OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM

PRAKATA

Selamat Datang

Semangat Hindu merupakan blog bersama umat Hindu untuk berbagi berita Hindu dan cerita singkat. Informasi kegiatan umat Hindu ini akan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan.
Semangat Hindu semangat kita bersama.

Bersama Semangat Hindu kita berbagi berita dan cerita, info kegiatan, bakti sosial dan kepedulian, serta kegiatan keagamaan seperti ; pujawali, Kasadha, Kaharingan, Nyepi, Upacara Tiwah, Ngaben, Vijaya Dhasami dan lain sebagainya.

Marilah Berbagi Berita, Cerita, Informasi, Artikel Singkat. Bagi yang mempunyai Web/Blog, dengan tautan URL maka dapat meningkatkan SEO Web/ blog Anda.

Terima Kasih
Admin

RANBB

---#### Mohon Klik Share untuk mendukung blog ini ####---

Tampilkan postingan dengan label bhagavad gita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bhagavad gita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Juni 2023

Sri Krishna bersabda Pranavah Sarva-Vadesu

 Percikan Dharma

Keagungan Aksara Suci OM


Om Swastyastu

Umat se-dharma, dalam agama Hindu mengenal aksara suci OM, dalam Srimad Bhagawad-gita 7.8, Sri Krishna bersabda, "Pranavah sarva-vadesu". Artinya Aku adalah Pranavah atau aksara suci OM dalam seluruh Weda." OM kata suci dan agung, dipakai dalam banyak hubungan.



Kata OM dianggap mempunyai kekuatan gaib dan sakti. Kata ini banyak dipakai dalam kitab Aranyaka  dan Upanisad. Kata ini pada mulanya dipakai di dalam kitab Yayur Weda dan diartikan sebagai Brahman yang Utama. Jadi OM tiada lain adalah Tuhan Yang Maha Esa sendiri dalam bentuk huruf suci.


Keagungan aksara suci OM terdapat berbagai macam sakti atau kekuatan. Sakti atau kekuatan mana akan muncul sangat ditentukan oleh hasrat batin orang yang mengucapkannya. Semakin bersih dan suci batin seseorang yang mengucapkannya, semakin bersih dan suci pula sakti atau kekuatan yang akan muncul dalam diri sang bhakta.


Aksara suci OM mengantarkan orang pada pintu gerbang kerohanian batin dan akhirnya mendapatkan kebahagiaan. Dengan kekuatan suci inilah para bhakta Tuhan yang tunduk hati menyapu kotoran-kotoran batinnya, mem-prayascita dirinya dari dosa-dosa, kemarahan, nafsu dan lainnya. 



Artikel Terkait Vasudhaiva Kutumbakam :

Dalam kitab Mandukya Upanisad dikataksn bahwa aksara suci OM bersifat kekal abadi. Om adalah Brahman, seluruh alam semesta ini, dirasakan dan dibayangkan adalah OM. Aksara suci OM adalah satu-satunya Aksara yang dipergunakan dalam setiap awal sebuah mantra. Oleh karena itu aksara suci OM adalah perwujudan Tuhan Yang Maha Esa, jika OM diucapkan mengawali doa mantra dengan batin yang suci dan sraddha yang mantap, maka OM akan menyempurnakan mantra tersebut dan memberikan hasil yang sempurna.


OM berasal dari aksara A, U dan M. A menunjukkan Brahma sebagai pencipta, U menunjukkan Wisnu sebagai pemelihara, dan M menunjukkan Siwa sebagai pemralina. Demikian keagungan aksara suci OM yang mampu membuat hati setiap manusia menjadi lebih tenang dan mendapatkanl kebahagiaan yang sejati.

Om Santih Santih Santih Om


Aris Widodo

Penyuluh Agama Hindu

Kota Serang

Senin, 02 Januari 2023

HARI RAYA GALUNGAN SEBAGAI MOMENTUM PENINGKATAN KUALITAS DIRI

HARI RAYA GALUNGAN SEBAGAI MOMENTUM PENINGKATAN KUALITAS DIRI

hari raya galungan


Hari ini mayoritas Umat Hindu di Indonesia merayakan Hari Raya Galungan. Hari yang secara tradisional dimaknai sebagai hari kemenangan. Kemenangan dharma atas adharma, atau kebajikan melawan kebathilan. Sebagai sebuah peringatan atas kemenangan,maka sangat wajar akhirnya hari Galungan diberikan predikat sebagai hari raya, yang mengandung makna perayaan terhadap kemenangan. Yang menjadi pertanyaan adalah, kemenangan melawan apa, dan siapakah yang harus dikalahkan?

 


Berkaitan dengan Hari Raya Galungan, banyak tafsir baik secara mitologi maupun historis. Tafsir mitologi yang sering kita dengarkan adalah tentang Maya Denawa, dan tafsir secara historisnya yaitu kemenangan antara Pandava melawan Kaurava. Tafsir historis yang lainnya adalah perayaan kemenangan Sri Rama yang berhasil membawa kembali Sita Dewi dari cengkeraman Rahwana di Alengka Pura. Kemudian di antara tafsir- tafsir tersebut manakah yang benar?

