OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM

PRAKATA

Selamat Datang

Semangat Hindu merupakan blog bersama umat Hindu untuk berbagi berita Hindu dan cerita singkat. Informasi kegiatan umat Hindu ini akan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan.
Semangat Hindu semangat kita bersama.

Bersama Semangat Hindu kita berbagi berita dan cerita, info kegiatan, bakti sosial dan kepedulian, serta kegiatan keagamaan seperti ; pujawali, Kasadha, Kaharingan, Nyepi, Upacara Tiwah, Ngaben, Vijaya Dhasami dan lain sebagainya.

Marilah Berbagi Berita, Cerita, Informasi, Artikel Singkat. Bagi yang mempunyai Web/Blog, dengan tautan URL maka dapat meningkatkan SEO Web/ blog Anda.

Terima Kasih
Admin

RANBB

---#### Mohon Klik Share untuk mendukung blog ini ####---

Tampilkan postingan dengan label bagian catur weda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bagian catur weda. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Juli 2024

VEDA ADALAH ILMU PENGETAHUAN SUCI

 

KITAB SUCI VEDA ADALAH SUMBER KEBENARAN

 Veda berasal dari akar kata Vid yang artinya mengetahui atau pengetahuan. Jadi, Veda adalah ilmu pengetahuan suci yang berasal dari wahyu Sang Hyang Widhi melalui para Maha Rsi.

 Kitab suci Veda adalah sumber kebenaran, sehingga dijadikan sumber keyakinan dan kepercayaan bagi umat Hindu.

 Berdasarkan kitab Manu Smrthi dan Manawa Dharmasastra dapat dik- lasifikasikan menjadi dua pengelompok ini terdiri dari besar, yaitu Sruti dan Smrthi.

 Veda Sruti dibagi menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu bagian mantra, kitab Brah- mana, dan Upanisad. Sedangkan Smrthi, dapat dikelompokkan menjadi kelompok Vedangga (batang tubuh Veda) dan kelompok Upaveda (Veda tambahan).

 Para Maha Rsi yang menerima wahyu Veda disebut dengan Sapta Rsi, ada pun ketujuh Maha Rsi yang menerima wahyu itu adalah Rsi Grtsamada, Rsi Wiswamitra, Rsi Wamadewa, Rsi Atri, Rsi Bharadwaja, Rsi Wasista, dan Rsi Kanwa.

 Veda dikodifikasi oleh Bhagawan Wyasa dengan dibantu oleh para siswa-siswanya, yaitu: Bhagawan Pulaha, Bhagawan Jaimini, Bhagawan Waisampayana, dan Bhagawan Sumantu.

 Veda juga disebut Kitab suci Hindu karena berbentuk buku disujikan dan berisi pedoman kehidupan bagi umat Hindu.

 Veda juga disebut dengan pujastuti atau mantra, ketika dilafalkan oleh para sulinggih.

 Veda Sruti adalah veda yang didengar secara langsung oleh para maharsi penerima wahyu.

 Veda Smrthi adalah Veda yang lebih operasional terutama untuk menjelas- kan secara lebih mudah apa yang terdapat di dalam Veda Sruti.

Senin, 26 Juni 2023

Jalan Perbuatan Karma Marga

Percikan Dharma

Jalan Perbuatan (Karma Marga)


Om Swastyastu

Umat se-dharma, dalam kehidupan ini untuk dapat mencapai tujuan utama umat Hindu yaitu Moksartham Jagadhita ya ca iti dharma salah satunya yaitu jalan perbuatan. Oleh karena berbuat baik, benar, giat, jujur dan tidak malas disabdakan dalam sabda suci Hyang Widhi. 



Jalan perbuatan ini disebut jalan Karma Marga. Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa jalam Karma Marga dan Bhakti , demikian Karma dan Jnana, Jnana dan Raja Marga. Sesungguhnya semua jalan hampir sama cuma pemahaman dan kemampuan umat manusia mengkuti jalan-jalan itu berbeda-beda. Jalan perbuatan menekankan pada kerja keras, kejujuran dan meyakini setiap perbuatan bila dikerjakan dengan baik sesuai dengan ajaran-Nya, maka seseorang juga akan sampai kepada-Nya.


Kerja yang jujur


Aksair ma divyah krsim it krsasva

vite ramasva bahu manyanmanah,

tatra gavah kitava tatra jada

tanme vi caste sarvitayam aryah.


Rg Veda X. 34. 13


Artinya

Jangan bermain dadu, tanamilah ladangmu; Berbahagialah  dengan kekayaan itu, banggakanlah itu. Wahai penjudi, ingat ternakmu dan ingat istrimu. Demikianlah nasehat Swanita yang mulia.


Ulasan

Bahwa dalam hidup ini penuh liku-liku maka jangan pernah gunakan dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Karena kesempatan hidup tidak selamanya seperti ini kadang kehidupan nanti tidak sama karena karna wasana mengikuti kehidupan selanjutnya.


Oleh karena itu gunakan kesempatan seperti ini untuk kerja kerja dan kerja secara jujur agar dapat hasil yang maksimal. Demikian dengan kerja secara jujur tanpa pamrih bisa membawa kita menuju Moksartham jagadhita ya ca iti dharma.

Om Santih Santih Santih Om


Aris Widodo

Penyuluh Agama Hindu

Kota Serang 

Rabu, 21 Juni 2023

Percikan Dharma Dewa Yajna

Percikan Dharma Dewa Yajna


Om Swastyastu

Umat se-dharma, dalam kehidupan ini kita harus melaksanakan korban suci yang disebut Panca Yajna. Yang pertama Dewa Yajna, yang kedua Rsi Yajna, yang ketiga Pitra Yajna, yang keempat Manusia Yajna, yang kelima Bhuta Yajna.



Yajna (Sanskerta) artinya tindakan pemujaan, ketaatan dan korban. Dalam hal ini manusia mengadakan Yajna kehadaoan Sang Hyang Widhi Wasa berikut manifestasi-Nya yaitu para Dewa/Dewi berdasarkan kasih dan bhakti serta melaksanakan semua ajaran/perunjuk-Nya.


Melaksanakan sembah bhakti kepada Hyang Widhi merupakan ungkapan rasa angayubagiya dan terima kasih yang tidak terhingga kepada-Nya, sebab kita diberi kesempatan untuk meningkatkan atau penyempurnaan diri dengan cara menerapkan ajaran dan pwtunjuk-Nya.


Tidak semua mahir membuat bebantenan, sebab dianggap rumit dan membuang-buang waktu saja. Mereka mengikuti kursus membuat bebantenan dengan cara berkelompok sehingga cepat menguasai bagaimana cara pembuatan bebantenan tersebut. Ada beberapa persyararan bila ingin membuat bebantenan yaitu pikiran hendaknya bersih, rasa hening, bahwa pekerjaan itu akan dihaturkan kehadapan Hyang Widhi untuk memperoleh waranugraha-Nya.


