OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM

PRAKATA

Selamat Datang

Semangat Hindu merupakan blog bersama umat Hindu untuk berbagi berita Hindu dan cerita singkat. Informasi kegiatan umat Hindu ini akan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan.
Semangat Hindu semangat kita bersama.

Bersama Semangat Hindu kita berbagi berita dan cerita, info kegiatan, bakti sosial dan kepedulian, serta kegiatan keagamaan seperti ; pujawali, Kasadha, Kaharingan, Nyepi, Upacara Tiwah, Ngaben, Vijaya Dhasami dan lain sebagainya.

Marilah Berbagi Berita, Cerita, Informasi, Artikel Singkat. Bagi yang mempunyai Web/Blog, dengan tautan URL maka dapat meningkatkan SEO Web/ blog Anda.

Terima Kasih
Admin

RANBB

---#### Mohon Klik Share untuk mendukung blog ini ####---

Selasa, 10 Januari 2023

Filsafat tentang Sang Hyang Widhi Wasa

Percikan Dharma Widhi Tatwa
(Filsafat tentang Sang Hyang Widhi Wasa)

Filsafat Agama Hindu

Om Swastyastu
Umat se-dharma, bahwa dalam agama Hindu ada filsafat tentang Sang Hyang Widhi Wasa. Siapakah sejatinya Sang Hyang Widhi Wasa itu.

Sang Hyang Widhi Wasa yaitu Beliau yang Maha Kuasa yang mencipkakan, memelihara dan memralina semua yang ada di dunia ini. Sang Hyang Widhi Wasa itu Maha Esa seperti yang terdapat pada kitab suci Weda. 

EKA EVA ADWITYAM BRAHMAN
yang artinya : hanya satu (Ekam Eva) tidak ada dua (Adwityam) Hyang Widhi (Brahman) itu.

EKO NARAYANAD NA DWITYO STI KASCCIT.
yang artinya hanya satu Tuhan tidak ada duanya.

Di dalam lontar Sutasoma disebutkan juga, apabila BHINNEKA TUNGGAL EKA  TAN HANA DHARMA MANGRWA. 
Yang artinya berbeda-beda namun tetap satu  tidak ada dharma yang kedua. 

Juga disebutkan EKAM SAT WIPRAH BAHUDA WADANTI.
yang artinya hanya satu (Ekam) Sang Hyang  Widhi Wasa (Sat=hakekat) hanya orang bijaksana (Wiprah) menyebut (Wadanti) dengan banyak nama (Bahuda).

Mengapa banyak disebut dengan banyak nama, karena sifat-sifat Sang Hyang Widhi Wasa yaitu Maha Kuasa, Maha Mulya, Maha Asih dan lain sebagainya. Karena tugas dan kewajiban Sang Hyang Widhi Wasa yang utama Dewa untuk kita yaitu :
Brahma, sebutan Sang Hyang Widhi Wasa sebagai pencipta alam semesta beserta isinya, dalam bahasa sanskerta disebut Utpeti.
Wisnu, sebutan Sang Hyang Widhi Wasa sebagai pemelihara alam semesta beserta isinya, dalam bahasa sanskerta disebut Sthiti
Siwa, sebutan Sang Hyang Widhi Wasa sebagai pemralina alam semesta beserta isinya, dalam bahasa Sanskerta disebut Pralina atau sangkan paran.
Om Santih Santih Santih Om

Aris Widodo
Penyuluh Agama Hindu
Kota Serang

Senin, 09 Januari 2023

OPINI : STRATEGI MENANGANI SAMPAH SISA UPAKARA

OPINI : STRATEGI MENANGANI SAMPAH SISA UPAKARA

sloka yayur weda

Masalah sampah sisa persembahyangan yang muncul di media sosial semakin mengganggu kita sebagai umat Hindu. Tak peduli pura sebesar dan semegah Pura Besakih juga tidak luput dari sampah dari pemedek, yang berupa Canang Sari, kwangen, kulit tipat, kulit buah jeruk ataupun gelas plastik minuman. Terkadang adapula kulit daksina, kelapa, ceper, tamas, taledan yang berserakan disudut-sudut pura. Walaupun sebenarnya dari dahulu juga sudah ada sampah, sisa Kwangen atau  Canang Sari, dan lain-lain. Masih sangat jelas dalam ingatan saya, saat masih usia anak-anak di desa, setiap piodalan selalu berebut untuk mencari sisa kwangen atau canang sari, barangkali ada sesari yang luput diambil oleh pemangku. Dapat terkumpul hingga 100 rupiah sangatlah  besar pada tahun 70-an. Lalu kenapa setelah informasi global seperti saat ini, sampah tersebut menjadi sangat mengganggu ?

