OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM

PRAKATA

Selamat Datang

Semangat Hindu merupakan blog bersama umat Hindu untuk berbagi berita Hindu dan cerita singkat. Informasi kegiatan umat Hindu ini akan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan.
Semangat Hindu semangat kita bersama.

Bersama Semangat Hindu kita berbagi berita dan cerita, info kegiatan, bakti sosial dan kepedulian, serta kegiatan keagamaan seperti ; pujawali, Kasadha, Kaharingan, Nyepi, Upacara Tiwah, Ngaben, Vijaya Dhasami dan lain sebagainya.

Marilah Berbagi Berita, Cerita, Informasi, Artikel Singkat. Bagi yang mempunyai Web/Blog, dengan tautan URL maka dapat meningkatkan SEO Web/ blog Anda.

Terima Kasih
Admin

RANBB

---#### Mohon Klik Share untuk mendukung blog ini ####---

Senin, 04 Maret 2019

Percikan Dharma : Empat jalan menuju Moksa



Empat jalan menuju Moksa




Umat sedharma, perlu diketahui bahwa dalam perjalanan hidup ini ada empat jalan menuju Moksa yaitu:
1. Bhakti Marga
2. Karma Marga
3. Jnana Marga
4. Raja Marga

Bhakti Marga, jalan yang biasa dan mudah dilaksanakan umat Hindu untuk menuju Moksa yaitu dengan jalan kasih sayang, sembahyang sehari-hari, denfan melaksanakan itu semua dengan lascarya niscaya akan mendapatkan kemudahan jalan menuju Moksa. Dengan kasih sayang, mencintai atau menyayangi semua makhluk hidup merupakan sebuah kebutuhan dimana semua mahkluk hidup diciptakan oleh Hyang Widhi, oleh karena itu kita harus saling nemyayanginya. Sembahyang merupakan sembah dan Hyang artinya kita harus selalu ingat bahwa kita diciptakan oleh Hyang Widhi sehingga harus bersyukur dan bhakti kepada Beliau agar selalu diberikan keselamatan dan kebahagiaan.

Bagaimana Cara Mendapat Moksa


Karma Marga, jalan yang harus dilaksanakan umat Hindu untuk menuju Moksa yaitu jalan kerja, kerja dan kerja tanpa pamrih yang harus dilaksanakan untuk dapat tiket menuju Moksa karena dengan jalan kerja tanpa pamrih niscaya semua akan mudah menuju Moksa. Hanya dengan kerja, kerja dan kerja tanpa memikirkannhasilnya itulah yang biasa digunakan untuk bhakti kepada Hyang Widhi.

Jnana Marga, jalan yang harus dilaksanakan umat Hindu untuk menuju Moksa yaitu jalan pengetahuan, dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya bisa mengantarkan kita menuju Moksa. Oleh karena itu gunakan ilmu pengetahuan yang kita miliki sebarkan atau bagikan kepada mereka yang membutuhkan sehingga bermanfaat untuk kehidupannya di dunia ini. Hanya dengan jalan pengetahuan ini bisa mengantakan kita menggapai Moksa yang menjadi tujuan akhir umat Hindu.

Raja Marga, jalan yang harus dilaksanakan umat Hindu menuju Mojsa yaitu jalan tapa, brata, yoga dan semadi, dengan jalan ini umat Hindu bisa menuju Moksa. Namun jalan ini sangatlah sulit untuk dilaksanakan karena harus dengan niat yang tulus dan kemampuan yang lebih untuk dapat melaksanakannya. Karena jalan tapa, brata, yoga dan semadi ini sangat membutuhkan energi yang lebih, namun apabila mau dan.mampu untuk melaksanakannya niscaya lebih cepat untuk mencapai Moksa.

Demikian empat jalan menuju Moksa ini dapat dilaksanakan dengan penuh percaya diri niscaya semua mendapatkan  hasil sesuai dengan kemampuannya, bileh dipilih mana jalan yang bisa untuk mencapai Moksa itulah kita sendiri yang bisa memprediksinya. Namun jangan disalah artikan bahwa empat jalan ini diputarbalikkan dengan jalan bahwa bisa memakai jalan agama lain, hanya di Hindu lah Hyang Widhi memberikan jalan untuk menuju Moksa yang lain lewat.

nara sumber : Aris Widodo

Selasa, 19 Februari 2019

Konsepsi Hukum Menurut Weda



Percikan Dharma
Kewaspadaan
Umat se-dharma, dalam kehidupan selalu butuh kewaspadaan agar selalu selamat dari orang-orang yang tidak menyukainya. Untuk itu sebagai manusia berusaha waspada agar kehidupannya mampu membuat terlepas dari keresahan dalam hidupnya.