Sebuah pertanyaan yang wajar, yang biasa ditanyakan oleh orang pencari kebenaran dengan membabi buta,  yang menganggap Agama adalah hitam dan putih, semua harus didasarkan atas fakta empiris.

 

Bagi saya, agama merupakan jalan hidup. Begitu kita memiliki prinsip itu, maka hal pertama kita sadari adalah harus mengetahui tujuan hidup. Tujuan hidup akan berhasil kita raih dan temukan apabila kita mengenal dan mengikuti "rambu- rambu jalan hidup". Itulah agama, yang memberikan rambu-rambu kehidupan melalui sloka-sloka/ ayat sucinya. Yang jelas kesemuanya harus diterjemahkan, baik secara tekstual maupun konstekstual. Tidak harus membabi buta.

 

Kembali mengenai Hari Raya Galungan, Sastra Suci kita,khususnya Kek. Ramayana memberi pesan tersurat dan tersirat: "Ragadi musuh maparo, ri hati yo tonggwania tan mafoh ring hawak..." yang artinya: musuh yang sebenarnya adalah terletak di dalam diri, tidak jauh dari diri kita. Selain itu sastra yang lain, yaitu Nitisastra menyebutkan: "Nora na satru manglwihane heleng ri hati", yang secara pemaknaan tidak jauh berbeda dengan tafsir Kek. Ramayana di atas. Pesan tersurat dan tersirat dari Sastra Suci tersebut, ditegaskan lagi oleh Pancamo Veda kita yaitu Bhagavad Gita XVI.21:

Trividham narakaye'dam
dvaram nasanam atmanah
kamah krodhas tatha lobhas
tasmad etat trayam tyajet

Artinya:

Ini pintu gerbang menuju neraka, jalan menuju kehancuran diri ada 3, yaitu kama (keinginan jasmaniah), krodha (kemarahan) dan lobha (ketamakan),  oleh karenanya ketiga-tiganya harus ditinggalkan.

 

Berkaitan dengan Hari Raya Galungan, secara tradisional diberikan pemaknaan simbolis pada saat 'penampahan'  sehari sebelum Galungan, yaitu dimaksudkan agar kita dapat membunuh sifat kebinatangan (nafsu/ keinginan yang liar, dan keangkara murkaan) sehingga kita benar- benar bisa memahami hakikat kebenaran dengan merayakan Galungan, dan sehari setelah Hari Raya Galungan kita dapat merasakan bagaimana 'Manisnya Galungan'.

 

Sebagai manusia,kita diberikan manah atau pikiran yang merupakan kelebihan dari makhluk lain, sehingga semestinya kita dapat menjadikan pikiran sebagai alat pengontrol dan pengendali panca indera kita, bukan sebaliknya. Semua yang ada dan yang akan ada bisa menjadi baik,indah dan harmoni berawal dari pikiran, demikian pula sebaliknya akan hancur dan disharmoni juga disebabkan oleh pikiran kita, sehingga semestinya kita mampu mengendalikan pikiran kita agar tidak dikuasai oleh amarah, karena amarahlah yang akan membawa kehancuran. Seperti pesan yang disiratkan oleh Bhagavad Gita II. 63:  

'Krodhah bhavati samohah
samohah smrtivi bramah
smrtibramah budhinaso
budhinasat pranasyati"

Artinya:

Dari kemarahan muncullah kebingungan, dari kebingungan menjadikan hilang ingatan, dan dari hilang ingatan menghancurkan segalanya.

 

Itulah pesan sesungguhnya dari perayaan Hari Raya Galungan, yakni menjadikan manusia menjadi Manava Madhava, yaitu makhluk yang dapat berpikir bijak dan bajik, bijaksana dan penuh kebajikan sesuai dengan karakter dan sifat Brahman/ 'Daivi Sampad', bukan manusia yang berkecenderungan memiliki sifat angkara murka Para Asura (Manava Danava) atau 'Asuri Sampad'. Dengan kesadaran tersebut, mari bersama- sama turut mewujudkan Umat Hindu yang sejahtera, dengan semangat Satyam (jujur), Sivam (bijak dan bajik) dan Sundaram (indah)

 

"Selamat Merayakan Hari Kemenangan Galungan, Suro diro Jayaningrat lebur dening pangastuti, Satyam Eva Jayate Namrtam..."

Naskah Oleh Bapak Surono

Selasa, 19 Februari 2019

Konsepsi Hukum Menurut Weda



Percikan Dharma
Kewaspadaan
Umat se-dharma, dalam kehidupan selalu butuh kewaspadaan agar selalu selamat dari orang-orang yang tidak menyukainya. Untuk itu sebagai manusia berusaha waspada agar kehidupannya mampu membuat terlepas dari keresahan dalam hidupnya.

Kewaspadaan menuntun seseorang mencapai keberhasilan. Dengan waspada  tumbuh kesadaran tentang sesuatu, bermanfaat atau tidak. Kesadaran ini melindungi kehidupan umat manusia. Kewaspadaan mengasah perhatian dal pencegahan tindakan yang membayakan. Bila seseorang senantiasa waspada, maka ia akan memperoleh keselamatan.

