OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM

PRAKATA

Selamat Datang

Semangat Hindu merupakan blog bersama umat Hindu untuk berbagi berita Hindu dan cerita singkat. Informasi kegiatan umat Hindu ini akan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan.
Semangat Hindu semangat kita bersama.

Bersama Semangat Hindu kita berbagi berita dan cerita, info kegiatan, bakti sosial dan kepedulian, serta kegiatan keagamaan seperti ; pujawali, Kasadha, Kaharingan, Nyepi, Upacara Tiwah, Ngaben, Vijaya Dhasami dan lain sebagainya.

Marilah Berbagi Berita, Cerita, Informasi, Artikel Singkat. Bagi yang mempunyai Web/Blog, dengan tautan URL maka dapat meningkatkan SEO Web/ blog Anda.

Terima Kasih
Admin

RANBB

---#### Mohon Klik Share untuk mendukung blog ini ####---

Tampilkan postingan dengan label Hindu beribadah di Pura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hindu beribadah di Pura. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Februari 2019

Naskah Mimbar Agama Hindu Acara Talkshow Radio.

Dalam acara Talkshow atau bincang-bincang biasanya dipersiapkan naskah siaran agar dapat berjalan dengan baik dan lancar. Naskah yang dipersiapkan disesuaikan dengan tema yang akan diperbincangkan. Seperti halnya kegiatan Talkshow mengenai Mimbar Agama Hindu dengan tema Makna Sembahyang bagi umat Hindu. Berikut Admin postingkan naskah Talkshow yang dapat dipersiapkan saat acara Talkshow, sumber-sumber naskah dari literatur kami, klik disini semoga bermanfaat.


Penyiar :
Membuka acara talkshow
Penyiar :   
Apa yang dimaksud dengan bersembahyang menurut agama Hindu. Mohon penjelasannya.
Narasumber :
Pendengar yang budiman. Sembahyang atau bisa disebut puja, artinya menyembah atau memuja Tuhan, Ida SangHyang Widhi Wasa, yang disampaikan dengan mantra, baik itu mantra dalam bahasa Sanskerta ataupun bahasa daerah kita, kemudian dilakukan dengan sikap tubuh tertentu, seperti duduk bersila untuk laki-laki dan duduk bersimpuh untuk perempuan serta dengan sikap tangan tertentu.

Penyiar :     
Lalu apa yang dimaksud denan  berdoa. Mohon penjelasannya.


Narasumber : 
Sedangkan berdoa, doa berasal dari bahasa Arab yang artinya memohon, bisa dilakukan dengan bebas, tidak perlu bahasa khusus atau sikap khusus. Ada yang hanya dengan menengadahkan tangan saja atau menundukkan kepala.

Penyiar :    
Apakah bisa diuraikan arti kata Sembahyang ?
Narasumber :
Sebutan “Sembahyang” berasal dari dua kata yaitu sembah dan hyang .
Sembah adalah memberikan dengan tulus ikhlas rasa hormat atau menyajikan dengan hati yang bersih tanpa meminta imbalan. Tata krama bersembah merupakan laku layan atas dasar pengabdian. Sama sekali tidak ada unsur paksaan atau dibawah tekanan dan ancaman apapun karena laku sembah merupakan kesadaran tertinggi.
Hyang ( eyang, biyang, moyang ) adalah bibit-bibit (cikal bakal) atau inti segala sumber. Pada pengertian yang lebih luah-mendalam maknanya ialah yang menyebabkan terjadinya sesuatu keberadaan dan keadaan atau sebagai sebab atas segala kejadian.
Maka Ber-Sembahyang  adalah menyediakan atau memberikan diri secara tulus penuh kepasrahan (sukarela) untuk dihidupkan oleh Hyang Maha Kuasa (sebagai sumber inti dari segala keberadaan dan keadaan).

Penyiar :     
Lalu benarkah bersembahyang itu lama ?
Narasumber  :
Para Pendengar Radio RRI Banten yang berbahagia. Bersembahyang itu tidak lama. Segala sesuatu yang kita lakukan dengan penuh keyakinan dan ketulusan, tidak ada waktu yang relatif lama. Duduk di hadapan Hyang Widhi seharusnya kita berbahagia, gembira dan tenang, karena waktu kita memang untuk Hyang Widhi.

Penyiar :     
Bersembahyang itu  kenapa harus didahului dengan ber-Trisandya.
Narasumber   :
Ber-Trisandya termasuk dalam bersembahyang harian, karena dalam agama kita ada waktu-waktu tertentu dalam bersembahyang, yang pertama pada hari raya umum, seperi Galungan dan Kuningan, Saraswati, Siwaratri dan lain sebagainya. Kemudian yang kedua kita bersembahyang pada saat ada upacara-upacara Panca Yadnya, yang ketiga secara berkala, seperti Purnama-Tilem, Tumpek, atau Rerainan. Dan Tri Sandya dikatagorikan dalam bersembahyang harian, rutin, Nitya Karma Puja yang dilakukan tiga kali sehari yang menurut petunjuk Kitab Suci Rg Weda Mandala V sukta 54 mantra 6 dan Rg Weda Mandala VIII sukta 31 mantra 1. Ini disebut Tri Sandya  (Tiga Peralihan Waktu)

Penyiar :   
 Dalam Sastra atau kitab suci Hindu, dimana terdapat petunjuk yang berkaitan dengan Tri Sandya itu.
Narasumber   :
Petunjuk tentang Tri Sandya terdapat dalam Veda dan di dalam Taittiriya Upanisad bahwa pelaksanaan sembahyang waktunya adalah pada saat sandya (peralihan waktu, yaitu pagi, tengah hari dan menjelang malam). Demikian juga petunjuk di dalam Chandogya Upanisad; prapataka II, canda 24, mantra 1, ketiga waktu sembahyang itu disebut dengan istilah Pratah Savanam (pagi), Madyandina Savanam (tengah hari) dan Trtiya Savanam atau disebut juga Sandya Savanam (menjelang malam).

Penyiar : 
Tadi disampaikan bahwa bersembahyang itu adalah menyembah Ida Sanghyang Widhi yang diiringi dengan mantra. Apakah Mantra itu ? Mohon pencerahannya.
Narasumber  :
 Pendengar yang budiman. Salah satu kata yang paling luas dipergunakan dalam teks keagamaan yang berbahasa Sanskerta adalah Mantra. Secara etimologi Mantra didefinisikan sebagai “Itu yang melindungi” . TRA ; Melindungi, to protect, ketika diucapkan secara berulang dan direnungkan. MAN ; berpikir, merenung, to think, to reflect.
Kata Mantra mempunyai dua arti; bagian-bagian yang berbentuk puisi dari Veda dan nama-nama dan suku kata yang digunakan untuk mengidentifikasikan atau mengambil hati para Dewa. Yang pertama bersifat Veda dan yang kedua bersifat Tantrik.

Penyiar :  
Selain dengan cara Bersembahyang, kegiatan apa lagi yang merupakan bagian dari ibadah Umat Hindu ?
Narasumber :
Dalam agama Hindu, hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan Tuhan bisa dalam bentuk Yadnya dan Yoga. Pemujaan kepada Tuhan dengan penuh cinta;
bhajan, atau bhajana , dari akar bhaj = mencintai, memuja, memuji, kidung, japa bhakti secara individu atau kelompok untuk memuja Yang Suci.
Kirtana atau kirtanam = menyanyikanpujian kepada Tuhan,
Japa, salah satu dari sembilan bentuk bhakti.
Kidung-kidung yang indah itu adalah ekspresi rasa cinta dan keindahan kita kepada Tuhan, dalam aspek Saguna Brahman.
Sembahyang sebenarnya adalah bentuk dari Bhakti Yoga. Sedangkan Jnana Yoga dan Raja Yoga, meditasi (Dhyana Yoga) adalah bentuk hubungan kita dengan Tuhan dalam aspek Nirguna Brahman.

Penyiar :
Apa perbedaan masing-masing sembah pada sembahyang Panca Sembah ? mohon pencerahannya
Narasumber    :
Sembah pertama itu adalah penyucian atman, sembah kedua memohon agar Siwa Raditya berkenan sebagai saksi. Sembah ketiga, pemujaan untuk Brahman atau Istadewata, termasuk para leluhur yang setingkat dengan dewata. Sembah keempat permohonan anugrah, dan ke lima ucapan terima kasih.

Penyiar : 
Setelah bersembahyang kita mendapat Tirtha dan Bija, mohon pencerahannya Apa manfaat Tirtha dan Bija ?
Narasumber    :
Di dalam Veda disebutkan manfaat tirtha sebagai berikut :
“Bersihkan, Air, apapun dosaku, kesalahanku apapun yang telah kulakukan, kutukan apapun yang telah kukatakan, dan kebohongan apapun yang telah kuucapkan”
Tirtha adalah air suci, yaitu air yang telah disucikan dengan suatu cara tertentu; Pertama dengan cara memohon dihadapan pelinggih Ida Bhatara melalui upacara tertentu. Yang kedua dengan cara membuat (ngareka) yang dilakukan dengan mengucapkan puja-mantra tertentu, tentunya hanya oleh orang yang sudah berwenang, yaitu seorang Pandita, Pedanda, Sulinggih lainnya.
Kemudian Bija, mebija dilakukan setelah metirtha merupakan rangkaian terakhir dari suatu upacara persembahyangan. Bija atau Wija adalah lambang dari Kumara, yaitu putra atau wija Bhatara Siwa. Mabija mengandung makna menumbuh-kembangkan benih ke-Siwa-an itu dalam diri manusia.

