OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM

PRAKATA

Selamat Datang

Semangat Hindu merupakan blog bersama umat Hindu untuk berbagi berita Hindu dan cerita singkat. Informasi kegiatan umat Hindu ini akan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan.
Semangat Hindu semangat kita bersama.

Bersama Semangat Hindu kita berbagi berita dan cerita, info kegiatan, bakti sosial dan kepedulian, serta kegiatan keagamaan seperti ; pujawali, Kasadha, Kaharingan, Nyepi, Upacara Tiwah, Ngaben, Vijaya Dhasami dan lain sebagainya.

Marilah Berbagi Berita, Cerita, Informasi, Artikel Singkat. Bagi yang mempunyai Web/Blog, dengan tautan URL maka dapat meningkatkan SEO Web/ blog Anda.

Terima Kasih
Admin

RANBB

---#### Mohon Klik Share untuk mendukung blog ini ####---

Tampilkan postingan dengan label bahasa kawi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bahasa kawi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 September 2018

Sarassamuscaya Sloka 391


Pitrayana - Dewayana
Sarassamuscaya Sloka 391

panthanau pitrayanasca devayanasca visrutan, janminah pitrayanena devayanena moksina.

Rwa tika marga ngaranya, hana pitrayana, hana dewayana, ika sang grhasthakarma, sang makanusthana puja, pancayajnadi, pitrayana, ngaranika marga tinutnia, kunang ika sang nistrsna, tyaktaparigraha, kewala atinggal, dewayana ngaranika marga tinutnira.

Artinya

Adalah dua jalan yaitu pitrayana dan dewayana; laksana sang grihastha, yaitu melakukan puja seperti pancayadnya, jalan yang dianut itu namanya pitrayana; orang yang telah meninggalkan keduniawian, yaitu yang telah dengan ikhlas meninggalkan anak, istri dan kekayaan, dewayadnya nama bahwa ada dua jalan yang dilalui oleh orang-orang yogi menuju ke tempat akhir; jalan yang pertama disebut "dewayana", nenyebabkan orang yang melaluinya setelah sampai di tempat tujuan tidak kembali lagi ke dunia yang fana, sedangkan jalan yang kedua disebut "pitrayana" ditempuh oleh jalan yang akan balik kembali; untuk jelasnya dipersilahkan memeriksa dan membaca sloka (dari Bhagawadgita VIII 4 dan 26), "tyaktaparigraha", harta kepunyaan , anak-anak dan istri jadi berarti; "yang ditinggalkan pergi harta kepunyaan serta anak-anak dan istrinya." "Kewalatinggal" dan "kewala" + "atinggal" "kewala" berarti pula semu, suluruh, segala, "atinggal"  = meninggalkan; kewalatinggal dapat dianggap keterangan lebih lanjut dari "tyaktsparigraha".

Ulasan
Bahwa sesungguhnya pitrayana dan dewayana sangat erat kaitannya karena sebelum sampai ke dewayana harus melalui pitrayana dulu. Dalam.hidup ini kita melewati kehidupan dari para leluhur terlebih dahulu baru kemudian orang tua kita dan baru sampai pada kita semua.
Pitrayana dan dewayana dilakukan dengan cara panca yadnya agar apa yang telah kita nikmati ini adalah anugrah dari beliau semuanya.

Kamis, 09 April 2015

Pemahaman Tuhan Tingkat Nirguna Brahman

Warih Sire Agra Manikan Aum, rahajeng sanje semeton Pemahaman Tuhan pada tingkat Nirguna Brahman. Pada tingkat pemahaman Nirguna Brahman, Tuhan disebut sebagai PARAMASIWA. 