Kewaspadaan melindungi manusia

Bodhasca tva pratibodhasca raksatam.

Atharva Veda VIII. 1. 13

Artinya
Kewaspadaan dan pengetahuan melindungi anda.

Ulasan
Bahwa kewaspadaan dalam hidup yang serba global ini sangat membutuhkan sesuatu yang akan membuat nyaman dan tentram, sehingga nantinya mereka akan merasakan manfaat kewaspadaan yang telah mereka lakukan. Oleh karena itu dengan kewaspadaan yang sangat tinggi akan membuat hidup mereka lebih percaya diri dalam kehidupannya.

Perciksn Dharma
Konsepsi Hukum Menurut Weda
Umat se-dharma, dalam ilmu hukum dibedakan antara Statuta Law dan Common Law atau Natural Law. Statuta Law adalah hukum yang dibentuk dengan  sengaja oleh penguasa, sedangjan Common Law atau Natural Law adalah hukum alam yang ada secara alamiah.

Unsur-unsur yang terpenting dalam peraturan-peraturan hukum memuat dua hal yaitu:
1. Unsur yang sifatnya mengatur atau normatif.
2. Unsur yang sifatnya memaksa atau represif.
Rta dan Dharma dalam Weda mempunyai pengertian yang sama tentang unsur-unsur hukum. Baik Rta dan Dharma, kedua-duanya berarti hukum dalam hukum Hindu. Rta adalah hukum alam yang bersifat abadi, sedangkan Dharnma adalah hukum duniawi, baik yang ditetapkan maupun tidak.

Istilah lain tentang hukum dalam hukum Hindu adalah Widhi, Drsta, Acara, Wyawahara, Nitisastra, Rajaniti, Arthasastra yang penggunaannya relatif menurut tujuannya. Yang terpenting dari istilah-istilah itu adalah Dharma sebagai istilah yang umum dalam ilmu hukum Hindu, karena kata Dharma mengandung 2 (dua) pengertian yaitu:
1. Dharma sebagai norma.
2. Dharma sebagai pengertian keharusan yang kalau tidak dilakukan atau dilaksanakan dapat diancam dengan suatu sanksi hukum.

Percikan Dharma
Ikuti Jalan Kebajikan

Umat se-dharma, dalam kehidupan ini adakalanya kita sering lupa akan jalan yang seharuanya kita jalani. Oleh karenanya ikuti jalan kebajikan agar hidup ini menjadi lebih baik lagi dari pada kehidupan dahulu.

Seseorang hendaknya selalu mengikuti jalan yang benar, jalan kabajikan, sebab siapa saja yang berjalan di jalan yang benar (dharma) akan memperoleh kemakmuran, jasa dan kabajikan. Dekatkanlah diri kita kepada Hyang Widhi untuk senantiasa mendapatkan bimbngan-Nya.

Orang yang memiliki keyakinan menjalankan kebenaran, maka kebajikannya itu akan melenyapkan kesusaham dan dengan kebajikan dapat menolong diri sendiri. Dengan menjalankan dharma tentu kita akan mudah dalam mengarungi kehidupan dalam masyarakat yang majemuk ini.

Selalu mengikuri jalan kebajikan

Svasti pantham anu carema
surya-candramasav iva.
punar dadataghnata
janata sam gamemahi.

Rg Veda V. 51. 15

Artinya
Mari kita terus berjalan pada jalan yang benar seperti jalannya matahari dan bulan. Kita seharusnya bergaul dengan orang-orang yang bermurah hati yang puas (dengan diri sendiri) dan yang berpengetahuan tinggi.

Ulasan
Bahwa dalam kehidupan di dunia ini apabila ingin hidup bahagia dan sejahtera maka kita harus selalu berjalan sesuai dengan ajaran-ajaran yang terdapat dalam kitab suci Veda. Oleh karena itu dengan cara menjalankan setiap ajaran yang terdapat dalam kita suci Veda pasti akan mudah mendapatkan kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia maupun di alam lain setelah kehidupan di dunia berakhir.

Dengan menjalankan kebenaran dalam hidup ini serta bergaul dengan orang-orang yang berpengetahuan tinggi maka akan membawa dampak yang baik buat mereka yang sama-sama menjalankan kebenaran.

Sumber : WA Grup PHDI Banten : Aris Widodo

Rabu, 24 Agustus 2016

Swara Hindu Dharma

Swara Hindu Dharma. 
Menjaga Sradha Menebar Dharma. 

http://www.swarahindudharma.com/

Adharmam dharmam iti ya manyate tamasavrta
Sarvarthan vipaitams ca buddhih sa partha tamasi