Penyiar : Closing



Kamis, 02 Agustus 2018

Pura Dharma Sidhi Ciledug Tangerang Banten

Pura Dharma Sidhi

Gapura Bali
Pura Dharma Sidhi
SEJARAH PURA DHARMA SIDHI
Tahun 1980-1986
Pembentukan arisan umat Hindu di wilayah Ciledug dan sekitarnya. Umat Hindu dalam melaksanakan persembahyangan ke Pura Kerthajaya Tangerang dan untuk pendidikan agama Hindu dilaksanakan di Pasraman yang berada di Pura Candra Praba Jelambar. Proses belajar-mengajar pendidikan agama Hindu juga dilaksanakan di garase mobil rumah I Nyoman Darsana, kemudian dipindahkan ke lokal Yayasan Budhi Luhur.


Tahun 1987-1990
Pembentukan banjar suka-duka oleh 21 umat Hindu, tepatnya tanggal 4 Januari 1987 dengan dibuatnya Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga sebagai syarat berdirinya suatu organisasi. Susunan pengurus banjar yaitu Ketua I ketut Sumitha, Wakil Ketua I Wayan Sumantra, Sekretaris I Wayan Sukarta, dan Bendahara I Nyoman Darsana.
Pembentukan panitia pembangunan I dengan Ketua I Ketut Artha, wakil ketua I Nyoman Artha Yadnya, Sekretaris I Nengah Sudipta, Bendahara I Gusti Gde Budiarsa.
Pembelian kavling ke-1 seluas 300m2 dan pembangunan Bale pertemuan yang sekaligus sebagai pasraman untuk belajar-mengajar agama Hindu.
Tahun 1990-1993
Pembangunan Pura Dharma Sidhi  tahap 1 pada kavling ke-1 yaitu bangunan suci Bale Pertemuan, Pelinggih Padmasari, Pengrurah dan Beji.
Pembentukan panitia pembangunan II dengan Ketua I Ketut Artha yang didukung oleh seluruh umat Hindu Ciledug untuk dapat memperluas keberadaan Pura Dharma Sidhi.
Pembelian kavling ke-2 seluas 300m2 dan pembangunan tahap 2 yang merupakan pembangunan Pura Dharma Sidhi terbesar, dimana yang dibangun adalah Bale Pawedan, Bale Papelik, Kori Agung, Bale Kulkul, Taman Sari dan sarana lain.
Karya Ngenteg Linggih dan Pemelaspasan Pura Dharma Sidhi pada Budha Kliwon Ugu, tanggal 26 Mei 1993.
Tahun 1997
Pembangunan Pelinggih Padmasana, yang mana Pelinggih Padmasari menjadi inti Pelinggih Padmasana yang ada sekarang ini.  Atas petunjuk Manggala Pura, bahwasannya Kori Agung yang dibangun kurang pas dengan keberadaan pelinggih Padmasari, maka panitia pembangunan pelinggih Padmasana pun di bentuk.
Tahun 1998
Pembelian kavling ke-3 seluas 300m2 untuk pembangunan Pasraman, Wantilan dan Perantenan. Pembelian satu barung gambelan guna mendukung kegiatan Pujawali dan peningkatan apresiasi seni warga Banjar.
Tahun 2004
Pembelian kavling ke-4 seluas 600muntuk sarana parkir kendaraan yang keberadaannya semakin dibutuhkan guna memberikan kenyamanan pada setiap umat.
Tahun 2005
Pembelian kavling ke-5 seluas 300m2sebagai Nista Mandala guna sarana parkir, perantenan dan sarana pendukung lainnya, serta dapat menjaga kesucian (bagian hulu) dari pelinggih-pelinggih di Uttama Mandala.
Tahun 2015
Pelaksanaan renovasi Gedung Pasraman dengan perluasan ruang kelas sebanyak 3 (tiga) ruang kelas dan 1 (satu) ruang guru, sehingga kini Pasraman memiliki 6 ruang kelas/ belajar dan 1 ruang guru. Pada tahun ini pula dilaksanakan perapian sarana parkir kendaraan dan pembangunan sarana ekonomi umat, berupa warung yang rapi dan bersih, serta pembelian tanah kavling seluas 9 x 20 meter.

Selasa, 31 Juli 2018

PURA EKA WIRA ANANTHA SERANG BANTEN

Kata Mutiara Kitab Suci Weda
Yayurveda
PURA EKA WIRA ANANTHA

Nama Pura Eka Wira Anantha diambil dari bahasa Sanskerta Eka (satu) Wira (Ksatria) dan Anantha (tanpa akhir). Secara umum nama tersebut mencerminkan lokasi / tempat pura berada yaitu di Ksatrian Gatot Subroto Grup-1 Kopassus (Eka Wira) yang manaPura Eka Wira akanada selamanya untuk umat (Anantha). Namun dibalik nama tersebut  ada makna yang tersirat yaitu bahwa sifat ksatria (Wira) merupakan satu sikap (Eka) yang harus dianut oleh umat Hindu dalam melaksanakan dharma untuk mencapai keabadian (Anantha).


Lokasi Pura Eka Wira Anantha sangat terjangkau dan strategis yaitu terletak diantara Jakarta dan Merak. Hanya perlu waktu sekitar 20 menit dari arah Merak atau sebaliknya dari Jakarta waktu tempuhnya hanya sekitar 1 jam melalui jalan Toll Jakarta-Merak. Atau tepatnya keluar melalui pintu toll Serang Barat pada KM 66.




Sekitar 100 meter setelah keluar dari Pintu Toll Serang Barat kita bisa langsung masuk ke area Ksatrian Gatot Subroto (Kopassus Grup-1). Sebelum masuk Ksatrian Gatot Subroto, agar seluruh kaca pintu mobil dibuka dan melapor bahwa kita tangkil ke Pura Eka Wira Anatha, maka petugas akan segera memberikan izin untuk lanjut. Kemudian 50 meter dari pintu masuk Ksatrian Gatot Subroto, belok kiri setelah kolam pemancingan menuju Jl. Baladika II tempat Pura Eka Wira Anantha berada. Praktis dari keluar pintu toll Serang Barat sampai Pura Eka Wira Anantha tidak lebih dari 7 menit.


Pura Eka Wira Anantha terdiri dari tiga mandala dengan lingkungan yang sangat teduh penuh pepohonan rindang. Di area Utama Mandala terdapat Padmasana, Taksu Dewa, Penglurah, Bale Pawedan dan Bale Penyimpanan serta Tepas. Disebelah kanan Utama Mandala tersedia Taman Sari. Pada area Madya Mandala terdapat Bale Gong dan Dapur Suci. Pada area bagian barat Madya Mandala ada tempat sangat teduh dibawah Beringin Korea untuk melakukan kegiatan-kegiatan terkait pendalaman agama. Pada pojok Barat Laut berdiri Bale Kulkul.


Di area Kanista Mandala tersedia Bale Banjar (Wantilan), Dapur, Kamar Kecil, Pasraman, Rumah Penunggu Pura. Disebelah barat Wantilan terdapat Panggung Pertunjukkan untuk segala kegiatan yang bersifat profan. Seluruh area Pura Eka Wira Anantha sangat hijau  dan asri serta jauh dari lingkungan pemukiman (berada dalam area TNI) dengan area parkir sangat luas bahkan bisa menampung lebih dari 500 mobil penumpang dan 80 bus besar.


Tanpa bermaksud promosi, rasanya tidak berlebihan bila Bapak, Ibu, Para Dharmika, Para Bhakta, Jnanin dan Umat sekalian saat menuju Merak/Lampung atau menuju Jakarta dari arah Merak menyempatkan diri tangkil di Pura Eka Wira Anantha. Om Awignam Astu.


Periode Penjajagan dan Kelahiran(1970 – 1989)

Pada tahun 1970-an umat Hindu asal Bali pertama kali datang dan bekerja di daerah Serang, Cilegon dan sekitarnya. Para sesepuh ini bekerja sebagai karyawan perusahaan baja PT. Karakatau Steel (BUMN), ditugaskan sebagai TNI (Kopassus Grup-1), polisi dan sebagian sebagai PNS. Jumlah mereka tidak lebih dari 10 KK. Saat itu mereka mengadakan persembahyangan Purnama Tilem dan Hari Raya Hindu seperti Galungan, Kuningan, Saraswati dan lain-lain hanya di rumah saja atau kadang dari rumah ke rumah sekalian arisan. Tempat tinggal yang saling berjauhan dengan ekonomi yang relatif tidak terlalu besar tentu menyulitkan mereka untuk melakukan persembahyangan bersama.


Berkat keuletan mereka dan atas suecan Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta dengan prakarsa Mayor (Inf) Sang NyomanSuwisma yang didukungsepenuhnyaolehseluruhumat Hindu di KabupatenSerang, Cilegon dan Pandeglang, padatahun 1980 keluarlah izin pembangunan Pura dariDan Grup-1 Kol(Inf)Yusman. Pura tersebut diberi nama Eka Wira Ananthadibangun di lingkunganKesatrian Gatot Subroto Kopassus Grup-1 Taman Serang.


Empat tahun kemudian, pada tahun 1984, Dan Grup-1 Kol(Inf)Soenarto menawarkan lokasi yang lebih lapang dan mudah dijangkau. Lokasi pun dipindahkan dari sebelumnya berdampingan dengan tempat ibadah umat non-Hindu keposisi pura saat ini. Adapun luas area diserahkan kepada umat untuk menentukannya. Dengan pertimbangan bahwa jumlah umat relatif sedikit maka kesepakatan umat jatuh pada angka 100 x 50 m2.


Selanjutnya, pada tahun 1985 beliau memerintahkan bahkan turun tangan langsung kelapangan memimpin pendirian Pura Agung Eka Wira Anantha. Untuk mempercepat pembangunan, dibentuklah tim kecil pembangunan terdiri dari pengarah Bapak Kol. Inf. Soenarto, Bapak Serka Gde Jata dan Bapak Serka Ida Bagus Rai Astawa dengan tim pelaksana Ir. I Wayan Gde Sudama, Ir. Wayan Gosio (alm) dan Bapak Nyoman Pujawan didukung oleh Suka Duka Umat Hindu Se-Banten serta PT. Krakatau Steel dan PT. Krakatau Pipe Industry
.

