OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM

PRAKATA

Selamat Datang

Semangat Hindu merupakan blog bersama umat Hindu untuk berbagi berita Hindu dan cerita singkat. Informasi kegiatan umat Hindu ini akan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan.
Semangat Hindu semangat kita bersama.

Bersama Semangat Hindu kita berbagi berita dan cerita, info kegiatan, bakti sosial dan kepedulian, serta kegiatan keagamaan seperti ; pujawali, Kasadha, Kaharingan, Nyepi, Upacara Tiwah, Ngaben, Vijaya Dhasami dan lain sebagainya.

Marilah Berbagi Berita, Cerita, Informasi, Artikel Singkat. Bagi yang mempunyai Web/Blog, dengan tautan URL maka dapat meningkatkan SEO Web/ blog Anda.

Terima Kasih
Admin

RANBB

---#### Mohon Klik Share untuk mendukung blog ini ####---

Minggu, 27 Desember 2015

Atribut Dari Dewa Siwa

MAKNA DAN KISAH DI BALIK ATRIBUT DARI DEWA SIVA..

Beliau adalah Deva yang paling agung sehingga nama lainnya adalah Mahadewa. Tetapi penampilannya sungguh tidak mencerminkan keagunganNya. Dewa Siva mengolesi seluruh tubuhnya dengan abu mayat, bercelana kulit binatang, berkalung dan bergelang ular cobra, menghias tubuhnya dengan tulang belulang dan kadang kala untaian tengkorak manusia melingkar dileher beliau.

Dengan kata lain, Dewa Siva berpenampilan sungguh nyentrik. Mengapa demikian? Padma Purana Uttara-Khanda Bab 235-236 menjawab dengan penuturan cerita dialog antara Dewa Siva sendiri dengan istrinya, Dewi Parwati.

Dewi Parwati berkata, Junjunganku, anda pernah memberitahu saya agar seseorang menghindar bicara dengan pasandi, orang asurik yang atheistic. Jika bicara dengannya, maka itu akan lebih buruk daripada berbicara dengan orang candala, orang buangan amat kotor dan hina, Mohon beritahu hamba, bagaimana tanda-tanda orang pasandi dan cirri-ciri pisik yang nampak pada dirinya.

Dewa Siva menjawab, orang-orang yang diliputi kebodohan menyatakan deva lain siapapun lebih tinggi kedudukannya dari Visnu, sang penguasa jagat, mereka inilah disebut pasandi, orang orang brahmana yang tidak mengenakan tanda dan simbul seperti sanka, cakra dan tilaka pada dahinya, mereka inilah disebut pasandi. Orang brahmana yang tidak menuruti sastra, tidak memiliki bakti kepada Tuhan, orang yang berperilaku menurut kemauannya sendiri, dan menghaturkan persembahan ke dalam api korban suci (yajna) untuk memuja dewa-dewa selain Tuhan Yang Maha Agung, Sri Visnu, juga disebut pasandi. Sebab Sri Visnu lah penikmat segala persembahan yajna dan pujaan para brahmana.

Mereka yang menganggap Sri Visnu setingkat dengan dewa-dewa lain seperti Brahma dan saya sendiri Rudra, harus selamanya dianggap pasandi.

Dewi Parvati berkata, Junjunganku, oh dewa terbaik, hamba ingin bertanya sesuatu yang rahasia. Atas dasar cinta kepadaku, mohon jawab pertanyaan hamba, hamba sangat ragu, sastra mencela memakai tengkorak manusia, menghias badan dengan abu mayat dan mengenakan kulit binatang. Tapi anda sendiri melakukan semua itu, anda belum pernah menjelaskan semua ini kepda hamba, karena itu, oh junjungan hamba, maafkan pertanyaan hamba.

Ditanya seperti itu, Dewa Siva menjelaskan kepada sang istri rahasia besar tentang perilakunya sendiri. Dahulu kala pada masa pemerintahan Syayambhu Manu, hidup banyak asura perkasa seperti Mamuci, musuh para dewa (Bhagavata Purana 8.11.23-40). Mereka gagah perkasa, semua memuja Sri Visnu, dan melakukan penebusan dosa. Melihat kenyataan ini, para dewa yang dipimpin oleh deva Indra menjadi frustasi dan ketakutan, lalu mendatangi Sri Visnu dan berlindung kepada-Nya.

Para Dewa berkata, oh Kesava, hanya andalah yang mampu menaklukkan para asura yang perkasa ini. Mereka tidak bisa dikalahkan oleh para Dewa, dan mereka telah menghapus dosa-dosanya melalui pertapaan.

Dewa Siwa dan Dewi Parwati
Dewa Siva lanjut berkata, mendengar kata-kata para dewa yang ketakutan, Sri Visnu, Purusotama, memenangkan mereka. Lalu Beliau berkata kepadaku sebagai berikut, oh Rudra yang berlengan perkasa, oh Dewa yang terbaik, untuk membingungkan musuh-musuh para dewa, mohon dirancang perilaku untuk diikuti oleh para pasandi. Tuturkan kepada mereka kitab-kitab purana gelap (purana dalam sifat tamas) yang akan menyesatkan mereka, Oh anda yang cerdas, anda hendaknya ciptakan kitab-kitab agama yang akan menyebabkan para asura kebingungan.

Melalui kebhaktian kepada-Ku dan demi kebaikan seluruh jagat, anda hendaknya mendekati para rishi yang perperangai atheistic seperti Kanada, Gautama, Sakti, Upamanyu, Jaimini, Kapila (bukan Kapila putra Devahuti), Durvasa, Mrikiandu, Brhaspati, Bhargava dan Jamadagni. Masukan kedalam pikiran mereka tenagamu yang mengandung kemauanmu.

Dengan dimasuki oleh tenagamu, mereka akan menjadi para pasandi besar. Dengan diberikan kekuatan olehmu, orang-orang brahmana ini akan menuturkan keseluruh tiga dunia kitab-kitab purana dan ajaran-ajaran rohani dalam sifat kegelapan (tamasa-guna) Oh Siva, pada dirimu sendiri, anda hendaklah mengenakan hiasan berupa tulang-tulang dan tengkorak manusia, abu mayat dan kulit binatang. Dengan penampilan demikian, bingungkan semua di seluruh tiga dunia. Anda juga hendaklah meresmikan ajaran kehidupan Pasupata beserta bagian-bagian kelompoknya seperti Kankala, Saiva, Pasanda, dan Mahasaiva. Melalui orang-orang ini hendaknya anda ajarkan satu doktrin yang para pengikutnya tidak mengenakan pengenal khusus dan mereka hidup diluar ajaran veda. Berhiaskan tulang-tulang dan abu mayat,mereka akan kehilangan kesadaran yang lebih tinggi dan akan menganggap anda sebagai Tuhan.

Dengan menuruti doktrin demikian, semua asura dalam sekejap akan menjadi tidak peduli kepada-Ku, tidak ada keraguan tentang hal ini, oh Rudra nan perkasa, dalam setiap jaman, dalam reinkarnasi-Ku yang berbeda-beda, Aku juga akan memuja dirimu untuk menipu para asura. dengan menuruti doktrin-doktrin demikian, pasti mereka akan jatuh.

Dewa Siva lanjut berkata kepada Devi Parvati, oh anda nancantik, setelah mendengar kata-kata Sri Visnu, meskipun saya berbicara fasih, saya jadi tak berdaya dan diam. Kemudian setelah sujud kepada Beliau, saya berkata, oh Tuhan ku, jika hamba laksanakan apa yang anda telah katakana, itu pasti akan menuntun diri hamba menuju kehancuran spriritual. Tidaklah mungkin bagi hamba melaksanakan perintah-Mu. Tetapi perintah-Mu harus dilaksanakan, ini sungguh menyakitkan.

Oh, Dewi, mendengar kata-kataku, Sri Visnu bicara begitu rupa untuk mengembalikan kebahagiaanku, Beliau berkata ini tidak akan menyebabkan kehancuranmu. Lakukan seperti apa yang saya perintahkan demi kebaikan para Dewa. Saya juga akan memberi anda cara-cara mempertahankan diri sementara anda sibuk mengajarkan filsafat asurik ini.

Lalu dengan penuh kasih Sri Visnu memberikan doa-doa pujian yang dikenal dengan nama Visnu-sahasra-nama kepadaku. Beliau berkata dengan menempatkan diri-Ku dihatimu, ucapkan mantra-Ku yang abadi ini. Mantra nan perkasa yang terdiri dari enam baris kata ini, berhakekat spiritual dan menganugrahkan pembebasan bagi mereka yang memuja-Ku dengan bhakti.
Tidak ada keraguan akan hal ini.