Kewaspadaan menuntun seseorang mencapai keberhasilan. Dengan waspada  tumbuh kesadaran tentang sesuatu, bermanfaat atau tidak. Kesadaran ini melindungi kehidupan umat manusia. Kewaspadaan mengasah perhatian dal pencegahan tindakan yang membayakan. Bila seseorang senantiasa waspada, maka ia akan memperoleh keselamatan.

Kewaspadaan melindungi manusia

Bodhasca tva pratibodhasca raksatam.

Atharva Veda VIII. 1. 13

Artinya
Kewaspadaan dan pengetahuan melindungi anda.

Ulasan
Bahwa kewaspadaan dalam hidup yang serba global ini sangat membutuhkan sesuatu yang akan membuat nyaman dan tentram, sehingga nantinya mereka akan merasakan manfaat kewaspadaan yang telah mereka lakukan. Oleh karena itu dengan kewaspadaan yang sangat tinggi akan membuat hidup mereka lebih percaya diri dalam kehidupannya.

Perciksn Dharma
Konsepsi Hukum Menurut Weda
Umat se-dharma, dalam ilmu hukum dibedakan antara Statuta Law dan Common Law atau Natural Law. Statuta Law adalah hukum yang dibentuk dengan  sengaja oleh penguasa, sedangjan Common Law atau Natural Law adalah hukum alam yang ada secara alamiah.

Unsur-unsur yang terpenting dalam peraturan-peraturan hukum memuat dua hal yaitu:
1. Unsur yang sifatnya mengatur atau normatif.
2. Unsur yang sifatnya memaksa atau represif.
Rta dan Dharma dalam Weda mempunyai pengertian yang sama tentang unsur-unsur hukum. Baik Rta dan Dharma, kedua-duanya berarti hukum dalam hukum Hindu. Rta adalah hukum alam yang bersifat abadi, sedangkan Dharnma adalah hukum duniawi, baik yang ditetapkan maupun tidak.

Istilah lain tentang hukum dalam hukum Hindu adalah Widhi, Drsta, Acara, Wyawahara, Nitisastra, Rajaniti, Arthasastra yang penggunaannya relatif menurut tujuannya. Yang terpenting dari istilah-istilah itu adalah Dharma sebagai istilah yang umum dalam ilmu hukum Hindu, karena kata Dharma mengandung 2 (dua) pengertian yaitu:
1. Dharma sebagai norma.
2. Dharma sebagai pengertian keharusan yang kalau tidak dilakukan atau dilaksanakan dapat diancam dengan suatu sanksi hukum.

Percikan Dharma
Ikuti Jalan Kebajikan

Umat se-dharma, dalam kehidupan ini adakalanya kita sering lupa akan jalan yang seharuanya kita jalani. Oleh karenanya ikuti jalan kebajikan agar hidup ini menjadi lebih baik lagi dari pada kehidupan dahulu.

Seseorang hendaknya selalu mengikuti jalan yang benar, jalan kabajikan, sebab siapa saja yang berjalan di jalan yang benar (dharma) akan memperoleh kemakmuran, jasa dan kabajikan. Dekatkanlah diri kita kepada Hyang Widhi untuk senantiasa mendapatkan bimbngan-Nya.

Orang yang memiliki keyakinan menjalankan kebenaran, maka kebajikannya itu akan melenyapkan kesusaham dan dengan kebajikan dapat menolong diri sendiri. Dengan menjalankan dharma tentu kita akan mudah dalam mengarungi kehidupan dalam masyarakat yang majemuk ini.

Selalu mengikuri jalan kebajikan

Svasti pantham anu carema
surya-candramasav iva.
punar dadataghnata
janata sam gamemahi.

Rg Veda V. 51. 15

Artinya
Mari kita terus berjalan pada jalan yang benar seperti jalannya matahari dan bulan. Kita seharusnya bergaul dengan orang-orang yang bermurah hati yang puas (dengan diri sendiri) dan yang berpengetahuan tinggi.

Ulasan
Bahwa dalam kehidupan di dunia ini apabila ingin hidup bahagia dan sejahtera maka kita harus selalu berjalan sesuai dengan ajaran-ajaran yang terdapat dalam kitab suci Veda. Oleh karena itu dengan cara menjalankan setiap ajaran yang terdapat dalam kita suci Veda pasti akan mudah mendapatkan kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia maupun di alam lain setelah kehidupan di dunia berakhir.

Dengan menjalankan kebenaran dalam hidup ini serta bergaul dengan orang-orang yang berpengetahuan tinggi maka akan membawa dampak yang baik buat mereka yang sama-sama menjalankan kebenaran.

Sumber : WA Grup PHDI Banten : Aris Widodo

Senin, 11 Februari 2019

Naskah Mimbar Agama Hindu Acara Talkshow Radio.

