OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM

PRAKATA

Selamat Datang

Semangat Hindu merupakan blog bersama umat Hindu untuk berbagi berita Hindu dan cerita singkat. Informasi kegiatan umat Hindu ini akan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan.
Semangat Hindu semangat kita bersama.

Bersama Semangat Hindu kita berbagi berita dan cerita, info kegiatan, bakti sosial dan kepedulian, serta kegiatan keagamaan seperti ; pujawali, Kasadha, Kaharingan, Nyepi, Upacara Tiwah, Ngaben, Vijaya Dhasami dan lain sebagainya.

Marilah Berbagi Berita, Cerita, Informasi, Artikel Singkat. Bagi yang mempunyai Web/Blog, dengan tautan URL maka dapat meningkatkan SEO Web/ blog Anda.

Terima Kasih
Admin

RANBB

---#### Mohon Klik Share untuk mendukung blog ini ####---

Senin, 11 April 2022

FILSAFAT HINDU SAD DARҪANA

Apakah Sad Darҫana itu ?

 Apakah Sad Darҫana itu ? Sad Darҫana : berarti enam sistem filsafat Hindu yang terdiri dari : (1) Nyaya, (2) Vaisesika, (3) Sankhya, (4) Yoga, (5) Purwa Mimamsa, (6) Vedanta.

Adapun penjelasan singkat daripada sistem-sistem tersebut adalah sebagai berikut :






Artikel Terkait Vasudhaiva Kutumbakam :

1.      NYAYA

Adalah sistem realisme yang logis (Logical Realism). Sistem ini mempercayai eksistensi dunia luar yang tidak tergantung dari jiwa-jiwa yang memikirkannya dan berusaha untuk membentuk kepercayaan melalui pemikiran yang logis.

Menurut sistem Nyaya, ada empat alat untuk mencapai pengetahuan yang valid, yang memenuhi persyaratan, yaitu : persepsi (perception = pengamatan indria = pratyaksa), inferensi (inference = penarikan kesimpulan = anumana), komparasi (comparison = perbandingan = umpamanya), dan testimony (bukti yang berasal dari authoritas = ҫabda).

Sistem Nyaya ini mengenal 16 katagori yaitu :

1.          Alat-alat untuk memperoleh pengetahuan yang valid, yang memenuhi persyaratan (Pramana).

2.          Obyek-obyek pengetahuan yang memenuhi persyaratan (Prameya)

3.          Keragu-raguan (Samsaya)

4.          Tujuan (Prayojana)

5.          Contoh-contoh (Drstanta)

6.          Kesimpulan-kesimpulan yang telah terbentuk (Siddhanta)

7.          Bagian-bagian dari sylogisme (Avayava)

8.          Reductio ad absurdum (Tarka)

9.          Pengetahuan yang tertentukan (Nirnaya)

10.      Pengargumentasian untuk memperoleh  kenyataan (Vada)

11.      Pengargumentasian secara konstruktif atau secara destruktif untuk mencapai kemenangan (Jalpa)

12.      Pengargumentasian yang melulu bersifat destruktif (Vitanda)

13.      Alasan-alasan yang salah (Hetvabhasa)

14.      Permainan kata (Chala)

15.      Penolakan untuk memenangkan, yang tampaknya benar, tetapi sebenarnya salah (Jati)

16.      Titik-titik kelemahan (Nigrahasthana)

 

2.      VAISESIKA

Adalah sistem pluralisme atomistis, yang mempercayai pluralitas dari realitas dan menganggap dunia physik, alam jasmani ini, sebagai terdiri dari benda-benda, yang masing-masing dapat diredusir menjadi sejumlah atoom-atoom.

Sekalipun sistem Vaisesika ini pada mulanya merupakan sistem yang berdiri sendiri, tetapi begitu memulai masa perkembangannya segera bergabung dengan sistem Nyaya, karena ada hubungan meta-physika yang erat dengan sistem Nyaya.

