OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM

PRAKATA

Selamat Datang

Semangat Hindu merupakan blog bersama umat Hindu untuk berbagi berita Hindu dan cerita singkat. Informasi kegiatan umat Hindu ini akan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan.
Semangat Hindu semangat kita bersama.

Bersama Semangat Hindu kita berbagi berita dan cerita, info kegiatan, bakti sosial dan kepedulian, serta kegiatan keagamaan seperti ; pujawali, Kasadha, Kaharingan, Nyepi, Upacara Tiwah, Ngaben, Vijaya Dhasami dan lain sebagainya.

Marilah Berbagi Berita, Cerita, Informasi, Artikel Singkat. Bagi yang mempunyai Web/Blog, dengan tautan URL maka dapat meningkatkan SEO Web/ blog Anda.

Terima Kasih
Admin

RANBB

---#### Mohon Klik Share untuk mendukung blog ini ####---

Kamis, 07 September 2023

Mengapa Kita Beragama?

Mengapa Kita Beragama?

 

Om Swastiastu;

Om Anobhadrah krtavoyanthu visvatah ; semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru

 

Pinandita Lanang Istri yang sudah disucikan yang saya hormati

Yang saya hormati; Sesepuh dan Penasehat Banjar

Yang saya hormati; Ketua dan Pengurus Banjar Ciledug

Yang saya hormati; ketua dan Pengurus Tempek se Banjar Ciledug

Dan Umat Sedharma yang berbahagia.

 

Pada hari ini saya ……………….. akan membawakan Dharma Wacana yang berjudul Mengapa Kita Beragama?.

 

Pertama-tama saya menghaturkan rasa puja dan puji syukur kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa, Sesuhunan Yang Melinggih di Pura Dharma Sidhi karena atas waranugraha-Nya lah saya dan kita semua dapat hadir dalam persembahyangan ini dalam keadaan sehat walafiat.

 

Bapak-Ibu Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Pada umumnya kita beragama karena mengikuti lingkungan, khususnya lingkungan terdekat yaitu orang tua kita. Sejak kecil kita diajak oleh orang tua kita mengikuti cara-cara agama. Kita diajak sembahyang bersama pada hari raya. Pada usia tertentu kita dibuatkan upacara-upacara agama.

 

 

Ketika kita mulai dewasa kita bertanya. "Mengapa kita beragama?". Jawabannya sebenarnya hampir sama dengan waktu kita sembahyang dimasa kanak-kanak, yaitu agar kita selamat dalam menjalani hidup ini!. Dengan cara bagaimana? Dengan jalan mendekatkan diri kepada Tuhan. Agama memberikan kita pedoman untuk mendekatkan diri kita kepada Yang Suci. 

 

Umat sedharma yang terkasih,

 

Carl Gustav Jung, psikiater terkenal kelahiran Swiss (1875-1967) mengatakan: "Masalah psikologis masa kini adalah masalah kerohanian, masalah agama. Manusia jaman ini haus dan lapar akan hubungan yang kokoh dengan kekuatan-kekuatan psikis yang terdapat dalam dirinya. Kekurangan suatu hubungan yang kokoh dengan hal-hal rohani (Tuhan) membuat manusia tidak mengalami pemekaran, rasa sejahtera dan keamanan di dalam suatu dunia yang tenteram sentosa". *)

 

Mengapa kita beragama Hindu?

 

Kita memeluk agama Hindu karena kita lahir dari orang tua Hindu. Atau karena kita kawin dengan seorang suami atau istri Hindu. Atau karena pilihan yang kita lakukan secara sadar. Tapi mengapa kita memilih agama Hindu?

 

 

 

Apakah Agama Hindu Agama yang Terbaik?

 

Bapak-Ibu Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Pemeluk Hindu tidak pernah menyatakan agamanya sebagai agama yang terbaik. Menyatakan Hindu sebagai "agama terbaik" terkesan sebagai suatu kesombongan. Agama melarang kesombongan.

 

Mari kita ambil contoh. Bila kita mengatakan suami atau istri kita sebagai suami atau istri yang terbaik di dunia, bila ini kita ucapkan ketika kita berdua saja. tidak ada orang lain yang mendengar, ini merupakan tanda cinta atau kasih sayang, sekalipun terasa sedikit berlebih- lebihan. Tapi bila itu kita ucapkan di depan orang lain, dengan sedikit membusungkan dada, maka kita akan dianggap orang yang sombong.