Yang manakah sampah upakara dan yang mana pula sisa upakara ?  terlebih dahulu harus kita sepakati bersama antara sampah dan sisa upakara, walau dari segi bentuk rupa kedua hal ini sama. Sisa Upakara adalah Upakara yang telah dihaturkan kepada Tuhan dan segala manifestasiNya termasuk kepada sang Bhutakala, terletak pada tempat-tempat tertentu. Seperti di pelinggih dan di sor pelinggih, ada pula di tengah-tengah pemedal, kori agung atau candi bentar.

Seperti kita ketahui, salah satu fungsi Upakara adalah sebagai alat konsentrasi dan sebagai persembahan kurban suci. Dengan melihat upakara, pikiran manusia sudah teringat dan terarah pada yang dihadirkan untuk dipuja. Teringat akan sang Bhutakala atau mahluk lain yang berada diantara kita, yang patut kita persembahkan kurban suci agar mereka selalu senang, tenang, tentram sehingga tidak mengganggu kegiatan kita. Sisa persembahan atau upakara ini tidak langsung dipindahkan atau dibersihkan, sebagai tanda prosesi upacara sudah berlangsung.

Setelah kita memahami sisa upakara, sekarang kita kembali ke sampah. Sampah adalah sesuatu yang dibuang, yang telah tidak berguna. Sampah pada umumnya tidak berada di tempat-tempat tertentu seperti pelinggih atau pintu masuk/pemedal. Di lingkungan pura, sampah yang walau bentuknya sama dengan sisa upakara ini dapat dijumpai pada tempat-tempat umum, seperti lapangan parkir kendaraan atau tempat teduh dibawah pohon yang rindang.

Strategi menangani sampah dan sisa upakara tentunya dengan cara yang berbeda, karena kedua hal tersebut memang berbeda. Sisa upakara akan dibersihkan setelah kegiatan selesai atau Nyineb, semua akan dilungsur kemudian dinikmati sebagai prasadam. Dipilah-pilah kembali, mana buah, tumpeng, dan mana yang janur, bunga dan lainnya yang tidak bisa dimakan. Kegiatan ini sudah berlangsung secara turun-temurun pada setiap perhelatan pujawali atau piodalan. Semua berlengsung dengan baik, sehingga sampah yang dihasilkan tidak akan mengganggu keindahan lingkungan pura. 

Kemudian masalah sampah perlu penanganan secara fisik maupun mental. Fisik, berupa kegiatan pembersihan langsung oleh petugas kebersihan, dengan menyapu secara berkala dan menyediakan tempat-tempat sampah ditempat-tempat umum. Membuat papan peringatan, agar umat menjaga kebersihan, salah satunya seperti “KEBERSIHAN ADALAH BAGIAN DARI KARMA BAIK”. Papan peringatan dengan menyentuh hati umat, bahwa kebersihan adalah bagian dari karma baik, dimana hukum karma yang sangat dipercaya oleh umat kita. Sehingga selain secara fisik, ini pula merupakan cara penanganan secara mental.

Satu hal yang dapat kita kerjakan sebagai pemedek adalah dengan menyiakan plastik kantong kresek sendiri saat akan nangkil. Bila diperlukan adanya upaya Panitia piodalan untuk menyediakan kantong kresek gratis bagi umat yang akan melaksanakan persembayangan sehingga ada rasa tanggungjawab, bahwasanya selain melaksanakan persembahyangan juga melaksanakan karma baik dengan tidak membuang atau meninggalkan sampahnya di lingkungan pura.

Dengan adanya penekanan bahwa Kebersihan bagian dari sebuah Karma baik, tentunya akan memberi efek yang sangat baik pula. Kita ketahui bersama bahwa, umat Hindu sangat percaya dengan Hukum Karma, baik yang kita lakukan, baik pula yang akan kita terima, demikian sebaliknya. Hukum Karma menjadi suatu hal yang perlu mendapatkan peningkatan pemahaman dan penerapan di lapangan, lebih-lebih kita sudah memahami tentang TRI HITA KARANA.

Penulis : Admin Blog 

Minggu, 08 Januari 2023

Percikan Agama Hindu Dharma Sumber Hidup

Percikan Dharma Sumber Hidup

sloka rig veda

Om Swastyastu
Umat se-dharma, sesungguhnya alam semesta ini merupakan Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa karena tidak ada yang menyamai kemahakuasaan-Nya. Oleh karena itu Beliau merupakan sumber hidup bagi setiap makhluk hidup di dunia ini.

Vrhatsumnah prasavita nivesano
jagatah sthaturubhayasya yo vasi,
sa no devah savita sarma yaccha
tvasme ksayaya trivarutham amhasah.

Rg Veda IV. 53.6

Artinya
Tuhan Yang Maha Pengasih, yang memberi kehidupan kepada alam semesta, dan menegakkannya; Ia yang mengatur baik yang bergerak dan yang tidak bergerak; semoga Ia. Savitar, memberikan waranugraha-Nya kepada kami, untuk ketentraman hidup, dengan kemampuan melawan kekuatan jahat.

