OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM

PRAKATA

Selamat Datang

Semangat Hindu merupakan blog bersama umat Hindu untuk berbagi berita Hindu dan cerita singkat. Informasi kegiatan umat Hindu ini akan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan.
Semangat Hindu semangat kita bersama.

Bersama Semangat Hindu kita berbagi berita dan cerita, info kegiatan, bakti sosial dan kepedulian, serta kegiatan keagamaan seperti ; pujawali, Kasadha, Kaharingan, Nyepi, Upacara Tiwah, Ngaben, Vijaya Dhasami dan lain sebagainya.

Marilah Berbagi Berita, Cerita, Informasi, Artikel Singkat. Bagi yang mempunyai Web/Blog, dengan tautan URL maka dapat meningkatkan SEO Web/ blog Anda.

Terima Kasih
Admin

RANBB

---#### Mohon Klik Share untuk mendukung blog ini ####---

Tampilkan postingan dengan label Sarassamuscaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sarassamuscaya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 September 2018

Sarassamuscaya Sloka 391


Pitrayana - Dewayana
Sarassamuscaya Sloka 391

panthanau pitrayanasca devayanasca visrutan, janminah pitrayanena devayanena moksina.

Rwa tika marga ngaranya, hana pitrayana, hana dewayana, ika sang grhasthakarma, sang makanusthana puja, pancayajnadi, pitrayana, ngaranika marga tinutnia, kunang ika sang nistrsna, tyaktaparigraha, kewala atinggal, dewayana ngaranika marga tinutnira.

Artinya

Adalah dua jalan yaitu pitrayana dan dewayana; laksana sang grihastha, yaitu melakukan puja seperti pancayadnya, jalan yang dianut itu namanya pitrayana; orang yang telah meninggalkan keduniawian, yaitu yang telah dengan ikhlas meninggalkan anak, istri dan kekayaan, dewayadnya nama bahwa ada dua jalan yang dilalui oleh orang-orang yogi menuju ke tempat akhir; jalan yang pertama disebut "dewayana", nenyebabkan orang yang melaluinya setelah sampai di tempat tujuan tidak kembali lagi ke dunia yang fana, sedangkan jalan yang kedua disebut "pitrayana" ditempuh oleh jalan yang akan balik kembali; untuk jelasnya dipersilahkan memeriksa dan membaca sloka (dari Bhagawadgita VIII 4 dan 26), "tyaktaparigraha", harta kepunyaan , anak-anak dan istri jadi berarti; "yang ditinggalkan pergi harta kepunyaan serta anak-anak dan istrinya." "Kewalatinggal" dan "kewala" + "atinggal" "kewala" berarti pula semu, suluruh, segala, "atinggal"  = meninggalkan; kewalatinggal dapat dianggap keterangan lebih lanjut dari "tyaktsparigraha".

Ulasan
Bahwa sesungguhnya pitrayana dan dewayana sangat erat kaitannya karena sebelum sampai ke dewayana harus melalui pitrayana dulu. Dalam.hidup ini kita melewati kehidupan dari para leluhur terlebih dahulu baru kemudian orang tua kita dan baru sampai pada kita semua.
Pitrayana dan dewayana dilakukan dengan cara panca yadnya agar apa yang telah kita nikmati ini adalah anugrah dari beliau semuanya.

Rabu, 05 September 2018

Satassamuscaya Sloka 369


Mrtyu-Tuha-Pati
Satassamuscaya Sloka 369

nausadhani na sastrani na homana punarjapah, trayante mrtyunopetan jaraya vapi manavam.

Tatan tamba, tan mantra, tan homa, tan japa, wenang manulung sakeng pati, manukala mrtyu, punah punah mantroccarana; pawaluywaluyning koccaranan sang hyang mantra, japa ngaranya.



Artinya
Bukan obat, bukan mantra, bukan korban api, bukan japa (ucapan mantra komat-kamit berulang-ulanh), sanggup menolong, membebaskan seseorang dari mati, atau dapat menangkis maut, sia-sialah ucapan mantra itu ucapan mantra berulang-ulang disebut "japa".

Ulasan
Bahwa sesungguhnya orang yang melakukan perbuatan, berkata dan berpikir baik adalah mereka sadar akan bekal dikemudian hari, bukan japa yang dilakukan berulang-ulang namun tidak.dapat mengimplementasikan dalam.kehidupan ini. Oleh karena itu hendaklah japa itu harus dilakukan.bersamaan dengan diaplikasikan dalam hidup ini agar lebih bermakna. Dengan demikian antara japa.dan implementasi harus selaras dan seimbang sehingga manfaat yang akan didapat lebih berhasil dalam kehidupan nyata ini.

Selasa, 28 Agustus 2018

Purwakarma Sarassamuscaya Sloka 361


Purwakarma
Sarassamuscaya Sloka 361

anyaduptam jatamanyadityetannapapadyate, upyate bhuvi yadvijam tattadeva prarohati.

Lawan ikang wastu inipuk, tan patuwuh ika len sangkerikang inipuk, mangkana tikang purwakarma, yatika tinut ning phala kabhukti dlaha.



Artinya
Dan barang sesuatu yang ditabur dain dibiakkan, tidak akan tumbuh lain daripada bibit yang ditabur itu; demikianlah purwa-karma (perbuatan pada waktu hidup dulu) itulah yang menimbulkan hasil yang dikenyam kemudian.

Ulasan
Bahwa sesuatu yang timbul dari perbuatan merupakan buah hasil yang ditabur atau ditanam pada waktu dulu, yang hasilnya dinikmati pada kehidupsn sekarang ini. Oleh karena itu taburlah.benih-benih kebajikan yang banyak agar kelak kemudian akan menghasilkan buah hasil yang bisa dinikmati dengan senang dan bahagia. Demikian kehidupan ini merupakan buah dari kehidupan yang dahulu ditanam dengan kebajikan tanpa mengharapkan akan hasil sehingga baru saat ini dinikmatinya.

Kamis, 12 Juli 2018

Sarassamuscaya Sloka 321

Pergaulan dengan sang sadhu
Kitab Agama Hindu
Bhagawadgita
Sarassamuscaya Sloka 321

drogdhavyam na ca mitresu na visvastesu karhicit, yasya camani bhunjita yatra ca syat pratisrayah

Nyang pangraksu kirti, haywa drohaka ring mitra, drohaka ngaraning mahyun ri patyanika, haywa drohaka ring kaparcaya, parcaya ri kita kunang, rjng pinsnganta sekulnya, pamarasraya kuneng apan krtaghna ngaraning papaning mangkana, tan purwarna.



Artinya
Inilah penjaga (pemelihara) nama baik; jangan berkhianat kepada sahabat; druhaka artinya menghendaki akan matinya sahabat itu; jangan berkhianat kepada orang yang dipercaya baik kepada orang yang menaruh kepercayaan kepada anda, maupun kepada orang yang nasinya anda makan, demikian pula kepada orang tempat mendapat perlindungan sebab tidak tahu berterima kasih dikatakan perbuatan nista yang demikian tidak tahu membayar hutang-hutang yang lampau.

Ulasan
Bahwa apa yang terjadi pada kehidupan ini memang dialami banyak orang, kadang memang jangan mengkhianati suatu persahabaan karena cari sahabat sangat sulit untuk didapatkan. Oleh karenanya sahanat harus dijaga agar apa yang telah terjadi sering kali lupa akan persahabatan yang telah tetjalin lama dan saling menguntungkan. Demikian persahabatan dalam hidup ini juga membutuhkan suatu pupuk untuk kelanjutan persahabatan yang akan datang.

Senin, 09 Juli 2018

Sarassamuscaya Sloka 318

Pergaulan dengan sang sadhu
Kata Mutiara Kitab Suci Yayur Weda
Yayurveda
Sarassamuscaya Sloka 318



arapyate sila saile klecena mahata yatha, patyate ca sukhenadhastathtama punyapapayoh.

