OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM

PRAKATA

Selamat Datang

Semangat Hindu merupakan blog bersama umat Hindu untuk berbagi berita Hindu dan cerita singkat. Informasi kegiatan umat Hindu ini akan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan.
Semangat Hindu semangat kita bersama.

Bersama Semangat Hindu kita berbagi berita dan cerita, info kegiatan, bakti sosial dan kepedulian, serta kegiatan keagamaan seperti ; pujawali, Kasadha, Kaharingan, Nyepi, Upacara Tiwah, Ngaben, Vijaya Dhasami dan lain sebagainya.

Marilah Berbagi Berita, Cerita, Informasi, Artikel Singkat. Bagi yang mempunyai Web/Blog, dengan tautan URL maka dapat meningkatkan SEO Web/ blog Anda.

Terima Kasih
Admin

RANBB

---#### Mohon Klik Share untuk mendukung blog ini ####---

Tampilkan postingan dengan label epos mahabharata ramayana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label epos mahabharata ramayana. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Maret 2017

verba volent scripta manent

Om Swastiastu, Semeton tentu pernah mendengar Peribahasa Latin kuno menyatakan verba volent scripta manent. Arti dari kata-kata ini intinya, “Apa yang terkatakan, akan segera lenyap. Apa yang tertulis akan menjadi abadi.”

Ya, peradaban kuno yang bisa kita ketahui hingga saat ini adalah akibat adanya pujangga yang menuliskannya, baik dalam prasasti-prasasti, lontar-lontar ataupun media lainnya. Kita harus berterima kasih kepada sang Pujangga yang dengan  penuh kesabaran menulis kisah-kisah peradaban hindu pada masa lampau yang kita banggakan pada masa kini.

Bagaimana mungkin kita mengetahui Sumpah Palapanya Patih Gajahmada dan kejayaan kerajaan Majapahit pada jaman dahulu, kalau bukan dari tulisan-tulisan prasasti. Tentunya sumpah yang diucapkan akan lenyap ditelan waktu bila tidak ada pujangga yang menuliskan dalam prasasti..

Bagaimana mungkin kisah Mahabarata kita ketahui bila tidak ada sang Bhagawan Byasa yang dengan penuh kesabaran dalam menuliskan kisah demi kisah sang Pandawa … Atau kisah Rama, Rahwana dan Sinta dalam kisah Ramayana yang ditulis Bhagawan Walmiki

Dan banyak lagi peradaban Hindu kuno yang sangat-sangat mulia, penuh dengan kejayaan, penuh dengan kegiatan Dharma akan kita dapat ketahui bila tanpa ada yang menuliskannya ….

Adanya peradaban Hindu masa kini akibat dari adanya peradaban Hindu masa lalu yang tertulis, dan peradaban Hindu masa depan ditentukan oleh peradaban Hindu masa kini. Peradaban Hindu di masa depan akan sirna bila tidak ada sumber (tertulis) yang dapat dibaca oleh anak-cucu-cicit kita dimasa depan.

Pentingnya menuliskan kegiatan-kegiatan keumatan yang terjadi agar kelak dapat diketahui oleh generasi penerus agama dan budaya kita tercinta..

Karena Tulisan “scripta”  Kejayaan Hindu akan ada selamanya dan abadi “manent” om swaha... #ktBudiasa/BPHBanten

Jumat, 21 Maret 2014

Sanghara Wija Kasawur

Si Bhanggala membeli secutak tanah milik Si Jarembha. Setelah mendirikan rumah si Bhanggala membuat sumur di pojok pekarangan. Tanah pun digali, dan ternyata segumpal emas ia temui dalam galian itu.

Mengetahui hal itu si  Jarembha mendatangi si Bhanggala dan meminta emas tersebut. Alasannya ia tidak menjual emas yang ada di tanah itu, tetapi hanya menjual tanahnya saja. Si Bhanggala menolaknya karena ia beranggapan apapun yang terdapat di dalam secutak tanah yang ia beli adalah miliknya.
Maka perdebatan pun terjadi. Orang-orang pada berdatangan, lalu menganjurkan supaya mereka menyampaikan persoalannya kepada maharaja Dharmawangsa.

Sang Dharmawangsa yang telah memerintah hampir empat puluh tahun sejak kemenangannya dalam peranbf besar Bharatayuddha melihat persoalan ini sebagai tanda-tanda zaman, terlebih lagi ciri-ciri alam pun menunjukkan bahwa zaman kehancuran akan tiba, zaman kali sanghara.

Ida Pedanda Made Sidemen mengolah cerita tersebut ke dalam bentuk kakawin yang indah. Kakawin Kalpha Sanghara, dikarang pada tahun Saka 1866 atau tahun 1944 Masehi. Tidak jelas dari mana pengarang besar Bali tersebut mendapatkan sumbernya. Tetapi dalam kitab Mosalaparwa, kitab ke-enambelas yang membangun Mahabharata kita menemui cerita lain yang maknanya sama.

Tiga puluh enam tahun setelah perang besar Bharata Yuddha berakhir, terjadilah pertanda alam yang buruk. Maharaja Dharmawangsa menyadari akan adanya tanda-tanda itu. Angin kering bertiup kencang. Debu, pasir dan bahkan batu-batu kerikil berterbangan dari berbagai penjuru. Cirit bintang berjatuhan menghantam bumi dengan bara panas berpijar. Matahari selalu bagaikan tertutup debu. Pada saat terbit dan terbenam bundaran matahari seolah-olah disilang oleh tubuh-tubuh tanpa kepala. Dan memang benar. Sang Dharmawangsa mendapat kabar tentang kehancuran bangsa Wresni. Bangsa ini hancur karena saling bunuh, yang merupakan perwujudan dari kutuk para pandita. Baca Sudahkah Dharma Mengalahkan Adharma ?

Bermula dari tindakan yang dilakukan oleh para ksatria untuk mengelabui para pandita : Sang Samba menyamar sebagai wanita hamil, labu beramai-ramai diarak dan diantar menghadap sang pandita. Salah seorang mengajukan pertanyaan apakah yang akan lahir dari kandungan tersebut. Dengan sangat marah para pandita tersebut menyatakan bahwa wanita hamil tersebut sesungguhnya adalah Sang Samba, dan ia akan melahirkan bom yang akan meledak dan menghancurkan bangsa-bangsa Wresni dan Andakasa. "Kalian semua sungguh berhati jahat, kejam mabuk kesombongan. Kalian akan saling bunuh dan bom-bom besi akan memusnahkan seluruh bangsa ini", kutuk para pandita.

Maka hancurlah bangsa Wresni dalam perang saudara itu. Memang mereka diselimuti oleh kemabukan, kesombongan, asusila. Dalam kitab ini disebutkan hanya Janardhana atau Sri Kresna di antara bangsa Wresni yang bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan norma-norma kesusilaan. Maka Beliaupun terbebas dari kehancuran itu.

Tjokorda Mantuk Dirana, raja Badung yang melakukan puputan mengolah cerita itu dalam sebagian karya besarnya Geguritan Purwa Sanghara. Raja yang pengarang produktif ini menulis; Reh kocap tan saking sastra, tan mantra tatan mas manik, sida manulak sanghara, kewala sane asiki, kasusilaning budi, punika kangken perau, kukuh kaliwat-liwat, tuara keweh tempuh angin, sida mentas saking sanghara sagara. Sebab bukan sastra, bukan pula mantra atau emas permata, yang mampu menolak sanghara, hanya satu, yaitu kesusilaan budi, yang bagaikan perahu yang kukuh, yang tiada goyah diterpa angin, yang akan mampu menyebrangi lautan sanghara.

Sebuah perbandingan yang sangat berkesan, tetapi juga sebuah penegasan yang amat penting; hanya dengan kesusilaan budi kita dapat menyebrangi lautan zaman kehancuran. Sumber bacaan buku Wija Kasawur Ki Nirdon 1992. (RANBB)

Rabu, 26 Februari 2014

4 Warna Hindu : Bukan Kotak Kedap Air

hindu banten
Satyam Eva Jayate

KASTA BALI. Bila kita bicara tentang 'warna' istilah yang dikenal dalam kitab-kitab suci Hindu, atau 'kasta' (caste) istilah yang berasal dari bahasa Portugis, kita membayangkan seolah-olah orang-orang Hindu ditempatkan dalam kotak-kotak kedap air yang disusun bertingkat. Sebuah pelapisan sosial yang statis dan beku, berbeda dengan pelapisan sosial masyarakat modern yang dinamis dan cair.
Apakah kenyataannya memang demikian? Berikut ini disampaikan beberapa penafsiran mengenai makna 'warna' atau kasta untuk menunjukkan bahwa 'warna' bukanlah suatu yang mati, yang tidak bisa ditawar-tawar, bahwa 'warna' sebetulnya ' subject to ' makna yang diberikan oleh para penafsirnya, yaitu kita sendiri.
  1. Mahabarata, dalam salah satu sarganya menyatakan bahwa pada awalnya semua brahmana, karena pekerjaan timbul 'warna' berbeda.
  2. Guru Gobind Singh, Guru ke 10 dari negara Sikh (1666-1708) menggabungkan keempat kasta jadi satu dan disebut 'Singha' - Ksatrya.
  3. M.K. Gandhi mengatakan India dibawah jajahan Inggris : Sudra
Sejarah India menunjukkan bahwa 'warna' bukanlah kotak-kotak kedap air. Beberapa dinasti terkemuka bukanlah dari kasta Ksatriya. Dinasti Nanda adalah Sudra; Sunga adalah Brahmana; Gupta adalah Waisya, Wataka Brahmana yang menjalin hubungan perkawinan dengan Gupta. Rastrakuta adalah Ksatriya. Bali juga demikian. Raja-raja Badung dan Tabanan mulanya adalah Ksatriya kemudian diturunkan menjadi Waisya. Raja Karangasem yang semula adalah Waisya mengangkat dirinya menjadi Ksatriya pada waktu kejatuhan Klungkung ke tangan Belanda. Baca artikel tentang Brahmana Ksatriya Waisya Sudra 