Ulasan
Bahwa sebenarnya yang memberikan kehidupan semua makhkuk hidup adalah Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa, karena itu Beliau sesungguhnya sumber hidup bagi semua makhluk hidup yang berada di bumi ini. Untuk itu Beliau tidak membedakan ciptaaan-Nya karena semua diberikan kehidupan yang sama baik sebagai manusia, hewan maupun tumbuhan.

Oleh karena yang menjadi perbedaan bagi makhkuk ciptaan Beliau yaitu bagi tumbuhan hanya diberi hidup untuk tumbuh dan bergerak apabila digerakkan oleh angin, bagi hewan hanya diberi hidup untuk tumbuh dan bergerak, sedangkan manusia diberikan hidup untuk tumbuh, bergerak dan berpikir. Jadi hanya manusia yang diberikan kelebihan dalam hidup ini untuk berpikir sebelum berbuat agar makhluk lain tidak tersakiti.
Om Santih Santih Santih Om

Aris Widodo
Penyuluh Agama Hindu
Kota Serang

Sabtu, 07 Januari 2023

Dana Punia Sarassamuscaya Sloka 174

 Dana Punia Sarassamuscaya Sloka 174

 arthavanarthsmarthibiyo na dadatyatra kogunah, ekaiva gatirarthasya danamanya vipattayah.

 

sloka yayur weda

Kuneng, an wwangujar sang sugih maweh dana ring kasyasih, tan padon ika, apan kewala tunggal doning mas, danakena juga karih, len sangkerika donya, lara katiwasan ngaranika.

 

Artinya

Akan tetapi, jika menggembar-gemborkan orang yang kaya memberi sedekah kepada orang yang patut dikasihani, sebenarnya tiadalah gunanya itu, sebab hanya satu saja gunanya kekayaan, yaitu untuk disedekahkan, jika lain dari pada itu kegunaannya disebut menimbulkan duka kemiskinan.

 

Ulasan

Apa yang menjadikan pembicaraan bahwa apabila mereka memberikan sedekah dengan memberitahukan kepada orang lain itu tidaklah baik dilakukan, karena kalau sudah mau memberi dana punia atau sedekah hendaklah jangan diketahui orang banyal.

Oleh karena itu mepunia harus berdasarkan keikhlasan hati sehingga akan betdampak pada bagaimana kehidupan dalam masyarakat saat ini.

Jumat, 06 Januari 2023

Siapakah Sang Kala Tiga ?

Siapakah Sang Kala Tiga ?

Apa dasar pustaka Sang Kala Tiga ?


Siapakah Sang Kala Tiga ?

1. Butha Galungan

2. Butha Dungulan

3. Butha Amangkurat

sang kala tiga


Apa dasar pustaka Sang Kala Tiga ?
Lontar Kala Maya Tattwa, sebagai berikut :
“Ritetrapaning Wewaran, Ikang Dungulan Menuju Redite, Paing, Rikala Ika Mijil Ikang Kala Bhama Ribungkahing Pertiwi Meharan Sang Kala Galungan, Sang Kala Udha Mijil Ritengahing Windhu, Meharan Sang Kala Dungulan, Sang Kala Maya Mijil Ritelengking Akasa, Meharan Sang Kala Amangkurat, Ika Sami Amintoni Manusa Ring Madyapada, Maweruh Inaggapi Sadnyan Manusa...”

Jelaskan mengenai Sang Kala Tiga
Sesungguhnya Sang Kala Tiga ini bersemayam di Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit, yaitu Sang Kala Galungan, Sang Kala Dungulan dan Sang Kala Amangkurat, dan masing-masing Kala ini memberikan kekuatannya terhadap Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit.

Kamis, 05 Januari 2023

Puja, Prathana, Japa dan Mantram

 Puja, Prathana, Japa dan Mantram

Apa yang dimaksud dengan Puja ?
Apa yang dimaksud dengan Prathana ?
Apa yang dimaksud dengan Japa ?
Apa yang dimaksud dengan Mantram ?


        Puja
adalah pengucapan mantram yang sudah baku untuk memuja kebesaran Tuhan. Dalam Puja ini kita bisa memohon suatu anugrah kepada Tuhan lewat Istadewata. Melakukan Puja Trisandya dan Karamaning Sembah adalah contoh dari melakukan puja ini. Ritual ini bisa dilakukan bersama-sama, tetapi ada aturannya baik dberupa cara duduk, mau pun sarana. Kapan sembahyang memakai bunga, kapan memakai kuangen, kapan tangan kosong, misalnya.