" Indivara-dala syamam padma patra-vilocanam

sankhanga-sarngesu-dharam sarvabharana-bhusitam

pita-vastram catur bahum janaki-priya vallabham

sri ramaya nama ity evam uccaryam mantram-uttamam

sarva duhkha haram caitat papinam api mukyi-dam

imam mantram japan nityam amalas tvam bhavisyasi "

Hamba sujud kepada Beliau yang berwarna gelap bagaikan bunga padma biru, yang bermata seindah bunga padma, memegang sanka, cakra dan busur sranga, berdandankan berbagai macam perhiasan, mengenakan jubah kuning, bertangan empat dan pujaan tercinta sita devi. Mantra paling utama sriramaya namah hendaklah diucapkan. Mantra ini meniadakan segala kesedihan dan bahkan memberikan pembebasan kepada orang-orang berdosa.Orang yang secara teratur mengucapkan mantra ini, akan bebas dari segala dosa. (Padma purana 235.44-46)

Segala reaksi dosa akibat memoleskan abu mayat dan mengenakan tulang-tulang orang mati sebagai hiasan pada badan akan hapus dan segala sesuatu jadi bertuah dengan mengucapkan mantra-Ku ini. Oh Dewa yang paling baik, atas karunia-Ku, bhakti hanya kepada-Ku akan timbul. Pujalah diri-Ku, didalam hatimu, turuti perintah-Ku, karena cinta kasih (bhakti) kepada-Ku, maka segala sesuatu akan menjadi bertuah bagimu.

Setelah memberi perintah demikian kepadaku, oh Dewi, lalu Beliau meninggalkan para dewa yang berkumpul itu, kembali ketempat tinggalnya masing-masing. Para dewa yang dipimpin oleh Indra itu memohon kepadaku, oh Mahadeva, Siva segeralah laksanakan kegiatan kegiatan yang menguntungkan ini, sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Sri Visnu.

Mahadeva lanjut berkata kepada Dewi Parvati, oh anda nan suci, demi kebaikan para dewa, maka saya berperilaku seperti pasandi. Semenjak itu saya mulai mengenakan untaian kalung tengkorak dan tulang-tulang, memoleskan abu mayat dan mengenakan kulit binatang pada badanku. oh anda nan suci, sebagaimana diperintahkan oleh Sri Visnu, kemudian saya menyebarkan kitab-kitab purana tamasik (purana dalam sifat tamas, kegelapan) dan ajaran-ajaran saivaisme yang pasandi, atheistik.

Oh, anda yang tak berdosa, dengan memasuki Gautama dan para brahmana lain melalui tenagaku, saya menyebarkan ayat-ayat agama diluar ajaran veda. Dengan menuruti sistim pemujaan yang saya berikan, maka semua asura jahat menjadi tak perduli kepada Sri Visnu, dan mereka diliputi kebodohan. Dengan mengoleskan abu mayat ketubuhnya dan melaksanakan pertapaan keras, mereka berhenti memuja Sri Visnu dan hanya memujaku dengan mempersembahkan daging, darah dan pasta cendana.

Dengan mendapar berkah dariku, orang-orang asura itu menjadi mabuk dengan kekuatan dan kebanggan. Mereka amat melekat pada objek-objek indriya, penuh nafsu dan kemarahan. Dalam keadaan seperti itu, tanpa sifat baik apapun, mereka akhirnya dikalahkan oleh para deva. Tanpa pengetahuan tentang jalan kehidupan yang benar, mereka yang menuruti ajaranku ini pasti masuk neraka.

Oh Dewi, demikianlah perilaku ini hanya untuk diriku saja demi kebaikan para dewa. Dengan menuruti perintah Sri Visnu, maka saya menghias diriku dengan abu mayat dan tulang tulang orang mati. Ciri-ciri jasmani ini hanya dimaksudkan untuk menipu orang-orang asurik. Didalam hatiku saya selalu bermeditasi kepada Tuhan, Sri Visnu dan senatiasa mengucapkan mantra-Nya. Dengan mengucapkan mantra utama yang terdiri dari enam suku kata (om ramaya namah) ini, kita senantiasa merasakan gairah amrita kekal kebahagiaan. Oh wanita mulia berwajah indah, saya telah jawab semua yang anda tanyakan. Dengan penuh kasih, saya bertanya kepadamu, apa lagi yang anda ingin dengar ?.

Dewi Parvati berkata, Oh anda nan suci, beritahulah saya tentang kitab-kitab suci tamasik bikinan para brahmana yang tidak memiliki bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Oh penguasa para dewa, mohon beritahu nama-namanya secara berurutan.

Deva Siva menjawab, Oh Devi, dengarlah. secara berurutan saya akan sebutkan kepadamu tentang ayat-ayat agama tamasik. Hanya dengan mengingat ayat-ayat agama tamasik ini, bahkan orang bijaksana sekalipun akan tertipu. Pertama, saya sendiri menyebarkan ajaran saiva, pasupata dan ayat-ayat agama serupa. Setelah tenagaku memasuki dirinya, lalu Rishi Kanada menyebarkan filsafat vaisesika. Begitu pula Gautama mengajarkan filsafat nyaya, dan Kapila mengajarkan pilsafat samkhya yang atheistik. Brhaspati mengajarkan doktrin Carvaka yang banyak dicela, dan Visnu sendiri dalam wujud sang Buddha menyebarkan ajaran palsu buddhisme untuk menghancurkan para asura.

Filsafat mayavada ini adalah kepercayaan kotor dan jahat.Pilsafat ini adalah ajaran Buddhisme terselubung. Parwati tercinta, pada masa Kali-Yuga saya lahir dalam wujud seorang brahmana dan mengajarkan pilsafat rekayasa ini. (Padma Purana 6.236.7).

Filsafat mayavada ini menyebabkan kata-kata dari ayat-ayat kitab suci kehilangan makna sebenarnya, sehingga filsafat ini dicela di dunia. Filsafat ini menganjurkan supaya orang meninggalkan tugas-kewajibannya, sebab orang yang telah jatuh dari tugas dan kewajibannya berkata bahwa meninggalkan tugas dan kewajiban adalah ajaran agama yang sebenarnya. Saya juga mengajarkan bahwa Tuhan dan roh individual adalah sama. (Padma Purana 6.236.8-9).

Dengan maksud untuk membingungkan orang-orang atheistik pada masa Kali-Yuga, saya jelaskan bahwa Tuhan Yang Maha Esa adalah tanpa wujud dan tanpa sifat serta ciri apapun (Padma Purana 6.236.10).

Begitu pula dalam menjelaskan Vedanta-sutra, saya ajarkan pilsafat mayavada yang sama dengan maksud untuk menyesatkan seluruh penduduk ke arah atheisme dengan menolak adanya wujud pribadi Tuhan Yang Maha Esa. (Padma Purana 6.236.11).

Demikian dewa Siva menjelaskan tentang diri dan ajarannya kepada sang istri dewi Parvati.

Sloka-sloka Padma-Purana diatas dikutip dalam Caitanya-Caritamrta Adi – Lila Bab VII. Sri Caitanya mengutip sloka-sloka ini ketika berdiskusi dengan Prakasananda Sarasvati dan para sannyasi mayavadi di Benares. Beliau berkehendak menunjukkan kepada mereka bagaimana Deva Siva telah muncul pada masa Kali-Yuga sebagai Sripada Sankaracarya untuk mengajarkan pilsafat monisme ( yaitu Tuhan dan makhluk hidup adalah satu dan sama).

sumber copas Group PAJK Gunung Salak

Senin, 21 Desember 2015

Kemajuan Kesadaran Atman

Kemajuan kesadaran atman/jiwatman sejak mulai eksis, dalam ajaran Siwa pakca, dapat dibagi menjadi 3 tahapan (avasthai)  yaitu kevala avasthai, sakala avasthai dan suddha avasthai.
1.            Kevala avasthai.   Ketika atman mulai eksis, belum mendapatkan badan kecil, atman bagaikan bibit/benih yang tersembunyi ditanah. Demikian juga ketika atman telah menikmati pahala karma kehidupan didunia, dalam penantian mendapatkan tubuh baru.  Tahapan itu disebut sebagai “kevala avasthai”. Kilatan kesucian tersembunyi dibalik awan anawa (kegelapan ego), sebagai aspek pertama dari tirodhana shakti (anugrah penyamaran, pengaburan ingatan) dariNya.
2.            Sakala avasthai, sang jiwatman mempunyai kesadaran tubuh, sebagai evolusi melingkar dari perjalanan atman berpindah dari satu tubuh ke tubuh lainnya. (samsara punarbhawa).   Ini adalah aspek kedua dan ketiga tirodhana shaktiNya.    

