OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM

PRAKATA

Selamat Datang

Semangat Hindu merupakan blog bersama umat Hindu untuk berbagi berita Hindu dan cerita singkat. Informasi kegiatan umat Hindu ini akan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan.
Semangat Hindu semangat kita bersama.

Bersama Semangat Hindu kita berbagi berita dan cerita, info kegiatan, bakti sosial dan kepedulian, serta kegiatan keagamaan seperti ; pujawali, Kasadha, Kaharingan, Nyepi, Upacara Tiwah, Ngaben, Vijaya Dhasami dan lain sebagainya.

Marilah Berbagi Berita, Cerita, Informasi, Artikel Singkat. Bagi yang mempunyai Web/Blog, dengan tautan URL maka dapat meningkatkan SEO Web/ blog Anda.

Terima Kasih
Admin

RANBB

---#### Mohon Klik Share untuk mendukung blog ini ####---

Senin, 09 Juli 2018

Sarassamuscaya Sloka 318

Pergaulan dengan sang sadhu
Kata Mutiara Kitab Suci Yayur Weda
Yayurveda
Sarassamuscaya Sloka 318



arapyate sila saile klecena mahata yatha, patyate ca sukhenadhastathtama punyapapayoh.

Matangnyan haywa tan yatna, raksan kayatnakena katemwan iking si dadi wwang denta, sakarananyan entasa minduhura muwah, ta pwa gawayakena, apan atyanta iweh ning maminduhuraken, kunang yang pamingsorakena, emas ika, tonenta, nang wungkal pingruhurakena ryagraning wukir, antukning pariklesa ika, kunang yan tibakena ika, tan kewehan ngwang irika.

Artinya
Oleh karenanya janganlah tidak hati-hati, jagalah baik-baik karena telah dapat menjelma menjadi orang; segala yang menyebabkan akan dapat lulus dan meningkatkan penjelmaan, itulah hendaknya dilaksanakan, karena keliwat sukar untuk meningkatkan penjelmaan itu; akan tetapi untuk menurunkan, amat mudahnya; contohnya: batu yang telah dinaikkan ke puncak gunung; karena suatu gangguan maka dijatuhkan kembali dengan tanpa kesulitan sama sekali.

Ulasan
Bahwa dalam kehidupan ini memang tidak mudah untuk dijalani karena harus mampu mempertanggung jawabkannya apa yang telah dilakukannya. Pada dasarnya yang dilahirkan menjadi manusia sungguh-sungguh utama karena tidak mudah dilahirkan menjadi manusia, mengapa demikian karena yang dilahirkan menjadi manusia ini dalam hidupnya harus dapat melaksanakan perbuatan yang baik sebanyaj-banyaknya.
Oleh karena itu tidak gampang menjadi manusia yang utama sehingga dalam hidupnya yang harus dilakukan adalah bagaimana menjaga agar kelahiran menjadi manusia akan tetap terjaga. Karena itu apabila lengah sedikit saja melakukan kesalahan dalam hidup ini akan terjerumus ke jurang kesengsaraan dan tidak.mungkin akan lahir menjadi manusia kembali dalam kelahiran mendatang. Demikian yang harus diingat bahwa kelahiran menjadi manusia ini sungguh utama dan hendaknya terus ditingkatkan dalam kehidupan ini.

Jumat, 06 Juli 2018

Sumpah Dalam Perkara

SUMPAH DALAM PERKARA



Alat-alat yang diperlukan :
-            Air Suci
-            Dupa
-            Bunga / Canang Sari
-            Api (Pasepan)

Petugas yang Menyumpah
-          Seorang Pedanda, Pinandita, Pemuka Agama
-          Berpakaian Resmi/Keagamaan
-          Sikap tangan Mustikarana, diletakkan di depan hulu hati, memegang dupa (menghadap Air Suci, Canang Sari dengan mengucapkan mantra)

Mantram :
Om atah Parama Wisesa, Om indah ta kamung Hyang Hari candani, Agastya Maharesi, kita prasidha rumaksa ring rahina wengi, anodyani wang angupa saksi.
Mon tan tuhu ulahnya, kapastu denira kadi we umili sang sara tinemunya
Mon bener ulahnya, kna sadya mwang rahayu.
Oam siddhir astu tat astu, astu

Artinya :
Sang Hyang Widdhi Waҫa yang Maha Besar dan Maha Kuasa, Sang Hyang Hari Candani (Prabhawa). Sang Hyang Widdhi Waҫa sebagai saksi perbuatan mahluk serta Maha Resi Agastya yang merupakan pengemban mahluk pada waktu siang dan malam, serta menjadi saksi dari mereka yang melakukan sumpah.
Kalau tidak benar segala perbuatannya agar ia (mereka) mengalami penderitaan yang datangnya tidak putus-putus sebagai air mengalir.
Tetapi jika benar segala perbuatannya semoga ia (mereka) dikaruniai kebahagiaan serta berhasil dalam segala karyanya.