Tim pembangunan bau-membau bersama umat bergotong royong ngayah meratakan tanah dan meratakan area parkir, membuat pagar keliling dari besi beton dan membangun Padmasari. Pada tahun 1989 pembangunan Padmasari dapat dirampungkan, kemudian pada Purnama Kapat bulan Novemberdilakukan Pemelaspasan Alit yang dipuput oleh Ida Pedanda Istri Pidada Keniten dari Griya Kebon Jeruk Jakarta Barat didampingi oleh  Pembina Ida Bagus Sujana dan Serati Ida Ayu Biyang Sari dari Griya Kelapa Dua Jakarta Timur.


Periode Pengembangan 1990 – 1999

Pada tahun 1990-an atas sepengetahuan & seizin DanGrup-1, Bapak Kol (Inf) Pramono Edhi Wibowo, luas area Pura diukur ulang dengan menggunakan satuan depa beliau yaitu  menjadi 55 x 109 depa, atau hampir setara dengan 50 x 100 m2.


Kemudian atas dorongan Bapak Let Kol (Inf) Ngakan Gde Sugiartha Garjita (WaDan Grup-1 Kopassus) Padmasari ex paras bali diperbarui dengan Padmasana ukir pasir hitam,  juga dibangun Bale Pepelik & Bale Kulkul.Pada area Utama Mandala dibangun Gedong Penyimpenan dan Bale Pewedan. Juga disiapkan pelataran tempat persembahyangan dan asagan tempat sesajen.


Hal khusus terkait Padmasana Pura Eka Wira Anantha adalah pependeman pada pondasi Padmasana terdiri dari batu Himalaya, serta kain putih & benang tridatu dari kuil tertua di Nepal (sumbangan dari Serda Ismujiono, pendaki Kopassus,  pendaki pertama orang Indonesia untuk Himalaya. Tinggi Padmasana = 8, 848 cm merupakan miniatur ketinggian Himalaya = 8.848 mtr. Sedangkan pependeman pada Bale Pepelik terdiri dari benang Panca datu dan batu dari puncak Jaya wijaya, sumbangan dari Kapten (Inf) Iwan Setiawan, salah seorang pendakidari Grup-1 Kopassus.


Pada area Madya Mandala, dibangun Kori Agung dan Apit Surang, pagar besi sekeliling diganti dengan beton cetak. Jalan beton setapak diperluas, penataan taman, sistem penerangan, serta penghijauan. Pembangunan Bale Gong dilengkapi lantai keramik. Serta pembuatan tempat penyimpenan perlengkapan upakara/upacara pada bagian belakang bangunan Bale Gong tersebut.

Demikian juga pagar besi pada area Kanista Mandala seluruhnya diganti dengan beton cetak. Balai pertemuan dikeramik dan ruang tunggu/penunggu Pura yang lama dibongkar dan dibangun tersendiri dibelakang Bale Pertemuan.Penyambungan sarana listrik dari  KOPASSUS serta pembuatan distribusi air untuk seluruh area Pura.


Semua pembangunan tersebut dapat terlaksana tentu atas ledang Ida Sesuhunan memberikan tuntunan dan anugrahNYA. Dalam pelaksanaan pembangunan/ pengembangan Pura Eka Wira Anantha diprakarsai dan dimotivasi oleh Bapak Kolonel Inf Pramono Edhi Wibowo (Dan Grup-1 Kopassus) dan Bapak Let Kol Inf Ngakan Gde Sugiartha Garjita selaku WaDan Grup-1. Didukung oleh para dharmika antara lain Bapak Let Jen (Pur) Ida Bagus Sudjana & Kel (Cijantung), Bapak Let Jen (Pur) Putu Sukreta Soeranta & Kel (Kelapa Gading), Bapak May Jen TNI Sang Nyoman Suwisma Kel (Cijantung),  Bapak Kol Inf Soenarko MD &Kel (Taman, Serang & Cijantung), Bapak Kol (Pur) Nyoma Suwetha Arya & Kel (Cijantung),  Bapak Kol (Pol) Mangku Made Pastika & Kel (Cijantung),  Drs Anak Agung Gde Anom Suartha & Kel (Tangerang), Bapak I Wayan Gunastra &Kel (Tebet Barat, Jakarta Timur),  Bapak Tata Suwita & Keluarga (Jakarta) beserta seluruh umat se-Dharma SEJABOTABEK (Serang, Jakarta, Tangerang, Bogor  &  Bekasi).


Para pelaksana pengembangan terdiri dari Bapak Dewa Nyoman Oka dan Made Suteja (Lampung), Bapak Wagiman dan tim (Jawa Timur). Pengawas lapangan Anak Agung Gde Raka Sutardhana dan Serka Wayan Suwanda. Pengendalian kualitas, biaya dan pelaksanaan pembangunan dilakukan oleh para sesepuh:Let Kol (Inf) Ngakan Gde Sugiartha Garjita, Nyoman Pujawan, Ir. Ketut Sukada dan Ketut Siartha.


Seluruh tahapan pengembangan tanpa disadari dapat diselesaikan tepat waktu, tepat biaya dan tepat kualitas. Selanjutnya direncanakan untuk Ngenteg Linggih, namun seminggu sebelum Ngenteg Linggih dilakukan Peresmian oleh Bapak May Jen Syahrir MS selaku Dan Grup-1 Kopassus pada hari Senin, tanggal 18 Oktober 1999.Prasasti peresmian ditulis dan ditandatangani diatas batu fosil yang khusus didatangkan dari Kabupaten Lebak Rangkas Bitung. Adapun Koordinator peresmian adalah Kapten (Inf) Ketut Gde Wetan dibantu oleh prajurit Hindu Kopassus dan Dharma Taruna/i serta umat sedharma didukung oleh Permudhita Tangerang dan IPHB Provinsi Banten. Tetabuhan dari Banjar Tangerang.


Karya Agung Ngenteg Linggih dilaksanakan pada hari Soma Pon Wuku Sinta tanggal 25 Oktober 1999, dipuput oleh Ida Pedanda Istri Pidada Keniten (Ciwa) dari Griya Kebon Jeruk Jakarta Baratdan Ida Pedanda (Budha) Gde Nyoman Jelantik Oka dari Griya Cimanggu Bogor. Tingkat upacara yang diaturkan adalah madyaning utama dengan nyatur rebah, kerbau sebagai titi mah-mah serta pecaruan manca kelud, dengan ulam caru kambing, asu belang bungkem, angsa, ayam dan bebek bulu sikep.

Sebagai koordinator pelaksana Ngenteg Linggih dipercayakan kepada Ir. Made Pastiarsa M.Eng yang mana mulang pependeman dilakukan oleh May Jen Sang Nyoman Suwisma (Padmasana), Ir. Wayan Gde Sudama MM, PhD (Bale Pepelik), Let Kol (Inf) Ngakan Gde Sugiartha Garjita (Pengelurah) dan Ir. Wayan Gosio, MM (Taksu Dewa). Adapun Pinandita yang diwinten adalah: Pinandita Made Sudiada, (Griya Serdang, Cilegon), Pinandita lanang & Istri Gde Jata (Bayangkara, SERANG), Pinandita lanang& Istri A.A.Gde Raka Sutardhana (Cilegon) dan Pinandita Nyoman Artawan (Keramat Watu, Serang).


Periode Penyempurnaan(2000 – Sekarang)

Pura Eka Wira Anantha adalah satu-satunya Pura di Wilayah Banten yang dilengkapi dengan Tri Mandala, oleh karenanya dijadikan sebagai Pura Jagatnatha Provinsi Banten, yang mana kegiatan-kegiatan melibatkan wilayah tingkat provinsi seperti Tawur Agung Kesanga dipusatkan di Jaba Utara Pura Eka Anantha.  Sebagai informasi untuk umat Hindu di seluruh Nusantara, bahwa seluruh kegiatan keagamaan dikoordinasikan oleh PHDI Provinsi Banten dan dalam pelaksanaannya dilakukan oleh 6 Banjar yang merepresentasikan 6 Pura yang ada di Provinsi Banten.


Sebagai Pura Jagatnatha Provinsi Banten, Pura Eka Wira Anantha terus disempurnakan paska Ngenteg Linggih. Penyempurnaan dilakukan pada area yang relatif lebih “shoft” yaitu penataan Asta Kosala Kosali, pembangunangedung sekolah agama (Pasraman Eka WiraAnanthadan PAUD BalaDhika), penataan taman, perluasan jalan melingkari Pura, penataan air dan listrik, perluasan area parkir di depan area Pura, revitalisasi bale banjar, penataan tempat pertunjukan serta pembangunan rumah untuk penunggu Pura.


Pada tahun 2006 atas berkenan Ida Pedanda Nabe Gede Putra Sidemen, dilakukan pengukuran ulang batas utara-selatan dan timur barat untuk area Utama dan Madya Mandala mengacu pada perhitungan Asta Kosala Kosali.  Berbasis pada perhitungan tersebut, kemudian dilakukan penyempurnaan genah Kori Gelung, Apit Surang serta Pintu Masuk Pura diubah yang tadinya dari arah samping (barat) dipindah menjadi dari arah selatan.


Pemelaspasan Pemedang Agung (Kori Gelung), Bale Pawedan dan Taman sari dilakukan pada Anggara Kasih tanggal 14 Oktober 2008. Candi Bentar di Madya Mandala dipelaspas pada Purnamaning Kapat Anggara Paing tanggal 11 Oktober 2011. Dua tahun kemudian dilakukan pemelaspasan Candi Bentar Kanista Mandala pada Purnamaning Sadha Redite Pon tanggal 23 Juni 2013 dan Pemerayastita Penyengker Utama Mandala pada Purnamaning Kapat Saniscara Umanis tanggal 19 Oktober 2013.


