OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM

PRAKATA

Selamat Datang

Semangat Hindu merupakan blog bersama umat Hindu untuk berbagi berita Hindu dan cerita singkat. Informasi kegiatan umat Hindu ini akan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan.
Semangat Hindu semangat kita bersama.

Bersama Semangat Hindu kita berbagi berita dan cerita, info kegiatan, bakti sosial dan kepedulian, serta kegiatan keagamaan seperti ; pujawali, Kasadha, Kaharingan, Nyepi, Upacara Tiwah, Ngaben, Vijaya Dhasami dan lain sebagainya.

Marilah Berbagi Berita, Cerita, Informasi, Artikel Singkat. Bagi yang mempunyai Web/Blog, dengan tautan URL maka dapat meningkatkan SEO Web/ blog Anda.

Terima Kasih
Admin

RANBB

---#### Mohon Klik Share untuk mendukung blog ini ####---

Selasa, 04 Agustus 2015

Universitas Hindu Indonesia

Universitas Hindu Indonesia

Visi:
Menjadi Universitas unggulan di Indonesia serta pusat pengkajian dan pengembangan agama dan budaya Hindu terbaik di kawasan regional
Misi:
1. Menyelenggarakan pendidikan tinggi berbasis kompetensi yang mengacu kepada Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan menganut nilai-nilai ke-Hinduan
2. Menerapkan manajemen Universitas mengacu pada standar akreditasi
3. Mengkaji dan mengembangkan Agama dan Budaya Hindu Indonesia melalui pendidikan, pembelajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat berbasis TIK
4. Membangun citra Unhi sebagai institusi Pendidikan TInggi serta berpusat pengkajian dan pengembangan Agama dan Budaya Hindu Indonesia

Kunjungi http://www.unhi.ac.id


Berdirinya Universitas Hindu Indonesia, berawal dari keinginan Para Majelis Agama Hindu membangun atau mengadakan asrama Pangadyayan (Perguruan Tinggi Agama) sebagai tempat untuk mempelajari dharma. Keinginan tersebut terdapat dalam suatu keputusan yang kemudian lebih dikenal dengan nama “Piagam Campuhan Ubud” dan tercetus pada pertemuan yang disebut “Dharmacrama” yang bertempat di campuhan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali.

Butir II Piagam Campuhan Ubud inilah yang menjadi titik tolak atau tonggak sejarah pendirian Perguruan Tinggi Agama Hindu dengan nama “Maha Widya Bawana” atau Institut Hindu Dharma (IHD). Cita-cita luhur tersebut dapat diwujudkan dua tahun kemudian yaitu pada tanggal 3 Oktober 1963, bertepatan pula dengan hari Purnama Kartika (Purnama Sasih ke 4). Pada hari yang bersejarah ini lahirlah Lembaga Pendidikan Tinggi Agama hindu yang pertama di bumi Nusantara ini.

Pada Awal berdirinya IHD hanya menagasuh dua fakultas yakni fakultas Agama dan kebudayaan serta Fakultas keguruan dan Ilmu Peniddikan Jurusan Biologi. Dibukanya dua fakultas ini sesuai dengan keinginan dan aspirasi yang berkembang ketika itu. Agama dan Kebudayaan merupakan dua aspek yang cukup penting untuk dilestarikan dan dikembangkan sehingga nantinya mampu menunjukan peran sertanya dalam kancah pembangunan Nasional. Sementara dibukanya fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Khususnya Jurusan Biologi dimaksudkan agar makna Kitab Usada (Ilmu Pengobatan Tradisional) semakin tergali dan dapat disebarluaskan di masyarakat.

Semakin tinggi animo masyarakat, menyebabkan pengelola IHD mulai mempertimbangkan untuk membuka fakultas-fakultas baru atau memodifikasi fakultas yang telah ada. Oleh karena itulah dibuka beberapa fakultas lagi guna menampung berbagai aspirasi yang berkembang di masyarakat.
Pada akhirnya IHD memiliki empat fakultas masing-masing: Fakultas Ilmu Agama, Fakultas Ilmu Pendidikan Agama, Fakultas Hukum Agama, dan Fakultas Sastra dan Filsafat Agama. Dengan empat fakultas ini, IHD semakin dikenal senagai pengelola Pendidikan tinggi yang berafiliasi agama Hindu. IHD berhasil melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan sukses, baik dalam bidang pengajaran, penilitian, dan pengabdian pada masyarakat.