Syncretisme dari Nyaya dan Vaisesika begitu lengkap, sehingga para penulis pada masa-masa belakangan, memperlakukannya sebagai sistem hyphenated, yaitu sistem Nyaya Vaisesika, yang merupakan gabungan theori pramana dari Nyaya, dan schema katagori-katagori (padartha) dari Vaisesika.

Doktrin yang paling penting dari Vaisesika, ialah mengenai katagori-katagori. Sistem katagori (padartha) adalah apa yang diketahui (jneya), dapat dikenal dengan melalui persyaratan-persyaratan (prameya), dan dapat dinamai atau ditunjukkan (abhid heyi). Jumlah katagori itu ada tujuh, yaitu : substansi (dravya), kwalitas (guna), aktivitas (karma), generalitas (samanya), particularitas (visesa), inherensi (samavaya), dan non-existensi (abhava).

Aslinya hanya ada enam katagori saja, lalu dengan ditambah katagori non-existensi (abhava), menjadi berjumlah tujuh.

 

 

3.      SANKHYA

Adalah suatu sistem realisme, dualisme dan pluralisme. Kita namakan realisme, karena Sankhya itu mengenal realitas dunia yang tidak tergantung dari jiwa atau roh; kita namakan dualisme karena Sankhya itu berpendapat bahwa ada dua realitas yang fundamental, dimana keadaannya yang satu berbeda dengan yang lain, yaitu zat (matter) dan roh (spirit); kita namakan pluralisme, karena Sankhya mengajarkan ajaran tentang pluralitasnya roh atau jiwa. Dengan pendek dapat kita katakan bahwa Sankhya itu adalah sistem dualisme yang bersifat kwalitatif dan adalah sistem pluralisme yang bersifat numerical.

Doktrin pokok dari Sankhya adalah bahwa di alam semesta ini terdapat dua katagori fundamental yang bersifat constitutive, dari realitas, yaitu purusa dan prakerti, atau roh (spirit) dan zat (matter). Purusa adalah kesadaran murni yang tidak mengalami perubahan dan bersifat multiple (banyak); prakreti adalah prius (dasar utama) dari sesuatu ciptaan yang sifatnya kaku dan tunggal.

Kedua hal tersebut yaitu purusa dan prakreti berlawanan secara diametrical, yang satu terhadap yang lainnya. Sekaligus purusa dan prakreti itu merupakan antithetical satu terhadap yang lainnya, namun terdapat kenyataan bahwa adanya evolusi dunia itu karena adanya kerja sama dari kedua unsur tersebut.

4.      YOGA

Sistem Yoga tidak mempunyai metaphysicanya sendiri. Sistem yoga menerima filsafat Sankhya dan memformulasikan suatu methode untuk mencapai tujuan manusia, seperti yang digambarkan oleh Sankhya.

Untuk mencapai tujuan hidup, yang harus dikerjakan ialah mengisolasikan purusa  dari  prakreti; pengisolasian itu dapat dilaksanakan dengan proses pengontrolan pikiran.


Artikel Terkait Vasudhaiva Kutumbakam :

Apabila pikiran dapat diterangkan dan dikosongkan, dan apabila di situ tidak ada refleksi lagi, maka purusa akan dapat menyadari sifatnya sendiri dan dapat menghindari jeratan prakreti. Methode untuk dapat menyadarkan purusa akan sifatnya sendiri itu disebut yoga.

5.      PURWA-MIMAMSA

Sistem-sistem filsafat yang telah kita bicarakan di muka, sekalipun menerima autoritas Kitab Suci Weda, dengan demikian kita namakan astika,  tetapi sistem-sistem filsafat tersebut tidak menggantungkan diri sepenuhnya kepada ajaran-ajaran Veda.

Sekarang akan kita bicarakan sistem-sistem filsafat yang secara ketat menggantungkan diri kepada Kitab Suci Weda; yaitu Purwa-Mimamsa dan Uttara-Mimamsa.