Setelah selesai mengucapkan Mantram ini, dupa lalu diletakkan di atas Canang Sari sambil menunggu yang di sumpah mengucapkan sumpahnya.

Yang disumpah
-          Berpakaian Resmi/Keagamaan
-          Berdiri menghadap Air Suci/Canang Sari ke arah Matahari terbit
-          Di waktu mengucapkan sumpah, tangan memegang dupa yang telah dinyalakan, sikap sesuai dengan Penyumpah
-          Sikap tangan dan letak Dupa sama dengan sikap Panganjali yaitu diangkat sampai di dada. Sumpah dibacakan oleh Penyumpah, diikuti oleh yang disumpah.

Mantram
Hatur hulun ri Paduka Hyang Widdhi, ndah yan tan tuhu ulah ingulun moga hulun kena saupaddwaning upasaksi, kapastu denira Sang Hyang Hari Candani, Kunang yan tuhu bener pwa ulah inghulun moga umanggih sadya mwang rahayu.

Artinya :

Sembah sujud hamba kehadapan Mu Hyang Wddhi seandainya tidak benar segala perbuatan hamba, agar hamba dikenai oleh ganjaran dari sumpah persaksian disalahkan oleh Hyang Widdhi dalam manifestasiMu sebagai Hyang Hari Candani. Tetapi jika seandainya hamba selalu berbuat di jalan kebenaran semoa hamba dilimpahi kebahagiaan dan berhasil dalam segala karya hamba.

Senin, 02 Juli 2018

Sarassamuscaya Sloka 287

Daridra (miskin)
Kitab Suci Umat Hindu
RGVEDA
Sarassamuscaya Sloka 287



suhrdan hi dhanam bhukte (bhumkte) krtva pranayamipsitam, pratikartumacaktasya jivitanmaranam.

Apan ikang daridra ngaranya, bhinuktinya ta wibhawaning mitranya, tinekan saprayojananya, ndan pisaningu ya wenang amalesa ri mitranya, dening daridranya, dening kacmalaning buddhinya kuneng, lobha humet atengetx yan paramarthanya, lehengang mati sangkerika.

Artinya
Akan si miskin itu, dinikmatinya kekayaan sahabatnya dan segala keperluannya dipenuhinya akan tetapi tidak bisa membalas budi sahabatnya, oleh karena miskinnya; pun oleh sebab kekejian budi pekertinya, loba, tidak tulus hati dan kikir, berhubung dengan itu, lebih baik mati daripada berhal demikian.

Ulasan
Bahwa pada dasarnya orang yang tidak punya memang seperti itu, tidak usah diperhatikan dengan sepenuh hati karena ia akan merasa diperhatikan dan akhirnya akan tambah menjadi malas. Oleh karenanya biarkan apa adanya tidak usah terlalu diperhatikan biar ia berpikir sendiri mengatasi kemiskinan yang ia alami. Memang kalau ia diperhatikan ia tidak akan mengalami peningkatan hidupnya dan menjadikan kebiasaan buruk bagi mereka sehingga akan lupa ia seperti apa dan tidak tahu bagaimana keluar dari kemiskinan yang ia alami saat ini.

Sabtu, 19 Mei 2018

Sarassamuscaya Sloka 268

Artha (harta kekayaan)
Kitab Suci Umat Hindu
RGVEDA
Sarassamuscaya Sloka 268




dharmaccarthacca kamacca tritayam jivite phalam, etat trayamavaptavyamadharmaparivarjitam.

Telu kta phalaning hurip ngaranya, awaknya telu, dharma, artha, kama, nahan tawaknyan telu, haywa ta kaslatan adharmam.