Namun demikian, setelah 30 tahun IHD berdiri, yang merupakan satu-satunya Lembaga Perguruan Tinggi Agama Hindu di Indonesia sampai saat itu belum bisa menghasilkan sepenuhnya para sarjana yang mampu menjawab perubahan dan tantangan zaman pada saat itu, sehingga mereka banyak yang kalah bersaing dalam pasaran tenaga kerja dengan para sarjana lulusan Perguruan Tinggi Lainnya. Hal ini mengakibatkan banyak sarjana IHD menjadi pengangguran.

Hendaknya disadari bahwa, pengelolaan Perguruan Tinggi akan menjadi sulit apabila mahasiswa yang dibina sangat minim. Ide untuk mengembangkan diri secara lebih terbuka dan dapat menampung aspirasi yang lebih bervariasi mulai muncul. Dalam konteks nasional pembangunan dilaksanakan didalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyartakat Indonesia. Dalam proses ini maka seluruh lapisan masyarakat termasuk umat hindu, harus ikut secara aktif dalam perencanaan dan pelaksanaannya.

Usaha-usaha di dalam penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, keterampilan khusus, mutlak diperlukan tentunya tanpa bertentangan dengan nilai-nilai agama Hindu. Melihat hal itu, dan melihat juga latarbelakang berdirinya IHD yang semata-mata didorong oleh keinginan luhur dan kurangnya pembinaan terhadap umat Hindu di masa lalu, sudah sepantasnya dirubah bentuknya menjadi Universitas Hindu yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tantangan-tantangan yang semakin komplek dewasa ini.

Dan dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 75/D/O/1993 tertanggal 19 Mei 1993, maka secara resmi Universitas Hindu Indonesia (UNHI) berdiri di kota Denpasar.

Minggu, 26 Juli 2015

9 Aktivitas Tergolong Dalam Sifat Nafsu

Aktivitas Apa saja yang tergolong dalam Sifat Nafsu ?
  • Makan makanan yang terlalu pahit, terlalu asam, terlalu asin, terlalu panas, manis-manisan berlebihan, pedas, kering dan hangus. Makanan seperti ini menyebabkan penyakit.
  • Melakukan kurban suci (yajnya/yadnya) untuk mendapatkan keuntungan material, atau demi kebanggaan diri/ ego palsu.
  • Melakukan pertapaan karena rasa bangga dan demi penghormatan, penerimaan derma, dan sanjungan
  • Berderma dengan harapan suatu imbalan / pahala, atau dengan keinginan mendapatkan pahala, atau berderma dengan terpaksa.
  • Memelihara pemahaman yang membuat seseorang melihat setiap badan berbeda derajat, dengan jiwa yang berbeda derajat pula.

  • Melakukan tindakan-tindakan yang memerlukan usaha keras demi kepuasan nafsu, dan terjerat di dalamnya.
  • Melakukan kewajiban karena ikatan untuk bekerja dan terpikat oleh hasil pekerjaan itu, menginginkan untuk dapat menikmati hasilnya, sehingga menjadi rakus, selalu iri hati, curang dan digerakkan oleh suka dan duka.
  • Bertekad keras untuk menginginkan pahala dalam melaksanakan ritual-ritual keagamaan untuk kemajuan ekonomi dan kepuasan inderawi.
  • Menikmati kesenangan yang diperoleh dari hasil kontak dengan indera-indera bersama obyek-obyeknya, yang seolah nikmat pada awalnya padahal racun kemudian.
Dikutip dari Buku Sri Krsna Ayat-Ayat Suci Bhagawad-Gita oleh Sri Srimad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada. (RANBB)

Kamis, 07 Mei 2015

Hindu Kupang Nusa Tenggara Timur



Senin, 04 Mei 2015

Pura Agung Jagat Natha Kalimantan Selatan

Suasana sakral terpancar saat peninjuan dan peresmian Pura Agung Jagat Natha, tempat ibadah umat Hindu Kalsel, di kawasan Jalan Gatot Subroto Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Sabtu (2/5/2015) petang.



Upacara Agnihotra atau upacara persembahan atau pemujaan dengan media penyalaan api membuat suasana sakral. Sejumlah pejabat Kalsel, menyaksikan langsung upacara tersebut, seperti Gubernur Kalsel H Rudi Arifin, Danrem 101 Antasari, Wakil Ketua DPRD Provinsi Bali I Gusti Alit Putra, Kepala Kanwil Kemenag Kalsel HM Tamrin, Pemimpin Umum Banjarmasin Post Group H (P) Rusdi Effendi AR, Pemimpin Redaksi Yusran Pare, Ketua FKUB Kalsel HM Fadhly Mansur, Sekretaris FKUB Kota Banjarmain H Irhamsyah Safari, Wakil Wali Kota Banjarmasin Iwan Ansyari dan ratusan umat Hindu dari Kalsel.