Seperti namanya telah menyebutkan, kedua mazab filsafat tersebut berturut-turut berusaha untuk mengadakan penyelidikan tentang bagian permulaan (Purwa) dari Kitab Suci Weda, dan bagian akhir (=Uttara) dari Kitab Suci Weda. Bagi Purwa-Mimamsa, bagian Weda yang penting yang diselidiki adalah, mengenai Brahmana;  sedangkan bagi Uttara-Mimamsa yang diselidiki adalah Upanisad.

Sekalipun kedua sistem tersebut mengikut secara setia kepada text-text dari Kitab Suci Weda dan mempelajarinya menurut ilhamnya sendiri-sendiri, tetapi kedua sistem itu dapat kita namai filsafat, karena yang menonjol dari ajarannya adalah segi methodenya yang berdasarkan penyelidikan yang rasional atau berdasar logika (mimamsa) itu.

Kalau Uttara-mimamsa  itu lebih dikenal dengan nama Vedanta,  maka Purwa-mimamsa demi untuk singkatnya kita namai mimamsa saja. Tujuan utama dari mimamsa ialah untuk membentuk authoritas Kitab Suci Weda, dan menonjolkan segi ritualnya dari Weda. Oleh karena itu dalam Purwa-Mimamsa ini juga dikenal dengan nama Karma-Mimamsa. Mengenai posisi philosophisnya, Purwa-Mimamsa ini banyak sedikitnya sama dengan realisme-pluralitasnya Nyaya-Vaisesika.

6.      VEDANTA

Berarti bagian akhir dari Kitab Suci Weda (Veda+anta). Perkataan anta , seperti perkataan bahasa Inggris end berarti titik akhir atau tujuan. Kitab Suci Upanisad dinamakan Vedanta, karena Kitab Suci Upanisad itu kebanyakan merupakan bagian penutup dari Kitab Suci Weda dan karena makna atau inti sari Weda itu terdapat pada Kitab-Kitab Suci Upanisad.

Sistem-sistem filsafat yang menganggap Kitab Suci Upanisad sebagai text-text-nya yang fundamental, dikenal juga dengan Vedanta. Kalau Mimamsa dan Vedanta itu dua-duanya berhubungan dengan Kitab Suci Weda, dan menganggapnya sebagai pramana  yang paling agung, maka perbedaannya terletak pada masalah : Bagian yang mana dari Kitab Suci Weda itu yang primair ?

Kalau segi ritualnya, maka Vedanta mendapatinya ada segi pengetahuannya. Karena di dalam ajaran Kitab Suci Upanisad yang membentuk bagian pengetahuan dari Kitab  Suci Veda itu, Brahman (Tuhan Yang Maha Esa) merupakan realitas yang tertinggi, maka Vedanta dinamakan Brahma-Mimamsa.

Oleh karena Kitab Suci Vedanta itu juga membicarakan sifat dari roh yang mempergunakan badan jasmani, maka Vedanta juga dinamakan Sariraka-Mimamsa.

 


Minggu, 10 April 2022

Kidung-Kidung Dewa Yadnya

 Kidung-Kidung Dewa Yadnya

Kidung yang terkait dengan Dewa Yadnya biasanya menggambarkan suasana yang khusyuk, dengan nada irama yang tenang dan mengalun seiring dengan puja mantra yang dihaturkan oleh para Sulinggih.



Ciri khas kidung Dewa Yadnya adalah liriknya mengandung unsur-unsur  pemujaan ,puji-pujian kepada Ida Sang Hyang Widhi, dilantunkan dengan perlahan-lahan dan penuh kekhusyukkan.

Berikut di bawah ini beberapa jenis kidung yang digunakan untuk mengiringi rangkaian upacara Dewa Yadnya, khususnya yang berlaku di Bali.




Tatkala nuntun Ida Bhatara: Kawitan Wargasari, Wargasari;


Artikel Terkait Vasudhaiva Kutumbakam :

  • tatkala mapiuning,menghaturkan upacara: Brahmara Ngisep Sari, Kawitan Wargasari, dan
  • menghaturkan byakaon,prayascita, dll: Kidung Wargasari
  • memendak atau melastiWargasari
  • tatkala muspa: Kakawin Mredu Komala, Kakawin Totaka;
  • tatkala nunas tirta: kidung wargasari; pupuh adri, rare kadiri
  • tatkala maprani: kidung warga sirang, kidung wargasari
  • tatkala nyineb: warga sirang.

