OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM

PRAKATA

Selamat Datang

Semangat Hindu merupakan blog bersama umat Hindu untuk berbagi berita Hindu dan cerita singkat. Informasi kegiatan umat Hindu ini akan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan.
Semangat Hindu semangat kita bersama.

Bersama Semangat Hindu kita berbagi berita dan cerita, info kegiatan, bakti sosial dan kepedulian, serta kegiatan keagamaan seperti ; pujawali, Kasadha, Kaharingan, Nyepi, Upacara Tiwah, Ngaben, Vijaya Dhasami dan lain sebagainya.

Marilah Berbagi Berita, Cerita, Informasi, Artikel Singkat. Bagi yang mempunyai Web/Blog, dengan tautan URL maka dapat meningkatkan SEO Web/ blog Anda.

Terima Kasih
Admin

RANBB

---#### Mohon Klik Share untuk mendukung blog ini ####---

Sabtu, 04 Oktober 2014

LONTAR KRAMA PURA, PUTRU PASAJI, TATTWA SANGKANING DADI JANMA, DEWA RUCI, CATUR YUGA

ALIH AKSARA DAN ALIH BAHASA LONTAR

KRAMA PURA, PUTRU PASAJI, TATTWA SANGKANING DADI JANMA,

DEWA RUCI, CATUR YUGA (2008)



KRAMA PURA
Lontar Krama Pura yang dialihaksarakan ini adalah lontar yang ditulis oleh Putu Mangku dari Banjar Jro Dikit Seririt pada Tahun Saka 1919 (1997 M). Lontar Krama Pura tergolong naskah muda karena dilihat dari bahasa yang dipakai sebagai wahananya yaitu bahasa Kawi-Bali. Lontar ini termasuk lontar sesana, yang lebih mengkhusus pada tata cara masuk tempat suci.
Dalam lontar ini disebutkan bahwa orang yang bertindak sebagai pengemong pura hendaknya waspada dan mematuhi ajaran Sangyang Dewa Sasana tentang tata cara orang masuk pura. Bila krama desa ingin menghaturkan sesajen, pada saat membuat hendaknya disucikan dahulu dengan tirtha dari Sulinggih karena sesajen yang tidak diperciki tirtha dianggap kotor (leteh). Penyebab kekotoran itu adalah dilangkahi anjing, dilangkahi manusia, dipakai mainan oleh anak-anak, hasil belanjaan di pasar yang dijual oleh orang kotor, diterbangkan ayam, kena rambut, bedak, ludah. Bila banten tersebut dihaturkan, dianggap akan dapat mengusir dewa dan mengundang bhuta.
Selain itu, orang yang tidak boleh masuk pura adalah orang gila, orang yang menstruasi, orang cuntaka karena kematian, pencuri. Di areal pura, orang dilarang untuk marah sampai memaki-maki, bicara ngacuh, bersanggama, berselingkuh, bahkan untuk memperbaiki pakaian. Yang paling dilarang masuk pura adalah orang panten (orang yang dosanya tidak terampuni), yaitu orang yang memperkosa, yang laki-laki dari golongan sudra sedangkan wanitanya dari golongan tri wangsa (brahmana, ksatriya, wesya). Orang yang mengawini yang tidak patut dikawini (gamia-gamana) juga dilarang masuk pura. Ada juga yang disebut cacilaka, yaitu seorang wanita yang telah cukup umur namun tidak menstruasi, walaupun sudah berobat pun juga tidak menstruasi, dilarang masuk pura lebih-lebih untuk membuat perlengkapan sesajen.
  