"Gelar-gelar" soroh yang ada sekarang dibuat pada abad 15-19. Siapa yang menentukan memberikan gelar-gelar itu? Raja-raja berdasarkan jasa atau kesalahan dari seseorang terhadap raja (Dewa, Ngakan, Sang, Gusti, Gusi, Si). Sang Patriak sendiri, memberi gelar kepada 'anak-anaknya' seperti yang dilakukan oleh Pedanda Sakti Wau Rauh. Pedanda Sakti Wau Rauh atau Dang Hyang Nirartha, leluhur para Brahmana di Bali, memberikan peringkat kepada anak-anaknya berdasarkan golongan dari mana istri-istrinya berasal. Pemerintah Belanda menciptakan gelar, Anak Agung untuk raja-raja Gianyar, Bangli dan Karangasem, Cokorda untuk raja Badung dan Tabanan, Ubud dan Payangan. Raja Klungkung, raja dari seluruh raja Bali bergelar Dewa Agung. Tapi sekarang seluruh keturunan raja Klungkung memakai gelar Cokorda.
Sumber bacaan buku Hindu Akan Ada Selamanya oleh Ngakan Made Madrasuta. (RANBB)

Selasa, 05 November 2013

Pernikahan Dewayani - Kisah Mahabharata

PERNIKAHAN DEWAYANI


Resi Sukra sangat sedih mendengar kisah putrinya. Ia segera menemui putrinya. Katanya, menghibur Dewayani : " Perbuatan kita sendirilah yang membuat kita bahagia atau menderita, bukan kebajikan atau kejahatan orang lain. " Dengan kata-kata bijak, Rsi Sukra berusaha menghibur putrinya.

Dalam konteks ini, Bhagawan Wiyasa memberikan nasihat kepada umat manusia secara umum dengan kata-kata penghiburan Rsi Sukra kepada putrinya :

"Orang yang dapat menaklukkan dunia adalah orang yang sabar menghadapi caci maki orang lain. Orang yang dapat mengendalikan emosi ibarat seorang kusir yang dapat menaklukkan dan mengendalikan kuda liar. Dia dapat mengambil jarak dari amarahnya seperti ular yang menanggalkan kulitnya. Hanya mereka yang tidak gentar menghadapi siksaan akan berhasil mencapai apa yang dicitakan.

Seperti yang tertulis dalam kitab suci, mereka yang tidak pernah marah jauh lebih mulia daripada orang yang taat menjalankan ibadah selama seratus tahun. Orang yang tidak mampu mengendalikan amarah akan ditinggalkan oleh para pelayan, teman, saudara, istri, anak, kebajikan dan kebenaran. 

Orang yang bijaksana tidak akan memasukkan kata-kata anak muda yang penuh emosi ke dalam hatinya "

Dikutip dari buku Mahabharata-Ramayana oleh C.Rajagopalachari hal 44/885. Umat Hindu sebaiknya membaca buku Kitab Epos Terbesar Sepanjang Masa ini, agar mendapatkan informasi yang benar, bukan dari sinetron atau lawakan di televisi yang menggunakan nama-nama besar tokoh Mahabharata-Ramayana, namun dengan karakter yang tidak sesuai.

Senin, 09 September 2013

Tafsir dalam Hindu (Veda Vedanta)

Tafsir dalam Hindu (Veda Vedanta)
sumber : http://m.mpujayaprema.com/index.php
Tentang Weda (Veda)
Kitab suci umat Hindu adalah Weda. Weda adalah wahyu Tuhan yang diterima oleh Maharsi, Rsi yang (maha) utama. Weda juga sering disebut sebagai Kitab Sruti, artinya kumpulan wahyu yang diterima melalui pendengaran para Maharsi. Juga disebut Kitab Rahasia, karena inti ajarannya adalah menuntun umat untuk mencapai tujuan hidup yang tertinggi, yakni moksa. Weda juga sering disebut Kitab Mantra – apalagi di Bali – karena kitab ini berisi puji-pujian berupa mantra, baik untuk menjalankan ritual maupun untuk pemenuhan rohani.
Sebagai wahyu Tuhan, kapankah Weda itu diturunkan? Ini pun tak pernah ada kejelasan atau ada yang menyimpulkan – sesuatu yang biasa di dalam Hindu tak ada sebuah kesimpulan yang pasti dan satu-satunya kesimpulan. Beberapa sarjana tercatat mempunyai argumentasi tentang kapan Weda dibahyukan:
  1. Lokamanya Tilak Shastri, memperkirakan wahyu Weda turun 6 ribu tahun sebelum Masehi.
  2. Bal Ganggadhar Tilak, memperkirakan wahyu Weda turun 4 ribu tahun Sebelum Masehi.
  3. Dr. Haug memperkirakan Weda turun 2.400 tahun Sebelum Masehi.
  4. Dr. Max Muller memperkirakan Weda turun 1.200 sampai 800 Sebelum Masehi.
  5. Heine Gelderen memperkirakan Weda turun sekitar  tahun 1.500 sampai 1.000 Sebelum Masehi
  6. Sylvain Levy memperkirakan Weda turun sekitar 1.000 Sebelum Masehi.
  7. W. Stutterheim memperkirakan Weda diturunkan sekitar 1000 sampai 500 Sebelum Masehi.
Memang,jarang sekali diperdebatkan kapan turunnya Weda. Barangkali perdebatan yang tak akan pernah selesai sementara tujuan berdebat pun tak pernah sampai. Yang penting bagi penganut Hindu, Weda diwahyukan dan ada yang menerima wahyu itu. Ada 7 Maharsi penerima Weda. Mereka itu adalah: Maharsi Grtsamada, Maharsi Wiswamitra, Maharsi Wamadewa, Maharsi Atri, Maharsi Bharadwaja, Maharsi Wasistha, Maharsi Kanwa
Diperkirakan Weda ini turun dalam rentang waktu yang panjang dan tidak di satu tempat. Dan yang berjasa mengumpulkan wahyu yang tersebar ini adalah Maharsi Wyasa. Beliaulah yang kemudian memilah-milah disesuaikan dengan fungsinya. Maharsri Wyasa yang juga penyusun Mahabharata, Bhagavadgita dan Brahmasutra  ini, memiliki empat asisten untuk memilah Weda. Mereka itu:
  1. Maharsi Paila (ada yg menyebut Pulaha), hasil pilahannya melahirkan kitab Rg Weda (Rgveda Samhita)
  2. Maharsi Waisampayana, hasil pilahannya kitab Yajur Weda (Yajurveda Samhita)
  3. Maharsi Jaimini, hasil pilahannya melahirkan kitab Sama Weda (Samaveda Samhita)
  4. Maharsi Sumantu, hasil pilahannya melahirkan kitab Atharwa Weda (Atharvaveda Samhita).
Rgveda mempunyai 10.552 bait/sloka mantra yang isinya berupa nyanyi puji-pujian untuk persembahan pada Tuhan. Kitab ini dibagi dalam 10 mandala (buku ataubab).
Samaveda mempunyai 1.875 mantra, isinya juga puji-pujian dalam melaksanakan yadnya (upacara).
Yajurveda mempunyai 1.975 mantra, isinya tentang tuntunan hidup keseharian yang berhubungan dengan masalah duniawi.
Atharwaveda mempunyai 5.987 mantram, isinya juga tentang tuntunan kehidupan yang berhubungan dgn masalah duniawi.

Untuk mempermudah mempelajari ke empat Weda (Catur Weda) ini para maharsi membuat buku pedoman. Rsi Panini misalnya membuat kitab-kitab yang berhubungan dengan pengetahuan bahasa Sansekerta, seperti kitabSiksa (ilmu phonetika), kitab Wyakarana (ilmu tata bahasa Sansekerta), Nirukta (ilmu etimologi Sansekerta). Lalu ada kitab Kalpasastra (petunjuk tentang upakara agama) dan Jyotistha yang berisi pengetahuan tentang astrologi dan astronomi. Dua kitab terakhir ini erat kaitannya dengan waktu pelaksanaan upacara. Di Bali ilmu ini berkembang demikian pesat yang disebut ilmu wariga, dan berujung pada bagaimana menentukan hari baik dan hari buruk untuk pelaksanaan upacara keagamaan.

Keenam kitab di atas karena berisi petunjuk bagaimana mempelajari dalam arti membaca Weda, maka hampir tak ada masalah. Beda dengan kitab-kitab yang berisi cara menerangkan Weda sehingga bisa dijadikan praktek atau pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Kitab-kitab itu disebut kitab Brahmana, Aranyaka dan Upanisad. Semua Weda didampingi kitab-kitab ini.

