PRAKATA
Semangat Hindu merupakan blog bersama umat Hindu untuk berbagi berita Hindu dan cerita singkat. Informasi kegiatan umat Hindu ini akan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan.
Semangat Hindu semangat kita bersama.
Bersama Semangat Hindu kita berbagi berita dan cerita, info kegiatan, bakti sosial dan kepedulian, serta kegiatan keagamaan seperti ; pujawali, Kasadha, Kaharingan, Nyepi, Upacara Tiwah, Ngaben, Vijaya Dhasami dan lain sebagainya.
Marilah Berbagi Berita, Cerita, Informasi, Artikel Singkat. Bagi yang mempunyai Web/Blog, dengan tautan URL maka dapat meningkatkan SEO Web/ blog Anda.
Terima Kasih
Admin
RANBB
---#### Mohon Klik Share untuk mendukung blog ini ####---
Selasa, 10 Januari 2023
Filsafat tentang Sang Hyang Widhi Wasa
Senin, 09 Januari 2023
OPINI : STRATEGI MENANGANI SAMPAH SISA UPAKARA
OPINI : STRATEGI MENANGANI SAMPAH SISA UPAKARA
Masalah sampah sisa persembahyangan yang muncul di media sosial semakin mengganggu kita sebagai umat Hindu. Tak peduli pura sebesar dan semegah Pura Besakih juga tidak luput dari sampah dari pemedek, yang berupa Canang Sari, kwangen, kulit tipat, kulit buah jeruk ataupun gelas plastik minuman. Terkadang adapula kulit daksina, kelapa, ceper, tamas, taledan yang berserakan disudut-sudut pura. Walaupun sebenarnya dari dahulu juga sudah ada sampah, sisa Kwangen atau Canang Sari, dan lain-lain. Masih sangat jelas dalam ingatan saya, saat masih usia anak-anak di desa, setiap piodalan selalu berebut untuk mencari sisa kwangen atau canang sari, barangkali ada sesari yang luput diambil oleh pemangku. Dapat terkumpul hingga 100 rupiah sangatlah besar pada tahun 70-an. Lalu kenapa setelah informasi global seperti saat ini, sampah tersebut menjadi sangat mengganggu ?
Yang
manakah sampah upakara dan yang mana pula sisa upakara ? terlebih dahulu harus kita sepakati bersama
antara sampah dan sisa upakara, walau dari segi bentuk rupa kedua hal ini sama.
Sisa Upakara adalah Upakara yang telah dihaturkan kepada Tuhan dan segala
manifestasiNya termasuk kepada sang Bhutakala, terletak pada tempat-tempat
tertentu. Seperti di pelinggih dan di sor pelinggih, ada pula di tengah-tengah
pemedal, kori agung atau candi bentar.
Seperti
kita ketahui, salah satu fungsi Upakara adalah sebagai alat konsentrasi dan
sebagai persembahan kurban suci. Dengan melihat upakara, pikiran manusia sudah
teringat dan terarah pada yang dihadirkan untuk dipuja. Teringat akan sang
Bhutakala atau mahluk lain yang berada diantara kita, yang patut kita
persembahkan kurban suci agar mereka selalu senang, tenang, tentram sehingga
tidak mengganggu kegiatan kita. Sisa persembahan atau upakara ini tidak
langsung dipindahkan atau dibersihkan, sebagai tanda prosesi upacara sudah
berlangsung.
Setelah
kita memahami sisa upakara, sekarang kita kembali ke sampah. Sampah adalah
sesuatu yang dibuang, yang telah tidak berguna. Sampah pada umumnya tidak
berada di tempat-tempat tertentu seperti pelinggih atau pintu masuk/pemedal. Di
lingkungan pura, sampah yang walau bentuknya sama dengan sisa upakara ini dapat
dijumpai pada tempat-tempat umum, seperti lapangan parkir kendaraan atau tempat
teduh dibawah pohon yang rindang.
Strategi
menangani sampah dan sisa upakara tentunya dengan cara yang berbeda, karena
kedua hal tersebut memang berbeda. Sisa upakara akan dibersihkan setelah
kegiatan selesai atau Nyineb, semua akan dilungsur
kemudian dinikmati sebagai prasadam. Dipilah-pilah kembali, mana buah,
tumpeng, dan mana yang janur, bunga dan lainnya yang tidak bisa dimakan.
