OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM

PRAKATA

Selamat Datang

Semangat Hindu merupakan blog bersama umat Hindu untuk berbagi berita Hindu dan cerita singkat. Informasi kegiatan umat Hindu ini akan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan.
Semangat Hindu semangat kita bersama.

Bersama Semangat Hindu kita berbagi berita dan cerita, info kegiatan, bakti sosial dan kepedulian, serta kegiatan keagamaan seperti ; pujawali, Kasadha, Kaharingan, Nyepi, Upacara Tiwah, Ngaben, Vijaya Dhasami dan lain sebagainya.

Marilah Berbagi Berita, Cerita, Informasi, Artikel Singkat. Bagi yang mempunyai Web/Blog, dengan tautan URL maka dapat meningkatkan SEO Web/ blog Anda.

Terima Kasih
Admin

RANBB

---#### Mohon Klik Share untuk mendukung blog ini ####---

Tampilkan postingan dengan label tattwa susila upakara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tattwa susila upakara. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Desember 2023

Makna Upakara; Kwangen, Daksina dan Segehan

 Makna Upakara; Kwangen, Daksina dan Segehan

 

Om Swastiastu;

Om Anobhadrah krtavoyanthu visvatah ; semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru


 

Pinandita Lanang Istri yang sudah disucikan yang saya hormati

Yang saya hormati; Sesepuh dan Penasehat Banjar

Yang saya hormati; Ketua dan Pengurus Banjar Ciledug

Yang saya hormati; ketua dan Pengurus Tempek se Banjar Ciledug

Dan Umat Sedharma yang berbahagia.

 

Pada hari ini saya ……………….. akan membawakan Dharma Wacana yang berjudul Makna Upakara;  Kwangen, Daksina dan Segehan

 

Pertama-tama saya menghaturkan rasa puja dan puji syukur kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa, Sesuhunan Yang Melinggih di Pura Dharma Sidhi karena atas asung kerta waranugraha-Nya lah saya dan kita semua dapat hadir dalam persembahyangan ini dalam keadaan sehat walafiat.

 

Bapak-Ibu Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Pengertian Kwangen

Merupakan bentuk persembahan yang dipakai untuk menyembah Ista Dewata yaitu aspek Tuhan yang dimohon hadir dalam persembahyangan tersebut untuk menerima persembahan atau bhakti para pemujanya.

Cara memakainya

Karena Kewangen simbol Tuhan maka memakainya hendaknya sedemikian rupa sehingga muka kewangen berhadapan muka dengan pemakainya atau penyembahnya. Yang  merupakan  muka adalah uang kepeng, bila tidak ada uang kepeng dapat diganti dengan uang logam.

Bahan-Bahan Kwangen

Umat Sedharma yang berbahagia;

Kewangen dibuat, tempatnya dari daun pisang  atau janur yang dibentuk kojong. Isi kewangen, daun-daunan (plawa), bunga, uang kepeng dan porosan silih asih.

Adapun yang disebut porosan silih asih adalah dua helei daun sirih yang diisi kapur, gambir dan buah pinang, diatur sehingga bila digulung kelihatan bolak-balik baik bagian perut maupun punggungnya.

Umat Sedharma yang berbahagia;

Selanjutnya kami akan sampaikan perihal Daksina

Kata Daksina  mengandung arti Brahma, kemudian Brahma menjadi Brahman yaitu Sang Hyang Widhi. Daksina dibuat sebagai simbol manifestasi dari Brahman sendiri atau Hyang Widhi.

Bahan-bahan, isi  dan makna simbol dalam  Daksina :

Kalau melihat banyaknya isi dari daksina dan makna yang terkandung dalam tersebut, sebetulnya merupakan permohonan pada Ida Sang Hyang Widhi.

Mengenai telor kenapa harus telor itik,  karena itik sifatnya baik, dapat membedakan yang kotor dan yang bersih, tidak mau bertengkar. Jadi kalau memakai telor itik seolah-olah persembahan itu permohonan agar kita dianugerahi  kebijaksanaan oleh Hyang Widhi.

Umat Sedharma yang berbahagia;

Kita lanjutkan dengan Segehan

Upacara Mesegeh adalah upacara Dewa Yajna yang dilaksanakan pada Kajeng kliwon   :  Sang Kala Bucari  yaitu halaman rumah, kemudian Sang Bhuta Bucari yaitu halaman merajan dan Sang Dewi Durga yaitu dipintu luar.

 

Adapun Bahan segehan meliputi :

·         Nasi (sega)  ditaruh dalam tangkih (alas dari janur  berbentuk segitiga)

·         untuk dihalaman rumah 4 warna (putih, merah, kuning dan hitam) masing-masing dalam tangkih ditaruh di  4 arah mata angin

·         untuk di merajan/sanggah : 5 warna masing-masing ditaruh ditangkih (putih, merah, kuning, hitam dan ditengah pancawarna/brumbun)

·         untuk didepan pintu keluar halaman pekarangan   1 warna putih dalam 9 tangkih (8 mata angin 1 ditengah), beras, uang kepeng (2bh)  base  (sirih), benang putih dalam 1 tangkih bawang (merah), jahe (putih) dan garam areng (hitam) dalam 1 tangkih canang  yasa atau plaus sampian tangas dan bunga.

·         api takep atau dupa

·         air (tirtha) dan bunga dalam batil (tiap tampat disediakan 1 batil tirtha.

 

Bahan ini semua ditaruh dalam tamas, sehingga perlu 3 buah tamas banten segehan, juga api takep/dupa dan tirtha masing-masing harus ada.