Matangnyan haywa tan yatna, raksan kayatnakena katemwan iking si dadi wwang denta, sakarananyan entasa minduhura muwah, ta pwa gawayakena, apan atyanta iweh ning maminduhuraken, kunang yang pamingsorakena, emas ika, tonenta, nang wungkal pingruhurakena ryagraning wukir, antukning pariklesa ika, kunang yan tibakena ika, tan kewehan ngwang irika.

Artinya
Oleh karenanya janganlah tidak hati-hati, jagalah baik-baik karena telah dapat menjelma menjadi orang; segala yang menyebabkan akan dapat lulus dan meningkatkan penjelmaan, itulah hendaknya dilaksanakan, karena keliwat sukar untuk meningkatkan penjelmaan itu; akan tetapi untuk menurunkan, amat mudahnya; contohnya: batu yang telah dinaikkan ke puncak gunung; karena suatu gangguan maka dijatuhkan kembali dengan tanpa kesulitan sama sekali.

Ulasan
Bahwa dalam kehidupan ini memang tidak mudah untuk dijalani karena harus mampu mempertanggung jawabkannya apa yang telah dilakukannya. Pada dasarnya yang dilahirkan menjadi manusia sungguh-sungguh utama karena tidak mudah dilahirkan menjadi manusia, mengapa demikian karena yang dilahirkan menjadi manusia ini dalam hidupnya harus dapat melaksanakan perbuatan yang baik sebanyaj-banyaknya.
Oleh karena itu tidak gampang menjadi manusia yang utama sehingga dalam hidupnya yang harus dilakukan adalah bagaimana menjaga agar kelahiran menjadi manusia akan tetap terjaga. Karena itu apabila lengah sedikit saja melakukan kesalahan dalam hidup ini akan terjerumus ke jurang kesengsaraan dan tidak.mungkin akan lahir menjadi manusia kembali dalam kelahiran mendatang. Demikian yang harus diingat bahwa kelahiran menjadi manusia ini sungguh utama dan hendaknya terus ditingkatkan dalam kehidupan ini.

Senin, 02 Juli 2018

Sarassamuscaya Sloka 287

Daridra (miskin)
Kitab Suci Umat Hindu
RGVEDA
Sarassamuscaya Sloka 287



suhrdan hi dhanam bhukte (bhumkte) krtva pranayamipsitam, pratikartumacaktasya jivitanmaranam.

Apan ikang daridra ngaranya, bhinuktinya ta wibhawaning mitranya, tinekan saprayojananya, ndan pisaningu ya wenang amalesa ri mitranya, dening daridranya, dening kacmalaning buddhinya kuneng, lobha humet atengetx yan paramarthanya, lehengang mati sangkerika.

Artinya
Akan si miskin itu, dinikmatinya kekayaan sahabatnya dan segala keperluannya dipenuhinya akan tetapi tidak bisa membalas budi sahabatnya, oleh karena miskinnya; pun oleh sebab kekejian budi pekertinya, loba, tidak tulus hati dan kikir, berhubung dengan itu, lebih baik mati daripada berhal demikian.

Ulasan
Bahwa pada dasarnya orang yang tidak punya memang seperti itu, tidak usah diperhatikan dengan sepenuh hati karena ia akan merasa diperhatikan dan akhirnya akan tambah menjadi malas. Oleh karenanya biarkan apa adanya tidak usah terlalu diperhatikan biar ia berpikir sendiri mengatasi kemiskinan yang ia alami. Memang kalau ia diperhatikan ia tidak akan mengalami peningkatan hidupnya dan menjadikan kebiasaan buruk bagi mereka sehingga akan lupa ia seperti apa dan tidak tahu bagaimana keluar dari kemiskinan yang ia alami saat ini.

Sabtu, 28 April 2018

Sarassamuscaya Sloka 248

Anak-ramarena-guru
Kata Mutiara Kitab Suci Rg Weda
RgWeda
Sarassamuscaya Sloka 248



abhivadayeta vrddhamasanam casya darsayet, krtajnalirupasita gacchantam prayatonviyat.

Matangnyan mangkeng ulaha ring wwang matuha, manantwa swagata awehonggwanunggwan, manembaha asila angharepakena, yar angkat mangaterakena.

Artinya
Oleh karena itu perilaku orang tua, hendaknya memberi salam selamat dan menyapanya dengan sopan santun, mempersilahkan duduk, kemudian menyembah serta dengan sopan duduk bersila dihadapannya; pada waktu berangkat hendaklah mengantarkannya.

Ulasan
Bahwa apabila dalam mempelakukan orang tua harus selalu memberikan hormat karena orang tua adalah asal mula kita berada di dunia ini. Oleh karena itu jangan sampai ketemu sama orang yang lebih tua hendaknya memberi salam hormat dan sopan santun terhadapnya. Demikian yang harus kita lakukan dalam hidup ini terhadap orang tua yang telah memberikan kita semua yang mereka punyai untuk anak-anaknya.

Senin, 12 Februari 2018

Dana Punia Sarassamuscaya Sloka 174

Dana Punia Sarassamuscaya Sloka 174
Kitab Suci Weda
rigweda
arthavanarthsmarthibiyo na dadatyatra kogunah, ekaiva gatirarthasya danamanya vipattayah.





Kuneng, an wwangujar sang sugih maweh dana ring kasyasih, tan padon ika, apan kewala tunggal doning mas, danakena juga karih, len sangkerika donya, lara katiwasan ngaranika.

Artinya
Akan tetapi, jika menggembar-gemborkan orang yang kaya memberi sedekah kepada orang yang patut dikasihani, sebenarnya tiadalah gunanya itu, sebab hanya satu saja gunanya kekayaan, yaitu untuk disedekahkan, jika lain dari pada itu kegunaannya disebut menimbulkan duka kemiskinan.

Ulasan
Apa yang menjadikan pembicaraan bahwa apabila mereka memberikan sedekah dengan memberitahukan kepada orang lain itu tidaklah baik dilakukan, karena kalau sudah mau memberi dana punia atau sedekah hendaklah jangan diketahui orang banyal.

Oleh karena itu mepunia harus berdasarkan keikhlasan hati sehingga akan betdampak pada bagaimana kehidupan dalam masyarakat saat ini.

Jumat, 09 Februari 2018

Dana Punia Sarassamuscaya Sloka 172

Dana Punia (sedekah)
Sarassamuscaya Sloka 172

na danadduskarataram trisu lokesu vidyate, arse hi mahati trsna sa ca krcchrena labhyate.

Apan ring tribhuana, tan hana meweh kagawayanya, lena sangkeng dana, agong wi kang trsna ring artha, apan ulihning kasakitanikang artha katemu.

Artinya
Sebab di dunia tiga ini tidak ada yang lebih sulit dilakukan daripada berdanapunia (bersedekah), umumnya sangat besar terlekatnya hati kepada harta benda, karena dari usaha bersakit-sakitlah harta benda itu diperoleh.

Ulasan
Bahwa berdana punia merupakan bentuk yadnya yang seharusnya dilakukan setiap manusia yang lahir ke dunia ini, karena manusia lahir ke dunia masih mempunyai hutang yang harus dibayar. Oleh karena itu hendaklah berdana punia merupakan suatu keharusan yang harus dilakukan oleh setiap manusia agar kehidupannya kelak lebih baik.

Demikian manfaat berdana punia agar sebagian hutang yang harus dibayar dapat mengurangi penderitaan hidup di masa lalu bisa terkurangi dan kehidupan mendatang akan lebih baik lagi.