“Pengertian yang menganggap hal hal yang bertentangan dengan dharma sebagai dharma dan dharma sebagai hal-hal yang bertentangan dengan dharma, dibawah pesona khayalan dan kegelapan, dan selalu berusaha kearah yang salah berada dalam sifat kebodohan, wahai putera Prtha.” (Bhagawad Gita 18.32)
 Kecerdasan dalam sifat kebodohan selalu bekerja dengan cara yang berlawanan dengan cara yang sebenarnya. Kecerdasan tersebut mengakui dharma dharma yang sebenarnya bukan dharma dan menolak dharma yang sejati. Orang yang kurang cerdas menganggap roh yang mulia adalah manusia biasa  dan mengakui orang biasa  sebagai roh yang mulia. Mereka menganggap kebenaran tidak benar  dan mengakui hal-hal yang tidak benar sebagai kebenaran. Dalam segala kegiatan mereka hanya mengambil jalan yang salah; karena itu kecerdasan mereka berada dalam sifat kegelapan.
Sering kali dalam keseharian hidup kita menemukan orang orang dalam ciri ciri yang disebutkan dalam sloka diatas dan seringkali pula kita menempatkan seseorang dalam kedudukan yang tidak tepat. Kita memandang rendah bila orang itu tidak berpakaian seperti kita, kita memandang rendah karena orang yang kita temui lebih miskin dari kita. Jadi sloka diatas mengajak kita untuk keluar dari situasi seperti ini.
Bagaimana cara kita merespon kenyataan yang luhur ini? Dengan memulai dari diri kita sendiri untuk mempraktekkan hal hal yang sesuai dengan pandangan sastra…sastra caksuh. Dengan  demikian kita bisa selalu berada dalam kedudukan kita yang sebenarnya.
om tat sat.
ref: I Gede Suwardana, S.Ag
Penyuluh Agama Hindu Kemenag DIY.

Minggu, 26 Juli 2015

9 Aktivitas Tergolong Dalam Sifat Nafsu

Aktivitas Apa saja yang tergolong dalam Sifat Nafsu ?
  • Makan makanan yang terlalu pahit, terlalu asam, terlalu asin, terlalu panas, manis-manisan berlebihan, pedas, kering dan hangus. Makanan seperti ini menyebabkan penyakit.
  • Melakukan kurban suci (yajnya/yadnya) untuk mendapatkan keuntungan material, atau demi kebanggaan diri/ ego palsu.
  • Melakukan pertapaan karena rasa bangga dan demi penghormatan, penerimaan derma, dan sanjungan
  • Berderma dengan harapan suatu imbalan / pahala, atau dengan keinginan mendapatkan pahala, atau berderma dengan terpaksa.
  • Memelihara pemahaman yang membuat seseorang melihat setiap badan berbeda derajat, dengan jiwa yang berbeda derajat pula.

  • Melakukan tindakan-tindakan yang memerlukan usaha keras demi kepuasan nafsu, dan terjerat di dalamnya.
  • Melakukan kewajiban karena ikatan untuk bekerja dan terpikat oleh hasil pekerjaan itu, menginginkan untuk dapat menikmati hasilnya, sehingga menjadi rakus, selalu iri hati, curang dan digerakkan oleh suka dan duka.
  • Bertekad keras untuk menginginkan pahala dalam melaksanakan ritual-ritual keagamaan untuk kemajuan ekonomi dan kepuasan inderawi.
  • Menikmati kesenangan yang diperoleh dari hasil kontak dengan indera-indera bersama obyek-obyeknya, yang seolah nikmat pada awalnya padahal racun kemudian.
Dikutip dari Buku Sri Krsna Ayat-Ayat Suci Bhagawad-Gita oleh Sri Srimad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada. (RANBB)

Kamis, 25 September 2014

Veda, Bhagavad Gita, Upanisad, Purana dan Itihasa

Agama Hindu memiliki tujuan utama adalah Moksha yaitu bersatu dengan Tuhan, sedangkan misinya adalah Moksartam jagadhita ya ca iti dharma. Keyakinan pokok dari Agama Hindu ada 5 (Panca) Sraddha yang terdiri dari :
  1. Percaya kepada Brahman (Tuhan)
  2. Percaya adanya Atma
  3. Percaya adanya Hukum Karma
  4. Percaya dengan kelahiran kembali (Punarbawa atau Reinkarnasi)
  5. Percaya adanya Moksa
  6. Kitab suci Agama Hindu adalah Veda, Bhagavad Gita, Upanisad, Purana dan Itihasa. Kitan suci Veda terdiri atas :
    1. Kitab Sruti (Wahyu) dalam bahasa Jawa Kuno disebut Sang Hyang Sruti. Diajarkan  melalui mantra yang dinyanyikan.
    2. Catur Veda merupakan Samhita (himpunan) yang terdiri dari : Rgveda (nyanyian pujaan) terdiri 1.028 nyanyian atau hymne, Yajurveda (melaksanakan upakara), Samaveda (berkaitan dengan pengetahuan mengucapkan mantra "sama artinya melodi" terdiri dari 1.549 sloka) dan Atharvaveda (berisi pengetahuan, terdiri dari 731 hymne dengan 6.000 ayat). Sesungguhnya Veda dikelompokkan dalam 2 jenis yaitu Rgveda dan Atharvaveda, karena Yajurveda dan Samaveda sumbernya Rgveda.
    3. Veda Smrti (Manawa Dharmasastra = Manu Dharmasastra) adalah ajaran Bhagavad Manu, pembuat hukum pertama (kedudukan Smrti sebagai sumber Hukum)
    4. Bhagavad Gita adalah saripati Veda-veda, penyajian terakhir dari upanisad-upanisad terdiri dari 18 bab dan sekitar 700 sloka.