Dalam kitab suci Weda, Tuhan pada tingkat ini mempunyai definisi sebagai berikut: 
  1. Apramaya, yaitu kemahakuasaan yang sulit dibayangkan melalui panca indra karena beliau sangat halus dan sempurna. 
  2. Ananta, yaitu kemahakuasaan dilukiskan tiada terbatas, beliau ada di mana-mana, dan beliau mampu merubah segala sesuatu yang diingini olehNya. 
  3. Aupamya, yaitu kemahakuasaan Hyang Widhi yang sangat sulit mencari bandingannya. Karena semua makhluk yang ada di alam semesta tidak ada menyamai kemahakuasaan-Nya. 
  4. Anamaya, yaitu yang Maha Suci. Beliau sangat mulia, tidak pernah menderita suatu penyakit. 
  5. Maha Suksme, yaitu Maha Gaib yang sangat halus. 
  6. Sarwagata, yaitu Maha ada, Maha Besar meliputi seluruh jagad raya. 
  7. Dhruwa, yaitu sangat tenang, tiada bergerak, stabil namun Ia berada di mana mana. 
  8. Awyayam, yaitu Maha sempurna, walaupun Ia mengisi seluruh alam raya semesta, kesempurnaan beliau tiada berkurang. 
  9. Iswara, yaitu Raja alam semesta. Ia mengatur alam raya semesta, dan tiada satupun kekuatan yang mampu mengatur beliau. 
  10. Swayambhu, yaitu Absolut dalam segala-galanya, tidak dilahirkan karena Beliau ada dengan sendirinya.

Oleh-oleh melali jumah Pekak Google. Suksma Kak. Warih Sire Agra Manikan Aum, pada tingkat Nirguna Brahman, Tuhan tidak mempunyai wujud lagi dan juga tidak mempunyai sebutan seperti: Leluhur, Bhatara/i, Dewa/i, Widyadara/i dll. 

Juga Tuhan tidak dapat disimbulkan/dipersonifikasikan dengan Bangunan Suci, Arca, Pretima, prelingga, busana2, Banten dan segala bentuk persembahan2. Tuhan yang biasa disimbulkan/diwujudkan/dipersonifikasikan adalah pemujaan Tuhan pada tahap pemahaman Tuhan pada tingkat SAGUNA BRAHMAN

Rahayu... 
sumber : http://sangkulputih.blogspot.com

Selasa, 14 Oktober 2014

Lontar Sundarigama Menggunakan Bahasa Kawi

LONTAR SUNDARIGAMA 

Lontar Sundarigama menggunakan bahasa Kawi, dan mengandung teks yang bersifat filosofis-religius karena mendeskripsikan norma-norma, gagasan, perilaku, dan tindakan keagamaan, serta jenis-jenis sesajen persembahan yang patut dibuat pada saat merayakan hari-hari suci umat Hindu Bali, mengajarkan kepada umatnya untuk berpegang kepada hari-hari suci berdasarkan wewaran, wuku, dan sasih dengan mempergunakan benda-benda suci/yang disucikan seperti api, air, kembang, bebantenan disertai kesucian pikiran terutama dalam mencapai tujuan yang bahagia lahir bathin (moksartam jagadhita) berdasarkan agama yang dianutnya. 



Teks Sundarigama merupakan penuntun dan pedoman tentang tata cara perayaan hari-hari suci Hindu yang meliputi aspek tattwa (filosofis), susila, dan upacara/upakara. Teks Sundarigama tidak hanya mendeskripsikan hari-hari suci menurut perhitungan bulan (purnama atau tilem) atau pun pawukon serta jenis-jenis upakara yang patut dibuat umat Hindu pada saat merayakan hari-hari suci tersebut, tetapi juga menjelaskan tujuan bahkan makna perayaan hari-hari suci tersebut. 

Secara umum dapat dikatakan bahwa tujuan dan makna perayaan hari-hari suci umat Hindu menurut Lontar Sundarigama adalah menjaga keseimbangan dan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan /Ida Sanghyang Widhi Wasa; Hubungan manusia dengan manusia; dan hubungan manusia dengan alam lingkungan. 

