangkaian Hari Raya Nyepi untuk umat Hindu di Malang Raya sedangkan Suroan adalah upacara tahun baru jawa.

Jalanidhipuja ini merupakan prosesi ritual untuk menyambut Tahun Baru Saka yang dilakukan para umat Hindu Dharma (saat matahari bergeser ke utara meninggalkan khatulistiwa). Sedangkan upacara Larung Sesaji Suran merupakan acara selamatan penduduk Desa Srigonco, Kecamatan Bantur, yang dilaksanakan sejak 1910 (setiap 1 Sura sesuai kalender Jawa).

Selain Pura Kahyangan Jagat Amerta Jati di Balekambang, terdapat pura lainnya silakan klik; http://phdijatim.blogspot.com

Dari berbagai sumber.

(RANBB)

Sabtu, 27 Juli 2013

Belajar sampai ke Negeri India

Umat Hindu Indonesia.

Bila kita sebagai umat Hindu mau belajar agama dari asal agama kita yaitu India, banyak sekali tuntunan dari para cendikiawan dan tokoh umat, serta telah menjadi pembela Dharma sejak dahulu. Dengan pemikiran-pemikiran yang sangat brilian dalam pemahaman agama Hindu kita akan mampu menjawab segala hal yang berkaitan dengan keraguan masyarakat pada agama Hindu.

--> Tokoh yang telah mendunia dengan ajaran-ajaran suci Veda, ajaran Sanatana Dharma nya seperti; Sarvepalli Radhakrishnan, Swami Vivekananda, Mahatma Gandi, Sri Ramakrishna Paramahansa, Satguru Siva Yogaswami, Swami Ranganathananda, Maharsi Yogaswami, Swami Dayananda Saraswati, Swami Chinmayananda, Satguru Sivaya Subramuniyaswami dan lainya.

Pemikiran-pemikiran yang yang sangat dalam tentang Kitab Suci Veda, tentang Sanatana Dharma, telah mampu mempertahankan agama Hindu kita dari "gangguan" yang dipaksakan, diplesetkan, diputarbalikkan, dimentahkah, diolok-olok, dicemooh, yang memiliki tujuan jelas, yaitu menidakjelaskan keberadaan agama Hindu itu sendiri, dengan tidak jelasnya keberadaan agama Hindu secara filosofi membuat umat semakin kebingungan, kebimbangan akan keyakinan, ketidak berdayaan dalam menjawab "gangguan" tersebut.

Tidak hanya dari golongan kakek-nenek, dewasa, remaja, ibu-ibu, bahkan sampai pada  kalangan anak-anak "gangguan" itu selalu datang, menyerang, menusuk dari belakang, menghipnotis melalui sinetron, meniupkan ketidakpastian. Tiupan semakin "mesra" dengan kebaikan-kebaikan yang diciptakan dalam kesemuan.

Umat Hindu seharusnya mengejar kwalitas spiritual dibandingkan popularitas di masyarakat, agama yang dianut yaitu agama Hindu dikedepankan secara kwalitas umatnya, apalagi hanya sekedar menuruti hati wanita, sekedar mendapatkan sanjungan, sekedar mendapatkan kebahagiaan duniawi, atau berlimpah dalam harta kekayaan, kita "nyebrang" dan berbalik menyerang.


Tetap semangat - Aku Bangga Beragama Hindu -
(RANBB)

Kamis, 25 Juli 2013

5 Principles & 10 Disciplines | The Basics of Hinduism

5 Principles & 10 Disciplines
The Basics of Hinduism

What are the main principles of the Hindu way of life? And what are the 10 commandments of Sanatana Dharma? Read these 15 easy-to-remember basic tenets of Hinduism as summarized by Dr. Gangadhar Choudhury:

5 PRINCIPLES
1. God Exists: One Absolute OM.
    One Trinity: Brahma, Vishnu, Maheshwara (Shiva)
    Several divine forms
2. All human beings are divine
3. Unity of existence through love
4. Religious harmony
5. Knowledge of 3 Gs: Ganga (sacred river), Gita (sacred script), Gayatri (sacred mantra)
--> 10 DISCIPLINES
1. Satya (Truth)
2. Ahimsa (Non-violence)
3. Brahmacharya (Celibacy, non-adultery)
4. Asteya (No desire to possess or steal)
5. Aparighara (Non-corrupt)
6. Shaucha (Cleanliness)
7. Santosh (Contentment)
8. Swadhyaya (Reading of scriptures)
9. Tapas (Austerity, perseverance, penance)
10. Ishwarpranidhan (Regular prayers)