Prathana adalah berdoa yang sebenarnya. Kita berdoa melakukan permohonan kepada Tuhan, tetapi tidak dibatasi oleh sikap tubuh maupun sarana. Mantram pun tak harus baku, bahkan bisa bebas dengan dengan bahasa sehari-hari. Juga bisa tak terucapkan, hanya di dalam hati. Misalnya, ketika mendengar ada seorang yang meninggal dunia, kita langsung memberikan doa. Atau ada rintangan di jalan. Apakah saat itu kita sedang menyetir mobil atau minum kopi di ruang tamu. Karena begitu bebasnya dan sifatnya pun pribadi, berdoa cara ini tak harus bersama-sama.

Japa adalah pengucapan nama suci Tuhan secara berulang-ulang, baik dihitung dengan sarana genitri atau japamala, mau pun tak terbatas. Japa selain itu mendekatkan diri pada Tuhan juga bagus untuk mendisiplinkan pikiran. Japa bisa dilakukan bersama-sama, tetapi karena tujuan sering tidak sama, begitu pula berapa lama japa tidak sama, maka lebih baik dilakukan sendiri.

Mantram adalah doa yang diucapkan dengan kata-kata yang sudah baku yang diambil dari kitab Weda. Tujuannya jelas, cara pengucapannyapun baku, meski iramanya bisa mengikuti budaya setempat. Mantram ini yang biasa dilakukan oleh seorang sulinggih dalam mempin ritual sebelum mengajak umat sembahyang bersama. Tidaklah mungkin mantram dilantunkan bersama-sama, kecuali Puja Trisandhya yang sesungguhnya adalah enam bait mantram  dari berbagai sumber disatukan. Puja Trisandhya adalah kearifan Hindu Nusantara agar kita punya sarana untuk berdoa bersama. Di luar Bali, terutama umat Hindu etnis Jawa, seringkali melakukan Panca Sembah juga dengan melantunkan bersama-sama. Karena mereka taat dengan pedoman baku yang sudah disusun dan disebarkan. Namun di Bali agak sulit, karena sulinggih atau pemangku seringkali melantunkan mantram yang berbeda dari yang sudah dijadikan pedoman dalam buku. Misalnya, mantram kedua Panca Sembah tatkala memuja Hyang Raditya untuk “memohon kesaksian”. Ada banyak jenis mantram untuk memuja Raditya, kalau ternyata umat dan sulinggih saling beda mengambil sumber, bisa kacau dan selesainya pun tak bersama. Karena itu umat cukup diam saja menunggu mantram sulinggih.

Keempat cara berkomunikasi dengan Tuhan penting untuk dibedakan agar ritual yadnyanya lebih rapi dan khusyuk. (sumber kutipan Dharma Wacana : Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda )


Selasa, 03 Januari 2023

Percikan Dharma Tri Kaya Parisudha

 Percikan Dharma  Tri Kaya Parisudha

Om Swastyastu

percikan dharma

Umat sedharma yang bahagia, ada tiga hal yang harus kita lakukan yakni berpikir yang benar, berbicara yang benar dan berbuat yang benar. Dalam hal ini manusia dibekali akal dan pikiran yang lengkap diantara makhluk hidup lainnya, untuk itu dalam berpikir harus mampu

membuat semua makhluk hidup bahagia. Oleh karena itu berpikir yang  tentu akan berakibat pada ucapan dan perilaku yang baik pula sehingga akan membuat suasana yang menyenangkan.


Umat sedharma, dengan ucapan yang baik dan benar tentu akan memberikan fibrasi yang baik pula dalam kehidupan kita. Dalam kehidupan ini memang sangat dibutuhkan ucapan atau perkataan yang baik akan membuat hidup lebih menyenangkan.


Sedangkan dalam berbuat baik tentu tidak akan lepas dari apa yang ada dalam pikiran kita, karena semua berpulang pada pikiran datangnya. Dengan modal tiga hal ini apabila dilaksanakan terus menerus tentu akan dengan mudah mendapatkan tiket menuju swarga loka, karena dengan jalan dharma tersebut itulah swarga loka bisa dicapainya. 

Om Santih Santih Santih Om


Aris Widodo

Penyuluh Agama Hindu

Kota Serang

Senin, 02 Januari 2023

HARI RAYA GALUNGAN SEBAGAI MOMENTUM PENINGKATAN KUALITAS DIRI

HARI RAYA GALUNGAN SEBAGAI MOMENTUM PENINGKATAN KUALITAS DIRI

hari raya galungan


Hari ini mayoritas Umat Hindu di Indonesia merayakan Hari Raya Galungan. Hari yang secara tradisional dimaknai sebagai hari kemenangan. Kemenangan dharma atas adharma, atau kebajikan melawan kebathilan. Sebagai sebuah peringatan atas kemenangan,maka sangat wajar akhirnya hari Galungan diberikan predikat sebagai hari raya, yang mengandung makna perayaan terhadap kemenangan. Yang menjadi pertanyaan adalah, kemenangan melawan apa, dan siapakah yang harus dikalahkan?