Dalam acara Talkshow atau bincang-bincang biasanya dipersiapkan naskah siaran agar dapat berjalan dengan baik dan lancar. Naskah yang dipersiapkan disesuaikan dengan tema yang akan diperbincangkan. Seperti halnya kegiatan Talkshow mengenai Mimbar Agama Hindu dengan tema Makna Sembahyang bagi umat Hindu. Berikut Admin postingkan naskah Talkshow yang dapat dipersiapkan saat acara Talkshow, sumber-sumber naskah dari literatur kami, klik disini semoga bermanfaat.


Penyiar :
Membuka acara talkshow
Penyiar :   
Apa yang dimaksud dengan bersembahyang menurut agama Hindu. Mohon penjelasannya.
Narasumber :
Pendengar yang budiman. Sembahyang atau bisa disebut puja, artinya menyembah atau memuja Tuhan, Ida SangHyang Widhi Wasa, yang disampaikan dengan mantra, baik itu mantra dalam bahasa Sanskerta ataupun bahasa daerah kita, kemudian dilakukan dengan sikap tubuh tertentu, seperti duduk bersila untuk laki-laki dan duduk bersimpuh untuk perempuan serta dengan sikap tangan tertentu.

Penyiar :     
Lalu apa yang dimaksud denan  berdoa. Mohon penjelasannya.


Narasumber : 
Sedangkan berdoa, doa berasal dari bahasa Arab yang artinya memohon, bisa dilakukan dengan bebas, tidak perlu bahasa khusus atau sikap khusus. Ada yang hanya dengan menengadahkan tangan saja atau menundukkan kepala.

Penyiar :    
Apakah bisa diuraikan arti kata Sembahyang ?
Narasumber :
Sebutan “Sembahyang” berasal dari dua kata yaitu sembah dan hyang .
Sembah adalah memberikan dengan tulus ikhlas rasa hormat atau menyajikan dengan hati yang bersih tanpa meminta imbalan. Tata krama bersembah merupakan laku layan atas dasar pengabdian. Sama sekali tidak ada unsur paksaan atau dibawah tekanan dan ancaman apapun karena laku sembah merupakan kesadaran tertinggi.
Hyang ( eyang, biyang, moyang ) adalah bibit-bibit (cikal bakal) atau inti segala sumber. Pada pengertian yang lebih luah-mendalam maknanya ialah yang menyebabkan terjadinya sesuatu keberadaan dan keadaan atau sebagai sebab atas segala kejadian.
Maka Ber-Sembahyang  adalah menyediakan atau memberikan diri secara tulus penuh kepasrahan (sukarela) untuk dihidupkan oleh Hyang Maha Kuasa (sebagai sumber inti dari segala keberadaan dan keadaan).

Penyiar :     
Lalu benarkah bersembahyang itu lama ?
Narasumber  :
Para Pendengar Radio RRI Banten yang berbahagia. Bersembahyang itu tidak lama. Segala sesuatu yang kita lakukan dengan penuh keyakinan dan ketulusan, tidak ada waktu yang relatif lama. Duduk di hadapan Hyang Widhi seharusnya kita berbahagia, gembira dan tenang, karena waktu kita memang untuk Hyang Widhi.

Penyiar :     
Bersembahyang itu  kenapa harus didahului dengan ber-Trisandya.
Narasumber   :
Ber-Trisandya termasuk dalam bersembahyang harian, karena dalam agama kita ada waktu-waktu tertentu dalam bersembahyang, yang pertama pada hari raya umum, seperi Galungan dan Kuningan, Saraswati, Siwaratri dan lain sebagainya. Kemudian yang kedua kita bersembahyang pada saat ada upacara-upacara Panca Yadnya, yang ketiga secara berkala, seperti Purnama-Tilem, Tumpek, atau Rerainan. Dan Tri Sandya dikatagorikan dalam bersembahyang harian, rutin, Nitya Karma Puja yang dilakukan tiga kali sehari yang menurut petunjuk Kitab Suci Rg Weda Mandala V sukta 54 mantra 6 dan Rg Weda Mandala VIII sukta 31 mantra 1. Ini disebut Tri Sandya  (Tiga Peralihan Waktu)

Penyiar :   
 Dalam Sastra atau kitab suci Hindu, dimana terdapat petunjuk yang berkaitan dengan Tri Sandya itu.
Narasumber   :
Petunjuk tentang Tri Sandya terdapat dalam Veda dan di dalam Taittiriya Upanisad bahwa pelaksanaan sembahyang waktunya adalah pada saat sandya (peralihan waktu, yaitu pagi, tengah hari dan menjelang malam). Demikian juga petunjuk di dalam Chandogya Upanisad; prapataka II, canda 24, mantra 1, ketiga waktu sembahyang itu disebut dengan istilah Pratah Savanam (pagi), Madyandina Savanam (tengah hari) dan Trtiya Savanam atau disebut juga Sandya Savanam (menjelang malam).