Artinya
Tigalah yang merupakan pahala hidup ini, wujudnya yang tiga itu, yaitu dharma, artha, dan kama;  itulah perwujudan yang tiga itu; janganlah yang tiga ini dicermari adharma.

Ulasan
Bahwa dalam kehidupan ini ada tujuan hidup yang harus diperhatikan yaitu dharma, artha, dan kama. Dharma adalah kebajikan, kebenaran; artha adalah harta kekayaan; kama adalaj nafsu atau keinginan,
Dharma merupakan hal yang patut diupayakan dalam hidup ini karena dengan menjalankan dharma atau kebenaran niscaya hidup ini akan nyaman. Oleh karena itu dharma dapat menjadikan modal awal untuk mencapai tujuan Moksartham jagadhita ya ca iti dharma, sehingga dharma menjadikam pondasi dasar kehidupan ini. Ada dua kewajiban dalam dharma yaitu swa dharma dan para dharma, swa dharma adalah kewajiban diri sendiri, swadharma anak harus menghormati orang tuanya; para dharma adalah menghormati orang lain, dalam hal ini harus bisa menghormati dam menghargai pemdapat orang lain. Manfaat dharma yaitu sebagai modal menuju ke alam keabadian, sebagai dasar dalam kehidupan.

Artha merupakan harta kekayaan, setiap orang membutuhkan harta untuk dapat menghidupi kehidupannya di dunia ini, namun demikian dalam pencarian harta.harus berlandaskan dharma. Mengapa demikian karena dalam mencari harta tanpa berlandaskan dharma akan sia-sia, sehingga walaupun kita mendapatkan harta yang banyak untuk digunakan dalam menghidupi keluargamya tidak mendapatkan anugrah. Oleh karena itu dalam setiap pencarian harta harus berdasarkan dharma agar hasil yang diperoleh tersebut dapat waranugraha dari Hyang Widhi, sehingga keluarga yang dihidupi dengan harta tersebut dalam.kebahagiaan. Perlu diingat bahwa harta yang kita dapatkan bukan semua punya kita, namun sebagian punya orang lain. Harta yang kita punya dibagi menjadi tiga bagian yaitu 1. Untuk digunakan dalam dharma, 2. Untuk kelangsungan hidup, 3. Untuk dikembangkan dalam bentuk usaha.
Pertama untuk digunakan dalam.dharma, bahwa harta yang kita peroleh ini digunakan untuk hal-hal yang bersifat sosial keagamaan yaitu bisa untuk berdana punia, beryadnya, untuk diberikan yang memerlukan, untuk anak yang kelaparan; kedua untuk kelangsungan hidup yaitu dalam hidup ini kita butuh segala sesuatu kebutuhan yang memerlukan harta yang kita miliki untuk dapat hidup; Ketiga untuk dikembangkan dalam bentuk usaha, bahwa harta yang kita peroleh hsrus dapat dikembangkan dalam usaha agar bisa menopang kehidupsn di hari mendatang, sebab kalau kita hidup ini memerlukan harta yang cukup banyak untuk dapat mengimbagi perkembangan jaman.

Karma adalah nafsu atau keinginan, manusia memang syarat dengan nafsu atau keinginan, sehingga dengan adanya nafsu atau keinginan itu diharapkan tidak terlena akan nafsu atau keinginan tetsebut. Karena kalau nafsu atau keinginan tidak kita kendalikan akan membuat kita hancur dibuatnya seperti kuda liar, contohnya demikian, apabila kita sudah punya rumah bagus karena kita tidak bisa mengendalikan nafsu maka kita ingin rumah lagi yang lebih bagus, parahnya lagi kalau sudah punya istri yang cantik pengin istri yang cantik lagi. Inilah kalau kita tidak mampu mengendalikan nafsu kita akan terjebak dalam jurang neraka, oleh karena itu dalam hal ini harus berlandaskan dharma sehingga tidak akam terjerumus ke lembah neraka. Demikian ketiga hal ini harus selalu diperhatikan bahwa ketiga-tiganya merupakan satu kesatuan yang utuh untuk dapat mencapai tujuan yang sangat mulia yaitu Moksartham jagadhita ya ca iti dharma dapat terwujud.

Sabtu, 28 April 2018

Sarassamuscaya Sloka 248

Anak-ramarena-guru
Kata Mutiara Kitab Suci Rg Weda
RgWeda
Sarassamuscaya Sloka 248



abhivadayeta vrddhamasanam casya darsayet, krtajnalirupasita gacchantam prayatonviyat.