 


Berkaitan dengan Hari Raya Galungan, banyak tafsir baik secara mitologi maupun historis. Tafsir mitologi yang sering kita dengarkan adalah tentang Maya Denawa, dan tafsir secara historisnya yaitu kemenangan antara Pandava melawan Kaurava. Tafsir historis yang lainnya adalah perayaan kemenangan Sri Rama yang berhasil membawa kembali Sita Dewi dari cengkeraman Rahwana di Alengka Pura. Kemudian di antara tafsir- tafsir tersebut manakah yang benar?

Sebuah pertanyaan yang wajar, yang biasa ditanyakan oleh orang pencari kebenaran dengan membabi buta,  yang menganggap Agama adalah hitam dan putih, semua harus didasarkan atas fakta empiris.

 

Bagi saya, agama merupakan jalan hidup. Begitu kita memiliki prinsip itu, maka hal pertama kita sadari adalah harus mengetahui tujuan hidup. Tujuan hidup akan berhasil kita raih dan temukan apabila kita mengenal dan mengikuti "rambu- rambu jalan hidup". Itulah agama, yang memberikan rambu-rambu kehidupan melalui sloka-sloka/ ayat sucinya. Yang jelas kesemuanya harus diterjemahkan, baik secara tekstual maupun konstekstual. Tidak harus membabi buta.

 

Kembali mengenai Hari Raya Galungan, Sastra Suci kita,khususnya Kek. Ramayana memberi pesan tersurat dan tersirat: "Ragadi musuh maparo, ri hati yo tonggwania tan mafoh ring hawak..." yang artinya: musuh yang sebenarnya adalah terletak di dalam diri, tidak jauh dari diri kita. Selain itu sastra yang lain, yaitu Nitisastra menyebutkan: "Nora na satru manglwihane heleng ri hati", yang secara pemaknaan tidak jauh berbeda dengan tafsir Kek. Ramayana di atas. Pesan tersurat dan tersirat dari Sastra Suci tersebut, ditegaskan lagi oleh Pancamo Veda kita yaitu Bhagavad Gita XVI.21:

Trividham narakaye'dam
dvaram nasanam atmanah
kamah krodhas tatha lobhas
tasmad etat trayam tyajet

Artinya:

Ini pintu gerbang menuju neraka, jalan menuju kehancuran diri ada 3, yaitu kama (keinginan jasmaniah), krodha (kemarahan) dan lobha (ketamakan),  oleh karenanya ketiga-tiganya harus ditinggalkan.

 

Berkaitan dengan Hari Raya Galungan, secara tradisional diberikan pemaknaan simbolis pada saat 'penampahan'  sehari sebelum Galungan, yaitu dimaksudkan agar kita dapat membunuh sifat kebinatangan (nafsu/ keinginan yang liar, dan keangkara murkaan) sehingga kita benar- benar bisa memahami hakikat kebenaran dengan merayakan Galungan, dan sehari setelah Hari Raya Galungan kita dapat merasakan bagaimana 'Manisnya Galungan'.

 

Sebagai manusia,kita diberikan manah atau pikiran yang merupakan kelebihan dari makhluk lain, sehingga semestinya kita dapat menjadikan pikiran sebagai alat pengontrol dan pengendali panca indera kita, bukan sebaliknya. Semua yang ada dan yang akan ada bisa menjadi baik,indah dan harmoni berawal dari pikiran, demikian pula sebaliknya akan hancur dan disharmoni juga disebabkan oleh pikiran kita, sehingga semestinya kita mampu mengendalikan pikiran kita agar tidak dikuasai oleh amarah, karena amarahlah yang akan membawa kehancuran. Seperti pesan yang disiratkan oleh Bhagavad Gita II. 63:  

'Krodhah bhavati samohah
samohah smrtivi bramah
smrtibramah budhinaso
budhinasat pranasyati"

Artinya:

Dari kemarahan muncullah kebingungan, dari kebingungan menjadikan hilang ingatan, dan dari hilang ingatan menghancurkan segalanya.

 

Itulah pesan sesungguhnya dari perayaan Hari Raya Galungan, yakni menjadikan manusia menjadi Manava Madhava, yaitu makhluk yang dapat berpikir bijak dan bajik, bijaksana dan penuh kebajikan sesuai dengan karakter dan sifat Brahman/ 'Daivi Sampad', bukan manusia yang berkecenderungan memiliki sifat angkara murka Para Asura (Manava Danava) atau 'Asuri Sampad'. Dengan kesadaran tersebut, mari bersama- sama turut mewujudkan Umat Hindu yang sejahtera, dengan semangat Satyam (jujur), Sivam (bijak dan bajik) dan Sundaram (indah)

 

"Selamat Merayakan Hari Kemenangan Galungan, Suro diro Jayaningrat lebur dening pangastuti, Satyam Eva Jayate Namrtam..."