Bagi mereka yang sama sekali tidak dapat membuat banten atau sesaji ataupun tidak ada yang menjualnya, tidak berarti, tidaklah berarti bahwa mereka tidak dapat menghaturkan bhakti. Hyang Widhi tidak pernah melarang atau menampik bhakta-Nya. Bhagawadgita menjelaskan hal ini:


Pattram puspham phalam toyam

yo me bhaktya prayacchati

tad aham bhaktyupahrtam

asnami prayatatmanah.


Bhagawadgita IX. 26


Artikel Terkait Vasudhaiva Kutumbakam :


Artinya

Siapa yang mempersembshkan kepada Aku dengan penuh ketulusan dan kebhaktian selembar daun, sehelai bunga, sebiji buah-buahan atau seteguk air, persembahan yang diiringi dengan kasih, dari hati yang suci bersih, Aku terima.


Ulasan

Bahwa pada dasarnya apa yang akan kita persembahkan bukan karena mahal atau murah, sulit atau mudah membuat banten atau sesaji namun berdasarkan ketulusan dan kebhaktian kita yang datang dari hati sanubari yang paling dalam yang akan diterima-Nya. Karena apapun yang akan dipersembahkan akan diterima asalkan dari ketulusan hati dan jiwa untuk selalu pasrah dalam melayani Hyang Widhi.

Om Santih Santih Santih Om


Aris Widodo

Penyuluh Agama Hindu

Kota Serang

Jumat, 16 Juni 2023

Hadapi Berbagai Bentuk Kejahatan

 Percikan Dharma

Hadapi Berbagai Bentuk Kejahatan


Om Swastyastu

Umat se-dharna, dalam kehidupan ada saja bentuk kejahatan yang harus dihadapi oleh umat manusia. Janganlah mundur menghadapi kejahatan? Hadapi orang hahat atau curang dengan ke

bijaksanaan, taklukkan orang yang bengkok dengan akal yang sehat, perlakukan orang yang jahat sesusi hukum (biarlah hukum yang melindungi atau menghukum mereka), jangan gentar menghadapi pelaku kejahatan, demikian pula jangan memakai ilmu sihir, sebab membahayakan pemakainya. Perlakukan orang lain sepantasnya dan bahkan sebagai sahabat.



Hadapi orang yang curang dengan bijaksana


Tvam mayabhir apa mayino

adham ah, svadhabhir ye adhi

suptav ajuhvata.


Rg Veda I. 52. 5


Artinya

Sang Hyang Indra, Engkau meremukan orang-orang yang licik yang menaruh sesaji-sesaji di dalam mulut mereka sendiri, dengan alat-alatmu yang baik.


Ulasan

Bahwa dalam kehidupan ini ada saja yang melakukan kecurangan atau kejahatan sehingga membahayakan hidup manusia. Untuk itu hadapi semua kejahatan atau kecurangan dengan sikap bijaksana agar kita tetap wasapada dan terhindar dari segala bahaya yang setiap saat menghampiri hidup kita.


Demikian yang bisa dilakukan agar bisa terhindar dari kejahatan atau kecurangan dalam hidup di dunia ini. Oleh karena itu jangan ragu untuk tetap melaksanakan kebajikan agar selalu tetap terhindar dari segala kejahatan atau kecurangan dalam hidup ini.


Aris Widodo

Penyuluh Agama Hindu

Kota Serang

Om Santih Santih Santih Om

Selasa, 13 Juni 2023

Sraddha Apnoti Brahma Apnoti

 Percikan Dharma

Yajna dan Sraddha


Om Swastyastu

Umat se-dharma, setiap tindakan tanpa dilandasi keyakinan yang mantap, akan sia-sia belaka. Demikian pula keyakinan kita kepadaTuhan atau Hyang Widhi. Sraddha apnoti brahma apnoti, mereka yang memliki keyakinan yang mantap dapat mencapai dan bersatu dengan Tuhan atau Hyang Widhi, demikian pula dalam melaksanakan yajna, mutlak dilandasi Sraddha atau keyakinan yang mantap.



Orang yang yakin dengan Hyang Widhi tidak pernah kehilangan.


Nu cit sa bhresate jano resan

mano yo asya ghoram avivasat

yajnair ya indre dadhate duvamsi,

ksayat sa raya rtapa rtejah


Rg Veda VII. 20. 6


Dia, yang mengambil hati Sang Hyang Indra yang dasyat itu dengan sarana yajna, tidak ragu-ragu maupun menderita rugi. Dia, yang menyembah Sang Hyang Indra dan berbicara kebenaran, menikmati berlimpahan kekayaan.


Ulasan

Bahwa kalau kita yakin akan Tuhan niscaya akan mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam berusaha. Untuk itu modal utama yang harus dipupuk dalam diri kita yaitu yakin dan melakukan kebenaran pasti tidak ragu-ragu dan tidak akan merasa kehilangan.

Om Santih Santih Santih Om


Aris Widodo

Penyuluh Agama Hindu

Kota Serang

Kamis, 01 Juni 2023

Sanatana Dharma Artinya Agama Abadi

 Sanatana Dharma Artinya Agama Abadi 

Percikan Dharma
Sanatana Dharma

Om Swastyastu
Umat sedharma, perlu kita ketahui bahwa sebelum agama Hindu beredar di masyarakat dunia sebetulnya nama aslinya Sanatana Dharma. Sanatana Dharma artinya Agama Abadi atau hukum-hukum kuno yang didasarkan pada Weda. ini merupakan agama hidup yang tertua. Hinduisme dikenal dengan Sanatana Dharma. 



Weda sendiri menyatakan bahwa yang menjadi cara pencapaian pembebasan akhir adalah Sanatana Dharma atau Hindu Dharma. 
Pondasi dari sanatana dharma adalah Sruti, sedangkan Smerti merupakan dindingnya. 
Hinduisme berdiri kokoh dalam keadaan dan keagungan filsafatnya. Ajaran-ajaran kesusilaannya luhur, khas dan mulia, yang keluwesannya tinggi dan memenuhi kebutuhan setiap manusia. Ia adalah sebuah agama yang sempurna dengan sendirinya.

Sanatana Dharma telah menghasilkan demikian banyak orang-orang suci besar, para patriot, para pejuang dan patiwrata agung. Lebih banyak kamu mengetahuinya, kamu akan lebih hormat dan lebih mencintainya. Lebih banyak kamu mempelajarinya, lebih banyak memberimu penerangan dan memuaskan hatimu.
Om Santih Santih Santih Om

Aris Widodo
Penyuluh Agama Hindu
Kota Serang

Selasa, 04 April 2023

Percikan Dharma Keluhuran Budi

Percikan Dharma Keluhuran Budi


Om Swastyastu

Umat se-dharma, dalam sebuah kehidupan pasti ingin sesuatu yang menyenangkan dan bahagia tentunya. Untuk itu hendaknya selalu melakukan hal-hal yang bisa mendatangkan kesenangan dan kebahagiaan tersebut.