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa umat Hindu Bali melakukan upacara agama adalah dari dan untuk keselamatan alam semesta beserta seluruh isinya. 

LONTAR PENUGRAHAN DALEM 

Lontar Penugrahan Dalem ini menggunakan bahasa Bali, sehingga menandakan bahwa Lontar ini bukanlah lontar kuna. Penugrahan Dalem merupakan salah satu dari sekian banyak lontar yang mengungkapkan kehidupan dunia “mistik” masyarakat Bali, baik “kiwa” maupun “tengen”
Baca Gudha Artha adalah Mistik Hindu

Pada naskah ini banyak diajarkan mengenai sesuatu hal yang berkaitan dengan kekuatan dalam diri manusia (ilmu tenaga dalam) atau kesaktian. Mengingat isinya yang begitu “pingit”, maka di dalam mempelajari perlu pentahapan, dari tingkat yang paling sederhana sampai ke tingkat yang lebih tinggi agar tidak membingungkan, diperlukan persiapan batin yang matang dan mantap serta terolah secara meditatif. Itulah sebabnya, dalam Lontar Penugrahan Dalem ada kata “aywa wera”, “aywa cauh” yang tiada lain agar mempelajarinya haruslah berhati-hati dan harus dicamkan secara baik. Lontar ini mempunyai nilai kesakralan tinggi dan tidak sembarang orang bisa mempraktekkannya, sehingga perlulah kiranya orang yang ingin mempraktekkannya dibimbing oleh seorang guru pembimbing agar tidak terjadi kesalahan dalam mempraktekkannya. 

Senin, 21 April 2014

Wiwaha dan Wijaya

Semangat Hindu
Buku Wija Kasawur
Ada sebuah karya sastra kakawin berjudul Arjuna Wiwaha Karya Mpu Kanwa namun ada pula yang memakai judul Arjuna Wijaya Karya Mpu Tan Tular. Karya yang lain memakai judul Abhimanyu Wiwaha, Subhadra Wiwaha, disamping karya sastra kakawin berjudul Pretu Wijaya, Hari Wijaya, Kresna Wijaya, Ratna Wijaya, Rama Wijaya dan yang lain. Baca artikel  Perempuan dalam Dunia Kakawin.


Wiwaha dan Wijaya menjadi menarik perhatian kita. Wiwaha di dalam kamus biasa diterjemahkan dengan "perkawinan" atau "membawa pergi"; sedangkan Wijaya diterjemahkan dengan "kemenangan", "keberhasilan". Namun makna dalam kamus tentu tidak sama dengan makna simbolik. Baca artikel Sudahhkah Dharma Mengalahkan Adharma?

Ada sebuah jawaban yang diberikan oleh Sang Arjuna kepada Bhatara Indra yang menyamar sebagai pandita ketika menggodanya : .......hana pinaka kakangkwan Sri Dharmatmaja karengo, sira ta pinatapaken mahyun digjaya wijaya. "............. ada kakak hamba Sang Dharmawangsa, kepadanyalah hamba mengabdikan diri demi kejayaannya ". Dan ketika Mpu Kanwa menggambarkan perasaan Sang Arjuna setelah bertemu dengan saudara-saudaranya disuratkan dalam kakawin Arjuna Wiwaha sebagai berikut : ...........Saksat wah suka ramya rakwa kadi megha manuruni tasik, sangsiptan ri huwus nikang samaya digwijaya gati nira .".........bagaikan air bah kesenangan beliau atau bagaikan mendung menjatuhkan hujan di samudera; singkatnya mereka telah berikrar untuk mencapai kemenangan yang dilang gemilang."