Perjalanan jiwatman tahapan ini juga dapat dibagi menjadi tiga sub-tahapan yaitu sub tahap  irul, marul dan arul.

Sub tahapan Irul juga disebut masa kegelapan, dimana semangat jiwatman adalah kepada pasa-jnanam, yaitu pengetahuan dan pengalaman duniawi.   Berpangkal dari kepentingan sendiri (ahamkara dan mamakara).

Sub tahapan marul atau masa kebingunan/confusing; sang jiwatman mulai mempunyai kesadaran diri, serta terjebak dalam kebingungan antara keterikatan duniawi dan kesadaran spiritual, kesadaran ke-Tuhanan, serta belum tahu kemana harus menuju.      

Juga disebut sebagai “pasu-jnanam” dimana sang jiwa berupaya tahu tentang dirinya yang sejati dan kebenaran dunia.
Sub tahapan arul adalah masa mendapatkan anugrah mulai terbebaskan dari cengkraman dunia materiil.  Pada tahap ini sang jiwatman sangat merindukan penampakan (dharshan) yang dipujanya.    

Disinilah evolusi relijius yang sesungguhnya baru dimulai, bercirikan perilaku sebagai penyembah yang sangat konsisten.   Mendapatkan kesadaran bahwa jika berperilaku suci (virtous deed) dan baik (good conduct), hidup akan selalu mengarah kepada hal positif.   Dalam keyakinan mengarah kepada kebaikan dan kesucian.    

Keseimbangan meresap dalam kehidupan. Kesenangan tidak melambungkannya kelangit, sebaliknya kedukaan tidak menghempaskannya kebumi.   Semua ini tidak muncul tiba-tiba, namun sebagai hasil dari sebuah perjalanan dan pengalaman panjang, ratusan kali kelahiran.     

Tanpa disadari tri mala sudah mulai terkendali; maya semakin kurang menarik, cengkraman anawa mulai merenggang dimana hidup sudah bergerak dari mementingkan diri sendiri “self-centered” ke rasa kasih-universal.     

Perkembangan ini disebut “malaparikam”- penyesalan terhadap mala.   Inilah merupakan saat yang tepat bagi turunnya anugrah (saktinipaata).  Anugrah tersebut kedalam dirasakan sebagai kerinduan luar biasa terhadap Siwa. Ingin lebih jauh lagi mengabdikan dirinya kepada segala aspek yang bernuansa spiritualitas dan kesucian.     

Keluar ditandai dengan munculnya seorang satguru, bisa nyata ataupun tidak nyata, tanpa  mengacuhkah siapa ataupun dari mana (aliran) dia karena semuanya dianggap  mengalirkan vibrasi.    Sang jiwatman merasakan sesuatu mengalir dari sang Guru.  

Ketika sang jiwatman sudah berada pada perkembangan “malaparikam”, fungsi tirodhana/concealing grace (anugrah pengaburan) Brahman mulai berhenti, dan berubah menjadi revealing grace (anugraha shakti), ditandai dengan munculnya kesadaran tentang sesuatu yang sudah dan sedang berlangsung atas dirinya.   Sub tahapan arul akan mangantarkan kepada tahapan sudha avasthai, sebagai fondasi kuat mencapai tujuan agama.

Semeton pengayah pembangunan PAJK, bila dalam proses ngayah melanjutkan pembangunan di PAJK atau ayah-ayahan lainnya, kita lakukan dengan keihlasan, semata mata sebagai persembahan, sekecil apapun kemampuan kita; sama sekali bebas dari niat memetik keuntungan materi maupun keinginan mendapatkan popularitas, nama besar, sanjungan dllnya, OM awighnamastu sahabat semua adalah orang-orang yang sudah meninggalkan sub tahapan marul, bahkan mungkin memasuki atau sudah berada pada sub tahapan irul.    

Semoga anugrah  anugrah Dewa Ganesha berupa kecerdasan dan terbebas dari rintangan, anugrah Ratu Niang dan Ratu Gde terbebas dari ganguan niskala, Dewa Hyang Prabhu Siliwangi, berupa pahala “desa abhimana” serta anugrah para Dewa lain dapat dirasakan.   Amunika dumun semoga berguna.

Sumber : Copas saking Group Undagi PAJK GN.Salak

Rabu, 02 Desember 2015

Indonesia Maju Tirulah Bali

Tirulah Bali jika Indonesia ingin maju. Tidak berlebihan bukan ? Bali bukanlah sebuah negara merdeka, Bali bagian dari propinsi di Indonesia, namun (saya dengar) diluar negeri, Bali lebih terkenal dari Indonesia."Bali next to where Indonesia?" "Bali sebelah mananya Indonesia ?" begitulah kira-kira kata mereka para wisatawan luar negeri yang ingin ke Bali.

Budaya Indonesia
Indonesia kaya Budaya, Budaya adi luhur yang telah diwariskan nenek moyang kita. Kekuatan Indonesia ada pada Budaya sendiri. Budaya Indonesia sumber kehidupan dan kedamaian. Indonesia jika ingin maju HARUS mempertahankan Budaya sendiri. Cintailah Budaya kita sendiri. Budaya nenek moyang Indonesia Budaya yang sangat luhur. Jika Budaya Indonesia dikedepankan Indonesia akan maju. Budaya adalah darah daging Indonesia. Indonesia kaya Budaya luhur yang sangat bagus. Budaya itu Indah, Budaya itu Indonesia. Jagalah Budaya Kita. Tiada keindahan tanpa Budaya Indonesia. 

Senin, 12 Oktober 2015

Hulu Teben Kiblat Hindu Bali

 Apakah Dalam Ajaran Hindu Ada Kiblat ?

Jika dikutip dari pengertiannya secara umum kiblat berarti arah tertentu yang bersifat mutlak. Lantas apakah dalam sembahyang agama Hindu ada kiblat? Sebenarnya dalam Hindu tidak terdapat kiblat, dalam ajaran Hindu semua arah adalah suci karena Tuhan ada dimana-mana dan memenuhi seluruh alam raya semesta ini.

Seperti halnya terdapat konsep Dewata Nawa Sanga (sembilan penguasa di setiap penjuru mata angin) dan semua adalah perwujudan dari kekuatan Tuhan dalam berbagai manifestasi beliau. Dengan demikian semua arah ialah suci.

Namun dalam perkembangan Hindu di Bali, dalam pemujaan kepada Tuhan terdapat sebuah istilah yaitu “Hulu Teben”. Hulu Teben adalah konsep penataan sebuah tempat secara vertikal dan horisontal yang dapat membawa tatanan kehidupan skala (nyata) dan niskala (tidak nyata). Hulu Teben berasal dari dua kata yaitu hulu dan teben :
  • Hulu artinya arah yang utama, sedangkan
  • Teben artinya hilir atau arah berlawanan dengan hulu
Hulu – Teben memakai dua acuan yaitu :
  • Timur sebagai hulu dan Barat sebagai teben, atau
  • Gunung sebagai hulu dan Laut sebagai teben
Timur sebagai hulu karena di timur merupakan arah matahari terbit. Matahari dalam pandangan Hindu merupakan sumber energi yang menghidupi semua mahluk. Timur artinya juga wetan, berasal dari kata wit  yang berarti asal mula. Jadi semua mahluk dan alam semesta berasal dari-Nya dan akan kembali ke asal-Nya.

Sedangkan Gunung sebagai hulu karena berfungsi sebagai pengikat awan yang turun menjadi hujan kemudian ditampung dalam humus hutan yang merupakan sumber mata air kehidupan karena tiada kehidupan tanpa air.

Penetapan Hulu Teben hanya sebagai kesepakatan dan etika pemujaan Hindu di Bali. Akan tetapi ada juga tempat pemujaan yang menghadap ke barat, ke selatan dll. Tapi itu bukanlah sebuah hal yang perlu di debatkan atau menjadi pertentangan karena seperti yang sudah diterangkan diatas bahwa dalam Hindu sejatinya semua arah adalah suci.

Semoga bermanfaat untuk semeton. Jika terdapat penjelasan yang kurang lengkap atau kurang tepat. Mohon dikoreksi bersama. Suksma…
(sumber : Buku Cara Mudah Memahami Hindu)

http://inputbali.com/budaya-bali/apakah-dalam-ajaran-hindu-ada-kiblat

Selasa, 22 September 2015

Forum Aliansi Bahasa Daerah Bali

​FABDB Tuntut Lulusan Bahasa Bali Dan Agama Hindu Diberdayakan


Forum Aliansi Bahasa Daerah Bali (FABDB) mendatangi Kantor DPRD setempat untuk menyampaikan aspirasi agar pemerintah memperjuangkan lulusan bahasa Bali dan agama Hindu diangkat menjadi guru pengajar dan penyuluh agama.