Perbuatan mulia mengantarkan pada keluhuran budi. Hal-hal yang dapat dilakukan untuk menumbuh-kembangkan keluhuran budi, seperti nenolong orang-orang miskin, menjadi orang tua asuh bagi anak-anak miskin, memberikan pendidikan bagi anak-anak cerdas dan berbakat dan lain sebagainya.


Orang yang mengembangkan keluhuran budi dengan menyisihkan sebagian uang atau kekayaannya untuk dijadikan dana punia sesungguhnya akan memperoleh keberuntungan. Orang yang memiliki keluhuran budi akan memperoleh kemasyuran. Orang yang mengembangkan keluhuran budi sesungguhnya menyelamatkan hidupnya. 

Keluhuran budi menyelamatkan hidup


Kseti ksemebhih sadhubhir

nakir yam ghnanti hanti yah,

agne suvira edhate.


Rg Veda VII. 84. 9


Artinya

Ya, Sang Hyang Agni / Tuhan Yang Maha Esa, dia, yang menjalani kehidupan yang suci, yang melakukan kebaikan kepada orang-orang yang lain, tidak bisa dirugikan. Orang yang berani itu selalu berhasil baik.


Ulasan

Bahwa sesungguhnya dalam kehidupan ini kalau selalu mengutamakan keluhuran budi niscaya akan mendapatkan kebahagiaan dan keharmonisan dalam rumah tangga. Oleh karena itu hendaknya dalam menjalani kehidupan ini selalu yang utama perlu dilakukan adalah bagaimana dapat menyenangkan orang lain.


Demikian dengan keluhuran budi bisa membawa kita untuk hidup lebih baik dan bahagian baik di dunia maupun di dunia lainnya. Sehingga dengan modal keluhuran budi niscaya dalam perjalanan hidupnya akan mendapatkan sesuatu yang benar-benar hasil dari keluhuran budi yang ia lakukan.

Om Santih Santih Santih Om


Aris Widodo

Penyuluh Agama Hindu 

Kota Serang

Selasa, 07 Maret 2023

Catur Brata Penyepian

 Percikan Dharma

Catur Brata Penyepian


Om Swastyastu


Umat se-dharna, dalam perjalanan hidup manusia ini kita harus ada instrupeksi diri agar kehidupan berjalan sesuai apa yang direncanakan. Oleh karena itu dalam setahun ini kita harus mampu berkaca diri   setahun  lalu telah di perbuatnya.


Dalam rangka menjalani kehidupan ini ada waktunya untuk instropeksi diri yaitu bertepatan dengan hari raya Nyepi tahun baru saka yang dilaksanakan dalam setahun sekali oleh umat Hindu. Dengan Catur Brata Penyepian itulah umat Hindu menjalani instropeksi diri dalam perjalanan hidup satu tahun yang lalu, apa yang sudah dilakukan dan apa yang belum dilakukan.


Yang pertama, Amati Geni yaitu tidak menyalakan api maksudnya tidak melakukan kegiatan yang kaitannya dengan menggunakan api, terkait dengan memasak makanan dan minuman sehingga umat Hindu melaksanakan puasa atau pawasa dalam kurun waktu 24 jam atau 36 jam setelah melaksanakan Tawur Agung Kesanga. Hal ini agar umat manusia bisa merasakan bagaimana merasakan pawasa sehingga tubuh ini berhenti beraktivitas secara penuh.


Yang kedua, Amati karya yaitu tidak melakukan kerja maksudnya tidak melakukan pekerjaan apapun sehingga dalam masa ini khusus untuk instropeksi diri bagaimana diri ini hanya memikirkan langkah apa yang telah dilalukan dan apa yang akan dilakukan. Dengan menghentikan aktivitas kerja selama 24 jam atau 36 jam ini manusia diharapkan mawas diri agar kehidupsn ke depan lebih baik lagi.


Yang ketiga, Amati Lelanguan yaitu tidak melakukan kesenangan maksudnya tidak melakukan segala kesenangan baik kesenangan melalui panca indria maupun dasa indria. Dengan menghentikan semua kesenangan ini agar terfokus pada pengendalian diri sehingga manusia mampu menghadirkan bagaimana menyikapi bahwa kesenangan dapat membuat manusia lupa diri.


Yang keempat, Amati Lelungan yaitu tidak melakukan aktivitas berpergian maksudnya tidak melakukan berpergian agar umat manusia hanya fokus pada mawas diri sehingga tidak melakukan kesalahan dalam suatu perjalanan di luar sana. Dengan tidak berpergian ini diharapkan umat manusia dapat mawas diri bagaimana yang bisa setahun yang lalu dan setahun harus dilakukan setahun ke depan.


Demikian yang perlu diingat dan selalu dilakukan oleh umat Hindu dalam perjalanan hidup manusia setiap tahunnya sehingga dapat terus ditingkatkan dari tahun ke tahun. Oleh karena itu umat manusia dihimbau untuk instropeksi diri atau mawas diri karena tidak selamanya manusia melakukan yang baik saja namun juga masih melakukan kesalahan-kesalahan baik yang disengaja maupun tidak disengaja.

Om Santih Santih Santih Om


Aris Widodo

Penyuluh Agama Hindu

Kota Serang

Rabu, 01 Februari 2023

Percikan Dharma Pulang ke Jalan Dharma

 Percikan Dharma Pulang ke Jalan Dharma


Om Swastyastu


Umat se-dharma, bahwa seseorang yang lama pergi pasti membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menyesuaikan kembali apa yang diyakininya. Untuk itu perlu pendamping yang selalu mampu meyakinkan ia agar secepatkan membaur di rumah Dharma.


Memang dalam kehidupan ini ada yang harus berjalan sesuai dengan alam agar semua bisa mendapatkan sesuatu yang yang diyakininya. Pada perjalanan sang waktu ia dapat menemukan jati dirinya bahwa ia merasa dirumah sendiri dan mampu mengenang masa lalunya.


Dalam hal ini perlu ada yang dapat membimbingnya agar cepat memahami dan melaksanakan keyakinannya tersebut dengan baik. Itulah yang harus dilakukan untuk membimbing mereka yang telah pulang ke jalan dharma sehingga benar-benar merasakan dharma sebenarnya dalam hatinya.


Namun terkadang kita juga ga peduli saudara kita yang telah pulang ke jalan dharma sehingga karena ga ada kepedulian itu mereka merasa tidak ada tempat yang mereka yakini. Untuk itulah mari kita sambut saudara kita yang telah pulang ke jalan Dharma dengan mengisi dan memberikan siraman rohaninya sehingga mereka benar-benar diperhatikan. Itulah tugas dari Parisada dan umat yang bersinggungan langsung dengan mereka agar mereka merasakan indahnya dan harmonisnya setelah mereka pulang ke jalan Dharma.