Suasana seperti di Bali juga terasa kuat di peresmian Pura Agung Jagat Natha. Ratusan umat Hindu memakai baju safari dan kebaya khas Bali. Saat pembukaan iring-iringan gamelan gong Bali menyambut kedatangan Gubernur Kalsel HM Rudi Arifin. Tamu-tamu yang masuk diberi selendang warna kuning untuk dipakai sebagai simbol akan masuk ke tempat yang suci. Setelah Rudy Ariffin duduk, tamu dihibur oleh tarian penyambutan tamu yakni Tari Panyembrahma oleh sanggar. Ratusan tamu undangan pun tampak terpukau dengan tarian khas Bali tersebut. Lirik mata, senyum, keceriaan dari setiap penari yang membawakan tarian ini membuat mata tamau seakan tak berkedip. Tarian Panyembrahma tampak sangat seirama dengan musik, atau gamelan, hentakan kaki, gemulai tangan, kelembutan jari jemari, gerakan tubuh serta goyangan pinggul dari para penari.

HM Rudy Ariffin, dalam sambutannya menyatakan, keberadaan Pura Agung Jagat Natha menunjukkan adanya kebersaman yang selalu dijunjung antara umat beragama di Kalsel. Menurut Rudy, satu bulan lalu dirinya meresmikan kantor Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Banjarmasin. Umat GKI di Kalsel paling minim, justru yang besar itu di Kalbar, Kalteng dan Kaltim. "Namun malah kantor pusatnya di Banjarmasin. Ini membuat saya terharu," ucap Rudi. 

Dijelaskan Rudi, selama dua periode memimpin Kalsel atau hampir 10 tahun, alhamdulillah belum pernah ada konflik etnis atau agama di provinsi ini. Ini menunjukkan toleransi antara umat beragama di Kalsel sangat tinggi. Dijelaskan Rudy, filosofi pemerintah adalah tidak memihak mayoritas atau minoritas. Namun pemerintah itu berdiri di tengah-tengah semua agama dan memberikan rasa aman, ketenangan dan pengayoman. "Mari semua umat beragama di Kalsel bersatupadu untuk membangun Kalsel tercinta ini," pinta Rudy. Sumber berita : http://bali.tribunnews.com

Kamis, 30 April 2015

Upakara Yadnya; Ajaran Hindu Bersifat Fleksibel

UPAKARA YADNYA HINDU
upakara bali
Upakara Yadnya
Mengenai Upakara Yadnya atau Banten ini sudah ada sorotan tajam dipertanyakan dari segi eksistensinya maupun faktor ekonominya, apakah masih relevan pada masa kehidupan sekarang ini?. Apakah tidak bisa disederhanakan karena banyak menyita waktu, tenaga dan dana ?

Dulu, para pendahulu kita dalam mengamalkan Ajaran Kitab Suci Weda memilih Upakara Yadnya atau Banten sebagai perwujudan konkrit rasa bakti itu kepada Sang Hyang Widhi. Jadi tidak heran jika dalam kehidupan kita sehari-hari diliput oleh Upakara Yadnya ini. Karena setiap Yadnya pasti ada Upacara dan setiap Upacara pasti ada Upakara Yadnya atau Banten ini. Jadi kita rupanya tidak hanya cukup hanya memuja dan memohon kepada SangHyang Widhi pada saat Puja Wali tetapi juga harus menunjukkan prilaku atau bukti tanda bakti kepada-Nya sesuai petunjuk Sastra. 

Baca Juga Apakah Hindu Tak Bisa Tanpa Ritual Banten ?



Sebenarnya Ajaran Hindu bersifat fleksibel dan elastis dalam arti ajarannya dapat dilaksanakan menurut Desa (tempat), Kala (waktu) dan Patra (keadaan). Landasannya adalah Catur Dresta yaitu Purwa Dresta (norma-norma terdahulu yang baik), Desa Dresta (uger-uger yang dibuat oleh Desa Pakraman), Loka Dresta (undang-undang atau peraturan yang dibuat oleh Pemerintah) dan Sastra Dresta yaitu ketentuan-ketentuan berdasarkan Pustaka-Pustaka yang ada atau Kitab Suci Weda. Begitu juga wujud Upakara Yadnya dari segi materi Bantennya, bisa kecil (kanistama), sedang (madyama) dan besar (uttama). Walaupun demikian masih perlu adanya Pedoman pelaksanaan mengenai Upakara Yadnya atau Banten ini menyangkut Puja Wali untuk dijadikan pegangan bersama. Hal ini perlu untuk menghindari terjadinya friksi atau perbedaan-perbedaan yang mendasar.