Kegiatan ini sudah berlangsung secara turun-temurun pada setiap perhelatan
pujawali atau piodalan. Semua berlengsung dengan baik, sehingga sampah yang
dihasilkan tidak akan mengganggu keindahan lingkungan pura.
Kemudian
masalah sampah perlu penanganan secara fisik maupun mental. Fisik, berupa
kegiatan pembersihan langsung oleh petugas kebersihan, dengan menyapu secara
berkala dan menyediakan tempat-tempat sampah ditempat-tempat umum. Membuat
papan peringatan, agar umat menjaga kebersihan, salah satunya seperti
“KEBERSIHAN ADALAH BAGIAN DARI KARMA BAIK”. Papan peringatan dengan menyentuh
hati umat, bahwa kebersihan adalah bagian dari karma baik, dimana hukum karma
yang sangat dipercaya oleh umat kita. Sehingga selain secara fisik, ini pula
merupakan cara penanganan secara mental.
Satu
hal yang dapat kita kerjakan sebagai pemedek
adalah dengan menyiakan plastik kantong kresek sendiri saat akan nangkil. Bila diperlukan adanya upaya
Panitia piodalan untuk menyediakan kantong kresek gratis bagi umat yang akan
melaksanakan persembayangan sehingga ada rasa tanggungjawab, bahwasanya selain
melaksanakan persembahyangan juga melaksanakan karma baik dengan tidak membuang
atau meninggalkan sampahnya di lingkungan pura.
Dengan
adanya penekanan bahwa Kebersihan bagian dari sebuah Karma baik, tentunya akan
memberi efek yang sangat baik pula. Kita ketahui bersama bahwa, umat Hindu
sangat percaya dengan Hukum Karma, baik yang kita lakukan, baik pula yang akan
kita terima, demikian sebaliknya. Hukum Karma menjadi suatu hal yang perlu
mendapatkan peningkatan pemahaman dan penerapan di lapangan, lebih-lebih kita
sudah memahami tentang TRI HITA KARANA.
Penulis : Admin Blog
Minggu, 08 Januari 2023
Percikan Agama Hindu Dharma Sumber Hidup
Sabtu, 07 Januari 2023
Dana Punia Sarassamuscaya Sloka 174
Dana Punia Sarassamuscaya Sloka 174
Kuneng, an wwangujar sang sugih maweh dana ring kasyasih, tan padon ika, apan kewala tunggal doning mas, danakena juga karih, len sangkerika donya, lara katiwasan ngaranika.
Artinya
Akan tetapi,
jika menggembar-gemborkan orang yang kaya memberi sedekah kepada orang yang
patut dikasihani, sebenarnya tiadalah gunanya itu, sebab hanya satu saja
gunanya kekayaan, yaitu untuk disedekahkan, jika lain dari pada itu kegunaannya
disebut menimbulkan duka kemiskinan.
Ulasan
Apa yang
menjadikan pembicaraan bahwa apabila mereka memberikan sedekah dengan
memberitahukan kepada orang lain itu tidaklah baik dilakukan, karena kalau
sudah mau memberi dana punia atau sedekah hendaklah jangan diketahui orang
banyal.
Oleh karena
itu mepunia harus berdasarkan keikhlasan hati sehingga akan betdampak pada
bagaimana kehidupan dalam masyarakat saat ini.
Jumat, 06 Januari 2023
Siapakah Sang Kala Tiga ?
Siapakah Sang Kala Tiga ?
Apa dasar pustaka Sang Kala Tiga ?
Siapakah Sang Kala Tiga ?
1. Butha Galungan
2. Butha Dungulan
3. Butha Amangkurat
Kamis, 05 Januari 2023
Puja, Prathana, Japa dan Mantram
Puja, Prathana, Japa dan Mantram
Puja
adalah pengucapan mantram yang sudah baku untuk memuja kebesaran Tuhan. Dalam
Puja ini kita bisa memohon suatu anugrah kepada Tuhan lewat Istadewata. Melakukan
Puja Trisandya dan Karamaning Sembah adalah contoh dari melakukan puja ini.
Ritual ini bisa dilakukan bersama-sama, tetapi ada aturannya baik dberupa cara
duduk, mau pun sarana. Kapan sembahyang memakai bunga, kapan memakai kuangen,
kapan tangan kosong, misalnya.