Om Santih Santih Santih Om


Aris Widodo

Penyuluh Agama Hindu

Kota Serang

Selasa, 24 Januari 2023

Percikan Dharma Pengorbanan Suci (Yajna)

Percikan Dharma Pengorbanan Suci (Yajna)

 

Om Swastyastu

Umat se-dharma, dalam hidup ini pasti ada suatu pengorbanan suci yang harus dilakukan oleh manusia itu sendiri. Untuk itu perlu sekali dilakukan agar hidup ini menjadi lebih indah dan memberikan inspirasi untuk selalu melakukan korban suci.


catur weda

Yajna adalah korban suci, yaitu yang dilandasi oleh kesucian hati, ketulusan dan tanpa pamrih. Yajna mengandung pengertian yang sangat luas, jauh lebih luas dibandingkan dengan pengertian upacara atau upakara. Yajna merupakan pusat alam semesta, diciptakan atas dasar Yajna, keiklhasan-Nya selanjutnya beliau bersabda supaya setiap manusia mengikuti jejak-Nya.


Orang yang telah melakukan yajna memperoleh pencerahan batin. Demikian pula dalam kehidupan modern, donor darah ataupun donor organ tubuhpun dapat disebut sebagai Yajna yang utama. Oleh karena itu dengan yajna yang kita lakukan niscaya semua anugrah pasti didapatkannya.


Pengorbanan untuk kebahagiaan abadi


Svar yanto napeksanta,

a dyam rohanti rodasi


yajnam ye vi vatodharam,

suvidvamso vitenire


Yajur Veda XVII. 68


Artinya

Para sarjana yang terkenal yang melaksanakan pengorbanan, mencapai kahyangan (swarga) tanpa suatu bantuan apapun. Mereka membuat jalan masuk mereka dengan mudah ke kahyangan (Swarga), yang menyeberangi bumi dan wilayah pertengahan.


Ulasan

Bahwa sesungguhnya dalam hidup ini ada sesuatu yang perlu dikorbankan yaitu apa yang kita punya tentunya, namun demikian apapun yang ķita korbankan apabila didasari dengan keikhlasan niscaya akan membuahkan hasil yang sesuai dengan pengj xucorbanan tersebut.


Dengan pengorbanan yang tulus dan ikhlas dan tanpa pamrih pasti Hyang Widhi akan memberikan yang terindah dalam hidupnya.

Om Santih Santih Santih Om


Aris Widodo

Penyuluh Agama Hindu

Kota Serang

Jumat, 20 Januari 2023

Percikan Dharma Jangan Berjudi

Percikan Dharma Jangan Berjudi


Om Swastyastu

catur weda

Umat se-dharma, dalam kehidupan di dunia ini sering terjadi hal yang seharusnya tidak dilakukan sebaliknya dilakukan yaitu berjudi. Mengapa demikian karena berjudi akan membuat hidup tidak akan tentram.


Tuhan Yang Maha Esa/ Sang Hyang Widhi Wasa mengamanatkan supaya umat-Nya jangan melakukan berjudi. Hal ini ditegaskan dalam kitab suci Weda. Berjudi apapun bentuknya tidak dibenarkan oleh agama. Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa menyatakan bahwa merusak keharmonisan hidup masyarakat. 


Judi sering dikaitkan dengan kesenangan sesaat yang mampu membius mereka yang suka melakukan berjudi sehingga sampai lupa akan tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga yang harus mereka hidupi. Kalau judi sudah merasuk dalam sanubari sering lupa akan anak dan istrinya karena kesenangan sesaat yang mampu menghancurkan biduk rumah tangganya.


Berjudi merusak kehidupan keluarga


Jaya tapyate kitavasya hina 

mata putrasya caratah kva svit,

mava bibhyad dhanam icchamanah

anyesam astam upa naktam eti.


Rg Veda X. 34. 10


Artinya

Isteri seorang penjudi yang mengembara mengalami penderitaan yang mendalam di dalam kemelaratan dan ibu seorang putra yang berjudi semacam itu tetap dirudung derita. Dia, yang dalam lilitan hutang dan dalam kekurangan uang, memasuki rumah orang-orang lainnya dengan diam-diam di malam hari.


Ulasan

Bahwa dalam kehidupan ini sering terjadi rumah tangga yang tidak harmonis disebakkan oleh karena perjudian. Ini semua karena kesenangan sesaat yang dijumpai dalam kehidupan dimana masyarakat masih belum sepenuhnya sadar akan arti kesenangan sesaat tersebut. 


Memang dalam berjudi dapat membuat kita terlena akan kesenangan sesaat yang bisa dinikmati pada saat itu saja, namun tidak terpikirkan dampak yang akan diterima oleh keluarga yang di tinggalkan dalam perjudian tersebut. Terkadang karena telalu asyiknya dalam berjudi lupa akan kewajiban sebagai seorang kepala keluarga, sehingga bisa berhari-hari tidak pulang hanya karena perjudian belum usai bahkan sampai apa saja yang dipunyainya dipertaruhkan dalam perjudian.


Untuk itu perjudian janganlah hemdaknya dilakukan karena akan menyengsarakan keluarga dan masyarakat di sekitarnya. Oleh karena dalam kitab suci Veda juga melarang segala jenis perjudian agar kehidupan mereka tetap harmonis dan bahagia selalu.


Demikian yang harus diperhatikan bahwa perjudian selamanya akan membuat sengsara dan tidak membawa kebahagiaan bagi keluarga dan masyarakat sekelilingnya.

Om Santih Santih Santih Om


Aris Widodo

Penyuluh Agama Hindu

Kota Serang

Minggu, 01 Januari 2023

Catur Brata Penyepian

 Catur Brata Penyepian

Percikan Dharma

Catur Brata Penyepian

Om Swastyastu

Umat se-dharna, dalam perjalanan hidup manusia ini kita harus ada instrupeksi diri agar kehidupan berjalan sesuai apa yang direncanakan. Oleh karena itu dalam setahun ini kita harus mampu berkaca diri   setahun  lalu telah di perbuatnya.

Dalam rangka menjalani kehidupan ini ada waktunya untuk instropeksi diri yaitu bertepatan dengan hari raya Nyepi tahun baru saka yang dilaksanakan dalam setahun sekali oleh umat Hindu. Dengan Catur Brata Penyepian itulah umat Hindu menjalani instropeksi diri dalam perjalanan hidup satu tahun yang lalu, apa yang sudah dilakukan dan apa yang belum dilakukan.

Yang pertama, Amati Geni yaitu tidak menyalakan api maksudnya tidak melakukan kegiatan yang kaitannya dengan menggunakan api, terkait dengan memasak makanan dan minuman sehingga umat Hindu melaksanakan puasa atau pawasa dalam kurun waktu 24 jam atau 36 jam setelah melaksanakan Tawur Agung Kesanga. Hal ini agar umat manusia bisa merasakan bagaimana merasakan pawasa sehingga tubuh ini berhenti beraktivitas secara penuh.

