OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM

PRAKATA

Selamat Datang

Semangat Hindu merupakan blog bersama umat Hindu untuk berbagi berita Hindu dan cerita singkat. Informasi kegiatan umat Hindu ini akan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan.
Semangat Hindu semangat kita bersama.

Bersama Semangat Hindu kita berbagi berita dan cerita, info kegiatan, bakti sosial dan kepedulian, serta kegiatan keagamaan seperti ; pujawali, Kasadha, Kaharingan, Nyepi, Upacara Tiwah, Ngaben, Vijaya Dhasami dan lain sebagainya.

Marilah Berbagi Berita, Cerita, Informasi, Artikel Singkat. Bagi yang mempunyai Web/Blog, dengan tautan URL maka dapat meningkatkan SEO Web/ blog Anda.

Terima Kasih
Admin

RANBB

---#### Mohon Klik Share untuk mendukung blog ini ####---

Kamis, 05 Januari 2023

Puja, Prathana, Japa dan Mantram

 Puja, Prathana, Japa dan Mantram

Apa yang dimaksud dengan Puja ?
Apa yang dimaksud dengan Prathana ?
Apa yang dimaksud dengan Japa ?
Apa yang dimaksud dengan Mantram ?


        Puja
adalah pengucapan mantram yang sudah baku untuk memuja kebesaran Tuhan. Dalam Puja ini kita bisa memohon suatu anugrah kepada Tuhan lewat Istadewata. Melakukan Puja Trisandya dan Karamaning Sembah adalah contoh dari melakukan puja ini. Ritual ini bisa dilakukan bersama-sama, tetapi ada aturannya baik dberupa cara duduk, mau pun sarana. Kapan sembahyang memakai bunga, kapan memakai kuangen, kapan tangan kosong, misalnya.


Prathana adalah berdoa yang sebenarnya. Kita berdoa melakukan permohonan kepada Tuhan, tetapi tidak dibatasi oleh sikap tubuh maupun sarana. Mantram pun tak harus baku, bahkan bisa bebas dengan dengan bahasa sehari-hari. Juga bisa tak terucapkan, hanya di dalam hati. Misalnya, ketika mendengar ada seorang yang meninggal dunia, kita langsung memberikan doa. Atau ada rintangan di jalan. Apakah saat itu kita sedang menyetir mobil atau minum kopi di ruang tamu. Karena begitu bebasnya dan sifatnya pun pribadi, berdoa cara ini tak harus bersama-sama.

Japa adalah pengucapan nama suci Tuhan secara berulang-ulang, baik dihitung dengan sarana genitri atau japamala, mau pun tak terbatas. Japa selain itu mendekatkan diri pada Tuhan juga bagus untuk mendisiplinkan pikiran. Japa bisa dilakukan bersama-sama, tetapi karena tujuan sering tidak sama, begitu pula berapa lama japa tidak sama, maka lebih baik dilakukan sendiri.

Mantram adalah doa yang diucapkan dengan kata-kata yang sudah baku yang diambil dari kitab Weda. Tujuannya jelas, cara pengucapannyapun baku, meski iramanya bisa mengikuti budaya setempat. Mantram ini yang biasa dilakukan oleh seorang sulinggih dalam mempin ritual sebelum mengajak umat sembahyang bersama. Tidaklah mungkin mantram dilantunkan bersama-sama, kecuali Puja Trisandhya yang sesungguhnya adalah enam bait mantram  dari berbagai sumber disatukan. Puja Trisandhya adalah kearifan Hindu Nusantara agar kita punya sarana untuk berdoa bersama. Di luar Bali, terutama umat Hindu etnis Jawa, seringkali melakukan Panca Sembah juga dengan melantunkan bersama-sama. Karena mereka taat dengan pedoman baku yang sudah disusun dan disebarkan. Namun di Bali agak sulit, karena sulinggih atau pemangku seringkali melantunkan mantram yang berbeda dari yang sudah dijadikan pedoman dalam buku. Misalnya, mantram kedua Panca Sembah tatkala memuja Hyang Raditya untuk “memohon kesaksian”. Ada banyak jenis mantram untuk memuja Raditya, kalau ternyata umat dan sulinggih saling beda mengambil sumber, bisa kacau dan selesainya pun tak bersama. Karena itu umat cukup diam saja menunggu mantram sulinggih.