Naskah Oleh Bapak Surono

Minggu, 01 Januari 2023

Catur Brata Penyepian

 Catur Brata Penyepian

Percikan Dharma

Catur Brata Penyepian

Om Swastyastu

Umat se-dharna, dalam perjalanan hidup manusia ini kita harus ada instrupeksi diri agar kehidupan berjalan sesuai apa yang direncanakan. Oleh karena itu dalam setahun ini kita harus mampu berkaca diri   setahun  lalu telah di perbuatnya.

Dalam rangka menjalani kehidupan ini ada waktunya untuk instropeksi diri yaitu bertepatan dengan hari raya Nyepi tahun baru saka yang dilaksanakan dalam setahun sekali oleh umat Hindu. Dengan Catur Brata Penyepian itulah umat Hindu menjalani instropeksi diri dalam perjalanan hidup satu tahun yang lalu, apa yang sudah dilakukan dan apa yang belum dilakukan.

Yang pertama, Amati Geni yaitu tidak menyalakan api maksudnya tidak melakukan kegiatan yang kaitannya dengan menggunakan api, terkait dengan memasak makanan dan minuman sehingga umat Hindu melaksanakan puasa atau pawasa dalam kurun waktu 24 jam atau 36 jam setelah melaksanakan Tawur Agung Kesanga. Hal ini agar umat manusia bisa merasakan bagaimana merasakan pawasa sehingga tubuh ini berhenti beraktivitas secara penuh.

Yang kedua, Amati karya yaitu tidak melakukan kerja maksudnya tidak melakukan pekerjaan apapun sehingga dalam masa ini khusus untuk instropeksi diri bagaimana diri ini hanya memikirkan langkah apa yang telah dilalukan dan apa yang akan dilakukan. Dengan menghentikan aktivitas kerja selama 24 jam atau 36 jam ini manusia diharapkan mawas diri agar kehidupsn ke depan lebih baik lagi.

Yang ketiga, Amati Lelanguan yaitu tidak melakukan kesenangan maksudnya tidak melakukan segala kesenangan baik kesenangan melalui panca indria maupun dasa indria. Dengan menghentikan semua kesenangan ini agar terfokus pada pengendalian diri sehingga manusia mampu menghadirkan bagaimana menyikapi bahwa kesenangan dapat membuat manusia lupa diri.

Yang keempat, Amati Lelungan yaitu tidak melakukan aktivitas berpergian maksudnya tidak melakukan berpergian agar umat manusia hanya fokus pada mawas diri sehingga tidak melakukan kesalahan dalam suatu perjalanan di luar sana. Dengan tidak berpergian ini diharapkan umat manusia dapat mawas diri bagaimana yang bisa setahun yang lalu dan setahun harus dilakukan setahun ke depan.

Demikian yang perlu diingat dan selalu dilakukan oleh umat Hindu dalam perjalanan hidup manusia setiap tahunnya sehingga dapat terus ditingkatkan dari tahun ke tahun. Oleh karena itu umswwwat manusia dihimbau untuk instropeksi diri atau mawas diri karena tidak selamanya manusia melakukan yang baik saja namun juga masih melakukan kesalahan-kesalahan baik yang disengaja maupun tidak disengaja.
Om Santih Santih Santih Om

Aris Widodo
Penyuluh Agama Hindu
Kota Serang



Rabu, 09 November 2022

Percikan Dharma Tri Guna

Percikan Dharma Tri Guna



Om Swastyastu

Umat Se-dharma, perlu diketahui bahwa dalam kehidupan di dunia ini ada sifat-sifat yang dimiliki manusia yaitu Sattwam, Rajas dan Tamas. Ketika manusia berbuat sesuatu dalam mengejar artha dan kama itu sering dikuasai oleh berbagai cobaan, apabila tidak hati-hati dapat menjerumuskannya ke dalam kesengsaraan. Sesekali ia cenderung menjadi pemalas, pemarah, dikuasai oleh nafsu-nafsu untuk melakukan yang kurang baik hingga tega menyabut nyawa sesama, bersikap masa bodoh dan sebagainya.



Sebaliknya ia sering dikuasai oleh kecenderungan berbuat baik, berkorban, menolong sesama, timbul perasaan kasih sayang, merasakan tanggungjawab, berani berbuat sesuatu untuk kebaikan, bersemangat mengatakan yang benar dan seterusnya. Semua kecenderungan-kecenderungan dapat digolongkan tiga tkngkatan yaitu sattwam, rajas dan tamas.


1. Sattwam, artinya semua perbuatan yang selalu mendasarkan kebenaran, kehujuran, kesucian, kasih sayang, tenang, tidak keburu nafsu, bijaksana, senantiasa sesuai dengan sifat kedewassaan. 