Tantangan dan tuntutan yang dihadapi oleh Agama Hindu tepatnya Umat Hindu bukannya dari eksternal saja tetapi juga dari dalam diri sendiri atau internal yaitu para Cendekiawan Hindu. Ada kelompok yang menghendaki agar Agama Hindu dikembalikan kepada kemurnian ajaran Kitab Suci Weda seperti halnya di India. Ada kelompok yang cendrung berpikiran rasional pragmatis dengan menggunakan pertimbangan-pertimbangan ekonomis dalam mengaplikasikan nilai-nilai Ajaran Hindu kedalam aktivitas hidup sehari-hari. Ada juga kelompok yang berpikiran tradisional yang berpegangan kepada tradisi-tradisi warisan Leluhur dengan mengikuti praktek-praktek keagamaan yang sudah ada di Bali.

Menapak kedepan menghadapi perkembangan jaman dan tantangan serta tuntutan kehidupan yang semakin sulit dan semakin majunya IPTEK dan semakin meningkatnya daya pikir atau nalar Umat Hindu membuat mereka lebih mengembangkan pemikiran rasional filosofis dimana ini mau tidak mau nantinya akan secara pelan-pelan mendesak dogmatisme.

Jadi Upakara Yadnya atau Banten ini karena menjadi ciri khas suatu Yadnya yang mempunyai nilai magis dan daya cipta spiritual yang tinggi maka Upakara Yadnya atau Banten ini tetap harus ada dan bisa disederhanakan dengan cara mengambil tingkat sederhana (Kanistama) sesuai ketentuan Sastra Agama.



Hal ini sesuai dengan himbauan dari Danghyang Dwijendra atau Bhatara Sakti Wau Rawuh yang diunggah dalam Pustaka Eka Dasa Rudra dimana beliau mengatakan : "Bahwa jaman akan berubah maka perlu ada perubahan atau pembaharuan dalam ritual agama. Perubahan dan pembaharuan ini bukannya merusak agama dan ajarannya tetapi justru untuk menyelaraskan cara berpikir agama dengan budaya manusia yang sedang berkembang. ". Ini dilakukan agar Sradha atau keimanan Hindu tidak kandas dalam perjalanan sejarah. Yang penting menurut beliau dalam perubahan dan pembaharuan itu nilai dan Sradha atau keimanan Hindu tidak berubah. Dikutip dari makalah Ida Pedanda Nabe Gde Putra Sidemen. (RANBB)

Kamis, 09 April 2015

Pemahaman Tuhan Tingkat Nirguna Brahman

Warih Sire Agra Manikan Aum, rahajeng sanje semeton Pemahaman Tuhan pada tingkat Nirguna Brahman. Pada tingkat pemahaman Nirguna Brahman, Tuhan disebut sebagai PARAMASIWA. 

Dalam kitab suci Weda, Tuhan pada tingkat ini mempunyai definisi sebagai berikut: 
  1. Apramaya, yaitu kemahakuasaan yang sulit dibayangkan melalui panca indra karena beliau sangat halus dan sempurna. 
  2. Ananta, yaitu kemahakuasaan dilukiskan tiada terbatas, beliau ada di mana-mana, dan beliau mampu merubah segala sesuatu yang diingini olehNya. 
  3. Aupamya, yaitu kemahakuasaan Hyang Widhi yang sangat sulit mencari bandingannya. Karena semua makhluk yang ada di alam semesta tidak ada menyamai kemahakuasaan-Nya. 
  4. Anamaya, yaitu yang Maha Suci. Beliau sangat mulia, tidak pernah menderita suatu penyakit. 
  5. Maha Suksme, yaitu Maha Gaib yang sangat halus. 
  6. Sarwagata, yaitu Maha ada, Maha Besar meliputi seluruh jagad raya. 
  7. Dhruwa, yaitu sangat tenang, tiada bergerak, stabil namun Ia berada di mana mana. 
  8. Awyayam, yaitu Maha sempurna, walaupun Ia mengisi seluruh alam raya semesta, kesempurnaan beliau tiada berkurang. 
  9. Iswara, yaitu Raja alam semesta. Ia mengatur alam raya semesta, dan tiada satupun kekuatan yang mampu mengatur beliau. 
  10. Swayambhu, yaitu Absolut dalam segala-galanya, tidak dilahirkan karena Beliau ada dengan sendirinya.