Matangnyan mangkeng ulaha ring wwang matuha, manantwa swagata awehonggwanunggwan, manembaha asila angharepakena, yar angkat mangaterakena.

Artinya
Oleh karena itu perilaku orang tua, hendaknya memberi salam selamat dan menyapanya dengan sopan santun, mempersilahkan duduk, kemudian menyembah serta dengan sopan duduk bersila dihadapannya; pada waktu berangkat hendaklah mengantarkannya.

Ulasan
Bahwa apabila dalam mempelakukan orang tua harus selalu memberikan hormat karena orang tua adalah asal mula kita berada di dunia ini. Oleh karena itu jangan sampai ketemu sama orang yang lebih tua hendaknya memberi salam hormat dan sopan santun terhadapnya. Demikian yang harus kita lakukan dalam hidup ini terhadap orang tua yang telah memberikan kita semua yang mereka punyai untuk anak-anaknya.

Rabu, 04 April 2018

Di Atas Langit Ada Langit

WAYANG CENK BLONK TERKINI



Terbaru_full lucu wayang cenk blonk spesial cenk dan blonk- lelucon wayang cenk blonk 2018
Kumpulan lelucon wayang cenk blonk spesial cenk & blonk yang sangat kocak dan gokil,, semoga terhibur.







Senin, 02 April 2018

Dana Punia Sarassamuscaya Sloka 226

Danapunia
Kitab Suci Hindu
Vayu Purana
Sarassamuscaya Sloka 226




eka svada na bhunjita ekah svarthan na sintayet, eka na gadchedadhvanam naikah suptesu jagryat.

Lawan tan dading manunggalaken wastu menaka, pathyarasa bhojana, mwang tan dadi tumunggali wiwekanya ring kinarya, hintwakena ta ya ring lena, mwang tan panungganunggala tang alakulaku, lawan tan dadi sumelat matanghi yan paturu rowangta kabeh.

Artinya
Dan tidak boleh sendiri saja menikmati sesuatu yang menyenangkan, seperti mengecap makanan yang lezat dan menyegarkan, dan tidak boleh sendiri saja memutuskan sesuatu yang dikerjakan, hendaklah soalnya dirundingkan dengan orang lain, dan jangan pergi sendiri saja, lagi pula tidak baik bangun sendirian selagi semua kawan-kawan masih tidur.

Ulasan

Bahwa apa yang telah mereka lakukan untuk menenuhi kebutuhan yang akan diperolehnya semakin baik. Namun demikian hal ini tidak baik untuk dilakukan karena akan membuat malas dan selalu tergantung pada apa yang ada didepan mata. Oleh karena itu semua harus dilakukan bersama agar kita semua mendapatkan kewajiban dan hak yang sama-sama bisa dirasakan.

Senin, 12 Februari 2018

Dana Punia Sarassamuscaya Sloka 174

Dana Punia Sarassamuscaya Sloka 174
Kitab Suci Weda
rigweda
arthavanarthsmarthibiyo na dadatyatra kogunah, ekaiva gatirarthasya danamanya vipattayah.





Kuneng, an wwangujar sang sugih maweh dana ring kasyasih, tan padon ika, apan kewala tunggal doning mas, danakena juga karih, len sangkerika donya, lara katiwasan ngaranika.

Artinya
Akan tetapi, jika menggembar-gemborkan orang yang kaya memberi sedekah kepada orang yang patut dikasihani, sebenarnya tiadalah gunanya itu, sebab hanya satu saja gunanya kekayaan, yaitu untuk disedekahkan, jika lain dari pada itu kegunaannya disebut menimbulkan duka kemiskinan.

Ulasan
Apa yang menjadikan pembicaraan bahwa apabila mereka memberikan sedekah dengan memberitahukan kepada orang lain itu tidaklah baik dilakukan, karena kalau sudah mau memberi dana punia atau sedekah hendaklah jangan diketahui orang banyal.

Oleh karena itu mepunia harus berdasarkan keikhlasan hati sehingga akan betdampak pada bagaimana kehidupan dalam masyarakat saat ini.