KETUA SUKA DUKA BANJAR  SERANG

SUMBER : WWW.PHDIBANTEN.ORG
 

Selasa, 22 Agustus 2017

Majapahid : Manunggal Jawa Dwipa Hindu Dharma

Majapahid : Manunggal Jawa Dwipa Hindu Dharma

Pelantikan dan Pengukuhan Pengurus Majapahid Nusantara DPD Banten Masa Bakti 2017-2022, bertema “Dengan Pelantikan Pengurus Majapahid Nusantara DPD Banten Kita Mantapkan Srada Dan Bhakti Guna Menyonsong Kebangkitan Hindu Masa Depan”.


Diawali dengan Doa Pembuka, Tari Gambyong sebagai tari penyambutan, kemudian dilanjutkan sambutan-sambutan Ketua Panitia, Ketua Banjar Tangerang Selatan, Sambutan Ketua PHDI, dan Pembimas Provinsi Banten,  kemudian dilakukan pelantikan Pengurus baru oleh DP Majapahid Pusat.

Harjanto S.Pd.H sebagai Ketua Pengurus Majapahid DPD Banten, dengan dewan penasehatnya, Bapak Surono, S.Pd.H, Bapak Aris Wibowo SE, S.Ag. M.Pd, Ir. Ketut Suada MM dan Putu Gita S.Ag, MM.

Salah satu Program Kerja paguyuban ini adalah  memberikan pelayanan kepada Umat Hindu di provinsi Banten dalam hal Dharma Wacana saat-saat Pujawali bila diperlukan.
Dengan anggota 60 orang yang tersebar di Serang, BSD, Tangerang dan Tigaraksa. Bersekretariat PJG Tangerang Selatan.


Dalam Dharma Wacananya Romo Broto Sejati sebagai panutan umat Hindu di Nusantara memberikan tuntunan kepada umat Hindu khususnya Hindu Jawa agar senantiasa tetap menjaga warisan leluhur kita. Bahwasanya kebangkitan Hindu semakin nyata kita rasakan, untuk itu masyarakat Hindu agar mampu meningkatkan pemahaman Tattwa , Susila dan Upakara dengan baik. Menimba Ilmu agama dan Mengamalkan ilmu-ilmu agama Hindu, yang merupakan ajaran Dharma. 

Senin, 03 Oktober 2016

Pura Nirwana Jati Dan Pura Di Jawa Timur

Pura Nirwana Jati terletak di Dusun Sekelor, Kecamatan Balong Bendo Sidoarjo. Pura ini disungsung oleh kurang lebih 16 KK Umat Hindu asli etnis Jawa.Pura ini mengalami proses yang cukup berliku, akhirnya astungkara Pura ini dapat berdiri dan selesai tahun 2011. Pura ini dipimpin oleh seorang pemangku asli Jawa yaitu Mangku Sampan.

Pura Agung Blambangan yang ada di Kecamatan Muncar merupakan pura terbesar di Kabupaten Banyuwangi. Pura ini sering dikunjungi umat Hindu Bali terutama saat merayakan Hari Raya Kuningan.

Pura Penataran Luhur Medang Kamulan terletak di Dusun Buku Desa Mondoluku Kecamatan Wringinanom Kabupaten Gresik Provinsi Jawa Timur. Semoga semua junjungan menganugerahi kehidupan abadi, semoga berhasil sesuai keinginan kita bersama dan selalu mengampuni segala kekurangan maupun keterbatasan kami sebagai hamba NYA.

Pura Mandara Giri Semeru Agung salah satu Pura mbak-mbak mejeng di depan Pura Mandara Giri Semeru Agung. Setiap akhir pekan ada saja rombongan yang berkunjung ke pura ini. Kebanyakan pengunjung adalah dari pulau seberang, pulau Bali. Dan acara paling ramai yang diselenggarakan disini adalah pada saat ulang tahun pura (Piodalan).

Pura Agung Jagad Karana terletak di jalan Gresik-Surabaya atau di Jalan Ikan Lumba-Lumba No 1, Perak Barat, Krembangan dekat dengan Museum Loka Jala Srana Sehingga membuat ibadah lebih hikmat dan tenang. Lokasinya jauh dari keramaian sehingga membuat suasana tempat ini tenang dan hikmat.

Pura Jala Siddhi Amertha, Juanda-Sidoarjo. Seperti bangunan suci umat hindu di tempat lain. Pura yang berlokasi di Juanda Sidoarjo ini juga terlihat sangat besar dan indah.

Pura Sunialoka terletak di Dusun Tangjung Rejo, Desa Kebon Dalem, Kecamatan Bangorejo, Kabupaten Banyuwangi. Pura ini letaknya di atas bukit bebatuan yang disebut Gunung Sari, dan di sebelah Gunung Sari terdapat sebuah bukit yang lebih tinggi yang disebut Gunung Srawet yang dikelilingi hutan jati dengan aura terasa angker.

Pura Natar Sari. Terletak di Dusun Kali Wadung, Desa Kali Gondo, Kecamatan Genteng, Kabupaten Banyuwangi. Pura ini dapat dicapai sekitar satu jam perjalanan dari Pura Agung Blambangan ke arah barat laut menuju lereng Gunung Raung. Pura ini dibangun sekitar tahun 1967 oleh sekelompok masyarakat setempat yang masih kuat memegang keyakinan leluhur. Walaupun pada saat itu mereka mengalami intimidasi yang kuat oleh golongan tertentu. Namun di tengah tekanan dan intimidasi, mereka masih memiliki keyakinan akan keagungan agama leluhur.



Pura Candi Purwo diadakan setiap Purnama Ketiga, sesuai dengan pesan Prabu Brawijaya lima ratus tahun yang lalu,

PURA LUHUR POTEN (pura yang berada di lautan pasir). Pura ini menjadi pusat kegiatan pemujaan dalam rangka yadnya kesada dan kegiatan keagamaan Suku Tengger. Pura Luhur Poten sebagai tempat pemujaan kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam Prabhawa sebagai Batara Brahma. Pura ini disungsung oleh ribuan umat di kawasan Tengger yang terdiri dari desa-desa pegunungan seperti desa Argosari, Ngadisari, Ngadas, Sukapura, Tosari, Wonokitri, dll., yang tersebar di empat kabupaten yakni Lumajang, Probolinggo, Pasuruan, dan Malang.

Pura Penataran Agung Kilisuci Kediri dikunjungi pada kali kedua kami ke Kawasan Wisata Gua Selomangleng, sesaat setelah meninggalkanMuseum Airlangga. Karena letak Pura Penataran Agung Kilisuci ini bersebelahan dengan Museum Airlangga, maka kami hanya berjalan kaki menuju ke lokasi pura saat matahari sudah mulai naik sepenggalah.

Kunjungi site Bimas Hindu Jatim http://bimashindujatim.blogspot.co.id/

Kamis, 21 Januari 2016

Pura Parahyangan Bhuana Raksati

Pura Parahyangan Bhuana Raksati, berlokasi di Desa Sodong, Tigaraksa Tanggerang Banten. Selain Pura Parahyangan Bhuana Raksati ini, di propinsi Banten telah ada Pura Dharma Sidhi di Parung Serab Ciledug Tangerang , Pura Kertajaya di Kota Tangerang, Pura Eka Wira Anantha Taman Serang di Kopassus grup 1 Serang Banten, Pura Merta Sari di Rempoa serta Pura Parahyangan Jagatguru di Bumi Serpong Damai (BSD).

Propinsi Banten dengan kota-kotanya telah memiliki Pura Hindu, tempat umat Hindu melaksanakan persembahyangan,mengucapkan Puji-Syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Kuasa,  kegiatan keagamaan, kegiatan sosial kemasyarakatan, kegiatan sosial, kegiatan pendidikan agama  hindu.

 

RATUSAN UMAT HINDU SEJABODETABEK, BERKUMPUL DI DESA SODONG, TIGARAKSA, TANGERANG BANTEN, GUNA MELAKUKAN PENGGALANGAN DANA PEMBANGUNAN PURA PARAHYANGAN BHUANA RAKSATI. SEJUMLAH ACARA MENARIK DIGELAR SEPERTI PEMENTASAN TARI PUSPA WRESTI, TARI TENUN, PAGELARAN MUSIK HINGGA DHARMA WACANA .

Berikut nama dan alamat Pura di Propinsi Banten

Pura Dharma Sidhi, Ciledug , 1993 

  • Jl. Pasraman No. 28-29 Komplek Kav. P & K Parung Serab Ciledug Tangerang
  • Ngenteg Linggih pada 11 Juli 1990, Pujawali Budha Kliwon Ugu
  • Lokasinya Klik disini Fotonya Klik disini
Pura Parahyangan Jagat Guru, Bumi Serpong Damai –

  •  Depan Cluster Catalonia, Sektor 14,5, Nusaloka BSD City
  • Ngenteg Linggih pada 19 Oktober 2014, Pujawali Redite Umanis Ukir
  • Lokasinya Klik disini Fotonya Klik disini
Pura Eka Wira Anantha, Serang, 1999 

  • Komplek Kopassus Group I Taman, Serang Banten
  • Ngenteg Linggih pada 25 Oktober 1999, Pujawali Purnama Kapat
  • Lokasinya Klik disini Fotonya Klik disini
Pura Kerthajaya, Tangerang

  • Jl. Pasar Baru No 102 Tangerang
  • Pujawali pada Saniscara Kliwon Tumpek Krulut.
  • Lokasinya  Klik disini Fotonya Klik disini
Pura Merta Sari, Rempoa, 1982 

  • Alamat : Jl. Kenikir No. 20 Rt.006/Rw.009 Kelurahan Rempoa – Bintaro. Telp. 021-7421161
  • Ngenteg Linggih pada 14 Juni 1984, Pujawali pada Purnamaning Sasih Sadha.
  • Lokasinya Klik disini Fotonya Klik disini

Sabtu, 09 Januari 2016

MAHA SIWA RATRI

MAHA SIWA RATRI. 
Berikut saya kutipkan sepotong isi Siwa Purana yang bermuatan tentang asal muasal malam pemujaan kepada Dewa Siwa.               