Keempat cara berkomunikasi dengan Tuhan penting untuk dibedakan agar ritual yadnyanya lebih rapi dan khusyuk. (sumber kutipan Dharma Wacana : Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda )


Selasa, 03 Januari 2023

Percikan Dharma Tri Kaya Parisudha

 Percikan Dharma  Tri Kaya Parisudha

Om Swastyastu

percikan dharma

Umat sedharma yang bahagia, ada tiga hal yang harus kita lakukan yakni berpikir yang benar, berbicara yang benar dan berbuat yang benar. Dalam hal ini manusia dibekali akal dan pikiran yang lengkap diantara makhluk hidup lainnya, untuk itu dalam berpikir harus mampu

membuat semua makhluk hidup bahagia. Oleh karena itu berpikir yang  tentu akan berakibat pada ucapan dan perilaku yang baik pula sehingga akan membuat suasana yang menyenangkan.


Umat sedharma, dengan ucapan yang baik dan benar tentu akan memberikan fibrasi yang baik pula dalam kehidupan kita. Dalam kehidupan ini memang sangat dibutuhkan ucapan atau perkataan yang baik akan membuat hidup lebih menyenangkan.


Sedangkan dalam berbuat baik tentu tidak akan lepas dari apa yang ada dalam pikiran kita, karena semua berpulang pada pikiran datangnya. Dengan modal tiga hal ini apabila dilaksanakan terus menerus tentu akan dengan mudah mendapatkan tiket menuju swarga loka, karena dengan jalan dharma tersebut itulah swarga loka bisa dicapainya. 

Om Santih Santih Santih Om


Aris Widodo

Penyuluh Agama Hindu

Kota Serang

Senin, 02 Januari 2023

HARI RAYA GALUNGAN SEBAGAI MOMENTUM PENINGKATAN KUALITAS DIRI

HARI RAYA GALUNGAN SEBAGAI MOMENTUM PENINGKATAN KUALITAS DIRI

hari raya galungan


Hari ini mayoritas Umat Hindu di Indonesia merayakan Hari Raya Galungan. Hari yang secara tradisional dimaknai sebagai hari kemenangan. Kemenangan dharma atas adharma, atau kebajikan melawan kebathilan. Sebagai sebuah peringatan atas kemenangan,maka sangat wajar akhirnya hari Galungan diberikan predikat sebagai hari raya, yang mengandung makna perayaan terhadap kemenangan. Yang menjadi pertanyaan adalah, kemenangan melawan apa, dan siapakah yang harus dikalahkan?

 


Berkaitan dengan Hari Raya Galungan, banyak tafsir baik secara mitologi maupun historis. Tafsir mitologi yang sering kita dengarkan adalah tentang Maya Denawa, dan tafsir secara historisnya yaitu kemenangan antara Pandava melawan Kaurava. Tafsir historis yang lainnya adalah perayaan kemenangan Sri Rama yang berhasil membawa kembali Sita Dewi dari cengkeraman Rahwana di Alengka Pura. Kemudian di antara tafsir- tafsir tersebut manakah yang benar?

Sebuah pertanyaan yang wajar, yang biasa ditanyakan oleh orang pencari kebenaran dengan membabi buta,  yang menganggap Agama adalah hitam dan putih, semua harus didasarkan atas fakta empiris.

 

Bagi saya, agama merupakan jalan hidup. Begitu kita memiliki prinsip itu, maka hal pertama kita sadari adalah harus mengetahui tujuan hidup. Tujuan hidup akan berhasil kita raih dan temukan apabila kita mengenal dan mengikuti "rambu- rambu jalan hidup". Itulah agama, yang memberikan rambu-rambu kehidupan melalui sloka-sloka/ ayat sucinya. Yang jelas kesemuanya harus diterjemahkan, baik secara tekstual maupun konstekstual. Tidak harus membabi buta.