Jumat, 09 Februari 2018

Dana Punia Sarassamuscaya Sloka 172

Dana Punia (sedekah)
Sarassamuscaya Sloka 172

na danadduskarataram trisu lokesu vidyate, arse hi mahati trsna sa ca krcchrena labhyate.

Apan ring tribhuana, tan hana meweh kagawayanya, lena sangkeng dana, agong wi kang trsna ring artha, apan ulihning kasakitanikang artha katemu.

Artinya
Sebab di dunia tiga ini tidak ada yang lebih sulit dilakukan daripada berdanapunia (bersedekah), umumnya sangat besar terlekatnya hati kepada harta benda, karena dari usaha bersakit-sakitlah harta benda itu diperoleh.

Ulasan
Bahwa berdana punia merupakan bentuk yadnya yang seharusnya dilakukan setiap manusia yang lahir ke dunia ini, karena manusia lahir ke dunia masih mempunyai hutang yang harus dibayar. Oleh karena itu hendaklah berdana punia merupakan suatu keharusan yang harus dilakukan oleh setiap manusia agar kehidupannya kelak lebih baik.

Demikian manfaat berdana punia agar sebagian hutang yang harus dibayar dapat mengurangi penderitaan hidup di masa lalu bisa terkurangi dan kehidupan mendatang akan lebih baik lagi.

Rabu, 07 Februari 2018

Dana Punia Sarassamuscaya Sloka 171

Danapunia
Sarassamuscaya Sloka 171

danena bhogi bhavati medhavi vrddhasevaya, ahinsaya ca dirghayurti prahurmanisinah.

Kuneng phalaning tyagadana, yawat katemung bhogopabhoga ring paraloka dlala, yapwan phalaning sewaka ring wwang kabayan, katemung mendhaguna, si yatnan kitatutur, kuneng phalaning ahingsa, si tan pamatimati, kadirghayusan, mangkana ling sang pandita.

Artinya
Maka hasil pemberian sedekah yang berlimpah-limpah, adalah diperolehnya pelbagai kenikmatan di dunia lain kelak; akan pahala pengabdian kepada orang tua-tua, adalah diperolehnya hikmah kebijaksanaan, yaitu tetap waspada dan sadar; adapun akibat ahingsa yaitu tidak melakukan perbuatan membunuh adalah usia panjang; demikian kata sang pandita (orang arif bijaksana).

Ulasan
Sesungguhnya bahwa apa yang telah diperbuatnya dalam brrdana punia memang merupakan sebuah ketetapan yang telah digariskan dalam tuntunan agama kepada umat. Sehingga dengam berdana punia mereka akan mendapatkan kenikmatan yang banyak di dunia kelak, karena pahala yang diberikan terhadap pengabdian kepada orang tua.

Oleh karena itu akan memperoleh hikmah kebijaksaan dalam hidupnya, sedangkan pahala yang diberikan tatkala tidak melakukan perbuatan membunuh adalah umur panjang. Semoga kesadaran akan berdana punia dan tidak melakukan perbutan membunuh dapat diimplementasikan dalam kehidupan, swaha.

Jumat, 02 Februari 2018

Upacara Amati Raga

UPACARA AMATIRAGA
Amati Raga




Merupakan suatu kebahagiaan yang luar biasa, umat Hindu di Provinsi Banten, pada hari  Kamis 23 Nopember 2017 telah melaksanakan Upacara Mediksa untuk sang Diksita Jero Mangku Gede Prof. Dr. I Wayan Ardana, M.Pd, M.Fil.H dan Istri Jero Mangku Ni Wayan Suadnyani, ST. Upacara Mediksa adalah Upacara Rsi Yadnya yang memiliki tujuan untuk menjadikan seorang Walaka (orang biasa) atau Jero Mangku Gede menjadi seorang Sulinggih (orang Suci). 

Upacara Mediksa memiliki tujuan mulia yaitu meningkatkan kesucian diri guna mencapai kesempurnaan sebagai manusia. Tahapan demi tahapan harus dilaksanakan yaitu Upacara   Ngaturang   Pejati   dan berkunjung ke tempat Calon Adi Guru (Nabe), Upacara Mepinton ke Tempat Calon Adi Guru, Upacara Sembah Pamitan, Upacara Nuwur Adi Guru (Nabe) dan Diksa Pariksa.  Yang menjadi Upacara inti Upacara Mediksa adalah Upacara Amati Raga.  Mesiram dan Upacara Mediksa dengan 16 rangkaiannya serta Upacara Ngelinggihang Weda sebagai syarat dalam kewenangan Ngeloka Palasraya.