 

Dengan ucapan itu kita juga dianggap merendahkan suami atau istri orang lain. Lalu orang-orang mulai memperhatikan kita. Mencari-cari kehebatan kita. Tapi ternyata kemudian yang banyak ditemukan adalah kekurangan-kekurangan kita. Dan kemudian mereka berkomentar, "oh, itu toh suami yang terhebat di dunia". Atau "oh itu toh istri yang terbaik di dnuia. Hanya seperti itu?".

 

Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Demikian pula dengan agama. Bila kita mengatakan agama kita adalah agama yang terbaik, berarti kita juga mengatakan agama lainnya hanya sekerdar "baik" atau "tidak baik". Pemeluk agama lain akan merasa tidak enak atau mungkin tersinggung. Lalu mereka akan melihat kepada kita. Dan segera mereka menemukan, "Oh, disana juga banyak kejahatan, kemiskinan dan penderitaan, korupsi, ".

 

Apa gunanya agama yang baik bila ia tidak mampu membuat para pemeluknya menjadi baik?. Atau apakah agama dapat dikatakan sebagai agama terbaik bila ia tidak mampu membuat para pemeluknya menjadi umat yang terbaik?.

 

 

Apakah Semua Agama itu sama saja?

 

Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Agama-agama memiliki persamaan dan perbedaan! Agama-agama pada dasarnya memiliki fungsi yang sama. Agama-agama memberikan kita jalan untuk berhubungan dengan Hyang Suci (Tuhan), untuk berhubungan dengan diri kita sendiri (spiritualitas) dan untuk berhubungan dengan lingkungan, mahluk hidup dan alam sekitar kita (etika atau moral). Agama-agama juga mewajibkan kita untuk menghormati hidup, hidup kita sendiri dan hidup orang lain.

 

Tapi bagaimana hubungan itu dilakukan, bagaimana kewajiban kita dilaksanakan, masing-masing agama memiliki cara serta aturannya sendiri. Tiap-tiap agama memiliki kitab sucinya sendiri, ajaran-ajarannya sendiri, ibadahnya sendiri, tokoh-tokohnya dan sejarahnya sendiri.

 

Bahkan pandangan mereka masing-masing tentang Tuhan juga berbeda. Inilah sebabnya mengapa ada agama Hindu, agama Budha, agama Shinto, agama Khong Hu cu, agama Tao, agama Islam, agama Kristen dan agama Yahudi.

Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Pada umumnya agama Hindu atau orang-orang Hindu karena sikapnya yang sangat toleran, lebih suka menekankan persamaan-persamaan agama. Namun ini akan membawa kita pada satu kesalahan lain, yaitu mengabaikan aspek-aspek khusus dari masing-masing agama yang mencari ciri khas dan identitas dari masing-masing agama tersebut.

 

Bapak-Ibu Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Mari kita ambil contoh. Agama-agama tertentu percaya pada takdir dimana nasib manusia sepenuhnya telah ditentukan oleh Tuhan. Agama Hindu percaya pada Hukum Karma dimana nasib manusia ditentukan oleh manusia itu sendiri.

 

Ada agama yang percaya bahwa manusia hanya hidup sekali, setelah mati, menunggu hari kiamat. Pada saat itu manusia dibangkitkan kembali untuk diadili. Agama Hindu percaya pada reinkarnasi, dimana manusia lahir kembali, diberikan kesempatan untuk menyempurnakan dirinya.

 

Perbedaan antar agama adalah suatu fakta yang harus diketahui. Agar kita tidak mencampur adukkan agama. Ibarat orang bertetangga, pagar yang baik atau tanda batas yang tegas justru akan mencegah tetangga itu bertengkar karena memperebutkan pekarangan. Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tapi untuk saling memperkaya wawasan.

 

Umat Sedharma yang berbahagia;

 

 

Bagimana dengan Penggolongan Agama?

 

Ada orang yang menggolongkan agama menjadi agama langit dan agama bumi. Ada yang menggolongkannya menjadi agama hukum dan agama pembebasan. Ada penggolongan agama berdasarkan wilayah asal kelahiran agama-agama tersebut. 