Kitab Brahmana menerangkan bagaimana mempergunakan mantra Weda dalam rangkaian upacara. Aranyaka kemudian menjelaskan bagian-bagian mantra itu. Sedangkan Upanisad berisi petunjuk bagaimana memahami ajaran suci Weda dalam khidupan di dunia ini. Secara garis besar kemudian bisa digolongkan, kitab Brahmana dan Atanyaka sebagai pedoman Karma Kandha (karma=perbuatan, kandha = bagian), yakni bagaimana kita berbuat sesuai dengan Weda. Sedang Upanisad tergolong Jnana Kandha (jnana=ilmu pengetahuan). Di sinilah diatur bagaimana Weda mengajarkan ilmu pengetahuan kepada umat manusia, apa yang harus dilakukan, apa yang tak boleh dilakukan, apa yang dipantang, dan semua seluk beluk masalah kehidupan manusia.

Saking luasnya pembidangan ini, Upanisad terdiri dari 108 kandha (bagian atau kitab) dan di bagian inilah terbuka penafsiran yang berbeda-beda. Perbedaan penafsiran itu bisa karena “salah membaca” karena tidak dikuasainya kitab Siksa, Wyakarana, Nirukta atau berbeda pemahaman dalam mempelajari Kalpasastra dan Jyotistha.

Kitab-kitab yang muncul dari cara menafsirkan Weda ini disebut kitab Smerti (Smrti). Kitab-kitab inilah yang sangat banyak adanya, disusun oleh para rsi yang terkenal pada zamannya seperti Maharsi Manu, Yajnawalkhya, Sanka, Likhita, Parasara. Kitab-kitab itu umumnya berlabel dharmasastra yaitu ajaran tentang dharma menjadi petunjuk tentang kebenaran. Yang terkenal di bawa ke Nusantara ini misalnya Manawadharmasastra, Sarasamuccaya dan lainnya.

Sebelum sampai pada masalah penafsiran, inti dari pembahasan kali ini, baik dilengkapi dulu penggolongan kitab-kitab suci yang menunjang Weda. Ada yang disebut kitab Itihasa, ini adalah karya sastra (bisa saja berupa kejadian yang sebenarnya tetapi disastrakan) yang menceritakan tentang kepahlawanan dengan segala lika-likunya. Ada 2 Itihasa yang dianggap “bisa mewakili cara pemahamanWeda untuk kalangan awam dan anak-anak” yaitu Kitab Ramayana dan Kitab Mahabharata.

Ramayana digubah oleh Maharsi Walmiki terdiri dari 7 kandha (bagian atau buku) dengan 24.000 bait syair. (1) Ayodhya Kandha (kisah kelahiran Rama), (2) Bala Kandha (kisah Rama ketika kanak-kanak), (3) Aranya Kandha(kisah Rama di hutan mengamankan pertapaan Wiswamitra), (4) Kiskinda Kandha (kisah Rama yang diminta bantuan oleh Sugriwa dalam perang saudara melawan Subali, akhirnya Sugriwa menjadi abdi Rama), (5) Sundara Kandha (pembuatan jembatan menuju Alengka), (6) Yuda Kandha (kisah pertempuran Rama melawan Rahwana), dan (7) Utara Kandha (kisah asal-usul leluhur dan keturunan Rama, Sita dan lain-lain).
Kitab Mahabharata disusun Maharsi Wyasa terdiri dari 18 Kandha (di sini disebut parwa karena bagian-bagian itu besar dengan banyak sub-bagian. Itu sebabnya di Bali, wayang kulit Mahabharata disebut wayang kulit parwa). Bagiannya: (1) Adiparwa (ini pengantar semua parwa dengan cerita garis besarnya saja), (2) Sabhaparwa (tentang perjudian dan kekalahan pihak Pandawa), (3) Wanaparwa (pembuangan Pandawa ke hutan), (4)Wirataparwa(tentang penyamaran Pandawa di Kerajaan Wirata selama satu tahun), (5) Udyogaparwa (tentang upaya perdamaian yang dipimpin Prabu Kresna), (6) Bhismaparwa (kisah Rsi Bhisma sebagai panglima perang Korawa), (7)Dronaparwa (cerita Rsi Drona sebagai panglima perang Korawa), (8) Karnaparwa (cerita Senopati Karna sebagai panglima perang Korawa), (9) Salyaparwa (tentang Senopati Salya sebagai panglima perang Korawa), (10)Sauptikaparwa (kisah penculikan dan pembunuhan Panca Kumara, putra Pandawa oleh Aswatama), (11) Striparwa (kisah tangisan para istri yang suaminya giugur di medan perang), (12) Santiparwa (tentang nasehat Rsi Kripa dan kawan-kawannya kepada Pandawa), (13) Anusasanaparwa (cerita penobatan cucu Arjuna, Parikesit, sebagai raja keluarga Pandawa), (14) Aswamedaparwa (upacara korban kuda memperluas kerajaan Hastina), (15)Asramawasanaparwa (kisah memasuki Wanaprasta sampai meninggalnya leluhur Pandawa seperti Dewi Kunti, Prabu Drestarasta di hutan), (16) Mausalaparwa (tentang pralayanya – kiamat – keluarga Yadhu dan hancurnya kerajaan Dwarawati), (17) Mahaprasthanikaparwa (tentang meninggalnya Pandawa dan Drupadi, kecuali Dharmawangsa yang langsung masuk sorga), (18) Swargarohanaparwa (tentang kehidupan Pandawa di Sorga).

Dari seluruh parwa ini, ada satu parwa yakni Bhismaparwa dianggap istimewa karena di salah satu bagiannya ada wejangan yang penuh muatan filsafat dari Sri Kresna kepada Arjuna di tengah Padang Kurusetra, yang terkenal kemudian dengan nama Bhagawadgita. Kitab BG ini sering disebut sebagai Pancamo Weda, atau Weda yang kelima, meski mengundang polemik sampai sekarang karena: apakah ini bisa digolongkan wahyu Tuhan atau tidak? Sebagian menyebut BG bukan wahyu,jadi bukan kitab suci, namanya saja gubahan Maharsi Wiyasa. Tapi sebagian lain menyebut kitab suci karena posisi Kresna saat itu adalah Awatara. Kelompok fanatik yang menyebutkan BG sebagai kitab suci dan Krishna adalah Tuhan adalah Hare Krishna. Kelompok ini dalam istilah Hindu disebut Sampradaya atau aliran.

Selain Itihasa, adakitab-kitab penunjang Weda yang sering disebut-sebut sebagai “cara awal mempelajari Weda”. Kitab itu disebut Purana. Arti harafiah Purana adalah sejarah (di Bali setiap pura ada purananya), yakni cerita tentang sejarah penciptaan bumi ini dan siapa yang berkuasa saat itu. Ada 18 Kitab Purana, yakni (1) Brahmanda Purana, (2) Brahmawaiwarta Purana, (3) Markandeya Purana, (4) Bhawisya Purana, (5) Wamana Purana, (6) Brahma Purana, (7) Wisnu Purana, (8) Narada Purana, (9) Bhagawata Purana, (10) Garuda Purana, (11) Padma Purana, (12) Waraha Purana, (13) Matsya Purana, (14) Kurma Purana, (15) Lingga Purana, (16) Siwa Purana, (17) Skanda Purana, (18) Agni Purana.

Masuknya agama Hindu ke Indonesia pada abad 4 tidak membawa serta kitab-kitab itu, apalagi Catur Weda. Yang dibawa adalah kitab-kitab “dibawahnya” seperti Itihasa, Purana, Dharmasastra dan sejenisnya. Ini yang kemudian diterjemahkan lagi ke bahasa Jawa Kuno (Kawi) sehingga muncullah berbagai jenis lontar (karena ditulis didaun rontal) dan dari sana menyebar ke umat. Demikianlah orang-orang di Nusantara mengenal Kekawin Ramayana, Arjuna Wiwaha (dari kelompok Itihasa), Manawadharmasastra, Sarasamuccaya (dari kelompok Dharmasastra), Brahmanda Purana (kelompok Purana), Argapatra, Wraspati Tatwa, Bhuwanakosa dan banyak lagi dari kelompok pedoman pemujaan dan pelaksanaan upacara.

Di manakah Penafsiran Bermasalah?

Kitab-kitab yang hanya menuntun bagaimana cara “membaca Weda” tentu tidak bermasalah. Demikian pula kitab Itihasa, Purana, nyaris tanpa masalah, karena itu hanya berupa cerita. Kalau pun ada penafsiran yang bermasalah lantaran menangkap pesan dari sudut yang berbeda, itu bukan masalah besar. Misalnya: Pandawa kalah berjudi sampai dibuang ke hutan. Penafsiran positif: janganlah berjudi karena ternyata berjudi itu akibatnya tidak baik, lihat keluarga Pandawa. Namun penafsiran negatif; judi itu sudah ada sejak dulu kala, Pandawa yang dipimpin Yudistira yang alim saja berjudi.


Yang bermasalah adalah kitab-kitab Smerti. Para penafsir, yang merupakan Rsi ternama di zamannya, bisa berbeda cara menafsirkan kata-kata yang indah – sekaligus—misteri dari Weda. Ini menyangkut pemahaman pada kiasan yang bisa berbeda, atau ada missi tertentu dari para Rsi itu – termasuk pula posisi sang Rsi. Kitab Sarasamuccaya yang disusun Bhagawan Wararuci dianggap kontroversial bertahun-tahun yang lalu, ketika pertamakali diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Kitab yang berisi 511 sloka (ayat) ini berisi pedoman tentang perilaku yang baik atau etika. Diperkirakan disusun pada abad ke-9 – 10, kitab ini ditulis Bhagawan Wararuci dengan dua bahasa yaitu Sanskerta dan bahasa Jawa Kuno (Kawi). Karena itu banyak yang menduga Bhagawan Wararuci lahir di Nusantara karena kitab ini ditemukan dengan terjemahan dalam bahasa Jawa Kuno dari aslinya, Sansekerta. Kedua bahasa itu dipersandingkan. Namun, tidak ada kepastian bahwa beliau lahir di Nusantara, bisa saja Sarasamuccaya itu datang dari India dan diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa Kuno oleh seseorang yang tak mau disebutkan namanya. Hal-hal yang anonim itu jamak dalam susastra Hindu di era kerajaan-kerajaan di Jawa.