Menjadi Sulinggih merupakan hal yang sangat membahagiakan dan Upacara Mediksa menjadi kewajiban untuk dilaksanakan bagi setiap Umat Hindu yang telah mampu baik secara mental maupun spiritual, sehingga ia akan mampu meningkatkan kesucian dirinya baik lahir maupun bathin. Mediksa bisa disebut juga Madwijati. Kata dwijati berasal dari bahasa sanskerta, dwi artinya 2 dan jati berasal dari akar kata ja yang artinya lahir. Secara sederhana dapat dikatakan Upacara Mediksa adalah Upacara Lahir yang kedua kali. Lahir pertama dari kandungan ibu dan kelahiran kedua dari kaki Sang Guru Suci yang disebut Nabe, jadi Upacara Mediksa ini bermakna seseorang yang dilahirkan kembali untuk dijadikan pemimpin suci bagi umat Hindu.


Dalam Kitab Suci Weda, Atharvaveda XI. 5. 3. menguraikan bahwa saat pelaksanaan diksa dvijati seorang Guru Nabe atau Acarya seakan-akan menempatkan murid (sisya) dalam badannya sendiri seperti seorang ibu mengandung bayinya, kemudian setelah melalui vrata murid dilahirkan sebagai orang yang sangat mulia (dvijati). Dengan demikian pelaksanaan diksa dvijati merupakan transisisi dari gelap menuju terang, dan avidya menuju vidya. Guru Nabe merupakan pembimbing moral sekaligus spiritual bagi sang murid.

Seseorang yang telah Madwijati sering kita sebut dengan Ida Pedanda, Pandita, Rsi, Sri Empu, atau Jero Dukuh, sebutan pendeta-pendeta Hindu di Bali. Gelar ini diperoleh setelah menjalani pendidikan spiritual yang cukup lama sampai mendapat pengakuan dari gurunya (Nabe) melalui suatu upacara penobatan serta telah mendapat persetujuan dari pemerintah dan Parisada Hindu Dharma Indonesia.



Setelah upacara penobatan atau diksa, atas anugerah gurunya, seorang Pandita mendapat wewenang untuk membuat Air Suci / Tirtha sendiri yang dapat menentukan kedudukan hukum seseorang dalam perkawinan, pengangkatan anak dan lain sebagainya. Seorang Pandita juga berkewajiban memberi jasa pelayanan kepada umatnya (Loka Palasraya). Disamping itu Sulinggih juga berkewajiban mempersembahkan pujaan (Meweda) setiap hari yaitu melakukan pemujaan kepada Dewa Siwa dalam manifestasinya sebagai Bhatara Surya (Surya Sewana), serta membantu umatnya dalam upacara pembakaran jenazah (Ngaben) dan juga dalam setiap perayaan Nyepi atau tahun Baru Caka.