Oleh-oleh melali jumah Pekak Google. Suksma Kak. Warih Sire Agra Manikan Aum, pada tingkat Nirguna Brahman, Tuhan tidak mempunyai wujud lagi dan juga tidak mempunyai sebutan seperti: Leluhur, Bhatara/i, Dewa/i, Widyadara/i dll. 

Juga Tuhan tidak dapat disimbulkan/dipersonifikasikan dengan Bangunan Suci, Arca, Pretima, prelingga, busana2, Banten dan segala bentuk persembahan2. Tuhan yang biasa disimbulkan/diwujudkan/dipersonifikasikan adalah pemujaan Tuhan pada tahap pemahaman Tuhan pada tingkat SAGUNA BRAHMAN

Rahayu... 
sumber : http://sangkulputih.blogspot.com

Kamis, 05 Maret 2015

Ego Dan Keinginan

Ego dan Keinginan. 
Para pencari Kebenaran harus selalu ingat sifat yang terpisah dari Sang Diri dan melepaskan semua identifikasi dengan ego. Egolah yang berulang kali membawa Sang Diri ke dunia ketidak-tahuan. Ego-lah yang memperburuk keinginan. Ketika keinginan meningkat, aktivitas juga meningkat. Dan bila da peningkatan aktivitas ada peningkatan dari keinginan. Dengan demikian keinginan dan aktivitas bergerak dalam lingkaran setan dan memenjarakan manusia dalam badan untuk selamanya, tak pernah berakhir.
Penghancuran keinginan telah digambarkan sebagai pembebasan, dan membebaskan manusia dari keinginan disebut jivanmukti, saat menusia dibebaskan dalam hidup.

 

Bahkan setelah Kebenaran diketahui, tetap sering ada gagasan yang kuat, tanpa awal dan keras kepala bahwa kita adalah pelaku tindakan dan penikmat hasil-hasilnya. Gagasan ini secara hati-hati harus dihapus dengan hidup terus-menerus dalam persatuan dengan Atman. Hanya dengan demikian kita mungkin mengalami kebahagiaan pembebasan meskipun hidup dalam badan.


Pencari tidak boleh lengah dalam ketabahan untuk pencarian pengetahuan diri. Kelengahan adalah kematian. Kelengahan, delusi, egoisme, perbudakan, dan penderitaan adalah tautan beruntun dalam rantai kehidupan duniawi. Jika pikiran sedikit menyimpang dari Atman dan bergerak kedunia luar, ia akan terus merosot, seperti bola liar turun dari atas tangga memantul selangkah demi selangkah dan tidak berhenti hingga mencapai bagian terbawah.

Kebenaran Atman sangat halus dan tidak dapat dicapai oleh pikiran yang terganggu. Ia diwujudkan hanya dengan jiwa mulia dari pikiran murni, dan bahkan itupun hanya melalui konsentrasi yang luar biasa. Sumber buku Atmabodha 'Pengetahuan Diri Untuk Kedamaian Tertinggi' Sankaracharya. (RANBB)

Jumat, 20 Februari 2015

Landasan Sastra Upacara Potong Gigi

Landasan Sastra yang menjadi Dasar Upacara Potong Gigi, adalah Pustaka Dharma Kahuripan, Pustaka Siwa Eka Samapta Pratama, Pustaka Puja Kala Pati dan Pustaka Puja Kalib. 


Pustaka Dharma Kahuripan
Pustaka Dharma Kahuripan memuat tentang Manusa Yadnya dari segi upacara dan upakaranya baik tingkat kecil (Kanistama), sedang (Madhyama) maupun besar (Utama). Juga ada penjelasan tentang Upacara Potong Gigi yang disebut Atatah. Baca tentang Mepandes, Potong Gigi, Metatah, Mesangih

Pustaka Siwa Eka Samapta Pratama
Pustaka Siwa Eka Samapta Pratama ini memuat tentang Manusa Yadnya dari segi Upacara dan Upakaranya sama seperti Pustaka Dharma Kahuripan tetapi agak ringkas dan menyebut juga Upacara Potong Gigi dengan Atatah

Pustaka Puja Kala Pati
Pustaka Puja Kali Pati ini menjelaskan tentang Upacara Potong Gigi mengenai tata cara juga pengertian filsafatnya. Dalam pustaka Puja Kala Pati ini ada petunjuk dari Bhatara Siwa kepada manusia kenapa harus melaksanakan Upacara Potong Gigi. Karena jika tidak melakukan maka mereka nanti setelah meninggal dunia maka arwahnya tidak akan bertemu dengan orang tuanya atau leluhurnya di alam Paratra atau Sorga. Baca tentang Dharmaning Yayah Rama Rena ring Putra

Pustaka Puja Kalib
Pustaka Puja Kalib memuat tentang Puja Astawa yang dipergunakan oleh para Sulinggih dalam memimpin Upacara Potong Gigi.