Pada awal penciptaan, semesta ini suniya, yang ada hanya Brahman.   Brahman yang diluar jangkauan pikiran, oleh para sidhaatma, para sadhu diungkapkan dengan ”neti-neti”, bukan ini bukan itu.   

Berikutnya nampak air dimana-mana dan diatas lautan yang maha luas berbaring Dewa Wisnu dengan sangat santainya.  Disatu tempat Dewa Brahma mengadakan perjalanan sambil mencari informasi siapakah dirinya, dari mana asalnya.   

Dalam kebingungan tersebut Dewa Brahma bertemu dengan dewa Wisnu, yang bertangan empat bersenjatakan cakra sudarsana, sankha, gada dan padma. Dewa Brahma bertanyakepada Dewa Wisnu ” Siapakah anda gerangan, berada ditempat ini?  Dewa Wisnu  menjawab, ”Nak kamu adalah ciptaanku”.   

Dipanggil dengan sebutan ”nak”, dewa Brahma merasa tidak puas, sehingga terjadilah perdebatan sengit, sehingga mengarah kepada pertikaian.   Peristiwa tersebut berlangsung terus, hingga jangka waktu lama.    



Suatu malam hari yang gelap gulita tiba-tiba muncul balok cahaya cemerlang dengan ukuran besar dan sangat panjang.   Kemunculan cahaya yang terang benderang tersebut membuat kedua dewa yang sedang bersitegang, menjadi terperangah.   

Dewa Wisnu berprakarsa mengajak Dewa Brahma berhenti bersitegang, bersama-sama mencari tahu siapa atau apa sesungguhnya cahaya cemerlang tersebut.    Yang lebih dulu mendapatkan informasi adalah pemenangnya.    Mereka sepakat dan Dewa Wisnu mengambil wujud seekor angsa melesat keatas, Dewa Brahma mengambil wujud seekor babi menukik kebawah.   Ribuan tahun berlalu, namun keduanya belum menemukan ujung atau pangkal cahaya tersebut, sehingga akhirnya dalam kelelahan keduanya kembali ketitik semula.    

Dewa Wisnu dengan jujur mengatakan bahwa tidak menemukan ujung dari cahaya tersebut. Dewa Brahma dengan menyodorkan setangkai bunga capaka atau ketaki, mengatakan bahwa sudah menemukan pangkal cahaya tersebut.   

Ketika dialog sedang berlangsung tiba tiba terdengar dengingan suara OM.... bergitu panjang dan merdu dan dari dalam cahaya tersebut muncul satu sosok baru yang kemudian dikenal sebagai Dewa Siwa atau Mahadewa.    Dewa Wisnu kemudian berkata ”rupanya anda muncul karena, pertengkaran kami berdua, siapa anda”.     Dewa Siwa menjawab, ”Kita bertiga adalah bagian dari yang tunggal, dengan tugas masing-masing.   

Brahma sebagai pencipta, Wisnu sebagai pemelihara ciptaan dan tugasku pada waktunya mengembalikan semuan ciptaan tersebut keasalnya.   Karena Brahma sudah berbohong, mengatakan sudah menemukan pangkal dari cahaya ini, maka kupastu agar Brahma tidak banyak dipuja umat manusia.   Demikian juga bunga capaka/ketaki yang dijadikan sarana berbohong kupantangkan untuk dijadikan sarana pemujaan kepadaku”.     

Setelah Dewa Siwa berkata demikian, Dewa Brahma dan Dewa Wisnu sujud menyembah Dewa Siwa, yang selanjutnya gaib kedalam balok cahaya.   Dari sini muncul tradisi pemujaan kepada Dewa Siwa, setiap malam yang paling gelap dalam kurun waktu tertentu.     Balok cahaya tersebut adalah joytir linggam, yang merupakan lingga pemujaan ditempat Dewa  Siwa pernah memberikan pemunculan ”darshan”.   

Diseluruh India terdapat 12 joytir linggam, satu diantaranya di Kedarnath temple, dimana Dewa Siwa Muncul dihadapan Panca Pandawa yang melakukan tapasya pengampunan perasaan berdosa atas pembunuhan yang mereka lakukan selama Bharata yudha.     Ditempat ini juga Sri Adi Sangkara acharya mokhsa setelah menyelesaikan tugas memurnikan ajaran Siwa pakca.                                       

Pastu yang didapat Dewa Brahma ternyata terbukti, dimana hingga saat ini di India sangan sedikit dijumpai mandir pemujaan Dewa Brahma, sedangkan dimana-mana dijumpai dengan mudah Wisnu dan Siwa Mandir.
    
Di lingkungan kita, melaksanakan upacara dan brata Ciwaratri, yang pertama kita ingat adalah karya mahakawi Mpu Tanakung tentang Lubdhaka, dalam kekawin Siwaratrikalpa.    ”Lubdaka” adalah tokoh pengejar kenikmatan duniawi, bahkan untuk mencapainya tidak segan melakukan himsa-karma.  

Dalam konteks kekinian, tokoh Lubdaka bisa jadi telah numitis menjadi Lubdaka kontemporer. Reinkarnasi menjadi orang yang tidak pernah puas dengan harta dan tahta yang didapat.   

Menjadi pemburu gunung, hutan, danau, teluk, dan laut, dengan tujuan mengeruk dan menumpuk keuntungan, tanpa memperhatikan kelestriannya.    Walau saya yakin semeton pengayah adalah orang-orang yang berhati ikhlas.   

Namun demikian malam pemujaan kepada Dewa Siwa, perwani tilem sasih kepitu, sepatutnya kita jadikan malam perenungan, sehingga menyadari kemungkinan adanya  dosa dosa yang telah dilakukan dalam kurun waktu 12 perwani yang lalu.   

Barangkali dapat menemukan jauh dalam diri masih tersembunyi Lubdaka kecil.    Sadar akan dosa, dan berupaya  untuk tidak mengulagi lagi, merupakan salah satu syarat cairnya dosa tersebut.
 
Selamat melaksanakan bratha Siwaratri, semoga anugrah Dewa Siwa menyucikan hidup ini.  OM shanti, shanti, shanti OM.

sumber copas #group PAJK GN Salak

Jumat, 04 September 2015

Swara Hindu Dharma

Swara Hindu Dharma, Menjaga Sradha Menebar Dharma. 


Umat Hindu di Kabupaten Kulonprogo berkumpul di pura atau tempat Ibadahnya yang disebut Sanggar Panepen Parahyangan Tirto lanceng. Ini yang berbeda dengan diwilayah – wilayah D.I.Yogyakarta seperti Gunungkidul, Sleman, Bantul dan Kota Yogyakarta yang biasa tempat sucinya disebut Pura tetapi berbeda dengan di Kabupaten Kulonprogo umat Hindunya menyebut tempat ibadahnya dengan Sanggar Penepen Parahyangan. 


Umat Hindu yang ada di Kabupaten Kulonprogo merupakan masyarakat local atau asli orang local bukan pendatang seperti yang ada di Kabupaten Bantul yang merupakan orang – orang Bali. Mereka tinggal di pegunungan yang memang jauh dari akses perkotaan serta tempat ibadahnya juga masih baru dibangun dan masih berupa Padmasana, Linggam dan arca Semar.

Untuk meningkatkan sradha dan bhakti umat Hindu yang terdapat di Kabupaten Kulonprogo, maka Bimas Hindu Kanwil Kementerian Agama D.I.Yogyakarta melaksanakan kegiatan pembinaan Agama dan Keagamaan. Dalam pelaksanaan kegiatan pembinaan Agama dan Keagamaan, Ida Bagus Wika Krishna, S.Ag, M.Si selaku Bimas Hindu Kanwil Kementerian Agama D.I.Yogyakarta memberikan pengarahan. 

Dalam pengarahannya beliau mengharap kepada umat Hindu yang ada di Kulonprogo untuk terus semangat dalam menjalan ibadahnya dan selalu menjaga local genius yang ada di daerah tersebut, seperti dalam melaksanakan ibadah atau bersembahyangan untuk menggunakan mantra dan juga sesajinya supaya tetap menjaga tradisi yang sudah berjalan.

Pelaksanaan kegiatan tersebut hadir I Wayan Sumerta sebagai lembaga PHDI D.I.Yogyakarta, bapak Wayan Budriana sebagai PHDI Kabupaten Kulonprogo. Pada kesempatan itu juga bapak Wayan Budriyana yang memohon bantuannya kepada lembaga ataupu terkait untu ikut memberikan pembinaan terhadap umat Hindu yang ada di Kabupaten Kulonprogo serta memberikan pemahaman dan wawasan tentang agama Hindu, agar keyakinan umat yang ada di Kulonprogo kian meningkat dan tambah bersemangat dalam meyakini agamanya yang dianutnya.

sumber berita http://www.swarahindudharma.com

Senin, 04 Mei 2015

Pura Agung Jagat Natha Kalimantan Selatan

Suasana sakral terpancar saat peninjuan dan peresmian Pura Agung Jagat Natha, tempat ibadah umat Hindu Kalsel, di kawasan Jalan Gatot Subroto Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Sabtu (2/5/2015) petang.



