OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM

PRAKATA

Selamat Datang

Semangat Hindu merupakan blog bersama umat Hindu untuk berbagi berita Hindu dan cerita singkat. Informasi kegiatan umat Hindu ini akan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan.
Semangat Hindu semangat kita bersama.

Bersama Semangat Hindu kita berbagi berita dan cerita, info kegiatan, bakti sosial dan kepedulian, serta kegiatan keagamaan seperti ; pujawali, Kasadha, Kaharingan, Nyepi, Upacara Tiwah, Ngaben, Vijaya Dhasami dan lain sebagainya.

Marilah Berbagi Berita, Cerita, Informasi, Artikel Singkat. Bagi yang mempunyai Web/Blog, dengan tautan URL maka dapat meningkatkan SEO Web/ blog Anda.

Terima Kasih
Admin

RANBB

---#### Mohon Klik Share untuk mendukung blog ini ####---

Tampilkan postingan dengan label Hindu Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hindu Indonesia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 November 2013

Candi Kurung dan Candi Bentar Pura Agung Wana Kerta Jagatnata Sulteng

Peresmian Dua Candi Dihadiri Ribuan Umat Hindu
Wakil Gubernur Sulawesi Tengah H Sudarto SH MHum, mewakili Gubernur Longki Djanggola saat peresmian Candi Kurung dan Candi Bentar Pura Agung Wana Kerta Jagatnata, Sabtu (16/11), mengatakan sebagai sebuah tempat suci Pura Agung Wana Kerta Jagatnata ini diharapkan dapat difungfsikan semakin baik ke depan.

Dengan rampungnya proses renovasi dan pembangunan untuk kembali memperindah dan memperkokoh Pura Agung Wana Kerta Jagatnata ini, setelahnya diharapkan akan mampu memberi dampak pada kualitas keimanan umat Hindu di Sulawesi Tengah. Selaku pemerintah daerah, apresiasi itu pun diberikan khusunya kepada parisada hindu dalam hal ini PHDI Sulteng secara khusus.
“Agar menjadi orang-orang yang berguna bagi bangsa dan negara khususnya berguna bagi masyarakat untuk membangun kebersamaan, kerukunan dan kedamaian agar lebih kokoh dalam mengahdapi segala perubahan di tengah kehidupan umat beragama,” tandas Wagub, dalam sambutan tertulis Gubernur yang dibacakannya.


Wagub yang ikut pula didampingi oleh Asisten I Setdaprov Sulteng H Baharuddin HT tersebut, mengatakan umat Hindu merupakan rahmat bagi daerah Sulawesi Tengah yang peranannya dapat terus ditingkatkan di dalam membangun umat beragama yang rukun dan damai di daerah ini.


“Saya mengajak  untuk meningkatkan keimanan didalam kehidupan berbangsa dan bernegara dan bermasyarakat. Mari kita jadikan upacara piodalan sebagai sarana untuk mempertebal keimanan dari pengaruh-pengaruh negatif akibat perubahan yang semakin modern bagi generasi kita,” harapnya.


Menandai peresmian tersebut, Wagub didampingi jajaran PHDI Sulteng, melakukan pemukulan gong menandai difungsikannya Candi Kurung dan Candi Bentar di Pura Agung Wana Kerta Jagatnata tersebut.


Kesempatan tersebut, dihadiri oleh ribuan umat Hindu yang antusias menyaksikan berlangsungnya parisada night yang usai itu, dilanjutkan dengan pertunjukan hiburan termasuk penampilan dari penyanyi lokal Sulteng dan penyanyi asal Bali.


sumber : http://www. radarsulteng. co. id

Senin, 19 Agustus 2013

Pura Agung Sari Agung (PASA) desa Buranga

semangat hindu
Atharva Weda 9.147

Umat Hindu Sulawesi Tengah.

Pura Agung Sari Agung Desa Buranga terletak di Kecamatan Ampibabo Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah. Pura Agung Sari Agung Desa Buranga disungsung oleh lembaga tertinggi umat Hindu yaitu PHDI yang dibentuk atau dipilih dalam jangka 5 tahun sekali.

Pujawali Pura Agung Sari Agung jatuh pada Purnamaning Sasih Kedasa. Pura Agung Sari Agung Desa Buranga terdiri atas Tri Mandala dengan pelinggih utama adalah Padmasana terdapat pula Bale Gong, Bale Pewaregan, Candi Kurung, Candi Apit Surang, Papan nama pura dan penyengker pura.

Pura Agung Sari Agung yang terletak di Desa Buranga Kecamatan Ampibabo ini, merupakan satu-satunya simbol yang menunjukan keberadaan umat Hindu di wilayah ini. Jalan Trans Sulawesi yang menjadi jalur akses utama dari dan menuju pura ini, menjadikan keberadaannya sangat strategis

Kegiatan keagamaan umat Hindu di propinsi Sulawesi Tengah ini dipusatkan di Pura Agung Sari Agung, seperti Perayaan Hari Raya Nyepi, Hari Raya Galungan dan Kuningan, rerahinan Purnama - Tilem, perayaan Saraswati, Pagerwesi, Kajeng Kliwon, Tumpek dan lain sebagainya. Pura ini merupakan saksi utama dinamika umat Hindu, baik yang berhubungan dengan rasa spiritualitas maupun dinamika sosial kemasyarakatan, intern maupun ekstern.

Dari berbagai sumber. (RANBB)

Minggu, 18 Agustus 2013

Mengenal Pecalang Polisi Adat Bali

Hindu Ciledug
Pecalang Ciledug
Pecalang dalam masyarakat umum dikatakan sebagai penjaga keamanan tradisional Bali, karena memang berasal dari Bali, walaupun saat ini sudah ada di setiap banjar suka-duka di seluruh Indonesia. Pecalang memang sudah ada sejak jaman dahulu, tradisi Pecalang memang sudah mengakar di tradisi Bali. Nyama Braya Pecalang Bali selalu hadir ditengah kegiatan umat Hindu.  Pecalang bukan preman Bali, preman yang berpakaian adat yang menakutkan, justru Pecalang adalah pengaman kegiatan keagamaan, yang dewasa ini hingga lintas agama. Semoga Pecalang menjadi salah satu icon bentuk bertoleransi beragama di Indonesia.