Prathana
adalah berdoa yang sebenarnya. Kita berdoa melakukan permohonan kepada Tuhan,
tetapi tidak dibatasi oleh sikap tubuh maupun sarana. Mantram pun tak harus
baku, bahkan bisa bebas dengan dengan bahasa sehari-hari. Juga bisa tak terucapkan,
hanya di dalam hati. Misalnya, ketika mendengar ada seorang yang meninggal
dunia, kita langsung memberikan doa. Atau ada rintangan di jalan. Apakah saat
itu kita sedang menyetir mobil atau minum kopi di ruang tamu. Karena begitu
bebasnya dan sifatnya pun pribadi, berdoa cara ini tak harus bersama-sama.
Japa
adalah pengucapan nama suci Tuhan secara berulang-ulang, baik dihitung dengan
sarana genitri atau japamala, mau pun tak terbatas. Japa selain itu mendekatkan diri pada Tuhan juga bagus untuk mendisiplinkan
pikiran. Japa bisa dilakukan bersama-sama, tetapi karena tujuan sering tidak
sama, begitu pula berapa lama japa tidak sama, maka lebih baik dilakukan
sendiri.
Mantram adalah doa yang diucapkan dengan kata-kata yang sudah baku yang diambil dari kitab Weda. Tujuannya jelas, cara pengucapannyapun baku, meski iramanya bisa mengikuti budaya setempat. Mantram ini yang biasa dilakukan oleh seorang sulinggih dalam mempin ritual sebelum mengajak umat sembahyang bersama. Tidaklah mungkin mantram dilantunkan bersama-sama, kecuali Puja Trisandhya yang sesungguhnya adalah enam bait mantram dari berbagai sumber disatukan. Puja Trisandhya adalah kearifan Hindu Nusantara agar kita punya sarana untuk berdoa bersama. Di luar Bali, terutama umat Hindu etnis Jawa, seringkali melakukan Panca Sembah juga dengan melantunkan bersama-sama. Karena mereka taat dengan pedoman baku yang sudah disusun dan disebarkan. Namun di Bali agak sulit, karena sulinggih atau pemangku seringkali melantunkan mantram yang berbeda dari yang sudah dijadikan pedoman dalam buku. Misalnya, mantram kedua Panca Sembah tatkala memuja Hyang Raditya untuk “memohon kesaksian”. Ada banyak jenis mantram untuk memuja Raditya, kalau ternyata umat dan sulinggih saling beda mengambil sumber, bisa kacau dan selesainya pun tak bersama. Karena itu umat cukup diam saja menunggu mantram sulinggih.
Keempat cara berkomunikasi dengan
Tuhan penting untuk dibedakan agar ritual yadnyanya lebih rapi dan khusyuk. (sumber kutipan Dharma Wacana :
Selasa, 03 Januari 2023
Percikan Dharma Tri Kaya Parisudha
Percikan Dharma Tri Kaya Parisudha
Om Swastyastu
Umat sedharma yang bahagia, ada tiga hal yang harus kita lakukan yakni berpikir yang benar, berbicara yang benar dan berbuat yang benar. Dalam hal ini manusia dibekali akal dan pikiran yang lengkap diantara makhluk hidup lainnya, untuk itu dalam berpikir harus mampu
membuat semua makhluk hidup bahagia. Oleh karena itu berpikir yang tentu akan berakibat pada ucapan dan perilaku yang baik pula sehingga akan membuat suasana yang menyenangkan.
Umat sedharma, dengan ucapan yang baik dan benar tentu akan memberikan fibrasi yang baik pula dalam kehidupan kita. Dalam kehidupan ini memang sangat dibutuhkan ucapan atau perkataan yang baik akan membuat hidup lebih menyenangkan.
Sedangkan dalam berbuat baik tentu tidak akan lepas dari apa yang ada dalam pikiran kita, karena semua berpulang pada pikiran datangnya. Dengan modal tiga hal ini apabila dilaksanakan terus menerus tentu akan dengan mudah mendapatkan tiket menuju swarga loka, karena dengan jalan dharma tersebut itulah swarga loka bisa dicapainya.
Om Santih Santih Santih Om
Aris Widodo
Penyuluh Agama Hindu
Kota Serang
Senin, 02 Januari 2023
HARI RAYA GALUNGAN SEBAGAI MOMENTUM PENINGKATAN KUALITAS DIRI
HARI RAYA GALUNGAN SEBAGAI MOMENTUM PENINGKATAN KUALITAS DIRI
Hari ini mayoritas Umat Hindu di Indonesia
merayakan Hari Raya Galungan. Hari yang secara tradisional dimaknai sebagai
hari kemenangan. Kemenangan dharma atas adharma, atau kebajikan melawan
kebathilan. Sebagai sebuah peringatan atas kemenangan,maka sangat wajar
akhirnya hari Galungan diberikan predikat sebagai hari raya, yang mengandung
makna perayaan terhadap kemenangan. Yang menjadi pertanyaan adalah, kemenangan
melawan apa, dan siapakah yang harus dikalahkan?
