OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM

PRAKATA

Selamat Datang

Semangat Hindu merupakan blog bersama umat Hindu untuk berbagi berita Hindu dan cerita singkat. Informasi kegiatan umat Hindu ini akan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan.
Semangat Hindu semangat kita bersama.

Bersama Semangat Hindu kita berbagi berita dan cerita, info kegiatan, bakti sosial dan kepedulian, serta kegiatan keagamaan seperti ; pujawali, Kasadha, Kaharingan, Nyepi, Upacara Tiwah, Ngaben, Vijaya Dhasami dan lain sebagainya.

Marilah Berbagi Berita, Cerita, Informasi, Artikel Singkat. Bagi yang mempunyai Web/Blog, dengan tautan URL maka dapat meningkatkan SEO Web/ blog Anda.

Terima Kasih
Admin

RANBB

---#### Mohon Klik Share untuk mendukung blog ini ####---

Sabtu, 20 Oktober 2018

Kualitas Satwika Yadnya

Om swastiastu
Sambil negak ngiring wenten sedikit info ...

Untuk Yajna yg berbentuk persembahan akan tergolong kualitas Satwika bila yadnya dilaksanakan berdasarkan :

1. Sradha artinya Yajna dilaksanakan dengan penuh keyakinan
2. Lascharya yaitu Yajna dilaksanakan dengan tulus ikhlas tanpa pamrih sedikitpun
3. Sastra bahwa pelaksanaan Yajna sesuai dengan sumber sumber sastra yang benar
4. Daksina yaitu Yajna dilaksanakan dengan sarana upacara serta punia kepada pemuput yadnya atau manggala yadnya
5. Mantra dan Gita yaitu dengan melantunkan doa doa serta kidung suci sebagai pemujaan
6. Annasewa artinya memberikan jamuan kepada tamu yg menghadiri upacara. Jamuan ini penting karena setiap tamu yg datang ikut berdoa agar pelaksanaan Yajna berhasil. Dengan jamuan maka karma dari doa para tamu undangan menjadi milik sang yajamana.
7. Nasmita bahwa Yajna yang dilaksanakan bukan untuk memamerkan kekayaan dan kemewahan

Saking buku bahan ajar Acara Agama Hindu. IHDN Denpasar

Matur suksma

Artikel singkat ini cocok untuk dishare ring WA grup semeton, singkat padat dan jelas … durus COPAS

Kamis, 27 September 2018

Sarassamuscaya Sloka 391

Pitrayana - Dewayana
Sarassamuscaya Sloka 391

panthanau pitrayanasca devayanasca visrutan, janminah pitrayanena devayanena moksina.

Rwa tika marga ngaranya, hana pitrayana, hana dewayana, ika sang grhasthakarma, sang makanusthana puja, pancayajnadi, pitrayana, ngaranika marga tinutnia, kunang ika sang nistrsna, tyaktaparigraha, kewala atinggal, dewayana ngaranika marga tinutnira.

Artinya

Adalah dua jalan yaitu pitrayana dan dewayana; laksana sang grihastha, yaitu melakukan puja seperti pancayadnya, jalan yang dianut itu namanya pitrayana; orang yang telah meninggalkan keduniawian, yaitu yang telah dengan ikhlas meninggalkan anak, istri dan kekayaan, dewayadnya nama bahwa ada dua jalan yang dilalui oleh orang-orang yogi menuju ke tempat akhir; jalan yang pertama disebut "dewayana", nenyebabkan orang yang melaluinya setelah sampai di tempat tujuan tidak kembali lagi ke dunia yang fana, sedangkan jalan yang kedua disebut "pitrayana" ditempuh oleh jalan yang akan balik kembali; untuk jelasnya dipersilahkan memeriksa dan membaca sloka (dari Bhagawadgita VIII 4 dan 26), "tyaktaparigraha", harta kepunyaan , anak-anak dan istri jadi berarti; "yang ditinggalkan pergi harta kepunyaan serta anak-anak dan istrinya." "Kewalatinggal" dan "kewala" + "atinggal" "kewala" berarti pula semu, suluruh, segala, "atinggal"  = meninggalkan; kewalatinggal dapat dianggap keterangan lebih lanjut dari "tyaktsparigraha".

Ulasan
Bahwa sesungguhnya pitrayana dan dewayana sangat erat kaitannya karena sebelum sampai ke dewayana harus melalui pitrayana dulu. Dalam.hidup ini kita melewati kehidupan dari para leluhur terlebih dahulu baru kemudian orang tua kita dan baru sampai pada kita semua.
Pitrayana dan dewayana dilakukan dengan cara panca yadnya agar apa yang telah kita nikmati ini adalah anugrah dari beliau semuanya.

Rabu, 05 September 2018

Satassamuscaya Sloka 369

Mrtyu-Tuha-Pati
Satassamuscaya Sloka 369

nausadhani na sastrani na homana punarjapah, trayante mrtyunopetan jaraya vapi manavam.

Tatan tamba, tan mantra, tan homa, tan japa, wenang manulung sakeng pati, manukala mrtyu, punah punah mantroccarana; pawaluywaluyning koccaranan sang hyang mantra, japa ngaranya.



Artinya
Bukan obat, bukan mantra, bukan korban api, bukan japa (ucapan mantra komat-kamit berulang-ulanh), sanggup menolong, membebaskan seseorang dari mati, atau dapat menangkis maut, sia-sialah ucapan mantra itu ucapan mantra berulang-ulang disebut "japa".

Ulasan
Bahwa sesungguhnya orang yang melakukan perbuatan, berkata dan berpikir baik adalah mereka sadar akan bekal dikemudian hari, bukan japa yang dilakukan berulang-ulang namun tidak.dapat mengimplementasikan dalam.kehidupan ini. Oleh karena itu hendaklah japa itu harus dilakukan.bersamaan dengan diaplikasikan dalam hidup ini agar lebih bermakna. Dengan demikian antara japa.dan implementasi harus selaras dan seimbang sehingga manfaat yang akan didapat lebih berhasil dalam kehidupan nyata ini.

Selasa, 28 Agustus 2018

Purwakarma Sarassamuscaya Sloka 361

Purwakarma
Sarassamuscaya Sloka 361

anyaduptam jatamanyadityetannapapadyate, upyate bhuvi yadvijam tattadeva prarohati.

Lawan ikang wastu inipuk, tan patuwuh ika len sangkerikang inipuk, mangkana tikang purwakarma, yatika tinut ning phala kabhukti dlaha.



Artinya
Dan barang sesuatu yang ditabur dain dibiakkan, tidak akan tumbuh lain daripada bibit yang ditabur itu; demikianlah purwa-karma (perbuatan pada waktu hidup dulu) itulah yang menimbulkan hasil yang dikenyam kemudian.

Ulasan
Bahwa sesuatu yang timbul dari perbuatan merupakan buah hasil yang ditabur atau ditanam pada waktu dulu, yang hasilnya dinikmati pada kehidupsn sekarang ini. Oleh karena itu taburlah.benih-benih kebajikan yang banyak agar kelak kemudian akan menghasilkan buah hasil yang bisa dinikmati dengan senang dan bahagia. Demikian kehidupan ini merupakan buah dari kehidupan yang dahulu ditanam dengan kebajikan tanpa mengharapkan akan hasil sehingga baru saat ini dinikmatinya.

Jumat, 24 Agustus 2018

Buku Hindu Referensi Bacaan Anak Bali

Om Swastiastu
Sebagai Rare Angon Nak Bali Belog yang suka nge-Blog, tentunya memiliki beberapa literatur atau pustaka atau sumber-sumber bacaan. Apalagi Rare Angon Nak Bali Belog yang Blog-nya berhubungan dengan Agama Hindu, Seni Budaya Bali, Kesusastraan Hindu, Cerita Rakyat Bali, tentunya membutuhkan pustaka buku-buku Hindu sebagai pendukungnya. Rare Angon Nak Bali Belog senantiasa menerima dengan senang hati kritik dan saran yang disampaikan Semeton Bali ataupun pengunjung Blog Rare Angon ini, agar kedepan Blog Rare Angon semakin banyak manfaatnya. Walaupun pekerjaan asli Rare Angon Nak Bali Belog bukan berhubungan dengan Kesusastraan atau Agama Hindu, tetapi sedikit banyak ada Seni dan Design, yang membutuhkan pengetahuan Agama Hindu, sebagai 3d maker dan artist impressions, erat kaitannya dengan jiwa Seni dan Budaya. 