Sumber :
http://hinduism.about.com/od/basics/a/principles.htm

CHANNEL YOUTUBE SAYA - MOHON DI SUBSCRIBE

Cari Artikel di Blog ini

Berita Terkait Semangat Hindu

Artikel Agama Hindu

108 Mutiara Veda 3 kerangka agama hindu advaita visistadviata dvaita Agama Hindu Dharma agama islam Ajaran Hindu aksara suci om alien menurut hindu Apa yang dimaksud Cuntaka Apa yang dimaksud dengan Japa Apa yang dimaksud dengan Puja arcanam nyasa aris widodo artikel hindu arya dharma Arya Wedakarna Asta Brata Atharvaveda Atman avatara sloka babad Badan Penyiaran Hindu bagian catur weda bahasa jawa kuno bahasa kawi bahasa sanskerta Banggalah Menjadi Hindu banten hindu bali Belajar Hindu BELAJAR ISTILAH AGAMA HINDU bhagavad gita Bhagawadgita bhagawan bhuta yadnya Bimas Hindu BPH Banten brahma wisnu siwa Brahman Atman Aikyam brahmana ksatriya wesia sudra budaya bali budha kliwon sinta Bukan Heroisme buku hindu terpopuler Canakhya Nitisastra cara sembahyang hindu catur asrama Catur Brata Catur Cuntakantaka Catur Purusha Artha Catur Purusharta catur veda Catur Warna Catur Weda Cendekiawan Hindu Cinta Kasih Dalam Perspektif Hindu Dana Punia Deva adalah sinar suci Brahman Deva Brahma Deva Indera dewa dewi hindu dewa yadnya dewata nawa sanga dewi kata-kata dewi saraswati dharma artha kama moksa Dharma Santi dharma wacana Doa Anak Hindu donasi buku hindu epos mahabharata ramayana filosofi pohon bambu filsafat agama hindu ganesha Gayatri Sebagai Mantra Yoga Hari Raya Galungan Hari Raya Kuningan Hari Raya Nyepi Hari Raya Pagerwesi Hari Raya Saraswati Hari Raya Siwaratri HINDU adalah ARYA DHARMA HINDU ADALAH SANATHANA DHARMA HINDU ADALAH VAIDHIKA DHARMA Hindu Agama Terbesar di Dunia Hindu Banten Hindu beribadah di Pura Hindu Festival Hindu Indonesia hindu nusantara Hindu Tengger Hinduism Facts Hinduism the Greatest Religion in the Word Hukum Karma Ida Pedanda sakti isi catur weda Jadilah Manusia Setia Japa dan Mantram Jiwa jual buku hindu kakawin Kamasutra Keagungan Aksara Suci OM Kekawin Lubdhaka kepemimpinan jawa kuna Kerajaan Hindu Keruntuhan Agama Hindu kesadaran diri kidung dewa yadnya Kitab Suci Weda lontar Lontar Kala Maya Tattwa Maharsi Atri Maharsi Bharadvaja Maharsi Gritsamada Maharsi Kanva Maharsi Vamadeva Maharsi Vasistha Maharsi Visvamitra manawa dharma sastra Mantra Mantra Yoga manusa yadnya Meditasi Matahari Terbit Mengapa Kita Beragama menghafal sloka Mimbar Agama Hindu Moksha Motivasi Hindu Mpu Jayaprema nakbalibelog Naskah Dialog Nuur Tirtha Om or Aum one single family opini hindu moderat Panca Sradha panca yadnya Panca Yajna pandita Panglong 14 Tilem Kepitu parahyangan agung jagatkartta paras paros segilik seguluk Pasraman Pasupati Pembagian Kitab Suci Veda Pemuda Hindu Indonesia pendidikan hindu pengertian catur weda Pengertian Cuntaka penyuluh agama hindu Peradah percikan dharma Percikan Dharma Dewa Yajna phdi pinandita Pitra Yadnya Ngaben Pitrapuja potong gigi Principle Beliefs of Hinduism Proud To Be Hindu Puja dan Prathana Pujawali purana purnama tilem Purwaning Tilem Kapitu Radio online Bali rare angon nak bali belog Reinkarnasi Rgveda ritual hindu Roh Rsi yadnya sabuh mas sad darsana sad guru Samaveda sanatana dharma sang hyang pramesti guru Sang Kala Amangkurat Sang Kala Dungulan Sang Kala Galungan Sang Kala Tiga sapta rsi Sapta Timira Sarassamuscaya Sarassamuscaya Sloka sattvam rajah tamah sejarah agama hindu Sekta Hindu Semangat Hindu seni budaya hindu Sex and Hinduism siwa budha waesnawa siwa ratri Sloka sloka bhagawad gita sloka bhatara sloka Rgveda sloka yayurveda Slokantara Sloka Spiritual Bersifat Misterius spiritualitas hindu spma ribek sradha dan bhakti sri rama krishna paramahansa Sri Sathya Sai Baba Sri Svami Sivananda sumpah dalam perkara tabuh gesuri tabuh kreasi baru tabuh telu lelambatan tantri kamandaka tat twam asi tattwa susila upakara Tempat Suci Hindu tiga hubungan harmonis tri hita karana Tri kaya parisudha tri kerangka agama hindu tri mala tri pramana Triji Ratna Permata tujuan perkawinan tujuh penerima wahyu tumimbal lahir upacara hindu upacara menek deha Upanisad upaweda Utsawa Dharma Gita vaidhika dharma Vasudhaiva Kutumbakam VEDA ADALAH ILMU PENGETAHUAN SUCI vedangga Vijaya Dashami Wasudewa Kutumbhakam widhi tatwa wija kasawur wiwaha agama hindu Yajna dan Sraddha yajna dan sradha Yayurveda Yoga Kundalini