Kitab Sarasamuccaya ini dimaksudkan oleh Wararuci sebagai intisari dari Astadasaparwa (Mahabharata), gubahan Rsi Wiyasa. Sara artinya intisari, sedangkan samuccaya artinya himpunan. Inilah himpunan dari instisari ajaran etika yang ada dalam Astadasaparwa. Karena kitab ini intisari dari Ithihasa Mahabharata, sementara Mahabharata adalah “kisah kepahlawanan” untuk memahami Weda lebih lanjut, maka tak mudah menemukan di mana sloka-sloka Sarasamuccaya ini ada dalam Weda.

Pertamakali kitab ini muncul dalam terjemahan bahasa Indonesia oleh I Nyoman Kajeng dkk. Kitab yang slokanya indah ini ternyata beberapa ayat di bagian akhirnya, ketika membahas soal wanita, menjadi kontroversi. Itu lantaran disebutkan wanita hanya menjadi pengumbar nafsu seks, dan wanita menjadi perusak keluarga karena tak bisa menahan birahinya. Kesimpulannya: hindarilah wanita.

I Nyoman Kajeng (kini telah tiada) menerjemahkan Sarasamuccaya bukan dari bahasa Sansekerta, beliau tak paham bahasa itu. Staf di Gedung Kirtya Singaraja ini menerjemahkan Sarasamuccaya dari buku Prof. Dr. Raghu Vira, Ph.D pada tahun 1959. Kajeng menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari sloka Jawa Kuno, dan karena itu dia menyebut kemungkinan banyak yang janggal. Ya, kejanggalan ini, bisa jadi pula termasuk sloka/ayat yang kontroversi soal wanita itu.

Sarasamuccaya terjemahan Nyoman Kajeng ini kembali diterbitkan tahun 1997 dengan catatan penutup dari Parisada Hindu Dharma. Isi catatan itu adalah wanita yang dimaksudkan dalam sloka yang bermasalah itu adalah untuk seseorang yang memang tak boleh berhubungan dengan wanita, seperti yang memilih hidup Sukla Brahmacari, misalnya, Brahmacari, Sannyasi, pertapa, pendeta. Bagi orang-orang seperti inilah tujuan sloka itu. Nah dengan menggolongkan kitab ini hanya untuk kaum Sukla Brahmacari, maka masuk akallah jika wanita itu harus dijauhi atau dihindari.

Belakangan, seorang ahli Sansekerta Tjok Rai Sudharta, menerjemahkan Sarasamuccaya ke dalam bahasa Indonesia langsung dari bahasa Sansekerta. Tjok menyebutkan kitab ini untuk semua golongan usia, bukan hanya untuk kaum Sukla Brahmacari. Tjok Rai Sudharta menyebutkan, yang dimaksudkan oleh Wararuci tentang wanita dalam buku ini adalah wanita nakal. Karena itu wanita nakal harus dihindari, bukan semua wanita dihindari.
Di era internet belakangan ini (sekitar tahun lalu) muncul web anonim dalam bahasa Indonesia yang membuat terjemahan Sarasamuccaya. Terjemahan lumayan bagus. Dalam ayat-ayat tentang wanita, terjemahan ini menyebutkan “wanita jalang”, bahkan di setiap kata wanita jalang ada garis miring kata “lelaki hidung belang”. Yang mau dikatakan oleh penerjemah moderen ini adalah, Sarasamuccaya selain baik untuk pelajaran etika bagi semua golongan usia, juga baik untuk wanita. Karena kata wanita dalam Sarasamuccaya haruslah diartikan semua orang yang jalang atau binal, baik ia wanita maupun lelaki.
Saya kutip satu sloka, ayat 428

Bahasa Sansekerta

Nasam kascidagamyo’sti nasam wayasi niscayah, Wirupam wa surupam wa pumanityewa bhunjate

Terjemahan Kajeng dkk


Tidak ada yang tidak patut akan didatangi oleh wanita, tidak patut aku pergi ke situ, sebab keadaanku begini, akan dia itu, keadaannya begitu, patut dihormati, tidak mempunyai pertimbangan demikian wanita itu, sebaliknya dia pergi saja dan ia tidak memikirkan, apakah si anu itu orang muda atau pun orang tua, ia tidak menghiraukan, apakah tampan atau buruk. Ah, laki-laki ini, demikian saja pikirannya, pada waktu nafsu birahinya datang.

Terjemahan Tjok Rai Sudarta

Bagi seorang perempuan nakal, tidak ada yang tidak boleh didatanginya. Ia akan langsung menuju sasarannya dan ia tidak peduli apakah itu orang tua, apa orang muda. Tidak peduli dia apakah orang itu tampan atau jelek rupanya. “Ia adalah laki-laki” hanya itu yang dipikirkannya ketika perempuan nakal itu ada dalam gejolak nafsunya.
Terjemahan era internet

Tidak ada yang menjadi pantangan bagi wanita jalang/lelaki hidung belang, ia tidak membedakan apakah orang tua ataukah bocah, jika nafsu birahinya datang semua orang digoda dan diajak melakukan senggama.

Tafsir Weda di kitab terjemahan Al Quran

Ada contoh menarik lagi. Pada kitab “Al Quran dan Terjemahannya” yang diterbitkan Departemen Agama, ada dikutip kitab Weda, walau hanya beberapa baris. Kutipan itu ada di Bab Dua yang bertajuk Nabi Muhamad S.A.W pada point (b) berjudul: Kitab Weda adalah kitab untuk sesuatu golongan berisi pernyataan sebagai berikut:


Di antara pengikut-pengikut Weda, maka membaca kitab Weda itu menjadi hak yang khusus bagi kasta yang tinggi saja. Demikianlah maka Gotama Risyi berkata: “Apabila seorang Sudra kebetulan mendengarkan kitab Weda dibaca, maka adalah kewajiban raja untuk mengecor cor-coran timah dan malam dalam kupingnya, apabila seorang Sudra membaca mantra-mantra Weda, maka raja harus memotong lidahnya dan apabila ia berusaha untuk membaca Weda, maka raja harus memotong badannya. (Gotama Smrti 4).

Siapa Gotama Risyi? Tak begitu dikenal, bahkan jika pun nama ini misalnya salah dan yang benar adalah Rsi Gotama, juga tak dikenal di kalangan para penulis Smrti. Karena itu pula kitab Gotama Smrti yang dikutip dalam terjemahan Al Quran ini tak jelas memuat soal apa saja, di luar teks yang dikutip.


Dalam Weda tak pernah satu pun ada mantra yang menyebut soal kasta. Jika dihubungkan dengan istilah Sudra, Brahmana dan lainnya, itu ada di dalam ajaran Catur Warna, empat jabatan fungsional dalam masyarakat, yaitu Sudra, Wesya, Kesatria dan Brahmana. Ayat tentang “warna” ini ada banyak di dalam Weda.

Sudra adalah awal kehidupan seorang manusia, dan ketika orang itu belajar dan memanfaatkan ilmunya untuk melaksanakan fungsi sosial di masyarakat, ia bisa menjadi Wesya atau pun Kesatria. Wesya fungsi sosial yang bergerak di bidang ekonomi dan secara gampang disebut pedagang, atau mungkin lebih tepatnya swasta. Sedang Kesatria melaksanakan pengabdiannya di pemerintahan, atau sebut gampangnya pegawai negeri. Jika seorang Sudra itu tak memperbaiki kualitas pribadinya lalu mencari penghasilan dengan mengandalkan tenaga ototnya semata, maka ia tetap saja Sudra. Sedangkan Brahmana adalah fungsi sosial orang yang sudah lanjut – ia tak lagi mencari uang untuk menghidupi keluarganya karena ditopang oleh keturunannya – dan itu bisa ditempuh dari jalur Sudra, Wesya, Kesatria. Brahmana lah orang yang sepenuhnya menekuni Weda, terutama mempraktekkan mantra-mantra Weda untuk kepentingan ritual, puja-puji kepada Tuhan Yang Esa.

Nah, dalam proses belajar menjadi seorang Brahmana inilah ada berbagai ketentuan dimuat dalam Weda. Misalnya, jika mendengar ada orang yang membaca Weda, seorang Sudra (atau siapa pun) harus konsentrasi penuh. Semua suara-suara di luar pembacaan Weda itu harus dihindari, jika perlu telinga ditutup dengan timah, sehingga hanya pembacaan Weda saja yang didengar.

Kemudian kalau hasrat itu meningkat dan tidak puas hanya dari mendengar, lalu mencoba membaca sendiri Weda, seorang Sudra (atau siapapun) harus “dipotong lidah”nya. Ini simbolis, bukannya lidah dipotong tetapi ditulisi aksara suci oleh sang guru, yang secara kasat mata kelihatan seperti diiris-iris (istilah di Bali: dirajah). Proses ini sampai sekarang diteruskan, di Indonesiadisebut mewinten dan di India disebut upayana. Seseorang harus mengikuti ritual ini untuk pertamakalinya jika belajar Weda denganmembaca Weda secara langsung.
Kalau terus lagi mempelajari Weda karena ingin tuntas menjadi Brahmana sejati, maka sang guru Nabe “memotong badan” sang Sudra (arau siapapun) dengan cara simbolis. Upacara ini disebut seda raga (ritual kematian) dan beberapa saat ritual itu dinyatakan lahir kembali untuk kedua kalinya (dwijati). Pada kelahiran kedua inilah orang tersebut baru menjadi Brahmana.