 

Kembali mengenai Hari Raya Galungan, Sastra Suci kita,khususnya Kek. Ramayana memberi pesan tersurat dan tersirat: "Ragadi musuh maparo, ri hati yo tonggwania tan mafoh ring hawak..." yang artinya: musuh yang sebenarnya adalah terletak di dalam diri, tidak jauh dari diri kita. Selain itu sastra yang lain, yaitu Nitisastra menyebutkan: "Nora na satru manglwihane heleng ri hati", yang secara pemaknaan tidak jauh berbeda dengan tafsir Kek. Ramayana di atas. Pesan tersurat dan tersirat dari Sastra Suci tersebut, ditegaskan lagi oleh Pancamo Veda kita yaitu Bhagavad Gita XVI.21:

Trividham narakaye'dam
dvaram nasanam atmanah
kamah krodhas tatha lobhas
tasmad etat trayam tyajet

Artinya:

Ini pintu gerbang menuju neraka, jalan menuju kehancuran diri ada 3, yaitu kama (keinginan jasmaniah), krodha (kemarahan) dan lobha (ketamakan),  oleh karenanya ketiga-tiganya harus ditinggalkan.

 

Berkaitan dengan Hari Raya Galungan, secara tradisional diberikan pemaknaan simbolis pada saat 'penampahan'  sehari sebelum Galungan, yaitu dimaksudkan agar kita dapat membunuh sifat kebinatangan (nafsu/ keinginan yang liar, dan keangkara murkaan) sehingga kita benar- benar bisa memahami hakikat kebenaran dengan merayakan Galungan, dan sehari setelah Hari Raya Galungan kita dapat merasakan bagaimana 'Manisnya Galungan'.

 

Sebagai manusia,kita diberikan manah atau pikiran yang merupakan kelebihan dari makhluk lain, sehingga semestinya kita dapat menjadikan pikiran sebagai alat pengontrol dan pengendali panca indera kita, bukan sebaliknya. Semua yang ada dan yang akan ada bisa menjadi baik,indah dan harmoni berawal dari pikiran, demikian pula sebaliknya akan hancur dan disharmoni juga disebabkan oleh pikiran kita, sehingga semestinya kita mampu mengendalikan pikiran kita agar tidak dikuasai oleh amarah, karena amarahlah yang akan membawa kehancuran. Seperti pesan yang disiratkan oleh Bhagavad Gita II. 63:  

'Krodhah bhavati samohah
samohah smrtivi bramah
smrtibramah budhinaso
budhinasat pranasyati"

Artinya:

Dari kemarahan muncullah kebingungan, dari kebingungan menjadikan hilang ingatan, dan dari hilang ingatan menghancurkan segalanya.

 

Itulah pesan sesungguhnya dari perayaan Hari Raya Galungan, yakni menjadikan manusia menjadi Manava Madhava, yaitu makhluk yang dapat berpikir bijak dan bajik, bijaksana dan penuh kebajikan sesuai dengan karakter dan sifat Brahman/ 'Daivi Sampad', bukan manusia yang berkecenderungan memiliki sifat angkara murka Para Asura (Manava Danava) atau 'Asuri Sampad'. Dengan kesadaran tersebut, mari bersama- sama turut mewujudkan Umat Hindu yang sejahtera, dengan semangat Satyam (jujur), Sivam (bijak dan bajik) dan Sundaram (indah)

 

"Selamat Merayakan Hari Kemenangan Galungan, Suro diro Jayaningrat lebur dening pangastuti, Satyam Eva Jayate Namrtam..."

Naskah Oleh Bapak Surono

Minggu, 01 Januari 2023

Catur Brata Penyepian

 Catur Brata Penyepian

Percikan Dharma

Catur Brata Penyepian

Om Swastyastu

Umat se-dharna, dalam perjalanan hidup manusia ini kita harus ada instrupeksi diri agar kehidupan berjalan sesuai apa yang direncanakan. Oleh karena itu dalam setahun ini kita harus mampu berkaca diri   setahun  lalu telah di perbuatnya.