"Kedatangan kami ke gedung Dewan ingin menyampaikan aspirasi agar para lulusan bahasa Bali dan Pendidikan Agama Hindu diperjuangkan untuk diangkat menjadi guru dan tenaga penyuluh di masyarakat," kata Ketua Aliansi Bahasa Daerah Bali (ABDB) Nyoman Suka Ardiyasa di Denpasar, Senin (21/9).
Ia mengatakan saat ini lulusan bahasa Bali dan Agama Hindu mencapai 7.400 orang lebih, namun Pemerintah Provinsi Bali belum ada formasi untuk mengangkat tenaga pengajar bahasa Bali dan penyuluh Agama Hindu.
"Oleh karena itu, kami ke sini untuk menyampaikan aspirasi para alumni bahasa Bali, sehingga para anggota Dewan memberikan perhatian kepada kami dari lulusan bahasa Bali," ujarnya.


Sementara Ketua DPRD Bali Nyoman Adi Wiryatama mengatakan pihaknya menyambut baik kedatangan dari rekan Forum Aliansi Bahasa Bali untuk menyampaikan aspirasinya ke pihak dewan.
"Kami mendukung Forum Aliansi Bahasa Daerah Bali untuk para alumninya diperjuangkan menjadi tenaga guru dan penyuluh Agama Hindu," katanya.

Adi Wiryatama mengatakan pihaknya akan merekomendasi ke eksekutif bila ada pengangkatan guru untuk formasinya diarahkan mengangkat guru bahasa daerah Bali dan penyuluh Agama Hindu.
"Apalagi mendengar dari Ketua Forum Aliansi Bahasa Daerah Bali, bahwa pihak Pemerintah Provinsi Bali berjanji dalam formasi mendatang dalam pengangkatan guru, akan mencari guru bahasa Bali," ucapnya.

Adi Wiryatama lebih lanjut mengatakan pihaknya selain merekomendasi untuk formasi pengangkatan guru bahasa Bali, juga terkait regulasi penempatan guru bahasa Bali agar merata di pelosok desa serta penyediaan penyuluh Agama Hindu di desa adat (pakraman) di Bali.

"Desa pakraman se-Bali sudah mendapat dana hibah sebesar Rp200 juta. Bisa saja disiapkan program untuk peyediaan dana penyuluh agama," katanya.

Selain itu, kata dia, pihaknya juga mendukung adanya revisi terhadap Perda Provinsi Bali Nomor 3 tahun 1992 tentang Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali.

"Perda Nomor 3/1992 tersebut perlu dilakukan revisi, sebab banyak telah terjadi perubahan seiring dengan perkembangan zaman dan kondisi masyarakat saat ini. Kalau memang pihak eksekutif tidak melakukan revisi, kami di Dewan akan melakukan revisi melalui hak inisiatif," katanya.

Editor: Agus Panjaitan
sumber : http://sentananews.com

Jumat, 04 September 2015

Swara Hindu Dharma

Swara Hindu Dharma, Menjaga Sradha Menebar Dharma. 


Umat Hindu di Kabupaten Kulonprogo berkumpul di pura atau tempat Ibadahnya yang disebut Sanggar Panepen Parahyangan Tirto lanceng. Ini yang berbeda dengan diwilayah – wilayah D.I.Yogyakarta seperti Gunungkidul, Sleman, Bantul dan Kota Yogyakarta yang biasa tempat sucinya disebut Pura tetapi berbeda dengan di Kabupaten Kulonprogo umat Hindunya menyebut tempat ibadahnya dengan Sanggar Penepen Parahyangan. 


Umat Hindu yang ada di Kabupaten Kulonprogo merupakan masyarakat local atau asli orang local bukan pendatang seperti yang ada di Kabupaten Bantul yang merupakan orang – orang Bali. Mereka tinggal di pegunungan yang memang jauh dari akses perkotaan serta tempat ibadahnya juga masih baru dibangun dan masih berupa Padmasana, Linggam dan arca Semar.

Untuk meningkatkan sradha dan bhakti umat Hindu yang terdapat di Kabupaten Kulonprogo, maka Bimas Hindu Kanwil Kementerian Agama D.I.Yogyakarta melaksanakan kegiatan pembinaan Agama dan Keagamaan. Dalam pelaksanaan kegiatan pembinaan Agama dan Keagamaan, Ida Bagus Wika Krishna, S.Ag, M.Si selaku Bimas Hindu Kanwil Kementerian Agama D.I.Yogyakarta memberikan pengarahan. 

Dalam pengarahannya beliau mengharap kepada umat Hindu yang ada di Kulonprogo untuk terus semangat dalam menjalan ibadahnya dan selalu menjaga local genius yang ada di daerah tersebut, seperti dalam melaksanakan ibadah atau bersembahyangan untuk menggunakan mantra dan juga sesajinya supaya tetap menjaga tradisi yang sudah berjalan.

Pelaksanaan kegiatan tersebut hadir I Wayan Sumerta sebagai lembaga PHDI D.I.Yogyakarta, bapak Wayan Budriana sebagai PHDI Kabupaten Kulonprogo. Pada kesempatan itu juga bapak Wayan Budriyana yang memohon bantuannya kepada lembaga ataupu terkait untu ikut memberikan pembinaan terhadap umat Hindu yang ada di Kabupaten Kulonprogo serta memberikan pemahaman dan wawasan tentang agama Hindu, agar keyakinan umat yang ada di Kulonprogo kian meningkat dan tambah bersemangat dalam meyakini agamanya yang dianutnya.

sumber berita http://www.swarahindudharma.com

Jumat, 21 Agustus 2015

Ngaben Massal Hindu Lampung

Masyarakat Hindu Bali Lampung Akan Ngaben Massal di desa Sanggar Buana

Masyarakat Hindu Bali Desa Sanggar Buana Kecamatan Seputih Banyak mempunyai tradisi Ngaben Masal yang dilakukan 5 tahun sekali.

Ratusan Jenazah yang sebelumnya di kubur akan dibongkar untuk diambil tulangnya. Tulang jenazah ini akan di bakar untuk diambil abu-nya. Acara ini akan diikuti oleh 300 peserta dengan banyaknya jenazah 412.

Dalam siaran persnya kepada Saibumi.com, Minggu, 16 Agustus 2015, acara yang dipersiapkan selama sebulan menghabiskan biaya Rp1,1 miliar yang di peroleh dari iuran. Menurut salah satu panitia Drh. Ketut Suwendra. MM mengatakan, acara akan diresmikan pada H-1 yaitu tanggal 22 Agustus 2015 oleh Pemerintah Provinsi Lampung, Kapolda Lampung, Parisada Hindu (PHDI) Provinsi Lampung, Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah dan Tokoh Masyarakat Provinsi Lampung. (*)
 

sumber berita : http://www.saibumi.com

Selasa, 18 Agustus 2015

Penyu untuk Upacara Umat Hindu

Pemerintah Izinkan Penyu untuk Upacara Umat Hindu, Asal ...

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Bali menegaskan penggunakan hewan penyu untuk upacara keagamaan di Pulau Dewata harus mendapat rekomendasi dari Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali.

"Kalau masyarakat belum mengantongi izin dan rekomendasi dari majelis tertinggi umat hindu itu, kami tidak akan mengizinkan pemanfaatan penyu untuk sarana upacara," kata Kepala BKSDA Bali, Sumarsono di Denpasar, Rabu (12/08/2015).

Ia menjelaskan, aturan tersebut merupakan perjanjian antara BKSDA dengan PHDI mengenai pemanfaatan dan penggunaan salah satu fauna dilindungi di Nusantara tersebut.

Dalam aturan tersebut tertulis bahwa hanya diperbolehkan memakai satu ekor penyu untuk satu jenis upacara keagamaan baik tingkat besar, sedang, maupun kecil.



"Kami membatasi jumlah pemanfaatan penyu karena jumlah penyu yang ada di penangkaran dan di beberapa pusat pengembangbiakan peyu sudah semakin terbatas," kata dia.

Selain itu, pihak penyelenggaran upacara mesti mengganti uang yang dihabiskan selama proses pengembangbiakan penyu di beberapa daerah perlindungan dan pengembangbiakan fauna langka itu. "Saat ini, di Bali terdapat beberapa tempat pengembangbiakan penyu, dua di antaranya di daerah Benoa dan Serangan, Denpasar.

Lebih lanjut, aturan berupa perjanjian itu kata Sumarsono sebagai langkah antisipasi semakin berkurangnya jumlah penyu, utamanya penyu hijau yang sudah semakin langka di Bali.