Bapak-Ibu Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Harapan saya dari apa yang telah  saya sampaikan dapat bermanfaat bagi kita semua, Jika ada kekurangan dalam penyampaian dharma wacana ini saya mohon maaf. Karena tidak ada manusia yang sempurna, tiada gading yang tak retak. Akhir kata saya tutup dengan paramasantih.

Om Santih, Santih, Santih Om...

Sabtu, 24 Juni 2023

3 Tri Kerangka Agama Hindu

Percikan Dharma

Tri Kerangka Agama Hindu


Om Swastyastu

Umat Se-dharma, agama Hindu disusun dalam Tri Kerangka Agama Hindu untuk memudahkan umat mempelajari, memahami, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini tertuang dalam (Anonim: I.1968) yaitu



1. Brahma Widya (Widya Tattwa) yaitu:

    a. Widhi Tattwa

    b. Tattwa Upacara

2. Susila/Etika Agama yaitu :

    a. Samania Dharmasastra

    b. Naimitika Dharmasastra

    c. Karmya Dharmasastra

    d. Upacara Dharmasastra

3. Upacara Agama yaitu :

     a. Dewa Yajna

     b. Rsi Yajna

     c. Pitra Yajna

     d. Manusia Yajna

     e. Bhuta Yajna



Artikel Terkait Vasudhaiva Kutumbakam :

Dalam agama Hindu Tri Kerangka Agama Hindu dibagi menjadi tiga yaitu Widhi Tattwa, Susila/Etika dan Upacara.


Widhi Tattwa 

Widhi Tattwa disebut juga Brahma Widya adalah falsafah /ajaran tentang Sang Hyang Widhi Wasa yang dimuat didalsm kitab suci Weda yang langgeng dan abadi. Dalam Widhi Tattwa mengupas tentang Ketuhanan, bagaimana menghaturkan ucapan terima kasih atas semua yang diberikan pada umat manusia.


Susila

Susila/Etika memuat ajaran dan petunjuk moral berperilaku baik. Sering juga disamakan dengan Dharmasastra, terdiri dari samania dharmasastra, nitya dharmasastra, naimitika dharmasastra dan kamya dharmasastra.

Samania dharmasastra artinya mirip, identik, serupa. Samania dharmasastra artinya dharma itu identik/mirip/serupa kitab suci, Agama, sastra-sastra dan ilmu pengetahuan.

Naimitika Dharmasastra artinya etika atau tata susila yang berlaku di dalam lingkungan atau kelompok terbatas.

Kamya Dharmasaatra, kamya artinya wajib. Ada hal-hal yang wajib dilaksanakan umat Hindu. Misalnya melakukan upacara Panca Yadnya, melakukan sembah bhakti kehadapan Hyang Widhi.


Upacara

Upacara sering kali disamakan artinya dengan upakara seperti telah disebutkan sebelumnya. Upacara ialah ritual atau tatacara yang memuat aturan-aturan untuk melaksanakan kegiatan ritusl tertentu dari agama. Ada lima yadnya yang dilakukan yaitu Dewa yadnya, Rsi yadnya, Pitra yadnya, Manusia yadnya dan Bhuta yadnya.


Tattwa, Susila dan Upacara merupakan satu kesatuan dalam pelaksanaannya. Misalnya bila akan melakukan persembahyangan ke Pura. Sebelum datang di Pura, pikiran dan perasaan sudah ditujukan kehadapan Hyang Widhi.

Om Santih Santih Santih Om


Aris Widodo

Penyuluh Agama Hindu

Kita Serang

Jumat, 27 Juli 2018

5 SRADHA - PANCA ҪRADDHA TATTWA

PANCA SRADHA
Kisah Mahabharata
MAHABHARATA ANUSASANA
Ҫraddha (Keimanan).

Ҫraddha adalah bahasa Sanskerta, dapat diartikan ; keyakinan, kepercayaan, keimanan. Ҫraddha sebagai kepercayaan dirumuskan dalam Atharwa Weda, XII. 1.1. “Satyam Brhad rtam ugram diksa, tapo brahma yajna prthiwim dharayanti“. ( Sesungguhnya, Satya, Rta. Diksa, Tapa, Brahman dan Yajna yang menyangga dunia ).
Dengan ayat ini dijelaskan bahwa dunia ini ditunjang oleh ; Satya, Rta, Diksa, Tapa, Brahma dan Yajna. Tentang arti kata menyangga (dharayanti), dijelaskan bahwa alam semesta ini merupakan unsur Dharma yang memelihara kehidupan ini. Dapat pula kita katakan bahwa keenam unsur-unsur tersebut merupakan kerangka isi Dharma (Agama Hindu).

(1). Satya
Kebenaran, sifat hakekat Tuhan Yang Maha Esa; Kesetiaan, Kejujuran, setia.
(2). Rta dan Dharma
Rta ialah hukum Tuhan yang murni yang bersifat absolut transcendental.
Dharma ialah bentuk hukum yang dijabarkan ke dalam alam manusia.
(3). Diksa
Diksa (inisiasi) berarti penyucian, penasbihan, inisiasi, abhiseka.
(4). Tapa
Tapa berarti pengendalian indriya.
(5). Brahma
Brahma berarti pujian. Pujian adalah semacam doa yang dalam sehari-hari disebut mantra atau stuti. Mantra adalah ayat-ayat suci yang dipergunakan untuk melaksanakan pemujaan karena itu mantra itu juga dinamakan doa, tetapi sebagai alat doa itu adalah mantra. Kata lain yang sering dipergunakan yang sama artinya ialah stotra atau stawa. Jadi stawa atau stotra adalah ayat-ayat yang dipergunakan untuk melakukan pujian kepada Tuhan atau lainnya.
(6). Yajna
Menurut Etimologi, Yajna berasal dari bahasa Sanskerta, dengan urat kata Yaj, yang artinya : memuja atau memberi pengorbanan atau menjadikan suci. Kata ini juga diartikan mempersembahkan; bertindak sebagai perantara. Dari urat kata ini timbul kata Yajna (kata-kata dalam pemujaan, ritus agama) dan Yajna (pemujaan, doa, persembahan) yang kesemuanya berarti sama dengan Brahma.