Upacara Agnihotra atau upacara persembahan atau pemujaan dengan media penyalaan api membuat suasana sakral. Sejumlah pejabat Kalsel, menyaksikan langsung upacara tersebut, seperti Gubernur Kalsel H Rudi Arifin, Danrem 101 Antasari, Wakil Ketua DPRD Provinsi Bali I Gusti Alit Putra, Kepala Kanwil Kemenag Kalsel HM Tamrin, Pemimpin Umum Banjarmasin Post Group H (P) Rusdi Effendi AR, Pemimpin Redaksi Yusran Pare, Ketua FKUB Kalsel HM Fadhly Mansur, Sekretaris FKUB Kota Banjarmain H Irhamsyah Safari, Wakil Wali Kota Banjarmasin Iwan Ansyari dan ratusan umat Hindu dari Kalsel.

Suasana seperti di Bali juga terasa kuat di peresmian Pura Agung Jagat Natha. Ratusan umat Hindu memakai baju safari dan kebaya khas Bali. Saat pembukaan iring-iringan gamelan gong Bali menyambut kedatangan Gubernur Kalsel HM Rudi Arifin. Tamu-tamu yang masuk diberi selendang warna kuning untuk dipakai sebagai simbol akan masuk ke tempat yang suci. Setelah Rudy Ariffin duduk, tamu dihibur oleh tarian penyambutan tamu yakni Tari Panyembrahma oleh sanggar. Ratusan tamu undangan pun tampak terpukau dengan tarian khas Bali tersebut. Lirik mata, senyum, keceriaan dari setiap penari yang membawakan tarian ini membuat mata tamau seakan tak berkedip. Tarian Panyembrahma tampak sangat seirama dengan musik, atau gamelan, hentakan kaki, gemulai tangan, kelembutan jari jemari, gerakan tubuh serta goyangan pinggul dari para penari.

HM Rudy Ariffin, dalam sambutannya menyatakan, keberadaan Pura Agung Jagat Natha menunjukkan adanya kebersaman yang selalu dijunjung antara umat beragama di Kalsel. Menurut Rudy, satu bulan lalu dirinya meresmikan kantor Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Banjarmasin. Umat GKI di Kalsel paling minim, justru yang besar itu di Kalbar, Kalteng dan Kaltim. "Namun malah kantor pusatnya di Banjarmasin. Ini membuat saya terharu," ucap Rudi. 

Dijelaskan Rudi, selama dua periode memimpin Kalsel atau hampir 10 tahun, alhamdulillah belum pernah ada konflik etnis atau agama di provinsi ini. Ini menunjukkan toleransi antara umat beragama di Kalsel sangat tinggi. Dijelaskan Rudy, filosofi pemerintah adalah tidak memihak mayoritas atau minoritas. Namun pemerintah itu berdiri di tengah-tengah semua agama dan memberikan rasa aman, ketenangan dan pengayoman. "Mari semua umat beragama di Kalsel bersatupadu untuk membangun Kalsel tercinta ini," pinta Rudy. Sumber berita : http://bali.tribunnews.com

Rabu, 10 September 2014

Pembangunan Pelinggih Ratu Gede Dalem Peed

Semeton umat Hindu yang nangkil ke Parahyangan Agung Jagatkartta Tamansari Gunung Salak, tentunya akan bersembahyang ring Pelinggih Ratu Gede Dalem Peed Gunung Salak. Berikut sekilas tentang Pelinggih Ratu Gede Dalem Peed yang admin kutip dari buku Parahyangan Agung Jagatkarta Bogor Jawa Barat, Pujawali IX, 9 September 2014. Lihat video KSDHD Banjar Ciledug Ngiring Pekuluh.

Saat melaksaksanakan upacara ngenteg linggih, telah dibangun pelinggih darurat Pesimpangan Ratu Gede Dalem Peed, di depan kanan Pelinggih candi. Pada awal tahun 2010, kondisi pelinggih penyawangan yang bersifat darurat tersebut, mulai mengusik rasa estetika para pengayah. Melalui rapat Yayasan disepakati  (bila ada kemampuan) untuk membangun pelinggih permanen di lokasi yang sesuai masterplan,mengikuti petunjuk manggala pura.



Rupa-rupanya ada umat dari Jakarta yang terketuk hatinya untuk menghaturkan punia dalam bentuk pelinggih yang dimaksud. Gayung bersambut dan akhirnya pelinggih tersebut (berupa dua gedong) dapat direalisasikan beberapa hari sebelum pujawali ke lima, purnamaning sasih ketiga tahun 2010.

Bersamaan dengan pembangunan pelinggih Ratu Gede Dalem Peed, juga dilaksanakan pembangunan  turap belakang kedua pelinggih tersebut. Dana yang digunakan bersumber dari dana SCR Bank Mandiri dan punia umat. Dengan memanjatkan puja dan puji angayu bagya, bangunan suci ini dapat dipelaspas serta dilanjutkan dengan upacara mendak nuntun sehari sebelum upacara pujawali ke lima, bulan agustus 2010.

Dengan upacara tersebut maka secara spiritual Ratu Gede Dalem Ped sudah melinggih ajeg di Parahyangan Agung Jagatkarta. Atas petunjuk Jro Mangku Lingsir Pura Dalem Ped Nusa Penida, Pelinggih disini secara resmi disebut Pelinggih Ratu Gede Dalem Peed Gunung Salak. (RANBB)

Rabu, 20 Agustus 2014

Pura Agung Sangga Bhuwana Kerawang

Pura Agung Sangga Bhuwana

Pura Agung Sangga Bhuwana Kerawang berlokasi di Komplek Rumah Ibadah, Perumahan Resinda Karawang 41361. Pura Agung Sangga Bhuwana dibangun di atas tanan seluas 2.065 m2, dengan pelinggih-pelinggih utama adalah Pelinggih Padmasana, Anglurah dan Taman Sari, juga sebuah Pasraman.

Pura penataran Agung Sangga Bhuwana adalah satu-satunya Pura yang berada di Kabupaten Karawang, terletak di area strategis di lingkungan Perumahan  Elit Resinda Karawang. Pura ini sangat mudah di akses, hanya berjarak kurang lebih 4 km dari Gerbang Tol Karawang Barat.

Pura Agung Sangga Bhuwana yang berada di komplek Perumahan Resinda, Desa Purwadana Kecamatan Telukjambe Timur .





Ngiring tangkil ngaturang bakti ring Ida Hyang Widhi, niki pura ring Bandung dan Bogor.

KOTA CIMAHI – BANDUNG
1. Pura Wira Satya Loka

Alamat : Cimahi – Bandung
Telepon : 022 - 6640019
Pujawali :
Pemangku Gede : Made Wirawan
BEKASI
1. Pura Agung Tirta Bhuana

Alamat : Jl. Jatiluhur I, Jaka Sampurna, Kalimalang, Bekasi – Barat.
Telepon : 021 – 8840965.
Pujawali : Tumpek Landep
Pemangku : Mangku Made Mudhita (HP.081316895054)
KERAWANG
1.  Pura Penataran Agung Sangga Bhuwana

Komplek Rumah Ibadah, Perumahan Resinda Karawang 41361
Telepon : 0267 - 600638
Pengurus Pura :  Sang Made Sudiarta (Ketua Panitia Pembangunan Pura)
dan Ketua Sabha Walaka Parisada Kab. Karawang)Tlp 0812 991 7517
BOGOR
1.  Pura Raditya Dharma

Alamat : Komplek TNI – AD (Ditbekang), Cibinong
Telepon :
Pujawali : Rabu Kliwon Dungulan (Galungan)
Pemangku Gede : Nyoman Susila.
2.  Pura Giri Kusuma

Alamat : Komplek IPB Baranangsiang IV, Bogor Baru – Bogor
Telepon :
Pujawali : Purnama Sasih Kapat
Pemangku Gede :
3.  Pura Parahyangan Agung Jagat Kartha

Alamat : Desa Tamansari – Gunung Salak – Bogor
Telepon : 0251 – 485775
Pujawali : Purnama Sasih Ketiga
Pemangku Gede :
4.  Pura Cikuray – Bogor

Alamat : Asrama Bali Cikuray, Jl. Raya Cikuray No. 10 , Bogor.
Telepon :
Pujawali : Sabtu Watugunung (Saraswati)
Pemangku Gede :
5. Pura Loka Arcana

Komplek TNI - AL Ciangsana, Gunung Putri, Bogor,
Contact Person : Bapak Ketut Teken Marsma (Purn)08161693441

Jumat, 07 Februari 2014

Tari Rejang Pujawali Pura Dharma Sidhi Ciledug

Tari Rejang Pujawali Pura Dharma Sidhi Ciledug.  

Tari Wali yang sakral tari Rejang Dewa saat Pujawali Pura Dharma Sidhi Ciledug yang ditarikan oleh anak-anak remaja STHD Ciledug. Pujawali pura Dharma Sidhi pada Budha Kliwon Ugu, rabu 5 februari 2014, banyak umat Hindu dari Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi dan Tangerang yang rawuh tangkil ngaturang bakti.


Tari Rejang Dewa adalah simbol Widyadari yang menuntun Bhatara turun ke dunia. Tarian yang memiliki gerak tari yang sederhana dan lemah gemulai, ditarikan oleh penari putri (pilihan maupun campuran dari berbagai usia) yang dilakukan secara berkelompok atau massal di halaman pura pada saat berlangsungnya suatu upacara.

Tari Rejang Pujawali Pura Dharma Sidhi Ciledug di youtube :



Kamis, 06 Februari 2014

Topeng Bondres Pujawali Pura Dharma Sidhi


Topeng Bondres Pujawali Pura Dharma Sidhi Ciledug Tangerang Banten. Pujawali Pura Dharma Sidhi Ciledug pada Budha Kliwon Ugu, Rabu 5 Februari 2014 kemarin, selain menampilkan Tari Wali Topeng Sidha Karya dan Tari Rejang juga diawali dengan topeng bondres. Para penari Bondres  dengan yang dilengkapi dengan aneka topeng lucu sangat mengibur umat Hindu yang hadir.