Senin, 09 September 2013

Tafsir dalam Hindu (Veda Vedanta)

Tafsir dalam Hindu (Veda Vedanta)
sumber : http://m.mpujayaprema.com/index.php
Tentang Weda (Veda)
Kitab suci umat Hindu adalah Weda. Weda adalah wahyu Tuhan yang diterima oleh Maharsi, Rsi yang (maha) utama. Weda juga sering disebut sebagai Kitab Sruti, artinya kumpulan wahyu yang diterima melalui pendengaran para Maharsi. Juga disebut Kitab Rahasia, karena inti ajarannya adalah menuntun umat untuk mencapai tujuan hidup yang tertinggi, yakni moksa. Weda juga sering disebut Kitab Mantra – apalagi di Bali – karena kitab ini berisi puji-pujian berupa mantra, baik untuk menjalankan ritual maupun untuk pemenuhan rohani.
Sebagai wahyu Tuhan, kapankah Weda itu diturunkan? Ini pun tak pernah ada kejelasan atau ada yang menyimpulkan – sesuatu yang biasa di dalam Hindu tak ada sebuah kesimpulan yang pasti dan satu-satunya kesimpulan. Beberapa sarjana tercatat mempunyai argumentasi tentang kapan Weda dibahyukan:
  1. Lokamanya Tilak Shastri, memperkirakan wahyu Weda turun 6 ribu tahun sebelum Masehi.
  2. Bal Ganggadhar Tilak, memperkirakan wahyu Weda turun 4 ribu tahun Sebelum Masehi.
  3. Dr. Haug memperkirakan Weda turun 2.400 tahun Sebelum Masehi.
  4. Dr. Max Muller memperkirakan Weda turun 1.200 sampai 800 Sebelum Masehi.
  5. Heine Gelderen memperkirakan Weda turun sekitar  tahun 1.500 sampai 1.000 Sebelum Masehi
  6. Sylvain Levy memperkirakan Weda turun sekitar 1.000 Sebelum Masehi.
  7. W. Stutterheim memperkirakan Weda diturunkan sekitar 1000 sampai 500 Sebelum Masehi.
Memang,jarang sekali diperdebatkan kapan turunnya Weda. Barangkali perdebatan yang tak akan pernah selesai sementara tujuan berdebat pun tak pernah sampai. Yang penting bagi penganut Hindu, Weda diwahyukan dan ada yang menerima wahyu itu. Ada 7 Maharsi penerima Weda. Mereka itu adalah: Maharsi Grtsamada, Maharsi Wiswamitra, Maharsi Wamadewa, Maharsi Atri, Maharsi Bharadwaja, Maharsi Wasistha, Maharsi Kanwa
Diperkirakan Weda ini turun dalam rentang waktu yang panjang dan tidak di satu tempat. Dan yang berjasa mengumpulkan wahyu yang tersebar ini adalah Maharsi Wyasa. Beliaulah yang kemudian memilah-milah disesuaikan dengan fungsinya. Maharsri Wyasa yang juga penyusun Mahabharata, Bhagavadgita dan Brahmasutra  ini, memiliki empat asisten untuk memilah Weda. Mereka itu:
  1. Maharsi Paila (ada yg menyebut Pulaha), hasil pilahannya melahirkan kitab Rg Weda (Rgveda Samhita)
  2. Maharsi Waisampayana, hasil pilahannya kitab Yajur Weda (Yajurveda Samhita)
  3. Maharsi Jaimini, hasil pilahannya melahirkan kitab Sama Weda (Samaveda Samhita)
  4. Maharsi Sumantu, hasil pilahannya melahirkan kitab Atharwa Weda (Atharvaveda Samhita).
Rgveda mempunyai 10.552 bait/sloka mantra yang isinya berupa nyanyi puji-pujian untuk persembahan pada Tuhan. Kitab ini dibagi dalam 10 mandala (buku ataubab).
Samaveda mempunyai 1.875 mantra, isinya juga puji-pujian dalam melaksanakan yadnya (upacara).
Yajurveda mempunyai 1.975 mantra, isinya tentang tuntunan hidup keseharian yang berhubungan dengan masalah duniawi.
Atharwaveda mempunyai 5.987 mantram, isinya juga tentang tuntunan kehidupan yang berhubungan dgn masalah duniawi.

Untuk mempermudah mempelajari ke empat Weda (Catur Weda) ini para maharsi membuat buku pedoman. Rsi Panini misalnya membuat kitab-kitab yang berhubungan dengan pengetahuan bahasa Sansekerta, seperti kitabSiksa (ilmu phonetika), kitab Wyakarana (ilmu tata bahasa Sansekerta), Nirukta (ilmu etimologi Sansekerta). Lalu ada kitab Kalpasastra (petunjuk tentang upakara agama) dan Jyotistha yang berisi pengetahuan tentang astrologi dan astronomi. Dua kitab terakhir ini erat kaitannya dengan waktu pelaksanaan upacara. Di Bali ilmu ini berkembang demikian pesat yang disebut ilmu wariga, dan berujung pada bagaimana menentukan hari baik dan hari buruk untuk pelaksanaan upacara keagamaan.

Keenam kitab di atas karena berisi petunjuk bagaimana mempelajari dalam arti membaca Weda, maka hampir tak ada masalah. Beda dengan kitab-kitab yang berisi cara menerangkan Weda sehingga bisa dijadikan praktek atau pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Kitab-kitab itu disebut kitab Brahmana, Aranyaka dan Upanisad. Semua Weda didampingi kitab-kitab ini.

Kitab Brahmana menerangkan bagaimana mempergunakan mantra Weda dalam rangkaian upacara. Aranyaka kemudian menjelaskan bagian-bagian mantra itu. Sedangkan Upanisad berisi petunjuk bagaimana memahami ajaran suci Weda dalam khidupan di dunia ini. Secara garis besar kemudian bisa digolongkan, kitab Brahmana dan Atanyaka sebagai pedoman Karma Kandha (karma=perbuatan, kandha = bagian), yakni bagaimana kita berbuat sesuai dengan Weda. Sedang Upanisad tergolong Jnana Kandha (jnana=ilmu pengetahuan). Di sinilah diatur bagaimana Weda mengajarkan ilmu pengetahuan kepada umat manusia, apa yang harus dilakukan, apa yang tak boleh dilakukan, apa yang dipantang, dan semua seluk beluk masalah kehidupan manusia.

Saking luasnya pembidangan ini, Upanisad terdiri dari 108 kandha (bagian atau kitab) dan di bagian inilah terbuka penafsiran yang berbeda-beda. Perbedaan penafsiran itu bisa karena “salah membaca” karena tidak dikuasainya kitab Siksa, Wyakarana, Nirukta atau berbeda pemahaman dalam mempelajari Kalpasastra dan Jyotistha.

Kitab-kitab yang muncul dari cara menafsirkan Weda ini disebut kitab Smerti (Smrti). Kitab-kitab inilah yang sangat banyak adanya, disusun oleh para rsi yang terkenal pada zamannya seperti Maharsi Manu, Yajnawalkhya, Sanka, Likhita, Parasara. Kitab-kitab itu umumnya berlabel dharmasastra yaitu ajaran tentang dharma menjadi petunjuk tentang kebenaran. Yang terkenal di bawa ke Nusantara ini misalnya Manawadharmasastra, Sarasamuccaya dan lainnya.

Sebelum sampai pada masalah penafsiran, inti dari pembahasan kali ini, baik dilengkapi dulu penggolongan kitab-kitab suci yang menunjang Weda. Ada yang disebut kitab Itihasa, ini adalah karya sastra (bisa saja berupa kejadian yang sebenarnya tetapi disastrakan) yang menceritakan tentang kepahlawanan dengan segala lika-likunya. Ada 2 Itihasa yang dianggap “bisa mewakili cara pemahamanWeda untuk kalangan awam dan anak-anak” yaitu Kitab Ramayana dan Kitab Mahabharata.