Ҫraddha ialah keimanan atau kepercayaan yang tulus yang menegaskan kebenaran dan hukum untuk mengikat nilai-nilai spiritual pada diri manusia. Di dalam pengupasan ajaran kepercayaan kepada Tuhan yang merupakan pokok-pokok ajaran kefilsafatan Hindu, untuk menjelaskan sistem kepercayaan kepada Tuhan itu dikembangkan pula ajaran Panca Ҫraddha (Lima dasar pokok keyakinan). Ajaran Agama Hindu (Hindu Dharma), dapat dibagi atas tiga unsur besar atau atas tiga kerangka yaitu :
  1. Tattwa (Filsafat).
  2. Tata Susila (Etika)
  3. Upacara (Ritual)
Tattwa merupakan istilah filsafat yang telah umum dipakai oleh umat Hindu di Indonesia, sedangkan di India pada umumnya disebut Darҫana. Darҫana ada kaitannya dengan ajaran Agama Hindu dengan uraian yang ilmiah mengupas inti hakekat kebenaran yang kekal abadi (Brahman).

Tattwa merupakan apinya Agama, yang memberikan sinar kepada bagian lainnya dan refleksinya diwujudkan pada upacara-upacara. Upacara, Banten, Simbul-simbul (Lambang), Gambar-Gambar (Rerajahan), Huruf-huruf Suci, merupakan perwujudan dari Tattwa.
Adapun kata Tattwa dapat kita artikan; Kebenaran, Inti Hakekat, Filsafat; Tat itu : Kebenaran, Twa : Bersifat, mempunyai sifat.

Darҫana-Darҫana, Weda Sruti dan Smerti, dipelajari oleh umat Hindu di Indonesia sejak dahulu kala, kemudian diolah lagi oleh alam pikiran para Rohaniwan, Bijaksanawan, Resi, Empu, Pandita, sehingga muncullah berbagai macam Tattwa.
Adapun contoh Tattwa yang pada saat ini masih mendapatkan perhatian yang baik ialah :

  1. Wrehaspati Tattwa
  2. Ganapati Tattwa
  3. Ҫiwa Tattwa
  4. Tattwa Jnana
  5. Kala Tattwa
  6. Widdhi Tattwa

Dan banyak lagi rontal-rontal yang memakai nama Tattwa maupun yang memuat ajaran Tattwa.

Ajaran Tattwa merupakan bagian ajaran Agama yang penting sebagai inti sari; jika diumpamakan Agama (Dharma) itu sebagai sebutir telur, maka Tattwa itu adalah sarinya, Susila itu adalah airnya (putihnya), sedangkan Upacara-Upacara adalah kulitnya.

Susila memberikan dukungann kepada yang mempelajari Tattwa, supaya jangan menjadi orang intar-busuk, dan Susila itupun memberikan dorongan kepada yang melaksanakan Upacara-Upacara (Yajna) supaya tidak sia-sia.
Secara singkat dapat kita katakan bahwa Tuhan maupun Dewa-Dewa yang disebutkan dalam Tattwa, sudah menjadi objek pemujaan, penyembahan dalam pelaksanaan keagamaan.

Apa arti dan pengertian Panca Ҫraddha itu ?
Panca = Lima, Ҫraddha = Keyakinan, Kepercayaan.
Panca Ҫraddha Tattwa = Lima dasar pokok keyakinan (kepercayaan) yang mengandung kebenaran.

Panca Ҫraddha Tattwa disingkat jadi Panca Ҫraddha, terdiri dari :
  1. Brahma (Widdhi) Tattwa
  2. Atma (n) Tattwa
  3. Karma Phala Tattwa
  4. Punarbhawa (Samsara) Tattwa
  5. Moksa Tattwa

Kalau kita pelajari ajaran Agama Hindu, maupun membaca Sad Darҫana, dan Tattwa-Tattwa lainnya, maka dapat disimpulkan secara garis besarnya memuat persoalan : Brahman, Atman, Karma, Samsara, Moksa.
Panca Ҫraddha Tattwa ini, bukan pelajaran yang baru bagi umat Hindu, namun merupakan pengolahan sari-sari Darҫana dan Tattwa yang telah ada, perumusan inti sari ajaran yang tak pernah selesai dipelajari sepanjang masa.

Pengertian Panca Ҫraddha Tattwa :
1.      Brahman (Widdhi) = Yakin akan adanya Tuhan Yang Maha Esa.
2.      Atma (n) = Yakin akan adanya Atma (Jiwa) yang tak dapat mati.
3.      Karma Phala = Yakin bahwa setiap perbuatan ada buahnya.
4.      Samsara (Punarbhawa) = Yakin akan adanya kelahiran yang berulang-ulang.

5.      Moksa = Bersatunya Atma dengan Brahman.

Selasa, 18 Agustus 2015

Penyu untuk Upacara Umat Hindu

Pemerintah Izinkan Penyu untuk Upacara Umat Hindu, Asal ...