Demikian halnya dengan Pecalang Ciledug Banten. Pada bulan Maret 2011 untuk mendukung kegiatan hari raya Nyepi tahun baru saka 1933 Kerama Suka Duka Hindu Dharma Banjar ciledug membentuk Pecalang, sebagai alat kelengkapan banjar. Tugas utama Pecalang ini adalah untuk memberikan rasa aman kepada umat yang sedang melaksanakan upacara.


Pecalang adalah perangkat keamanan yang dengan menggunakan saput poleng sebagai kesatuan untuk menjaga kesucian, kesakralan dan dapat memberi rasa nyaman kepada masyarakat. Pecalang adalah satuan petugas keamanan tradisional di Bali yang bertugas untuk membantu dan mengamankan berbagai acara ritual umat Hindhu di Bali.

Pecalang berasal dari kata ”calang” dan menurut theologinya diambil dari kata ”celang” yang dapat diartikan waspada. Dari sini dapat artikan secara bebas, ”Pecalang” adalah seseorang yang ditugaskan untuk mengawasi keamanan desa adatnya. Pecalang itu adalah Polisi Tradisional Bali. PECALANG sering juga disebut polisi traditional Bali. Tugasnya adalah mengamankan suatu kegiatan yg berkaitan dengan adat, seperti: upacara keagamaan, prosesi ngaben, prosesi pernikahan, dll yg berkaitan dengan upacara adat di Bali.

Pecalang juga disebut sebagai pengaman desa adat, karena berada dalam komando Banjar Adat, banjar yang mengempon pura Tri Kahyangan Jagat, segala tugas yang berhubungan dengan keamanan desa adat, Pecalang lah tugasnya. Keberadaan Pecalang di Indonesia telah dimiliki oleh setiap banjar suka-duka, karena memang pengempon sebuah pura umum atau Kahyangan Jagat di Indonesia membutuhkan pengamanan yang bersifat interen.

Lihat foto Pecalang Adat Ciledug.

Jumat, 09 Agustus 2013

Pura Agung Sriwijaya Seduduk Putih Palembang

Umat Hindu Palembang.
Pura Agung Sriwijaya terletak di jalan Seduduk  Putih Gg Iskandar Muda 19 RT 021, 18 ILir, Ilir Timur I, Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel). Atau lokasi tepatnya di belakang kompleks koveleri Kenten Palembang. Piodalan Pura Agung Sriwijaya jatuh pada Purnama Kedasa.
Kegiatan umat Hindu di Palembang pada hari besar keagamaan seperti hari raya Galungan dan Kuningan, hari raya Saraswati, Pagerwesi, Brata Penyepian, persembahyangan Purnama - Tilem dipusatkan di Pura Agung Sriwijaya.

Pura Agung Sriwijaya  merupakan pusat kegiatan umat Hindu di Palembang dan sekitarnya seperti untuk kegiatan pasraman atau sekolah mingguan, latihan tari, koordinasi organisasi Hindu seperti Banjar, Parisada dan KMHDI.

Sejak Ngenteg Linggih 01 April 2007 pura yang sebelumnya bernama Pura Penataran Agung Sriwijaya sudah berganti nama menjadi Pura Agung Sriwijaya. Pura Agung Sriwijaya  diresmikan tanggal 9 Juni 1982 oleh Pangdam Sriwijaya waktu itu Brigjen Try Sutrisno (mantan Wapres).
Pura Agung Sriwijaya yang pembangunannya diprakarsai Irjen Polisi (Purn) Drs. Putera Astaman -- ketika itu menjabat Kapolda Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) -- Pura Agung Sriwijaya merupakan yang terbesar di Sumsel.

Di Sumatera Selatan sendiri terdapat empat kelompok umat Hindu, yakni Hindu Bali (mayoritas), Hindu Jawa, Hindu Karingan (Palembang), dan Hindu India.

Alamat Pura Agung Sriwijaya
Address: Jl Seduduk Putih Gg Iskandar Muda 19 RT 021, 18 ILir, Ilir Timur I
City: Palembang Pos Code: 30121

Dari berbagai sumber. (RANBB)

Rabu, 07 Agustus 2013

Gusti Wedakarna Resmikan ''The Hindu Center of Blambangan''

Gusti Wedakarna Resmikan ''The Hindu Center of Blambangan'' di Pura Giri Purwa Wasesa, Banyuwangi.
Segera, Diluncurkan Buku “Database” Hindu Blambangan

CITA–CITA leluhur Hindu Nusantara dan harapan dari jutaan umat Hindu Indonesia, akan disusunnya Ensiklopedi Hindu Nusantara tahun 2020 tampaknya segera menjadi kenyataan. Hal ini tengah diwujudkan oleh Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III (President The Hindu Center Of Indonesia), dengan diresmikannya ''The Hindu Center Of Blambangan'' di Banyuwangi, Jatim.

Peresmian sebuah lembaga berbasis Hindu di tanah Jawa ini pun menuai pujian dari banyak pihak, utamanya keberanian dari warga Hindu Banyuwangi untuk menunjukkan eksistensi. Hal tersebut terekam dalam peresmian ''The Hindu Center of Blambangan'' yang dilaksanakan di wantilan Pura Giri Purwa Wasesa, Banyuwangi.