PUTRU PASAJI
Lontar yang dialihaksarakan ini adalah lontar koleksi pribadi Perpustakaan Lontar Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.
Dalam lontar ini disebutkan ada ikan/daging yang dilarang untuk dijadikan persembahan, karena akan menghilangkan kesucian sehingga kembali pada papa dan neraka. Dalam Pitra Yadnya, ada banyak jenis ikan yang dapat dijadikan persembahan kepada sang pitara. Lamanya kesenangan yang dapat diberikan oleh masing-masing ikan berbeda. Ikan laut kualitasnya paling rendah karena dapat memberikan kesenangan hanya selama satu bulan. Sedangkan ikan/daging yang kualitasnya tertinggi adalah badak, karena akan dapat memberikan kesenangan selamanya di sorga.
Dalam lontar ini disebutkan juga nama beberapa gunung seperti: Gunung Malaya, Suktiman, Wreksawan, Himawan, Makuta, dan Nindana yang harus dilalui oleh para pitara menuju sorga. Pada gunung-gunung itulah tempat penyiksaan para pitara yang berdosa menunggu untuk dientas agar bisa masuk sorga. Pitara yang telah dientas kemudian masuk sorga memperoleh penyambutan yang luar biasa dari makhluk-makhluk kahyangan. Dengan diantar oleh burung kahyangan, Sang Wimana, sang pitara dapat menyaksikan keindahan masing-masing sorga.
Dalam sorga disebutkan ada banyak sorga seperti: Iswarapada, Brahmaloka, Budhaloka, Wisnupada, Swarga Manik, Sri Manuh, Indrapada, Darapada, Wilasatya, Siwapada, Ganda Langha Jandewa Pralabda, dan lain-lain. Sorga-sorga itulah tempat bagi atma yang telah dientas dan sesuai dengan pekerjaannya di bumi ketika masih hidup. Misalnya, ketika masih hidup dia suka belajar, menggubah kidung, pralambang, akan tinggal di Swarga Manik, yaitu kahyangan Sanghyang Saraswati.
Amanat dari Lontar Putru Pasaji ini adalah agar keluarga yang ditinggalkan segera melaksanakan upacara bagi yang meninggal, agar tidak berlama-lama menderita dan bisa segera masuk sorga. Dalam melaksanakan upacara agar dipilih ikan/daging yang dianjurkan agar dapat memberikan kesenangan kepada para pitara di sorga. Sesorang jika telah berhasil melaksanakan upacara terhadap orang yang telah meninggal, ia akan memperoleh pahala dari pelaksanaan upacara itu. Ada empat pahala yang akan dinikmati, seperti: saksi, bhakti, sura, dan wira. Lebih-lebih jika upacara itu dilaksanakan dengan didasari hati yang suci dan tulus ikhlas.
  

TATTWA SANGKANING DADI JANMA
Tattwa Sangkaning Dadi Janma adalah sebuah pustaka lontar yang memuat ajaran tentang hakikat Siwa. Lontar ini mengacu pada pustaka yang lebih tua seperti, Bhuwanakosa, Wrehaspati Tattwa, Tattwa Jnana, Jnana Siddhanta, Ganapati Tattwa.
Materi Pokok yang diajarkan dalam pustaka Tattwa Sangkaning Dadi Janma adalah pengetahuan rahasia, yaitu tentang ilmu kadyatmikan, ilmu untuk melepaskan Sang Hyang Urip untuk kembali ke asalnya atau kamoksan, kalepasan, kesunyataan.
Janganlah mengajarkan kepada murid yang tidak mentaati tata krama. Dan kepada orang yang tidak terpelajar, rahasiakanlah ajaran Beliau para Resi, sebab murid yang pandai tetapi tidak bermoral, tidak mentaati tata krama dan tidak hormat kepada guru, itu akan mendapat petaka besar bagi si murid. Sebaliknya, walaupun murid itu agak kurang, kalau mentaati ajaran tata krama dari guru, pastilah murid itu akan berhasil.


DEWA RUCI
Dewaruci dimulai dengan cerita keberangkatan Sang Bhima atas perintah Bhagawan Drona ke laut untuk mencari Toya Amreta. Terlihat olehnya tepi laut dengan ombaknya beriak, bergulung menerjang batu karang. Dengan tiada rasa takut ia menceburkan diri ke dalam laut, diempas gelombang, ditindih air.