Yang kedua, Amati karya yaitu tidak melakukan kerja maksudnya tidak melakukan pekerjaan apapun sehingga dalam masa ini khusus untuk instropeksi diri bagaimana diri ini hanya memikirkan langkah apa yang telah dilalukan dan apa yang akan dilakukan. Dengan menghentikan aktivitas kerja selama 24 jam atau 36 jam ini manusia diharapkan mawas diri agar kehidupsn ke depan lebih baik lagi.

Yang ketiga, Amati Lelanguan yaitu tidak melakukan kesenangan maksudnya tidak melakukan segala kesenangan baik kesenangan melalui panca indria maupun dasa indria. Dengan menghentikan semua kesenangan ini agar terfokus pada pengendalian diri sehingga manusia mampu menghadirkan bagaimana menyikapi bahwa kesenangan dapat membuat manusia lupa diri.

Yang keempat, Amati Lelungan yaitu tidak melakukan aktivitas berpergian maksudnya tidak melakukan berpergian agar umat manusia hanya fokus pada mawas diri sehingga tidak melakukan kesalahan dalam suatu perjalanan di luar sana. Dengan tidak berpergian ini diharapkan umat manusia dapat mawas diri bagaimana yang bisa setahun yang lalu dan setahun harus dilakukan setahun ke depan.

Demikian yang perlu diingat dan selalu dilakukan oleh umat Hindu dalam perjalanan hidup manusia setiap tahunnya sehingga dapat terus ditingkatkan dari tahun ke tahun. Oleh karena itu umswwwat manusia dihimbau untuk instropeksi diri atau mawas diri karena tidak selamanya manusia melakukan yang baik saja namun juga masih melakukan kesalahan-kesalahan baik yang disengaja maupun tidak disengaja.
Om Santih Santih Santih Om

Aris Widodo
Penyuluh Agama Hindu
Kota Serang



Jumat, 20 Mei 2022

Percikan Dharma Saya Bangga Menjadi Hindu

 Percikan Dharma

Saya Bangga Menjadi Hindu


Om Swastyastu

Umat se-dharma yang saya banggakan, pertama-tama mati kita panjatkan puji astuti angayubagyo kepada Sang Hyang Widhi Wasa karena atas asung kertha wara nugraha-Nya kita dapat berkumpul  bersama-sama di tempat ini dalam keadaan sehat. Sejarah telah membuktikan bahwa apa yang terjadi di dunia ini adalah karena adanya Tuhan/ Sang Hyang Widhi Wasa yang mana Agama Hindu adalah Agama tertua di dunia tanpa ada yang menyangkalnya. Dalam kurun waktu yang sangat panjang Agama Hindu tetap eksis di dunia dan tidak akan ketinggalan jaman walaupun usia dunia semakin tua karena Agama Hindu bisa menyesuaikan dengan perubahan jaman yang semajin modern. 



Agama Hindu memang menjadi barometer untuk dapat menyeimbangkan keserasian antara alam semesta dengan manusia yang senantiasa saling membutuhkan guna untuk kepentingan yang lebih berdaya guna. Saya bangga menjadi Hindu karena dalam ajaran yang ada dikitab Suci Weda sangat universal dan bisa mengikuti perkembangan jaman sehingga hal-hal yang tak mungkin menjadi mungkin dan ini semua telah  terbukti bisa dikupas dalam Weda. 

Dalam Agana Hindu menjangkau pada umat manusia mengenai hal-hal yang bisa dimengerti dan cepat  dipahami oleh umat  manusia serta dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari tanpa harus membutuhkan biaya yang lebih. Kalau kita bisa berpikir lebih jauh mengenai kehidupan di dunia ini maka tidak ada yang namanya peperangan, permusuhan, pertikaian, dan kecurangan karena dalam ajaran Agama Hindu telah banyak memberikan pengertian yang begitu dalam tentang arti kehidupan  itu. Kita bisa mengambil contoh dari isi yang terkandung dalam ajaran Tri Kaya Parisudha yang begitu agung ajarannya sehingga kita sebelum melakukan suatu tindakan harus tetlebih dahulu memikirkan apa yang akan terjadi dan bagaimana akibat yang akan ditimbulkan. Untuk itu berpikirlsh yang baik berkatalah yang baik dan berbuatlah yang baik sesuai dengan aps yang akan menjadiksn diri kita diterima oleh siapapun yang berhubungan dengan segala sesuatu dalam kehidupan ini. Kalau kita sudah bisa menjalankan ajaran Tri Kaya Parisidha dengan baik maka hal-hal yang berbau anarkis tidak akan terjadi dalam kehidupan ini sehingga apa yang akan terjadi hanyalah tentang kebaikan-kebaikan dalam hidup  dan kehidupan. 


Artikel Terkait Vasudhaiva Kutumbakam :


Dalam ajaran Agama Hindu ada keserasian /keseimbangan antara manusia dengan Tuhan , manusia dengan alam semesta dan manusia dengan manusia yang semua itu terdapat dalam ajaran Tri Hita Karana, Yang semua itu mengajarkan pada kita supaya umat manusia bisa menjaga hubungan yang harmonis dengan Tuhan/Sang Hyang Widhi Wasa, manusia dengan alam semesta dan manusia dengan manusia sehingga dalam kehidupan ini bisa harmonis diantara manusia dengan Tuhan/Sang Hyang Widhi Wasa, manusia  dengan alam semesta, dan msnusia dengan manusia sehingga dalam kehidupan harmonis serta jagat raya ini lestari. Disinilah kita diajarkan bagaimana untuk menjaga  serta melestarikan alam semesta ini dari kepunahan dsn kehancuran dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. 


Di dalam Agama Hindu ada kebebasan manusia untuk memilih jalan yang ditempuh dalam usahanya mencari Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan sehingga manusia bebas memilih jalan yang akan dilaluinya apa akan memilihh jalan Bhakti Marga, Jnana Marga, Karma Marga dan Raja Yoga Marga. Keempat jalan ini bida dipakai untuk menuju Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan yang kesemua itu di sebut Catur Marga Yoga. Berikut ini kami kutibkan mantram-mantram Weda yang mengajarkan ajaran Bhakti Marga sebagai berikut :

Om Bhur bhuah swah

tat savitur varinyam

bhargo devasya di mahi

dhiyo yonah pra codayat


Yajur Veda XXXVI.3

Artinya 

Ya Tuhan Yang Maha Kuasa sumber segala yang ada, luhur dan maha mulia, pencipta alam semesta, Kami memuja Kemahaesaan yang akan dilaluinya dalam kehidupan ini. Di samping itu manusia juga diberikan kelebihan dari pada makhluk lain sehingga manusia bisa menentukan mana yang baik maupun yang tidak baik.