Ramayana digubah oleh Maharsi Walmiki terdiri dari 7 kandha (bagian atau buku) dengan 24.000 bait syair. (1) Ayodhya Kandha (kisah kelahiran Rama), (2) Bala Kandha (kisah Rama ketika kanak-kanak), (3) Aranya Kandha(kisah Rama di hutan mengamankan pertapaan Wiswamitra), (4) Kiskinda Kandha (kisah Rama yang diminta bantuan oleh Sugriwa dalam perang saudara melawan Subali, akhirnya Sugriwa menjadi abdi Rama), (5) Sundara Kandha (pembuatan jembatan menuju Alengka), (6) Yuda Kandha (kisah pertempuran Rama melawan Rahwana), dan (7) Utara Kandha (kisah asal-usul leluhur dan keturunan Rama, Sita dan lain-lain).
Kitab Mahabharata disusun Maharsi Wyasa terdiri dari 18 Kandha (di sini disebut parwa karena bagian-bagian itu besar dengan banyak sub-bagian. Itu sebabnya di Bali, wayang kulit Mahabharata disebut wayang kulit parwa). Bagiannya: (1) Adiparwa (ini pengantar semua parwa dengan cerita garis besarnya saja), (2) Sabhaparwa (tentang perjudian dan kekalahan pihak Pandawa), (3) Wanaparwa (pembuangan Pandawa ke hutan), (4)Wirataparwa(tentang penyamaran Pandawa di Kerajaan Wirata selama satu tahun), (5) Udyogaparwa (tentang upaya perdamaian yang dipimpin Prabu Kresna), (6) Bhismaparwa (kisah Rsi Bhisma sebagai panglima perang Korawa), (7)Dronaparwa (cerita Rsi Drona sebagai panglima perang Korawa), (8) Karnaparwa (cerita Senopati Karna sebagai panglima perang Korawa), (9) Salyaparwa (tentang Senopati Salya sebagai panglima perang Korawa), (10)Sauptikaparwa (kisah penculikan dan pembunuhan Panca Kumara, putra Pandawa oleh Aswatama), (11) Striparwa (kisah tangisan para istri yang suaminya giugur di medan perang), (12) Santiparwa (tentang nasehat Rsi Kripa dan kawan-kawannya kepada Pandawa), (13) Anusasanaparwa (cerita penobatan cucu Arjuna, Parikesit, sebagai raja keluarga Pandawa), (14) Aswamedaparwa (upacara korban kuda memperluas kerajaan Hastina), (15)Asramawasanaparwa (kisah memasuki Wanaprasta sampai meninggalnya leluhur Pandawa seperti Dewi Kunti, Prabu Drestarasta di hutan), (16) Mausalaparwa (tentang pralayanya – kiamat – keluarga Yadhu dan hancurnya kerajaan Dwarawati), (17) Mahaprasthanikaparwa (tentang meninggalnya Pandawa dan Drupadi, kecuali Dharmawangsa yang langsung masuk sorga), (18) Swargarohanaparwa (tentang kehidupan Pandawa di Sorga).

Dari seluruh parwa ini, ada satu parwa yakni Bhismaparwa dianggap istimewa karena di salah satu bagiannya ada wejangan yang penuh muatan filsafat dari Sri Kresna kepada Arjuna di tengah Padang Kurusetra, yang terkenal kemudian dengan nama Bhagawadgita. Kitab BG ini sering disebut sebagai Pancamo Weda, atau Weda yang kelima, meski mengundang polemik sampai sekarang karena: apakah ini bisa digolongkan wahyu Tuhan atau tidak? Sebagian menyebut BG bukan wahyu,jadi bukan kitab suci, namanya saja gubahan Maharsi Wiyasa. Tapi sebagian lain menyebut kitab suci karena posisi Kresna saat itu adalah Awatara. Kelompok fanatik yang menyebutkan BG sebagai kitab suci dan Krishna adalah Tuhan adalah Hare Krishna. Kelompok ini dalam istilah Hindu disebut Sampradaya atau aliran.

Selain Itihasa, adakitab-kitab penunjang Weda yang sering disebut-sebut sebagai “cara awal mempelajari Weda”. Kitab itu disebut Purana. Arti harafiah Purana adalah sejarah (di Bali setiap pura ada purananya), yakni cerita tentang sejarah penciptaan bumi ini dan siapa yang berkuasa saat itu. Ada 18 Kitab Purana, yakni (1) Brahmanda Purana, (2) Brahmawaiwarta Purana, (3) Markandeya Purana, (4) Bhawisya Purana, (5) Wamana Purana, (6) Brahma Purana, (7) Wisnu Purana, (8) Narada Purana, (9) Bhagawata Purana, (10) Garuda Purana, (11) Padma Purana, (12) Waraha Purana, (13) Matsya Purana, (14) Kurma Purana, (15) Lingga Purana, (16) Siwa Purana, (17) Skanda Purana, (18) Agni Purana.

Masuknya agama Hindu ke Indonesia pada abad 4 tidak membawa serta kitab-kitab itu, apalagi Catur Weda. Yang dibawa adalah kitab-kitab “dibawahnya” seperti Itihasa, Purana, Dharmasastra dan sejenisnya. Ini yang kemudian diterjemahkan lagi ke bahasa Jawa Kuno (Kawi) sehingga muncullah berbagai jenis lontar (karena ditulis didaun rontal) dan dari sana menyebar ke umat. Demikianlah orang-orang di Nusantara mengenal Kekawin Ramayana, Arjuna Wiwaha (dari kelompok Itihasa), Manawadharmasastra, Sarasamuccaya (dari kelompok Dharmasastra), Brahmanda Purana (kelompok Purana), Argapatra, Wraspati Tatwa, Bhuwanakosa dan banyak lagi dari kelompok pedoman pemujaan dan pelaksanaan upacara.

Di manakah Penafsiran Bermasalah?

Kitab-kitab yang hanya menuntun bagaimana cara “membaca Weda” tentu tidak bermasalah. Demikian pula kitab Itihasa, Purana, nyaris tanpa masalah, karena itu hanya berupa cerita. Kalau pun ada penafsiran yang bermasalah lantaran menangkap pesan dari sudut yang berbeda, itu bukan masalah besar. Misalnya: Pandawa kalah berjudi sampai dibuang ke hutan. Penafsiran positif: janganlah berjudi karena ternyata berjudi itu akibatnya tidak baik, lihat keluarga Pandawa. Namun penafsiran negatif; judi itu sudah ada sejak dulu kala, Pandawa yang dipimpin Yudistira yang alim saja berjudi.


Yang bermasalah adalah kitab-kitab Smerti. Para penafsir, yang merupakan Rsi ternama di zamannya, bisa berbeda cara menafsirkan kata-kata yang indah – sekaligus—misteri dari Weda. Ini menyangkut pemahaman pada kiasan yang bisa berbeda, atau ada missi tertentu dari para Rsi itu – termasuk pula posisi sang Rsi. Kitab Sarasamuccaya yang disusun Bhagawan Wararuci dianggap kontroversial bertahun-tahun yang lalu, ketika pertamakali diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Kitab yang berisi 511 sloka (ayat) ini berisi pedoman tentang perilaku yang baik atau etika. Diperkirakan disusun pada abad ke-9 – 10, kitab ini ditulis Bhagawan Wararuci dengan dua bahasa yaitu Sanskerta dan bahasa Jawa Kuno (Kawi). Karena itu banyak yang menduga Bhagawan Wararuci lahir di Nusantara karena kitab ini ditemukan dengan terjemahan dalam bahasa Jawa Kuno dari aslinya, Sansekerta. Kedua bahasa itu dipersandingkan. Namun, tidak ada kepastian bahwa beliau lahir di Nusantara, bisa saja Sarasamuccaya itu datang dari India dan diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa Kuno oleh seseorang yang tak mau disebutkan namanya. Hal-hal yang anonim itu jamak dalam susastra Hindu di era kerajaan-kerajaan di Jawa.

Kitab Sarasamuccaya ini dimaksudkan oleh Wararuci sebagai intisari dari Astadasaparwa (Mahabharata), gubahan Rsi Wiyasa. Sara artinya intisari, sedangkan samuccaya artinya himpunan. Inilah himpunan dari instisari ajaran etika yang ada dalam Astadasaparwa. Karena kitab ini intisari dari Ithihasa Mahabharata, sementara Mahabharata adalah “kisah kepahlawanan” untuk memahami Weda lebih lanjut, maka tak mudah menemukan di mana sloka-sloka Sarasamuccaya ini ada dalam Weda.