Sumber makalah Upacara Potong Gigi oleh Narasumber : Ida Pedanda Nabe Gde Putra Sidemen (RANBB)

Rabu, 11 Februari 2015

KUSUMADEWA

KUSUMADEWA LONTAR

Lontar Kusumadewa ini memaparkan tentang gegelaran pamangku yang meliputi kegiatan pamangku dalam urutan penyelesaian upacara di pura bersama dengan saa yang mengiringi. Urutan-urutan kegiatan itu ialah menyapu, membersihkan coblong, menggelar tikar, memetik daun, memasang caniga, membersihkan dan mengisi jun air. 



Menempatkan dupa di halaman palinggih, mempersembahkan dupa, mempersembahkan prayascita pada semua pelinggih, menyelesaikan segala sesuatu perlengkapan penyucian. Setelah urutan-urutan persiapan itu selesai, maka pamangku mohon perkenan Bhatara Siwa sudi hadir secara seksama pada diri pamangku itu. Baca Tugas Manggala Upacara

Pamangku mengucapkan saa pujian, mohon agar para Dewa/Bhatara menganugrahkan berkah, terhindar dari semua penderitaan. Dalam saa pujian itu terdapat mantra dewa-dewa dalam pengider-ider yang sesungguhnya semua dewa-dewa itu adalah ada Guru Dewa atau Bhatara Siwa

Kemudian Pamangku mempersembahkan semua banten piodalan, mulai dari Sanggar Agung, lanjut ke Padmasana, semua pelinggih, dan panggungan. 


Bagian akhir dari rangkaian upacara ini adalah persembahan kepada Bhatari Durga, Kala, Bhuta berupa bebangkit dan gelar sanga. Sebagai siddha ning don, tercapainya tujuan, pamangku mempersembahkan peras, dilanjutkan dengan masegeh agung, nglukar dan terakhir dengan matirtha.
Sumber : http://baliculturegov.com/2009-10-06-09-01-33/konsep-konsep-budaya.html

Senin, 09 Februari 2015

Lontar Dewa Tatwa

DEWA TATTWA 


Adapun materi pokok yang diajarkan dalam Lontar Dewa Tatwa ini adalah uraian tentang tata upacara mendirikan bangunan suci, arca, dan juga bermacam pedagingan bangunan suci dengan segala upakaranya. 

Dalam membangun tempat suci, seperti Meru, Gedong, Prasada, Padmasana, Ibu, semuanya hendak dilengkapi dengan Padagingan Nista, Madya, Utama. 

Tentang proses pembangunan tempat suci sepatutnya terlebih dahulu disucikan dengan upakara Prayascita, Suci, Pajati, Rayunan Putih Kuning, Pangambeyan, Sasayut Durmanggala, Pras, Panyeneng, Rantasan, Daksina, Sesari 500. 



Tentang Kahyangan tempat suci yang terkena musibah (cuntaka) hendaknya disucikan dengan upacara Manyawang, mohon perkenan wara nugraha Sang Hyang widhi dengan rentetan upacara Ngenteg Linggih Bhatara, menghilangkan kekotoran, akhirnya melaksanakan upacara Pasasapuh dengan menghaturkan upacara Guru Piduka, dan lain-lain. 

Selain itu, dalam lontar ini juga diuraikan mengenai Upacara Ngusabha Desa Nini dengan segala upakaranya, tata cara membangun Palinggih Prajapati dan juga upacara di Kuburan, upacara Malabuh Gentuh di laut, Panjegjengan Hyang Narmada, Pancawalikrama, tentang jenis sesayut dan kepada siapa ditujukan, tentang ruwatan Sang Hyang Aghora untuk menghilangkan segala kekotoran dalam tubuh, dll.

Sumber : http://baliculturegov.com/2009-10-06-09-01-33/konsep-konsep-budaya.html

Minggu, 25 Januari 2015

16 ( Enam Belas ) Upacara Manusia

Orang Hindu sudah diupacarai sejak sebelum lahir, ketika masih dalam kandungan. 