Astungkara sejak seneng nge-Blog titiang bisa menulis buku, buku karya titiang memang untuk intern, belum ada penerbit yang menerbitkan yaitu :
  1. BUKU SEJARAH BERDIRINYA PURA DHARMA SIDHI CILEDUG, 2015
  2. BUKU IDA PANDITA DHARMA PUTRA PASEBAN, SEBUAH BIOGRAFI, 2017





Buku-buku Hindu yang Rare Angon Nak Bali Belog miliki dan dipergunakan dalam Blog Rare AngonBlog Nak Bali Belog ataupun Blog Radio Nak Bali adalah sebagai berikut :


Angka
  1. 108 Mutiara Veda Untuk Kehidupan Sehari-hari Oleh DR. Somvir , Penerbit Paramita Surabaya, 2001 
  2. 12 Kumpulan Dongeng Hindu Putu Sugih Arta, Penerbit: Paramita Surabaya, 2008

A
  1. Arti Dan Makna Sarana Upakara Dan Filofofis Perkembangan Penjor Pinandita, Drs. I Ketut Pasek Swastika. 2011
  2. Asia Tenggara Masa Hindu-Budha George Coedes, Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2010  
  3. Ayu Manda I Made Iwan Darmawan, Penerbit: Grasindo Jakarta, 2010
  4. Arti Menjadi Seorang HINDU Bagiku Sikha SV, Penerbit: Media Hindu, 2011 
  5. Ajaran Agama Hindu, Makna Upacara Pawetonan Drs. I.B. Putu Sudarsana, MBA.MM, Penerbit: Yayasan Dharma Acarya Percetakan Mandara Sastra, 2004 
  6. Ajaran Agama Hindu, Acara Agama Drs. I.B. Putu Sudarsana, MBA.MM, Penerbit: Yayasan Dharma Acarya Percetakan Mandara Sastra, 2003 
  7. Atma Prasangsa, Memahami Kematian Dalam Tradisi Budaya Bali IB Putra Manik Aryana, SS, M.Si, Penerbit: Bali Aga Sinar Ilmu Dari Bali, 2008 
  8. Aneka Rupa Pidarta Basa BaliI Nengah Tinggen, Penerbit: Rhika Dewata, Singaraja, 1993 
  9. Ajaran Abadi UPADESMRTA Sri Srimad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada, Penerbit: Hanuman Sakti, 2011
  10. Atmabodha Pengetahuan Diri Untuk Kedamaian Tertinggi Sankaracharya, Penerbit Media Hindu, Editor : Ngakan Putu Putra, 2014 
  11. ALIEN MENURUT HINDU, L.B. Arya Lawa Manuaba, Penerbit Nilacakra, 2018

B
  1. Bukan SORGA bukan NERAKA, Oleh Nyoman Putrawan, Penerbit Majalah Hindu Raditya, 2006
  2. Bagaimana Menjadi HINDU Satguru Svaya Subramuniyaswami, Editor Ngakan Made Madrasuta, Penerbit: Media Hindu, 2006
  3. Babad Bali Baru Sejarah Kependudukan Bali 1912-2000 , N.Putrawan Penerbit Manikgeni, 2008 
  4. Bali Is Bali Gde Aryantha Soethama, Penerbit: Arti Foundation, 2003
  5. Basa Basi Bali Gde Aryantha Soethama, Penerbit: Arti Foundation, 2004 
  6. Banyak Kehidupan Banyak Guru -Many Lives Many Masters DR. Brian L. Weiss, M.D, Editor Ngakan Putu Putra, Penerbit: Media Hindu 
  7. Butir-Butir Indah Wacana Para Maharsi, Kesehatan & Meditasi Matahari Terbit (Tingkat Lanjut) Gede Arsa Dana, Penerbit Paramita Surabaya, 2007 
  8. BHAGAVADGITA Nyoman S.Pendit, Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2002
  9. Bali Menggugat Putu Setia, Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) Jakarta, Cetakan Pertama, Februari 2014  
  10. Bali Tenget Gede Agus Budi Adnyana, penerbit Gandapura Bali 2012
  11. Bhagawadgita, Alih Bahasa dan Penjelasan. Prof. Dr. I.B.Mantra, Penerbit ESBE

C
  1. CHINA KATHA - IV Kisah dan Perumpamaan dikutip dari Wacana Suci Bhagawan Sri Sathya Sai Baba, Penerbit Yayasan Sri Sathya Sai Baba Indonesia

  1. Dinamika Budaya HINDU DHARMA di Indonesia Penyunting I Gusti Ngurah Bagus Forum Penyadaran Dharma Duta Wacana University Press 2000
  2. Dokter Bali Spesialis Penyakit Leak I Balian Putus Mengobati Tanpa Obat Menyembuhkan Tanpa Kambuh, Oleh Mangku Alit Pekandelan Drs. I Wayan Yendra, Penerbit Paramita Surabaya, 2008
  3. Dosa Menurut Hindu Batasan Umat Dalam Beringkah Laku Demi Mencapai Moksha, Oleh  Ayu Rini, Penerbit Paramita Surabaya, 2011
  4. Da Nakonang Adan Tiange Pupulan Cerpen Mabhasa Bali Agung Wiyat S.Ardhi, Penerbit: Sanggar Bhadrika Ashrama Keramas, 2009 
  5. Dialog Dengan Penghuni Sorga, Sebuah Perjalanan Rohani Melalui Kehidupan dan Kematian James Van Praagh, Penerbit: PT. Media Dharma Indonesia, 2010 
  6. Doa-Doa Anak Hindu Djendra Pura, Penerbit: Dharma Pura Denpasar, 2010 
  7. Desa Adat Kesatuan Masyarakat Hukum Adat di Propinsi Bali I Made Suasthawa Dharmayuda, Penerbit: Upada Sastra, 2001 
  8. Dresta Sima Agama, Ngangge Basa Bali I Gusti Agung Oka, Penerbit: CV. Kayumas Agung, 1994  
  9. Doa M.K. Gandhi Penerjemah I Gede Suwantana, penerbit Ashram Gandhi Puri, 2007 

E
  1. Esensi Falsafah Jawa Bagi Peradaban Umat Hindu,  Oleh Miswanto, Penerbit Paramita Surabaya, 2009 
  2. Evolusi melalui Reinkarnasi & Karma, Dari Tuhan Kembali Kepada Tuhan Anadas Ra, Penerbit: Paramita Surabaya, 2008


G
  1. Geguritan Babad Pande Aksara Bali & Latin I Ketut Ruma, Penerbit: UD. Santi Bugbug, 2007 
  2. Gandamayu -Novel Gandamayu Putu Fajar Arcana, Penerbit: PT Kompas Media Nusantara, 2012
  3. Gandhi The Man, Seorang pria yang mengubah dirinya demi dunia, Eknath Easwaran, tahun 2013
  4. GITA MAHATMYA, Dari Padma Purana Dewa Siva Mengagungkan Bhagavad-Gita, Penerbit Hanuman Sakti

H
  1. Hindu Menjawab Ngakan Made Madrasuta, Penerbit: Media Hindu, 2011
  2. HINDU di balik Tuduhan & Prasangka Suryanto, M.Pd, Penerbit: Narayana Smrti Press, 2006 
  3. Hindu Agama Terbesar di Dunia, Hinduism, The Greatest Religion in the World Stephen Knapp, Yadnavalkya Dasa, David Frawley, Satguru Sivaya Subramuniyaswami, Klaus K. Klostermaier, Editor Ngakan Made Madrasuta, Penerbit: Media Hindu, 2006
  4. Hindu Akan Ada Selamanya Ngakan Made Madrasuta, Penerbit: Media Hindu, 2006 
  5. Hindu Menjawab 2 Susila dan Upakara, Ngakan Made Madrasuta, penerbit Media Hindu, 2012

J
  1. Jodoh dari Surga, Born Again To Be Together Oleh Dick Sutpen, Penerbit Medhindo 2011
  2. Jalan Menuju Tuhan Melaksanakan Gita dalam Hidup Sehari-hari Ram Dass ( Dr. Richard Alpart ) Editor Ngakan Made Madrasuta, Penerbit: Media Hindu, 2007 
  3. Jangan Mati di Bali, Tingkah Polah Negeri Turis Gde Aryantha Soethama, Penerbit: Buku Kompas, 2011 
  4. Jaran Pondongan Sabha Sastra Bali, Denpasar, 2009 
  5. JALAN SETAPAK MENUJU TUHAN Pathways to God Jonathan Roof, Yayasan Sri Sathya Sai Baba, Jakarta 2013