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Bali menegaskan penggunakan hewan penyu untuk upacara keagamaan di Pulau Dewata harus mendapat rekomendasi dari Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali.

"Kalau masyarakat belum mengantongi izin dan rekomendasi dari majelis tertinggi umat hindu itu, kami tidak akan mengizinkan pemanfaatan penyu untuk sarana upacara," kata Kepala BKSDA Bali, Sumarsono di Denpasar, Rabu (12/08/2015).

Ia menjelaskan, aturan tersebut merupakan perjanjian antara BKSDA dengan PHDI mengenai pemanfaatan dan penggunaan salah satu fauna dilindungi di Nusantara tersebut.

Dalam aturan tersebut tertulis bahwa hanya diperbolehkan memakai satu ekor penyu untuk satu jenis upacara keagamaan baik tingkat besar, sedang, maupun kecil.



"Kami membatasi jumlah pemanfaatan penyu karena jumlah penyu yang ada di penangkaran dan di beberapa pusat pengembangbiakan peyu sudah semakin terbatas," kata dia.

Selain itu, pihak penyelenggaran upacara mesti mengganti uang yang dihabiskan selama proses pengembangbiakan penyu di beberapa daerah perlindungan dan pengembangbiakan fauna langka itu. "Saat ini, di Bali terdapat beberapa tempat pengembangbiakan penyu, dua di antaranya di daerah Benoa dan Serangan, Denpasar.

Lebih lanjut, aturan berupa perjanjian itu kata Sumarsono sebagai langkah antisipasi semakin berkurangnya jumlah penyu, utamanya penyu hijau yang sudah semakin langka di Bali.

Apalagi, menurutnya, saat ini banyak pihak memanfaatkan penyu menggunakan alasan untuk upacara agama, padahal, dagingnya digunakan untuk kebutuhan bisnis dan komersil.

"Daging penyu harganya cukup mahal di pasaran, jadi, banyak yang menghalalkan segala cara memanfaatkan daging penyu untuk diperjualbelikan," katanya.


sumber : http://nasional.rimanews.com

Senin, 09 Februari 2015

Lontar Dewa Tatwa

DEWA TATTWA 


Adapun materi pokok yang diajarkan dalam Lontar Dewa Tatwa ini adalah uraian tentang tata upacara mendirikan bangunan suci, arca, dan juga bermacam pedagingan bangunan suci dengan segala upakaranya. 

Dalam membangun tempat suci, seperti Meru, Gedong, Prasada, Padmasana, Ibu, semuanya hendak dilengkapi dengan Padagingan Nista, Madya, Utama. 

Tentang proses pembangunan tempat suci sepatutnya terlebih dahulu disucikan dengan upakara Prayascita, Suci, Pajati, Rayunan Putih Kuning, Pangambeyan, Sasayut Durmanggala, Pras, Panyeneng, Rantasan, Daksina, Sesari 500. 



Tentang Kahyangan tempat suci yang terkena musibah (cuntaka) hendaknya disucikan dengan upacara Manyawang, mohon perkenan wara nugraha Sang Hyang widhi dengan rentetan upacara Ngenteg Linggih Bhatara, menghilangkan kekotoran, akhirnya melaksanakan upacara Pasasapuh dengan menghaturkan upacara Guru Piduka, dan lain-lain. 

Selain itu, dalam lontar ini juga diuraikan mengenai Upacara Ngusabha Desa Nini dengan segala upakaranya, tata cara membangun Palinggih Prajapati dan juga upacara di Kuburan, upacara Malabuh Gentuh di laut, Panjegjengan Hyang Narmada, Pancawalikrama, tentang jenis sesayut dan kepada siapa ditujukan, tentang ruwatan Sang Hyang Aghora untuk menghilangkan segala kekotoran dalam tubuh, dll.

Sumber : http://baliculturegov.com/2009-10-06-09-01-33/konsep-konsep-budaya.html

Sabtu, 04 Oktober 2014

LONTAR KRAMA PURA, PUTRU PASAJI, TATTWA SANGKANING DADI JANMA, DEWA RUCI, CATUR YUGA

ALIH AKSARA DAN ALIH BAHASA LONTAR

KRAMA PURA, PUTRU PASAJI, TATTWA SANGKANING DADI JANMA,

DEWA RUCI, CATUR YUGA (2008)

KRAMA PURA
Lontar Krama Pura yang dialihaksarakan ini adalah lontar yang ditulis oleh Putu Mangku dari Banjar Jro Dikit Seririt pada Tahun Saka 1919 (1997 M). Lontar Krama Pura tergolong naskah muda karena dilihat dari bahasa yang dipakai sebagai wahananya yaitu bahasa Kawi-Bali. Lontar ini termasuk lontar sesana, yang lebih mengkhusus pada tata cara masuk tempat suci.
Dalam lontar ini disebutkan bahwa orang yang bertindak sebagai pengemong pura hendaknya waspada dan mematuhi ajaran Sangyang Dewa Sasana tentang tata cara orang masuk pura. Bila krama desa ingin menghaturkan sesajen, pada saat membuat hendaknya disucikan dahulu dengan tirtha dari Sulinggih karena sesajen yang tidak diperciki tirtha dianggap kotor (leteh). Penyebab kekotoran itu adalah dilangkahi anjing, dilangkahi manusia, dipakai mainan oleh anak-anak, hasil belanjaan di pasar yang dijual oleh orang kotor, diterbangkan ayam, kena rambut, bedak, ludah. Bila banten tersebut dihaturkan, dianggap akan dapat mengusir dewa dan mengundang bhuta.