''The Hindu Center Of Blambangan” ini adalah 'The Hindu Center' yang paling strategis dari pendataan sejarah Hindu di Nusantara. Karena Blambangan menjadi saksi peralihan dari kejayaan Hindu (Blambangan ) ke era Islam (Banyuwangi) pada akhir Sandyakalaning Majapahit. Di sini lah jadi saksi dari terbujuknya Prabu Brawijaya V sebagai Raja Majapahit terakhir untuk pindah agama. Namun, saat itulah ketegasan akan kebangkitan Hindu Indonesia mulai dimunculkan dengan dialog Sabdo Palon Nayogenggong yang memastikan bahwa 500 tahun sejak saat itu, maka Hindu Nusantara, Majapahit akan bangkit kembali. Dan, yang paling siap mengawal kebangkitan Hindu Nusantara adalah umat Hindu Blambangan. Kebangkitan yang dimaksud adalah kebangkitan indetitas, ajaran leluhur dan kualitas Hindu Dharma. Untuk itulah, gunanya ada The Hindu Center untuk mengawal secara akademis perubahan–perubahan zaman ini,'' ujar Dr. Arya Wedakarna didampingi Hendra Wedayanto, S.Pdh.

Ia juga menyakinkan saat ini banyak pihak ingin membelokkan sejarah agama Hindu di Tanah Jawa, termasuk pembelokan sejarah tentang Majapahit, tentang Alas Purwo dan sejarah Blambangan itu sendiri. ''Saat ini, tugas dari 1,1 Miliar Hindu Dunia untuk mengawasi pelurusan sejarah Hindu di seluruh dunia, termasuk di Nusantara. Saya perhatikan banyak sejarah Hindu ditulis secara tidak fair. Oleh karena itu, para sarjana dan magister Hindu harus sesegera mungkin membangun database yang jujur, apa adanya dan terbuka demi ilmu pengetahuan. Saya kira, banyak sejarah bangsa Indonesia ini yang telah dibelokkan oleh mereka yang anti Pancasila, dan tentu harus kita lawan dengan kecerdasan,'' tegas Rektor Unmar ini.

''Saat ini, Tim dari Fakultas FISIP Unmar bekerja sama dengan Vivekananda Spirit Indonesia (VSI) telah merampungkan penelitian tentang Hindu Blambangan. Sebelum akhir tahun akan kita luncurkan buku database Hindu ini. Ini akan membuka hati dan mata bahwa ternyata ada puluhan ribu umat Hindu suku asli Jawa yang masih setia dengan budaya, agama dan tradisinya. Dunia harus tahu, bahwa Hindu tidak hanya sekadar di Pulau Bali, tapi ada Hindu Nusantara,'' pungkas President World Hindu Youth Organization (WHYO).

sumber : http://www.balipost.co.id

Senin, 05 Agustus 2013

Pura Siwa Stana Giri Siwa Lima Ambon

Umat Hindu Ambon.

Pura Siwa Stana Giri  terletak di jalan Taman Makmur, Komplek Museum Siwa Lima – Ambon. Pura ini terletak di Bukit dipinggiran kota Ambon, maluku. Tepatnya disebelah Musium Siwalima. Karena Pura ini letaknya didaerah perbukitan, maka dari sini akan terlihat panorama teluk Ambon yang pemandangannya sangat indah.Biasanya Pura ramai dikunjungi saat hari-hari besar keagamaan dan juga setiap hari minggu pagi sebagai ajang temu warga se kota Ambon.

Kegiatan umat Hindu di kota Ambon dan sekitarnya terpusat di Pura Siwa Stana Giri ini, seperti mahasaba, pelantikan Paradah Indonesia Maluku, Pelantikan Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Maluku, kegiatan Dharma Shanti. Kegiatan keagamaan baik itu rerahian maupun hari saya besar tetap diselenggarakan dengan semangat dan antusias umat Hindu Ambon dan sekitarnya. Hari Raya Galungan dan Kuningan, Hari Raya Nyepi, Rerahinan Purnama-Tilem, Rerahinan Tumpek, Saraswati, Pagerwesi dan lain sebagainya tetap dijalankan Umat Hindu di propinsi Ambon ini.

Pura Siwa Stana Giri dipercayakan sebagai pengempon puranya dari Banjar Suka Duka Krmana Shanti Kota Ambon.

Pura Hindu yang ada di Maluku diantaranya :

Pura Yuda Mandala Denkav Maluku Jl. Lapangan Merdeka (Di dalam Detasemen Kaveleri) KODAM IX Pattimura Ambon, Maluku
Pura Mandala Giri tempat beribadah umat Hindu terletak di Masohi, Maluku Tengah
Pura Siwa jagat karana  Kalumpa puncak (Jalan raya kayu merah) Ternate, Maluku utara

Dari berbagai sumber (RANBB)

Jumat, 02 Agustus 2013

Pujawali Pura Mandara Giri Semeru Agung Lumajang Jatim

Umat Hindu Lumajang.

Pujawali Pura Mandara Giri Semeru Agung yang jatuh pada Purnamaning Sasih Kasa telah dilaksanakan oleh umat Hindu dengan perpaduan budaya Bali dan Jawa Timur.

Ritual Pujawali umat Hindu di Pura Mandara Giri Semeru Agung di Lumajang, memadukan dua budaya dan tradisi Jawa-Bali yang membuat upacara itu tambah unik namun tetap sakral. Lebih dari 230 umat Hindu melakukan perjalanan suci untuk ritual Pujawali itu. Menurut sebagian umat Hindu di Indonesia, Sang Hyang Pasupati yang beristana di pura itu, telah berjasa mengajegkan atau menegakkan dan mengokohkan Pulau Dewata, dengan memberikan sebagian puncak Semeru sebagai penyeimbang di Bali.  Puncak gunung itu kini dipercaya merupakan Gunung Agung yang berada di Kabupaten Karangasem, Bali.

Pura Mandhara Giri Semeru Agung, Lumajang, Jawa Timur salah satu dari sejumlah Pura Khayangan Jagat Bali yang memiliki hubungan spiritual dengan Pura Besakih di Karangasem, Bali. Setiap nangkil ke Pura Mandara Giri Semeru Agung umat Hindu yang datang dari Bali dipastikan akan nangkil ngaturang bakthi di Pura Agung Blambangan di Banyuwangi.