K
  1. KURUKSETRA Mengenal Wilayah Hindu Kono Oleh Gede Agus Budi Adnyana Penerbit Gandapura
  2. Kembali Lagi, Sains Reinkarnasi Sri Srimad A.G. Bhaktivedanta Swami Prabhupada, Penerbit: Hanuman Sakti, 2011 
  3. Kamus Bahasa Bali Sri Reshi Anandakusuma, Penerbit: CV. Kayumas Agung, 1986 
  4. Kebangkitan Hindu, Dalam Kritik, Himpitan, Kesadaran, Kedamaian dan Kebahagiaan Rohani, oleh Sargede penerbit Paramita Surabaya, 2005 
  5. KARMA Keadilan Tertinggi Sri Srimad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada, Penerbit: Hanuman Sakti, 2010 
  6. KIRI BALI Sepilihan Esai Kajian Budaya I Ngurah Suryawan, penerbti Kepel Press, Agustus 2013
  7. Kearifan Bali Bicara Melalui Tindakan Ringkasan dan Ulasan Dharma Talk I Made Gunarta oleh I Gede Suwantana, I Putu Gede Suyoga, penerbit Yayasan Kryasta Guna, 2014

M
  1. Membangkitkan Kesadaran ATMAN Sangkan Paraning Dumadi Sastrawan, Editor Agus Wijaya Penerbit: Brilian International, Sidoarjo 2007 
  2. Memahami Bali, Kebanggaan di Bali Kegundahan Pasek Suardika, Penerbit: Bali Aga Sinar Ilmu Dari Bali, 2006
  3. Mengapa Bali Disebut Bali ? Drs. I Ketut Wiana, Penerbit: Paramita Surabaya, 2004   
  4. Mencari Pura, Buku Sajak I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyani, Penerbit: Koekoesan, 2011 
  5. Manusa Yajna Ida Ayu Putu Surayin, Penerbit: Paramita Surabaya, 2004 
  6. Meditasi Matahari Terbit, Wacana Para Maha Rsi Gede Arsa Dana, Penerbit: Dhyana Vahini Workshop, 2007 
  7. Mahabharata & Ramayana, Kitab Epos Terbesar Sepanjang Masa, C. Rajagopalachari, Penerbit Dipta, 2013
  8. Manusia Dan Alam, Seri Vedanta Dan Sains, menurut Perspektif Ilmiah dan Vedanta, Karya Dr. T.D. Singh (His Holiness Bhaktisvarupa Damodara Swami) , Penerbit Yayasan Institut Bhaktivedanda Indonesia (The Bhaktivendanta Institute) Kolkata, Rome, Denver, Bali 2001

N
  1. NYEPI Kebangkitan Toleransi dan Kerukunan Nyoman S. Pendit, Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2001
  2. Ngaben Sederhana, Mitra Yajna, Pranawa dan Swastha Drs. I Nyoman Singgin Wikarman, Penerbit: Paramita Surabaya, 1999 

P
  1. Pedanda Di Simpang Zaman Biografi Ida Pedanda Gede Nabe Bang Buruan Manuaba, Oleh N. Putrawan, Penerbit Manikgeni, 2008.
  2. Pupulan Satua Bali oleh I ketut Keriana, M.Pd, penerbit Gandapura 2010 
  3. Pura Candra Praba Jelambar Sejarah Berdirinya Pura Candra Prabha Jelambar, 2009, Njoman Poeger
  4. Pedoman Sederhana Pelaksanaan Agama Hindu Dalam Masa PembangunanPanitya Tujuh Belas di Jakarta, Penerbit: Yayasan Merta Sari, 1986
  5. Pupulan Satwa BaliI Ketut Keriana, M.p.d, Penerbit: Gianyar Grafika, 2007 
  6. Pan Bagia Teken Pan Bonggan Sabha Sastra Bali, Denpasar 2009 
  7. Perjalanan Menjadi HINDU, Sebuah Pencarian Diri Sikha SV, Penerbit: Media Hindu, 2011 
  8. Pura Basukian Puseh Jagat Penerbit: Panitia Pemugaran dan Panitia Karya Ngenteg Linggih Pura Basukian - Puseh Jagat, Besakih, 2004 
  9. Pengetahuan Spiritual Di dalam Kitab Weda Shrii Shrii Anandamurti, Penerbit: Ananda Marga Indonesia, 2008
  10. Panca Sraddha Lima Keyakinan Umat HinduDrs. K.M. Suhardana, Penerbit: Paramita Surabaya, 2009
  11. Panca Yajna Ny. I.G.A. Mas Mt. Putra, Penerbit: Paramita Surabaya, 1998 
  12. Puspa Sari 2 Sabha Sastra Bali, 2004 
  13. Paribasa Bahasa Bali Wayan Tapa 
  14. Pencaria ke Dalam Diri Merajut Ulang Budaya Luhur Bangsa Tinjauan Filsafati Cerita Mahabharata dan Ramayana, oleh I Gde Samba, Penerbit Yayasan Dajan Rurung Indonesia, Bandung 2013. 
  15. Perang Bali Sebuah Kisah Nyata oleh I Gusti Ngurah Pindha, penerbit dolpin 2013.
  16. Pulau Bali Temuan yang Menakjubkan oleh Miquel Covarrubias, penerbit Udayana University Press, 2013.  

R
  1. RAMAYANA, Figur Wayang Jawa & Bali Dalam Lakon Abadi Oleh Kanjeng Madi Kertonegoro, Penerbit Daya Putih Foundation 
  2. Rerahinan Dalam Agama Hindu Tim Bali Aga Penerbit Bali Aga Sinar Ilmu Dari Bali 
  3. Ragam Istilah Hindu Tim Bali Aga, Penerbit: Bali Aga Sinar Ilmu Dari Bali, 2006
  4. Rekonstruksi Makna Hoax KALIMASADA Dalam Pewayangan Jawa, Miswanto, Penerbit Tri Murti, 2017 

S
  1. Satua Bali I Punyan Kepuh Teken I Goak I.N.K Supatra. Penerbit: CV. Kayumas Agung,2006
  2. Satua Bali Kambing Takutin Macan I.N.K Supatra, Penerbit: CV. Kayumas Agung, 2006 
  3. Seputar Desa Pakraman Dan Adat Bali I Wayan Surpha, S.H, Penerbit: BP, 2002
  4. Sarasamuccaya I Nyoman Kadjeng d.k.k, Penerbit: Yayasan Wisma Karma, 1987 
  5. Sejarah WEDA Dra. A.K. Candrawati, Penerbit: Pustaka Sinar Agung 
  6. SARASAMUCCAYA Made Menaka, Penerbit: Toko Buku Indra Jaya, Singaraja 1985 
  7. Selayang Pandang Pura Ulun Danu Batur Desa Pakraman Batur, Kintamani Bangli, 2006  
  8. Siwaratri Makna Dan Upacara Prof. Dr. Tjok. Rai Sudharta, MA, Penerbit: Upada Sastra, 1994 
  9. Spiritualitas Hindu untuk Kehidupan Modern Swami Muktananda, Editor Ngakan Made Madrasuta, Penerbit: Media Hindu, 2010
  10. Sang Hyang Purana Gede Agus Budi Adnyana, S.Pd.B, Penerbit: Gandapura, 2010 
  11. Sor Singgih Basa Bali I Nengah Tinggen, Penerbit: Rhika Dewata, Singaraja, 1986
  12. Senyum, Ya Tersenyumlah Buku Panduan Praktis Bahagia Menuju Kedamaian Arsiawan Adi Penerbit Paramita Surabaya.2011 
  13. Satrio Piningit, Perjalanan Spiritual Menelisik Jejak oleh Tri Budi Marhaen Darmawan - Nurahmad, Penerbit Cipta Karya Multimedia Semarang, 2010
  14. Sabda Sathya Sai, Jilid II B, Wacana Bhagawan Sri Sathya Sai Baba. disampaikan pada tahun 1961-1962. Penerbit Yayasan Sri Sathya Sai Baba Indonesia, 2001. 
  15. Sri Krsna Ayat-Ayat Suci Bhagavad-Gita oleh Sri Srimad A.C.Bhaktivedanta Swami Prabhupada, 2009 
  16. Sakti Sidhi Ngucap, Eksplorasi dan Aplikasi Ilmu Leak untuk orang modern, Putu Yuliantara, 2015

T
  1. Teologi & Simbol-Simbol dalam Agama Hindu DR. I Made Titib, Penerbit: Paramita, Surabaya 2003.
  2. Tuhan Agama & Negara Ngakan Made Madrasuta, Penerbit: Media Hindu, 2010 