Berkaitan dengan Hari Raya Galungan, banyak tafsir
baik secara mitologi maupun historis. Tafsir mitologi yang sering kita
dengarkan adalah tentang Maya Denawa, dan tafsir secara historisnya yaitu
kemenangan antara Pandava melawan Kaurava. Tafsir historis yang lainnya adalah
perayaan kemenangan Sri Rama yang berhasil membawa kembali Sita Dewi dari
cengkeraman Rahwana di Alengka Pura. Kemudian di antara tafsir- tafsir tersebut
manakah yang benar?
Sebuah pertanyaan yang wajar, yang biasa
ditanyakan oleh orang pencari kebenaran dengan membabi buta, yang menganggap Agama adalah hitam dan putih,
semua harus didasarkan atas fakta empiris.
Bagi saya, agama merupakan jalan hidup. Begitu
kita memiliki prinsip itu, maka hal pertama kita sadari adalah harus mengetahui
tujuan hidup. Tujuan hidup akan berhasil kita raih dan temukan apabila kita
mengenal dan mengikuti "rambu- rambu jalan hidup". Itulah agama, yang
memberikan rambu-rambu kehidupan melalui sloka-sloka/ ayat sucinya. Yang jelas
kesemuanya harus diterjemahkan, baik secara tekstual maupun konstekstual. Tidak
harus membabi buta.
Kembali mengenai Hari Raya Galungan, Sastra Suci
kita,khususnya Kek. Ramayana memberi pesan tersurat dan tersirat: "Ragadi
musuh maparo, ri hati yo tonggwania tan mafoh ring hawak..." yang artinya:
musuh yang sebenarnya adalah terletak di dalam diri, tidak jauh dari diri kita.
Selain itu sastra yang lain, yaitu Nitisastra menyebutkan: "Nora na satru
manglwihane heleng ri hati", yang secara pemaknaan tidak jauh berbeda
dengan tafsir Kek. Ramayana di atas. Pesan tersurat dan tersirat dari Sastra
Suci tersebut, ditegaskan lagi oleh Pancamo Veda kita yaitu Bhagavad Gita
XVI.21:
Trividham narakaye'dam
dvaram nasanam atmanah
kamah krodhas tatha lobhas
tasmad etat trayam tyajet
Artinya:
Ini pintu gerbang menuju neraka, jalan menuju kehancuran
diri ada 3, yaitu kama (keinginan jasmaniah), krodha (kemarahan) dan lobha
(ketamakan), oleh karenanya
ketiga-tiganya harus ditinggalkan.
Berkaitan dengan Hari Raya Galungan, secara
tradisional diberikan pemaknaan simbolis pada saat 'penampahan' sehari sebelum Galungan, yaitu dimaksudkan
agar kita dapat membunuh sifat kebinatangan (nafsu/ keinginan yang liar, dan
keangkara murkaan) sehingga kita benar- benar bisa memahami hakikat kebenaran
dengan merayakan Galungan, dan sehari setelah Hari Raya Galungan kita dapat
merasakan bagaimana 'Manisnya Galungan'.
Sebagai manusia,kita diberikan manah atau pikiran
yang merupakan kelebihan dari makhluk lain, sehingga semestinya kita dapat
menjadikan pikiran sebagai alat pengontrol dan pengendali panca indera kita,
bukan sebaliknya. Semua yang ada dan yang akan ada bisa menjadi baik,indah dan
harmoni berawal dari pikiran, demikian pula sebaliknya akan hancur dan
disharmoni juga disebabkan oleh pikiran kita, sehingga semestinya kita mampu
mengendalikan pikiran kita agar tidak dikuasai oleh amarah, karena amarahlah
yang akan membawa kehancuran. Seperti pesan yang disiratkan oleh Bhagavad Gita
II. 63:
'Krodhah bhavati samohah
samohah smrtivi bramah
smrtibramah budhinaso
budhinasat pranasyati"
Artinya:
Dari kemarahan muncullah kebingungan, dari
kebingungan menjadikan hilang ingatan, dan dari hilang ingatan menghancurkan
segalanya.