Selain itu, orang yang tidak boleh masuk pura adalah orang gila, orang yang menstruasi, orang cuntaka karena kematian, pencuri. Di areal pura, orang dilarang untuk marah sampai memaki-maki, bicara ngacuh, bersanggama, berselingkuh, bahkan untuk memperbaiki pakaian. Yang paling dilarang masuk pura adalah orang panten (orang yang dosanya tidak terampuni), yaitu orang yang memperkosa, yang laki-laki dari golongan sudra sedangkan wanitanya dari golongan tri wangsa (brahmana, ksatriya, wesya). Orang yang mengawini yang tidak patut dikawini (gamia-gamana) juga dilarang masuk pura. Ada juga yang disebut cacilaka, yaitu seorang wanita yang telah cukup umur namun tidak menstruasi, walaupun sudah berobat pun juga tidak menstruasi, dilarang masuk pura lebih-lebih untuk membuat perlengkapan sesajen.
  

PUTRU PASAJI
Lontar yang dialihaksarakan ini adalah lontar koleksi pribadi Perpustakaan Lontar Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.
Dalam lontar ini disebutkan ada ikan/daging yang dilarang untuk dijadikan persembahan, karena akan menghilangkan kesucian sehingga kembali pada papa dan neraka. Dalam Pitra Yadnya, ada banyak jenis ikan yang dapat dijadikan persembahan kepada sang pitara. Lamanya kesenangan yang dapat diberikan oleh masing-masing ikan berbeda. Ikan laut kualitasnya paling rendah karena dapat memberikan kesenangan hanya selama satu bulan. Sedangkan ikan/daging yang kualitasnya tertinggi adalah badak, karena akan dapat memberikan kesenangan selamanya di sorga.
Dalam lontar ini disebutkan juga nama beberapa gunung seperti: Gunung Malaya, Suktiman, Wreksawan, Himawan, Makuta, dan Nindana yang harus dilalui oleh para pitara menuju sorga. Pada gunung-gunung itulah tempat penyiksaan para pitara yang berdosa menunggu untuk dientas agar bisa masuk sorga. Pitara yang telah dientas kemudian masuk sorga memperoleh penyambutan yang luar biasa dari makhluk-makhluk kahyangan. Dengan diantar oleh burung kahyangan, Sang Wimana, sang pitara dapat menyaksikan keindahan masing-masing sorga.
Dalam sorga disebutkan ada banyak sorga seperti: Iswarapada, Brahmaloka, Budhaloka, Wisnupada, Swarga Manik, Sri Manuh, Indrapada, Darapada, Wilasatya, Siwapada, Ganda Langha Jandewa Pralabda, dan lain-lain. Sorga-sorga itulah tempat bagi atma yang telah dientas dan sesuai dengan pekerjaannya di bumi ketika masih hidup. Misalnya, ketika masih hidup dia suka belajar, menggubah kidung, pralambang, akan tinggal di Swarga Manik, yaitu kahyangan Sanghyang Saraswati.
Amanat dari Lontar Putru Pasaji ini adalah agar keluarga yang ditinggalkan segera melaksanakan upacara bagi yang meninggal, agar tidak berlama-lama menderita dan bisa segera masuk sorga. Dalam melaksanakan upacara agar dipilih ikan/daging yang dianjurkan agar dapat memberikan kesenangan kepada para pitara di sorga. Sesorang jika telah berhasil melaksanakan upacara terhadap orang yang telah meninggal, ia akan memperoleh pahala dari pelaksanaan upacara itu. Ada empat pahala yang akan dinikmati, seperti: saksi, bhakti, sura, dan wira. Lebih-lebih jika upacara itu dilaksanakan dengan didasari hati yang suci dan tulus ikhlas.
  

TATTWA SANGKANING DADI JANMA
Tattwa Sangkaning Dadi Janma adalah sebuah pustaka lontar yang memuat ajaran tentang hakikat Siwa. Lontar ini mengacu pada pustaka yang lebih tua seperti, Bhuwanakosa, Wrehaspati Tattwa, Tattwa Jnana, Jnana Siddhanta, Ganapati Tattwa.
Materi Pokok yang diajarkan dalam pustaka Tattwa Sangkaning Dadi Janma adalah pengetahuan rahasia, yaitu tentang ilmu kadyatmikan, ilmu untuk melepaskan Sang Hyang Urip untuk kembali ke asalnya atau kamoksan, kalepasan, kesunyataan.
Janganlah mengajarkan kepada murid yang tidak mentaati tata krama. Dan kepada orang yang tidak terpelajar, rahasiakanlah ajaran Beliau para Resi, sebab murid yang pandai tetapi tidak bermoral, tidak mentaati tata krama dan tidak hormat kepada guru, itu akan mendapat petaka besar bagi si murid. Sebaliknya, walaupun murid itu agak kurang, kalau mentaati ajaran tata krama dari guru, pastilah murid itu akan berhasil.
DEWA RUCI
Dewaruci dimulai dengan cerita keberangkatan Sang Bhima atas perintah Bhagawan Drona ke laut untuk mencari Toya Amreta. Terlihat olehnya tepi laut dengan ombaknya beriak, bergulung menerjang batu karang. Dengan tiada rasa takut ia menceburkan diri ke dalam laut, diempas gelombang, ditindih air.
Tiba-tiba datanglah seekor ular besar bernama Si Nakatnawa mengambang di atas air. Ular yang sedang kelaparan itu kemudian menyerang Sang Bhima dengan sangat buas. Akan tetapi ular tersebut akhirnya dapat ditangkap oleh Sang Bhima, lalu dipotong-potong dengan kukunya sehingga air laut menjadi merah karena darah ular itu.
Tersebutlah Sang Hyang Wisesa, sangat kasihan terhadap Sang Bhima. Sang Bhima sangat senang melihat Sang Hyang Wisesa yang berbadan kecil seperti boneka. Sang Hyang Wisesa bertanya apa tujuan Sang Bhima datang ke tengah laut yang berbahaya itu. Sang Bhima pun menjawab bahwa tentunya Sang Hyang Wisesa telah mengetahuinya. Sang Bhima kemudian menanyakan nama Sang Hyang Wisesa sebagai resi berbadan kecil. Sang resi menjawab ia adalah Dewaruci. Kemudian ia memberi wejangan kepada Sang Bhima agar jangan gegabah berbuat. “Janganlah mencari bila belum tahu apa yang dicari”.
Dewaruci senang karena sang Bhima mau menerima ajarannya. Ia menyuruh Sang Bhima masuk ke dalam garbanya (perutnya) melalui telinga kirinya. Setelah Sang Bhima masuk, dilihatlah olehnya lautan yang amat luas, alam kosong. Kemudian Sang Resi kembali mewejang tentang indriya, tentang dasa, tiga musuh sang pertapa, tentang subyek dan obyek, tentang yang tunggal menjadi banyak, tentang jiwa, tentang Tuhan yang tanpa wujud, tanpa ruang.