Ed. Visvanathan, mencatat 16 (enam belas) upacara, atau samkara, sebagai berikut : 
1. Garbadhana - Upacara untuk menjamin pembentukan janin. 
2. Pumsavana - Upacara untuk melindungi janin dan untuk mendapat anak laki-laki. 
3. Simantonayanan - Upacara dilakukan pada bulan terakhir kehamilan untuk pembentukan mental yang benar pada bayi.
 4. Jatakarna - Upacara kelahiran termasuk persiapan peta astrologi bagi si anak. 
5. Namakarana - Upacara pemberian nama. Upacara ini dilakukan di rumah ketika bayi berusia sebelas aatau empat belas hari. 
6. Nishkramana - Upacara membawa anak ke luar rumah untuk pertama kali. 
7. Annaprasana - Upacara pertama kali memberi makan nasi pada bayi, biasanya dilakukan di pura. 
8. Chudakarana - Upacara potong rambut pertama. 
9. Karnavedha - Upacara pembolongan telinga untuk diberi anting-anting emas. 
10. Vidyarambha - Upacara permulaan anak belajar huruf. 
11. Upanayana - Upacara benang suci dengan mana seorang anak menjadi dwijati, lahir kedua kalinya. Upacara ini dilakukan ketika anak berumur sembilan atau lima belas tahun. 
12. Vedarambha - Upacara permulaan belajar Veda. 
13. Keshenta - Upacara pencukuran rambut pertama (berbeda dengan no 8, dimana rambut hanya dipotong ujungnya) 
14. Samavartana - Upacara pulang setelah selesai belajar Veda. 
15. Viweha - Upacara perkawinan 
16. Anthyesti - Upacara kematian.

Bagaimana dengan di Bali ? ada 13 upacara manusa yadnya, dan lima upacara pitra yadnya, sebagai berikut : 
1. Pagedong-gedongan - Enam bulan setelah kehamilan jadi. 
2. Upacara pada waktu lahir. 
3. Kepus pungsed - Upacara pada waktu putusnya tali puser. 
4. Nglepas Awon - Upacara dua belas hari setelah kelahiran. (Biasanya diikuti dengan nunas bangket untuk menanyakan siapa yang menjelma pada bayi itu) 
5. Tutug Kambuhan - Upacara empat puluh dua hari setelah kelahiran. 
6. Telubulanan - Upacara tiga bulan Bali (105 hari) setelah kelahiran. 
7. Otonan - Upacara enam bulan Bali (210 hari) setelah kelahiran. 
8. Ngempugin - Upacara ketika gigi dewasa mulai tumbuh. 
9. Meketus - Upacara ketika gigi susu terakhir tanggal. 
10. Munggah Daha Teruna atau Rajasewala - Upacara ketika memasuki usia remaja, pada waktu mulai haid pada perempuan dan mimpi basah pada laki-laki. 
11. Mepandes - Upacara potong gigi. 
12. Pawiwahan - Upacara perkawinan (Sebetulnya terdiri dari tiga bagian; mebiakaon, mesakapan, mepejati) 
13. Pawintenan - Pembersihan untuk mulai belajar. 
14. Ngaben 
15. Ngrorasin - Upacara dua belas hari setelah ngaben 
16. Nyekah 
17. Memukur 
18. Maligia