Apalagi, menurutnya, saat ini banyak pihak memanfaatkan penyu menggunakan alasan untuk upacara agama, padahal, dagingnya digunakan untuk kebutuhan bisnis dan komersil.

"Daging penyu harganya cukup mahal di pasaran, jadi, banyak yang menghalalkan segala cara memanfaatkan daging penyu untuk diperjualbelikan," katanya.


sumber : http://nasional.rimanews.com

Selasa, 04 Agustus 2015

Pegajahan, Desa Hindu di Sumatera

Ada Bali Di Sumatera Utara (Desa Pegajahan)

Bali, siapa yang tidak mengenal destinasi wisata ini. Mata dunia seolah terpaku melihat eksostisme dan keindahan pesona alam, budaya, religi, dan sejarahnya. Namun bagi anda yang tidak memiliki budget cukup, datang dan berkunjunglah ke Desa Pegajahan di Serdang Bedagai. Maka anda akan merasakan atmosfer layaknya di pulau Dewata. 

Desa Pegajahan berdiri dan hidup dengan pola hindu di Sumatera Utara. Patung, ukiran, dan tradisi turun temurun dari leluhur umat hindu bali di desa Pegajahan menyatu dan memberikan indahnya toleransi ditengah masyarakat Serdang Bedagai yang mayoritas beragama muslim dan dengan latar suku melayu dan batak. Selain budaya bali yang kental di desa Pegajahan.
Disini juga terdapat berbagai usaha kerajinan masyarakat. Jadi bagi anda yang hobby berwisata belanja tidak perlu was-was melewatkan kegemaran anda. 
Kebudayaan bali di Sumatera Utara mulai muncul sejak tahun 1962. Kala itu sebuah PT Perkebunan mendatangkan tenaga kerja dari pulau dewata Bali. 

Namun seiring perkembangan dari masa ke masa, mereka hidup dan tinggal di Serdang Bedagai dengan mendirikan sebuah desa yang mana keseluruhan warganya merupakan keturunan Bali. 

Desa Pegajahan biasa dikunjungi oleh wisatawan dan masyarakat hindu. Selain karena keunikannya, Pegajahan juga memiliki pura hindu tempat mereka beribadat dan sering menjadi pusat perayaan hari raya keagamaan Hindu. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai desa bali alias pegajahan. Hanya sekitar 2 jam dari kota Medan dan 20 menit dari Perbaungan. 

Kabupaten Serdang Bedagai memang memiliki destinasi wisata yang beragam, sehingga kerap dikunjungi oleh wisatawan. Beberapa destinasi wisata lain sebagai refrensi perjalanan anda adalah Pulau Berhala, Pantai Labu, Arung Jeram Bah Bolon, Pantai Cermin, Pantai Gudang Garam, dan masih banyak lagi.

sumber artikel : https://komunitastkj.wordpress.com

Universitas Hindu Indonesia

Universitas Hindu Indonesia

Visi:
Menjadi Universitas unggulan di Indonesia serta pusat pengkajian dan pengembangan agama dan budaya Hindu terbaik di kawasan regional
Misi:
1. Menyelenggarakan pendidikan tinggi berbasis kompetensi yang mengacu kepada Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan menganut nilai-nilai ke-Hinduan
2. Menerapkan manajemen Universitas mengacu pada standar akreditasi
3. Mengkaji dan mengembangkan Agama dan Budaya Hindu Indonesia melalui pendidikan, pembelajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat berbasis TIK
4. Membangun citra Unhi sebagai institusi Pendidikan TInggi serta berpusat pengkajian dan pengembangan Agama dan Budaya Hindu Indonesia

Kunjungi http://www.unhi.ac.id


Berdirinya Universitas Hindu Indonesia, berawal dari keinginan Para Majelis Agama Hindu membangun atau mengadakan asrama Pangadyayan (Perguruan Tinggi Agama) sebagai tempat untuk mempelajari dharma. Keinginan tersebut terdapat dalam suatu keputusan yang kemudian lebih dikenal dengan nama “Piagam Campuhan Ubud” dan tercetus pada pertemuan yang disebut “Dharmacrama” yang bertempat di campuhan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali.

Butir II Piagam Campuhan Ubud inilah yang menjadi titik tolak atau tonggak sejarah pendirian Perguruan Tinggi Agama Hindu dengan nama “Maha Widya Bawana” atau Institut Hindu Dharma (IHD). Cita-cita luhur tersebut dapat diwujudkan dua tahun kemudian yaitu pada tanggal 3 Oktober 1963, bertepatan pula dengan hari Purnama Kartika (Purnama Sasih ke 4). Pada hari yang bersejarah ini lahirlah Lembaga Pendidikan Tinggi Agama hindu yang pertama di bumi Nusantara ini.

Pada Awal berdirinya IHD hanya menagasuh dua fakultas yakni fakultas Agama dan kebudayaan serta Fakultas keguruan dan Ilmu Peniddikan Jurusan Biologi. Dibukanya dua fakultas ini sesuai dengan keinginan dan aspirasi yang berkembang ketika itu. Agama dan Kebudayaan merupakan dua aspek yang cukup penting untuk dilestarikan dan dikembangkan sehingga nantinya mampu menunjukan peran sertanya dalam kancah pembangunan Nasional. Sementara dibukanya fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Khususnya Jurusan Biologi dimaksudkan agar makna Kitab Usada (Ilmu Pengobatan Tradisional) semakin tergali dan dapat disebarluaskan di masyarakat.

Semakin tinggi animo masyarakat, menyebabkan pengelola IHD mulai mempertimbangkan untuk membuka fakultas-fakultas baru atau memodifikasi fakultas yang telah ada. Oleh karena itulah dibuka beberapa fakultas lagi guna menampung berbagai aspirasi yang berkembang di masyarakat.
Pada akhirnya IHD memiliki empat fakultas masing-masing: Fakultas Ilmu Agama, Fakultas Ilmu Pendidikan Agama, Fakultas Hukum Agama, dan Fakultas Sastra dan Filsafat Agama. Dengan empat fakultas ini, IHD semakin dikenal senagai pengelola Pendidikan tinggi yang berafiliasi agama Hindu. IHD berhasil melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan sukses, baik dalam bidang pengajaran, penilitian, dan pengabdian pada masyarakat.

Namun demikian, setelah 30 tahun IHD berdiri, yang merupakan satu-satunya Lembaga Perguruan Tinggi Agama Hindu di Indonesia sampai saat itu belum bisa menghasilkan sepenuhnya para sarjana yang mampu menjawab perubahan dan tantangan zaman pada saat itu, sehingga mereka banyak yang kalah bersaing dalam pasaran tenaga kerja dengan para sarjana lulusan Perguruan Tinggi Lainnya. Hal ini mengakibatkan banyak sarjana IHD menjadi pengangguran.

Hendaknya disadari bahwa, pengelolaan Perguruan Tinggi akan menjadi sulit apabila mahasiswa yang dibina sangat minim. Ide untuk mengembangkan diri secara lebih terbuka dan dapat menampung aspirasi yang lebih bervariasi mulai muncul. Dalam konteks nasional pembangunan dilaksanakan didalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyartakat Indonesia. Dalam proses ini maka seluruh lapisan masyarakat termasuk umat hindu, harus ikut secara aktif dalam perencanaan dan pelaksanaannya.

Usaha-usaha di dalam penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, keterampilan khusus, mutlak diperlukan tentunya tanpa bertentangan dengan nilai-nilai agama Hindu. Melihat hal itu, dan melihat juga latarbelakang berdirinya IHD yang semata-mata didorong oleh keinginan luhur dan kurangnya pembinaan terhadap umat Hindu di masa lalu, sudah sepantasnya dirubah bentuknya menjadi Universitas Hindu yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tantangan-tantangan yang semakin komplek dewasa ini.

Dan dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 75/D/O/1993 tertanggal 19 Mei 1993, maka secara resmi Universitas Hindu Indonesia (UNHI) berdiri di kota Denpasar.

Minggu, 26 Juli 2015

9 Aktivitas Tergolong Dalam Sifat Nafsu

Aktivitas Apa saja yang tergolong dalam Sifat Nafsu ?
  • Makan makanan yang terlalu pahit, terlalu asam, terlalu asin, terlalu panas, manis-manisan berlebihan, pedas, kering dan hangus. Makanan seperti ini menyebabkan penyakit.
  • Melakukan kurban suci (yajnya/yadnya) untuk mendapatkan keuntungan material, atau demi kebanggaan diri/ ego palsu.
  • Melakukan pertapaan karena rasa bangga dan demi penghormatan, penerimaan derma, dan sanjungan
  • Berderma dengan harapan suatu imbalan / pahala, atau dengan keinginan mendapatkan pahala, atau berderma dengan terpaksa.
  • Memelihara pemahaman yang membuat seseorang melihat setiap badan berbeda derajat, dengan jiwa yang berbeda derajat pula.