 

Kecuali penggolongan yang terakhir, dua penggolongan sebelumnya bersifat sangat subyektif. Setiap pemeluk agama dapat membuat penggolongan berdasarkan ukuran-ukuran yang ditetapkannya sendiri dengan maksud menempatkan agamanya sendiri dengan maksud menempatkan agamanya pada kedudukan yang paling tinggi.

 

Ambil contoh penggolongan agama langit dan agama bumi. Agama langit (samawi) katanya agama yang dibentuk berdasarkan wahyu Tuhan. Agama bumi atau agama alamiyah katanya agama yang berdasar renungan manusia atau kasarnya agama buatan manusia.

 

Siapa saja dapat mengatakan bahwa agamanya agama wahyu sedangkan agama orang lain adalah agama buatan manusia. Kalau kita mengatakan kitab suci orang lain hanya buatan manusia belaka, mereka juga dapat mengatakan hal yang sama terhadap kitab suci kita.

 

Bapak-Ibu Umat Sedharma yang berbahagia;

 

 

Seperti dikatakan oleh seorang ahli sosiologi agama yang terkenal, Peter Berger, wahyu memang tidak dapat dibuktikan. Kebenaran wahyu hanya didasarkan oleh keyakinan semata. Karena wahyu itu keluar melalui mulut seseorang maharesi atau nabi. Siapa yang tahu apakah kata-kata Tuhan itu masuk melalui telinga atau otaknya? Dan apakah bedanya?.

Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Apakah Sifat Utama Agama Hindu?

 

Agama Hindu bukanlah agama dogmatik. Agama Hindu adalah agama yang terbuka, artinya keyakinan-keyakinan Hindu dapat ditafsirkan sesuai dengan semangat jaman. Agama-agama yang dogmatik sangat menekankan kepada "iman" yang bersifat dogma, yang harus percayai begitu saja, sekalipun tidak dapat dipahami dengan akal.

 

Penganut agama-agama ini biasanya mengatakan "Percayalah, atau masuklah agama saya, maka kamu akan selamat". Agama Hindu, adalah agama yang menekankan pada amal, perbuatan- perbuatan yang baik dan benar maka kamu akan selamat".

 

Apakah akibat Sifat-sifat itu Bagi Kehidupan Nyata Manusia?

 

Agama-agama dogmatik bisa membuat manusia memisahkan antara ibadah dengan perbuatan. Cukup dengan percaya saja, atau cukup dengan melakukan ibadat secara taat, mereka merasa sudah selamat (masuk surga). Atau ibadat dianggapnya sebagai "imbangan" dari perbuatannya. Dosa-dosa dalam kehidupan nyata seolah-olah ditebus oleh ibadat.

 

Agama Hindu menyatakan keyakinan dengan perbuatan, iman dan amal. Keyakinan dan ibadah itu harus tercermin dalam tingkah laku sehari-hari. Orang yang beragama dituntut untuk bertingkah laku pantas di masyarakat. Sering kita dengar ucapan "tak ada artinya ibadat, kalau tingkah lakunya tidak benar!". 

 

Bapak-Ibu Umat Sedharma yang berbahagia;

 

 

Agama-agama dogmatik cenderung menimbulkan fanatisme buta. Penganut agama ini biasanya berpendapat hanya agamanya sendiri yang benar. Agama orang lain salah. Agama Hindu, karena menekankan pada amal, bersifat sangat toleran. Pemeluk Hindu tidak pernah merasa lebih suci dari pemeluk agama lain.

 

Pemeluk Hindu tidak merasa paling benar sendiri, apalagi mengkafirkan pemeluk agama lain.

 

Sri Swami Sivananda, mengatakan "keramah-tamahan yang tulus dari agama Hindu sangat terkenal. Agama Hindu memberi perhatian terhadap semua agama. Agama Hindu tidak pernah mencela atau mencaci maki agama lain.

 

Agama Hindu menghormati kebenaran dari manapun datangnya. Inilah salah satu alasan mengapa kita memeluk agama Hindu. Alasan-alasan lain akan kita jumpai dalam pembicaraan- pembicaraan selanjutnya.

 

 

 

Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Harapan saya dari apa yang telah  saya sampaikan dapat bermanfaat bagi kita semua, Jika ada kekurangan dalam penyampaian dharma wacana ini saya mohon maaf. Karena tidak ada manusia yang sempurna, tiada gading yang tak retak. Akhir kata saya tutup dengan paramasantih.