Bahwa Jaya, Wijaya, Digjaya, itulah yang menjadi tujuan Sang Arjuna melakukan pertapaan. Dan semua itu dilukiskan dengan indah dalam sebuah karya sastra kakawin Arjuna Wiwaha. Arjuna dalam karya sastra yang digubah oleh Mpu Kanwa dari itihasa Mahabharata (pada bagian Wana-parwa) itu memang melukiskan perkawinan antara Arjuna dengan para bidadari setelah ia berhasil mengalahkan maharaja sakti namun sombong Niwatakawaca, para bidadari yang sebelumnya ternyata telah gagal menggodanya. Tetapi di balik itu Mpu Kanwa sesungguhnya ingin melukiskan perkawinan antara sang pertapa Arjuna dengan sakti yang diterimanya atas anugerah Hyang Siwa.

Setelah Sang Arjuna berhasil mengalahkan segala godaan yang ditimpakan kepada dirinya, Hyang Siwa, Dewata Penganugerah hadir dihadapannya. "Ananda ternyata telah berhasil menemukan segala kehendakmu; ada anugerah berupa Cadu Sakti (empat kekuatan) dalam bentuk senjata, panah Pasupati namanya sangat terkenal, lihatlah !". Arjuna mendapat anugerah berupa "senjata" Cadusakti, empat sakti. Dalam kitab-kitab Siwa-tattwa dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan Cadusakti tiada lain adalah Wibhusakti, Prabhusakti, Jnanasakati dan Kriya sakti.
Wibhusakti bermakna maha ada, menyusup pada semua yang ada (bagaikan api dalam kayu, minyak dalam santan), Prabhusakti bermakna maha kuasa, Jnanasakti bermakna maha mengetahui, dan Kriya sakti bermakna maha karya.

Itulah sakti yang diterima oleh ksatria pertapa Arjuna. dan Arjuna manunggal, bersatu atau kawin (samyoga, samgama wiwaha), dengan keempat sakti itu. Maka Arjuna pun kemudian disebut sebagai "manusia sakti". Baca artikel Seberapa Dekatkah Anda dengan Tuhan Anda ?

Ketika Daitya Niwatakawaca mendapat anugerah Hyang Siwa karena kuatnya tapa yang dilakukannya, anugerah berupa kekuatan utama yaitu tidak akan terbunuh oleh dewa, yaksa dan raksasa, Hyang Siwa berpesan kepadanya, "nghing yan manusa sakti yanta juga ko !" (tetapi jika ada manusia sakti, hati-hati engkau). Dan ternyata "manusia sakti" yang harus dihadapinya tiada lain adalah Sang Arjuna yang telah mendapat anugerah senjata Cadusakti. Maka Arjuna telah melakukan Wiwaha dengan mencapai Wijaya.

Sumber bacaan buku Wija Kasawur 2 Ki Nirdon. (RANBB)

Selasa, 17 September 2013

Suku Tengger dan Kepercayaan Hindu Mahayana

Suku Tengger dan Kepercayaan Hindu Mahayana

Pada awal tahun 100 Sebelum Masehi orang-orang Hindu Waisya yang beragama Brahma bertempat tinggal di pantai-pantai yang sekarang dinamakan dengan kota Pasuruan dan Probolinggo. Namun, setelah Islam mulai masuk ke tanah Jawa pada tahun 1426 Sebelum Masehi keberadaan mereka mulai terdesak.

Mereka pun kemudian mencari daerah yang sulit dijangkau oleh manusia (pendatang) yakni di daerah pegunungan tengger dan membentuk kelompok atau suku yang di kenal sebagai tiang tengger (orang tengger).

Masyarakat Tengger memiliki kepercayaan yaitu Hindu Mahayana. Pada abad ke-16, para pemuja Brahma yang tinggal di Pegunungan Tengger kedatangan pelarian dari orang Hindu Parsi (parsi berasal dari kata Persia) sehingga orang-orang Tengger yang semula beragama Brahma beralih ke agama Parsi, yaitu agama Hindu Parsi.