Bagaimana mungkin Gotama Risyi melahirkan pernyataan yang jauh bedadari penafsiran yang umum? Mungkin ada kendala bahasa, atau ada tujuan politis, atau Gotama terpancing dengan perbedaan kelas yang memang terjadi di India dan dia kebetulan dari kasta yang tinggi. Ini pun masih dipertanyakan mengingat jumlah kasta di India banyak sekali, tidak cuma empat. Hampir setiap profesi mengikatkan diri dengan membentuk kasta, misalnya, ada kasta untuk kaum pengrajin gerabah. Sudra di pedalaman India bukanlah yang terendah karena ada lagi kasta Paria.

Tetapi yang lebih mengherankan orang Hindu termasuk saya adalah apa relevansinya kitab “Al Quran dan Terjemahannya” yang diterbitkan proyek Departemen Agama harus mengutip kitab Smerti yang kontroversial itu. Apa yang mau diinformasikan kepada pembaca muslim, pengguna Al Quran?

Boleh dikatakan dalam kasus Gotama Risyi ini,tafirnya bisa digolongkan salah menerjemahkan keindahan kata Weda. Begitu banyak soal Catur Warna ini ada disebutkan dalam Weda, ssalah satu saya kutip:
Yathenam wacam kalyanim, awadai jnebhyah
Brahmana Rajanyabhyam Cudra ya caryaya ca
Swaya carana ca
(Yajurweda XXV.2)

Terjemahannya:
Biar kuajarkan pengetahuan suci ini, kepada orang banyak. Kaum Brahmana, Kesatria, Sudra dan Waisya. Dan bahkan kepada orang asing sekalipun.

Di sini jelas semua orang bisa mempelajari Weda, termasuk kelompok Sudra, bahkan kepada orang asing, yang ditafsirkan sebagai orang yang bukan penganut Hindu. Jadi Weda bukan kitab untuk satu golongan. Sloka ini sering dijadikan pembenar pula bahwa agama Hindu sebenarnya juga agama missi, menangkis anggapan orang tua Bali di masa lalu yang menyebutkan, Hindu tidak mencari pengikut tetapi mereka datang sendiri.

Di kitab-kitab “turunan” Weda pun soal Catur Warna sering disebut, termasuk di dalam kitab Bhagawadgita. Salah satunya BG IV. 13 berbunyi:
Chatur varnyam maya srishtam, guna karma vibhagasah
Tasya kartaram api mam, viddhy akartaram avyayam

Terjemahan Nyoman S Pendit: Catur warna adalah ciptaan-Ku, menurut pembagian kualitas dan kerja. Tetapi ketahuilah walau pencitanya, Aku tidak berbuat dan mengubah diri-Ku.


Terjemahan Mohan MS:Kuciptakan keempat sistim kehidupan (chaturvarnyam), sesuaidengan pembagian guna (sifat-sifat prakriti) dan karma (aksi dan kerja).Walaupun Aku yang mencipta keempat sistim kehidupan ini, tetapiketahuilah bahwa Aku tidak bekerja dan tak pernah berganti-ganti (sifat).


Ini ulasan Mohan MS: Keempat varna adalah empat tipe kehidupan, masing-masing merupakan produk asli dari pikiran dan tindakan manusia itu sendiri yang sudah ada semenjak ia dilahirkan. Ada manusia yang ingin menjadi seorang brahmin, ada yang ingin menjadi tentara (keshatria), dan ada yang ingin menjadi pedagang dan ada yang memilih menjadi seorang buruh. Semua ini sebenarnya adalah manifestasi dari karma, pikiran dan bakat masing-masing sesuai dengan keinginan sejatinya. Harus dicamkan secara serius oleh kita semua bahwa di dalam masing-masing individu ini bersemayam Satu Tuhan dan adalah bebas bila seseorang memilih menjadi brahmin, kshatria, vaishya atau sudra. Sistim varna ini sebenarnya adalah pembagian kerja dengan konsep yang modern yang disebut kelas di negara-negara Barat. Tetapi banyak masyarakat Hindu malahan menyalah-gunakan ini demi kepentingan pribadi yang akibatnya menimbulkan diskriminasi sosial yang serius yang mengacaukan agama Hindu itu sendiri, dan menjadi bahan tertawaan orangorang luar.


Tapi Mohan MS juga berbeda menafsirkan salah satu ayat BG dibandigkan penerjemah BG lainnya. Satu contoh tafsir yang berbeda itu, misalnya, Bhagawad Gita Percakapan 4 ayat 11 (BG IV.11),  berbunyi:

 Ye yatha mam prapadyante
Tams tathai ‘va bhajamy aham
Terjemahan Nyoman S Pendit
Jalan manapun ditempuh manusia ke arah Ku, semuanya Kuterima
Dari mana-mana semua mereka, menuju jalanKu, oh Partha                   
                                                                                                                                                                           
Terjemahan Mohan MS (dipakai dalamweb resmi PHDI)
Jalan apapun yang diambil seseorang untuk mencapaiKu, Kusambut mereka sesuai dengan jalannya, karena jalan yang diambil setiap orang di setiap sisi adalah jalanKu juga, oh Arjuna!

Nah, apa pengertian jalan itu? Para penerjemah Weda seperti Ida Bagus Puja, Prof. Dr Mantra, Nyoman S. Pendit dan lainnya lagi, mengartikan jalan itu sebagai “jalan karma” atau “Karma Yogya” dan “jalan ilmu pengetahuan” atau “Jnana Karma”. Apapun yang dipilih, apakah memuja Tuhan lewat kerja atau memuja Tuhan lewat ilmu pengetahuan, semuanya diterima, karena semua jalan itu menuju ke arah Tuhan. Penafsiran yang lebih liar lagi adalah orang bisa memuja Tuhan dengan tekun melakukan pekerjaan tanpa pamrih – misalnya mengajar di tempat terpencil mencerdaskan orang-orang padahal tak pernah sembahyang – atau orang bisa mengerjakan berbagai sesajen untuk dihaturkan kepada Tuhan dalam suatu persembahan yang kasat mata. Semua diterima Tuhan.

Penafsiran seperti ini didasarkan pula pada urutan-urutan sloka BG itu, di mana sebelumnya Krishna banyak memberikan wejangan kepada Arjuna tentang berbagai jalan yang bisa digunakan untuk sampai pada-Nya, termasuk Karma Yoga dan Jnana Yogya.
Tetapi seorang guru spiritual seperti Mohan MS – beliau keturunan India tetapi sangat membaur dengan masyarakat pedesaan – menafsirkan lain. Jalan itu adalah agama atau keyakinan. Jadi, agama atau keyakinan apapun yang dipeluk manusia, tujuannya sama saja, menyembah Tuhan.

Saya kutip penafsiran Mohan MS yang lengkap dari sloka ini:

Jalan kepercayaan atau agama apapun juga yang diambil seseorang untukmencapai Yang Maha Esa adalah jalanNya juga. Jadi setiap manusia menurut Bhagavat Gita berhak untuk menentukan jalan apa saja yangdiinginkannya untuk mencapai Yang Maha Esa, dan di ujung jalan ituberdiri Yang Maha Esa menyambutnya, karena bagiNya semua jalan ituakan berakhir pada suatu ujung. Jadi tidak ada agama yang dibeda-bedakanoleh Sang Kreshna atau Yang Maha Esa, karena tujuannya baik, yaitu kearahNya semata, walaupun dalam pengertiannya manusia sering salahmengartikannya.

Bagi seorang Hindu yang sejati semua kepercayaan terhadap Yang MahaEsa dan agama adalah sama, yaitu jalan ke Yang Maha Esa semata, dantidak ada alasan lain untuk mengubah atau mempengaruhi orang yangberagama atau berkepercayaan lain untuk masuk ke agama Hindu. SeorangHindu yang baik akan selalu tunduk dan hormat melihat tempat-tempatpemujaan agama lain, karena baginya yang ia lihat adalah jalan dan tujuanyang Satu, yaitu jalannya Yang Maha Esa.

Konon, ayat ini gencar digunakan oleh kalangan missionaris di Bali di tahun-tahun 1960-1970an – ketika penafsiran BG belum banyak beredar – sehingga umat Hindu banyak beralih agama pasca meletusnya Gunung Agung yang menimbulkan penderitaan hebat di Bali. Jika digunakan kata-kata sederhana, bentuknya seperti ini: “sudahlah untuk apa beragama Hindu yang ruwet, pindah ke agama lain yang lebih simple saja, toh kitab suci Hindu membolehkan semuanya itu, agama itu hanya jalan saja.”

Penafsiran di akar rumput

Sejatinya, perbedaan penafsiran seperti contoh tadi, hampir tak punya pengaruh di kalangan masyarakat Hindu pedesaan, katakanlah kaum yang “tidak terbiasa mempelajari tatwa agama”. Dalam agama Hindu dikenal tiga kerangka dasar: tatwa, susila, acara. Tatwa adalah memahami ajaran-ajaran agama, susila adalah perilaku yang baik sebagai ciri memeluk agama, acara adalah rangkaian ritual. Penafsiran tadi (contoh dari Gotama Risyi, Mohan MS) termasuk dalam ranah tatwa, terlalu “akademis” dan diawang-awang bagi masyarakat pedesaan. Karena itu, betapa pun simpang siurnya, tak berpengaruh besar.