  • Melakukan tindakan-tindakan yang memerlukan usaha keras demi kepuasan nafsu, dan terjerat di dalamnya.
  • Melakukan kewajiban karena ikatan untuk bekerja dan terpikat oleh hasil pekerjaan itu, menginginkan untuk dapat menikmati hasilnya, sehingga menjadi rakus, selalu iri hati, curang dan digerakkan oleh suka dan duka.
  • Bertekad keras untuk menginginkan pahala dalam melaksanakan ritual-ritual keagamaan untuk kemajuan ekonomi dan kepuasan inderawi.
  • Menikmati kesenangan yang diperoleh dari hasil kontak dengan indera-indera bersama obyek-obyeknya, yang seolah nikmat pada awalnya padahal racun kemudian.
Dikutip dari Buku Sri Krsna Ayat-Ayat Suci Bhagawad-Gita oleh Sri Srimad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada. (RANBB)

Kamis, 07 Mei 2015

Hindu Kupang Nusa Tenggara Timur



Senin, 04 Mei 2015

Pura Agung Jagat Natha Kalimantan Selatan

Suasana sakral terpancar saat peninjuan dan peresmian Pura Agung Jagat Natha, tempat ibadah umat Hindu Kalsel, di kawasan Jalan Gatot Subroto Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Sabtu (2/5/2015) petang.



Upacara Agnihotra atau upacara persembahan atau pemujaan dengan media penyalaan api membuat suasana sakral. Sejumlah pejabat Kalsel, menyaksikan langsung upacara tersebut, seperti Gubernur Kalsel H Rudi Arifin, Danrem 101 Antasari, Wakil Ketua DPRD Provinsi Bali I Gusti Alit Putra, Kepala Kanwil Kemenag Kalsel HM Tamrin, Pemimpin Umum Banjarmasin Post Group H (P) Rusdi Effendi AR, Pemimpin Redaksi Yusran Pare, Ketua FKUB Kalsel HM Fadhly Mansur, Sekretaris FKUB Kota Banjarmain H Irhamsyah Safari, Wakil Wali Kota Banjarmasin Iwan Ansyari dan ratusan umat Hindu dari Kalsel.

Suasana seperti di Bali juga terasa kuat di peresmian Pura Agung Jagat Natha. Ratusan umat Hindu memakai baju safari dan kebaya khas Bali. Saat pembukaan iring-iringan gamelan gong Bali menyambut kedatangan Gubernur Kalsel HM Rudi Arifin. Tamu-tamu yang masuk diberi selendang warna kuning untuk dipakai sebagai simbol akan masuk ke tempat yang suci. Setelah Rudy Ariffin duduk, tamu dihibur oleh tarian penyambutan tamu yakni Tari Panyembrahma oleh sanggar. Ratusan tamu undangan pun tampak terpukau dengan tarian khas Bali tersebut. Lirik mata, senyum, keceriaan dari setiap penari yang membawakan tarian ini membuat mata tamau seakan tak berkedip. Tarian Panyembrahma tampak sangat seirama dengan musik, atau gamelan, hentakan kaki, gemulai tangan, kelembutan jari jemari, gerakan tubuh serta goyangan pinggul dari para penari.

HM Rudy Ariffin, dalam sambutannya menyatakan, keberadaan Pura Agung Jagat Natha menunjukkan adanya kebersaman yang selalu dijunjung antara umat beragama di Kalsel. Menurut Rudy, satu bulan lalu dirinya meresmikan kantor Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Banjarmasin. Umat GKI di Kalsel paling minim, justru yang besar itu di Kalbar, Kalteng dan Kaltim. "Namun malah kantor pusatnya di Banjarmasin. Ini membuat saya terharu," ucap Rudi. 

Dijelaskan Rudi, selama dua periode memimpin Kalsel atau hampir 10 tahun, alhamdulillah belum pernah ada konflik etnis atau agama di provinsi ini. Ini menunjukkan toleransi antara umat beragama di Kalsel sangat tinggi. Dijelaskan Rudy, filosofi pemerintah adalah tidak memihak mayoritas atau minoritas. Namun pemerintah itu berdiri di tengah-tengah semua agama dan memberikan rasa aman, ketenangan dan pengayoman. "Mari semua umat beragama di Kalsel bersatupadu untuk membangun Kalsel tercinta ini," pinta Rudy. Sumber berita : http://bali.tribunnews.com

Kamis, 30 April 2015

Upakara Yadnya; Ajaran Hindu Bersifat Fleksibel

UPAKARA YADNYA HINDU
upakara bali
Upakara Yadnya
Mengenai Upakara Yadnya atau Banten ini sudah ada sorotan tajam dipertanyakan dari segi eksistensinya maupun faktor ekonominya, apakah masih relevan pada masa kehidupan sekarang ini?. Apakah tidak bisa disederhanakan karena banyak menyita waktu, tenaga dan dana ?

Dulu, para pendahulu kita dalam mengamalkan Ajaran Kitab Suci Weda memilih Upakara Yadnya atau Banten sebagai perwujudan konkrit rasa bakti itu kepada Sang Hyang Widhi. Jadi tidak heran jika dalam kehidupan kita sehari-hari diliput oleh Upakara Yadnya ini. Karena setiap Yadnya pasti ada Upacara dan setiap Upacara pasti ada Upakara Yadnya atau Banten ini. Jadi kita rupanya tidak hanya cukup hanya memuja dan memohon kepada SangHyang Widhi pada saat Puja Wali tetapi juga harus menunjukkan prilaku atau bukti tanda bakti kepada-Nya sesuai petunjuk Sastra. 

Baca Juga Apakah Hindu Tak Bisa Tanpa Ritual Banten ?



Sebenarnya Ajaran Hindu bersifat fleksibel dan elastis dalam arti ajarannya dapat dilaksanakan menurut Desa (tempat), Kala (waktu) dan Patra (keadaan). Landasannya adalah Catur Dresta yaitu Purwa Dresta (norma-norma terdahulu yang baik), Desa Dresta (uger-uger yang dibuat oleh Desa Pakraman), Loka Dresta (undang-undang atau peraturan yang dibuat oleh Pemerintah) dan Sastra Dresta yaitu ketentuan-ketentuan berdasarkan Pustaka-Pustaka yang ada atau Kitab Suci Weda. Begitu juga wujud Upakara Yadnya dari segi materi Bantennya, bisa kecil (kanistama), sedang (madyama) dan besar (uttama). Walaupun demikian masih perlu adanya Pedoman pelaksanaan mengenai Upakara Yadnya atau Banten ini menyangkut Puja Wali untuk dijadikan pegangan bersama. Hal ini perlu untuk menghindari terjadinya friksi atau perbedaan-perbedaan yang mendasar.

Tantangan dan tuntutan yang dihadapi oleh Agama Hindu tepatnya Umat Hindu bukannya dari eksternal saja tetapi juga dari dalam diri sendiri atau internal yaitu para Cendekiawan Hindu. Ada kelompok yang menghendaki agar Agama Hindu dikembalikan kepada kemurnian ajaran Kitab Suci Weda seperti halnya di India. Ada kelompok yang cendrung berpikiran rasional pragmatis dengan menggunakan pertimbangan-pertimbangan ekonomis dalam mengaplikasikan nilai-nilai Ajaran Hindu kedalam aktivitas hidup sehari-hari. Ada juga kelompok yang berpikiran tradisional yang berpegangan kepada tradisi-tradisi warisan Leluhur dengan mengikuti praktek-praktek keagamaan yang sudah ada di Bali.

Menapak kedepan menghadapi perkembangan jaman dan tantangan serta tuntutan kehidupan yang semakin sulit dan semakin majunya IPTEK dan semakin meningkatnya daya pikir atau nalar Umat Hindu membuat mereka lebih mengembangkan pemikiran rasional filosofis dimana ini mau tidak mau nantinya akan secara pelan-pelan mendesak dogmatisme.

Jadi Upakara Yadnya atau Banten ini karena menjadi ciri khas suatu Yadnya yang mempunyai nilai magis dan daya cipta spiritual yang tinggi maka Upakara Yadnya atau Banten ini tetap harus ada dan bisa disederhanakan dengan cara mengambil tingkat sederhana (Kanistama) sesuai ketentuan Sastra Agama.