Agama Hindu memberikan banyak tuntunan bagi umat manusia dalam menjalani hidup dan kehidupan sehingga manusia tingg





Kamis, 19 Mei 2022

Percikan Dharma Kebenaran Melindungi Hidup Seseorang

 Percikan Dharma

Kebenaran Melindungi Hidup Seseorang


Om Swastyastu

Umat se-dharma, benar adanya bahwa kebenaran pasti aksn selalu melindungi seseorang yang melaksanakan dalam hidupnya. Untuk itu gunakan kesempatan hidup ini mekaksanakan hal-hal yang bernuansa kebenaran dan kebaikan sehingga benar-benar mendapatkan kebahagiaan dan kesejahteraan.



Sa ma satyoktih pari patu visavatah,

dyava ca yatra tatanan ahani ca.

visvam anyan-ni visate yad ejati

visvahapo visvahodeti suryah.


Rg Veda X. 37.2


Artinya

Hendaknyalah pembicaraan kebenaran-Mu memberikan suatu perlindungan yang teliti kepada kami. Kahyangan (sorga) dan bumi, siang dan malam dikembangkan oleh kebajikan kebenaran. Semua makhluk yang bergerak bertempat tinggal di dalam kebenaran. Sungai-sungai mengalir dan matahari terbit setiap hari dengan memjalankan hukum alam.


Artikel Terkait Vasudhaiva Kutumbakam :


Ulasan

Bahwa dalam suatu kehidupan apabila selalu menjalankan kebenaran niscaya semua masalah dapat teratasi dengan campur tangan Hyang Widhi. Karena hanya dengan kebenaran dan kebajikan dalam hidup di dunia ini yang mampu menyelamatkan umat manusia dari segala macam rintangan di dunia ini.


Untuk itu jalankan kebenaran ini dalam setiap langkah kehidupan yang kita jalani karena hanya inilah jalan yang mampu membebaskan kita dari marabahaya. Demikian dengan melaksanakan kebenaran dan kebajikan dalam hidup ini tentu akan memudahkan langkah kita menuju yang lebih baik.

Om Santih Santih Santih Om


Aris Widodo

Penyuluh Agama Hindu

Kota Seramg




Rabu, 18 Mei 2022

Percikan Dharma Catur Asrama

 Percikan Dharma Catur Asrama  (Empat tahapan hidup manusia)

Om Swastyastu

Umat sedharma, dalam kehidupan ini ada empat tahapan kehidupan yang disebut Catur Asrama.

1. Brahmacasri Asrama, artinya suatu tingkatan atau tahapan untuk menuntut ilmu pengetahuan. Dalam kitab manawa dharma sastra disebutkan bahwa umur untuk mulai belajar adalah semasa ansk-anak yaitu dimulai dari umur 5 tahun dam selambat-lambatnya umur 8 tahun. Pada masa ini wajib menuntut ilmu pengetahuan untuk mempersiapkan diri menuju masa depan yang gemilsng, "taki katining sewaka guna widya". Artinya seorang siswa wajib menuntut mu samasa muda.


2. Grhasta, artinya suatu tingkatsn atau tahapan hidup berumah tangga. Grhasta berasal dari dua kata grha dan stha. Grha  artinya rumah, stha artinya berdiri atau membina. Jadi Grhasta artinya masa membina rumah tangga. Pada masa grhasta tujusn hidup yang diprioritaskan adalah mendapatkan artha dan memenuhi kama. Adapun tujuan grhasta yang utama adalah mencari harta benda untuk dapat memenuhi hidup (kama) dengan berdasarkan dharma. Kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang grhasta adalah

1. Bekerja mencari harta

2. Menjadi pemimpin rumah tangga

3. Menjadi anggota masyarakat yang baik

4. Melanjutkan keturunan.


3. Wanaprastha, artinya suatu tingkatan atau tahapan hidup manusia pada masa persiapan untuk melepaskan diri dari ikatan keduniawian. Wanaprastha artinya mengasingkan diri ke dalam hutan dengan mendirikan pertapaan. Pada masa ini kewajiban sudah tidak ada lagi di dunia seperti anak-anaknya sudah pada berumah tangga.tujuan hidup pada masa grhastha adalah persiapan mental dan fisik untuk dapat menyatu dengan Hyang Widhi.


4. Bhiksuka atau Sannyasin, artinya peminta-minta, maksudnya pada masa ini orang sudah tidak mampu lagi untuk mencari kehidupannya sendiri, sehingga mereka hidup dari belas kasihan dari anak-anaknya. Bhiksika atau Sannyadin adalah tingkatan atau tahapan kehidupan telah lepas sama sekali dari segala ikatan keduniawian (Moksa) dan hanya mengabdikan diri kepada Hyang Widhi.


Demikian umat sedharma bahwa dalam Catur Asrama yang harus dijalaninya sesuai tahapan-tahapan yang sudah diberikan dari Hyang Widhi melalui para Maharsi kita sehingga kita tinggal menjalaninya.

Om Santih Santih Santih Om


Aris Widodo

Penyuluh Agama Hindu

Kota Serang

Jumat, 15 April 2022

TERJADINYA PUNARBHAWA (SAMSARA)

 TERJADINYA PUNARBHAWA 

Telah diuraikan bahwa Punarbhawa (Samsara) saling jalin-menjalin dengan hukum Karma, yang meliputi; Karma, pahala, dan Waҫana (sisa atau bekas Karma). Punarbhawa; lahir kembali, Samsara; rentetan daripada kelahiran yang berulang kali, sebelum mencapai kebebasan yang mutlak (Moksa).

 


Selain dari itu ada suatu istilah : Awatara. Awatara berarti Perwujudan Sang Hyang Widdhi ke dunia dengan mengambil salah satu bentuk yang dengan perbuatan dan ajaran-ajarannya memberi tuntunan untuk membebaskan manusia dari kesengsaraan yang diakibatkan oleh kegelapan (Awidya).

 

Bhagawad Gita IV 7 :

“Kapan saja Dharma (kebenaran) mulai runtuh dan A-Dharma (kejahatan) mulai merajalela, Aku menjelma kembali ke dunia untuk menegakkan Dharma (kebenaran).”

 

Dalam Purana dijelaskan adanya Dasa Awatara, yaitu Penjelmaan Wisnu ke dunia sebanyak 10 kali, namun Awatara yang kesepuluh belum turun. Adapun nama-nama kesepuluh Awatara tersebut adalah :

 

1.      Matsya                      : Ikan

2.      Kurma                       : Kura-kura, Penyu

3.      Waraha                     : Badak, Babi Besar

4.      Narasinga                 : Manusia Berkepalakan kepala Singa

5.      Wamana                    : Orang Kerdil, Cebol, Katek

6.      Paraҫurama             : Rama yang bersenjatakan Kampak

7.      Rama                         : Rama (Raghutama) dalam Ramayana

8.      Krishna                     : Krishna Putra Wasudewa,Raja Dwarawati

9.      Buddha                     : Putra Raja Ҫuddodhana dengan Dewi Mahamaya

10.  Kalki                          : Awatara yang akan datang

 

Kini mari kita bicarakan bagaimana proses terjadinya Punarbhawa menurut ajaran Agama Hindu (Hindu Dharma). Punarbhawa (Samsara) atau kelahiran ke dunia yang berulang kali ini disebabkan oleh terikatnya Atma (Jiwatma) oleh Maya, Awidya, kegelapan, kebodohan dan Hukum Karma.