Topeng Bondres yang dihadirkan diawal Pujawali Pura Dharma Sidhi ini melantunkan tembang-tembang geguritan dan banyolan, sentilan dan lelucon. Sejarah singkat Dalem Waturenggong disampaikan pada malam itu. 

Topeng Bondres Pujawali Pura Dharma Sidhi Ciledug Tangerang Banten di youtube :


RANBB

Minggu, 02 Februari 2014

Nuur Tirtha Ke Pura Tribhuana Agung Depok Timur

Hindu Banten
Rig Veda
Pura Tribhuana Agung Depok Timur. Sebagai warga banjar Ciledug, tepatnya Kerama Suka Duka Hindu Dharma Banjar Ciledug Tangerang Banten, telah menjadi keharusan untuk selalu mensukseskan acara-acara yang diselenggarakan banjar, lebih-lebih dalam pujawali Pura Dharma Sidhi sebagai Panembahan kita warga banjar. Pujawali yang akan dilaksanakan pada 5 Februari 2014, Budha Kliwon Ugu merupakan kegiatan perayaan hari 'kelahiran' sebuah tempat ibadah Hindu. Pujawali sering disebut Piodalan, Odalan, Wali, yang bisa datangnya enam bulan sekali atau satu tahun sekali berdasarkan kalender Bali. Pujawali memang puncaknya pada hari Rabu 5 Februari, namun sebagai sebuah 'tradisi' yang telah dijalankan oelh umat Hindu di Jakarta dan sekitarnya yaitu untuk Nuur Tirtha ke sejumlah pura dilingkungan jakarta.


Bagi Admin, kesempatan ngaturangayah di saat pujawali menjadi hal yang sangat membanggakan, mempunyai nilai spiritual yang tinggi. Dalam pujawali pula kita umat Hindu bisa berinteraksi dengan sesama umat di seluruh Jabodetabek. Interaksi yang akan meningkatkan rasa persaudaraan diantara umat Hindu. Pada kesempatan ini Admin dapat tugas Nuur Tirtha ke Pura Tribhuana Agung Depok. Kesempatan untuk bisa tangkil dan bersembahyang selalu mendorong keinginan Admin, kesempatan yang sangat baik untuk meningkatkan spiritual dan kehidupan bermasyarakat di rantau.

Terkumpul beberapa Photo dan Lokasi Pura yang telah Admin kunjungi baik dengan sepeda sambil gowes pagi maupun saat-saat ngaturangayah baik saat pujawali pura tersebut.

Semoga dapat bermanfaat bagi semeton Hindu yang baru merantau ke Jakarta dan sekitarnya. Orang Bali yang selalu menjaga budayanya dimanapun berada. Orang Bali lebih mengutamakan kesatuan dan persatuan dalam setiap gerak langkahnya. Orang Bali memikirkan tempat di "alam sana" dikedituane yang lebih utama daripada di dunia ini. (RANBB)

Selasa, 28 Januari 2014

Puja Tri Sandya Ring Pura Dharma Sidhi


Vidio Puja Tri Sandya ring Pura Dharma Sidhi ini tiang buat untuk semeton Hindu dimanapun berada. Puja Tri Sandya dengan gambar video Pura Dharma Sidhi Ciledug, sungsungan titiang. Untuk audio tiang ambil dari yang sudah ada sebelumnya, mohon ijin kepada pemilik audio tersebut. Adapun pura Dharma Sidhi terletak di Kecamatan Ciledug Kodya Tangerang Propinsi Banten. Berikut adalah prasasti yang ada di lingkuangan pura Dharma Sidhi.


Pura Dharma Sidhi menurut prasasti yang  tertulis sebagai berikut , “ Om Awighnam Astu Namo Sidham, Pada hari ini  Budha Kliwon Ugu Sasih Sada, tanggal 26 Mei 1993 tahun caka 1915, Karya Agung Ngenteg Linggih dan Pemelaspasan PURA DHARMA SIDHI  Kecamatan Ciledug Kodya Tangerang
 
Prasasti kedua tertulis “ Dengan Berkat dan Rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa, Pada Hari ini Rabu Tanggal 26 Mei 1993 Pura Dharma Sidhi Kecamatan Ciledug Kota Madya Tangerang “ Diresmikan Oleh Walikota Madya Kepala Daerah Tingkat II Tangerang Drs H. Djakaria Machmud, Disaksikan Oleh Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu dan Budha Drs. I Gusti Agung Gede Putra. (RANBB)

Senin, 25 November 2013

Tempat Suci Sebagai Obyek Wisata

Tempat Suci Sebagai Obyek Wisata





Banyak sekali tempat suci berbagai agama yang menjadi obyek wisata. Beragam hal yang menarik bisa dilihat wisatawan. Ada mengenai artsitekturnya, sejarahnya, lokasi tempatnya berdiri yang begitu indah, atau gabungan dari unsur-unsur  itu.

Orangyang ke Roma (Italia) pasti berniatmengunjungi Kota Suci Vatikan.Kota Vatikan adalah salah satu obyek wisata menarik di dunia. Wisatawan mengagumi arsitekturnya, koleksi yang bersejarah, tentu pula suasana religius untuk wisatawan yang beragama Katolik. Karena ini adalah tempat suci, tak semua ruangan bisa dimasuki wisatawan. Kapel Sistina, misalnya, di mana para kardinal berkumpul pada saat pemilihan Paus yang baru, tak bisa dimasuki wisatawan. Pada hari-hari tertentu keagaman Katolik beberapa bangunan juga steril dari pengunjung.

Di India, tempat suci umat Hindu pun menjadi obyek wisata yang menarik, tak hanya dikunjungi oleh pemeluk Hindu. Bahkan ada masjid atau tempat suci umat Islam yang menjadi obyek wisata yang penuh sesak pengunjung. Yakni Taj Mahal yang terletak di Agra. Arsitekturnya sangat dikagumi orang.
Di dalam negeri begitu banyak tempat suci di luar tempat suci umat Hindu yang jadi obyek wisata. Bukan saja pura yang dikunjungi wisatawan, juga masjid, gereja dan wihara. Masjid Istiqlal di Jakarta tiap hari (kecuali Jumat) dikunjungi pelancong yang tak semuanya beragama Islam. Ini masjid terbesar di Asia Tenggara yang dibangun oleh Presiden Soekarno pada 21 Agustus 1951. Arsitektur masjid bertingkat lima ini justru dibuat oleh penganut Kristen Protestan yaitu Frederich Silaban.

Masyarakat non-Muslim yang berkunjung ke masjid ini sebelumnya mendapat pembekalan informasi mengenai Islam dan Masjid Istiqlal, seperti halnya wisatawan yang berkunjung ke Pura Besakih mendapat informasi dari pemandu wisata. Tentu ada aturan yang harus dipatuhi, misalnya, melepas alas kaki, tidak merokok dan berlaku sopan. Saya beberapa kali berkeliling ke sini terutama melihat perpustakaannya. Kebetulan di masjid ini juga berkantor berbagai ormas Islam.

Masjid Kudus yang lebih dikenal dengan nama Masjid Menara Kudus, juga menjadi daya tarik wisatawan. Masjid yang dibangun tahun 1530oleh Sunan Kudus (nama asli Ja’far Sodiq)ini memanfaatkan peninggalan kuil Hindu yang dijadikan menara masjid, sampai kini. Bahkan karena memakai peninggalan budaya Hindu, Sunan Kudus meminta masyarakatnya untuk tidak menyembelih sapi, menghormati agama Hindu yang memuliakan sapi. Sampai sekarang tak ada penyembelihan sapi di Kudus, di sana yang terkenal daging kerbau. Kalau pun ada dijual sate sapi, daging sapi itu didatangkan dari Pati. Masjid Menara Kudus dijadikan lambang perpaduan harmonis budaya Hindu dan Islam dengan arsitekturnya yang tinggi. Saya berkali-kali ke masjid ini.

Masjid Agung Demak pun menarik bagi wisatawan. Ini masjid peninggalan Wali Songo yang dibangun tahun 1479. Masjid ini mengungkap banyak sekali sejarah Islam di Tanah Jawa selain arsitekturnya yang sangat dikagumi dengan begitu banyak tiang penyangga. Kisah unik adalah pembangun soko guru (tiang utama) masjid. Sunang Bonang membuat tiang di bagian barat lau, Sunan Kalijaga di timur laut, Sunan Ampel di tenggara, Sunan Gunung Jati di barat daya. Satu dari tiang utama ini tidak memakai kayu yang utuh, tetapi potongan-potongan kayu yang direkatkan begitu saja.

Masjid Menara Kudus dan Masjid Agung Demak sudah masuk ke dalam destinasi pariwisata nasional. Dalam rencana induk kepariwisataan nasional 2011-2026 masjid-masjid ini masuk dalam KPPN (Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional) dan belum berhasil masuk ke dalam KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional). Tinggal menunggu giliran saja.

Gereja Katedral Jakarta yang berdiri kokoh di sebelah utara Lapangan Banteng Jakarta setiap hari dikunjungi banyak wisatawan. Bahkan gereja umat Katolik yang bangunannya bergayaarsitektur neo-Gotik ini dijadikancagar budaya nasional.  Ini membuat gereja itu terpelihara dengan baik dan koleksinya terus bertambah. Kita di Bali jangankan menjadikan Pura Besakih sebagai cagar budaya, untuk dijadikan warisan budaya dunia saja menolak, bahkan kini masuk KSPN juga ditolak. Takut kesuciannya luntur, padahal terbukti gereja dan masjid terkenal tak pernah takut kesuciannya luntur hanya karena wisatawan.