    Dalam mantra dikatakan bahwa :
    • Rg Veda lahir, kemudian menjadi nafas (prana) dari Tuhan
    • Yajur Veda adalah Hati Tuhan
    • Sama Veda adalah rambut Tuhan
    • Atharva Veda adalah wajah Tuhan

    Keempat Veda tidak dapat dipisahkan dari manusia demikian pula juga dari Tuhan. Rgveda adalah paling penting seperti nafas, hati tidak dapat berfungsi tanpa prana, dan tanpa hati nurani manusia tidak bisa memahami ajaran secara murni. Rambut membuat indah, tanpa wajah seseorang tidak dapat dikatakan manusia.

    Mantra-mantra dalam Veda menasehati manusia agar selalu ingat pada tujuan Hidup, karena suatu saat manusia akan menjadi abu, dan tidak ada seorangpun yang mampu mencegahnya (Bhasmantam Sariram)

    Veda harus mutlak dipercaya, orang yang tidak percaya kepada Veda adalah Nastika (nastiko veda nindakah). Veda bersifat Anandi-Ananta (tidak berawal dan tidak berakhir). Dikatakan tidak berawal karena Sabda-Nya telah ada sebelum alam diciptakan oleh-Nya. Veda tidak berakhir karena berlaku sepanjang jaman.  Anantavai Veda yang artinya bahwa Veda bersifat abadi. Mengingat Veda tidak berawal dan tidak berakhir maka disebut Anandi-Ananta.
    Veda Aparuseyam (yang berarti bukan dari Purusa atau manusia), artinya Veda tidak disusun oleh manusia biasa, melainkan diterima oleh para Maharsi (orang suci). Maharsi menerima wahyu hanya sebagai instrument. Veda bukanlah Vedanta. Veda sebagai ajaran yang kekal tentang Tuhan, sedangkan Vedanta sebagai pembahasan konsep Veda, yaitu konsep Brahma (Tuhan) yang diperkenalkan oleh Rsi Badarayana.

    Dalam Nirukta karangan Yaskacarya dijelaskan, bahwa "rsayo mantra drasta rah" yang berarti para Rsi mendapat mantra-mantra dari Tuhan secara langsung. Merekalah yang pertama-tama mendapatkan pengetahuan Veda. Kemudian keempat Rsi mengajarkan kepada Rsi Brahma dan diteruskan kepada muridnya dan berlanjut sampai zaman sekarang. Karena itu disebut Sruti, mengingat ajaran tersebut dengan melalui ingatan para muridnya. Sumber Sinopsis Agama Hindu oleh Nyoman Sedana-PHDI Banten. (RANBB)

Senin, 14 Oktober 2013

Cara Pengucapan Mantra Dalam Bahasa Sanskerta

Apakah pengucapan doa mutlak menggunakan bahasa Sanskerta ?. 
Kata Mutiara Kitab Suci atharwa weda
Atharvaveda


Tentunya hal ini tidak mutlak sebab doa adalah cetusan hati atau bahasa ibu (hati) yang mudah kita pahami, tetapi bila kita berdoa dengan bahasa Sanskerta (bahasa Bapa) maka kita harus memahami arti atau maksudnya.
Kedua bahasa doa tersebut berfungsi sebagai pelindung bagi yang mengucapkannya, seperti yang disebutkan dalam Nirukta sebagai berikut :

Seorang yang mengucapkan Mantra Veda dan tidak memahami makna yang terkandung dalam mantram itu, tidak pernah memperoleh penerangan seperti halnya sebatang kayu bakar, walaupun disiram dengan minyak tanah, tidak akan terbakar bila tidak disulut dengan api. Demikian orang yang sekedar mengucapkan (membaca) mantram Veda tidak mendapatkan cahaya pengetahuan yang sejati.

Nirukta I.18


Orang yang tak memiliki kesadaran rohani murni dan bijaksana maka ia tak akan tahu makna Veda yang sesungguhnya, karena Veda adalah Tuhan itu sendiri seperti yang ditegaskan dalam Bhagavad Gita Sloka 9.17.

"Akulah ayah alam semesta ini, ibu, penyangga dan kakek, Akulah obyek pengetahuan, yang ,menyucikan dan aksara Om, Aku juga Rg, Sama dan Yayur Veda "

Pitaham asya jagato mata dhata pitamahah,
vedyam pavitram aumkara rk sama yajur eva ca.

Bhagavad Gita Sloka 9.17.


Sumber buku bacaan Kebangkitan Hindu oleh Sargede. (RANBB)




Jumat, 06 September 2013

Tuhan Menurut Bhagawadgita

Bhagawadgita adalah bagian kecil dari epos besar Mahabharata yang ditulis oleh Bhagawan Viasa. Bhagawadgita merupakan wejangan Sri Kresna kepada Arjuna yang merasa takut dan sedih berperang dengan keluarganya sendiri termasuk guru dan kakeknya. Sri Kresna yang merupakan Awatara atau penjelmaan Tuhan memberikan penjelasan agar Arjuna tidak perlu ragu melaksanakan tugasnya. Sri Kresna banyak menjelaskan tentang Atman dan Brahman.