Lain hal kalau beda penafsiran di tataran acara atau ritual. Ini pasti jadi masalah. Lalu bagaimana umat Hindu di Nusantara ini, khususnya di Bali memecahkan masalahnya?

Parisada dan pemerintah Bali pernah melahirkan lembaga penafsir dengan menghimpun wakil-wakil Parisada di semua kabupaten dan tokoh-tokoh yang dianggap layak mempunyai ilmu dalam bidang agama. Maka lahirnya lembaga yang disebut Lembaga Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu. Lembaga ini menyelenggarakan seminar yang beruntun untuk memecahkan persoalan yang sudah dihimpun sebelumnya. Sekitar lima tahun bekerja (1973-1978) – tentu tidak sepanjang waktu – dengan 14 kali mengadakan seminar, menghasilkan 39 kesatuan tafsir dari berbagai masalah. Ada yang menyangkut tentang pedoman hari raya keagamaan, alat-alat upacara, tata busana bersembahyang, jenis dan bentuk pura dan sebagainya. Bahkan sampai diatur bagaimana seorang sulinggih atau pendeta, misalnya, disarankan tak menyetir mobil karena takut terjadi pelanggaran lalulintas, pendeta tidak etis diadili.

Tapi tak semua kesatuan tafsir ini dipatuhi masyarakat, pro dan kontra tetap saja terjadi. Namun Parisada dan Pemda Bali tetap ngotot melanjutkan kerja Lembaga ini pada tahun anggaran 1988/1989, setelah 10 tahun absen. Pada seminar ke XV itu hanya dibahas 2 hal yakni Upacara Nuntun Dewa Hyang (menuntun roh yang sudah suci setelah upacara Ngaben, di mana ditempatkan) dan Tata Cara Membangun Perumahan. Kedua hal ini dianggap mendesak, terutama ketika lahan perumahan semakin sempit di perkotaan bagaimana membangun rumah yang bertingkat.Di mana meletakkan tempat suci dan sebagainya.
Lagi-lagi hasil seminar kesatuan tafsir ini tak begitu diperhatikan, tetapi juga tak menimbulkan kehebohan. Masyarakat tetap dengan “kearifannya sendiri” tentu dengan dukungan para pendeta Hindu yang memang sulit sepakat untuk berbagai masalah – selalu ada perbedaan di sana-sini.

Dan itulah akhir dari tugas lembaga Kesatuan Tafsir itu, karena setelah 1989, lembaga itu bubar dengan sendirinya. Lalu siapa yang mengambil alih penafsiran itu? Tugas itu dibebankan kepada PHDI Pusat, karena majelis ini dianggap lebih berwewenang menafsirkan Weda dan sifatnya nasional (bukan Bali sentris) sehingga bisa diberlakukan secara nasional di seluruh Indonesia. Nah, PHDI menugaskan Sabha Walaka (himpunan para pemikir Hindu yang bukan pendeta), sebuah lembaga resmi dalam PHDI untuk menyusun apa-apa yang perlu “disatukan tafsirnya”. Kemudian setiap tahun dalam Pesamuan Agung (semacam Rakernas) hal itu dibahas bersama Sabha Pandita (himpunan para pendeta Hindu). Kalau yang dibahas memenui syarat dan memang penting “disatukan tafsirnya” lahirlah apa yang disebut Bhisama (semacam fatwa di Islam). Jadi, bhisama itu jauh lebih kuat dari hanya sekedar hasil Seminar Kesatuan Tafsir.

Sudah banyak bhisama yang dilahirkan PHDI, dari yang tidak berani dibahas Seminar Kesatuan Tafsir seperti soal Kasta dalam Hindu, sampai hal-hal yang berkaitan dengan kebijakan pembangunan seperti Bhisama Kesucian Pura. Juga ada Bhisama Soal Tabuh Rah dan Bhisama Tentang Dana Punia. Para pendeta dalam melahirkan bhisama itu sangat berpijak pada Weda, dan kupasan itu memakan energi yang luar biasa. Misalnya ketika membicarakan bagaimana kasta itu tak ada dalam Hindu dan justru bertentangan dengan ajaran Hindu, yang dibahas adalah soal Catur Warna, sehingga namanya juga Bhisama Tentang Catur Warna. Begitu pula ketika menyasar soal haramnya sabungan ayam (tajen) yang dibahas bukan sabungan ayamnya, tetapi Tabuh Rah (upacara memercikkan darah hewan) yang selama ini dianggap sebagai pembenar adanya sabungan ayam.

Ini untuk menghindari kesan PHDI mengurusi hal-hal yang bukan agama, seperti mengurusi kasta dan sabungan ayam.
Apakah bhisama ini serta merta dipatuhi umat Hindu? Tidak juga. Bhisama Tentang Dana Punia meskipun sudah lahir tahun 2002, tetap saja sulit dilaksanakan. Dalam bhisama ini disebutkan antara lain, umat Hindu wajib menyetorkan dana punia sebesar 2,5 % dari pendapatan bersih (maksudnya setelah dipotong pajak dan kewajiban pada negara). Sepuluh tahun sudah berjalan, PHDI tetap merasa sulit menerapkan bhisama itu. Hanya masalah Kasta yang lebih diikuti, itu pun sebenarnya sulit disebut karena bhisama, tetapi lebih pada kesadaran orang Bali yang tak mau lagi dikelas-kelaskan sesuai keturunan. Apalagi organisasi yang berlabel keturunan ini makin eksis dan mereka berlomba-lomba mendidik para Brahmana, pendeta Hindu, suatu hal yang di masa lalu kelas Brahmana ini dimonopoli golongan (atau tepatnya keturunan) tertentu.

Om a no bhaadrah kratavo yantu visvato, semoga pikiran yang baik datang dari segala arah.

(Makalah ini dibacakan pada Kuliah Tafsir di Komunitas Salihara Jakarta, pada 1 Desember 2012)

Marilah Membaca tentang Kebenaran yang sejati , kunjungi website resmi Mpu Jayaprema yang kita sucikan klik http://m.mpujayaprema.com/index.php

Jumat, 06 September 2013

Tuhan Menurut Bhagawadgita

Bhagawadgita adalah bagian kecil dari epos besar Mahabharata yang ditulis oleh Bhagawan Viasa. Bhagawadgita merupakan wejangan Sri Kresna kepada Arjuna yang merasa takut dan sedih berperang dengan keluarganya sendiri termasuk guru dan kakeknya. Sri Kresna yang merupakan Awatara atau penjelmaan Tuhan memberikan penjelasan agar Arjuna tidak perlu ragu melaksanakan tugasnya. Sri Kresna banyak menjelaskan tentang Atman dan Brahman.

Apakah Tuhan atau Brahman itu ?
Menurut Vaswami (Bhagawadgita, 2007:175-176), Arjuna antara lain bertanya, apakah sebenarnya Brahman itu. Pertanyaan ini dijawab oleh Sri Kresna sebagai berikut :

Aksaram brahma praramam svabhava ' dhyamam ucyate bhuta-bhavodbhava-karo visargah karma-samjnitah' (Bhagawadgita III.3)

Artinya :
Brahman adalah Yang Maha Agung dan Suci, yang tidak dapat dihancurkan, yang abadi. Sang Diri Sejati yang ada dalam tubuh manusia disebut Adhyatman atau Atman. Kekuatan yang menciptakan semua mahluk dan benda disebut Karma.

Tuhan adalah Pencipta Semua Mahluk
Disamping tidak dilahirkan dan tidak dapat dibinasakan, Tuhan itu adalah pencipta alam semesta dan semua mahluk seperti dinyatakan dalam Bhagawadgita berikut ini :

Ajo 'pi sann avyayatma bhutanam isvaro'pi san prakrtim svam adhisthaya sambhavamy atma-mayaya. (Bhagawadgita IV.6)

Artinya :
Meskipun Tuhan tidak pernah dilahirkan dan tidak bisa dibinasakan, Tuhan adalah pencipta semua mahluk.

Tuhan adalah Asal dari Semuanya.
Semua yang ada dijagat raya ini berasal dari Tuhan. Manusia juga adalah ciptaan Tuhan. Demikian dinayatakan dalam Sloka Bhagawadgita berikut ini :

Aham sarwasya prabhawo mattah sarwam prawartate iti matwa bhayante man bhuda bhawasamamwitah. (Bhagawadgita X.8)

Artinya :
Tuhan adalah asal dari semuanya, dari Tuhan mahluk muncul. Mengetahui ini orang bijaksana menyembah Tuhan dengan rasa penyatuan diri.

Tuhan adalah Asal dan Pemusnah Alam Semesta
Semua benda dan mahluk dalam alam semesta ini adalah ciptaan Tuhan. Pemusnahnyapun adalah Tuhan. Demikian Bhagawadgita berikut ini menyatakan :

Etad-yonini bhutani sarvanity upadharaya aham krtsnasya jagatah prabavah pralayas tatha. (Bhagawadgita VII.6)

Artinya :
Tuhan adalah asal mula dari semua mahluk. Tuhan adalah asal mula seluruh alam semesta dan juga pemusnahnya.