CHANNEL YOUTUBE SAYA - MOHON DI SUBSCRIBE

Cari Artikel di Blog ini

Berita Terkait Semangat Hindu

Artikel Agama Hindu

108 Mutiara Veda 3 kerangka agama hindu advaita visistadviata dvaita Agama Hindu Dharma agama islam Ajaran Hindu aksara suci om alien menurut hindu Apa yang dimaksud Cuntaka Apa yang dimaksud dengan Japa Apa yang dimaksud dengan Puja arcanam nyasa aris widodo artikel hindu arya dharma Arya Wedakarna Asta Brata Atharvaveda Atman avatara sloka babad Badan Penyiaran Hindu bagian catur weda bahasa jawa kuno bahasa kawi bahasa sanskerta Banggalah Menjadi Hindu banten hindu bali Belajar Hindu BELAJAR ISTILAH AGAMA HINDU bhagavad gita Bhagawadgita bhagawan bhuta yadnya Bimas Hindu BPH Banten brahma wisnu siwa Brahman Atman Aikyam brahmana ksatriya wesia sudra budaya bali budha kliwon sinta Bukan Heroisme buku hindu terpopuler Canakhya Nitisastra cara sembahyang hindu catur asrama Catur Brata Catur Cuntakantaka Catur Purusha Artha Catur Purusharta catur veda Catur Warna Catur Weda Cendekiawan Hindu Cinta Kasih Dalam Perspektif Hindu Dana Punia Deva adalah sinar suci Brahman Deva Brahma Deva Indera dewa dewi hindu dewa yadnya dewata nawa sanga dewi kata-kata dewi saraswati dharma artha kama moksa Dharma Santi dharma wacana Doa Anak Hindu donasi buku hindu epos mahabharata ramayana filosofi pohon bambu filsafat agama hindu ganesha Gayatri Sebagai Mantra Yoga Hari Raya Galungan Hari Raya Kuningan Hari Raya Nyepi Hari Raya Pagerwesi Hari Raya Saraswati Hari Raya Siwaratri HINDU adalah ARYA DHARMA HINDU ADALAH SANATHANA DHARMA HINDU ADALAH VAIDHIKA DHARMA Hindu Agama Terbesar di Dunia Hindu Banten Hindu beribadah di Pura Hindu Festival Hindu Indonesia hindu nusantara Hindu Tengger Hinduism Facts Hinduism the Greatest Religion in the Word Hukum Karma Ida Pedanda sakti isi catur weda Jadilah Manusia Setia Japa dan Mantram Jiwa jual buku hindu kakawin Kamasutra Keagungan Aksara Suci OM Kekawin Lubdhaka kepemimpinan jawa kuna Kerajaan Hindu Keruntuhan Agama Hindu kesadaran diri kidung dewa yadnya Kitab Suci Weda lontar Lontar Kala Maya Tattwa Maharsi Atri Maharsi Bharadvaja Maharsi Gritsamada Maharsi Kanva Maharsi Vamadeva Maharsi Vasistha Maharsi Visvamitra manawa dharma sastra Mantra Mantra Yoga manusa yadnya Meditasi Matahari Terbit Mengapa Kita Beragama menghafal sloka Mimbar Agama Hindu Moksha Motivasi Hindu Mpu Jayaprema nakbalibelog Naskah Dialog Nuur Tirtha Om or Aum one single family opini hindu moderat Panca Sradha panca yadnya Panca Yajna pandita Panglong 14 Tilem Kepitu parahyangan agung jagatkartta paras paros segilik seguluk Pasraman Pasupati Pembagian Kitab Suci Veda Pemuda Hindu Indonesia pendidikan hindu pengertian catur weda Pengertian Cuntaka penyuluh agama hindu Peradah percikan dharma Percikan Dharma Dewa Yajna phdi pinandita Pitra Yadnya Ngaben Pitrapuja potong gigi Principle Beliefs of Hinduism Proud To Be Hindu Puja dan Prathana Pujawali purana purnama tilem Purwaning Tilem Kapitu Radio online Bali rare angon nak bali belog Reinkarnasi Rgveda ritual hindu Roh Rsi yadnya sabuh mas sad darsana sad guru Samaveda sanatana dharma sang hyang pramesti guru Sang Kala Amangkurat Sang Kala Dungulan Sang Kala Galungan Sang Kala Tiga sapta rsi Sapta Timira Sarassamuscaya Sarassamuscaya Sloka sattvam rajah tamah sejarah agama hindu Sekta Hindu Semangat Hindu seni budaya hindu Sex and Hinduism siwa budha waesnawa siwa ratri Sloka sloka bhagawad gita sloka bhatara sloka Rgveda sloka yayurveda Slokantara Sloka Spiritual Bersifat Misterius spiritualitas hindu spma ribek sradha dan bhakti sri rama krishna paramahansa Sri Sathya Sai Baba Sri Svami Sivananda sumpah dalam perkara tabuh gesuri tabuh kreasi baru tabuh telu lelambatan tantri kamandaka tat twam asi tattwa susila upakara Tempat Suci Hindu tiga hubungan harmonis tri hita karana Tri kaya parisudha tri kerangka agama hindu tri mala tri pramana Triji Ratna Permata tujuan perkawinan tujuh penerima wahyu tumimbal lahir upacara hindu upacara menek deha Upanisad upaweda Utsawa Dharma Gita vaidhika dharma Vasudhaiva Kutumbakam VEDA ADALAH ILMU PENGETAHUAN SUCI vedangga Vijaya Dashami Wasudewa Kutumbhakam widhi tatwa wija kasawur wiwaha agama hindu Yajna dan Sraddha yajna dan sradha Yayurveda Yoga Kundalini