Kamis, 07 April 2022

Tabuh Telu Gesuri Sekaa Gong Semara Dharma Gita Kutuh Sayan Ubud

 Tabuh Telu Gesuri Sekaa Gong Semara Dharma Gita Kutuh Sayan Ubud

Tabuh Kreasi Baru Terbaik PLEASE SUBSCRIBE - LIKE - COMMENT – SHARE

Mohon di SUBSCRIBE n LIKE, Terima Kasih

SIMAK VIDEONYA PADA LINK DIBAWAH INI !!

Tabuh Bebarongan Sekaha Gong PEWA Banjar Serang Banten https://youtu.be/TtHx3WC1daw

Tabuh Tari Rejang Sari Sekaa Gong Banjar PEWA Serang Banten https://youtu.be/BqAa-CNHcpY

KEREN ! Baleganjur Muda Mudi Hindu Tangerang Selatan https://youtu.be/4NMH9oMGxUc

Belajar Tabuh Tari Rebong Puspa Mekar https://youtu.be/dpPGTs4myf0

Baleganjur Permuditha Muda-Mudi Tangerang https://youtu.be/POztTk4fK-Y

Belajar Calung Tabuh Tari Rejang Dewa https://youtu.be/wjeEmnksS-E

 

Tabuh Bebarongan, Sekaha Gong PEWA Banjar Serang, Tabuh Tari Rejang Sari, Baleganjur Muda Mudi Hindu, Belajar Tabuh Tari Rebong, Tabuh Tari Rebong, Baleganjur Permuditha, Belajar Calung, Tari Rejang Dewa

 

TARI BALI

Tari Sekar Jagad Parahyangan Jagatguru BSD Tangsel || Balinese Dance https://youtu.be/XcGYiYo-VW0

 


Artikel Terkait Vasudhaiva Kutumbakam :

INSTRUMENTAL

Full Versi Tabuh Gari STSI Denpasar || Balinese Gamelan https://youtu.be/15QjzLdyUa8

Tabuh Tari Topeng Keras || Balinese Gamelan https://youtu.be/LqFUbHHYuf0

 

Cara Mengkilapkan Uang Kepeng Cina 'Pis Bolong' Hitam menjadi Kuning https://youtu.be/phFwAORCjPg



Kamis, 10 Juni 2021

Hindu Banten : Yadnya yang Satwika

Hindu Banten Yadnya yang Satwika 

Dalam kitab Yayur Weda 19.30 disebutkan : Pratena diksam apnoti. Diksaya apnoti daksinam. Daksina sraddham apnoti. Sraddhaya satyam apyate. Artinya: "Melalui pengabdian kita memperoleh kesucian. Dengan kesucian kita mendapatkan kemuliaan. Dengan kemuliaan kita mendapatkan kehormatan. Dan dengan kehormatan kita peroleh kebenaran." Sehingga bentuk pelayanan dan pengabdian ber-Yadnya yang Satwika tentu sangatlah baik dilakukan oleh setiap umat Hindu, lebih-lebih menjalani “Sewaka Dharma “ yaitu melakukan pelayanan dengan penuh ikhlas dan total.




Ber-Yadnya yang Satwika akan dapat dilakukan oleh setiap umat jika didasari oleh :

Bhagawad Gita

1.    Sraddha: Yadnya harus dilakukan dengan keyakinan penuh

2.    Aphala: Tanpa ada motif untuk mengharapkan hasil dari pelaksanaan yadnya yang dilakukan karena tugas manusia hanya mempersembahkan dan dalam setiap yadnya yang sebenarnya sudah diduga hasilnya.