Perpindahan agama orang Tengger dari agama Brahma ke Hindu Parsi tersebut ternyata tidak serta merta menghilangkan seluruh kepercayaan awal mereka. Orang Tengger masih tetap melakukan ajaran Budha termasuk kebiasaan yang pada akhirnya dianut juga oleh penganut Hindu Parsi.

Masyarakat Tengger mempercayai Sang Hyang Agung, roh para leluhur, hukum karma, reinkarnasi, dan moksa. Kepercayaan masyarakat Tengger terhadap roh diwujudkan sebagai danyang (makhluk halus penunggu desa) yang di puja di sebuah punden.

Punden tersebut biasanya terletak di bawah pohon besar atau dibawah batu besar. Roh leluhur pendiri desa mendapatkan dibawah batu besar. Roh leluhur pendiri desa mendapatkan pemujaan yang lebih besar di sanggar pemujaan. Setahun sekali masyarakat suku tengger mengadakan upacara pemujaan roh leluhur di kawah Gunung Bromo yang disebut dengan upacara Kasada. Ajaran agama tersebut di satukan dalam sebuah kitab suci yang ditulis di atas daun lontar yang dikenal dengal nama Primbon.

Sesaji dan mantra amat kental pengaruhnya dalam masyarakat suku Tengger. Masyarakat Tengger percaya bahwa mantra-mantra yang mereka pergunakan adalah mantra-mantra putih bukan mantra hitam yang sifatnya merugikan.

Dalam melaksanakan peribadatan, masyarakat Tengger melakukan ibadah di punden, danyang dan poten. Poten adalah tempat pemujaan bagi masyarakat Tengger yang beragama Hindu. Keberadaan poten ada pada sebidang lahan di lautan pasir sebagai tempat berlangsungnya upacara Kasada. Poten terdiri dari beberapa bangunan yang ditata dalam suatu susunan komposisi di pekarangan yang dibagi menjadi tiga Mandala/zona yakni Mandala utama (Jeroan), Mandala Madya (jaba tengah) dan mandala Nista (Jaba sisi).

sumber : http://www.wartabromo.com/2013/07/27/suku-tengger-dan-kepercayaan-hindu-mahayana/