U
  1. Upanisad HIMALAYA Jiwa Intisari Upanisad Juan Mascaro & Swami Harshananda, Editor Ngakan Putu Putra, Penerbit: Media Hindu, 2010
  2. Upadeca Tentang Ajaran-Ajaran Agama Hindu; Parisada Hindu Dharma, Penerbit ESBE Buku, 2017

V
  1. VEDA SABDA SUCI Pedoman Praktis Kehidupan, Oleh I Made Titib, Penerbit Paramita Surabaya, 1996

W

  1. Warnaning Sesayut lan Caru I.B Putu Bangli, Penerbit Paramita Surabaya, 2006
  2. Wadhu Tattwa, Sekelumit Catatan Tentang Hakekat Wanita Dalam Wadhu Tattwa IB. Putra M. Aryana, SS. M.Si, Penerbit: Bali Aga Sinar Ilmu Dari Bali
  3. Wartawan Jadi Pendeta Sebuah Otobiografi Putu Setia, Pengantar Goenawan Mohamad, Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) Jakarta. 2013
  4. Wija Kasawur, Ki Nirdon, Penerbit T.U. Warta Hindu Dharma 1992.
  5. Wija Kasawur 2, Ki Nirdon, Penerbit T.U. Warta Hindu Dharma 1998.





Selasa, 21 Agustus 2018

KITAB SUCI WEDA - AGAMA HINDU

Pengertian Weda
Sumber ajaran agama Hindu adalah Kitab Suci Weda, yaitu kitab yang berisikan ajaran kesucian yang diwahyukan oleh Hyang Widhi Wasa melalui para Maha Rsi. Weda merupakan jiwa yang meresapi seluruh ajaran Hindu, laksana sumber air yang mengalir terus melalui sungai-sungai yang amat panjang dalam sepanjang abad. Weda adalah sabda suci atau wahyu Tuhan Yang Maha Esa.
Weda secara ethimologinya berasal dari kata "Vid" (bahasa sansekerta), yang artinya mengetahui atau pengetahuan. Weda adalah ilmu pengetahuan suci yang maha sempurna dan kekal abadi serta berasal dari Hyang Widhi Wasa. Kitab Suci Weda dikenal pula dengan Sruti, yang artinya bahwa kitab suci Weda adalah wahyu yang diterima melalui pendengaran suci dengan kemekaran intuisi para maha Rsi. Juga disebut kitab mantra karena memuat nyanyian-nyanyian pujaan. Dengan demikian yang dimaksud dengan Weda adalah Sruti dan merupakan kitab yang tidak boleh diragukan kebenarannya dan berasal dari Hyang Widhi Wasa.
Bahasa Weda


Bahasa yang dipergunakan dalam Weda disebut bahasa Sansekerta, Nama sansekerta dipopulerkan oleh maharsi Panini, yaitu seorang penulis Tata Bahasa Sensekerta yang berjudul Astadhyayi yang sampai kini masih menjadi buku pedoman pokok dalam mempelajari Sansekerta.
Sebelum nama Sansekerta menjadi populer, maka bahasa yang dipergunakan dalam Weda dikenal dengan nama Daiwi Wak (bahasa/sabda Dewata). Tokoh yang merintis penggunaan tatabahasa Sansekerta ialah Rsi Panini. Kemudian dilanjutkan oleh Rsi Patanjali dengan karyanya adalah kitab Bhasa. Jejak Patanjali diikuti pula oleh Rsi Wararuci.
Pembagian dan Isi Weda
Weda adalah kitab suci yang mencakup berbagai aspek kehidupan yang diperlukan oleh manusia. Berdasarkan materi, isi dan luas lingkupnya, maka jenis buku weda itu banyak. maha Rsi Manu membagi jenis isi Weda itu ke dalam dua kelompok besar yaitu Weda Sruti dan Weda Smerti. Pembagian ini juga dipergunakan untuk menamakan semua jenis buku yang dikelompokkan sebagai kitab Weda, baik yang telah berkembang dan tumbuh menurut tafsir sebagaimana dilakukan secara turun temurun menurut tradisi maupun sebagai wahyu yang berlaku secara institusional ilmiah. Kelompok Weda Sruti isinya hanya memuat wahyu, sedangkan kelompok Smerti isinya bersumber dari Weda Sruti, jadi merupakan manual, yakni buku pedoman yang sisinya tidak bertentangan dengan Sruti. Baik Sruti maupun Smerti, keduanya adalah sumber ajaran agama Hindu yang tidak boleh diragukan kebenarannya. Agaknya sloka berikut ini mempertegas pernyataan di atas.
Srutistu wedo wijneyo dharma
sastram tu wai smerth,
te sarrtheswamimamsye tab
hyam dharmohi nirbabhau. (M. Dh.11.1o).
Artinya:
Sesungguhnya Sruti adalah Weda, demikian pula Smrti itu adalah dharma sastra, keduanya harus tidak boleh diragukan dalam hal apapun juga karena keduanya adalah kitab suci yang menjadi sumber ajaran agama Hindu. (Dharma)
Weda khilo dharma mulam
smrti sile ca tad widam,
acarasca iwa sadhunam
atmanastustireqaca. (M. Dh. II.6).
Artinya:
Seluruh Weda merupakan sumber utama dari pada agama Hindu (Dharma), kemudian barulah Smerti di samping Sila (kebiasaan- kebiasaan yang baik dari orang-orang yang menghayati Weda). dan kemudian acara yaitu tradisi dari orang-orang suci serta akhirnya Atmasturi (rasa puas diri sendiri).
Srutir wedah samakhyato
dharmasastram tu wai smrth,
te sarwatheswam imamsye
tabhyam dharmo winir bhrtah. (S.S.37).
Artinya:
Ketahuilah olehmu Sruti itu adalah Weda (dan) Smerti itu sesungguhnya adalah dharmasastra; keduanya harus diyakini kebenarannya dan dijadikan jalan serta dituruti agar sempurnalah dalam dharma itu.
Dari sloka-sloka diatas, maka tegaslah bahwa Sruti dan Smerti merupakan dasar utama ajaran Hindu yang kebenarannya tidak boleh dibantah. Sruti dan Smerti merupakan dasar yang harus dipegang teguh, supaya dituruti ajarannya untuk setiap usaha.
Untuk mempermudah sistem pembahasan materi isi Weda, maka dibawah ini akan diuraikan tiap-tiap bagian dari Weda itu sebagai berikut:
SRUTI
Sruti adalah kitab wahyu yang diturunkan secara langsung oleh Tuhan (Hyang Widhi Wasa) melalui para maha Rsi. Sruti adalah Weda yang sebenarnya (originair) yang diterima melalui pendengaran, yang diturunkan sesuai periodesasinya dalam empat kelompok atau himpunan. Oleh karena itu Weda Sruti disebut juga Catur Weda atau Catur Weda Samhita (Samhita artinya himpunan). Adapun kitab-kitab Catur Weda tersebut adalah:
Rg. Weda atau Rg Weda Samhita.
Adalah wahyu yang paling pertama diturunkan sehingga merupakan Weda yang tertua. Rg Weda berisikan nyanyian-nyanyian pujaan, terdiri dari 10.552 mantra dan seluruhnya terbagi dalam 10 mandala. Mandala II sampai dengan VIII, disamping menguraikan tentang wahyu juga menyebutkan Sapta Rsi sebagai penerima wahyu. Wahyu Rg Weda dikumpulkan atau dihimpun oleh Rsi Pulaha.
Sama Weda Samhita.
Adalah Weda yang merupakan kumpulan mantra dan memuat ajaran mengenai lagu-lagu pujaan. Sama Weda terdiri dari 1.875 mantra. Wahyu Sama Weda dihimpun oleh Rsi Jaimini.
Yajur Weda Samhita.
Adalah Weda yang terdiri atas mantra-mantra dan sebagian besar berasal dari Rg. Weda. Yajur Weda memuat ajaran mengenai pokok-pokok yajus. Keseluruhan mantranya berjumlah 1.975 mantra. Yajur Weda terdiri atas dua aliran, yaitu Yayur Weda Putih dan Yayur Weda Hitam. Wahyu Yayur Weda dihimpun oleh Rsi Waisampayana.
Atharwa Weda Samhita
Adalah kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran yang bersifat magis. Atharwa Weda terdiri dari 5.987 mantra, yang juga banyak berasal dari Rg. Weda. Isinya adalah doa-doa untuk kehidupan sehari-hari seperti mohon kesembuhan dan lain-lain. Wahyu Atharwa Weda dihimpun oleh Rsi Sumantu.
Sebagaimana nama-nama tempat yang disebutkan dalam Rg. Weda maka dapat diperkirakan bahwa wahyu Rg Weda dikodifikasikan di daerah Punjab. Sedangkan ketiga Weda yang lain (Sama, Yayur, dan Atharwa Weda), dikodifikasikan di daerah Doab (daerah dua sungai yakni lembah sungai Gangga dan Yamuna.
Masing-masing bagian Catur Weda memiliki kitab-kitab Brahmana yang isinya adalah penjelasan tentang bagaimana mempergunakan mantra dalam rangkain upacara. Disamping kitab Brahmana, Kitab-kitab Catur Weda juga memiliki Aranyaka dan Upanisad.
Kitab Aranyaka isinya adalah penjelasan-penjelasan terhadap bagian mantra dan Brahmana. Sedangkan kitab Upanisad mengandung ajaran filsafat, yang berisikan mengenai bagaimana cara melenyapkan awidya (kebodohan), menguraikan tentang hubungan Atman dengan Brahman serta mengupas tentang tabir rahasia alam semesta dengan segala isinya. Kitab-kitab brahmana digolongkan ke dalam Karma Kandha sedangkan kitab-kitab Upanishad digolonglan ke dalam Jnana Kanda.