CATUR YUGA
Lontar ini pada intinya menceritakan tentang seorang raja yang bertahta di kerajaan Purbbhasasana bergelar Maharaja Bhanoraja sedang mencari pertimbangan dari para pendeta, para mahaguru, para mentri, dll., perihal putrinya yang bernama Dewi Ratnarum yang hendak dilamar oleh raja dari Negara Sunyantara yang bergelar Sri Maharaja Rekatabyuha yang sangat kaya dan gagah berani, akan tetapi berjiwa jahat karena dipengaruhi oleh zaman kali.
Para pendeta, mahaguru pun memberi pertimbangan/petuah kepada sang raja. Pada zaman dahulu, disebutkan bahwa Hyang Parameswara (Sang Hyang Siwa) memberikan ajaran tentang Catur Yuga. Empat perbedaannya yaitu: Kretha Yuga, Traita Yuga, Dwapara Yuga, dan Kali Yuga. Kretha Yuga lamanya 4.444.400 tahun, Traita Yuga 3.333.300 tahun, Dwapara Yuga 2.222.200 tahun, dan Kali Yuga 1.111.100 tahun lamanya.
 Pada zaman Kretha Yuga, keadaan manusia tidak banyak mengalami perubahan, tidak tertimpa rasa sakit, tidak akan mati semasih bayi, tidak memikirkan baik buruk, mati hidup, suka duka, sakit lapar. Adapun umur manusia pada Zaman Kretha Yuga adalah seratus ribu tahun, sepuluh-puluh kurangnya, kecatur sunyaning rat.
Pada Zaman Traita Yuga, demikian juga tentang umur manusia selalu suka, lima ratus tahun umurnya, ukurannya lima-lima, tiga kakinya dunia, seperti air dalam perigi, berkurang sekendi dari tempurung kelapa, mendung yang tebal akan menjatuhkan hujan, selaku dalam keadaan suka semua manusia, tidak ingat dengan hari tua.
Zaman Dwapara Yuga, dua ratus tahun umurnya manusia, ukurannya dua-dua, dua kakinya dunia, demikianlah ukuran manusia patut disikapi, berlaksana harus bijaksana, pemberani, tahu tentang siasat, tahu dengan tanda-tanda, dapat mengendalikan indera, sayang kepada orang melarat, kasih kepada orang yang tahu membalas budi, taat aturan, melaksanakan ajaran weda, dll.
Zaman Kali Yuga, seratus tahun umurnya manusia, ukurannya satu-satu, satu kakinya dunia, itu sebabnya huru-hara di dunia, hampir-hampir rusak tiada tara, mendung tebal akan menurunkan hujan, perigi akan kering, nempuluh tahun penuh dengan kekerasan, itu yang disebut sapta, tiada tenggelam di Barat, selalu berpisah tiada mau bersatu, dari Utara datangnya ciri-ciri yang tidak baik. Dari hal itu timbullah Tri Mala. Itulah sebanya dunia manjadi kacau, bisa merajalela menyakiti, merampok, memperkosa, membunuh sesama manusia yang tidak berdosa, aneka rupa kejahatan di muka bumi, yang berlaksana benar mati, yang sombong hidup dan mendapatkan kesenangan, tamak, bersifat kejam.

Sumber : http://baliculturegov.com/2009-10-06-09-01-33/konsep-konsep-budaya.html
 

Senin, 28 April 2014

Dupa dan Dipa

Pandita Hindu
Perlengkapan Pandita
Di hadapan Sang Pandita yang sedang " Nyurya Sewana " tertata benda-benda yang menarik perhatian kita :  bunga harum warna-warni, toya (tirtha), bija, rumput suci, dupa dan dipa. Benda-benda terpilih ini memang tidak banyak jumlahnya, namun makna yang dikandungnya begitu dalam.

Bunga harum semerbak warna-warni tidak saja dapat dijadikan simbol kebahagiaan hati, kegembiraan dan mekarnya hati, tetapi adalah sari tumbuh-tumbuhan; toya yang hening adalah sarana penyucian, bija adalah padi, adalah benih kesucian, dupa dengan asapnya yang harum dan menyusup di angkasa bagaikan fikiran suci yang menyusup ke dalam alam, dan dipa, api yang tenang namun memberi cahaya yang cemerlang, bagaikan fikiran yang tenang namun memancarkan sinar cemerlang.