Tuhan adalah Cahaya, Kekuatan dan Rasa Segar
Tuhan adalah cahaya pada bulan dan matahari, juga rasa segar dalam air. Tuhan adalah kata Om dalam semua Weda. Tuhan adalah juga suara dalam ether dan benih kekuatan dalam diri manusia. Hal ini sesuai dengan Bhagawadgita berikut ini :

Raso 'ham apsu kaunteya prabhasmi sasi-suryayoh pranavah sarva-vedesu sabdah khe paurusam nrsu.  (Bhagawadgita VII.8)

Artinya :
Tuhan adalah rasa segar dalam air, cahaya pada bulan dan matahari. Tuhan adalah Om dalam semua Weda. Tuhan adalah juga suara dalam ether dan benih kekuatan dalam diri manusia.

Tuhan adalah Bapak, Ibu, Kakek dan Pelindung Manusia.
Tuhan adalah Bapak dunia, juga Ibu dan Kakeknya. Tuhan adalah juga pelindung umat manusia. Tuhan adalah tunggal. Tuhan adalah juga Om dalam Weda-Weda, Reg Weda, Sama dan Yayur Weda. Perhatikanlah Sloka Bhagawadgita dibawah ini :

Pitaham asya jagato mata dhata pitamahah vedyam pavitram aumkara rk sama yajur eva ca. (Bhagawadgita IX.17)

Artinya :
Tuhan adalah Bapak, Ibu, Kakek dan Pelindung umat manusia. Tuhan yang suci dan tunggal itu harus diketahui oleh manusia. Tuhan adalah juga Om, dalam Weda, Reg Weda, Sama Weda dan Yayur Weda.

Tuhan tidak Menuntut Apa-apa, hanya dedikasi :
Tuhan tidak pernah menuntut apa-apa dari Yadnya Tuhan kepada manusia. Tuhan hanya menginginkan pengabdian atau dedikasi dan cinta kasih umat manusia. Dedikasi dan cinta kasih itu cukup ditunjukkan dengan sehelai daun, sekuntum bunga dan air, asal dipersembahkan dengan kasih sayang akan diterima oleh Tuhan. Simaklah Sloka Bhagawadgita berikut :

Patram puspam phalam toyam yo me bhaktya prayacchati tad aham bhakty-upahrtam asnami prayatatmanah. (Bhagawadgita IX.26)

Artinya :
Barang siapa mempersembahkan kepada Tuhan dengan penuh dedikasi sehelai daun, sekuntum bunga ataupun air, maka persembahan yang suci murni dan penuh kasih sayang itu akan diterima oleh Nya.

Tuhan Bersemayam pada Semua Mahluk sebagai Atman.
Tuhan adalah Atman yang berada pada semua mahluk ciptaan-Nya. Tuhan adalah juga asal usul semuanya, yang membantu umat manusia, menentukan hidup dan akhir dari kehidupannya. Hal ini ternyata dari Sloka Bhagawadgita berikut :

Aham atma gudakesa sarva-bhutasya-sthitah aham adis ca madhyam ca bhutanam anta eva ca. (Bhagawadgita X.20)

Artinya :
Tuhan adalah Atman yang bersemayam di hati semua mahluk. Tuhan adalah permulaan, ditengah-tengah dan akhir dari setiap yang ada.

Tuhan adalah Benih dari Segalanya.
Tidak ada sesuatupun yang dapat hidup tanpa Tuhan. Tuhan adalah benih dari semua benda yang ada di alam semesta ini. Hal ini dinyatakan dalam Sloka Bhagawadgita dibawah ini :

Yac capi sarva-bhutanam bijam tad aham na tad asti vina yat syan maya bhutam caracaram. (Bhagawadgita X.30)

Artinya :
Tuhan adalah benih dari segala benda. Tidak ada satupun baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak dapat hidup tanpa Tuhan.

Tuhan Turun ke Dunia Menjadi Awatara
Jika pelaksanaan Dharma merosot dan hal-hal yang bertentangan dengan Dharma merajalela, pada waktu itu Tuhan akan turun ke dunia untuk menyelamatkan umat manusia. Berikut adalah pernyataan Kitab Bhagawadgita :

Yada yada hi dharmasya glanir bhavati bharata abhyutthanam adharmasya tadatmanam srijamy aham. (Bhagawadgita IV.7)
Paritranaya sadhunam vinasaya ca dushkritam dharma samsthapanarthaya sambhavami yuge-yuge. (Bhagawadgita IV.8)

Artinya :
Kapanpun dan dimanapun pelaksanaan Dharma merosot dan hal-hal yang bertentangan dengan Dharma merajalela, pada waktu itulah Tuhan sendiri menjelma ke dunia.

Yang Memuja Tuhan akan dilindungi
Tuhan itu Maha Pemurah. Karena itu siapapun yang memuja Tuhan dan selalu merenungkan Nya akan diberikan apa yang mereka perlukan. Di samping itu Tuhan juga akan melindunginya. Demikian Kitab Bhagawadgita menyatakan :

Ananyas cintayanto mam ye janah paryuoasate tesam nitya abhiyuktanam yogaksema vahamy aham. (Bhagawadgita IX.22)

Artinya :
Mereka yang memuja Tuhan, selalu merenungkan Nya akan diberikan apa yang mereka perlukan dan Tuhan akan melindungi apa yang mereka miliki.

Selasa, 13 Agustus 2013

Perayaan Sri Jagannath Ratha Yatra Umat Hindu Kresna

Hindu Kresna Tolai Gelar Sri Jagannath Ratha Yatra


Ratusan umat Hindu penganut Hindu Kresna yang ada di Kecamatan Torue Kabupaten Parimo, Sulawesi Tengah, baru-baru ini (12/7) menggelar perayaan festival kereta, yang diberi nama Sri Jagannath Ratya Yatra.

Kereta kencana yang serupa dengan kereta yang dikendarai oleh Dewa Kresna diarak mengililingi kota Tolai dan berakhir dipelataran Ashram Sri Radha Punjabi Hari Mandir Desa Tolai. Sejarah kegiatan ini adalah sebuah ritual yang mengabadikan pertemuan antara Dewa Kresna dengan warga Desa Vindavana.


Di tempat suci Kurusetra, sebuah tempat yang terkenal dengan pertempuran besar dalam kisah Mahabarata, antara Pandawa dan Kurawa. Di tempat itulah, warga desa yang merasa rindu dengan kehadiran Kresna yang telah menjadi raja di tempat lain. Hal yang sama juga dirasakan oleh Kresna, sehingga kemudian terjadi kesepakatan, antara warga Desa Vindavana dan Kresna, untuk kemudian bersama-sama kembali ke desa kelahirannya, dengan membawa kereta. Nah, momen itulah yang kemudian setiap tahunnya diabadikan sebagai  Sri Jagannath Ratha Yatra.


Dalam prosesi arak kereta kencana, diawali dengan ritual Yagya kemudian Snana Yatra dan Hativesa, yang dilanjutkan dengan perayaan puncaknya dengan menggelar ritual Arati Kelapa, dimana setiap tokoh agama Hindu Kresna, dipersilakan memegang kelapa muda yang telah diberi lilin, yang telah dibakar sebelumnya.

Kemudian diputar, seraya membaca mantra, dan kelapa tersebut dipecahkan di batu. Lebih lanjut dia ungkapkan, setelah prosesi ritual itu dilanjutkan dengan pawai kereta kencana yang mirip digunakan oleh Dewa Kresna, yang di dalamnya terdapat, arca Sri Jaganath tak lain adalah Kresna, kemudian Baladeva dan Subdra keliling desa, yang merupakan proses yang dilakukan warga Desa Vindavan, saat membawa Kresna kembali ke desanya.

Dalam festival itu, menceritakan Dewa Kresna diarak pulang kembali ke desanya Vrindavan. Sri Jagannath sendiri keluar untuk melimpahkan karunia-Nya kepada semua orang yang beruntung melihat parade kereta ini. Termasuk masyarakat yang tidak seagama dengan Hindu Kresna tetap akan mendapat karunia dari Tuhan.

Makna perayaan Hari Raya Krisna Prabu Madana Muhana Das, bahwa perayaan Hare Krhisna adalah nama yang dikenal luas dengan singkatan International Society for Khrisna Consciousness (ISKCON) atau Masyarakat Kesadaran Khrisna Internasional yang turun temurun digelar acara tersebut.

ISKCON adalah Visva Vaisnava Sabha,sebuah peradaban masyarakat yang didirikan pada zaman peradaban Wedha,di India. Masayarakat ini, sepenuhnya menganut filosofis dan ajaran Wedha dari garis perguruan atau Parampara, Brahma, Madvha, Gaudiya dan Sampradaya, yaitu salah satu dari empat sistim, rangkaian garis perguruan Wedha

lebih lengkap (sumber) : http://www.medialiputanindonesia.com

Rabu, 17 Juli 2013

Sang Dewa Monyet Hanoman

Langur, "Dewa" Monyet Tak Kenal Batas
Umat Hindu India. Langur india yang gemar melompat ini dianggap keramat, penolong, atau bahkan mengganggu.

Di India, langur hanoman dilatih di New Delhi untuk menakut-nakuti monyet rhesus (Macaca mulatta) dan hewan liar agresif lainnya, yang mungkin berkeliaran ke tempat umum dan menimbulkan kekacauan.