Itulah pesan sesungguhnya dari perayaan Hari Raya
Galungan, yakni menjadikan manusia menjadi Manava Madhava, yaitu makhluk yang
dapat berpikir bijak dan bajik, bijaksana dan penuh kebajikan sesuai dengan
karakter dan sifat Brahman/ 'Daivi Sampad', bukan manusia yang berkecenderungan
memiliki sifat angkara murka Para Asura (Manava Danava) atau 'Asuri Sampad'.
Dengan kesadaran tersebut, mari bersama- sama turut mewujudkan Umat Hindu yang
sejahtera, dengan semangat Satyam (jujur), Sivam (bijak dan bajik) dan Sundaram
(indah)
"Selamat Merayakan Hari Kemenangan Galungan,
Suro diro Jayaningrat lebur dening pangastuti, Satyam Eva Jayate Namrtam..."
Naskah Oleh Bapak Surono
Minggu, 01 Januari 2023
Catur Brata Penyepian
Catur Brata Penyepian
Umat se-dharna, dalam perjalanan hidup manusia ini kita harus ada instrupeksi diri agar kehidupan berjalan sesuai apa yang direncanakan. Oleh karena itu dalam setahun ini kita harus mampu berkaca diri setahun lalu telah di perbuatnya.
Rabu, 09 November 2022
Percikan Dharma Tri Guna
Percikan Dharma Tri Guna
Om Swastyastu
Umat Se-dharma, perlu diketahui bahwa dalam kehidupan di dunia ini ada sifat-sifat yang dimiliki manusia yaitu Sattwam, Rajas dan Tamas. Ketika manusia berbuat sesuatu dalam mengejar artha dan kama itu sering dikuasai oleh berbagai cobaan, apabila tidak hati-hati dapat menjerumuskannya ke dalam kesengsaraan. Sesekali ia cenderung menjadi pemalas, pemarah, dikuasai oleh nafsu-nafsu untuk melakukan yang kurang baik hingga tega menyabut nyawa sesama, bersikap masa bodoh dan sebagainya.
Sebaliknya ia sering dikuasai oleh kecenderungan berbuat baik, berkorban, menolong sesama, timbul perasaan kasih sayang, merasakan tanggungjawab, berani berbuat sesuatu untuk kebaikan, bersemangat mengatakan yang benar dan seterusnya. Semua kecenderungan-kecenderungan dapat digolongkan tiga tkngkatan yaitu sattwam, rajas dan tamas.
1. Sattwam, artinya semua perbuatan yang selalu mendasarkan kebenaran, kehujuran, kesucian, kasih sayang, tenang, tidak keburu nafsu, bijaksana, senantiasa sesuai dengan sifat kedewassaan.
2. Rajas, artinya kegiatan yang terdorong oleh nafsu, semangat dan kemauan yang besar untuk mencapai srsuatu.
3. Tamas, artinya sifat-sifat yang dikuasai oleh tamalk cenderung bersifat jahat, tidak betanggung jawab, loba, bodoh, egois, tidak ada rasa kepedulian dan seterusnya.
Agama senantiasa tertentu menekankan agar manusia berbuat yang dikuasai oleh sifat-sifat sattwam dan menjauhkan perbuatan yang dikuasai okeh rajas dan tamas.
Dalam situasi tertentu mungkin dapat dibenarkan melakukan sesuatu denfan sifat rajas dalam arti bersemangat untuk mendorong terlaksananya sesuatu yang diperlukan, asalkan tetap berpegangan pada dharma (kejujuran, kebenaran dan perasaan keadilan). Inilah yang harus menjadi pedoman umat Hindu dalam mengusahakan kebahagiaan hidup.
Om Santih Santih Santih Om
Aris Widodo
Penyuluh Agama Hindu
Kota Serang
Sabtu, 01 Oktober 2022
Percikan Dharma Cara Sembahyang Hindu
Percikan Dharma
Cara Sembahyang
Om Swastyastu
Umat se-dharma, perlu diketahui dan dilaksanakan dalam agama Hindu yaitu bagaimana cara sembahyang yang baik dan benar. Dalam agama Hindu ada tiga hal yang harus diketahui mengenai cara-cara sembahyang (muspa) yaitu :