SMERTI
Smerti adalah Weda yang disusun kembali berdasarkan ingatan. Penyusunan ini didasarkan atas pengelompokan isi materi secara sistematis menurut bidang profesi. Secara garis besarnya Smerti dapat digolongkan ke dalam dua kelompok besar, yakni kelompok Wedangga (Sadangga), dan kelompok Upaweda.
Kelompok Wedangga:
Kelompok ini disebut juga Sadangga. Wedangga terdiri dari enam bidang Weda yaitu:
(1). Siksa (Phonetika)
Isinya memuat petunjuk-petunjuk tentang cara tepat dalam pengucapan mantra serta rendah tekanan suara.

(2). Wyakarana (Tata Bahasa)
Merupakan suplemen batang tubuh Weda dan dianggap sangat penting serta menentukan, karena untuk mengerti dan menghayati Weda Sruti, tidak mungkin tanpa bantuan pengertian dan bahasa yang benar.

(3). Chanda (Lagu)
Adalah cabang Weda yang khusus membahas aspek ikatan bahasa yang disebut lagu. Sejak dari sejarah penulisan Weda, peranan Chanda sangat penting. Karena dengan Chanda itu, semua ayat-ayat itu dapat dipelihara turun temurun seperti nyanyian yang mudah diingat.

(4). Nirukta

Memuat berbagai penafsiran otentik mengenai kata-kata yang terdapat di dalam Weda.

(5). Jyotisa (Astronomi)
Merupakan pelengkap Weda yang isinya memuat pokok-pokok ajaran astronomi yang diperlukan untuk pedoman dalam melakukan yadnya, isinya adalah membahas tata surya, bulan dan badan angkasa lainnya yang dianggap mempunyai pengaruh di dalam pelaksanaan yadnya.

(6). Kalpa
Merupakan kelompok Wedangga (Sadangga) yang terbesar dan penting. Menurut jenis isinya, Kalpa terbagi atas beberapa bidang, yaitu bidang Srauta, bidang Grhya, bidang Dharma, dan bidang Sulwa. Srauta memuat berbagai ajaran mengenai tata cara melakukan yajna, penebusan dosa dan lain-lain, terutama yang berhubungan dengan upacara keagamaan. Sedangkan kitab Grhyasutra, memuat berbagai ajaran mengenai peraturan pelaksanaan yajna yang harus dilakukan oleh orang-orang yang berumah tangga. Lebih lanjut, bagian Dharmasutra adalah membahas berbagai aspek tentang peraturan hidup bermasyarakat dan bernegara. Dan Sulwasutra, adalah memuat peraturan-peraturan mengenai tata cara membuat tempat peribadatan, misalnya Pura, Candi dan bangunan-bangunan suci lainnya yang berhubungan dengan ilmu arsitektur.
 
Kelompok Upaweda:
Adalah kelompok kedua yang sama pentingnya dengan Wedangga. Kelompok Upaweda terdiri dari beberapa jenis, yaitu:
(1). Itihasa
Merupakan jenis epos yang terdiri dari dua macam yaitu Ramayana dan Mahabharata. Kitan Ramayana ditulis oleh Rsi Walmiki. Seluruh isinya dikelompokkan kedalam tujuh Kanda dan berbentuk syair. Jumlah syairnya sekitar 24.000 syair. Adapun ketujuh kanda tersebut adalah Ayodhya Kanda, Bala Kanda, Kiskinda Kanda, Sundara Kanda, Yudha Kanda dan Utara Kanda. Tiap-tiap Kanda itu merupakan satu kejadian yang menggambarkan ceritra yang menarik. Di Indonesia cerita Ramayana sangat populer yang digubah ke dalam bentuk Kekawin dan berbahasa Jawa Kuno. Kekawin ini merupakan kakawin tertua yang disusun sekitar abad ke-8.

Disamping Ramayana, epos besar lainnya adalah Mahabharata. Kitab ini disusun oleh maharsi Wyasa. Isinya adalah menceritakan kehidupan  keluarga Bharata dan menggambarkan pecahnya perang saudara diantara bangsa Arya sendiri. Ditinjau dari arti Itihasa (berasal dari kata "Iti", "ha" dan "asa" artinya adalah "sesungguhnya kejadian itu begitulah nyatanya") maka Mahabharata itu gambaran sejarah, yang memuat mengenai kehidupan keagamaan, sosial dan politik menurut ajaran Hindu. Kitab Mahabharata meliputi 18 Parwa, yaitu Adiparwa, Sabhaparwa, Wanaparwa, Wirataparwa, Udyogaparwa, Bhismaparwa, Dronaparwa, Karnaparwa, Salyaparwa, Sauptikaparwa, Santiparwa, Anusasanaparwa, Aswamedhikaparwa, Asramawasikaparwa, Mausalaparwa, Mahaprastanikaparwa, dan Swargarohanaparwa.

Diantara parwa-parwa tersebut, terutama di dalam Bhismaparwa terdapatlah kitab Bhagavad Gita, yang amat masyur isinya adalah wejangan Sri Krsna kepada Arjuna tentang ajaran filsafat yang amat tinggi.

(2). Purana
Merupakan kumpulan cerita-cerita kuno yang menyangkut penciptaan dunia dan silsilah para raja yang memerintah di dunia, juga mengenai silsilah dewa-dewa dan bhatara, cerita mengenai silsilah keturunaan dan perkembangan dinasti Suryawangsa dan Candrawangsa serta memuat ceitra-ceritra yang menggambarkan pembuktian-pembuktian hukum yang pernah di jalankan. Selain itu Kitab Purana juga memuat pokok-pokok pemikiran yang menguraikan tentang ceritra kejadian alam semesta, doa-doa dan mantra untuk sembahyang, cara melakukan puasa, tatacara upacara keagamaan dan petunjuk-petunjuk mengenai cara bertirtayatra atau berziarah ke tempat-tempat suci. Dan yang terpenting dari kitab-kitab Purana adalah memuat pokok-pokok ajaran mengenai Theisme (Ketuhanan) yang dianut menurut berbagai madzab Hindu. Adapun kitab-kitab Purana itu terdiri dari 18 buah, yaitu Purana, Bhawisya Purana, Wamana Purana, Brahma Purana, Wisnu Purana, Narada Purana, Bhagawata Purana, Garuda Purana, Padma Purana, Waraha Purana, Matsya Purana, Kurma Purana, Lingga Purana, Siwa Purana, Skanda Purana dan Agni Purana.

(3) Arthasastra
Adalah jenis ilmu pemerintahan negara. Isinya merupakan pokok-pokok pemikiran ilmu politik. Sebagai cabang ilmu, jenis ilmu ini disebut Nitisastra atau Rajadharma atau pula Dandaniti. Ada beberapa buku yang dikodifikasikan ke dalam jenis ini adalah kitab Usana, Nitisara, Sukraniti dan Arthasastra. Ada beberapa Acarya terkenal di bidang Nitisastra adalah Bhagawan Brhaspati, Bhagawan Usana, Bhagawan Parasara dan Rsi Canakya.