Om Santih, Santih, Santih Om...

 

Selasa, 01 Agustus 2023

Spiritual Bersifat Misterius

 Spiritual Bersifat Misterius, Bukan Heroisme

 Naskah Dharma Wacana 

Om Swastiastu;

Om Anobhadrah krtavoyanthu visvatah ; semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru

 

Pinandita Lanang Istri yang sudah disucikan yang saya hormati

Yang saya hormati; Sesepuh dan Penasehat Banjar

Yang saya hormati; Ketua dan Pengurus Banjar Ciledug

Yang saya hormati; ketua dan Pengurus Tempek se Banjar Ciledug

Dan Umat Sedharma yang berbahagia.

 

Pada hari ini saya ……………….. akan membawakan Dharma Wacana yang berjudul Spiritual Bersifat Misterius, Bukan Heroisme dikutip dari Swami Krishnananda.

 

Sebelumnya saya juga menghaturkan rasa puja dan puji syukur kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa, Sesuhunan Yang Melinggih di Pura Dharma Sidhi karena atas waranugraha-Nya lah saya dan kita semua dapat hadir dalam persembahyangan ini dalam keadaan sehat walafiat.

 


Bapak-Ibu Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Kehidupan manusia dilanda oleh rintangan. Kita menghadapi tantangan dan kesulitan secara terus menerus. Oleh karena itu seluruh aktifitas kita sehari-hari digambarkan sebagai usaha melawan rintangan yang datang dalam berbagai bentuk penderitaan hidup.

 

Saat terbangun di pagi hari kita dihadapkan dengan rasa lapar dan kemudian kita berjuang untuk meniadakan rintangan itu dengan memasak dan makan makanan.

 

Demikian juga rintangan haus kita hadapi dengan minum air. Selanjutnya berbagai hambatan berupa penyakit, kelelahan, sulit tidur dan sejenisnya kita berusaha dapai dengan penggunaan berbagai jenis obat.

 

Kenyataan hidup ini dan demikian juga dengan orang-orang di sekitar kita seolah-olah berada dalam perang yang hebat.

 

Kehidupan ini adalah bundel dari kesulitan. Jika seluruh bumi penuh dengan susu dan madu, dan jika tidak ada kelelahan, tidak ada usia tua dan kematian, tidak ada rasa haus dan lapar, maka tidak aka nada aktivitas, tidak ada keharusan untuk melakukan sesuatu dan tidak ada insentif gerakan apapun.

 

Oleh karena itu ada sedikit harapan bagi manusia untuk berhasil di dunia ini, karena tidak mungkin kita menyelamatkan orang tenggelam di laut dengan sendok. Meskipun usaha mengosongkan laut begitu rajin dan ulet dengan menggunakan sendok, tetapi usaha yang terpuji itu tidak akan membawa sukses.

 

Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Laut tidak dapat dikosongkan dengan sendok, sebagaimana halnya dunia tempat kita hidup tidak mungkin mendapatkan kesuksesan kecuali  ada anugerah ajaib dari Tuhan. Upaya kita untuk bertahan hidup dan bergerak maju dapat diibaratkan seperti rengekan anak kecil.

 

Dan pemujaan pada  Sang Penghalau Hambatan (Vighna Vinayaka) yang dikenal sebagai Vinayaka caturthi atau Ganesa Chatirthi adalah saat mana kita memanjatkan doa untuk menghilangkan hambatan.

 

Kita semua takut akan hambatan. Tidak ada rasa takut lain di dunia ini selain hambatan. Jadi, kita selalu menangis berharap untuk lepas dari hambatan, membersihkan jalan. Sekitar bulan Agustus-September, Tuhan Ganapati    dipuja oleh umat Hindu untuk memohon hambatan disimngkirkan.

 

Dalam Rg Weda, yaitu yang paling awal dari kitab suci disebutkan, “Gananam tva ganapatim havamahe…” Takut akan Tuhan seharusnya menjadi awal dari agama.

 

Seseorang yang tidak memiliki rasa takut pada Tuhan juga tidak memiliki agama, karena agama adalah menghormati Tuhan. Dimana ada kekuasaan, maka kita akan takut pada hal itu.