Hal ini sesuai dengan himbauan dari Danghyang Dwijendra atau Bhatara Sakti Wau Rawuh yang diunggah dalam Pustaka Eka Dasa Rudra dimana beliau mengatakan : "Bahwa jaman akan berubah maka perlu ada perubahan atau pembaharuan dalam ritual agama. Perubahan dan pembaharuan ini bukannya merusak agama dan ajarannya tetapi justru untuk menyelaraskan cara berpikir agama dengan budaya manusia yang sedang berkembang. ". Ini dilakukan agar Sradha atau keimanan Hindu tidak kandas dalam perjalanan sejarah. Yang penting menurut beliau dalam perubahan dan pembaharuan itu nilai dan Sradha atau keimanan Hindu tidak berubah. Dikutip dari makalah Ida Pedanda Nabe Gde Putra Sidemen. (RANBB)

Kamis, 09 April 2015

Pemahaman Tuhan Tingkat Nirguna Brahman

Warih Sire Agra Manikan Aum, rahajeng sanje semeton Pemahaman Tuhan pada tingkat Nirguna Brahman. Pada tingkat pemahaman Nirguna Brahman, Tuhan disebut sebagai PARAMASIWA. 

Dalam kitab suci Weda, Tuhan pada tingkat ini mempunyai definisi sebagai berikut: 
  1. Apramaya, yaitu kemahakuasaan yang sulit dibayangkan melalui panca indra karena beliau sangat halus dan sempurna. 
  2. Ananta, yaitu kemahakuasaan dilukiskan tiada terbatas, beliau ada di mana-mana, dan beliau mampu merubah segala sesuatu yang diingini olehNya. 
  3. Aupamya, yaitu kemahakuasaan Hyang Widhi yang sangat sulit mencari bandingannya. Karena semua makhluk yang ada di alam semesta tidak ada menyamai kemahakuasaan-Nya. 
  4. Anamaya, yaitu yang Maha Suci. Beliau sangat mulia, tidak pernah menderita suatu penyakit. 
  5. Maha Suksme, yaitu Maha Gaib yang sangat halus. 
  6. Sarwagata, yaitu Maha ada, Maha Besar meliputi seluruh jagad raya. 
  7. Dhruwa, yaitu sangat tenang, tiada bergerak, stabil namun Ia berada di mana mana. 
  8. Awyayam, yaitu Maha sempurna, walaupun Ia mengisi seluruh alam raya semesta, kesempurnaan beliau tiada berkurang. 
  9. Iswara, yaitu Raja alam semesta. Ia mengatur alam raya semesta, dan tiada satupun kekuatan yang mampu mengatur beliau. 
  10. Swayambhu, yaitu Absolut dalam segala-galanya, tidak dilahirkan karena Beliau ada dengan sendirinya.

Oleh-oleh melali jumah Pekak Google. Suksma Kak. Warih Sire Agra Manikan Aum, pada tingkat Nirguna Brahman, Tuhan tidak mempunyai wujud lagi dan juga tidak mempunyai sebutan seperti: Leluhur, Bhatara/i, Dewa/i, Widyadara/i dll. 

Juga Tuhan tidak dapat disimbulkan/dipersonifikasikan dengan Bangunan Suci, Arca, Pretima, prelingga, busana2, Banten dan segala bentuk persembahan2. Tuhan yang biasa disimbulkan/diwujudkan/dipersonifikasikan adalah pemujaan Tuhan pada tahap pemahaman Tuhan pada tingkat SAGUNA BRAHMAN

Rahayu... 
sumber : http://sangkulputih.blogspot.com

Kamis, 05 Maret 2015

Ego Dan Keinginan

Ego dan Keinginan. 
Para pencari Kebenaran harus selalu ingat sifat yang terpisah dari Sang Diri dan melepaskan semua identifikasi dengan ego. Egolah yang berulang kali membawa Sang Diri ke dunia ketidak-tahuan. Ego-lah yang memperburuk keinginan. Ketika keinginan meningkat, aktivitas juga meningkat. Dan bila da peningkatan aktivitas ada peningkatan dari keinginan. Dengan demikian keinginan dan aktivitas bergerak dalam lingkaran setan dan memenjarakan manusia dalam badan untuk selamanya, tak pernah berakhir.
Penghancuran keinginan telah digambarkan sebagai pembebasan, dan membebaskan manusia dari keinginan disebut jivanmukti, saat menusia dibebaskan dalam hidup.

 

Bahkan setelah Kebenaran diketahui, tetap sering ada gagasan yang kuat, tanpa awal dan keras kepala bahwa kita adalah pelaku tindakan dan penikmat hasil-hasilnya. Gagasan ini secara hati-hati harus dihapus dengan hidup terus-menerus dalam persatuan dengan Atman. Hanya dengan demikian kita mungkin mengalami kebahagiaan pembebasan meskipun hidup dalam badan.


Pencari tidak boleh lengah dalam ketabahan untuk pencarian pengetahuan diri. Kelengahan adalah kematian. Kelengahan, delusi, egoisme, perbudakan, dan penderitaan adalah tautan beruntun dalam rantai kehidupan duniawi. Jika pikiran sedikit menyimpang dari Atman dan bergerak kedunia luar, ia akan terus merosot, seperti bola liar turun dari atas tangga memantul selangkah demi selangkah dan tidak berhenti hingga mencapai bagian terbawah.

Kebenaran Atman sangat halus dan tidak dapat dicapai oleh pikiran yang terganggu. Ia diwujudkan hanya dengan jiwa mulia dari pikiran murni, dan bahkan itupun hanya melalui konsentrasi yang luar biasa. Sumber buku Atmabodha 'Pengetahuan Diri Untuk Kedamaian Tertinggi' Sankaracharya. (RANBB)

Jumat, 20 Februari 2015

Landasan Sastra Upacara Potong Gigi

Landasan Sastra yang menjadi Dasar Upacara Potong Gigi, adalah Pustaka Dharma Kahuripan, Pustaka Siwa Eka Samapta Pratama, Pustaka Puja Kala Pati dan Pustaka Puja Kalib. 


Pustaka Dharma Kahuripan
Pustaka Dharma Kahuripan memuat tentang Manusa Yadnya dari segi upacara dan upakaranya baik tingkat kecil (Kanistama), sedang (Madhyama) maupun besar (Utama). Juga ada penjelasan tentang Upacara Potong Gigi yang disebut Atatah. Baca tentang Mepandes, Potong Gigi, Metatah, Mesangih

Pustaka Siwa Eka Samapta Pratama
Pustaka Siwa Eka Samapta Pratama ini memuat tentang Manusa Yadnya dari segi Upacara dan Upakaranya sama seperti Pustaka Dharma Kahuripan tetapi agak ringkas dan menyebut juga Upacara Potong Gigi dengan Atatah

Pustaka Puja Kala Pati
Pustaka Puja Kali Pati ini menjelaskan tentang Upacara Potong Gigi mengenai tata cara juga pengertian filsafatnya. Dalam pustaka Puja Kala Pati ini ada petunjuk dari Bhatara Siwa kepada manusia kenapa harus melaksanakan Upacara Potong Gigi. Karena jika tidak melakukan maka mereka nanti setelah meninggal dunia maka arwahnya tidak akan bertemu dengan orang tuanya atau leluhurnya di alam Paratra atau Sorga. Baca tentang Dharmaning Yayah Rama Rena ring Putra

Pustaka Puja Kalib
Pustaka Puja Kalib memuat tentang Puja Astawa yang dipergunakan oleh para Sulinggih dalam memimpin Upacara Potong Gigi.

Sumber makalah Upacara Potong Gigi oleh Narasumber : Ida Pedanda Nabe Gde Putra Sidemen (RANBB)

Rabu, 11 Februari 2015

KUSUMADEWA

KUSUMADEWA LONTAR

Lontar Kusumadewa ini memaparkan tentang gegelaran pamangku yang meliputi kegiatan pamangku dalam urutan penyelesaian upacara di pura bersama dengan saa yang mengiringi. Urutan-urutan kegiatan itu ialah menyapu, membersihkan coblong, menggelar tikar, memetik daun, memasang caniga, membersihkan dan mengisi jun air. 



Menempatkan dupa di halaman palinggih, mempersembahkan dupa, mempersembahkan prayascita pada semua pelinggih, menyelesaikan segala sesuatu perlengkapan penyucian. Setelah urutan-urutan persiapan itu selesai, maka pamangku mohon perkenan Bhatara Siwa sudi hadir secara seksama pada diri pamangku itu. Baca Tugas Manggala Upacara

Pamangku mengucapkan saa pujian, mohon agar para Dewa/Bhatara menganugrahkan berkah, terhindar dari semua penderitaan. Dalam saa pujian itu terdapat mantra dewa-dewa dalam pengider-ider yang sesungguhnya semua dewa-dewa itu adalah ada Guru Dewa atau Bhatara Siwa

Kemudian Pamangku mempersembahkan semua banten piodalan, mulai dari Sanggar Agung, lanjut ke Padmasana, semua pelinggih, dan panggungan. 