Dalam rangka menjalani kehidupan ini ada waktunya untuk instropeksi diri yaitu bertepatan dengan hari raya Nyepi tahun baru saka yang dilaksanakan dalam setahun sekali oleh umat Hindu. Dengan Catur Brata Penyepian itulah umat Hindu menjalani instropeksi diri dalam perjalanan hidup satu tahun yang lalu, apa yang sudah dilakukan dan apa yang belum dilakukan.

Yang pertama, Amati Geni yaitu tidak menyalakan api maksudnya tidak melakukan kegiatan yang kaitannya dengan menggunakan api, terkait dengan memasak makanan dan minuman sehingga umat Hindu melaksanakan puasa atau pawasa dalam kurun waktu 24 jam atau 36 jam setelah melaksanakan Tawur Agung Kesanga. Hal ini agar umat manusia bisa merasakan bagaimana merasakan pawasa sehingga tubuh ini berhenti beraktivitas secara penuh.

Yang kedua, Amati karya yaitu tidak melakukan kerja maksudnya tidak melakukan pekerjaan apapun sehingga dalam masa ini khusus untuk instropeksi diri bagaimana diri ini hanya memikirkan langkah apa yang telah dilalukan dan apa yang akan dilakukan. Dengan menghentikan aktivitas kerja selama 24 jam atau 36 jam ini manusia diharapkan mawas diri agar kehidupsn ke depan lebih baik lagi.

Yang ketiga, Amati Lelanguan yaitu tidak melakukan kesenangan maksudnya tidak melakukan segala kesenangan baik kesenangan melalui panca indria maupun dasa indria. Dengan menghentikan semua kesenangan ini agar terfokus pada pengendalian diri sehingga manusia mampu menghadirkan bagaimana menyikapi bahwa kesenangan dapat membuat manusia lupa diri.

Yang keempat, Amati Lelungan yaitu tidak melakukan aktivitas berpergian maksudnya tidak melakukan berpergian agar umat manusia hanya fokus pada mawas diri sehingga tidak melakukan kesalahan dalam suatu perjalanan di luar sana. Dengan tidak berpergian ini diharapkan umat manusia dapat mawas diri bagaimana yang bisa setahun yang lalu dan setahun harus dilakukan setahun ke depan.

Demikian yang perlu diingat dan selalu dilakukan oleh umat Hindu dalam perjalanan hidup manusia setiap tahunnya sehingga dapat terus ditingkatkan dari tahun ke tahun. Oleh karena itu umswwwat manusia dihimbau untuk instropeksi diri atau mawas diri karena tidak selamanya manusia melakukan yang baik saja namun juga masih melakukan kesalahan-kesalahan baik yang disengaja maupun tidak disengaja.
Om Santih Santih Santih Om

Aris Widodo
Penyuluh Agama Hindu
Kota Serang



Rabu, 09 November 2022

Percikan Dharma Tri Guna

Percikan Dharma Tri Guna



Om Swastyastu

Umat Se-dharma, perlu diketahui bahwa dalam kehidupan di dunia ini ada sifat-sifat yang dimiliki manusia yaitu Sattwam, Rajas dan Tamas. Ketika manusia berbuat sesuatu dalam mengejar artha dan kama itu sering dikuasai oleh berbagai cobaan, apabila tidak hati-hati dapat menjerumuskannya ke dalam kesengsaraan. Sesekali ia cenderung menjadi pemalas, pemarah, dikuasai oleh nafsu-nafsu untuk melakukan yang kurang baik hingga tega menyabut nyawa sesama, bersikap masa bodoh dan sebagainya.



Sebaliknya ia sering dikuasai oleh kecenderungan berbuat baik, berkorban, menolong sesama, timbul perasaan kasih sayang, merasakan tanggungjawab, berani berbuat sesuatu untuk kebaikan, bersemangat mengatakan yang benar dan seterusnya. Semua kecenderungan-kecenderungan dapat digolongkan tiga tkngkatan yaitu sattwam, rajas dan tamas.