Apakah Tuhan atau Brahman itu ?
Menurut Vaswami (Bhagawadgita, 2007:175-176), Arjuna antara lain bertanya, apakah sebenarnya Brahman itu. Pertanyaan ini dijawab oleh Sri Kresna sebagai berikut :

Aksaram brahma praramam svabhava ' dhyamam ucyate bhuta-bhavodbhava-karo visargah karma-samjnitah' (Bhagawadgita III.3)

Artinya :
Brahman adalah Yang Maha Agung dan Suci, yang tidak dapat dihancurkan, yang abadi. Sang Diri Sejati yang ada dalam tubuh manusia disebut Adhyatman atau Atman. Kekuatan yang menciptakan semua mahluk dan benda disebut Karma.

Tuhan adalah Pencipta Semua Mahluk
Disamping tidak dilahirkan dan tidak dapat dibinasakan, Tuhan itu adalah pencipta alam semesta dan semua mahluk seperti dinyatakan dalam Bhagawadgita berikut ini :

Ajo 'pi sann avyayatma bhutanam isvaro'pi san prakrtim svam adhisthaya sambhavamy atma-mayaya. (Bhagawadgita IV.6)

Artinya :
Meskipun Tuhan tidak pernah dilahirkan dan tidak bisa dibinasakan, Tuhan adalah pencipta semua mahluk.

Tuhan adalah Asal dari Semuanya.
Semua yang ada dijagat raya ini berasal dari Tuhan. Manusia juga adalah ciptaan Tuhan. Demikian dinayatakan dalam Sloka Bhagawadgita berikut ini :

Aham sarwasya prabhawo mattah sarwam prawartate iti matwa bhayante man bhuda bhawasamamwitah. (Bhagawadgita X.8)

Artinya :
Tuhan adalah asal dari semuanya, dari Tuhan mahluk muncul. Mengetahui ini orang bijaksana menyembah Tuhan dengan rasa penyatuan diri.

Tuhan adalah Asal dan Pemusnah Alam Semesta
Semua benda dan mahluk dalam alam semesta ini adalah ciptaan Tuhan. Pemusnahnyapun adalah Tuhan. Demikian Bhagawadgita berikut ini menyatakan :

Etad-yonini bhutani sarvanity upadharaya aham krtsnasya jagatah prabavah pralayas tatha. (Bhagawadgita VII.6)

Artinya :
Tuhan adalah asal mula dari semua mahluk. Tuhan adalah asal mula seluruh alam semesta dan juga pemusnahnya.

Tuhan adalah Cahaya, Kekuatan dan Rasa Segar
Tuhan adalah cahaya pada bulan dan matahari, juga rasa segar dalam air. Tuhan adalah kata Om dalam semua Weda. Tuhan adalah juga suara dalam ether dan benih kekuatan dalam diri manusia. Hal ini sesuai dengan Bhagawadgita berikut ini :

Raso 'ham apsu kaunteya prabhasmi sasi-suryayoh pranavah sarva-vedesu sabdah khe paurusam nrsu.  (Bhagawadgita VII.8)

Artinya :
Tuhan adalah rasa segar dalam air, cahaya pada bulan dan matahari. Tuhan adalah Om dalam semua Weda. Tuhan adalah juga suara dalam ether dan benih kekuatan dalam diri manusia.

Tuhan adalah Bapak, Ibu, Kakek dan Pelindung Manusia.
Tuhan adalah Bapak dunia, juga Ibu dan Kakeknya. Tuhan adalah juga pelindung umat manusia. Tuhan adalah tunggal. Tuhan adalah juga Om dalam Weda-Weda, Reg Weda, Sama dan Yayur Weda. Perhatikanlah Sloka Bhagawadgita dibawah ini :

Pitaham asya jagato mata dhata pitamahah vedyam pavitram aumkara rk sama yajur eva ca. (Bhagawadgita IX.17)

Artinya :
Tuhan adalah Bapak, Ibu, Kakek dan Pelindung umat manusia. Tuhan yang suci dan tunggal itu harus diketahui oleh manusia. Tuhan adalah juga Om, dalam Weda, Reg Weda, Sama Weda dan Yayur Weda.

Tuhan tidak Menuntut Apa-apa, hanya dedikasi :
Tuhan tidak pernah menuntut apa-apa dari Yadnya Tuhan kepada manusia. Tuhan hanya menginginkan pengabdian atau dedikasi dan cinta kasih umat manusia. Dedikasi dan cinta kasih itu cukup ditunjukkan dengan sehelai daun, sekuntum bunga dan air, asal dipersembahkan dengan kasih sayang akan diterima oleh Tuhan. Simaklah Sloka Bhagawadgita berikut :

Patram puspam phalam toyam yo me bhaktya prayacchati tad aham bhakty-upahrtam asnami prayatatmanah. (Bhagawadgita IX.26)

Artinya :
Barang siapa mempersembahkan kepada Tuhan dengan penuh dedikasi sehelai daun, sekuntum bunga ataupun air, maka persembahan yang suci murni dan penuh kasih sayang itu akan diterima oleh Nya.