Serangkaian dengan pelaksanaan karya di Pura Mandara Giri Semeru Agung, Lumajang Jawa Timur, Pemprov Bali Gubernur Bali , Pemkab Gianyar, Pemkab Tabanan, Pemkab Karangasem,  melaksanakan bhakti penganyaran.
Upacara diawali dengan menggelar upacara ngaturang prayascita, natab paryascita dan natab pabyakaonan, yang dilanjutkan dengan ngaturan banten nganyarin. Bhakti penganyaran dipuput oleh Ida Pedanda Gede Dwija Putra dari Gria Peling Baturiti Tabanan

Dari berbagai sumber. (RANBB)

Minggu, 28 Juli 2013

Pura Wuar Masbaat Tanimbar Kei Maluku Tenggara

Umat Hindu Maluku.
Pura Wuar Masbaat yang berlokasi di desa Tanimbar Kei, kecamatan Kei Kecil Barat, Kabupaten Maluku Tenggara, Propinsi Maluku. Desa Tanimabar Kei  yang letaknya cukup jauh dan terpencil dari ibu kota Kecamatan maupun kota Kabupaten Maluku Tenggara dengan penduduknya yang masih memeluk agama Hindu senantiasa  mempertahankan sejarah dan adat istiadat di desa Tanimbar Kei.

Atas asungkerta waranugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa ( Tuhan Yang Maha Esa ) pada tanggal 27 Agustus 2007 telah dilaksanakan peletakan batu pertama untuk pembangunan Pura WUAR MASBAAT di desa Tanimbar Kei oleh Pembimbas Hindu Dharma Propinsi Maluku.
Pura Wuar Masbaat merupakan pusat peribadatan kepada Ida Sang  Widhi Wasa. Pura Wuar Masbaat juga sebagai tempat pembinaan dan peningkatan Sradah dan bhakti kepada Sang Widhi Wasa terutama bagi anak-anak dan Remaja Generasi Penerus. Pura Wuar Masbaat juga merupakan sumber Inspirasi penggerak persatuan dan kesatuan serta Kemaslahatan yang kondisi masyarakat desa Tanimbar Kei pada umumnya Tani dan nelayan.

ARTI DARI NAMA WUAR MASBAAT            
Wuar Masbaat adalah nama sebuah Gunung Ajaib yang terletak di pusat desa Tanimbar Kei  yang biasa di lihat pada waktu tertentu “ BAGI UMAT YANG DIANGGAP SUCI DAN BERSIH “ dan tidak bisa dilihat oleh sembarang orang. Wuar adalah gunung, Masbaat adalah nama, jadi Wuar Masbaat adalah “Gunung  Masbaat “

Rasa percaya diri dan kekutan spritual mulai bangkit di dalam diri umat Hindu di desa ini. Kalimat-kalimat yang menyindir dan menyudutkan umat Hindu di desa ini tidak terdengar dan tidak terlihat lagi. Proses ritual tradisi berjalan dengan sangat hikmat karena di topang dengan kehadiran pura Wuar Masbaat sebagai semangat spritual keagamaan.

(RANBB)

Rabu, 24 Juli 2013

Pura Mandara Giri Semeru Agung Jawa Timur

Umat Hindu Jawa Timur. 

Pura Mandara Giri Semeru Agung adalah pura yang sangat diagungkan oleh masyarakat pulau jawa. Terletak di desa Senduro 17 km dari kota Lumajang Jawa Timur dan 39 km dari desa Ranupani lereng gunung semeru. Disamping pura ini sangat besar serta menjadi pusat keagaaman umat hindu bahkan orang bali berbondong-ondong ketempat tersebut. Pura ini dibangun pada tahun 1991, latar belakang pemilihan lokasi Pura Mnadara Giri Semeru Agung di kaki Gunung Semeru berkaitan dengan mite pemindahan puncak Gunung Mahamèru dari India ke Jawa dengan maksud agar Pulau Jawa tidak jungkat-jungkit, sebagaimana dikisahkan dalam naskah Tantu Panggêlaran.

Dengan demikian Gunung Semeru dianggap suci oleh masyarakat Jawa sejak dahulu.
Gaya, struktur dan komponen-komponen arsitekturnya mengikuti gaya arsitektur pura-pura di Bali, yaitu arsitektur trdisional Bali yang masih mengikuti gaya arsitektur zaman kerajaan Majapahit. Gaya arsitektur ini dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu dengan dasar-dasar filsafat dalam ajaran agama Hindu. Landasan filosofis arsitektur terteliti dipaparkan dengan latar belakang alam pikiran keagamaan pemangkunya, yaitu agama Hindu, yang visualisasinya tergambarkan pada tata ruang (tata letak), bentuk bangunan dan bahan bangunan yang digunakannya.

Jika Umat Hindu ingin ke Pura Mandara Giri Agung Semeru dengan transportasi umum, maka ada dua versi perjalanan pertama jika dari Jakarta anda harus menuju malang transit di desa tumpang  dengan menaiki mobil jeep atau truk lalu menuju lereng gunung semeru yaitu desa ranupani yang berjarak 43 km dari tempat tersebut. Sesampainya di ranupani dilanjutkan ke Pura Mandara Giri Agung Semeru yang berjarak 39km dengan menyewa mobil melalui jalan yang berliku dan cukup rusak serta kanan kiri dikelilingi hutan.