sumber blog : http://rare-angon.blogspot.com

CHANNEL YOUTUBE SAYA - MOHON DI SUBSCRIBE

Cari Artikel di Blog ini

Berita Terkait Semangat Hindu

Artikel Agama Hindu

108 Mutiara Veda 3 kerangka agama hindu advaita visistadviata dvaita Agama Hindu Dharma agama islam Ajaran Hindu aksara suci om alien menurut hindu Apa yang dimaksud Cuntaka Apa yang dimaksud dengan Japa Apa yang dimaksud dengan Puja arcanam nyasa aris widodo artikel hindu arya dharma Arya Wedakarna Asta Brata Atharvaveda Atman avatara sloka babad Badan Penyiaran Hindu bagian catur weda bahasa jawa kuno bahasa kawi bahasa sanskerta Banggalah Menjadi Hindu banten hindu bali Belajar Hindu BELAJAR ISTILAH AGAMA HINDU bhagavad gita Bhagawadgita bhagawan bhuta yadnya Bimas Hindu BPH Banten brahma wisnu siwa Brahman Atman Aikyam brahmana ksatriya wesia sudra budaya bali budha kliwon sinta Bukan Heroisme buku hindu terpopuler Canakhya Nitisastra cara sembahyang hindu catur asrama Catur Brata Catur Cuntakantaka Catur Purusha Artha Catur Purusharta catur veda Catur Warna Catur Weda Cendekiawan Hindu Cinta Kasih Dalam Perspektif Hindu Dana Punia Deva adalah sinar suci Brahman Deva Brahma Deva Indera dewa dewi hindu dewa yadnya dewata nawa sanga dewi kata-kata dewi saraswati dharma artha kama moksa Dharma Santi dharma wacana Doa Anak Hindu donasi buku hindu epos mahabharata ramayana filosofi pohon bambu filsafat agama hindu ganesha Gayatri Sebagai Mantra Yoga Hari Raya Galungan Hari Raya Kuningan Hari Raya Nyepi Hari Raya Pagerwesi Hari Raya Saraswati Hari Raya Siwaratri HINDU adalah ARYA DHARMA HINDU ADALAH SANATHANA DHARMA HINDU ADALAH VAIDHIKA DHARMA Hindu Agama Terbesar di Dunia Hindu Banten Hindu beribadah di Pura Hindu Festival Hindu Indonesia hindu nusantara Hindu Tengger Hinduism Facts Hinduism the Greatest Religion in the Word Hukum Karma Ida Pedanda sakti isi catur weda Jadilah Manusia Setia Japa dan Mantram Jiwa jual buku hindu kakawin Kamasutra Keagungan Aksara Suci OM Kekawin Lubdhaka kepemimpinan jawa kuna Kerajaan Hindu Keruntuhan Agama Hindu kesadaran diri kidung dewa yadnya Kitab Suci Weda lontar Lontar Kala Maya Tattwa Maharsi Atri Maharsi Bharadvaja Maharsi Gritsamada Maharsi Kanva Maharsi Vamadeva Maharsi Vasistha Maharsi Visvamitra manawa dharma sastra Mantra Mantra Yoga manusa yadnya Meditasi Matahari Terbit Mengapa Kita Beragama menghafal sloka Mimbar Agama Hindu Moksha Motivasi Hindu Mpu Jayaprema nakbalibelog Naskah Dialog Nuur Tirtha Om or Aum one single family opini hindu moderat Panca Sradha panca yadnya Panca Yajna pandita Panglong 14 Tilem Kepitu parahyangan agung jagatkartta paras paros segilik seguluk Pasraman Pasupati Pembagian Kitab Suci Veda Pemuda Hindu Indonesia pendidikan hindu pengertian catur weda Pengertian Cuntaka penyuluh agama hindu Peradah percikan dharma Percikan Dharma Dewa Yajna phdi pinandita Pitra Yadnya Ngaben Pitrapuja potong gigi Principle Beliefs of Hinduism Proud To Be Hindu Puja dan Prathana Pujawali purana purnama tilem Purwaning Tilem Kapitu Radio online Bali rare angon nak bali belog Reinkarnasi Rgveda ritual hindu Roh Rsi yadnya sabuh mas sad darsana sad guru Samaveda sanatana dharma sang hyang pramesti guru Sang Kala Amangkurat Sang Kala Dungulan Sang Kala Galungan Sang Kala Tiga sapta rsi Sapta Timira Sarassamuscaya Sarassamuscaya Sloka sattvam rajah tamah sejarah agama hindu Sekta Hindu Semangat Hindu seni budaya hindu Sex and Hinduism siwa budha waesnawa siwa ratri Sloka sloka bhagawad gita sloka bhatara sloka Rgveda sloka yayurveda Slokantara Sloka Spiritual Bersifat Misterius spiritualitas hindu spma ribek sradha dan bhakti sri rama krishna paramahansa Sri Sathya Sai Baba Sri Svami Sivananda sumpah dalam perkara tabuh gesuri tabuh kreasi baru tabuh telu lelambatan tantri kamandaka tat twam asi tattwa susila upakara Tempat Suci Hindu tiga hubungan harmonis tri hita karana Tri kaya parisudha tri kerangka agama hindu tri mala tri pramana Triji Ratna Permata tujuan perkawinan tujuh penerima wahyu tumimbal lahir upacara hindu upacara menek deha Upanisad upaweda Utsawa Dharma Gita vaidhika dharma Vasudhaiva Kutumbakam VEDA ADALAH ILMU PENGETAHUAN SUCI vedangga Vijaya Dashami Wasudewa Kutumbhakam widhi tatwa wija kasawur wiwaha agama hindu Yajna dan Sraddha yajna dan sradha Yayurveda Yoga Kundalini