2. Rajas, artinya kegiatan yang terdorong oleh nafsu, semangat dan kemauan yang besar untuk mencapai srsuatu. 


3. Tamas, artinya sifat-sifat yang dikuasai oleh tamalk cenderung bersifat jahat, tidak betanggung jawab, loba, bodoh, egois, tidak ada rasa kepedulian dan seterusnya.


Agama senantiasa tertentu menekankan agar manusia berbuat yang dikuasai oleh sifat-sifat sattwam dan menjauhkan perbuatan yang dikuasai okeh rajas dan tamas.


Dalam situasi tertentu mungkin dapat dibenarkan melakukan sesuatu denfan sifat rajas dalam arti bersemangat untuk mendorong terlaksananya sesuatu yang diperlukan, asalkan tetap berpegangan pada dharma (kejujuran, kebenaran dan perasaan keadilan). Inilah yang harus menjadi pedoman umat Hindu dalam mengusahakan kebahagiaan hidup.

Om Santih Santih Santih Om


Aris Widodo

Penyuluh Agama Hindu

Kota Serang

Sabtu, 01 Oktober 2022

Percikan Dharma Cara Sembahyang Hindu

 Percikan Dharma

Cara Sembahyang



Om Swastyastu

Umat se-dharma, perlu diketahui dan dilaksanakan dalam agama Hindu yaitu bagaimana cara sembahyang yang baik dan benar. Dalam agama Hindu ada tiga hal yang harus diketahui mengenai cara-cara sembahyang (muspa) yaitu :

1. Muspa bersamaan dengan diiringi oleh Pinandita, Pandita atau Sulinggih.

2. Muspa bersamaan yang tidak diiringi oleh Pinandita, Pandita atau Sulinggih.

3. Muspa yang dilaksanakan sendiri.


Dalam hal muspa atau sembahyang ini juga ada ketentuan-ketentuan yaitu untuk membangkitkan dan menjaga suasana kesucian, maka sebelum sembahyang harus dilaksanakan yaitu :

1. Mandi dengan air bersih, kalau bisa pakai air harum atau wangi (air kumkuman).

2. Pakaian atau busana yang bersihz khusus untuk sembahyang, jangan lupa pakai kampuh atau slendang (kain) putih kuning.

3. Tempat dan sarana persembahyangan yang bersih dan suci.

4. Waktu menuju tempat sembahyang pikiran sudah ditujukan ke hal-hal yang suci dengan kidung-kidung keagamaan.

5. Duduk yang baik (pria = sila, dan wanita = simpuh atau matimpuh).

6. Mekaksanakam Acamana yaitu membersihkan tangan dan mutut dengan air atau kembang.

7. Menyediakam dupa, kembang dan kembang isi sesari untuk dana punia yaitu kewangen.


Setelah semua tersedia maka sembahyang Puja Tri Sandya dimulai dipimpin oleh Pinandita, Pandita atau Sulinggih. Dan setelah Puja Tri Sandya selesai dilanjutkan dengan Kramaning Sembah yaitu

1. Muspa (sembah) tanpa sarana, tangan dicakupkan, diangkat di depan kening sejajar  ubun-ubun tanpa bunga.

2. Sembah dengan sarana bunga ditujukan kepada Sang Hyang Siwa Raditya.

3. Sembah dengan sarana bunga atau kewangen ditujukan kepada Ista Dewata.

4. Sembah panugrahan dengan bunga atau kewangen ditujukan kepada Dewa Samudaya atau Sarwa Dewa.

5. Muspa (sembah) tanpa sarana, dengan tangan dicakupkan di depan kening sejajar ubun-ubun tanpa bunga dengan keinginan untuk menerima wara nugraha Hyang Widhi dan membayangkan Hyang Widhi lagi. 


Demikian cara sembanhyang yang dilakukan umat Hindu sehingga kesucian dalam sembahyang terjaga dengan baik. Oleh karena itu urutan cara sembahyang ada untuk dapat dijadikan pedoman seluruh umat Hindu dimanapun berada.