3.    Dharma Gita: ada lagu-lagu kerohanian yang dilantunkan dalam kegiatan yadnya tersebut.

4.    Mantra: pengucapan doa-doa pujian kepada Brahman.

5.    Punia Daksina: penghormatan kepada pemimpin upacara berupa Rsi Yadnya

6.    Lascarya: Yadnya yang dilakukan harus bersifat tulus ikhlas.

7.    Nasmita: tidak ada unsur pamer atau jor-joran dalam Yadnya tersebut.

8.    Annaseva: ada jamuan makan - minum kepada tamu yang datang pada saat Yadnya dilangsungkan, berupa Prasadam / lungsuran, karena tamu adalah perwujudan Brahman itu sendiri 

9.    Sastra: setiap Yadnya yang dilakukan harus berdasarkan pada sastra yadnya atau sumber sumber yang jelas, baik yang terdapat dalam Sruti maupun Smrti.


Manavadharmasatra

Dalam Manavadharmasatra VII.10 bahwa setiap aktivitas spiritual termasuk Yadnya yang dilakukannya dengan mengikuti;

1.    Iksa: Yadnya yang dilakukan implementasi sesuai dng  maksud dan pengertiannya.

2.    Sakti: disesuaikan dengan tingkat kemampuan baik dana maupun pemahaman kita terhadap Yadnya yang dilakukan sehingga tidak ada kesan pemborosan dalam Yadnya tersebut.

Sesuai dengan Desa Kala Patra,

1.    Desa: memperhatikan situasi dimana Yadnya tersebut dilakukan termasuk sumber daya alam yang dimiliki oleh wilayah tersebut.

2.    Kala: kondisi suatu tempat juga harus mempertimbangkan kondisi alam, maupun umat.

3.    Tattva: dasar sastra yang dipakai sebagai acuan untuk melaksanakan Yadnya tersebut,

Manavadharmasastra II.6 ada lima sumber hukum Hindu yang dapat dijadikan dasar pelaksanaan Yadnya, yaitu: 

1.    Sruti, wahyu Tuhan secara langsung.

2.    Smrti, yang perlu diperhatikan dan dihayati

3.    Sila, agar tidak menyimpang dari norma-norma kebenaran dan peringatan

4.    Acara yang praktis dalam kegiatan praktis menunjukkan rasa bhakti dan kasihnya kepada Hyang Widhi Wasa.

5.    Atmanastusti, mengantarkan umat mencapai kebahagiaan rokhani.



Kamis, 24 September 2020

TANYA JAWAB UPACARA SEHARI-HARI UMAT HINDU

 TANYA JAWAB UPACARA SEHARI-HARI  UMAT HINDU

Tanya

:

Upacara (yadnya) dalam agama Hindu berdasarkan waktu pelaksanaannya dibedakan atas berapa ?

Jawab

:

1.      Nitya Karma Yadnya

2.      Naimitika Karma Yadnya

Tanya

:

Apakah yang dimaksud dengan Nitya Karma Yadnya ?

Jawab

:

Yadnya atau upacara yang dilaksanakan setiap hari.

Tanya

:

Apakah contoh pelaksanaan Nitya Karma Yadnya ?

Jawab

:

1.      Trisandhya ; sembahyang tiga kali sehari

2.      Yadnya Cesa ;

Tanya

:

Apa yang dimaksud Trisandhya ?

Jawab

:

Tri artinya Tiga. Sandhya artinya perhubungan atau penyatuan. Trisandhya artinya menghubungkan diri (sabda, bayu, idep atau tenaga, ucapan, pikiran) dengan Hyang Widhi yang dilakukan tiga kali sehari; pagi, siang dan sore hari.

Tanya

:

Apa yang dimaksud Yadnya Cesa ?

Jawab

:

Yadnya yang merupakan upakara atau banten saiban (jotan) yaitu nasi sejumput kecil diisi garam, ikan, sayur sebagai tanda terima kasih kepada Tuhan dan segala macam manifestasi-Nya.

Tanya

:

Apa dasar pelaksanaan Yadnya Cesa ?

Jawab

:

BhagawadGita IV.31 menyebutkan :

Yajna sistamrta bujo yanti brahma sanatanam, na, yamloko;sty ayajnasya kuto’ nyan kurusattama / Mereka yang makan dari sisa persembahan, amerta, mencapai Brahman yang kekal abadi, dunia ini bukan bagi yang tidak beryadnya, apapula dunia yang lain.