Tuhan Bersemayam pada Semua Mahluk sebagai Atman.
Tuhan adalah Atman yang berada pada semua mahluk ciptaan-Nya. Tuhan adalah juga asal usul semuanya, yang membantu umat manusia, menentukan hidup dan akhir dari kehidupannya. Hal ini ternyata dari Sloka Bhagawadgita berikut :

Aham atma gudakesa sarva-bhutasya-sthitah aham adis ca madhyam ca bhutanam anta eva ca. (Bhagawadgita X.20)

Artinya :
Tuhan adalah Atman yang bersemayam di hati semua mahluk. Tuhan adalah permulaan, ditengah-tengah dan akhir dari setiap yang ada.

Tuhan adalah Benih dari Segalanya.
Tidak ada sesuatupun yang dapat hidup tanpa Tuhan. Tuhan adalah benih dari semua benda yang ada di alam semesta ini. Hal ini dinyatakan dalam Sloka Bhagawadgita dibawah ini :

Yac capi sarva-bhutanam bijam tad aham na tad asti vina yat syan maya bhutam caracaram. (Bhagawadgita X.30)

Artinya :
Tuhan adalah benih dari segala benda. Tidak ada satupun baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak dapat hidup tanpa Tuhan.

Tuhan Turun ke Dunia Menjadi Awatara
Jika pelaksanaan Dharma merosot dan hal-hal yang bertentangan dengan Dharma merajalela, pada waktu itu Tuhan akan turun ke dunia untuk menyelamatkan umat manusia. Berikut adalah pernyataan Kitab Bhagawadgita :

Yada yada hi dharmasya glanir bhavati bharata abhyutthanam adharmasya tadatmanam srijamy aham. (Bhagawadgita IV.7)
Paritranaya sadhunam vinasaya ca dushkritam dharma samsthapanarthaya sambhavami yuge-yuge. (Bhagawadgita IV.8)

Artinya :
Kapanpun dan dimanapun pelaksanaan Dharma merosot dan hal-hal yang bertentangan dengan Dharma merajalela, pada waktu itulah Tuhan sendiri menjelma ke dunia.

Yang Memuja Tuhan akan dilindungi
Tuhan itu Maha Pemurah. Karena itu siapapun yang memuja Tuhan dan selalu merenungkan Nya akan diberikan apa yang mereka perlukan. Di samping itu Tuhan juga akan melindunginya. Demikian Kitab Bhagawadgita menyatakan :

Ananyas cintayanto mam ye janah paryuoasate tesam nitya abhiyuktanam yogaksema vahamy aham. (Bhagawadgita IX.22)

Artinya :
Mereka yang memuja Tuhan, selalu merenungkan Nya akan diberikan apa yang mereka perlukan dan Tuhan akan melindungi apa yang mereka miliki.

Rabu, 07 Agustus 2013

Dimana Letak Keampuhan Agama Hindu ?

Umat Hindu Dharma. 

Kami kira bahwa sumber kekuatannya terletak pada kebenaran yang abadi dan jiwa yang tangguh pada naskah asli Veda, dan kehidupan Hindu yang damai, penuh nilai-nilai moral yang tinggi serta ajaran spiritualnya sangat bijaksana dan universal.


Jika Veda diamalkan dengan sungguh-sungguh dengan tafsiran yang benar akan mempunyai pengaruh yang besar terhadap umat Hindu dan lebih banyak lagi dapat dilakukan untuk kemanusiaan serta spiritual. Hindu tak perlu membanding-bandingkan agama lain (yang lebih muda) dengan silau, karena semua ajaran agama di dunia ini telah dipersiapkan oleh Veda itu sendiri jika dicermati dengan bijaksana dan kebenaran tinggi.

Yang perlu kita cari ialah menggali sebanyak-banyaknya pengetahuan-pengetahuan Veda yang asli dalam tafsiran dengan kebenaran mutlak. Satu-satunya dapat melenyapkan kebodohan adalah pengetahuan, kebijaksanaan dan spiritual.

Sri Krsna mengatakan dalam Bhagavadgita :
"Bila engkau mengembangkan pengetahuan spiritual, segala ketidaktahuanmu akan lenyap, maka kesusahan, kesulitan dan kesedihan akan lenyap pula ".

buku Kebangkitan Hindu oleh Sargede. (RANBB)