Karma yang meliputi : pikiran, kata-kata, perbuatan jasmani, yang digerakkan oleh kehendak (keinginan) mempengaruhi raga Ҫarira (Badan Wadag) manusia yang terdiri dari Panca Mahabhuta dan mempengaruhi pula Suksma Ҫarira (Badan halus, rohani) yang terdiri dari : Buddhi, Manah, Ahamkara, Indriya dan Panca Tan Matra (benih tak terukur yang menjadikan Panca Mahabhuta). Pada kelahiran ke dunia ini sudah merupakan ikatan Karma dan Samsara.

Pada masa kehidupan ini mulai dari lahir sampai meninggal dunia maka telah tercatat (terekam) timbunan Karma baik dan buruk. Setelah meninggal dunia, badan wadag hancur kembali ke Panca Mahabhuta, sedangkan Suksma Ҫarira yang memuat rekaman Karma menerima pahalanya di alam Neraka maupun di alam Sorga, sesuai dengan Ҫubha A-Ҫubha Karma (baik-buruk perbuatannya).

 

Weda Smreti (Dharma Ҫastra) VI. 63 :

“Tentang perpisahan jiwa seseorang dari badannya ini serta tentang kelahiran dari pada rahim lain dan tentang pengembaraan Jiwa melalui sepuluh ribu juta penjelmaan.”

 

Weda Smreti (Dharma Ҫastra) VI. 64

“Tentang kesaktian yang dialami Jiwa dalam badan oleh tidak adanya kebajikan serta kebahagiaan abadi yang dinikmati yang disebabkan oleh tercapainya tujuan utamanya yang dihasilkan berkat kebijaksanaan rohaninya.”

 

Adapun menurut penjelasan tersebut bahwa Punarbhawa (Tumimbal Lahir) nya Atma (Jiwatma) ke dunia serta alam lainnya dapat berujud berbagai macam penjelmaan, apakah sebagai Dewa, Manusia, Binatang, Bhuta dan sebagainya, dimana dinyatakan ada sepuluh ribu juta jenis penjelmaan.

 

Setiap Suksma Ҫarira yang dihidupi oleh Atma sebelum mencapai kesucian yang mutlak, akan terus menerus mengalami Samsara dari satu kehidupan menuju kehidupan yang lainnya sesuai dengan tingkat Karmanya masing-masing.

 

Dalam Itihasa (Wiracarita) seperti Ramayana dan Mahabharata banyak dikisahkan mengenai Tumimbal Lahir atau penitisan, bahkan para Dewa pun turut lagi menjelma ke dunia menyempurnakan kesuciannya untuk dapat menikmati Moksa (Nirwana)

 

Mengenai alam tempat Punarbhawa banyak jenisnya. Ada Punarbhawa di alam Dewa, alam Manusia, alam Binatang (Bhuta dan sebagainya). Menurut ajaran filsafat Hindu ada tingkatan alam yang disebut Sapta Loka, terdiri dari pada :

  1. Bhur Loka
  2. Bhuwah Loka
  3. Swah Loka
  4. Tapa Loka
  5. Jana Loka
  6. Maha Loka
  7. Satya Loka

 

Sapta Loka itu sering disingkatkan saja menjadi Tri Loka :

  1. Bhur = Alam Bumi
  2. Bhuwah = Alam Atmosfir
  3. Swah = Alam Sinar, Swarga, Surga, Dewa

 

Singkatnya Atma (Jiwatma) atau Suksma Ҫarira, mengembara dengan Karma Wasana (sisa, bekas) Karma menuju alam yang sesuai dengan jenis Karmanya.

 

Demikian pula pakaian (badan) baru yang akan diperolehnya semua bergantung dari Karma; mungkinlahir sebagai manusia tetapi kalau Karmanya jelek akan lahir sebagai binatang.

 

Dengan keadaan ini, dapat kita lihat di masyarakat ada yang dilahirkan di tempat orang kaya, ada di tempat orang miskin, ada yang lahirnya tampan, bijaksana dan kaya, tetapi di pihak lain ada yang kelahirannya cacat, miskin, jelek, bodoh dan sebagainya.

 

Itu semua akibat dari pada hasil Karmanya sendiri di masa yang telah lalu. Memang Tuhan (Sang Hyang Widhi) yang menciptakan dunia beserta isinya, secara universal, adil dan cinta kasih, namun kemudian selanjutnya Karma mahluk itu sendirilah yang akan menentukan kehidupan berikutnya.

 

Berikut ini beberapa petikan dari Weda Smreti (Manawa Dharma Ҫastra) perlu kita renungkan pengertiannya sehubungan dengan Punarbhawa.

 

Weda Smreti XII.9

“Sebagai akibat dari pada dosanya yang dilakukan oleh badan, seseorang akan menjadi benda tak bernyawa kelak pada kelahirannya kemudian, sebagai akibat dosa yang dibuat oleh kata-kata menjadi burung atau binatang buas dan sebagai  akibat dosa yang dibuat oleh pikiran ia akan lahir ke kelahiran yang rendah.”

 

Weda Smreti XII.15 :

“Dari badannya lahir bermacam-macam untuk kelahiran yang terus-menerus memaksa aneka ragam mahluk untuk berbuat.”

 

Weda Smreti XII.40 :

“Mereka yang memiliki sifat-sifat yang satva akan mencapai alam Dewata, mereka yang memiliki sifat-sifat rajah mencapai alam manusia, dan mereka yang memiliki sifat-sifat tamah akan terbenam pada sifat-sifat alam binatang, itulah tiga jenis jalan perobahan.”

 

 

Weda Smreti XII.74 :

“Dengan mengulang perbuatan-perbuatan dosa yang mereka lakukan, mereka yang sedikit perngertiannya menderita siksaan hidup ini dalam berbagai macam kelahiran.”

 

Karena diri kita sendiri merupakan pusat terjadinya Punarbhawa (Samsara), maka hendaknya dalam kesempatan hidup sebagai manusia ini kita gunakan benar-benar untuk melaksanakan ajaran Dharma, kesempurnaan serta kesucian, supaya dapat tahap demi tahap menuju kesempurnaan serta tujuan terakhir, yaitu Moksa (kebahagiaan yang kekal abadi).

Selanjutnya pada Weda Smreti (Manawa Dharma Ҫastra) Bab IV. 239 s/d 242.

 

Weda Smreti (Manawa Dharma Ҫastra) IV. 239.

"Karena di dunia sana, bukannya ayah, tidak pula ibu, tidak pula istri, bukannya anak-anak, bukan pula sanak keluarga yang tinggal sebagai kawan-kawannya. Kebajikan-kebajikan Spiritual sajalah yang tinggal bersama dirinya.”