Tanya

:

Apakah yang dimaksud dengan Naimitika Karma Yadnya ?

Jawab

:

Yadnya yang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu, seperti :

1.      Panca (Maha) Yadnya,

2.      Panca (Marga) Yadnya,

3.      Hari-hari Raya Suci Agama Hindu dan

4.      Rerahinan ( hari raya kecil ).  

 



Jumat, 18 Oktober 2019

Percikan Dharma Hadapi Berbagai Bentuk Kejahatan



Percikan Dharma
Hadapi Berbagai Bentuk Kejahatan

Umat se-dharna, dalam kehidupan ada saja bentuk kejahatan yang harus dihadapi oleh umat manusia. Janganlah mundur menghadapi kejahatan? Hadapi orang hahat atau curang dengan ke
bijaksanaan, taklukkan orang yang bengkok dengan akal yang sehat, perlakukan orang yang jahat sesusi hukum (biarlah hukum yang melindungi atau menghukum mereka), jangan gentar menghadapi pelaku kejahatan, demikian pula jangan memakai ilmu sihir, sebab membahayakan pemakainya. Perlakukan orang lain sepantasnya dan bahkan sebagai sahabat.

Hadapi orang yang curang dengan bijaksana



Tvam mayabhir apa mayino
adham ah, svadhabhir ye adhi
suptav ajuhvata.

Rg Veda I. 52. 5

Artinya
Sang Hyang Indra, Engkau meremukan orang-orang yang licik yang menaruh sesaji-sesaji di dalam mulut mereka sendiri, dengan alat-alatmu yang baik.

Ulasan
Bahwa dalam kehidupan ini ada saja yang melakukan kecurangan atau kejahatan sehingga membahayakan hidup manusia. Untuk itu hadapi semua kejahatan atau kecurangan dengan sikap bijaksana agar kita tetap wasapada dan terhindar dari segala bahaya yang setiap saat menghampiri hidup kita.

Demikian yang bisa dilakukan agar bisa terhindar dari kejahatan atau kecurangan dalam hidup di dunia ini. Oleh karena itu jangan ragu untuk tetap melaksanakan kebajikan agar selalu tetap terhindar dari segala kejahatan atau kecurangan dalam hidup ini.