Penyiar : 
Tadi disampaikan bahwa bersembahyang itu adalah menyembah Ida Sanghyang Widhi yang diiringi dengan mantra. Apakah Mantra itu ? Mohon pencerahannya.
Narasumber  :
 Pendengar yang budiman. Salah satu kata yang paling luas dipergunakan dalam teks keagamaan yang berbahasa Sanskerta adalah Mantra. Secara etimologi Mantra didefinisikan sebagai “Itu yang melindungi” . TRA ; Melindungi, to protect, ketika diucapkan secara berulang dan direnungkan. MAN ; berpikir, merenung, to think, to reflect.
Kata Mantra mempunyai dua arti; bagian-bagian yang berbentuk puisi dari Veda dan nama-nama dan suku kata yang digunakan untuk mengidentifikasikan atau mengambil hati para Dewa. Yang pertama bersifat Veda dan yang kedua bersifat Tantrik.

Penyiar :  
Selain dengan cara Bersembahyang, kegiatan apa lagi yang merupakan bagian dari ibadah Umat Hindu ?
Narasumber :
Dalam agama Hindu, hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan Tuhan bisa dalam bentuk Yadnya dan Yoga. Pemujaan kepada Tuhan dengan penuh cinta;
bhajan, atau bhajana , dari akar bhaj = mencintai, memuja, memuji, kidung, japa bhakti secara individu atau kelompok untuk memuja Yang Suci.
Kirtana atau kirtanam = menyanyikanpujian kepada Tuhan,
Japa, salah satu dari sembilan bentuk bhakti.
Kidung-kidung yang indah itu adalah ekspresi rasa cinta dan keindahan kita kepada Tuhan, dalam aspek Saguna Brahman.
Sembahyang sebenarnya adalah bentuk dari Bhakti Yoga. Sedangkan Jnana Yoga dan Raja Yoga, meditasi (Dhyana Yoga) adalah bentuk hubungan kita dengan Tuhan dalam aspek Nirguna Brahman.

Penyiar :
Apa perbedaan masing-masing sembah pada sembahyang Panca Sembah ? mohon pencerahannya
Narasumber    :
Sembah pertama itu adalah penyucian atman, sembah kedua memohon agar Siwa Raditya berkenan sebagai saksi. Sembah ketiga, pemujaan untuk Brahman atau Istadewata, termasuk para leluhur yang setingkat dengan dewata. Sembah keempat permohonan anugrah, dan ke lima ucapan terima kasih.

Penyiar : 
Setelah bersembahyang kita mendapat Tirtha dan Bija, mohon pencerahannya Apa manfaat Tirtha dan Bija ?
Narasumber    :
Di dalam Veda disebutkan manfaat tirtha sebagai berikut :
“Bersihkan, Air, apapun dosaku, kesalahanku apapun yang telah kulakukan, kutukan apapun yang telah kukatakan, dan kebohongan apapun yang telah kuucapkan”
Tirtha adalah air suci, yaitu air yang telah disucikan dengan suatu cara tertentu; Pertama dengan cara memohon dihadapan pelinggih Ida Bhatara melalui upacara tertentu. Yang kedua dengan cara membuat (ngareka) yang dilakukan dengan mengucapkan puja-mantra tertentu, tentunya hanya oleh orang yang sudah berwenang, yaitu seorang Pandita, Pedanda, Sulinggih lainnya.
Kemudian Bija, mebija dilakukan setelah metirtha merupakan rangkaian terakhir dari suatu upacara persembahyangan. Bija atau Wija adalah lambang dari Kumara, yaitu putra atau wija Bhatara Siwa. Mabija mengandung makna menumbuh-kembangkan benih ke-Siwa-an itu dalam diri manusia.

Penyiar : Closing



Selasa, 22 Januari 2019

Percikan Dharma : Jangan Berjudi

Percikan Dharma
Jangan Berjudi
Sumber : Bapak Aris Widodo

Umat se-dharma, dalam kehidupan di dunia ini sering terjadi hal yang seharusnya tidak dilakukan sebaliknya dilakukan yaitu berjudi. Mengapa demikian karena berjudi akan membuat hidup tidak akan tentram.

Tuhan Yang Maha Esa/ Sang Hyang Widhi Wasa mengamanatkan supaya umat-Nya jangan melakukan berjudi. Hal ini ditegaskan dalam kitab suci Weda. Berjudi apapun bentuknya tidak dibenarkan oleh agama. Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa menyatakan bahwa merusak keharmonisan hidup masyarakat.