Tiba-tiba datanglah seekor ular besar bernama Si Nakatnawa mengambang di atas air. Ular yang sedang kelaparan itu kemudian menyerang Sang Bhima dengan sangat buas. Akan tetapi ular tersebut akhirnya dapat ditangkap oleh Sang Bhima, lalu dipotong-potong dengan kukunya sehingga air laut menjadi merah karena darah ular itu.
Tersebutlah Sang Hyang Wisesa, sangat kasihan terhadap Sang Bhima. Sang Bhima sangat senang melihat Sang Hyang Wisesa yang berbadan kecil seperti boneka. Sang Hyang Wisesa bertanya apa tujuan Sang Bhima datang ke tengah laut yang berbahaya itu. Sang Bhima pun menjawab bahwa tentunya Sang Hyang Wisesa telah mengetahuinya. Sang Bhima kemudian menanyakan nama Sang Hyang Wisesa sebagai resi berbadan kecil. Sang resi menjawab ia adalah Dewaruci. Kemudian ia memberi wejangan kepada Sang Bhima agar jangan gegabah berbuat. “Janganlah mencari bila belum tahu apa yang dicari”.
Dewaruci senang karena sang Bhima mau menerima ajarannya. Ia menyuruh Sang Bhima masuk ke dalam garbanya (perutnya) melalui telinga kirinya. Setelah Sang Bhima masuk, dilihatlah olehnya lautan yang amat luas, alam kosong. Kemudian Sang Resi kembali mewejang tentang indriya, tentang dasa, tiga musuh sang pertapa, tentang subyek dan obyek, tentang yang tunggal menjadi banyak, tentang jiwa, tentang Tuhan yang tanpa wujud, tanpa ruang.



CATUR YUGA
Lontar ini pada intinya menceritakan tentang seorang raja yang bertahta di kerajaan Purbbhasasana bergelar Maharaja Bhanoraja sedang mencari pertimbangan dari para pendeta, para mahaguru, para mentri, dll., perihal putrinya yang bernama Dewi Ratnarum yang hendak dilamar oleh raja dari Negara Sunyantara yang bergelar Sri Maharaja Rekatabyuha yang sangat kaya dan gagah berani, akan tetapi berjiwa jahat karena dipengaruhi oleh zaman kali.
Para pendeta, mahaguru pun memberi pertimbangan/petuah kepada sang raja. Pada zaman dahulu, disebutkan bahwa Hyang Parameswara (Sang Hyang Siwa) memberikan ajaran tentang Catur Yuga. Empat perbedaannya yaitu: Kretha Yuga, Traita Yuga, Dwapara Yuga, dan Kali Yuga. Kretha Yuga lamanya 4.444.400 tahun, Traita Yuga 3.333.300 tahun, Dwapara Yuga 2.222.200 tahun, dan Kali Yuga 1.111.100 tahun lamanya.
 Pada zaman Kretha Yuga, keadaan manusia tidak banyak mengalami perubahan, tidak tertimpa rasa sakit, tidak akan mati semasih bayi, tidak memikirkan baik buruk, mati hidup, suka duka, sakit lapar. Adapun umur manusia pada Zaman Kretha Yuga adalah seratus ribu tahun, sepuluh-puluh kurangnya, kecatur sunyaning rat.
Pada Zaman Traita Yuga, demikian juga tentang umur manusia selalu suka, lima ratus tahun umurnya, ukurannya lima-lima, tiga kakinya dunia, seperti air dalam perigi, berkurang sekendi dari tempurung kelapa, mendung yang tebal akan menjatuhkan hujan, selaku dalam keadaan suka semua manusia, tidak ingat dengan hari tua.
Zaman Dwapara Yuga, dua ratus tahun umurnya manusia, ukurannya dua-dua, dua kakinya dunia, demikianlah ukuran manusia patut disikapi, berlaksana harus bijaksana, pemberani, tahu tentang siasat, tahu dengan tanda-tanda, dapat mengendalikan indera, sayang kepada orang melarat, kasih kepada orang yang tahu membalas budi, taat aturan, melaksanakan ajaran weda, dll.
Zaman Kali Yuga, seratus tahun umurnya manusia, ukurannya satu-satu, satu kakinya dunia, itu sebabnya huru-hara di dunia, hampir-hampir rusak tiada tara, mendung tebal akan menurunkan hujan, perigi akan kering, nempuluh tahun penuh dengan kekerasan, itu yang disebut sapta, tiada tenggelam di Barat, selalu berpisah tiada mau bersatu, dari Utara datangnya ciri-ciri yang tidak baik. Dari hal itu timbullah Tri Mala. Itulah sebanya dunia manjadi kacau, bisa merajalela menyakiti, merampok, memperkosa, membunuh sesama manusia yang tidak berdosa, aneka rupa kejahatan di muka bumi, yang berlaksana benar mati, yang sombong hidup dan mendapatkan kesenangan, tamak, bersifat kejam.