1. Sattwam, artinya semua perbuatan yang selalu mendasarkan kebenaran, kehujuran, kesucian, kasih sayang, tenang, tidak keburu nafsu, bijaksana, senantiasa sesuai dengan sifat kedewassaan. 


2. Rajas, artinya kegiatan yang terdorong oleh nafsu, semangat dan kemauan yang besar untuk mencapai srsuatu. 


3. Tamas, artinya sifat-sifat yang dikuasai oleh tamalk cenderung bersifat jahat, tidak betanggung jawab, loba, bodoh, egois, tidak ada rasa kepedulian dan seterusnya.


Agama senantiasa tertentu menekankan agar manusia berbuat yang dikuasai oleh sifat-sifat sattwam dan menjauhkan perbuatan yang dikuasai okeh rajas dan tamas.


Dalam situasi tertentu mungkin dapat dibenarkan melakukan sesuatu denfan sifat rajas dalam arti bersemangat untuk mendorong terlaksananya sesuatu yang diperlukan, asalkan tetap berpegangan pada dharma (kejujuran, kebenaran dan perasaan keadilan). Inilah yang harus menjadi pedoman umat Hindu dalam mengusahakan kebahagiaan hidup.

Om Santih Santih Santih Om


Aris Widodo

Penyuluh Agama Hindu

Kota Serang

Sabtu, 01 Oktober 2022

Percikan Dharma Cara Sembahyang Hindu

 Percikan Dharma

Cara Sembahyang



Om Swastyastu

Umat se-dharma, perlu diketahui dan dilaksanakan dalam agama Hindu yaitu bagaimana cara sembahyang yang baik dan benar. Dalam agama Hindu ada tiga hal yang harus diketahui mengenai cara-cara sembahyang (muspa) yaitu :

1. Muspa bersamaan dengan diiringi oleh Pinandita, Pandita atau Sulinggih.

2. Muspa bersamaan yang tidak diiringi oleh Pinandita, Pandita atau Sulinggih.

3. Muspa yang dilaksanakan sendiri.


Dalam hal muspa atau sembahyang ini juga ada ketentuan-ketentuan yaitu untuk membangkitkan dan menjaga suasana kesucian, maka sebelum sembahyang harus dilaksanakan yaitu :

1. Mandi dengan air bersih, kalau bisa pakai air harum atau wangi (air kumkuman).

2. Pakaian atau busana yang bersihz khusus untuk sembahyang, jangan lupa pakai kampuh atau slendang (kain) putih kuning.

3. Tempat dan sarana persembahyangan yang bersih dan suci.

4. Waktu menuju tempat sembahyang pikiran sudah ditujukan ke hal-hal yang suci dengan kidung-kidung keagamaan.

5. Duduk yang baik (pria = sila, dan wanita = simpuh atau matimpuh).

6. Mekaksanakam Acamana yaitu membersihkan tangan dan mutut dengan air atau kembang.

7. Menyediakam dupa, kembang dan kembang isi sesari untuk dana punia yaitu kewangen.


Setelah semua tersedia maka sembahyang Puja Tri Sandya dimulai dipimpin oleh Pinandita, Pandita atau Sulinggih. Dan setelah Puja Tri Sandya selesai dilanjutkan dengan Kramaning Sembah yaitu

1. Muspa (sembah) tanpa sarana, tangan dicakupkan, diangkat di depan kening sejajar  ubun-ubun tanpa bunga.

2. Sembah dengan sarana bunga ditujukan kepada Sang Hyang Siwa Raditya.

3. Sembah dengan sarana bunga atau kewangen ditujukan kepada Ista Dewata.

4. Sembah panugrahan dengan bunga atau kewangen ditujukan kepada Dewa Samudaya atau Sarwa Dewa.

5. Muspa (sembah) tanpa sarana, dengan tangan dicakupkan di depan kening sejajar ubun-ubun tanpa bunga dengan keinginan untuk menerima wara nugraha Hyang Widhi dan membayangkan Hyang Widhi lagi. 