Pertamakali kitab ini muncul dalam terjemahan bahasa Indonesia oleh I Nyoman Kajeng dkk. Kitab yang slokanya indah ini ternyata beberapa ayat di bagian akhirnya, ketika membahas soal wanita, menjadi kontroversi. Itu lantaran disebutkan wanita hanya menjadi pengumbar nafsu seks, dan wanita menjadi perusak keluarga karena tak bisa menahan birahinya. Kesimpulannya: hindarilah wanita.

I Nyoman Kajeng (kini telah tiada) menerjemahkan Sarasamuccaya bukan dari bahasa Sansekerta, beliau tak paham bahasa itu. Staf di Gedung Kirtya Singaraja ini menerjemahkan Sarasamuccaya dari buku Prof. Dr. Raghu Vira, Ph.D pada tahun 1959. Kajeng menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari sloka Jawa Kuno, dan karena itu dia menyebut kemungkinan banyak yang janggal. Ya, kejanggalan ini, bisa jadi pula termasuk sloka/ayat yang kontroversi soal wanita itu.

Sarasamuccaya terjemahan Nyoman Kajeng ini kembali diterbitkan tahun 1997 dengan catatan penutup dari Parisada Hindu Dharma. Isi catatan itu adalah wanita yang dimaksudkan dalam sloka yang bermasalah itu adalah untuk seseorang yang memang tak boleh berhubungan dengan wanita, seperti yang memilih hidup Sukla Brahmacari, misalnya, Brahmacari, Sannyasi, pertapa, pendeta. Bagi orang-orang seperti inilah tujuan sloka itu. Nah dengan menggolongkan kitab ini hanya untuk kaum Sukla Brahmacari, maka masuk akallah jika wanita itu harus dijauhi atau dihindari.

Belakangan, seorang ahli Sansekerta Tjok Rai Sudharta, menerjemahkan Sarasamuccaya ke dalam bahasa Indonesia langsung dari bahasa Sansekerta. Tjok menyebutkan kitab ini untuk semua golongan usia, bukan hanya untuk kaum Sukla Brahmacari. Tjok Rai Sudharta menyebutkan, yang dimaksudkan oleh Wararuci tentang wanita dalam buku ini adalah wanita nakal. Karena itu wanita nakal harus dihindari, bukan semua wanita dihindari.
Di era internet belakangan ini (sekitar tahun lalu) muncul web anonim dalam bahasa Indonesia yang membuat terjemahan Sarasamuccaya. Terjemahan lumayan bagus. Dalam ayat-ayat tentang wanita, terjemahan ini menyebutkan “wanita jalang”, bahkan di setiap kata wanita jalang ada garis miring kata “lelaki hidung belang”. Yang mau dikatakan oleh penerjemah moderen ini adalah, Sarasamuccaya selain baik untuk pelajaran etika bagi semua golongan usia, juga baik untuk wanita. Karena kata wanita dalam Sarasamuccaya haruslah diartikan semua orang yang jalang atau binal, baik ia wanita maupun lelaki.
Saya kutip satu sloka, ayat 428

Bahasa Sansekerta

Nasam kascidagamyo’sti nasam wayasi niscayah, Wirupam wa surupam wa pumanityewa bhunjate

Terjemahan Kajeng dkk


Tidak ada yang tidak patut akan didatangi oleh wanita, tidak patut aku pergi ke situ, sebab keadaanku begini, akan dia itu, keadaannya begitu, patut dihormati, tidak mempunyai pertimbangan demikian wanita itu, sebaliknya dia pergi saja dan ia tidak memikirkan, apakah si anu itu orang muda atau pun orang tua, ia tidak menghiraukan, apakah tampan atau buruk. Ah, laki-laki ini, demikian saja pikirannya, pada waktu nafsu birahinya datang.

Terjemahan Tjok Rai Sudarta

Bagi seorang perempuan nakal, tidak ada yang tidak boleh didatanginya. Ia akan langsung menuju sasarannya dan ia tidak peduli apakah itu orang tua, apa orang muda. Tidak peduli dia apakah orang itu tampan atau jelek rupanya. “Ia adalah laki-laki” hanya itu yang dipikirkannya ketika perempuan nakal itu ada dalam gejolak nafsunya.
Terjemahan era internet

Tidak ada yang menjadi pantangan bagi wanita jalang/lelaki hidung belang, ia tidak membedakan apakah orang tua ataukah bocah, jika nafsu birahinya datang semua orang digoda dan diajak melakukan senggama.

Tafsir Weda di kitab terjemahan Al Quran

Ada contoh menarik lagi. Pada kitab “Al Quran dan Terjemahannya” yang diterbitkan Departemen Agama, ada dikutip kitab Weda, walau hanya beberapa baris. Kutipan itu ada di Bab Dua yang bertajuk Nabi Muhamad S.A.W pada point (b) berjudul: Kitab Weda adalah kitab untuk sesuatu golongan berisi pernyataan sebagai berikut:


Di antara pengikut-pengikut Weda, maka membaca kitab Weda itu menjadi hak yang khusus bagi kasta yang tinggi saja. Demikianlah maka Gotama Risyi berkata: “Apabila seorang Sudra kebetulan mendengarkan kitab Weda dibaca, maka adalah kewajiban raja untuk mengecor cor-coran timah dan malam dalam kupingnya, apabila seorang Sudra membaca mantra-mantra Weda, maka raja harus memotong lidahnya dan apabila ia berusaha untuk membaca Weda, maka raja harus memotong badannya. (Gotama Smrti 4).

Siapa Gotama Risyi? Tak begitu dikenal, bahkan jika pun nama ini misalnya salah dan yang benar adalah Rsi Gotama, juga tak dikenal di kalangan para penulis Smrti. Karena itu pula kitab Gotama Smrti yang dikutip dalam terjemahan Al Quran ini tak jelas memuat soal apa saja, di luar teks yang dikutip.


Dalam Weda tak pernah satu pun ada mantra yang menyebut soal kasta. Jika dihubungkan dengan istilah Sudra, Brahmana dan lainnya, itu ada di dalam ajaran Catur Warna, empat jabatan fungsional dalam masyarakat, yaitu Sudra, Wesya, Kesatria dan Brahmana. Ayat tentang “warna” ini ada banyak di dalam Weda.

Sudra adalah awal kehidupan seorang manusia, dan ketika orang itu belajar dan memanfaatkan ilmunya untuk melaksanakan fungsi sosial di masyarakat, ia bisa menjadi Wesya atau pun Kesatria. Wesya fungsi sosial yang bergerak di bidang ekonomi dan secara gampang disebut pedagang, atau mungkin lebih tepatnya swasta. Sedang Kesatria melaksanakan pengabdiannya di pemerintahan, atau sebut gampangnya pegawai negeri. Jika seorang Sudra itu tak memperbaiki kualitas pribadinya lalu mencari penghasilan dengan mengandalkan tenaga ototnya semata, maka ia tetap saja Sudra. Sedangkan Brahmana adalah fungsi sosial orang yang sudah lanjut – ia tak lagi mencari uang untuk menghidupi keluarganya karena ditopang oleh keturunannya – dan itu bisa ditempuh dari jalur Sudra, Wesya, Kesatria. Brahmana lah orang yang sepenuhnya menekuni Weda, terutama mempraktekkan mantra-mantra Weda untuk kepentingan ritual, puja-puji kepada Tuhan Yang Esa.

Nah, dalam proses belajar menjadi seorang Brahmana inilah ada berbagai ketentuan dimuat dalam Weda. Misalnya, jika mendengar ada orang yang membaca Weda, seorang Sudra (atau siapa pun) harus konsentrasi penuh. Semua suara-suara di luar pembacaan Weda itu harus dihindari, jika perlu telinga ditutup dengan timah, sehingga hanya pembacaan Weda saja yang didengar.