CHANNEL YOUTUBE SAYA - MOHON DI SUBSCRIBE

Cari Artikel di Blog ini

Berita Terkait Semangat Hindu

Artikel Agama Hindu

108 Mutiara Veda 3 kerangka agama hindu advaita visistadviata dvaita Agama Hindu Dharma agama islam Ajaran Hindu aksara suci om alien menurut hindu Apa yang dimaksud Cuntaka Apa yang dimaksud dengan Japa Apa yang dimaksud dengan Puja arcanam nyasa aris widodo artikel hindu arya dharma Arya Wedakarna Asta Brata Atharvaveda Atman avatara sloka babad Badan Penyiaran Hindu bagian catur weda bahasa jawa kuno bahasa kawi bahasa sanskerta Banggalah Menjadi Hindu banten hindu bali Belajar Hindu BELAJAR ISTILAH AGAMA HINDU bhagavad gita Bhagawadgita bhagawan bhuta yadnya Bimas Hindu BPH Banten brahma wisnu siwa Brahman Atman Aikyam brahmana ksatriya wesia sudra budaya bali budha kliwon sinta Bukan Heroisme buku hindu terpopuler Canakhya Nitisastra cara sembahyang hindu catur asrama Catur Brata Catur Cuntakantaka Catur Purusha Artha Catur Purusharta catur veda Catur Warna Catur Weda Cendekiawan Hindu Cinta Kasih Dalam Perspektif Hindu Dana Punia Deva adalah sinar suci Brahman Deva Brahma Deva Indera dewa dewi hindu dewa yadnya dewata nawa sanga dewi kata-kata dewi saraswati dharma artha kama moksa Dharma Santi dharma wacana Doa Anak Hindu donasi buku hindu epos mahabharata ramayana filosofi pohon bambu filsafat agama hindu ganesha Gayatri Sebagai Mantra Yoga Hari Raya Galungan Hari Raya Kuningan Hari Raya Nyepi Hari Raya Pagerwesi Hari Raya Saraswati Hari Raya Siwaratri HINDU adalah ARYA DHARMA HINDU ADALAH SANATHANA DHARMA HINDU ADALAH VAIDHIKA DHARMA Hindu Agama Terbesar di Dunia Hindu Banten Hindu beribadah di Pura Hindu Festival Hindu Indonesia hindu nusantara Hindu Tengger Hinduism Facts Hinduism the Greatest Religion in the Word Hukum Karma Ida Pedanda sakti isi catur weda Jadilah Manusia Setia Japa dan Mantram Jiwa jual buku hindu kakawin Kamasutra Keagungan Aksara Suci OM Kekawin Lubdhaka kepemimpinan jawa kuna Kerajaan Hindu Keruntuhan Agama Hindu kesadaran diri kidung dewa yadnya Kitab Suci Weda lontar Lontar Kala Maya Tattwa Maharsi Atri Maharsi Bharadvaja Maharsi Gritsamada Maharsi Kanva Maharsi Vamadeva Maharsi Vasistha Maharsi Visvamitra manawa dharma sastra Mantra Mantra Yoga manusa yadnya Meditasi Matahari Terbit Mengapa Kita Beragama menghafal sloka Mimbar Agama Hindu Moksha Motivasi Hindu Mpu Jayaprema nakbalibelog Naskah Dialog Nuur Tirtha Om or Aum one single family opini hindu moderat Panca Sradha panca yadnya Panca Yajna pandita Panglong 14 Tilem Kepitu parahyangan agung jagatkartta paras paros segilik seguluk Pasraman Pasupati Pembagian Kitab Suci Veda Pemuda Hindu Indonesia pendidikan hindu pengertian catur weda Pengertian Cuntaka penyuluh agama hindu Peradah percikan dharma Percikan Dharma Dewa Yajna phdi pinandita Pitra Yadnya Ngaben Pitrapuja potong gigi Principle Beliefs of Hinduism Proud To Be Hindu Puja dan Prathana Pujawali purana purnama tilem Purwaning Tilem Kapitu Radio online Bali rare angon nak bali belog Reinkarnasi Rgveda ritual hindu Roh Rsi yadnya sabuh mas sad darsana sad guru Samaveda sanatana dharma sang hyang pramesti guru Sang Kala Amangkurat Sang Kala Dungulan Sang Kala Galungan Sang Kala Tiga sapta rsi Sapta Timira Sarassamuscaya Sarassamuscaya Sloka sattvam rajah tamah sejarah agama hindu Sekta Hindu Semangat Hindu seni budaya hindu Sex and Hinduism siwa budha waesnawa siwa ratri Sloka sloka bhagawad gita sloka bhatara sloka Rgveda sloka yayurveda Slokantara Sloka Spiritual Bersifat Misterius spiritualitas hindu spma ribek sradha dan bhakti sri rama krishna paramahansa Sri Sathya Sai Baba Sri Svami Sivananda sumpah dalam perkara tabuh gesuri tabuh kreasi baru tabuh telu lelambatan tantri kamandaka tat twam asi tattwa susila upakara Tempat Suci Hindu tiga hubungan harmonis tri hita karana Tri kaya parisudha tri kerangka agama hindu tri mala tri pramana Triji Ratna Permata tujuan perkawinan tujuh penerima wahyu tumimbal lahir upacara hindu upacara menek deha Upanisad upaweda Utsawa Dharma Gita vaidhika dharma Vasudhaiva Kutumbakam VEDA ADALAH ILMU PENGETAHUAN SUCI vedangga Vijaya Dashami Wasudewa Kutumbhakam widhi tatwa wija kasawur wiwaha agama hindu Yajna dan Sraddha yajna dan sradha Yayurveda Yoga Kundalini