Demikian cara sembanhyang yang dilakukan umat Hindu sehingga kesucian dalam sembahyang terjaga dengan baik. Oleh karena itu urutan cara sembahyang ada untuk dapat dijadikan pedoman seluruh umat Hindu dimanapun berada.

Om Santih Santih Dantih Om


Aris Widodo

Penyuluh Agama Hindu

Kota Serang



Rabu, 24 Agustus 2022

Percikan Dharma Jadilah Manusia Setia

 Percikan Dharma

Jadilah Manusia Setia


Om Swastyaatu

Umat se-dharna, perlu kita ketahui bahwa dalam hidup ini sering manusia disuruh memilih mana yang harus dilakukannya, sehingga butuh keberanian untuk itu semua. Untuk itu mereka yang sudah mengetahui apa yang harus diperbuatnya maka dengan sendirinya berjalan sesuai dengan apa yang sedang dijalaninya.



Seperti dalam Slokantara 3. 7


Nasti satyat paro dharmo nanrtat patakam param, triloke ca hi dharma syat tasmat satyam na lopayet.


Kalinganya, tan hana dharma lewiha sangkeng kasatyan, matangyan haywa lupa ring kasatyan ikang wwang


Artikel Terkait Vasudhaiva Kutumbakam :


Artinya

Tidak ada dharma (kewajiban suci) yang lebih tinggi dari kebenaran  (satya), tidak ada dosa yang lebih rendah dari dusta. Dharma harus dilaksanakan di tiga dunia ini dan kebenaran harus tidak dilanggar.


Ulasan

Dikatakan bahwa tidak ada kewajiban suci yang melebihi kebenaran oleh karena itu jangan lupa bahwa manusia harus melakukan kebenaran. Oleh karena itu mereka yang merasa punya kelebihan dalam melaksanakan dharma dalam kesehariannya.


Dengan demikian jadilah manusia yang mampu menjalankam dharma setiap langkah kehidupannya sehingga akan mudah setiap langkah hidupnya.

Om Santih Santih Santih Om


Aris Widodo

Penyuluh Agama Hindu

Kota Serang




Jumat, 20 Mei 2022

Percikan Dharma Saya Bangga Menjadi Hindu

 Percikan Dharma

Saya Bangga Menjadi Hindu


Om Swastyastu

Umat se-dharma yang saya banggakan, pertama-tama mati kita panjatkan puji astuti angayubagyo kepada Sang Hyang Widhi Wasa karena atas asung kertha wara nugraha-Nya kita dapat berkumpul  bersama-sama di tempat ini dalam keadaan sehat. Sejarah telah membuktikan bahwa apa yang terjadi di dunia ini adalah karena adanya Tuhan/ Sang Hyang Widhi Wasa yang mana Agama Hindu adalah Agama tertua di dunia tanpa ada yang menyangkalnya. Dalam kurun waktu yang sangat panjang Agama Hindu tetap eksis di dunia dan tidak akan ketinggalan jaman walaupun usia dunia semakin tua karena Agama Hindu bisa menyesuaikan dengan perubahan jaman yang semajin modern. 



Agama Hindu memang menjadi barometer untuk dapat menyeimbangkan keserasian antara alam semesta dengan manusia yang senantiasa saling membutuhkan guna untuk kepentingan yang lebih berdaya guna. Saya bangga menjadi Hindu karena dalam ajaran yang ada dikitab Suci Weda sangat universal dan bisa mengikuti perkembangan jaman sehingga hal-hal yang tak mungkin menjadi mungkin dan ini semua telah  terbukti bisa dikupas dalam Weda. 