Dari belahan Indonesia manapun hanya perlu ke Surabaya terlebih dahulu kecuali yang disekitar Jawa Timur, setelah itu dari terminal bus Surabaya silahkan mengambil jalur bus yang menuju Banyuwangi atau Jember. Perjalanan dengan bus dari Surabaya akan menempuh waktu kurang lebih 4 jam. Sampai di terminal Lumajang (Wonorejo) dilanjutkan naik angutan umum kearah Lumajang kota dan turun di Klojen. Dari situ banyak angkutan ke Senduro dengan mobil Elf. Naik saja turun di Pura Mandara Giri Agung Semeru. Perjalanan ke Senduro dari Klojen Lumajang ditempuh sekitar 1 jam.

sumber : http://www.majalahinspirasi.net

#### Mohon klik Share untuk mendukung blog ini ####

Jumat, 19 Juli 2013

Pura Tri Dharma Nata Luwu Timur Membangun Candi Gelung Kori

Umat Hindu Bangun Candi di Lutim

Umat Hindu Sulawesi. Umat Hindu di Desa Mantadulu Kecamatan Angkona menggelar upacara keagamaan dalam rangka peletakan batu pertama pembangunan Candi Gelung Kori yang berlokasi di pusat Pura Tri Dharma Nata.

Peletakan batu pertama ini dilakukan Bupati Luwu Timur, H Andi Hatta Marakarma didampingi Wakil Bupati, HM Thorig Husler, Anggota DPRD, Ketut Suantara, Kabag Kesra, Dohri As’ari, Kabag Humas, Amran Aminuddin dan Camat Angkona, Senfry Oktavianu.
Ketua Parisade Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kecamatan Angkona, I Made Sumerta mengatakan pembangunan Candi Gelung Kori ini diperkirakan akan menelan anggaran sebanyak Rp 600 juta rupiah, sementara pihaknya baru berhasil mengumpulkan dana sebanyak Rp 300 juta rupiah hasil swadaya umat. Namun pihaknya optimis pembangunan candi dapat selesai sesuai waktu yang direncanakan.

“Kami juga berharap pemerintah daerah dapat ikut membantu kelancaran pembangunan candi ini,” jelas Made Sumerta.

sumber : http://makassar.tribunnews.com

Pura Agung Giri Natha Berau

Umat Hindu Balikpapan. Pura Hindu di Kalimantan Timur, diantaranya; Pura Giri Jaya Natha Balikpapan, Pura Jagat Hita Karana Samarinda dan Pura Payogan Agung Kutai.

Pura Agung Giri Natha yang terletak di jalan Raya Bangun, Kecamatan Sambaliung Kabupaten Berau, merupakan pura yang lokasinya berada di atas bukit yang namanya Gunung Lempak, dengan 78 undag (anak tangga) yang harus ditapaki, itupun baru sampai di Madya Mandala.
Pemandangan dari Madya Mandala ke arah Kota Tanjung Redeb sangatlah indah. Pura Agung Giri Natha dibangun pada tahun 1997, diresmikan oleh Bupati setempat pada tanggal 11 Nopember 2000. Pemelaspasan pertama dipuput oleh Ida Pedanda Gede Ketut Subali Tianyar Arimbawa dari Griya Sidemen, sedangkan pemelaspasan kedua setelah adanya pemugaran dipuput oleh Ida Pedanda Manuaba dari Griya Dalung. Pura Agung Giri Natha memiliki pelinggih Padmasana, Penglurah, Gedung Penyimpenan, Bale pertemuan dan mejejahitan, serta Candi Bentar yang megah pada Nista Mandala.

Umat Hindu Berau sebagai pengempon pura dalam merealisasikan berdirinya Pura Agung Giri Natha tidak pernah mengenal lelah, cita-cita maha luhur diwujudkan dengan cara bergotong royong, hingga Pura Agung Giri Natha ini menjadi kebanggaan umat Hindu di Kalimantan Timur. (RANBB)

Kamis, 18 Juli 2013

Pura Giri Pati Mulawarman Pontianak

Umat Hindu Pontianak. 

Pura Giri Pati Mulawarman berada Jalan Adi Sucipto No. 12, Kabupaten Kubu Raya Pontianak Kalimantan Barat.  Pujawalinya bertepatan dengan Hari Raya Galungan, Budha Kliwon Dunggulan.

Keberadaan Umat Hindu di Kalimantan Barat sudah ada sejak dahulu namun jumlah umat Hindu di Kalimantan Barat ini tidak sebanyak umat Hindu di pulau Bali, namun umat Hindu disini berasal dari berbagai suku seperti Jawa dan penduduk asal seperti suku dayak dan lain-lain.
Pura sebagai pusat kegiatan keagamaan umat Hindu di Pontianak ini baik kegiatan persembahyangan Purnama - Tilem, rerahinan , maupun hari Raya besar seperti Hari Raya Nyepi, Hari Raya Galungan dan Kuningan, Siwaratri, Saraswati, Pagerwesi. Umat selalu antusias dalam setiap kegiatan ini, karena inilah waktu yang tepat untuk dapat berkumpul, mesima krama menyama braya di tanah rantau Kalimantan.

Demikian juga kegiatan suka-duka mebanjar tetap dilaksanakan di lingkungan Pura Giri Pati Mulawarman ini, kegiatan kepemudaannya tidaklah kalah penting dalam selalu menjaga Budaya dan Agama Hindu dimanapun berada, seperti dalam perayaan Nyepi dengan pembuatan Ogoh-ogoh.

Peranan Parisada dalam menjaga, membina, dan merangkul setiap umat Hindu agar senantiasa bersatu dalam Dharma, dan mampu memberi sumbangan kepada daerah setempat, melalui kegiatan-kegiatan keagamaan.