-->

CHANNEL YOUTUBE SAYA - MOHON DI SUBSCRIBE

Cari Artikel di Blog ini

Berita Terkait Semangat Hindu

Artikel Agama Hindu

108 Mutiara Veda 3 kerangka agama hindu advaita visistadviata dvaita Agama Hindu Dharma agama islam Ajaran Hindu aksara suci om alien menurut hindu Apa yang dimaksud Cuntaka Apa yang dimaksud dengan Japa Apa yang dimaksud dengan Puja arcanam nyasa aris widodo artikel hindu arya dharma Arya Wedakarna Asta Brata Atharvaveda Atman avatara sloka babad Badan Penyiaran Hindu bagian catur weda bahasa jawa kuno bahasa kawi bahasa sanskerta Banggalah Menjadi Hindu banten hindu bali Belajar Hindu BELAJAR ISTILAH AGAMA HINDU bhagavad gita Bhagawadgita bhagawan bhuta yadnya Bimas Hindu BPH Banten brahma wisnu siwa Brahman Atman Aikyam brahmana ksatriya wesia sudra budaya bali budha kliwon sinta Bukan Heroisme buku hindu terpopuler Canakhya Nitisastra cara sembahyang hindu catur asrama Catur Brata Catur Cuntakantaka Catur Purusha Artha Catur Purusharta catur veda Catur Warna Catur Weda Cendekiawan Hindu Cinta Kasih Dalam Perspektif Hindu Dana Punia Deva adalah sinar suci Brahman Deva Brahma Deva Indera dewa dewi hindu dewa yadnya dewata nawa sanga dewi kata-kata dewi saraswati dharma artha kama moksa Dharma Santi dharma wacana Doa Anak Hindu donasi buku hindu epos mahabharata ramayana filosofi pohon bambu filsafat agama hindu ganesha Gayatri Sebagai Mantra Yoga Hari Raya Galungan Hari Raya Kuningan Hari Raya Nyepi Hari Raya Pagerwesi Hari Raya Saraswati Hari Raya Siwaratri HINDU adalah ARYA DHARMA HINDU ADALAH SANATHANA DHARMA HINDU ADALAH VAIDHIKA DHARMA Hindu Agama Terbesar di Dunia Hindu Banten Hindu beribadah di Pura Hindu Festival Hindu Indonesia hindu nusantara Hindu Tengger Hinduism Facts Hinduism the Greatest Religion in the Word Hukum Karma Ida Pedanda sakti isi catur weda Jadilah Manusia Setia Japa dan Mantram Jiwa jual buku hindu kakawin Kamasutra Keagungan Aksara Suci OM Kekawin Lubdhaka kepemimpinan jawa kuna Kerajaan Hindu Keruntuhan Agama Hindu kesadaran diri kidung dewa yadnya Kitab Suci Weda lontar Lontar Kala Maya Tattwa Maharsi Atri Maharsi Bharadvaja Maharsi Gritsamada Maharsi Kanva Maharsi Vamadeva Maharsi Vasistha Maharsi Visvamitra manawa dharma sastra Mantra Mantra Yoga manusa yadnya Meditasi Matahari Terbit Mengapa Kita Beragama menghafal sloka Mimbar Agama Hindu Moksha Motivasi Hindu Mpu Jayaprema nakbalibelog Naskah Dialog Nuur Tirtha Om or Aum one single family opini hindu moderat Panca Sradha panca yadnya Panca Yajna pandita Panglong 14 Tilem Kepitu parahyangan agung jagatkartta paras paros segilik seguluk Pasraman Pasupati Pembagian Kitab Suci Veda Pemuda Hindu Indonesia pendidikan hindu pengertian catur weda Pengertian Cuntaka penyuluh agama hindu Peradah percikan dharma Percikan Dharma Dewa Yajna phdi pinandita Pitra Yadnya Ngaben Pitrapuja potong gigi Principle Beliefs of Hinduism Proud To Be Hindu Puja dan Prathana Pujawali purana purnama tilem Purwaning Tilem Kapitu Radio online Bali rare angon nak bali belog Reinkarnasi Rgveda ritual hindu Roh Rsi yadnya sabuh mas sad darsana sad guru Samaveda sanatana dharma sang hyang pramesti guru Sang Kala Amangkurat Sang Kala Dungulan Sang Kala Galungan Sang Kala Tiga sapta rsi Sapta Timira Sarassamuscaya Sarassamuscaya Sloka sattvam rajah tamah sejarah agama hindu Sekta Hindu Semangat Hindu seni budaya hindu Sex and Hinduism siwa budha waesnawa siwa ratri Sloka sloka bhagawad gita sloka bhatara sloka Rgveda sloka yayurveda Slokantara Sloka Spiritual Bersifat Misterius spiritualitas hindu spma ribek sradha dan bhakti sri rama krishna paramahansa Sri Sathya Sai Baba Sri Svami Sivananda sumpah dalam perkara tabuh gesuri tabuh kreasi baru tabuh telu lelambatan tantri kamandaka tat twam asi tattwa susila upakara Tempat Suci Hindu tiga hubungan harmonis tri hita karana Tri kaya parisudha tri kerangka agama hindu tri mala tri pramana Triji Ratna Permata tujuan perkawinan tujuh penerima wahyu tumimbal lahir upacara hindu upacara menek deha Upanisad upaweda Utsawa Dharma Gita vaidhika dharma Vasudhaiva Kutumbakam VEDA ADALAH ILMU PENGETAHUAN SUCI vedangga Vijaya Dashami Wasudewa Kutumbhakam widhi tatwa wija kasawur wiwaha agama hindu Yajna dan Sraddha yajna dan sradha Yayurveda Yoga Kundalini