Om Santih Santih Dantih Om


Aris Widodo

Penyuluh Agama Hindu

Kota Serang



CHANNEL YOUTUBE SAYA - MOHON DI SUBSCRIBE

Cari Artikel di Blog ini

Berita Terkait Semangat Hindu

Artikel Agama Hindu

108 Mutiara Veda 3 kerangka agama hindu advaita visistadviata dvaita Agama Hindu Dharma agama islam Ajaran Hindu aksara suci om alien menurut hindu Apa yang dimaksud Cuntaka Apa yang dimaksud dengan Japa Apa yang dimaksud dengan Puja arcanam nyasa aris widodo artikel hindu arya dharma Arya Wedakarna Asta Brata Atharvaveda Atman avatara sloka babad Badan Penyiaran Hindu bagian catur weda bahasa jawa kuno bahasa kawi bahasa sanskerta Banggalah Menjadi Hindu banten hindu bali Belajar Hindu BELAJAR ISTILAH AGAMA HINDU bhagavad gita Bhagawadgita bhagawan bhuta yadnya Bimas Hindu BPH Banten brahma wisnu siwa Brahman Atman Aikyam brahmana ksatriya wesia sudra budaya bali budha kliwon sinta Bukan Heroisme buku hindu terpopuler Canakhya Nitisastra cara sembahyang hindu catur asrama Catur Brata Catur Cuntakantaka Catur Purusha Artha Catur Purusharta catur veda Catur Warna Catur Weda Cendekiawan Hindu Cinta Kasih Dalam Perspektif Hindu Dana Punia Deva adalah sinar suci Brahman Deva Brahma Deva Indera dewa dewi hindu dewa yadnya dewata nawa sanga dewi kata-kata dewi saraswati dharma artha kama moksa Dharma Santi dharma wacana Doa Anak Hindu donasi buku hindu epos mahabharata ramayana filosofi pohon bambu filsafat agama hindu ganesha Gayatri Sebagai Mantra Yoga Hari Raya Galungan Hari Raya Kuningan Hari Raya Nyepi Hari Raya Pagerwesi Hari Raya Saraswati Hari Raya Siwaratri HINDU adalah ARYA DHARMA HINDU ADALAH SANATHANA DHARMA HINDU ADALAH VAIDHIKA DHARMA Hindu Agama Terbesar di Dunia Hindu Banten Hindu beribadah di Pura Hindu Festival Hindu Indonesia hindu nusantara Hindu Tengger Hinduism Facts Hinduism the Greatest Religion in the Word Hukum Karma Ida Pedanda sakti isi catur weda Jadilah Manusia Setia Japa dan Mantram Jiwa jual buku hindu kakawin Kamasutra Keagungan Aksara Suci OM Kekawin Lubdhaka kepemimpinan jawa kuna Kerajaan Hindu Keruntuhan Agama Hindu kesadaran diri kidung dewa yadnya Kitab Suci Weda lontar Lontar Kala Maya Tattwa Maharsi Atri Maharsi Bharadvaja Maharsi Gritsamada Maharsi Kanva Maharsi Vamadeva Maharsi Vasistha Maharsi Visvamitra manawa dharma sastra Mantra Mantra Yoga manusa yadnya Meditasi Matahari Terbit Mengapa Kita Beragama menghafal sloka Mimbar Agama Hindu Moksha Motivasi Hindu Mpu Jayaprema nakbalibelog Naskah Dialog Nuur Tirtha Om or Aum one single family opini hindu moderat Panca Sradha panca yadnya Panca Yajna pandita Panglong 14 Tilem Kepitu parahyangan agung jagatkartta paras paros segilik seguluk Pasraman Pasupati Pembagian Kitab Suci Veda Pemuda Hindu Indonesia pendidikan hindu pengertian catur weda Pengertian Cuntaka penyuluh agama hindu Peradah percikan dharma Percikan Dharma Dewa Yajna phdi pinandita Pitra Yadnya Ngaben Pitrapuja potong gigi Principle Beliefs of Hinduism Proud To Be Hindu Puja dan Prathana Pujawali purana purnama tilem Purwaning Tilem Kapitu Radio online Bali rare angon nak bali belog Reinkarnasi Rgveda ritual hindu Roh Rsi yadnya sabuh mas sad darsana sad guru Samaveda sanatana dharma sang hyang pramesti guru Sang Kala Amangkurat Sang Kala Dungulan Sang Kala Galungan Sang Kala Tiga sapta rsi Sapta Timira Sarassamuscaya Sarassamuscaya Sloka sattvam rajah tamah sejarah agama hindu Sekta Hindu Semangat Hindu seni budaya hindu Sex and Hinduism siwa budha waesnawa siwa ratri Sloka sloka bhagawad gita sloka bhatara sloka Rgveda sloka yayurveda Slokantara Sloka Spiritual Bersifat Misterius spiritualitas hindu spma ribek sradha dan bhakti sri rama krishna paramahansa Sri Sathya Sai Baba Sri Svami Sivananda sumpah dalam perkara tabuh gesuri tabuh kreasi baru tabuh telu lelambatan tantri kamandaka tat twam asi tattwa susila upakara Tempat Suci Hindu tiga hubungan harmonis tri hita karana Tri kaya parisudha tri kerangka agama hindu tri mala tri pramana Triji Ratna Permata tujuan perkawinan tujuh penerima wahyu tumimbal lahir upacara hindu upacara menek deha Upanisad upaweda Utsawa Dharma Gita vaidhika dharma Vasudhaiva Kutumbakam VEDA ADALAH ILMU PENGETAHUAN SUCI vedangga Vijaya Dashami Wasudewa Kutumbhakam widhi tatwa wija kasawur wiwaha agama hindu Yajna dan Sraddha yajna dan sradha Yayurveda Yoga Kundalini