(4) Ayur Weda
Adalah kitab yang menyangkut bidang kesehatan jasmani dan rohani dengan berbagai sistem sifatnya. Ayur Weda adalah filsafat kehidupan, baik etis maupun medis. Oleh karena demikian, maka luas lingkup ajaran yang dikodifikasikan di dalam Ayur Weda meliputi bidang yang amat luas dan merupakan hal-hal yang hidup. Menurut isinya, Ayur Weda meliptui delapan bidang ilmu, yaitu ilmu bedah, ilmu penyakit, ilmu obat-obatan, ilmu psikotherapy, ilmu pendiudikan anak-anak (ilmu jiwa anak), ilmu toksikologi, ilmu mujizat dan ilmu jiwa remaja.

Disamping Ayur Weda, ada pula kitab Caraka Samhita yang ditulis oleh Maharsi Punarwasu. Kitab inipun memuat delapan bidan ajaran (ilmu), yakni Ilmu pengobatan, Ilmu mengenai berbagai jens penyakit yang umum, ilmu pathologi, ilmu anatomi dan embriologi, ilmu diagnosis dan pragnosis, pokok-pokok ilmu therapy, Kalpasthana dan Siddhistana. Kitab yang sejenis pula dengan Ayurweda, adalah kitab Yogasara dan Yogasastra. Kitab ini ditulis oleh Bhagawan Nagaryuna. isinya memuat pokok-pokok ilmu yoga yang dirangkaikan dengan sistem anatomi yang penting artinya dalam pembinaan kesehatan jasmani dan rohani.

(5) Gandharwaweda
Adalah kitab yang membahas berbagai aspek cabang ilmu seni. Ada beberapa buku penting yang termasuk Gandharwaweda ini adalah Natyasastra (yang meliputi Natyawedagama dan Dewadasasahasri), Rasarnawa, Rasaratnasamuscaya dan lain-lain.
 
Dari uraian di atas, maka jelaslah bahwa kelompok Weda Smerti meliptui banyak buku dan kodifikasinya menurut jenis bidang-bidang tertentu. Ditambah lagi kitab-kitab agama misalnya Saiwa Agama, Vaisnawa Agama dan Sakta Agama dan kitab-kitab Darsana yaitu Nyaya, Waisesika, Samkhya, Yoga, Mimamsa dan Wedanta. Kedua terakhir ini termasuk golongan filsafat yang mengakui otoritas kitab Weda dan mendasarkan ajarannya pada Upanisad. Dengan uraian ini kiranya dapat diperkirakan betapa luasnya Weda itu, mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Di dalam ajaran Weda, yang perlu adalah disiplin ilmu, karena tiap ilmu akan menunjuk pada satu aspek dengan sumber-sumber yang pasti pula. Hal inilah yang perlu diperhatikan dan dihayati untuk dapat mengenal isi Weda secara sempurna.

Kamis, 02 Agustus 2018

Pura Dharma Sidhi Ciledug Tangerang Banten

Pura Dharma Sidhi

Gapura Bali
Pura Dharma Sidhi
SEJARAH PURA DHARMA SIDHI
Tahun 1980-1986
Pembentukan arisan umat Hindu di wilayah Ciledug dan sekitarnya. Umat Hindu dalam melaksanakan persembahyangan ke Pura Kerthajaya Tangerang dan untuk pendidikan agama Hindu dilaksanakan di Pasraman yang berada di Pura Candra Praba Jelambar. Proses belajar-mengajar pendidikan agama Hindu juga dilaksanakan di garase mobil rumah I Nyoman Darsana, kemudian dipindahkan ke lokal Yayasan Budhi Luhur.


Tahun 1987-1990
Pembentukan banjar suka-duka oleh 21 umat Hindu, tepatnya tanggal 4 Januari 1987 dengan dibuatnya Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga sebagai syarat berdirinya suatu organisasi. Susunan pengurus banjar yaitu Ketua I ketut Sumitha, Wakil Ketua I Wayan Sumantra, Sekretaris I Wayan Sukarta, dan Bendahara I Nyoman Darsana.
Pembentukan panitia pembangunan I dengan Ketua I Ketut Artha, wakil ketua I Nyoman Artha Yadnya, Sekretaris I Nengah Sudipta, Bendahara I Gusti Gde Budiarsa.
Pembelian kavling ke-1 seluas 300m2 dan pembangunan Bale pertemuan yang sekaligus sebagai pasraman untuk belajar-mengajar agama Hindu.
Tahun 1990-1993
Pembangunan Pura Dharma Sidhi  tahap 1 pada kavling ke-1 yaitu bangunan suci Bale Pertemuan, Pelinggih Padmasari, Pengrurah dan Beji.
Pembentukan panitia pembangunan II dengan Ketua I Ketut Artha yang didukung oleh seluruh umat Hindu Ciledug untuk dapat memperluas keberadaan Pura Dharma Sidhi.
Pembelian kavling ke-2 seluas 300m2 dan pembangunan tahap 2 yang merupakan pembangunan Pura Dharma Sidhi terbesar, dimana yang dibangun adalah Bale Pawedan, Bale Papelik, Kori Agung, Bale Kulkul, Taman Sari dan sarana lain.
Karya Ngenteg Linggih dan Pemelaspasan Pura Dharma Sidhi pada Budha Kliwon Ugu, tanggal 26 Mei 1993.
Tahun 1997
Pembangunan Pelinggih Padmasana, yang mana Pelinggih Padmasari menjadi inti Pelinggih Padmasana yang ada sekarang ini.  Atas petunjuk Manggala Pura, bahwasannya Kori Agung yang dibangun kurang pas dengan keberadaan pelinggih Padmasari, maka panitia pembangunan pelinggih Padmasana pun di bentuk.
Tahun 1998
Pembelian kavling ke-3 seluas 300m2 untuk pembangunan Pasraman, Wantilan dan Perantenan. Pembelian satu barung gambelan guna mendukung kegiatan Pujawali dan peningkatan apresiasi seni warga Banjar.
Tahun 2004
Pembelian kavling ke-4 seluas 600muntuk sarana parkir kendaraan yang keberadaannya semakin dibutuhkan guna memberikan kenyamanan pada setiap umat.
Tahun 2005
Pembelian kavling ke-5 seluas 300m2sebagai Nista Mandala guna sarana parkir, perantenan dan sarana pendukung lainnya, serta dapat menjaga kesucian (bagian hulu) dari pelinggih-pelinggih di Uttama Mandala.
Tahun 2015
Pelaksanaan renovasi Gedung Pasraman dengan perluasan ruang kelas sebanyak 3 (tiga) ruang kelas dan 1 (satu) ruang guru, sehingga kini Pasraman memiliki 6 ruang kelas/ belajar dan 1 ruang guru. Pada tahun ini pula dilaksanakan perapian sarana parkir kendaraan dan pembangunan sarana ekonomi umat, berupa warung yang rapi dan bersih, serta pembelian tanah kavling seluas 9 x 20 meter.

Selasa, 31 Juli 2018

PURA EKA WIRA ANANTHA SERANG BANTEN

Kata Mutiara Kitab Suci Weda
Yayurveda
PURA EKA WIRA ANANTHA

Nama Pura Eka Wira Anantha diambil dari bahasa Sanskerta Eka (satu) Wira (Ksatria) dan Anantha (tanpa akhir). Secara umum nama tersebut mencerminkan lokasi / tempat pura berada yaitu di Ksatrian Gatot Subroto Grup-1 Kopassus (Eka Wira) yang manaPura Eka Wira akanada selamanya untuk umat (Anantha). Namun dibalik nama tersebut  ada makna yang tersirat yaitu bahwa sifat ksatria (Wira) merupakan satu sikap (Eka) yang harus dianut oleh umat Hindu dalam melaksanakan dharma untuk mencapai keabadian (Anantha).


Lokasi Pura Eka Wira Anantha sangat terjangkau dan strategis yaitu terletak diantara Jakarta dan Merak. Hanya perlu waktu sekitar 20 menit dari arah Merak atau sebaliknya dari Jakarta waktu tempuhnya hanya sekitar 1 jam melalui jalan Toll Jakarta-Merak. Atau tepatnya keluar melalui pintu toll Serang Barat pada KM 66.




Sekitar 100 meter setelah keluar dari Pintu Toll Serang Barat kita bisa langsung masuk ke area Ksatrian Gatot Subroto (Kopassus Grup-1). Sebelum masuk Ksatrian Gatot Subroto, agar seluruh kaca pintu mobil dibuka dan melapor bahwa kita tangkil ke Pura Eka Wira Anatha, maka petugas akan segera memberikan izin untuk lanjut. Kemudian 50 meter dari pintu masuk Ksatrian Gatot Subroto, belok kiri setelah kolam pemancingan menuju Jl. Baladika II tempat Pura Eka Wira Anantha berada. Praktis dari keluar pintu toll Serang Barat sampai Pura Eka Wira Anantha tidak lebih dari 7 menit.