PURA DI PONTIANAK KALIMANTAN BARAT :

Pura Giripati Mulawarman - Alamat : Jl. Adisucipto No. 12 Ptk
Pura Giri Kertha Bhuana  - Alamat : Ds.Kalimas Sui Kakap
Pura Giri Araertha Jaya - Alamat: Ds. Rasau Jaya
Pura Prajapati - Alamat : Jl. Adisucipto Ptk
Kabupaten Bengkayang
Pura Giri Penyanggar Anantasana -  Alamat : Desa Cipta Karya
Pura Giri Purwa Dharma  - Alamat : Desa Kamuh, Sanggoledo
Kabupaten Sambas
Pura Giri Dharma Kerthi -  Alamat : Desa Spandak, Sambas
Pura Giri Mandara Jati - Alamat : Desa Keraban, Sambas
Kabupaten Ketapang
Pura Giri Amertha Bhuwana - Alamat : Desa Benawai Agung
Pura Dalem - Alamat : Desa Benawai Agung
Pura UlunSuwi  - Alamat : Desa Benawai Agung
Pura Dadia - Alamat : Desa Benawai Agung
Pura Giri Komala Kencana - Alamat : Desa Kendawangan
Kabupaten Sintang
Pura Giri Penataran Agung - Alamat : DesaTinom Baru
Pura GiriLuhur  - Alamat : Desa Londang
Pura Giri Yoga Sakti - Alamat :Desa Senibung
Kabupaten Sanggau
Pura Giri Dewata Mandala - Alamat : Ds Kuala Buayan, Meliau
Pura Giri Dewata Saraga - Alamat : Ds. Mpaung Meliau
(RANBB)

Rabu, 17 Juli 2013

Umat Hindu Luwu Timur Melaksanakan Pitra Yadnya Ngaben

Lutim Kembali Gelar Ngaben Massal
Krama Desa Cendana Hitam, Tomoni Timur, Kabupaten Luwu Timur kembali menggelar ngaben massal untuk yang ketiga kalinya, rabu (17/07/2013).

Pada kegiatan ngaben massal ini sebanyak 56 jenazah yang diaben. Hadir dalam acara ini Ketua Parisada Hindu Dharma Kabupaten Luwu Timur, Wayan Sudiarsa dan umat Hindu dari Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara serta warga Hindu se-Luwu Timur.
Upacara Pitra Yadnya atau Ngaben Massal III di desa Cendana Hitam ini merupakan peringatan upacara penyucian atma (roh) yang pertama, sebagai kewajiban umat Hindu kepada leluhurnya dengan melakukan upacara pembakaran jenazah. Makna upacara ini adalah mengantar kerabat yang meninggal agar bisa berjalan lancar dalam kehidupan di alam lain setelah hidup di dunia ini.

Sementara itu dalam sambutannya Wakil Bupati Luwu Timur HM Thorig Husler menyampaikan apreisasi yang sebesar-besarnya untuk terselenggaranya acara ini. Meski dalam suasana duka perayaan ini menjadi momentum untuk merajut persaudaraan, membangun silaturahmi dan merekatkan hubungan sosial dengan seluruh lapisan masyarakat. Menurutnya upacara ritual ini menjadi keunikan dan kemajemukan sehingga  memperkaya khasanah dan kebudayaan masyarakat yang dapat dikembangkan untuk menunjang potensi kepariwisataan Luwu Timur.

sumber: http://makassar.tribunnews.com/2013/07/17/lutim-kembali-gelar-ngaben-massal

Pura Agung Gunung Raung Desa Taro Tegalalang Kabupaten Gianyar

Umat Hindu Bali. 

Pura Kahyangan Jagat Pura Agung Gunung Raung Taro terletak di desa Taro Kecamatan Tegalalang Kabupaten Gianyar, dengan pengempon pura dari Desa Pakraman Taro Kaja. Letak pura diantara dua buah aliran sungai yaitu sungai Wos Lanang (Wos Kangin) dan Wos Wadon (Wos Kauh). Suasana di sekitar pura sangat alamiah, seperti suasana pedesaan pada umumnya. Disebelah selatan, sebelah utara dan sebelah timur pura terdapat pemukiman penduduk sedangkan dibagian barat masih hutan. Tata letak pura Agung Gunung Raung terdapat pada suatu desa yang tergolong Desa Kuno yang berada di Bali Tengah.

Pura Agung Gunung Raung dibangun oleh Mahayogi Markandeya, yaitu seorang raja yang bertahta di Bali Tengah berkeraton di Mangupura (Kerajaan Mengwi). Mahayogi Markandeya banyak mempunyai tanda mantri, punggawa, dan manca seperti : I Gusti Ngurah Batu Lepang berpuri di Sela Guru, bersaudara dengan I Gusti Ngurah Mambal yang berpuri di Mambal. Keduanya berasal dari Majapahit, yang keduanya pula dinobatkan menjadi penguasa (Ratu Arya) yang memimpin rakyat sebanyak dua puluh ribu yang merencanakan membangun kahyangan ( Pura Agung Gunung Raung ) agar stana para Bhatara menjadi lengkap. Nama Gunung Raung terdapat dalam nama pura ini karena di Gunung Raung Jawa Timur merupakan tempat pasraman Mahayogi Markandeya sebelum beliau ke pulau Bali.

Setelah selesai pembangunan seluruh pelinggih dan semuanya sudah dianggap lengkap parahyangan tersebut, kemudian dilaksanakan upacara Dewa Yajna. I Gusti Ngurah Sakti ( Cokorde Sakti Blambangan) yang melaksanakan upacara tersebut dan Ida Sang Brahmana Sakti yang dijuluki Siddhi Mantra (mempunyai mantra yang sangat bertuah) yang bertanggung jawab atas pelaksanaan upacara agar tercapai sesuai dengan tujuan.