Judi sering dikaitkan dengan kesenangan sesaat yang mampu membius mereka yang suka melakukan berjudi sehingga sampai lupa akan tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga yang harus mereka hidupi. Kalau judi sudah merasuk dalam sanubari sering lupa akan anak dan istrinya karena kesenangan sesaat yang mampu menghancurkan biduk rumah tangganya.

Berjudi merusak kehidupan keluarga



Jaya tapyate kitavasya hina
mata putrasya caratah kva svit,
mava bibhyad dhanam icchamanah
anyesam astam upa naktam eti.

Rg Veda X. 34. 10

Artinya
Isteri seorang penjudi yang mengembara mengalami penderitaan yang mendalam di dalam kemelaratan dan ibu seorang putra yang berjudi semacam itu tetap dirudung derita. Dia, yang dalam lilitan hutang dan dalam kekurangan uang, memasuki rumah orang-orang lainnya dengan diam-diam di malam hari.

Ulasan
Bahwa dalam kehidupan ini sering terjadi rumah tangga yang tidak harmonis disebakkan oleh karena perjudian. Ini semua karena kesenangan sesaat yang dijumpai dalam kehidupan dimana masyarakat masih belum sepenuhnya sadar akan arti kesenangan sesaat tersebut.

Memang dalam berjudi dapat membuat kita terlena akan kesenangan sesaat yang bisa dinikmati pada saat itu saja, namun tidak terpikirkan dampak yang akan diterima oleh keluarga yang di tinggalkan dalam perjudian tersebut. Terkadang karena telalu asyiknya dalam berjudi lupa akan kewajiban sebagai seorang kepala keluarga, sehingga bisa berhari-hari tidak pulang hanya karena perjudian belum usai bahkan sampai apa saja yang dipunyainya dipertaruhkan dalam perjudian.

Untuk itu perjudian janganlah hemdaknya dilakukan karena akan menyengsarakan keluarga dan masyarakat di sekitarnya. Oleh karena dalam kitab suci Veda juga melarang segala jenis perjudian agar kehidupan mereka tetap harmonis dan bahagia selalu.

Demikian yang harus diperhatikan bahwa perjudian selamanya akan membuat sengsara dan tidak membawa kebahagiaan bagi keluarga dan masyarakat sekelilingnya.

Selasa, 15 Januari 2019

Percaya Diri Percikan Dharma



Percikan Dharma
Percaya Diri


Umat se-dharma, perlu diketahui bahwa percaya diri merupakan keyakinan yang mwngantarkan menuju keberhasilan. Orang yang memiliki kepercayaan diri tidak ragu-ragu untuk bertindak di jalan yang benar. Orang yang bijaksana menjadikan kepercayaan diri sebagai sebagai bentuk pertolongan yang menyelamatkan. Keparcayaan diri akan tumbuh bila kita memiliki wawasan yang luas terhadap kebenaran, kebajikan, hukum dan keluhuran budi.

Kepercayaan diri memberi keyakinan

Svah svaya dhayase
krnutam rtvig rtvijam.
stomam yajnam cad aram
vanema rarima vayam.

Reg Veda II. 5.7

Artinya
Buatlah dirimu sendiri cukup dan tergantung atas dirimu sendiri, hendaklah penganut melaksanakan persembahan (yajna) musiman. Kami memberikan uang dalam derma (amal/punia), oleh karenanya kami mencapai kehormatan dan kemasyuran.

Ulasan
Bahwa apabila kita punya keyakinan atas diri sendiri niscaya semua masalah yang ada dalam dirinya akan teratasi dengan sendirinya. Oleh karena itu hendaklah kepercayaan yang ada dalam dirinya itu harus selalu dipupuk agar tambah besar kepercayaannya tersebut sehingga akan menimbulkan kepercayaan yang lebih besar dalam dirinya.

Dengan demikian apabila kepercayaan dalam dirinya sendiri telah terbangun dengan baik maka dengan begitu akan menjadi keyakinan dalam tubuhnya. Sehingga dengan adanya kepercayaannya tersebut akan timbul keyakinan dalam dirinya untuk dapat dilaksanakan dengan baik dan dapat diaplikasikan dalam kehidupannya.

Oleh : Aris Widodo

Senin, 07 Januari 2019

Gayatri Dalam Tri Guna



Percikan Dharma
Gayatri Dalam Tri Guna

Umat se-dharma, bahwa Gayatri mantram sebagai mantra Yoga, perlu pula dikenal adanya pembagian sifat mantram. Ada mantram yang bersifat Sattvam (kebaikan, kesucian, rohani), ada yang bersifat Rajah (kenafsuan), ada yang bersifat Tamah ( kegelapan).