Pura Eka Wira Anantha terdiri dari tiga mandala dengan lingkungan yang sangat teduh penuh pepohonan rindang. Di area Utama Mandala terdapat Padmasana, Taksu Dewa, Penglurah, Bale Pawedan dan Bale Penyimpanan serta Tepas. Disebelah kanan Utama Mandala tersedia Taman Sari. Pada area Madya Mandala terdapat Bale Gong dan Dapur Suci. Pada area bagian barat Madya Mandala ada tempat sangat teduh dibawah Beringin Korea untuk melakukan kegiatan-kegiatan terkait pendalaman agama. Pada pojok Barat Laut berdiri Bale Kulkul.


Di area Kanista Mandala tersedia Bale Banjar (Wantilan), Dapur, Kamar Kecil, Pasraman, Rumah Penunggu Pura. Disebelah barat Wantilan terdapat Panggung Pertunjukkan untuk segala kegiatan yang bersifat profan. Seluruh area Pura Eka Wira Anantha sangat hijau  dan asri serta jauh dari lingkungan pemukiman (berada dalam area TNI) dengan area parkir sangat luas bahkan bisa menampung lebih dari 500 mobil penumpang dan 80 bus besar.


Tanpa bermaksud promosi, rasanya tidak berlebihan bila Bapak, Ibu, Para Dharmika, Para Bhakta, Jnanin dan Umat sekalian saat menuju Merak/Lampung atau menuju Jakarta dari arah Merak menyempatkan diri tangkil di Pura Eka Wira Anantha. Om Awignam Astu.


Periode Penjajagan dan Kelahiran(1970 – 1989)

Pada tahun 1970-an umat Hindu asal Bali pertama kali datang dan bekerja di daerah Serang, Cilegon dan sekitarnya. Para sesepuh ini bekerja sebagai karyawan perusahaan baja PT. Karakatau Steel (BUMN), ditugaskan sebagai TNI (Kopassus Grup-1), polisi dan sebagian sebagai PNS. Jumlah mereka tidak lebih dari 10 KK. Saat itu mereka mengadakan persembahyangan Purnama Tilem dan Hari Raya Hindu seperti Galungan, Kuningan, Saraswati dan lain-lain hanya di rumah saja atau kadang dari rumah ke rumah sekalian arisan. Tempat tinggal yang saling berjauhan dengan ekonomi yang relatif tidak terlalu besar tentu menyulitkan mereka untuk melakukan persembahyangan bersama.


Berkat keuletan mereka dan atas suecan Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta dengan prakarsa Mayor (Inf) Sang NyomanSuwisma yang didukungsepenuhnyaolehseluruhumat Hindu di KabupatenSerang, Cilegon dan Pandeglang, padatahun 1980 keluarlah izin pembangunan Pura dariDan Grup-1 Kol(Inf)Yusman. Pura tersebut diberi nama Eka Wira Ananthadibangun di lingkunganKesatrian Gatot Subroto Kopassus Grup-1 Taman Serang.


Empat tahun kemudian, pada tahun 1984, Dan Grup-1 Kol(Inf)Soenarto menawarkan lokasi yang lebih lapang dan mudah dijangkau. Lokasi pun dipindahkan dari sebelumnya berdampingan dengan tempat ibadah umat non-Hindu keposisi pura saat ini. Adapun luas area diserahkan kepada umat untuk menentukannya. Dengan pertimbangan bahwa jumlah umat relatif sedikit maka kesepakatan umat jatuh pada angka 100 x 50 m2.


Selanjutnya, pada tahun 1985 beliau memerintahkan bahkan turun tangan langsung kelapangan memimpin pendirian Pura Agung Eka Wira Anantha. Untuk mempercepat pembangunan, dibentuklah tim kecil pembangunan terdiri dari pengarah Bapak Kol. Inf. Soenarto, Bapak Serka Gde Jata dan Bapak Serka Ida Bagus Rai Astawa dengan tim pelaksana Ir. I Wayan Gde Sudama, Ir. Wayan Gosio (alm) dan Bapak Nyoman Pujawan didukung oleh Suka Duka Umat Hindu Se-Banten serta PT. Krakatau Steel dan PT. Krakatau Pipe Industry
.

Tim pembangunan bau-membau bersama umat bergotong royong ngayah meratakan tanah dan meratakan area parkir, membuat pagar keliling dari besi beton dan membangun Padmasari. Pada tahun 1989 pembangunan Padmasari dapat dirampungkan, kemudian pada Purnama Kapat bulan Novemberdilakukan Pemelaspasan Alit yang dipuput oleh Ida Pedanda Istri Pidada Keniten dari Griya Kebon Jeruk Jakarta Barat didampingi oleh  Pembina Ida Bagus Sujana dan Serati Ida Ayu Biyang Sari dari Griya Kelapa Dua Jakarta Timur.


Periode Pengembangan 1990 – 1999

Pada tahun 1990-an atas sepengetahuan & seizin DanGrup-1, Bapak Kol (Inf) Pramono Edhi Wibowo, luas area Pura diukur ulang dengan menggunakan satuan depa beliau yaitu  menjadi 55 x 109 depa, atau hampir setara dengan 50 x 100 m2.


Kemudian atas dorongan Bapak Let Kol (Inf) Ngakan Gde Sugiartha Garjita (WaDan Grup-1 Kopassus) Padmasari ex paras bali diperbarui dengan Padmasana ukir pasir hitam,  juga dibangun Bale Pepelik & Bale Kulkul.Pada area Utama Mandala dibangun Gedong Penyimpenan dan Bale Pewedan. Juga disiapkan pelataran tempat persembahyangan dan asagan tempat sesajen.


Hal khusus terkait Padmasana Pura Eka Wira Anantha adalah pependeman pada pondasi Padmasana terdiri dari batu Himalaya, serta kain putih & benang tridatu dari kuil tertua di Nepal (sumbangan dari Serda Ismujiono, pendaki Kopassus,  pendaki pertama orang Indonesia untuk Himalaya. Tinggi Padmasana = 8, 848 cm merupakan miniatur ketinggian Himalaya = 8.848 mtr. Sedangkan pependeman pada Bale Pepelik terdiri dari benang Panca datu dan batu dari puncak Jaya wijaya, sumbangan dari Kapten (Inf) Iwan Setiawan, salah seorang pendakidari Grup-1 Kopassus.


Pada area Madya Mandala, dibangun Kori Agung dan Apit Surang, pagar besi sekeliling diganti dengan beton cetak. Jalan beton setapak diperluas, penataan taman, sistem penerangan, serta penghijauan. Pembangunan Bale Gong dilengkapi lantai keramik. Serta pembuatan tempat penyimpenan perlengkapan upakara/upacara pada bagian belakang bangunan Bale Gong tersebut.

Demikian juga pagar besi pada area Kanista Mandala seluruhnya diganti dengan beton cetak. Balai pertemuan dikeramik dan ruang tunggu/penunggu Pura yang lama dibongkar dan dibangun tersendiri dibelakang Bale Pertemuan.Penyambungan sarana listrik dari  KOPASSUS serta pembuatan distribusi air untuk seluruh area Pura.


Semua pembangunan tersebut dapat terlaksana tentu atas ledang Ida Sesuhunan memberikan tuntunan dan anugrahNYA. Dalam pelaksanaan pembangunan/ pengembangan Pura Eka Wira Anantha diprakarsai dan dimotivasi oleh Bapak Kolonel Inf Pramono Edhi Wibowo (Dan Grup-1 Kopassus) dan Bapak Let Kol Inf Ngakan Gde Sugiartha Garjita selaku WaDan Grup-1. Didukung oleh para dharmika antara lain Bapak Let Jen (Pur) Ida Bagus Sudjana & Kel (Cijantung), Bapak Let Jen (Pur) Putu Sukreta Soeranta & Kel (Kelapa Gading), Bapak May Jen TNI Sang Nyoman Suwisma Kel (Cijantung),  Bapak Kol Inf Soenarko MD &Kel (Taman, Serang & Cijantung), Bapak Kol (Pur) Nyoma Suwetha Arya & Kel (Cijantung),  Bapak Kol (Pol) Mangku Made Pastika & Kel (Cijantung),  Drs Anak Agung Gde Anom Suartha & Kel (Tangerang), Bapak I Wayan Gunastra &Kel (Tebet Barat, Jakarta Timur),  Bapak Tata Suwita & Keluarga (Jakarta) beserta seluruh umat se-Dharma SEJABOTABEK (Serang, Jakarta, Tangerang, Bogor  &  Bekasi).