Kemudian kalau hasrat itu meningkat dan tidak puas hanya dari mendengar, lalu mencoba membaca sendiri Weda, seorang Sudra (atau siapapun) harus “dipotong lidah”nya. Ini simbolis, bukannya lidah dipotong tetapi ditulisi aksara suci oleh sang guru, yang secara kasat mata kelihatan seperti diiris-iris (istilah di Bali: dirajah). Proses ini sampai sekarang diteruskan, di Indonesiadisebut mewinten dan di India disebut upayana. Seseorang harus mengikuti ritual ini untuk pertamakalinya jika belajar Weda denganmembaca Weda secara langsung.
Kalau terus lagi mempelajari Weda karena ingin tuntas menjadi Brahmana sejati, maka sang guru Nabe “memotong badan” sang Sudra (arau siapapun) dengan cara simbolis. Upacara ini disebut seda raga (ritual kematian) dan beberapa saat ritual itu dinyatakan lahir kembali untuk kedua kalinya (dwijati). Pada kelahiran kedua inilah orang tersebut baru menjadi Brahmana.

Bagaimana mungkin Gotama Risyi melahirkan pernyataan yang jauh bedadari penafsiran yang umum? Mungkin ada kendala bahasa, atau ada tujuan politis, atau Gotama terpancing dengan perbedaan kelas yang memang terjadi di India dan dia kebetulan dari kasta yang tinggi. Ini pun masih dipertanyakan mengingat jumlah kasta di India banyak sekali, tidak cuma empat. Hampir setiap profesi mengikatkan diri dengan membentuk kasta, misalnya, ada kasta untuk kaum pengrajin gerabah. Sudra di pedalaman India bukanlah yang terendah karena ada lagi kasta Paria.

Tetapi yang lebih mengherankan orang Hindu termasuk saya adalah apa relevansinya kitab “Al Quran dan Terjemahannya” yang diterbitkan proyek Departemen Agama harus mengutip kitab Smerti yang kontroversial itu. Apa yang mau diinformasikan kepada pembaca muslim, pengguna Al Quran?

Boleh dikatakan dalam kasus Gotama Risyi ini,tafirnya bisa digolongkan salah menerjemahkan keindahan kata Weda. Begitu banyak soal Catur Warna ini ada disebutkan dalam Weda, ssalah satu saya kutip:
Yathenam wacam kalyanim, awadai jnebhyah
Brahmana Rajanyabhyam Cudra ya caryaya ca
Swaya carana ca
(Yajurweda XXV.2)

Terjemahannya:
Biar kuajarkan pengetahuan suci ini, kepada orang banyak. Kaum Brahmana, Kesatria, Sudra dan Waisya. Dan bahkan kepada orang asing sekalipun.

Di sini jelas semua orang bisa mempelajari Weda, termasuk kelompok Sudra, bahkan kepada orang asing, yang ditafsirkan sebagai orang yang bukan penganut Hindu. Jadi Weda bukan kitab untuk satu golongan. Sloka ini sering dijadikan pembenar pula bahwa agama Hindu sebenarnya juga agama missi, menangkis anggapan orang tua Bali di masa lalu yang menyebutkan, Hindu tidak mencari pengikut tetapi mereka datang sendiri.

Di kitab-kitab “turunan” Weda pun soal Catur Warna sering disebut, termasuk di dalam kitab Bhagawadgita. Salah satunya BG IV. 13 berbunyi:
Chatur varnyam maya srishtam, guna karma vibhagasah
Tasya kartaram api mam, viddhy akartaram avyayam

Terjemahan Nyoman S Pendit: Catur warna adalah ciptaan-Ku, menurut pembagian kualitas dan kerja. Tetapi ketahuilah walau pencitanya, Aku tidak berbuat dan mengubah diri-Ku.


Terjemahan Mohan MS:Kuciptakan keempat sistim kehidupan (chaturvarnyam), sesuaidengan pembagian guna (sifat-sifat prakriti) dan karma (aksi dan kerja).Walaupun Aku yang mencipta keempat sistim kehidupan ini, tetapiketahuilah bahwa Aku tidak bekerja dan tak pernah berganti-ganti (sifat).


Ini ulasan Mohan MS: Keempat varna adalah empat tipe kehidupan, masing-masing merupakan produk asli dari pikiran dan tindakan manusia itu sendiri yang sudah ada semenjak ia dilahirkan. Ada manusia yang ingin menjadi seorang brahmin, ada yang ingin menjadi tentara (keshatria), dan ada yang ingin menjadi pedagang dan ada yang memilih menjadi seorang buruh. Semua ini sebenarnya adalah manifestasi dari karma, pikiran dan bakat masing-masing sesuai dengan keinginan sejatinya. Harus dicamkan secara serius oleh kita semua bahwa di dalam masing-masing individu ini bersemayam Satu Tuhan dan adalah bebas bila seseorang memilih menjadi brahmin, kshatria, vaishya atau sudra. Sistim varna ini sebenarnya adalah pembagian kerja dengan konsep yang modern yang disebut kelas di negara-negara Barat. Tetapi banyak masyarakat Hindu malahan menyalah-gunakan ini demi kepentingan pribadi yang akibatnya menimbulkan diskriminasi sosial yang serius yang mengacaukan agama Hindu itu sendiri, dan menjadi bahan tertawaan orangorang luar.


Tapi Mohan MS juga berbeda menafsirkan salah satu ayat BG dibandigkan penerjemah BG lainnya. Satu contoh tafsir yang berbeda itu, misalnya, Bhagawad Gita Percakapan 4 ayat 11 (BG IV.11),  berbunyi:

 Ye yatha mam prapadyante
Tams tathai ‘va bhajamy aham
Terjemahan Nyoman S Pendit
Jalan manapun ditempuh manusia ke arah Ku, semuanya Kuterima
Dari mana-mana semua mereka, menuju jalanKu, oh Partha                   
                                                                                                                                                                           
Terjemahan Mohan MS (dipakai dalamweb resmi PHDI)
Jalan apapun yang diambil seseorang untuk mencapaiKu, Kusambut mereka sesuai dengan jalannya, karena jalan yang diambil setiap orang di setiap sisi adalah jalanKu juga, oh Arjuna!

Nah, apa pengertian jalan itu? Para penerjemah Weda seperti Ida Bagus Puja, Prof. Dr Mantra, Nyoman S. Pendit dan lainnya lagi, mengartikan jalan itu sebagai “jalan karma” atau “Karma Yogya” dan “jalan ilmu pengetahuan” atau “Jnana Karma”. Apapun yang dipilih, apakah memuja Tuhan lewat kerja atau memuja Tuhan lewat ilmu pengetahuan, semuanya diterima, karena semua jalan itu menuju ke arah Tuhan. Penafsiran yang lebih liar lagi adalah orang bisa memuja Tuhan dengan tekun melakukan pekerjaan tanpa pamrih – misalnya mengajar di tempat terpencil mencerdaskan orang-orang padahal tak pernah sembahyang – atau orang bisa mengerjakan berbagai sesajen untuk dihaturkan kepada Tuhan dalam suatu persembahan yang kasat mata. Semua diterima Tuhan.

Penafsiran seperti ini didasarkan pula pada urutan-urutan sloka BG itu, di mana sebelumnya Krishna banyak memberikan wejangan kepada Arjuna tentang berbagai jalan yang bisa digunakan untuk sampai pada-Nya, termasuk Karma Yoga dan Jnana Yogya.
Tetapi seorang guru spiritual seperti Mohan MS – beliau keturunan India tetapi sangat membaur dengan masyarakat pedesaan – menafsirkan lain. Jalan itu adalah agama atau keyakinan. Jadi, agama atau keyakinan apapun yang dipeluk manusia, tujuannya sama saja, menyembah Tuhan.

Saya kutip penafsiran Mohan MS yang lengkap dari sloka ini:

Jalan kepercayaan atau agama apapun juga yang diambil seseorang untukmencapai Yang Maha Esa adalah jalanNya juga. Jadi setiap manusia menurut Bhagavat Gita berhak untuk menentukan jalan apa saja yangdiinginkannya untuk mencapai Yang Maha Esa, dan di ujung jalan ituberdiri Yang Maha Esa menyambutnya, karena bagiNya semua jalan ituakan berakhir pada suatu ujung. Jadi tidak ada agama yang dibeda-bedakanoleh Sang Kreshna atau Yang Maha Esa, karena tujuannya baik, yaitu kearahNya semata, walaupun dalam pengertiannya manusia sering salahmengartikannya.