 

Samudera, singa, gajah adalah segala sesuatu yang kuat, dan kita takut bila melihat mereka. Tradisi pemujaan ganapati sebagai penghalau hambatan, sebagai anak Tuhan Siwa, dengan belalai gajah dan perut menonjol, dengan senjata dari berbagai jenis dengan sikap tangan kananya memberi berkah.

 

Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Tuhan Siwa merupakan bentuk penunjukan kemuliaan Bhagawan. Bhagawan salah satu yang memiliki enam karakteristik: “Aiswaryasya samagrasya viryasa yasasah sriyah; jnana-vairagyayoh chaiva shannam bhaga itirana.”  Enam karakteristik ini semua dipanggil bhaga. Salah satu figure yang memiliki bhaga disebut Bhagawan.

 

Semua kemakmuran, semua kekayaan, semua harta, segala kemuliaan, semua kemegahan adalah aiswarya. Virya adalah energi yang luar biasa, kekuatan dan kekuasaan. Yasas adalah ketenaran dan terkenal. Srih  kemakmuran. Jnana dan vairagya adalah puncak dari kebijaksanaan dan puncak penolakan masing-masing. Pengetahuan seharusnya menjadi berkah dari Tuhan Siwa sendiri.

 

Dalam Srimad Bhagavata Mahapurana, pada saat dimulainya  skhanda kedua, Sri Suka melukiskan nama-nama berbagai dewa yang harus dipuja untuk berbagai keperluan. “Jnanam mahesvaradicchet”: semua pengetahuan yang diharapkan dari Siwa Yang Agung.

 

Mereka mengatakan bahwa lautan Siwa tidak bisa dimengerti; bagian dari itu terkandung dalam  panci dengan Brihaspati, dan sendok itu diambil oleh Panini yang merupakan penyusun bahasa Sanskerta.

 

Dikisahkan bahwa masa itu Panini adalah yang paling bodoh dan sering menerima olok-olok dari siswa lainnya.  Dia sangat terluka dan sedih oleh keadaan itu kemudian dia lari ke hutan berdoa secara mendalam kepada Siwa.

 

Ia berdoa, “Ya Tuhan Siwa anugerahilah aku dengan pengetahuan.” Lalu disebutkan Tuhan Siwa muncul  di hadapannya sambil menari dan memutar Dakka atau Damaru (gendang)Nya sebanyak empat belas kali.

 

Dan karenanya Panini jadi memiliki pengetahuan Sanskerta. Ini bukti Tuhan dapat mengajari manusia tanpa buku, tanpa instruksi, pikiran, suara, penglihatan, atau sikap bijak lainnya.    Anak dari Guru yang hebat itu (Tuhan Siwa) adalah Sri Ganapati, Sri Ganesa.

 

Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Apa yang disebutkan dalam Purana adalah alegori untuk menegaskan bahwa sadhana spiritual adalah misteri tersendiri dan bukan kegiatan yang heroik dari sadhaka. Tidak ada  kepahlawanan bekerja dalam praktik sadhana itu.

 

Sebenarnya diibaratkan seperti anak  kecil atau bayi yang berjalan yang bukan atas kekuatannya, melainkan karena ada tangan ibu yang memegangnya. Apapun kecerdasan yang kita miliki,  apapun kepuasan yang  kita nikmati dalam hidup ini, apapun kekuatan yang kita miliki baik fisik maupun psikologis, apapun keamanan yang kita miliki, apapun yang berharga dalam keberadaan kita, semuanya merupakan refleksi yang serba sedikit dari kuasa Tuhan.

 

Penyembahan dengan mantra “Om Gam Ganapataye namah” adalah pengajuan rendah hati dari keadaan sebenarnya dari diri sendiri sebelum kekuatan kemuliaan Tuhan dianugerahkan.

 

Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Ganapati adalah pemimpin tuan rumah  dari Tuhan Siwa. Siwa juga memberikan Ganapati berkat, bahwa ia (Ganapati) akan disempah pertamakali pada setiap kesempatan.

 

Ini adalah tatacara permanen dari Guru Agung: “Tidak ada yang akan disembah sebelum Anda-bahkan Aku baru akan dipuja setelah Anda disembah terlebih dahulu.

 

Jadi, kita tidak akan menyembah Tuhan Siwa atau Tuhan Narayana tanpa terlebih dahulu menyembah Ganapati. “Om Gam Ganapataye Namah” adalah mantra untuk mendamaikan Ganapati.