Upacara tersebut dilaksanakan pada waktu Bulan Kartika ( pertengahan Oktober - November ), Mertha masa pratiti Jati, tanggal 15 Sukla Paksa (bulan terang /penanggal) beliau Ida Sang Brahmana Sakti tersebut juga menentukan hari baik (dewasa) tersebut. Beliau juga yang dimohon bertanggung jawab atas keberhasilan upacara tersebut. Setelah selesai upacara tersebut sejahteralah kerajaan, rakyat semua saling menghormati, merasa saling membutuhkan semuanya menghendaki kesempurnaan hidup. (RANBB)

Jumat, 12 Juli 2013

Orientasi Kerukunan Intern Umat Hindu

PALEMBANG TUAN RUMAH ORIENTASI KERUKUNAN UMAT HINDU

Umat Hindu Indonesia. Kota Palembang menjadi tuan rumah penyelenggaraan Orientasi Kerukunan Intern Umat Hindu tahun 2013. Kegiatan yang dihelat di Hotel Grand Zuri, pada 11-13 Juli 2013 ini diikuti 80 peserta dari wilayah Indonesia bagian barat dan tengah.

Ketua Panitia Ketut Lancar dalam laporannya pada acara pembukaan, Kamis (11/7) mengatakan, maksud dari kegiatan ini adalah untuk menyamakan visi dan misi serta persepsi di bidang penguatan kelembagaan serta membuat sebuah pedoman sebagai landasan dalam pembinaan umat Hindu. Adapun tujuannya adalah menciptakan kerukunan intern umat Hindu serta meningkatkan peran kelembagaan Hindu khususnya dalam pembinaan umat.
“Selama mengikuti kegiatan, peserta akan dibekali materi antara lain Kebijakan Ditjen Bimas Hindu, Strategi Peningkatan Kerukunan Intern Umat Hindu, Peranan Pemerintah Dalam Pembinaan Kerukunan Umat, Peranan Parisada Dalam Pembinaan Kerukunan Umat, dan Aspek Kerukunan Dalam Kearifan Lokal yang Bernafaskan Hindu,” tuturnya.

Kakanwil Kemenag Sumsel diwakili Kabag TU, Drs.HM. Ridwan, MM dalam sambutannya, mengaku senang kegiatan ini digelar di Provinsi Sumatera Selatan, tepatnya Kota Palembang. Menurut Ridwan, kerukunan umat di Sumsel hingga saat ini dapat terjaga.

“Kita patut bersyukur karena hingga saat ini pergesekan antarumat beragama di Sumsel bisa dikatakan tidak ada atau zero conflict. Kalaupun ada pergolakan atau kerusuhan, biasanya disebabkan oleh masalah politik atau perebutan lahan, bukan karena agama,” jelasnya.

“Kerukunan umat beragama di Sumsel bisa terjalin dengan baik tidak terlepas dari peranan pemerintah dan keberadaan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sumsel,” tambahnya.

Sementara itu, Dirjen Bimas Hindu Prof Dr Ida Bagus Gede Yudha Triguna dalam pengarahannya menegaskan bahwa manusia pada dasarnya ingin hidup rukun, termasuk umat Hindu. “Betapa banyak sloka-sloka dalam agama kita yang mengajarkan bagaimana cara hidup rukun. Petuah-petuah yang dituangkan dalam kitab suci agama kita merupakan ideologi utama kita dalam menggelar kegiatan ini,” katanya.

IBG Yudha Triguna menambahkan, dari berbagai surat yang masuk ke Ditjen Bimas Hindu, dirinya menginventarisasi beberapa hal penting yang muncul sebagai bagian dari riak-riak kehidupan umat Hindu.

“Terjadi riak-riak di beberapa provinsi dan kabupaten antara pembimas dan majelis. Kita harus buka diri dan buka hati kalau kita ingin baik. Tak usah takut mengakui kita mengalami hal itu. Mengapa dua organisasi ini mengalami hal yang seperti itu. Saya menduga karena adanya kebuntuan komunikasi sehingga terbuka peluang saling mencurigai. Karenanya, komunikasi harus dijalin dengan baik,” tegasnya. (qudus)

sumber : http://sumsel.kemenag.go.id/index.php?a=berita&id=150812

Kamis, 11 Juli 2013

Pura Agung Jagatnatha Pekanbaru

Pura Agung Jagatnatha Pekanbaru

Umat Hindu Pekanbaru. Pura Agung Jagatnatha Pekanbaru berlokasi di Jalan Rawa Mulia Simpang Tiga, lokasi pura sangat mudah dijangkau yakni sekitar 300 meter di depan pangkalan TNI-AU.  Pura ini dirintis oleh tokoh-tokoh Hindu pada tahun 1986. November 1992 dilakukan peletakan batu pertama oleh Gubernur Riau Soeripto dan pembangunan terus dilakukan hingga Pura ini diresmikan Gubernur Riau saat itu H. Saleh Djasit, S.H.  pada tanggal 6 Agustus 2001.

Megah, besar , suci dan tertata dengan rapi begitulah kesan pertama saat kita melihat Pura Agung Jagatnatha Pekanbaru. Pertama kali kita melihat Pura ini,seakan kita berada di Bali. Ornamennya berstil Bali dan ditata sesuai Tri Hita Karana, Pura ini tercatat memiliki pelaba pura terluas dan pura ini bisa saja dikatakan sebagai Pura terbaik dan terbesar sebagai tempat suci pemeluk Hindu yang berada diluar Bali. Pura ini bisa dikatakan paling lengkap di Sumatera. Ada bale kulkul, wantilan untuk perpustakaan dan sekretariat pengempon. Untuk memasuki jaba tengah dan jeroan ada kori gelung. Di jeroan ada sejumlah pelinggih dan bale pawedan.