Bagian akhir dari rangkaian upacara ini adalah persembahan kepada Bhatari Durga, Kala, Bhuta berupa bebangkit dan gelar sanga. Sebagai siddha ning don, tercapainya tujuan, pamangku mempersembahkan peras, dilanjutkan dengan masegeh agung, nglukar dan terakhir dengan matirtha.
Sumber : http://baliculturegov.com/2009-10-06-09-01-33/konsep-konsep-budaya.html

Senin, 09 Februari 2015

Lontar Dewa Tatwa

DEWA TATTWA 


Adapun materi pokok yang diajarkan dalam Lontar Dewa Tatwa ini adalah uraian tentang tata upacara mendirikan bangunan suci, arca, dan juga bermacam pedagingan bangunan suci dengan segala upakaranya. 

Dalam membangun tempat suci, seperti Meru, Gedong, Prasada, Padmasana, Ibu, semuanya hendak dilengkapi dengan Padagingan Nista, Madya, Utama. 

Tentang proses pembangunan tempat suci sepatutnya terlebih dahulu disucikan dengan upakara Prayascita, Suci, Pajati, Rayunan Putih Kuning, Pangambeyan, Sasayut Durmanggala, Pras, Panyeneng, Rantasan, Daksina, Sesari 500. 



Tentang Kahyangan tempat suci yang terkena musibah (cuntaka) hendaknya disucikan dengan upacara Manyawang, mohon perkenan wara nugraha Sang Hyang widhi dengan rentetan upacara Ngenteg Linggih Bhatara, menghilangkan kekotoran, akhirnya melaksanakan upacara Pasasapuh dengan menghaturkan upacara Guru Piduka, dan lain-lain. 

Selain itu, dalam lontar ini juga diuraikan mengenai Upacara Ngusabha Desa Nini dengan segala upakaranya, tata cara membangun Palinggih Prajapati dan juga upacara di Kuburan, upacara Malabuh Gentuh di laut, Panjegjengan Hyang Narmada, Pancawalikrama, tentang jenis sesayut dan kepada siapa ditujukan, tentang ruwatan Sang Hyang Aghora untuk menghilangkan segala kekotoran dalam tubuh, dll.

Sumber : http://baliculturegov.com/2009-10-06-09-01-33/konsep-konsep-budaya.html

Minggu, 25 Januari 2015

16 ( Enam Belas ) Upacara Manusia

Orang Hindu sudah diupacarai sejak sebelum lahir, ketika masih dalam kandungan. 

Ed. Visvanathan, mencatat 16 (enam belas) upacara, atau samkara, sebagai berikut : 
1. Garbadhana - Upacara untuk menjamin pembentukan janin. 
2. Pumsavana - Upacara untuk melindungi janin dan untuk mendapat anak laki-laki. 
3. Simantonayanan - Upacara dilakukan pada bulan terakhir kehamilan untuk pembentukan mental yang benar pada bayi.
 4. Jatakarna - Upacara kelahiran termasuk persiapan peta astrologi bagi si anak. 
5. Namakarana - Upacara pemberian nama. Upacara ini dilakukan di rumah ketika bayi berusia sebelas aatau empat belas hari. 
6. Nishkramana - Upacara membawa anak ke luar rumah untuk pertama kali. 
7. Annaprasana - Upacara pertama kali memberi makan nasi pada bayi, biasanya dilakukan di pura. 
8. Chudakarana - Upacara potong rambut pertama. 
9. Karnavedha - Upacara pembolongan telinga untuk diberi anting-anting emas. 
10. Vidyarambha - Upacara permulaan anak belajar huruf. 
11. Upanayana - Upacara benang suci dengan mana seorang anak menjadi dwijati, lahir kedua kalinya. Upacara ini dilakukan ketika anak berumur sembilan atau lima belas tahun. 
12. Vedarambha - Upacara permulaan belajar Veda. 
13. Keshenta - Upacara pencukuran rambut pertama (berbeda dengan no 8, dimana rambut hanya dipotong ujungnya) 
14. Samavartana - Upacara pulang setelah selesai belajar Veda. 
15. Viweha - Upacara perkawinan 
16. Anthyesti - Upacara kematian.

Bagaimana dengan di Bali ? ada 13 upacara manusa yadnya, dan lima upacara pitra yadnya, sebagai berikut : 
1. Pagedong-gedongan - Enam bulan setelah kehamilan jadi. 
2. Upacara pada waktu lahir. 
3. Kepus pungsed - Upacara pada waktu putusnya tali puser. 
4. Nglepas Awon - Upacara dua belas hari setelah kelahiran. (Biasanya diikuti dengan nunas bangket untuk menanyakan siapa yang menjelma pada bayi itu) 
5. Tutug Kambuhan - Upacara empat puluh dua hari setelah kelahiran. 
6. Telubulanan - Upacara tiga bulan Bali (105 hari) setelah kelahiran. 
7. Otonan - Upacara enam bulan Bali (210 hari) setelah kelahiran. 
8. Ngempugin - Upacara ketika gigi dewasa mulai tumbuh. 
9. Meketus - Upacara ketika gigi susu terakhir tanggal. 
10. Munggah Daha Teruna atau Rajasewala - Upacara ketika memasuki usia remaja, pada waktu mulai haid pada perempuan dan mimpi basah pada laki-laki. 
11. Mepandes - Upacara potong gigi. 
12. Pawiwahan - Upacara perkawinan (Sebetulnya terdiri dari tiga bagian; mebiakaon, mesakapan, mepejati) 
13. Pawintenan - Pembersihan untuk mulai belajar. 
14. Ngaben 
15. Ngrorasin - Upacara dua belas hari setelah ngaben 
16. Nyekah 
17. Memukur 
18. Maligia

sumber blog : http://rare-angon.blogspot.com

Cari Artikel di Blog ini

Berita Terkait Semangat Hindu

Artikel Agama Hindu

108 Mutiara Veda Agama Hindu Dharma agama islam Ajaran Hindu aris widodo artikel hindu Arya Wedakarna Asta Brata Atharvaveda babad bagian catur weda bahasa jawa kuno bahasa kawi bahasa sanskerta banten hindu bali Belajar Hindu bhagavad gita bhagawan bhuta yadnya Bimas Hindu brahma wisnu siwa brahmana ksatriya wesia sudra budaya bali Catur Brata Catur Purusharta catur veda Catur Warna Catur Weda Cendekiawan Hindu Dana Punia dewa dewi hindu dewa yadnya dharma artha kama moksa Dharma Santi dharma wacana Doa Anak Hindu epos mahabharata ramayana filsafat agama hindu ganesha Hari Raya Galungan Hari Raya Kuningan Hari Raya Nyepi Hari Raya Pagerwesi Hari Raya Saraswati Hindu Agama Terbesar di Dunia Hindu Banten Hindu beribadah di Pura Hindu Festival Hindu Indonesia hindu nusantara Hindu Tengger Hinduism Facts Hinduism the Greatest Religion in the Word Hukum Karma Ida Pedanda sakti isi catur weda kakawin Kamasutra Kerajaan Hindu Kitab Suci Weda lontar Mantra manusa yadnya Meditasi Matahari Terbit menghafal sloka Moksha Motivasi Hindu Mpu Jayaprema nakbalibelog Nuur Tirtha Om or Aum opini hindu moderat Panca Sradha panca yadnya pandita parahyangan agung jagatkartta Pasraman Pasupati Pembagian Kitab Suci Veda Pemuda Hindu Indonesia pendidikan hindu pengertian catur weda Peradah percikan dharma phdi pinandita Pitra Yadnya Ngaben Pitrapuja potong gigi Principle Beliefs of Hinduism Pujawali purana purnama tilem Radio online Bali rare angon nak bali belog Reinkarnasi Rgveda ritual hindu Rsi yadnya sad darsana sad guru Samaveda sanatana dharma Sarassamuscaya Sarassamuscaya Sloka sattvam rajah tamah Sekta Hindu Semangat Hindu Sex and Hinduism siwa budha waesnawa Sloka sloka bhagawad gita sloka Rgveda sloka yayurveda spiritualitas hindu sradha dan bhakti sri rama krishna paramahansa Sri Sathya Sai Baba sumpah dalam perkara tat twam asi tattwa susila upakara Tempat Suci Hindu Tri kaya parisudha upacara hindu Upanisad Utsawa Dharma Gita Vasudhaiva Kutumbakam Vijaya Dashami wija kasawur Yayurveda