Para pelaksana pengembangan terdiri dari Bapak Dewa Nyoman Oka dan Made Suteja (Lampung), Bapak Wagiman dan tim (Jawa Timur). Pengawas lapangan Anak Agung Gde Raka Sutardhana dan Serka Wayan Suwanda. Pengendalian kualitas, biaya dan pelaksanaan pembangunan dilakukan oleh para sesepuh:Let Kol (Inf) Ngakan Gde Sugiartha Garjita, Nyoman Pujawan, Ir. Ketut Sukada dan Ketut Siartha.


Seluruh tahapan pengembangan tanpa disadari dapat diselesaikan tepat waktu, tepat biaya dan tepat kualitas. Selanjutnya direncanakan untuk Ngenteg Linggih, namun seminggu sebelum Ngenteg Linggih dilakukan Peresmian oleh Bapak May Jen Syahrir MS selaku Dan Grup-1 Kopassus pada hari Senin, tanggal 18 Oktober 1999.Prasasti peresmian ditulis dan ditandatangani diatas batu fosil yang khusus didatangkan dari Kabupaten Lebak Rangkas Bitung. Adapun Koordinator peresmian adalah Kapten (Inf) Ketut Gde Wetan dibantu oleh prajurit Hindu Kopassus dan Dharma Taruna/i serta umat sedharma didukung oleh Permudhita Tangerang dan IPHB Provinsi Banten. Tetabuhan dari Banjar Tangerang.


Karya Agung Ngenteg Linggih dilaksanakan pada hari Soma Pon Wuku Sinta tanggal 25 Oktober 1999, dipuput oleh Ida Pedanda Istri Pidada Keniten (Ciwa) dari Griya Kebon Jeruk Jakarta Baratdan Ida Pedanda (Budha) Gde Nyoman Jelantik Oka dari Griya Cimanggu Bogor. Tingkat upacara yang diaturkan adalah madyaning utama dengan nyatur rebah, kerbau sebagai titi mah-mah serta pecaruan manca kelud, dengan ulam caru kambing, asu belang bungkem, angsa, ayam dan bebek bulu sikep.

Sebagai koordinator pelaksana Ngenteg Linggih dipercayakan kepada Ir. Made Pastiarsa M.Eng yang mana mulang pependeman dilakukan oleh May Jen Sang Nyoman Suwisma (Padmasana), Ir. Wayan Gde Sudama MM, PhD (Bale Pepelik), Let Kol (Inf) Ngakan Gde Sugiartha Garjita (Pengelurah) dan Ir. Wayan Gosio, MM (Taksu Dewa). Adapun Pinandita yang diwinten adalah: Pinandita Made Sudiada, (Griya Serdang, Cilegon), Pinandita lanang & Istri Gde Jata (Bayangkara, SERANG), Pinandita lanang& Istri A.A.Gde Raka Sutardhana (Cilegon) dan Pinandita Nyoman Artawan (Keramat Watu, Serang).


Periode Penyempurnaan(2000 – Sekarang)

Pura Eka Wira Anantha adalah satu-satunya Pura di Wilayah Banten yang dilengkapi dengan Tri Mandala, oleh karenanya dijadikan sebagai Pura Jagatnatha Provinsi Banten, yang mana kegiatan-kegiatan melibatkan wilayah tingkat provinsi seperti Tawur Agung Kesanga dipusatkan di Jaba Utara Pura Eka Anantha.  Sebagai informasi untuk umat Hindu di seluruh Nusantara, bahwa seluruh kegiatan keagamaan dikoordinasikan oleh PHDI Provinsi Banten dan dalam pelaksanaannya dilakukan oleh 6 Banjar yang merepresentasikan 6 Pura yang ada di Provinsi Banten.


Sebagai Pura Jagatnatha Provinsi Banten, Pura Eka Wira Anantha terus disempurnakan paska Ngenteg Linggih. Penyempurnaan dilakukan pada area yang relatif lebih “shoft” yaitu penataan Asta Kosala Kosali, pembangunangedung sekolah agama (Pasraman Eka WiraAnanthadan PAUD BalaDhika), penataan taman, perluasan jalan melingkari Pura, penataan air dan listrik, perluasan area parkir di depan area Pura, revitalisasi bale banjar, penataan tempat pertunjukan serta pembangunan rumah untuk penunggu Pura.


Pada tahun 2006 atas berkenan Ida Pedanda Nabe Gede Putra Sidemen, dilakukan pengukuran ulang batas utara-selatan dan timur barat untuk area Utama dan Madya Mandala mengacu pada perhitungan Asta Kosala Kosali.  Berbasis pada perhitungan tersebut, kemudian dilakukan penyempurnaan genah Kori Gelung, Apit Surang serta Pintu Masuk Pura diubah yang tadinya dari arah samping (barat) dipindah menjadi dari arah selatan.


Pemelaspasan Pemedang Agung (Kori Gelung), Bale Pawedan dan Taman sari dilakukan pada Anggara Kasih tanggal 14 Oktober 2008. Candi Bentar di Madya Mandala dipelaspas pada Purnamaning Kapat Anggara Paing tanggal 11 Oktober 2011. Dua tahun kemudian dilakukan pemelaspasan Candi Bentar Kanista Mandala pada Purnamaning Sadha Redite Pon tanggal 23 Juni 2013 dan Pemerayastita Penyengker Utama Mandala pada Purnamaning Kapat Saniscara Umanis tanggal 19 Oktober 2013.


KETUA SUKA DUKA BANJAR  SERANG

SUMBER : WWW.PHDIBANTEN.ORG
 

Cari Artikel di Blog ini

Berita Terkait Semangat Hindu

Artikel Agama Hindu

108 Mutiara Veda Agama Hindu Dharma agama islam Ajaran Hindu artikel hindu Arya Wedakarna Atharvaveda babad bagian catur weda bahasa jawa kuno bahasa kawi bahasa sanskerta banten hindu bali Belajar Hindu bhagavad gita bhagawan bhuta yadnya Bimas Hindu brahma wisnu siwa brahmana ksatriya wesia sudra budaya bali Catur Brata Catur Purusharta catur veda Catur Warna Catur Weda Cendekiawan Hindu Dana Punia dewa dewi hindu dewa yadnya dharma artha kama moksa Dharma Santi dharma wacana Doa Anak Hindu epos mahabharata ramayana filsafat agama hindu ganesha Hari Raya Galungan Hari Raya Kuningan Hari Raya Nyepi Hari Raya Pagerwesi Hari Raya Saraswati Hindu Agama Terbesar di Dunia Hindu Banten Hindu beribadah di Pura Hindu Festival Hindu Indonesia hindu nusantara Hindu Tengger Hinduism Facts Hinduism the Greatest Religion in the Word Hukum Karma Ida Pedanda sakti isi catur weda kakawin Kamasutra Kerajaan Hindu Kitab Suci Weda lontar Mantra manusa yadnya Meditasi Matahari Terbit menghafal sloka Moksha Motivasi Hindu Mpu Jayaprema nakbalibelog Nuur Tirtha Om or Aum opini hindu moderat Panca Sradha panca yadnya pandita parahyangan agung jagatkartta Pasraman Pasupati Pembagian Kitab Suci Veda Pemuda Hindu Indonesia pendidikan hindu pengertian catur weda Peradah phdi pinandita Pitra Yadnya Ngaben Pitrapuja potong gigi Principle Beliefs of Hinduism Pujawali purana purnama tilem Radio online Bali rare angon nak bali belog Reinkarnasi Rgveda ritual hindu Rsi yadnya sad darsana sad guru Samaveda sanatana dharma Sarassamuscaya Sarassamuscaya Sloka Sekta Hindu Semangat Hindu Sex and Hinduism siwa budha waesnawa Sloka sloka bhagawad gita sloka Rgveda sloka yayurveda spiritualitas hindu sradha dan bhakti sri rama krishna paramahansa Sri Sathya Sai Baba sumpah dalam perkara tat twam asi tattwa susila upakara Tempat Suci Hindu Tri kaya parisudha upacara hindu Upanisad Utsawa Dharma Gita Vasudhaiva Kutumbakam Vijaya Dashami wija kasawur Yayurveda