 

Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Jalan spiritual itu merupakan rahasia besar. Adapun japa kecil yang kita lakukan, kitab suci yang kita baca, dan aktifitas lain di dunia ini hanya kerak luar dari kehidupan yang penuh misteri. Dan pada akhirnya diri kita adalah misteri. Kita tidak tahu siapa yang menuntun kita untuk berpikir seperti itu.

 

Jika kita mengakui misteri dalam diri kita yang  mystifies bahkan kecerdasan  dan usaha kita, maka kita akan menjadi rendah hati, sederhana dan kecil di hadapan Tuhan.

 

Dan sadhana spiritual adalah seni untuk menjadi lebih kecil dan lebih kecil saat ia mendekati Tuhan. Seperti nyala lilin yang bersinar semakin redup dan semakin redup manakala semakin dekat dengan matahari.

 

Begitulah sadhaka bersikap rendah hati, dan semakin rendah hati dan akhirnya tiada bilamana semakin dekat dengan Tuhan, yang mana dalam ketiadaan itu sadhaka menemukan dirinya telah dipenuhi oleh Tuhan.

 

Harapan saya dari apa yang telah  saya sampaikan dapat bermanfaat bagi kita semua.

Jika ada kekurangan dalam penyampaian dharma wacana ini saya mohon maaf. Karena tidak ada manusia yang sempurna, tiada gading yang tak retak. Akhir kata saya tutup dengan paramasantih.

Om Santih, Santih, Santih Om...

 

Jumat, 28 Juli 2023

THE WHOLE WORLD IS ONE SINGLE FAMILY

 THE WHOLE WORLD IS ONE SINGLE FAMILY

Mengenali Diri Sendiri.

Mengapa kita harus mengenali diri kita sendiri ? Sebagai mahluk sosial manusia harus mengenali dirinya sendiri terlebih dahulu sebelum mengenali orang lain.

Memahami diri sendiri berarti memahami orang lain, sehingga kita dapat hidup dalam kelompok, mebanjar dengan penuh pengertian,

 

“Paras-paros sarpanaya segilik-seguluk salunglung sabayantaka (Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing; senasib sepenanggungan)”.

 

Dalam ajaran agama Hindu ada Tat Twam Asi, Engkau adalah aku dan aku adalah engkau.

 

Ada Vasudhaiva kutumbakam

Vasudhaiva Kutumbakam berasal dari bahasa Sansekerta; "seluruh dunia ini adalah satu keluarga tunggal" (THE WHOLE WORLD IS ONE SINGLE FAMILY).

 

Jumat, 07 Juli 2023

Banggalah Menjadi Hindu - Proud To Be Hindu

Banggalah Menjadi Hindu

Om Swastiastu;

Om Anobhadrah krtavoyanthu visvatah ; semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru

 

Pinandita Lanang Istri yang sudah disucikan yang saya hormati

Yang saya hormati; Sesepuh dan Penasehat Banjar

Yang saya hormati; Ketua dan Pengurus Banjar Ciledug

Yang saya hormati; ketua dan Pengurus Tempek se Banjar Ciledug

Dan Umat Sedharma yang berbahagia.

 

Pada hari ini saya ……………….. akan membawakan Dharma Wacana yang berjudul Banggalah Menjadi Hindu

Pertama-tama saya menghaturkan rasa puja dan puji syukur kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa, Sesuhunan Yang Melinggih di Pura Dharma Sidhi karena atas asung kerta waranugraha-Nya lah saya dan kita semua dapat hadir dalam persembahyangan ini dalam keadaan sehat walafiat.

 

Bapak-Ibu Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Menjadi penganut Hindu, kadang-kadang umat merasa minder dengan jumlah yang sedikit atau minoritas. Kondisi ini diperparah dengan minimnya pemahaman pada tatwa agama yang baik, sehingga ketika mereka ditanya tentang agama yang terkadang menyudutkan, kita tidak mampu memberikan penjelasan secara komprehensif.

Umat Sedharma yang berbahagia; kita harus bangga menjadi Hindu, sangat banyak penyebabnya seperti Agama Hindu merupakan agama pertama ada di Dunia, Agama Hindu Agama Tertua, Agama terbesar di Dunia, dan yang lainsebagainya.