 

Weda Smreti (Manawa Dharma Ҫastra) IV. 240.

“Sendirianlah seseorang itu lahir, sendirian pulalah ia meninggal, sendirianlah ia menikmati pahala perbuatan baiknya dan sendirian pulalah ia menerima hukuman dosa-dosanya.”

 

Weda Smreti (Manawa Dharma Ҫastra) IV. 241.

“Meninggalkan badan wadagnya di bumi sebagai sepotong kayu atau segumpal tanah sanak keluarga meninggalkan dengan muka berpaling, maka hanya kebajikan-kebajikan spiritual yang terus mengikuti jiwa.”

 

Weda Smreti (Manawa Dharma Ҫastra) IV 242.

“Oleh karena itulah hendaknya ia sedikit demi sedikit mengumpulkan kebajikan-kebajikan spiritual untuk nantinya menjadi kawannya setelah meninggal, karena dengan kebajikan sebagai kawannya ia akan bisa menembus kegelapan yang sukar ditempuh dalam perjalanan ke dunia berikutnya.”

 

Demikianlah isi pustaka suci tersebut untuk direnungkan bersama serta melaksanakan amanat-amanat penting yang tercantum di dalamnya.

 

CHANNEL YOUTUBE SAYA - MOHON DI SUBSCRIBE

Cari Artikel di Blog ini

Berita Terkait Semangat Hindu

Artikel Agama Hindu

108 Mutiara Veda 3 kerangka agama hindu advaita visistadviata dvaita Agama Hindu Dharma agama islam Ajaran Hindu aksara suci om alien menurut hindu Apa yang dimaksud Cuntaka Apa yang dimaksud dengan Japa Apa yang dimaksud dengan Puja arcanam nyasa aris widodo artikel hindu arya dharma Arya Wedakarna Asta Brata Atharvaveda Atman avatara sloka babad Badan Penyiaran Hindu bagian catur weda bahasa jawa kuno bahasa kawi bahasa sanskerta Banggalah Menjadi Hindu banten hindu bali Belajar Hindu BELAJAR ISTILAH AGAMA HINDU bhagavad gita Bhagawadgita bhagawan bhuta yadnya Bimas Hindu BPH Banten brahma wisnu siwa Brahman Atman Aikyam brahmana ksatriya wesia sudra budaya bali budha kliwon sinta Bukan Heroisme buku hindu terpopuler Canakhya Nitisastra cara sembahyang hindu catur asrama Catur Brata Catur Cuntakantaka Catur Purusha Artha Catur Purusharta catur veda Catur Warna Catur Weda Cendekiawan Hindu Cinta Kasih Dalam Perspektif Hindu Dana Punia Deva adalah sinar suci Brahman Deva Brahma Deva Indera dewa dewi hindu dewa yadnya dewata nawa sanga dewi kata-kata dewi saraswati dharma artha kama moksa Dharma Santi dharma wacana Doa Anak Hindu donasi buku hindu epos mahabharata ramayana filosofi pohon bambu filsafat agama hindu ganesha Gayatri Sebagai Mantra Yoga Hari Raya Galungan Hari Raya Kuningan Hari Raya Nyepi Hari Raya Pagerwesi Hari Raya Saraswati Hari Raya Siwaratri HINDU adalah ARYA DHARMA HINDU ADALAH SANATHANA DHARMA HINDU ADALAH VAIDHIKA DHARMA Hindu Agama Terbesar di Dunia Hindu Banten Hindu beribadah di Pura Hindu Festival Hindu Indonesia hindu nusantara Hindu Tengger Hinduism Facts Hinduism the Greatest Religion in the Word Hukum Karma Ida Pedanda sakti isi catur weda Jadilah Manusia Setia Japa dan Mantram Jiwa jual buku hindu kakawin Kamasutra Keagungan Aksara Suci OM Kekawin Lubdhaka kepemimpinan jawa kuna Kerajaan Hindu Keruntuhan Agama Hindu kesadaran diri kidung dewa yadnya Kitab Suci Weda lontar Lontar Kala Maya Tattwa Maharsi Atri Maharsi Bharadvaja Maharsi Gritsamada Maharsi Kanva Maharsi Vamadeva Maharsi Vasistha Maharsi Visvamitra manawa dharma sastra Mantra Mantra Yoga manusa yadnya Meditasi Matahari Terbit Mengapa Kita Beragama menghafal sloka Mimbar Agama Hindu Moksha Motivasi Hindu Mpu Jayaprema nakbalibelog Naskah Dialog Nuur Tirtha Om or Aum one single family opini hindu moderat Panca Sradha panca yadnya Panca Yajna pandita Panglong 14 Tilem Kepitu parahyangan agung jagatkartta paras paros segilik seguluk Pasraman Pasupati Pembagian Kitab Suci Veda Pemuda Hindu Indonesia pendidikan hindu pengertian catur weda Pengertian Cuntaka penyuluh agama hindu Peradah percikan dharma Percikan Dharma Dewa Yajna phdi pinandita Pitra Yadnya Ngaben Pitrapuja potong gigi Principle Beliefs of Hinduism Proud To Be Hindu Puja dan Prathana Pujawali purana purnama tilem Purwaning Tilem Kapitu Radio online Bali rare angon nak bali belog Reinkarnasi Rgveda ritual hindu Roh Rsi yadnya sabuh mas sad darsana sad guru Samaveda sanatana dharma sang hyang pramesti guru Sang Kala Amangkurat Sang Kala Dungulan Sang Kala Galungan Sang Kala Tiga sapta rsi Sapta Timira Sarassamuscaya Sarassamuscaya Sloka sattvam rajah tamah sejarah agama hindu Sekta Hindu Semangat Hindu seni budaya hindu Sex and Hinduism siwa budha waesnawa siwa ratri Sloka sloka bhagawad gita sloka bhatara sloka Rgveda sloka yayurveda Slokantara Sloka Spiritual Bersifat Misterius spiritualitas hindu spma ribek sradha dan bhakti sri rama krishna paramahansa Sri Sathya Sai Baba Sri Svami Sivananda sumpah dalam perkara tabuh gesuri tabuh kreasi baru tabuh telu lelambatan tantri kamandaka tat twam asi tattwa susila upakara Tempat Suci Hindu tiga hubungan harmonis tri hita karana Tri kaya parisudha tri kerangka agama hindu tri mala tri pramana Triji Ratna Permata tujuan perkawinan tujuh penerima wahyu tumimbal lahir upacara hindu upacara menek deha Upanisad upaweda Utsawa Dharma Gita vaidhika dharma Vasudhaiva Kutumbakam VEDA ADALAH ILMU PENGETAHUAN SUCI vedangga Vijaya Dashami Wasudewa Kutumbhakam widhi tatwa wija kasawur wiwaha agama hindu Yajna dan Sraddha yajna dan sradha Yayurveda Yoga Kundalini