Mantra di bawah pengaruh sattvam guna memberikan hasil kepada pelakunya berupa kedamaian, kesucian, keinsafan diri dan bhakti pada Sang Hyang Widhi Wasa. Mantra di bawah pengaruh rajah guna memberikan hasil kepada pelakunya berupa kesaktian, kekayaan, dan kepentingan duniawi lainnya. Sedangkan mantra di bawah pengaruh tamah guna memberikan hasil kepada pelakunya berupa merusak, menguasai, menyakiti dan bahka membunuh.

Gayatri mantra adalah mantra yang berada dalam sifat saytvam. Ini memberikan ketenangan, kesucian, kerohanian, dan keinsafan diri. Tetapi jika kesadaran sang pelaku dan aturan-atutan pengucapan berada dalam sifat rajah maka gayatri mantra akan memberikan hasil berupa keperluan duniawi seperti apa yang sedang diangankan dalam kesadaran sang pelaku di saat ia menguncapkan mantra.

Aris Widodo

Kamis, 06 Desember 2018

Jiwa, Kelahiran Kembali, Kremasi

Percikan Dharma
Jiwa, Kelahiran Kembali, Kremasi
(Atharwa Weda : 2.137)

Sutaso madhu mattamah soma Indraya mandinah, pawitrawanro aksaran dewan gacchantu wo madah.

Artinya
Kemurahhatian yang dilakukan pada kelahiran ini memberikati jiwa untuk mencapai kebijakan yang lebih besar dan badan fisik yang sempurna pada kehidupan yang akan datang.

Ulasan
Bahwa dalam hal kelahiran kembali yang terjadi pada jiwa yang telah meninggalkan tubuh atau badan wadag merupakam suatu yang biasa terjadi pada kehidupan ini. Oleh karena itu jiwa yang akan telahirkan kembali tersebut akan mengambil tubuh atau badam wadag yang lain yang lebih baik dari pada kelahiran yang lalu.
Semua kelahiran kembali yang akan mengambil tubuh atau badan wadag yang lebih baik tentunya dalam hidupnya dulu selalu menjalankan dharma atau kebaikan lebih banyak dari pada keburukan yang dilakukannya.


Jumat, 30 November 2018

Kelahiran Kembali

Jiwa, Kelahiran Kembali, Kremasi
Sama Weda Sloka 547

Sutaso madhnumat tamah soma Indraya wo mandinah, pawitra wanto aksaran dewan gacchantu wo madah.

Artinya
Kegembiraan Tuhan dinyatakan melalui kegemerlapan, keindahan dan ketenangan ciptaan-Nya. Kebahagiaan tertinggi dari cinta ketuhanan terasa di dalam Jiwa yang bersih dan cepat mengerti terhadap kesucian dari cinta tak terhingga dari Tuhan. Menyalakan lubuk hati yang paling dalam dari para pemuja.

Ulasan
Bahwa sesungguhnya Hyang Widhi telah memberikan semua yang manusia inginkan namun manusia masih saja kurang. Namun begitu Hyang Widhi tetap memberikan apa yang manusia minta hingga semua permintaan itu telah diterima oleh ciptaan-Nya.

Oleh karena itu hendaknya kita sebagai manusia harus selalu berupaya terus untuk lebih dekat dengan Hyang Widhi dengan jalan sembahyang, kasih sayang, saling menghargai, mencintai semua ciptaan Hyang Widhi.

Demikian yang seharusnya umat lakukan agar kehidupan ini membuat jiwa lebih fres dan segar dalam mengarungi bahtera kehidupan di dunia ini.




Sabtu, 20 Oktober 2018

Kualitas Satwika Yadnya

Om swastiastu
Sambil negak ngiring wenten sedikit info ...

Untuk Yajna yg berbentuk persembahan akan tergolong kualitas Satwika bila yadnya dilaksanakan berdasarkan :

1. Sradha artinya Yajna dilaksanakan dengan penuh keyakinan
2. Lascharya yaitu Yajna dilaksanakan dengan tulus ikhlas tanpa pamrih sedikitpun
3. Sastra bahwa pelaksanaan Yajna sesuai dengan sumber sumber sastra yang benar
4. Daksina yaitu Yajna dilaksanakan dengan sarana upacara serta punia kepada pemuput yadnya atau manggala yadnya
5. Mantra dan Gita yaitu dengan melantunkan doa doa serta kidung suci sebagai pemujaan
6. Annasewa artinya memberikan jamuan kepada tamu yg menghadiri upacara. Jamuan ini penting karena setiap tamu yg datang ikut berdoa agar pelaksanaan Yajna berhasil. Dengan jamuan maka karma dari doa para tamu undangan menjadi milik sang yajamana.
7. Nasmita bahwa Yajna yang dilaksanakan bukan untuk memamerkan kekayaan dan kemewahan

Saking buku bahan ajar Acara Agama Hindu. IHDN Denpasar

Matur suksma

Artikel singkat ini cocok untuk dishare ring WA grup semeton, singkat padat dan jelas … durus COPAS




Kamis, 27 September 2018

Sarassamuscaya Sloka 391


Pitrayana - Dewayana
Sarassamuscaya Sloka 391

panthanau pitrayanasca devayanasca visrutan, janminah pitrayanena devayanena moksina.