 

Saya akan sampaikan 3 hal yang wajib kita ketahui bersama.

 

1.     Hindu Adalah Arya Dharma

Hindu adalah Arya Dharma yang dimaksud adalah bahwa agama Hindu merupakan agama ksatrya pemberani dan bertanggung jawab.

Setiap perbuatannya dipertanggung jawabkan secara individu. Hindu tidak pernah mengajarkan keroyokan, berani berbuat berani bertanggung jawab, karena keyakinan akan Hukum Karmanya.

2.     Hindu Adalah Vaidhika Dharma

Hindu adalah Vaidhika Dharma yang dimaksud adalah bahwa Hindu merupakan 'Wahyu Suci Brahman' yang diterima langsung oleh para Maha Rsi kita melalui bahasa 'Daivivac' atau bahasa Deva.

Hindu juga bersifat 'Apauruseya' yang artinya bukan karya purusa atau manusia. Jadi tidak benar tuduhan yang mengatakan Hindu sebagai agama Budaya, hasil karya cipta manusia.

Veda dan Hindu diturunkan untuk mewujudkan kesejahteraan semesta 'Loka Samgraha', seperti dalam bait mantra Tri Sandya, yaitu : Sarva prani hitankarah, semoga seluruh makhluk sejahtera & bahagia, jadi Hindu tidak berfikir hanya untuk dirinya sendiri, tidak seperti agama tetangga sebelah kita. Sungguh mulia bukan....?

Bapak-Ibu Umat Sedharma yang berbahagia;

 

3.     Hindu Adalah Sanathana Dharma

Hindu adalah Sanathana Dharma yang dimaksud adalah agama Hindu mengusung kebenaran yang absolut, kebenaran yang hakiki, kebenaran yang sejati yaitu Brahman atau Tuhan yg Maha Sempurna, yang bisa dijumpai dengan berbagai cara dan sarana.

Itulah Hindu, yang sangat menghargai perbedaan dan keragaman, yang tidak gampang menyatakan sesat walau tidak sehaluan, yang tidak mudah berkata salah pada sebagian yang tidak sama dalam ritual.

Utk itu melalui Dharma Wacana ini saya mengajak kepada umat Hindu Sedharma mari kita pahami agama kita dengan baik, agar mendapatkan hasil yang baik. Jangan mudah digoyang keyakinan kita, janganlah minder walau kita minoritas.

Banggalah Menjadi Hindu!!!!

 

Bapak-Ibu Umat Sedharma yang berbahagia;

 

Harapan saya dari apa yang telah  saya sampaikan dapat bermanfaat bagi kita semua, Jika ada kekurangan dalam penyampaian dharma wacana ini saya mohon maaf. Karena tidak ada manusia yang sempurna, tiada gading yang tak retak. Akhir kata saya tutup dengan paramasantih.

Om Santih, Santih, Santih Om...

 