Sumber : http://baliculturegov.com/2009-10-06-09-01-33/konsep-konsep-budaya.html
 

0 komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih atas kunjungan dan kesan yang telah disampaikan

Cari Artikel di Blog ini

Berita Terkait Semangat Hindu



Artikel Agama Hindu

108 Mutiara Veda Agama Hindu Dharma agama islam Ajaran Hindu Arya Wedakarna Atharvaveda Balipost Belajar dari Sejarah Bhagavadgita Bhagawan Wiyasa Brahmana Cendekiawan Hindu Dharma Doa Anak Hindu Doa Melayat Orang Meninggal Dunia Doa Mengheningkan Cipta Doa Mengujungi Orang Sakit Doa Mohon Ketengangan dalam Keluarga Durga Puja Evolusi Melalui Reinkarnasi & Karma Eyang Roro Anteng Ganesha Chaturthi Gayatri Mantram Hari Raya Galungan Hari Raya Nyepi Hari Raya Saraswati Hindu Agama Terbesar di Dunia Hindu Bali Hindu Banten Hindu Batam Hindu Bogor Hindu Ciledug Hindu Festival Hindu German Hindu India Hindu Jakarta Hindu Jawa Hindu Jawa Barat Hindu Jawa Tengah Hindu Jawa Timur Hindu Jogjakarta Hindu Kaharingan Hindu Kalimantan Hindu Klaten Hindu Kresna Hindu Malang Hindu Maluku Hindu Nepal Hindu Palembang Hindu Papua Hindu Pekanbaru Hindu Pematangsiantar Hindu Sulawesi Hindu Sulawesi Tengah Hindu Tengger Hinduism Facts Hinduism the Greatest Religion in the Word Hukum Karma Ida Pedanda Gede Made Gunung Implikasi Keyakinan Atas Prilaku Joko Seger Juan Mascaro Kasada Kebangkitan Hindu Kemenag ki nirdon Kitab Suci Veda Kuil Mariaman lontar Mahabharata Ramayana Mantra Meditasi Matahari Terbit Moksha Motivasi Hindu Mpu Jayaprema Mundakopanisad nakbalibelog Nirukta pandita Pasraman Pitra Yadnya Ngaben Principle Beliefs of Hinduism Pujawali Pujawali Pura Hindu Pura Agung Blambangan Pura Agung Raksa Buana Pura Dharma Sidhi Pura Giri Kusuma Pura Kerta Buana Giri Wilis Pura Mandara Giri Semeru Agung Pura Sangga Buwana Hamburg renungan suci Rgveda Rig Weda sad guru Samaveda Semangat Hindu Swami Harshananda Swami Vivekananda Tanya Jawab Hindu Tirtayatra Tuhan Krishna tutur Upanisad Upanisad Himalaya Jiwa Vasudhaiva Kutumbakam Veda Veda Sabda Suci wija kasawur