Rwa tika marga ngaranya, hana pitrayana, hana dewayana, ika sang grhasthakarma, sang makanusthana puja, pancayajnadi, pitrayana, ngaranika marga tinutnia, kunang ika sang nistrsna, tyaktaparigraha, kewala atinggal, dewayana ngaranika marga tinutnira.

Artinya

Adalah dua jalan yaitu pitrayana dan dewayana; laksana sang grihastha, yaitu melakukan puja seperti pancayadnya, jalan yang dianut itu namanya pitrayana; orang yang telah meninggalkan keduniawian, yaitu yang telah dengan ikhlas meninggalkan anak, istri dan kekayaan, dewayadnya nama bahwa ada dua jalan yang dilalui oleh orang-orang yogi menuju ke tempat akhir; jalan yang pertama disebut "dewayana", nenyebabkan orang yang melaluinya setelah sampai di tempat tujuan tidak kembali lagi ke dunia yang fana, sedangkan jalan yang kedua disebut "pitrayana" ditempuh oleh jalan yang akan balik kembali; untuk jelasnya dipersilahkan memeriksa dan membaca sloka (dari Bhagawadgita VIII 4 dan 26), "tyaktaparigraha", harta kepunyaan , anak-anak dan istri jadi berarti; "yang ditinggalkan pergi harta kepunyaan serta anak-anak dan istrinya." "Kewalatinggal" dan "kewala" + "atinggal" "kewala" berarti pula semu, suluruh, segala, "atinggal"  = meninggalkan; kewalatinggal dapat dianggap keterangan lebih lanjut dari "tyaktsparigraha".

Ulasan
Bahwa sesungguhnya pitrayana dan dewayana sangat erat kaitannya karena sebelum sampai ke dewayana harus melalui pitrayana dulu. Dalam.hidup ini kita melewati kehidupan dari para leluhur terlebih dahulu baru kemudian orang tua kita dan baru sampai pada kita semua.
Pitrayana dan dewayana dilakukan dengan cara panca yadnya agar apa yang telah kita nikmati ini adalah anugrah dari beliau semuanya.

Rabu, 05 September 2018

Satassamuscaya Sloka 369


Mrtyu-Tuha-Pati
Satassamuscaya Sloka 369

nausadhani na sastrani na homana punarjapah, trayante mrtyunopetan jaraya vapi manavam.

Tatan tamba, tan mantra, tan homa, tan japa, wenang manulung sakeng pati, manukala mrtyu, punah punah mantroccarana; pawaluywaluyning koccaranan sang hyang mantra, japa ngaranya.



Artinya
Bukan obat, bukan mantra, bukan korban api, bukan japa (ucapan mantra komat-kamit berulang-ulanh), sanggup menolong, membebaskan seseorang dari mati, atau dapat menangkis maut, sia-sialah ucapan mantra itu ucapan mantra berulang-ulang disebut "japa".

Ulasan
Bahwa sesungguhnya orang yang melakukan perbuatan, berkata dan berpikir baik adalah mereka sadar akan bekal dikemudian hari, bukan japa yang dilakukan berulang-ulang namun tidak.dapat mengimplementasikan dalam.kehidupan ini. Oleh karena itu hendaklah japa itu harus dilakukan.bersamaan dengan diaplikasikan dalam hidup ini agar lebih bermakna. Dengan demikian antara japa.dan implementasi harus selaras dan seimbang sehingga manfaat yang akan didapat lebih berhasil dalam kehidupan nyata ini.