CHANNEL YOUTUBE SAYA - MOHON DI SUBSCRIBE

Cari Artikel di Blog ini

Berita Terkait Semangat Hindu

Artikel Agama Hindu

108 Mutiara Veda 3 kerangka agama hindu advaita visistadviata dvaita Agama Hindu Dharma agama islam Ajaran Hindu aksara suci om alien menurut hindu Apa yang dimaksud Cuntaka Apa yang dimaksud dengan Japa Apa yang dimaksud dengan Puja arcanam nyasa aris widodo artikel hindu arya dharma Arya Wedakarna Asta Brata Atharvaveda Atman avatara sloka babad Badan Penyiaran Hindu bagian catur weda bahasa jawa kuno bahasa kawi bahasa sanskerta Banggalah Menjadi Hindu banten hindu bali Belajar Hindu BELAJAR ISTILAH AGAMA HINDU bhagavad gita Bhagawadgita bhagawan bhuta yadnya Bimas Hindu BPH Banten brahma wisnu siwa Brahman Atman Aikyam brahmana ksatriya wesia sudra budaya bali budha kliwon sinta Bukan Heroisme buku hindu terpopuler Canakhya Nitisastra cara sembahyang hindu catur asrama Catur Brata Catur Cuntakantaka Catur Purusha Artha Catur Purusharta catur veda Catur Warna Catur Weda Cendekiawan Hindu Cinta Kasih Dalam Perspektif Hindu Dana Punia Deva adalah sinar suci Brahman Deva Brahma Deva Indera dewa dewi hindu dewa yadnya dewata nawa sanga dewi kata-kata dewi saraswati dharma artha kama moksa Dharma Santi dharma wacana Doa Anak Hindu donasi buku hindu epos mahabharata ramayana filosofi pohon bambu filsafat agama hindu ganesha Gayatri Sebagai Mantra Yoga Hari Raya Galungan Hari Raya Kuningan Hari Raya Nyepi Hari Raya Pagerwesi Hari Raya Saraswati Hari Raya Siwaratri HINDU adalah ARYA DHARMA HINDU ADALAH SANATHANA DHARMA HINDU ADALAH VAIDHIKA DHARMA Hindu Agama Terbesar di Dunia Hindu Banten Hindu beribadah di Pura Hindu Festival Hindu Indonesia hindu nusantara Hindu Tengger Hinduism Facts Hinduism the Greatest Religion in the Word Hukum Karma Ida Pedanda sakti isi catur weda Jadilah Manusia Setia Japa dan Mantram Jiwa jual buku hindu kakawin Kamasutra Keagungan Aksara Suci OM Kekawin Lubdhaka kepemimpinan jawa kuna Kerajaan Hindu Keruntuhan Agama Hindu kesadaran diri kidung dewa yadnya Kitab Suci Weda lontar Lontar Kala Maya Tattwa Maharsi Atri Maharsi Bharadvaja Maharsi Gritsamada Maharsi Kanva Maharsi Vamadeva Maharsi Vasistha Maharsi Visvamitra manawa dharma sastra Mantra Mantra Yoga manusa yadnya Meditasi Matahari Terbit Mengapa Kita Beragama menghafal sloka Mimbar Agama Hindu Moksha Motivasi Hindu Mpu Jayaprema nakbalibelog Naskah Dialog Nuur Tirtha Om or Aum one single family opini hindu moderat Panca Sradha panca yadnya Panca Yajna pandita Panglong 14 Tilem Kepitu parahyangan agung jagatkartta paras paros segilik seguluk Pasraman Pasupati Pembagian Kitab Suci Veda Pemuda Hindu Indonesia pendidikan hindu pengertian catur weda Pengertian Cuntaka penyuluh agama hindu Peradah percikan dharma Percikan Dharma Dewa Yajna phdi pinandita Pitra Yadnya Ngaben Pitrapuja potong gigi Principle Beliefs of Hinduism Proud To Be Hindu Puja dan Prathana Pujawali purana purnama tilem Purwaning Tilem Kapitu Radio online Bali rare angon nak bali belog Reinkarnasi Rgveda ritual hindu Roh Rsi yadnya sabuh mas sad darsana sad guru Samaveda sanatana dharma sang hyang pramesti guru Sang Kala Amangkurat Sang Kala Dungulan Sang Kala Galungan Sang Kala Tiga sapta rsi Sapta Timira Sarassamuscaya Sarassamuscaya Sloka sattvam rajah tamah sejarah agama hindu Sekta Hindu Semangat Hindu seni budaya hindu Sex and Hinduism siwa budha waesnawa siwa ratri Sloka sloka bhagawad gita sloka bhatara sloka Rgveda sloka yayurveda Slokantara Sloka Spiritual Bersifat Misterius spiritualitas hindu spma ribek sradha dan bhakti sri rama krishna paramahansa Sri Sathya Sai Baba Sri Svami Sivananda sumpah dalam perkara tabuh gesuri tabuh kreasi baru tabuh telu lelambatan tantri kamandaka tat twam asi tattwa susila upakara Tempat Suci Hindu tiga hubungan harmonis tri hita karana Tri kaya parisudha tri kerangka agama hindu tri mala tri pramana Triji Ratna Permata tujuan perkawinan tujuh penerima wahyu tumimbal lahir upacara hindu upacara menek deha Upanisad upaweda Utsawa Dharma Gita vaidhika dharma Vasudhaiva Kutumbakam VEDA ADALAH ILMU PENGETAHUAN SUCI vedangga Vijaya Dashami Wasudewa Kutumbhakam widhi tatwa wija kasawur wiwaha agama hindu Yajna dan Sraddha yajna dan sradha Yayurveda Yoga Kundalini