CHANNEL YOUTUBE SAYA - MOHON DI SUBSCRIBE

Cari Artikel di Blog ini

Berita Terkait Semangat Hindu

Artikel Agama Hindu

108 Mutiara Veda 3 kerangka agama hindu advaita visistadviata dvaita Agama Hindu Dharma agama islam Ajaran Hindu aksara suci om alien menurut hindu Apa yang dimaksud Cuntaka Apa yang dimaksud dengan Japa Apa yang dimaksud dengan Puja arcanam nyasa aris widodo artikel hindu arya dharma Arya Wedakarna Asta Brata Atharvaveda Atman avatara sloka babad Badan Penyiaran Hindu bagian catur weda bahasa jawa kuno bahasa kawi bahasa sanskerta Banggalah Menjadi Hindu banten hindu bali Belajar Hindu BELAJAR ISTILAH AGAMA HINDU bhagavad gita Bhagawadgita bhagawan bhuta yadnya Bimas Hindu BPH Banten brahma wisnu siwa Brahman Atman Aikyam brahmana ksatriya wesia sudra budaya bali budha kliwon sinta Bukan Heroisme buku hindu terpopuler Canakhya Nitisastra cara sembahyang hindu catur asrama Catur Brata Catur Cuntakantaka Catur Purusha Artha Catur Purusharta catur veda Catur Warna Catur Weda Cendekiawan Hindu Cinta Kasih Dalam Perspektif Hindu Dana Punia Deva adalah sinar suci Brahman Deva Brahma Deva Indera dewa dewi hindu dewa yadnya dewata nawa sanga dewi kata-kata dewi saraswati dharma artha kama moksa Dharma Santi dharma wacana Doa Anak Hindu donasi buku hindu epos mahabharata ramayana filosofi pohon bambu filsafat agama hindu ganesha Gayatri Sebagai Mantra Yoga Hari Raya Galungan Hari Raya Kuningan Hari Raya Nyepi Hari Raya Pagerwesi Hari Raya Saraswati Hari Raya Siwaratri HINDU adalah ARYA DHARMA HINDU ADALAH SANATHANA DHARMA HINDU ADALAH VAIDHIKA DHARMA Hindu Agama Terbesar di Dunia Hindu Banten Hindu beribadah di Pura Hindu Festival Hindu Indonesia hindu nusantara Hindu Tengger Hinduism Facts Hinduism the Greatest Religion in the Word Hukum Karma Ida Pedanda sakti isi catur weda Jadilah Manusia Setia Japa dan Mantram Jiwa jual buku hindu kakawin Kamasutra Keagungan Aksara Suci OM Kekawin Lubdhaka kepemimpinan jawa kuna Kerajaan Hindu Keruntuhan Agama Hindu kesadaran diri kidung dewa yadnya Kitab Suci Weda lontar Lontar Kala Maya Tattwa Maharsi Atri Maharsi Bharadvaja Maharsi Gritsamada Maharsi Kanva Maharsi Vamadeva Maharsi Vasistha Maharsi Visvamitra manawa dharma sastra Mantra Mantra Yoga manusa yadnya Meditasi Matahari Terbit Mengapa Kita Beragama menghafal sloka Mimbar Agama Hindu Moksha Motivasi Hindu Mpu Jayaprema nakbalibelog Naskah Dialog Nuur Tirtha Om or Aum one single family opini hindu moderat Panca Sradha panca yadnya Panca Yajna pandita Panglong 14 Tilem Kepitu parahyangan agung jagatkartta paras paros segilik seguluk Pasraman Pasupati Pembagian Kitab Suci Veda Pemuda Hindu Indonesia pendidikan hindu pengertian catur weda Pengertian Cuntaka penyuluh agama hindu Peradah percikan dharma Percikan Dharma Dewa Yajna phdi pinandita Pitra Yadnya Ngaben Pitrapuja potong gigi Principle Beliefs of Hinduism Proud To Be Hindu Puja dan Prathana Pujawali purana purnama tilem Purwaning Tilem Kapitu Radio online Bali rare angon nak bali belog Reinkarnasi Rgveda ritual hindu Roh Rsi yadnya sabuh mas sad darsana sad guru Samaveda sanatana dharma sang hyang pramesti guru Sang Kala Amangkurat Sang Kala Dungulan Sang Kala Galungan Sang Kala Tiga sapta rsi Sapta Timira Sarassamuscaya Sarassamuscaya Sloka sattvam rajah tamah sejarah agama hindu Sekta Hindu Semangat Hindu seni budaya hindu Sex and Hinduism siwa budha waesnawa siwa ratri Sloka sloka bhagawad gita sloka bhatara sloka Rgveda sloka yayurveda Slokantara Sloka Spiritual Bersifat Misterius spiritualitas hindu spma ribek sradha dan bhakti sri rama krishna paramahansa Sri Sathya Sai Baba Sri Svami Sivananda sumpah dalam perkara tabuh gesuri tabuh kreasi baru tabuh telu lelambatan tantri kamandaka tat twam asi tattwa susila upakara Tempat Suci Hindu tiga hubungan harmonis tri hita karana Tri kaya parisudha tri kerangka agama hindu tri mala tri pramana Triji Ratna Permata tujuan perkawinan tujuh penerima wahyu tumimbal lahir upacara hindu upacara menek deha Upanisad upaweda Utsawa Dharma Gita vaidhika dharma Vasudhaiva Kutumbakam VEDA ADALAH ILMU PENGETAHUAN SUCI vedangga Vijaya Dashami Wasudewa Kutumbhakam widhi tatwa wija kasawur wiwaha agama hindu Yajna dan Sraddha yajna dan sradha Yayurveda Yoga Kundalini