Bagi seorang Hindu yang sejati semua kepercayaan terhadap Yang MahaEsa dan agama adalah sama, yaitu jalan ke Yang Maha Esa semata, dantidak ada alasan lain untuk mengubah atau mempengaruhi orang yangberagama atau berkepercayaan lain untuk masuk ke agama Hindu. SeorangHindu yang baik akan selalu tunduk dan hormat melihat tempat-tempatpemujaan agama lain, karena baginya yang ia lihat adalah jalan dan tujuanyang Satu, yaitu jalannya Yang Maha Esa.

Konon, ayat ini gencar digunakan oleh kalangan missionaris di Bali di tahun-tahun 1960-1970an – ketika penafsiran BG belum banyak beredar – sehingga umat Hindu banyak beralih agama pasca meletusnya Gunung Agung yang menimbulkan penderitaan hebat di Bali. Jika digunakan kata-kata sederhana, bentuknya seperti ini: “sudahlah untuk apa beragama Hindu yang ruwet, pindah ke agama lain yang lebih simple saja, toh kitab suci Hindu membolehkan semuanya itu, agama itu hanya jalan saja.”

Penafsiran di akar rumput

Sejatinya, perbedaan penafsiran seperti contoh tadi, hampir tak punya pengaruh di kalangan masyarakat Hindu pedesaan, katakanlah kaum yang “tidak terbiasa mempelajari tatwa agama”. Dalam agama Hindu dikenal tiga kerangka dasar: tatwa, susila, acara. Tatwa adalah memahami ajaran-ajaran agama, susila adalah perilaku yang baik sebagai ciri memeluk agama, acara adalah rangkaian ritual. Penafsiran tadi (contoh dari Gotama Risyi, Mohan MS) termasuk dalam ranah tatwa, terlalu “akademis” dan diawang-awang bagi masyarakat pedesaan. Karena itu, betapa pun simpang siurnya, tak berpengaruh besar.

Lain hal kalau beda penafsiran di tataran acara atau ritual. Ini pasti jadi masalah. Lalu bagaimana umat Hindu di Nusantara ini, khususnya di Bali memecahkan masalahnya?

Parisada dan pemerintah Bali pernah melahirkan lembaga penafsir dengan menghimpun wakil-wakil Parisada di semua kabupaten dan tokoh-tokoh yang dianggap layak mempunyai ilmu dalam bidang agama. Maka lahirnya lembaga yang disebut Lembaga Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu. Lembaga ini menyelenggarakan seminar yang beruntun untuk memecahkan persoalan yang sudah dihimpun sebelumnya. Sekitar lima tahun bekerja (1973-1978) – tentu tidak sepanjang waktu – dengan 14 kali mengadakan seminar, menghasilkan 39 kesatuan tafsir dari berbagai masalah. Ada yang menyangkut tentang pedoman hari raya keagamaan, alat-alat upacara, tata busana bersembahyang, jenis dan bentuk pura dan sebagainya. Bahkan sampai diatur bagaimana seorang sulinggih atau pendeta, misalnya, disarankan tak menyetir mobil karena takut terjadi pelanggaran lalulintas, pendeta tidak etis diadili.

Tapi tak semua kesatuan tafsir ini dipatuhi masyarakat, pro dan kontra tetap saja terjadi. Namun Parisada dan Pemda Bali tetap ngotot melanjutkan kerja Lembaga ini pada tahun anggaran 1988/1989, setelah 10 tahun absen. Pada seminar ke XV itu hanya dibahas 2 hal yakni Upacara Nuntun Dewa Hyang (menuntun roh yang sudah suci setelah upacara Ngaben, di mana ditempatkan) dan Tata Cara Membangun Perumahan. Kedua hal ini dianggap mendesak, terutama ketika lahan perumahan semakin sempit di perkotaan bagaimana membangun rumah yang bertingkat.Di mana meletakkan tempat suci dan sebagainya.
Lagi-lagi hasil seminar kesatuan tafsir ini tak begitu diperhatikan, tetapi juga tak menimbulkan kehebohan. Masyarakat tetap dengan “kearifannya sendiri” tentu dengan dukungan para pendeta Hindu yang memang sulit sepakat untuk berbagai masalah – selalu ada perbedaan di sana-sini.

Dan itulah akhir dari tugas lembaga Kesatuan Tafsir itu, karena setelah 1989, lembaga itu bubar dengan sendirinya. Lalu siapa yang mengambil alih penafsiran itu? Tugas itu dibebankan kepada PHDI Pusat, karena majelis ini dianggap lebih berwewenang menafsirkan Weda dan sifatnya nasional (bukan Bali sentris) sehingga bisa diberlakukan secara nasional di seluruh Indonesia. Nah, PHDI menugaskan Sabha Walaka (himpunan para pemikir Hindu yang bukan pendeta), sebuah lembaga resmi dalam PHDI untuk menyusun apa-apa yang perlu “disatukan tafsirnya”. Kemudian setiap tahun dalam Pesamuan Agung (semacam Rakernas) hal itu dibahas bersama Sabha Pandita (himpunan para pendeta Hindu). Kalau yang dibahas memenui syarat dan memang penting “disatukan tafsirnya” lahirlah apa yang disebut Bhisama (semacam fatwa di Islam). Jadi, bhisama itu jauh lebih kuat dari hanya sekedar hasil Seminar Kesatuan Tafsir.

Sudah banyak bhisama yang dilahirkan PHDI, dari yang tidak berani dibahas Seminar Kesatuan Tafsir seperti soal Kasta dalam Hindu, sampai hal-hal yang berkaitan dengan kebijakan pembangunan seperti Bhisama Kesucian Pura. Juga ada Bhisama Soal Tabuh Rah dan Bhisama Tentang Dana Punia. Para pendeta dalam melahirkan bhisama itu sangat berpijak pada Weda, dan kupasan itu memakan energi yang luar biasa. Misalnya ketika membicarakan bagaimana kasta itu tak ada dalam Hindu dan justru bertentangan dengan ajaran Hindu, yang dibahas adalah soal Catur Warna, sehingga namanya juga Bhisama Tentang Catur Warna. Begitu pula ketika menyasar soal haramnya sabungan ayam (tajen) yang dibahas bukan sabungan ayamnya, tetapi Tabuh Rah (upacara memercikkan darah hewan) yang selama ini dianggap sebagai pembenar adanya sabungan ayam.

Ini untuk menghindari kesan PHDI mengurusi hal-hal yang bukan agama, seperti mengurusi kasta dan sabungan ayam.
Apakah bhisama ini serta merta dipatuhi umat Hindu? Tidak juga. Bhisama Tentang Dana Punia meskipun sudah lahir tahun 2002, tetap saja sulit dilaksanakan. Dalam bhisama ini disebutkan antara lain, umat Hindu wajib menyetorkan dana punia sebesar 2,5 % dari pendapatan bersih (maksudnya setelah dipotong pajak dan kewajiban pada negara). Sepuluh tahun sudah berjalan, PHDI tetap merasa sulit menerapkan bhisama itu. Hanya masalah Kasta yang lebih diikuti, itu pun sebenarnya sulit disebut karena bhisama, tetapi lebih pada kesadaran orang Bali yang tak mau lagi dikelas-kelaskan sesuai keturunan. Apalagi organisasi yang berlabel keturunan ini makin eksis dan mereka berlomba-lomba mendidik para Brahmana, pendeta Hindu, suatu hal yang di masa lalu kelas Brahmana ini dimonopoli golongan (atau tepatnya keturunan) tertentu.

Om a no bhaadrah kratavo yantu visvato, semoga pikiran yang baik datang dari segala arah.