Tentu ada bagian-bagian yang suci dan bagian-bagian yang bebas untuk dinikmati. Gereja Katedral Jakarta yang dibangunpada 1891 ini dilengkapi museum yang padat dikunjungi wisatawan.  Salah satu yang menarik, misalnya, bagian yang menyimpan busana rohaniawan Katolik, mulai dari jubah, topi, kasula berbagai warna. Kasula adalah lapisan terluar busana yang dikenakan rohaniwan Katolik. Warna kasula yang dikenakan seorang pastor memiliki makna tertentu. Kasula berwarna putih biasanya dipakai untuk ibadah sehari-hari, sedangkan ungu dan merah digunakan untuk acara duka seperti misa tutup peti dan paskah.

Hal serupa juga saya lihat ketika mengunjungi vihara yang disebut-sebut sebagai terbesar di Asia, yaitu Maha Vihara Duta Maitreya di kota Batam. Banyak sekali ornamen yang digunakan oleh para bhiku dalam ritual maupun pernik-pernik ritual itu sendiri. Pengunjung bahkan bisa membeli replikanya untuk kenang-kenangan.

Belajar dari sejumlah tempat suci non-Hindu yang jadi obyek wisata dan mau dikembangkan menjadi kawasan strategis pariwisata, saya lalu membayangkan Pura Besakih menjadi tempat suci yang juga kawasan strategis pariwisata. Boleh saja Pura Besakih tak perlu dijadikan cagar budaya seperti Kaderal Jakarta, karena kita takut. Atau tetap menolak dijadikan warisan budaya dunia seperti Taj Mahal dan sebagainya, karena kebetulan pendaftarannya sudah selesai. Namun, sekiranya Besakih mau dimasukkan dalam KSPN “Besakih – Gunung Agung dan Sekitarnya” dan kemudian terbentuk Badan Otorita Besakih, maka pura ini akan bersinar kesuciannya dan menjadi obyek wisata yang menarik.

KSPN Besakih itu yang  dibangun pusat, hanya jalan lokal ke hutan lindung untuk melindungi flora dan fauna. Namun karena target wisata adalah tempat ibadah atau peninggalam masa lalu, dana dari pusat bisa dikelola Badan Otorita untuk membangun hal-hal di luar areal suci. Seperti halnya Katedral yang areal kebaktiannya tak bisa dimasuki turis, Pura Besakih tak bisa dimasuki turis pada bagian manda utama (jeroan). Semua jeroan tak boleh dimasuki apalagi yang mahasuci Penataran Padma Tiga. Apapun alasannya, jika tidak bersembahyang, tak boleh masuk ke sana. Nah di luar itu lorong-lorong dibangun yang bagus. Wantilan Besakih di jaba bisa dijadikan museum (atau membangun yang baru), pamerkan berbagai sarana ritual, dokumentasi yadnya dan – meniru Katedral – pamerkan busana sembahyang. Kalau walaka (orang biasa) bagaimana busananya, kalau pemangku bagaimana, kalau sulinggih bagaimana pernik-pernik dan artinya itu. Sekarang ini banyak yang tak tahu apa arti warna ketu (bawa) sulinggih, apa arti genitri dan sebagainya.

Kesucian Besakih tak akan ternoda kalau kita meniru Katedral. Juga meniru masjid-masjid, di mana saat  sholat Jumat tak boleh ada kunjungan turis. Nanti di Besakih diperlakukan pula, saat ada Panca Wali Krama dan sejenisnya Pura Besakih ditutup untuk wisatawan. Besakih jadi semakin suci (dibandingkan sekarang) dan semakin tertata rapi jika Badan Otorita mau menata lingkungannya. Dana KSPN bisa ditarik untuk ini. Tapi kalau KSPN sudah ditolak, ya sudahlah, kita akan tetap melihat Besakih yang semerawut seperti sekarang, pedagang merangsek sampai lorong-lorong dan turis seenaknya masuk Penataran asal memakai kain. Kita kekurangan dana mengelola tempat suci ini jika hanya mengandalkan Pemda. Mengurusi sampah upacara saja sulit.
sumber : http://m.mpujayaprema.com/index.php/?x=r&i=286

CHANNEL YOUTUBE SAYA - MOHON DI SUBSCRIBE

Cari Artikel di Blog ini

Berita Terkait Semangat Hindu

Artikel Agama Hindu

108 Mutiara Veda 3 kerangka agama hindu advaita visistadviata dvaita Agama Hindu Dharma agama islam Ajaran Hindu aksara suci om alien menurut hindu Apa yang dimaksud Cuntaka Apa yang dimaksud dengan Japa Apa yang dimaksud dengan Puja arcanam nyasa aris widodo artikel hindu arya dharma Arya Wedakarna Asta Brata Atharvaveda Atman avatara sloka babad Badan Penyiaran Hindu bagian catur weda bahasa jawa kuno bahasa kawi bahasa sanskerta Banggalah Menjadi Hindu banten hindu bali Belajar Hindu BELAJAR ISTILAH AGAMA HINDU bhagavad gita Bhagawadgita bhagawan bhuta yadnya Bimas Hindu BPH Banten brahma wisnu siwa Brahman Atman Aikyam brahmana ksatriya wesia sudra budaya bali budha kliwon sinta Bukan Heroisme buku hindu terpopuler Canakhya Nitisastra cara sembahyang hindu catur asrama Catur Brata Catur Cuntakantaka Catur Purusha Artha Catur Purusharta catur veda Catur Warna Catur Weda Cendekiawan Hindu Cinta Kasih Dalam Perspektif Hindu Dana Punia Deva adalah sinar suci Brahman Deva Brahma Deva Indera dewa dewi hindu dewa yadnya dewata nawa sanga dewi kata-kata dewi saraswati dharma artha kama moksa Dharma Santi dharma wacana Doa Anak Hindu donasi buku hindu epos mahabharata ramayana filosofi pohon bambu filsafat agama hindu ganesha Gayatri Sebagai Mantra Yoga Hari Raya Galungan Hari Raya Kuningan Hari Raya Nyepi Hari Raya Pagerwesi Hari Raya Saraswati Hari Raya Siwaratri HINDU adalah ARYA DHARMA HINDU ADALAH SANATHANA DHARMA HINDU ADALAH VAIDHIKA DHARMA Hindu Agama Terbesar di Dunia Hindu Banten Hindu beribadah di Pura Hindu Festival Hindu Indonesia hindu nusantara Hindu Tengger Hinduism Facts Hinduism the Greatest Religion in the Word Hukum Karma Ida Pedanda sakti isi catur weda Jadilah Manusia Setia Japa dan Mantram Jiwa jual buku hindu kakawin Kamasutra Keagungan Aksara Suci OM Kekawin Lubdhaka kepemimpinan jawa kuna Kerajaan Hindu Keruntuhan Agama Hindu kesadaran diri kidung dewa yadnya Kitab Suci Weda lontar Lontar Kala Maya Tattwa Maharsi Atri Maharsi Bharadvaja Maharsi Gritsamada Maharsi Kanva Maharsi Vamadeva Maharsi Vasistha Maharsi Visvamitra manawa dharma sastra Mantra Mantra Yoga manusa yadnya Meditasi Matahari Terbit Mengapa Kita Beragama menghafal sloka Mimbar Agama Hindu Moksha Motivasi Hindu Mpu Jayaprema nakbalibelog Naskah Dialog Nuur Tirtha Om or Aum one single family opini hindu moderat Panca Sradha panca yadnya Panca Yajna pandita Panglong 14 Tilem Kepitu parahyangan agung jagatkartta paras paros segilik seguluk Pasraman Pasupati Pembagian Kitab Suci Veda Pemuda Hindu Indonesia pendidikan hindu pengertian catur weda Pengertian Cuntaka penyuluh agama hindu Peradah percikan dharma Percikan Dharma Dewa Yajna phdi pinandita Pitra Yadnya Ngaben Pitrapuja potong gigi Principle Beliefs of Hinduism Proud To Be Hindu Puja dan Prathana Pujawali purana purnama tilem Purwaning Tilem Kapitu Radio online Bali rare angon nak bali belog Reinkarnasi Rgveda ritual hindu Roh Rsi yadnya sabuh mas sad darsana sad guru Samaveda sanatana dharma sang hyang pramesti guru Sang Kala Amangkurat Sang Kala Dungulan Sang Kala Galungan Sang Kala Tiga sapta rsi Sapta Timira Sarassamuscaya Sarassamuscaya Sloka sattvam rajah tamah sejarah agama hindu Sekta Hindu Semangat Hindu seni budaya hindu Sex and Hinduism siwa budha waesnawa siwa ratri Sloka sloka bhagawad gita sloka bhatara sloka Rgveda sloka yayurveda Slokantara Sloka Spiritual Bersifat Misterius spiritualitas hindu spma ribek sradha dan bhakti sri rama krishna paramahansa Sri Sathya Sai Baba Sri Svami Sivananda sumpah dalam perkara tabuh gesuri tabuh kreasi baru tabuh telu lelambatan tantri kamandaka tat twam asi tattwa susila upakara Tempat Suci Hindu tiga hubungan harmonis tri hita karana Tri kaya parisudha tri kerangka agama hindu tri mala tri pramana Triji Ratna Permata tujuan perkawinan tujuh penerima wahyu tumimbal lahir upacara hindu upacara menek deha Upanisad upaweda Utsawa Dharma Gita vaidhika dharma Vasudhaiva Kutumbakam VEDA ADALAH ILMU PENGETAHUAN SUCI vedangga Vijaya Dashami Wasudewa Kutumbhakam widhi tatwa wija kasawur wiwaha agama hindu Yajna dan Sraddha yajna dan sradha Yayurveda Yoga Kundalini