CHANNEL YOUTUBE SAYA - MOHON DI SUBSCRIBE

Cari Artikel di Blog ini

Berita Terkait Semangat Hindu

Artikel Agama Hindu

108 Mutiara Veda 3 kerangka agama hindu advaita visistadviata dvaita Agama Hindu Dharma agama islam Ajaran Hindu aksara suci om alien menurut hindu Apa yang dimaksud Cuntaka Apa yang dimaksud dengan Japa Apa yang dimaksud dengan Puja arcanam nyasa aris widodo artikel hindu arya dharma Arya Wedakarna Asta Brata Atharvaveda Atman avatara sloka babad Badan Penyiaran Hindu bagian catur weda bahasa jawa kuno bahasa kawi bahasa sanskerta Banggalah Menjadi Hindu banten hindu bali Belajar Hindu BELAJAR ISTILAH AGAMA HINDU bhagavad gita Bhagawadgita bhagawan bhuta yadnya Bimas Hindu BPH Banten brahma wisnu siwa Brahman Atman Aikyam brahmana ksatriya wesia sudra budaya bali budha kliwon sinta Bukan Heroisme buku hindu terpopuler Canakhya Nitisastra cara sembahyang hindu catur asrama Catur Brata Catur Cuntakantaka Catur Purusha Artha Catur Purusharta catur veda Catur Warna Catur Weda Cendekiawan Hindu Cinta Kasih Dalam Perspektif Hindu Dana Punia Deva adalah sinar suci Brahman Deva Brahma Deva Indera dewa dewi hindu dewa yadnya dewata nawa sanga dewi kata-kata dewi saraswati dharma artha kama moksa Dharma Santi dharma wacana Doa Anak Hindu donasi buku hindu epos mahabharata ramayana filosofi pohon bambu filsafat agama hindu ganesha Gayatri Sebagai Mantra Yoga Hari Raya Galungan Hari Raya Kuningan Hari Raya Nyepi Hari Raya Pagerwesi Hari Raya Saraswati Hari Raya Siwaratri HINDU adalah ARYA DHARMA HINDU ADALAH SANATHANA DHARMA HINDU ADALAH VAIDHIKA DHARMA Hindu Agama Terbesar di Dunia Hindu Banten Hindu beribadah di Pura Hindu Festival Hindu Indonesia hindu nusantara Hindu Tengger Hinduism Facts Hinduism the Greatest Religion in the Word Hukum Karma Ida Pedanda sakti isi catur weda Jadilah Manusia Setia Japa dan Mantram Jiwa jual buku hindu kakawin Kamasutra Keagungan Aksara Suci OM Kekawin Lubdhaka kepemimpinan jawa kuna Kerajaan Hindu Keruntuhan Agama Hindu kesadaran diri kidung dewa yadnya Kitab Suci Weda lontar Lontar Kala Maya Tattwa Maharsi Atri Maharsi Bharadvaja Maharsi Gritsamada Maharsi Kanva Maharsi Vamadeva Maharsi Vasistha Maharsi Visvamitra manawa dharma sastra Mantra Mantra Yoga manusa yadnya Meditasi Matahari Terbit Mengapa Kita Beragama menghafal sloka Mimbar Agama Hindu Moksha Motivasi Hindu Mpu Jayaprema nakbalibelog Naskah Dialog Nuur Tirtha Om or Aum one single family opini hindu moderat Panca Sradha panca yadnya Panca Yajna pandita Panglong 14 Tilem Kepitu parahyangan agung jagatkartta paras paros segilik seguluk Pasraman Pasupati Pembagian Kitab Suci Veda Pemuda Hindu Indonesia pendidikan hindu pengertian catur weda Pengertian Cuntaka penyuluh agama hindu Peradah percikan dharma Percikan Dharma Dewa Yajna phdi pinandita Pitra Yadnya Ngaben Pitrapuja potong gigi Principle Beliefs of Hinduism Proud To Be Hindu Puja dan Prathana Pujawali purana purnama tilem Purwaning Tilem Kapitu Radio online Bali rare angon nak bali belog Reinkarnasi Rgveda ritual hindu Roh Rsi yadnya sabuh mas sad darsana sad guru Samaveda sanatana dharma sang hyang pramesti guru Sang Kala Amangkurat Sang Kala Dungulan Sang Kala Galungan Sang Kala Tiga sapta rsi Sapta Timira Sarassamuscaya Sarassamuscaya Sloka sattvam rajah tamah sejarah agama hindu Sekta Hindu Semangat Hindu seni budaya hindu Sex and Hinduism siwa budha waesnawa siwa ratri Sloka sloka bhagawad gita sloka bhatara sloka Rgveda sloka yayurveda Slokantara Sloka Spiritual Bersifat Misterius spiritualitas hindu spma ribek sradha dan bhakti sri rama krishna paramahansa Sri Sathya Sai Baba Sri Svami Sivananda sumpah dalam perkara tabuh gesuri tabuh kreasi baru tabuh telu lelambatan tantri kamandaka tat twam asi tattwa susila upakara Tempat Suci Hindu tiga hubungan harmonis tri hita karana Tri kaya parisudha tri kerangka agama hindu tri mala tri pramana Triji Ratna Permata tujuan perkawinan tujuh penerima wahyu tumimbal lahir upacara hindu upacara menek deha Upanisad upaweda Utsawa Dharma Gita vaidhika dharma Vasudhaiva Kutumbakam VEDA ADALAH ILMU PENGETAHUAN SUCI vedangga Vijaya Dashami Wasudewa Kutumbhakam widhi tatwa wija kasawur wiwaha agama hindu Yajna dan Sraddha yajna dan sradha Yayurveda Yoga Kundalini