(Makalah ini dibacakan pada Kuliah Tafsir di Komunitas Salihara Jakarta, pada 1 Desember 2012)

Marilah Membaca tentang Kebenaran yang sejati , kunjungi website resmi Mpu Jayaprema yang kita sucikan klik http://m.mpujayaprema.com/index.php

Rabu, 31 Juli 2013

Konferensi Pemuda Hindu Dunia | World Hindu Youth Conference

Konferensi Pemuda Hindu Dunia (World Hindu Youth Conference) pertama kali diadakan pada bulan maret yang lalu di di Gedung Wiswa Sabha Utama Kantor Gubernur Bali, yang meng­ambil tema "kebangkitan Pemuda Hindu Dunia dengan semangat Bhagawad Gita".

Dalam ajaran agama Hindu, masa muda atau masa remaja merupakan kesempatan hidup yang sangat berharga untuk dilewatkan/disia-
siakan begitu saja. Di dalam Sarasamuccaya karya Bhagawan Wararuci, dengan jelas menyatakan “ Karenanya usaha seseorang selagi masih muda, selagi badan kuat, supaya diabdikan untuk mengusahakan dharma, artha dan pengetahuan, sebab tidak sama kekuatan sesudah tua dibanding dengan anak muda, ibarat alang-alang yang masih muda ujungnya begitu tajam dan bisa melukai, namun alang-
alang yang sudah tua mudah rebah, ujungnyatidak tajam lagi"

World Hindu Youth Conference (WHYC) pertama ini merupakan salah satu program dari Vishva Hindu Parisad atau Parisada Hindu Dunia yang dikomandani oleh Swami Vigyanand yang bermarkas di New Dehli India, berkolaborasi dengan Komite Mahasiwa Hindu Indonesia Pusat dan Peradah yang bertujuan untuk membangkitkan semangat generasi Muda Indonesia untuk berkarya dan bekerja keras dalam persaingan era global di masa post modern.

Negara-negara yang hadir dalam WHYC adalah Amerika serikat, Inggris, Australia, Malaysia, Singapura, Republik Tonga, India, Thailand, United Arab Emirates, dan Indonesia.

Konferensi Pemuda Hindu Dunia yang pertama telah digelar tentu akan ada yang ke dua, ke tiga dan seterusnya. Pemuda Hindu sebaiknya mempersiapkan diri dengan informasi-informasi global dan bersiap ditunjuk untuk menghadiri Konferensi Pemuda Hindu Dunia selanjutnya. Mungkin itu Anda !!!.

(RANBB)

CHANNEL YOUTUBE SAYA - MOHON DI SUBSCRIBE

Cari Artikel di Blog ini

Berita Terkait Semangat Hindu

Artikel Agama Hindu

108 Mutiara Veda 3 kerangka agama hindu advaita visistadviata dvaita Agama Hindu Dharma agama islam Ajaran Hindu aksara suci om alien menurut hindu Apa yang dimaksud Cuntaka Apa yang dimaksud dengan Japa Apa yang dimaksud dengan Puja arcanam nyasa aris widodo artikel hindu arya dharma Arya Wedakarna Asta Brata Atharvaveda Atman avatara sloka babad Badan Penyiaran Hindu bagian catur weda bahasa jawa kuno bahasa kawi bahasa sanskerta Banggalah Menjadi Hindu banten hindu bali Belajar Hindu BELAJAR ISTILAH AGAMA HINDU bhagavad gita Bhagawadgita bhagawan bhuta yadnya Bimas Hindu BPH Banten brahma wisnu siwa Brahman Atman Aikyam brahmana ksatriya wesia sudra budaya bali budha kliwon sinta Bukan Heroisme buku hindu terpopuler Canakhya Nitisastra cara sembahyang hindu catur asrama Catur Brata Catur Cuntakantaka Catur Purusha Artha Catur Purusharta catur veda Catur Warna Catur Weda Cendekiawan Hindu Cinta Kasih Dalam Perspektif Hindu Dana Punia Deva adalah sinar suci Brahman Deva Brahma Deva Indera dewa dewi hindu dewa yadnya dewata nawa sanga dewi kata-kata dewi saraswati dharma artha kama moksa Dharma Santi dharma wacana Doa Anak Hindu donasi buku hindu epos mahabharata ramayana filosofi pohon bambu filsafat agama hindu ganesha Gayatri Sebagai Mantra Yoga Hari Raya Galungan Hari Raya Kuningan Hari Raya Nyepi Hari Raya Pagerwesi Hari Raya Saraswati Hari Raya Siwaratri HINDU adalah ARYA DHARMA HINDU ADALAH SANATHANA DHARMA HINDU ADALAH VAIDHIKA DHARMA Hindu Agama Terbesar di Dunia Hindu Banten Hindu beribadah di Pura Hindu Festival Hindu Indonesia hindu nusantara Hindu Tengger Hinduism Facts Hinduism the Greatest Religion in the Word Hukum Karma Ida Pedanda sakti isi catur weda Jadilah Manusia Setia Japa dan Mantram Jiwa jual buku hindu kakawin Kamasutra Keagungan Aksara Suci OM Kekawin Lubdhaka kepemimpinan jawa kuna Kerajaan Hindu Keruntuhan Agama Hindu kesadaran diri kidung dewa yadnya Kitab Suci Weda lontar Lontar Kala Maya Tattwa Maharsi Atri Maharsi Bharadvaja Maharsi Gritsamada Maharsi Kanva Maharsi Vamadeva Maharsi Vasistha Maharsi Visvamitra manawa dharma sastra Mantra Mantra Yoga manusa yadnya Meditasi Matahari Terbit Mengapa Kita Beragama menghafal sloka Mimbar Agama Hindu Moksha Motivasi Hindu Mpu Jayaprema nakbalibelog Naskah Dialog Nuur Tirtha Om or Aum one single family opini hindu moderat Panca Sradha panca yadnya Panca Yajna pandita Panglong 14 Tilem Kepitu parahyangan agung jagatkartta paras paros segilik seguluk Pasraman Pasupati Pembagian Kitab Suci Veda Pemuda Hindu Indonesia pendidikan hindu pengertian catur weda Pengertian Cuntaka penyuluh agama hindu Peradah percikan dharma Percikan Dharma Dewa Yajna phdi pinandita Pitra Yadnya Ngaben Pitrapuja potong gigi Principle Beliefs of Hinduism Proud To Be Hindu Puja dan Prathana Pujawali purana purnama tilem Purwaning Tilem Kapitu Radio online Bali rare angon nak bali belog Reinkarnasi Rgveda ritual hindu Roh Rsi yadnya sabuh mas sad darsana sad guru Samaveda sanatana dharma sang hyang pramesti guru Sang Kala Amangkurat Sang Kala Dungulan Sang Kala Galungan Sang Kala Tiga sapta rsi Sapta Timira Sarassamuscaya Sarassamuscaya Sloka sattvam rajah tamah sejarah agama hindu Sekta Hindu Semangat Hindu seni budaya hindu Sex and Hinduism siwa budha waesnawa siwa ratri Sloka sloka bhagawad gita sloka bhatara sloka Rgveda sloka yayurveda Slokantara Sloka Spiritual Bersifat Misterius spiritualitas hindu spma ribek sradha dan bhakti sri rama krishna paramahansa Sri Sathya Sai Baba Sri Svami Sivananda sumpah dalam perkara tabuh gesuri tabuh kreasi baru tabuh telu lelambatan tantri kamandaka tat twam asi tattwa susila upakara Tempat Suci Hindu tiga hubungan harmonis tri hita karana Tri kaya parisudha tri kerangka agama hindu tri mala tri pramana Triji Ratna Permata tujuan perkawinan tujuh penerima wahyu tumimbal lahir upacara hindu upacara menek deha Upanisad upaweda Utsawa Dharma Gita vaidhika dharma Vasudhaiva Kutumbakam VEDA ADALAH ILMU PENGETAHUAN SUCI vedangga Vijaya Dashami Wasudewa Kutumbhakam widhi tatwa wija kasawur wiwaha agama hindu Yajna dan Sraddha yajna dan sradha Yayurveda Yoga Kundalini