Saat itu, kota New Delhi menjadi tuan rumah Pesta Olahraga Persemakmuran 2010 lalu, dewan kota memanfaatkan 38 langur untuk membantu mengendalikan hewan liar. Primata ini dihargai lebih dari penjaga keamanan.
Kaum Hindu menghormatinya sebagai simbol sang dewa monyet Hanoman, yang pasukan wanaranya membantu menyelamatkan Sinta (istri dewa Rama) dari Rahwana, menurut sebuah epos Sanskerta.

Wajah dan tangan serta kaki langur yang berwarna hitam mengingatkan pada luka bakar yang diderita Hanoman dalam perjuangannya. Langur terlahir berbulu gelap tipis, bulu yang berubah menjadi emas kelabu tebal setelah beberapa bulan.

Sejarah menunjukkan betapa langur hewan yang dihormati. Di kota Jodhpur di tepi Gurun Thar, atau Great Indian, sekitar 2.100 langur liar biasa memasuki permukiman manusia untuk menikmati sesajen yang disediakan.

Kaum Hindu setempat berbagi makanan yang disantap saat piknik di taman, dan mengubah kuil dipenuhi sesajen prasmanan untuk langur tersebut. Beberapa orang membiarkan makhluk suci itu memasuki kebun mereka.

Itu selingan bagus bagi kehidupan di Gurun Thar, tempat beriklim sangat panas dan kering hingga membuat hewan sulit bertahan hidup. Langur harus berkeliling mencari tanaman dan sesekali serangga untuk makan.

Kebanyakan langur hidup di atas pohon. Hewan ini pun sering berlarian di ketinggian tebing gurun atau bercokol di atap bangunan. Ekor panjang membantu langur menjaga keseimbangan saat berada di tebing.

Namun, kini populasi manusia berkembang pesat di kawasan tersebut. Orang mungkin tergoda untuk membalas jika serbuan langur ke kebun meludeskan hasil tanaman. Bahkan primata yang dekat di hati ini pun lama-lama tak lagi bisa diterima, dan dianggap pengganggu.


sumber : http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/07/langur-dewa-monyet-tak-kenal-batas

Jumat, 12 Juli 2013

Vijaya Dashami menandai kemenangan kebaikan atas kejahatan

Vijaya Dashami menandai kemenangan kebaikan atas kejahatan

Umat Hindu India. Vijaya adalah kata Sansekerta yang berarti kemenangan. Hal ini diyakini bahwa Rama telah membunuh Rahwana dan menang dalam perang. Vijaya Dashami menandai kemenangan kebaikan atas kejahatan. Hal ini juga percaya bahwa itu di Vijaya Dashami bahwa Pandawa telah menyelesaikan Vaas Agnat mereka. Agnat Vaas adalah bagian dari kesepakatan di mana di Pandawa harus hidup selama satu tahun tanpa diidentifikasi oleh siapapun.
-->
Vijaya Dashami akan dirayakan pada Jumat, 3 Oktober 2014.

Sebelum masuk ke Agnat Vaas Pandawa menyembunyikan senjata mereka di pohon Sami dan berdoa pohon untuk melindungi senjata mereka. Senjata-senjata ini diambil oleh mereka di Vijaya Dashami. Oleh karena itu telah menjadi ritual untuk mengunjungi pohon Sami dan berdoa pada Vijaya Dashami. Juga karena senjata itu diambil, hal itu telah menjadi ritual untuk menyembah senjata, mesin, instrumen dll pada Vijaya Dashami. Ini disebut sebagai Ayudha Puja atau menyembah senjata.

Vijaya Dashami adalah simbol kesuksesan, maka diyakini bahwa setiap pekerjaan atau usaha atau bisnis yang dimulai pada Vijaya Dashami akan sukses. Oleh karena itu banyak orang ingin memulai usaha baru di Vijaya Dashami.

Mengunjungi kuil Dewi Durga adalah ritual umum lainnya pada Vijaya Dashami. Vijaya Dashami adalah salah satu festival yang dirayakan di seluruh negara dengan banyak antusiasme.

sumber : http://hindusphere.com/vijaya-dashami-2014-date/
diterjemahkan menggunakan translate.google.com

CHANNEL YOUTUBE SAYA - MOHON DI SUBSCRIBE

Cari Artikel di Blog ini

Berita Terkait Semangat Hindu

Artikel Agama Hindu

108 Mutiara Veda 3 kerangka agama hindu advaita visistadviata dvaita Agama Hindu Dharma agama islam Ajaran Hindu aksara suci om alien menurut hindu Apa yang dimaksud Cuntaka Apa yang dimaksud dengan Japa Apa yang dimaksud dengan Puja arcanam nyasa aris widodo artikel hindu arya dharma Arya Wedakarna Asta Brata Atharvaveda Atman avatara sloka babad Badan Penyiaran Hindu bagian catur weda bahasa jawa kuno bahasa kawi bahasa sanskerta Banggalah Menjadi Hindu banten hindu bali Belajar Hindu BELAJAR ISTILAH AGAMA HINDU bhagavad gita Bhagawadgita bhagawan bhuta yadnya Bimas Hindu BPH Banten brahma wisnu siwa Brahman Atman Aikyam brahmana ksatriya wesia sudra budaya bali budha kliwon sinta Bukan Heroisme buku hindu terpopuler Canakhya Nitisastra cara sembahyang hindu catur asrama Catur Brata Catur Cuntakantaka Catur Purusha Artha Catur Purusharta catur veda Catur Warna Catur Weda Cendekiawan Hindu Cinta Kasih Dalam Perspektif Hindu Dana Punia Deva adalah sinar suci Brahman Deva Brahma Deva Indera dewa dewi hindu dewa yadnya dewata nawa sanga dewi kata-kata dewi saraswati dharma artha kama moksa Dharma Santi dharma wacana Doa Anak Hindu donasi buku hindu epos mahabharata ramayana filosofi pohon bambu filsafat agama hindu ganesha Gayatri Sebagai Mantra Yoga Hari Raya Galungan Hari Raya Kuningan Hari Raya Nyepi Hari Raya Pagerwesi Hari Raya Saraswati Hari Raya Siwaratri HINDU adalah ARYA DHARMA HINDU ADALAH SANATHANA DHARMA HINDU ADALAH VAIDHIKA DHARMA Hindu Agama Terbesar di Dunia Hindu Banten Hindu beribadah di Pura Hindu Festival Hindu Indonesia hindu nusantara Hindu Tengger Hinduism Facts Hinduism the Greatest Religion in the Word Hukum Karma Ida Pedanda sakti isi catur weda Jadilah Manusia Setia Japa dan Mantram Jiwa jual buku hindu kakawin Kamasutra Keagungan Aksara Suci OM Kekawin Lubdhaka kepemimpinan jawa kuna Kerajaan Hindu Keruntuhan Agama Hindu kesadaran diri kidung dewa yadnya Kitab Suci Weda lontar Lontar Kala Maya Tattwa Maharsi Atri Maharsi Bharadvaja Maharsi Gritsamada Maharsi Kanva Maharsi Vamadeva Maharsi Vasistha Maharsi Visvamitra manawa dharma sastra Mantra Mantra Yoga manusa yadnya Meditasi Matahari Terbit Mengapa Kita Beragama menghafal sloka Mimbar Agama Hindu Moksha Motivasi Hindu Mpu Jayaprema nakbalibelog Naskah Dialog Nuur Tirtha Om or Aum one single family opini hindu moderat Panca Sradha panca yadnya Panca Yajna pandita Panglong 14 Tilem Kepitu parahyangan agung jagatkartta paras paros segilik seguluk Pasraman Pasupati Pembagian Kitab Suci Veda Pemuda Hindu Indonesia pendidikan hindu pengertian catur weda Pengertian Cuntaka penyuluh agama hindu Peradah percikan dharma Percikan Dharma Dewa Yajna phdi pinandita Pitra Yadnya Ngaben Pitrapuja potong gigi Principle Beliefs of Hinduism Proud To Be Hindu Puja dan Prathana Pujawali purana purnama tilem Purwaning Tilem Kapitu Radio online Bali rare angon nak bali belog Reinkarnasi Rgveda ritual hindu Roh Rsi yadnya sabuh mas sad darsana sad guru Samaveda sanatana dharma sang hyang pramesti guru Sang Kala Amangkurat Sang Kala Dungulan Sang Kala Galungan Sang Kala Tiga sapta rsi Sapta Timira Sarassamuscaya Sarassamuscaya Sloka sattvam rajah tamah sejarah agama hindu Sekta Hindu Semangat Hindu seni budaya hindu Sex and Hinduism siwa budha waesnawa siwa ratri Sloka sloka bhagawad gita sloka bhatara sloka Rgveda sloka yayurveda Slokantara Sloka Spiritual Bersifat Misterius spiritualitas hindu spma ribek sradha dan bhakti sri rama krishna paramahansa Sri Sathya Sai Baba Sri Svami Sivananda sumpah dalam perkara tabuh gesuri tabuh kreasi baru tabuh telu lelambatan tantri kamandaka tat twam asi tattwa susila upakara Tempat Suci Hindu tiga hubungan harmonis tri hita karana Tri kaya parisudha tri kerangka agama hindu tri mala tri pramana Triji Ratna Permata tujuan perkawinan tujuh penerima wahyu tumimbal lahir upacara hindu upacara menek deha Upanisad upaweda Utsawa Dharma Gita vaidhika dharma Vasudhaiva Kutumbakam VEDA ADALAH ILMU PENGETAHUAN SUCI vedangga Vijaya Dashami Wasudewa Kutumbhakam widhi tatwa wija kasawur wiwaha agama hindu Yajna dan Sraddha yajna dan sradha Yayurveda Yoga Kundalini