Sebuah nyanyian rokhani yang dipopulerkan dalam masyarakat menyebutkan : "Asep menyan majagau, candana nuhur dewane ........" asap harum yang keluar dari kemenyan gaharu dan sendana, bagaikan mengundang kehadiran para dewa (yang berbadankan cahaya) .... Dupa harum bagaikan mengundang para dewa, kekuatan Tuhan sebagai Maha Cahaya. Asap dan bau harum yang menyusup ke angkasa bagaikan mengundang cahaya-cahaya cemerlang di langit untuk menyinari dunia, menyinari sang pemuja yang dengan pikiran suci, hati yang suci, diri yang suci mengharap kehadirannya.

Sedangkan dipa, api yang tenang namun memancarkan sinar cemerlang menjadi perhatian para kawi. Susastra sering diumpamakan sebagai dipa yang memancarkan sinar cemerlang. Susastra dipanikang bhuwana sumeno prabhaswara ; Ilmu pengetahuan yang utama adalah bagaikan dipa-nya dunia yang bersinar cemerlang. Dalam kakawin Ramayana ada disebutkan bagaikan gua yang gelap pikiran yang dikuasai oleh kemabukan, kesombongan, dan kebusukan, dan keserakahan bagaikan ilar berbisa yang menempati gua itu, namun susastra, pengetahuan kesucian dapat dijadikan obor penerang memasuki gua itu.


Dupa dan Dipa yang merupakan api pemujaan, yang ditempatkan dihadapan sang pandita yang tengah menguncarkan mantra-mantra memuja Hyang Widhi, adalah api yang dimaksud untuk memberikan kebahagiaan kepada seluruh jagat. Kadi bahni ring pahoman, dumilah mangde sukaning rat, bagaikan api di tungku pedupaan, menyala-nyala membuat bahagianya seluruh dunia.

Setiap pagi para pandita memuja melakuak Surya Sewana, dengan sarana dupa dan dipa dihadapannya, untuk kerahayuan dan kebahagiaan seluruh jagat, seluruh bhuwana. Dupa dengan asapnya yang harum menyusupkan kebahagiaan ke seluruh jagat, juga mengundang kehadirian para dewa, pembawa cahaya yang akan memberikan kebahagiaan kepada seluruh jagat, dipa dengan cahayanya yang menyinari, memberikan suluh di kala kegelapan, juga menuntun kita ke jalan kebahagiaan. Tamaso ma jyotir gamaya ; Semoga Hyang Widhi menuntun kita dari kegelapan ke jalan yang disinari.
Sumber bacaan buku Wija Kasawur 2 Ki Nirdon. (RANBB)

Senin, 15 Juli 2013

Kasada Umat Hindu Tengger 2013


Umat Hindu Tengger. Umat Hindu Tengger di kawasan Gunung Bromo akan melaksanakan Yadnya Kasada. Acara tersebut dihelat oleh masyarakat Hindu  Tengger yang diselenggarakan setiap hari ke-14 bulan Kasada (penanggalan Hindu) sehingga sering pula ritual ini popular dikenal sebagai Kesedo. Upacara Yadnya Kasada dilaksanakan pada 23-24 Juli 2013.

Yadnya Kasada dihelat masyarakat Hindu Tengger karena mereka merupakan keturunan Pangeran Joko Seger dari Kerajaan Majapahit. Saat Majapahit mengalami kemunduran, sang pangeran dan pengikutnya mengungsi ke Gunung Bromo. Umat Hindu Tengger masih setia memeluk agama Hindu menyembah Ida Sang Hyang Widi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa), dewa Trimurti, Siwa, Brahma dan Wisnu.

Tradisi Yadnya Kasada

Legenda setempat menyatakan bahwa setelah bertahun-tahun menikah, pasangan Roro Anteng dan Joko Seger tidak kunjung dikaruniai anak. Kemudian mereka memutuskan untuk bersemedi di puncak Gunung Bromo dengan harapkan dikaruniai anak. Dewa pun akan memberikan 24 anak namun dengan satu syarat bahwa anak ke-25 harus dijadikan korban dengan cara dijatuhkan ke dalam kawah Gunung Bromo. Syarat tersebut disetujui Roro Anteng dan Joko Seger dan dari cerita inilah tradisi Yadnya Kasada berasal. Tradisi persembahan berikutnya bukan lagi manusia namun digantikan dengan ayam, kambing dan sayuran.

Ketika Yadnya Kasada digelar, umat Hindu Tengger akan melakukan pendakian ke puncak gunung. Umat berdoa bersama dilanjutkan dengan persembahan Yadnya ke kawah Gunung Bromo berupa sayuran, buah, ternak, bunga, dan bahkan uang. Yadnya ini merupakan bentuk rasa syukur atas kelimpahan hasil pertanian dan peternakan yang diberikan kepada masyarakat Hindu Tengger. Meskipun berbahaya, beberapa warga rela turun ke kawah untuk mengambil barang yang dikorbankan. Mereka percaya bahwa persembahan tersebut akan membawa keberuntungan. Semoga Upacara Yadnya Kasada berjalan lancar dan Umat Hindu Tengger selalu dalam lindungan Hyang Widhi serta selalu selalu dilimpahkan rezeki-Nya.(RANBB)