Umat Hindu yang berasal dari Bali mendominasi Pura ini untuk melakukan kegiatan ibadah, dan sisanya sisanya dari umat Hindu suku Batak, Jawa, Cina dan India. Namun jangan kaget, mereka ini tak lagi menyebut diri Hindu Batak, Hindu Bali dan Hindu dari India,mereka melepaskan semua atribut kesukuan, semuanya Hindu.Uniknya lagi Pura ini berada di pemukiman masyarakat muslim (islam) dan berada di Negeri Melayu yang notabene merupakan pemeluk agama Islam,Heterogenitas dan kemajemukan Kota pekanbaru menjadikan kota ini menjadi indah, berbagai Suku dan Agama yang ada hidup berdampingan tanpa timbul gesekan.
sumber : http://www.riaudailyphoto.com

CHANNEL YOUTUBE SAYA - MOHON DI SUBSCRIBE

Cari Artikel di Blog ini

Berita Terkait Semangat Hindu

Artikel Agama Hindu

108 Mutiara Veda 3 kerangka agama hindu advaita visistadviata dvaita Agama Hindu Dharma agama islam Ajaran Hindu aksara suci om alien menurut hindu Apa yang dimaksud Cuntaka Apa yang dimaksud dengan Japa Apa yang dimaksud dengan Puja arcanam nyasa aris widodo artikel hindu arya dharma Arya Wedakarna Asta Brata Atharvaveda Atman avatara sloka babad Badan Penyiaran Hindu bagian catur weda bahasa jawa kuno bahasa kawi bahasa sanskerta Banggalah Menjadi Hindu banten hindu bali Belajar Hindu BELAJAR ISTILAH AGAMA HINDU bhagavad gita Bhagawadgita bhagawan bhuta yadnya Bimas Hindu BPH Banten brahma wisnu siwa Brahman Atman Aikyam brahmana ksatriya wesia sudra budaya bali budha kliwon sinta Bukan Heroisme buku hindu terpopuler Canakhya Nitisastra cara sembahyang hindu catur asrama Catur Brata Catur Cuntakantaka Catur Purusha Artha Catur Purusharta catur veda Catur Warna Catur Weda Cendekiawan Hindu Cinta Kasih Dalam Perspektif Hindu Dana Punia Deva adalah sinar suci Brahman Deva Brahma Deva Indera dewa dewi hindu dewa yadnya dewata nawa sanga dewi kata-kata dewi saraswati dharma artha kama moksa Dharma Santi dharma wacana Doa Anak Hindu donasi buku hindu epos mahabharata ramayana filosofi pohon bambu filsafat agama hindu ganesha Gayatri Sebagai Mantra Yoga Hari Raya Galungan Hari Raya Kuningan Hari Raya Nyepi Hari Raya Pagerwesi Hari Raya Saraswati Hari Raya Siwaratri HINDU adalah ARYA DHARMA HINDU ADALAH SANATHANA DHARMA HINDU ADALAH VAIDHIKA DHARMA Hindu Agama Terbesar di Dunia Hindu Banten Hindu beribadah di Pura Hindu Festival Hindu Indonesia hindu nusantara Hindu Tengger Hinduism Facts Hinduism the Greatest Religion in the Word Hukum Karma Ida Pedanda sakti isi catur weda Jadilah Manusia Setia Japa dan Mantram Jiwa jual buku hindu kakawin Kamasutra Keagungan Aksara Suci OM Kekawin Lubdhaka kepemimpinan jawa kuna Kerajaan Hindu Keruntuhan Agama Hindu kesadaran diri kidung dewa yadnya Kitab Suci Weda lontar Lontar Kala Maya Tattwa Maharsi Atri Maharsi Bharadvaja Maharsi Gritsamada Maharsi Kanva Maharsi Vamadeva Maharsi Vasistha Maharsi Visvamitra manawa dharma sastra Mantra Mantra Yoga manusa yadnya Meditasi Matahari Terbit Mengapa Kita Beragama menghafal sloka Mimbar Agama Hindu Moksha Motivasi Hindu Mpu Jayaprema nakbalibelog Naskah Dialog Nuur Tirtha Om or Aum one single family opini hindu moderat Panca Sradha panca yadnya Panca Yajna pandita Panglong 14 Tilem Kepitu parahyangan agung jagatkartta paras paros segilik seguluk Pasraman Pasupati Pembagian Kitab Suci Veda Pemuda Hindu Indonesia pendidikan hindu pengertian catur weda Pengertian Cuntaka penyuluh agama hindu Peradah percikan dharma Percikan Dharma Dewa Yajna phdi pinandita Pitra Yadnya Ngaben Pitrapuja potong gigi Principle Beliefs of Hinduism Proud To Be Hindu Puja dan Prathana Pujawali purana purnama tilem Purwaning Tilem Kapitu Radio online Bali rare angon nak bali belog Reinkarnasi Rgveda ritual hindu Roh Rsi yadnya sabuh mas sad darsana sad guru Samaveda sanatana dharma sang hyang pramesti guru Sang Kala Amangkurat Sang Kala Dungulan Sang Kala Galungan Sang Kala Tiga sapta rsi Sapta Timira Sarassamuscaya Sarassamuscaya Sloka sattvam rajah tamah sejarah agama hindu Sekta Hindu Semangat Hindu seni budaya hindu Sex and Hinduism siwa budha waesnawa siwa ratri Sloka sloka bhagawad gita sloka bhatara sloka Rgveda sloka yayurveda Slokantara Sloka Spiritual Bersifat Misterius spiritualitas hindu spma ribek sradha dan bhakti sri rama krishna paramahansa Sri Sathya Sai Baba Sri Svami Sivananda sumpah dalam perkara tabuh gesuri tabuh kreasi baru tabuh telu lelambatan tantri kamandaka tat twam asi tattwa susila upakara Tempat Suci Hindu tiga hubungan harmonis tri hita karana Tri kaya parisudha tri kerangka agama hindu tri mala tri pramana Triji Ratna Permata tujuan perkawinan tujuh penerima wahyu tumimbal lahir upacara hindu upacara menek deha Upanisad upaweda Utsawa Dharma Gita vaidhika dharma Vasudhaiva Kutumbakam VEDA ADALAH ILMU PENGETAHUAN SUCI vedangga Vijaya Dashami Wasudewa Kutumbhakam widhi tatwa wija kasawur wiwaha agama hindu Yajna dan Sraddha yajna dan sradha Yayurveda Yoga Kundalini