1. Muspa bersamaan dengan diiringi oleh Pinandita, Pandita atau Sulinggih.
2. Muspa bersamaan yang tidak diiringi oleh Pinandita, Pandita atau Sulinggih.
3. Muspa yang dilaksanakan sendiri.
Dalam hal muspa atau sembahyang ini juga ada ketentuan-ketentuan yaitu untuk membangkitkan dan menjaga suasana kesucian, maka sebelum sembahyang harus dilaksanakan yaitu :
1. Mandi dengan air bersih, kalau bisa pakai air harum atau wangi (air kumkuman).
2. Pakaian atau busana yang bersihz khusus untuk sembahyang, jangan lupa pakai kampuh atau slendang (kain) putih kuning.
3. Tempat dan sarana persembahyangan yang bersih dan suci.
4. Waktu menuju tempat sembahyang pikiran sudah ditujukan ke hal-hal yang suci dengan kidung-kidung keagamaan.
5. Duduk yang baik (pria = sila, dan wanita = simpuh atau matimpuh).
6. Mekaksanakam Acamana yaitu membersihkan tangan dan mutut dengan air atau kembang.
7. Menyediakam dupa, kembang dan kembang isi sesari untuk dana punia yaitu kewangen.
Setelah semua tersedia maka sembahyang Puja Tri Sandya dimulai dipimpin oleh Pinandita, Pandita atau Sulinggih. Dan setelah Puja Tri Sandya selesai dilanjutkan dengan Kramaning Sembah yaitu
1. Muspa (sembah) tanpa sarana, tangan dicakupkan, diangkat di depan kening sejajar ubun-ubun tanpa bunga.
2. Sembah dengan sarana bunga ditujukan kepada Sang Hyang Siwa Raditya.
3. Sembah dengan sarana bunga atau kewangen ditujukan kepada Ista Dewata.
4. Sembah panugrahan dengan bunga atau kewangen ditujukan kepada Dewa Samudaya atau Sarwa Dewa.
5. Muspa (sembah) tanpa sarana, dengan tangan dicakupkan di depan kening sejajar ubun-ubun tanpa bunga dengan keinginan untuk menerima wara nugraha Hyang Widhi dan membayangkan Hyang Widhi lagi.
Demikian cara sembanhyang yang dilakukan umat Hindu sehingga kesucian dalam sembahyang terjaga dengan baik. Oleh karena itu urutan cara sembahyang ada untuk dapat dijadikan pedoman seluruh umat Hindu dimanapun berada.
Om Santih Santih Dantih Om
Aris Widodo
Penyuluh Agama Hindu
Kota Serang
CHANNEL YOUTUBE SAYA - MOHON DI SUBSCRIBE
Tattwa Filsafat Hindu
Cari Artikel di Blog ini
Upacara Yadnya
Berita Terkait Semangat Hindu
-
BABAD PURI ANDHUL JEMBRANA Babad ini berisikan tentang keberadaan Puri Andhul beserta keturunannya serta keterkaitan Puri Andhul deng...
-
Temuan Candi Bisa Jadi Wisata Baru Dieng . Penemuan candi Hindu di Bukit Pangonan Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, berpotensi menjadi o...
-
Hindu Malaysia. Deepavali Perayaan Cahaya Penuh Simbolik Perkataan Deepavali merupakan gabungan perkataan "Dipa" yang bererti ca...
-
UPACARA VRATYASTOMA Upacara vratyastoma sendiri adalah upacara penyucian diri dalam agama hindu, sebelum seseorang masuk dalam agama hin...
-
BABAD ARYA KEPAKISAN (1998) BABAD ARYA KEPAKISAN Babad ini menceritakan tentang keturunan Arya Kepakisan di Bali. Arya Kepakis...
-
Jenis kitab-kitab Nibandha Kelompok buku-buku yang tidak merupakan kelompok Veda tetapi isinya memberi pandangan tersendiri baik yang se...
-
Pecalang Ciledug Pecalang dalam masyarakat umum dikatakan sebagai penjaga keamanan tradisional Bali, karena memang berasal dari Bali, w...
-
Makna Simbol dalam Upakara Banten; yaitu Canang Makna Simbol dalam Upakara Banten; Canang Om Swastiastu; Om Anobhadrah krtavoyanthu ...
-
Vasudhaiva Kutumbakam Sri Ramakrishna Paramahansa Vasudhaiva Kutumbakam berasal dari ungkapan bahasa Sansekerta; vasudha - bu...
-
Percikan Dharma Jadilah Manusia Setia Om Swastyaatu Umat se-dharna, perlu kita ketahui bahwa dalam hidup ini sering manusia disuruh memilih...

