CHANNEL YOUTUBE SAYA - MOHON DI SUBSCRIBE

Cari Artikel di Blog ini

Berita Terkait Semangat Hindu

Artikel Agama Hindu

108 Mutiara Veda 3 kerangka agama hindu advaita visistadviata dvaita Agama Hindu Dharma agama islam Ajaran Hindu aksara suci om alien menurut hindu Apa yang dimaksud Cuntaka Apa yang dimaksud dengan Japa Apa yang dimaksud dengan Puja arcanam nyasa aris widodo artikel hindu arya dharma Arya Wedakarna Asta Brata Atharvaveda Atman avatara sloka babad Badan Penyiaran Hindu bagian catur weda bahasa jawa kuno bahasa kawi bahasa sanskerta Banggalah Menjadi Hindu banten hindu bali Belajar Hindu BELAJAR ISTILAH AGAMA HINDU bhagavad gita Bhagawadgita bhagawan bhuta yadnya Bimas Hindu BPH Banten brahma wisnu siwa Brahman Atman Aikyam brahmana ksatriya wesia sudra budaya bali budha kliwon sinta Bukan Heroisme buku hindu terpopuler Canakhya Nitisastra cara sembahyang hindu catur asrama Catur Brata Catur Cuntakantaka Catur Purusha Artha Catur Purusharta catur veda Catur Warna Catur Weda Cendekiawan Hindu Cinta Kasih Dalam Perspektif Hindu Dana Punia Deva adalah sinar suci Brahman Deva Brahma Deva Indera dewa dewi hindu dewa yadnya dewata nawa sanga dewi kata-kata dewi saraswati dharma artha kama moksa Dharma Santi dharma wacana Doa Anak Hindu donasi buku hindu epos mahabharata ramayana filosofi pohon bambu filsafat agama hindu ganesha Gayatri Sebagai Mantra Yoga Hari Raya Galungan Hari Raya Kuningan Hari Raya Nyepi Hari Raya Pagerwesi Hari Raya Saraswati Hari Raya Siwaratri HINDU adalah ARYA DHARMA HINDU ADALAH SANATHANA DHARMA HINDU ADALAH VAIDHIKA DHARMA Hindu Agama Terbesar di Dunia Hindu Banten Hindu beribadah di Pura Hindu Festival Hindu Indonesia hindu nusantara Hindu Tengger Hinduism Facts Hinduism the Greatest Religion in the Word Hukum Karma Ida Pedanda sakti isi catur weda Jadilah Manusia Setia Japa dan Mantram Jiwa jual buku hindu kakawin Kamasutra Keagungan Aksara Suci OM Kekawin Lubdhaka kepemimpinan jawa kuna Kerajaan Hindu Keruntuhan Agama Hindu kesadaran diri kidung dewa yadnya Kitab Suci Weda lontar Lontar Kala Maya Tattwa Maharsi Atri Maharsi Bharadvaja Maharsi Gritsamada Maharsi Kanva Maharsi Vamadeva Maharsi Vasistha Maharsi Visvamitra manawa dharma sastra Mantra Mantra Yoga manusa yadnya Meditasi Matahari Terbit Mengapa Kita Beragama menghafal sloka Mimbar Agama Hindu Moksha Motivasi Hindu Mpu Jayaprema nakbalibelog Naskah Dialog Nuur Tirtha Om or Aum one single family opini hindu moderat Panca Sradha panca yadnya Panca Yajna pandita Panglong 14 Tilem Kepitu parahyangan agung jagatkartta paras paros segilik seguluk Pasraman Pasupati Pembagian Kitab Suci Veda Pemuda Hindu Indonesia pendidikan hindu pengertian catur weda Pengertian Cuntaka penyuluh agama hindu Peradah percikan dharma Percikan Dharma Dewa Yajna phdi pinandita Pitra Yadnya Ngaben Pitrapuja potong gigi Principle Beliefs of Hinduism Proud To Be Hindu Puja dan Prathana Pujawali purana purnama tilem Purwaning Tilem Kapitu Radio online Bali rare angon nak bali belog Reinkarnasi Rgveda ritual hindu Roh Rsi yadnya sabuh mas sad darsana sad guru Samaveda sanatana dharma sang hyang pramesti guru Sang Kala Amangkurat Sang Kala Dungulan Sang Kala Galungan Sang Kala Tiga sapta rsi Sapta Timira Sarassamuscaya Sarassamuscaya Sloka sattvam rajah tamah sejarah agama hindu Sekta Hindu Semangat Hindu seni budaya hindu Sex and Hinduism siwa budha waesnawa siwa ratri Sloka sloka bhagawad gita sloka bhatara sloka Rgveda sloka yayurveda Slokantara Sloka Spiritual Bersifat Misterius spiritualitas hindu spma ribek sradha dan bhakti sri rama krishna paramahansa Sri Sathya Sai Baba Sri Svami Sivananda sumpah dalam perkara tabuh gesuri tabuh kreasi baru tabuh telu lelambatan tantri kamandaka tat twam asi tattwa susila upakara Tempat Suci Hindu tiga hubungan harmonis tri hita karana Tri kaya parisudha tri kerangka agama hindu tri mala tri pramana Triji Ratna Permata tujuan perkawinan tujuh penerima wahyu tumimbal lahir upacara hindu upacara menek deha Upanisad upaweda Utsawa Dharma Gita vaidhika dharma Vasudhaiva Kutumbakam VEDA ADALAH ILMU PENGETAHUAN SUCI vedangga Vijaya Dashami Wasudewa Kutumbhakam widhi tatwa wija kasawur wiwaha agama hindu Yajna dan Sraddha yajna dan sradha Yayurveda Yoga Kundalini