Dalam Agana Hindu menjangkau pada umat manusia mengenai hal-hal yang bisa dimengerti dan cepat  dipahami oleh umat  manusia serta dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari tanpa harus membutuhkan biaya yang lebih. Kalau kita bisa berpikir lebih jauh mengenai kehidupan di dunia ini maka tidak ada yang namanya peperangan, permusuhan, pertikaian, dan kecurangan karena dalam ajaran Agama Hindu telah banyak memberikan pengertian yang begitu dalam tentang arti kehidupan  itu. Kita bisa mengambil contoh dari isi yang terkandung dalam ajaran Tri Kaya Parisudha yang begitu agung ajarannya sehingga kita sebelum melakukan suatu tindakan harus tetlebih dahulu memikirkan apa yang akan terjadi dan bagaimana akibat yang akan ditimbulkan. Untuk itu berpikirlsh yang baik berkatalah yang baik dan berbuatlah yang baik sesuai dengan aps yang akan menjadiksn diri kita diterima oleh siapapun yang berhubungan dengan segala sesuatu dalam kehidupan ini. Kalau kita sudah bisa menjalankan ajaran Tri Kaya Parisidha dengan baik maka hal-hal yang berbau anarkis tidak akan terjadi dalam kehidupan ini sehingga apa yang akan terjadi hanyalah tentang kebaikan-kebaikan dalam hidup  dan kehidupan. 


Artikel Terkait Vasudhaiva Kutumbakam :


Dalam ajaran Agama Hindu ada keserasian /keseimbangan antara manusia dengan Tuhan , manusia dengan alam semesta dan manusia dengan manusia yang semua itu terdapat dalam ajaran Tri Hita Karana, Yang semua itu mengajarkan pada kita supaya umat manusia bisa menjaga hubungan yang harmonis dengan Tuhan/Sang Hyang Widhi Wasa, manusia dengan alam semesta dan manusia dengan manusia sehingga dalam kehidupan ini bisa harmonis diantara manusia dengan Tuhan/Sang Hyang Widhi Wasa, manusia  dengan alam semesta, dan msnusia dengan manusia sehingga dalam kehidupan harmonis serta jagat raya ini lestari. Disinilah kita diajarkan bagaimana untuk menjaga  serta melestarikan alam semesta ini dari kepunahan dsn kehancuran dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. 


Di dalam Agama Hindu ada kebebasan manusia untuk memilih jalan yang ditempuh dalam usahanya mencari Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan sehingga manusia bebas memilih jalan yang akan dilaluinya apa akan memilihh jalan Bhakti Marga, Jnana Marga, Karma Marga dan Raja Yoga Marga. Keempat jalan ini bida dipakai untuk menuju Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan yang kesemua itu di sebut Catur Marga Yoga. Berikut ini kami kutibkan mantram-mantram Weda yang mengajarkan ajaran Bhakti Marga sebagai berikut :

Om Bhur bhuah swah

tat savitur varinyam

bhargo devasya di mahi

dhiyo yonah pra codayat


Yajur Veda XXXVI.3

Artinya 

Ya Tuhan Yang Maha Kuasa sumber segala yang ada, luhur dan maha mulia, pencipta alam semesta, Kami memuja Kemahaesaan yang akan dilaluinya dalam kehidupan ini. Di samping itu manusia juga diberikan kelebihan dari pada makhluk lain sehingga manusia bisa menentukan mana yang baik maupun yang tidak baik.


Agama Hindu memberikan banyak tuntunan bagi umat manusia dalam menjalani hidup dan kehidupan sehingga manusia tingg





Kamis, 19 Mei 2022

Percikan Dharma Kebenaran Melindungi Hidup Seseorang

 Percikan Dharma

Kebenaran Melindungi Hidup Seseorang


Om Swastyastu

Umat se-dharma, benar adanya bahwa kebenaran pasti aksn selalu melindungi seseorang yang melaksanakan dalam hidupnya. Untuk itu gunakan kesempatan hidup ini mekaksanakan hal-hal yang bernuansa kebenaran dan kebaikan sehingga benar-benar mendapatkan kebahagiaan dan kesejahteraan.



Sa ma satyoktih pari patu visavatah,

dyava ca yatra tatanan ahani ca.

visvam anyan-ni visate yad ejati

visvahapo visvahodeti suryah.


Rg Veda X. 37.2


Artinya

Hendaknyalah pembicaraan kebenaran-Mu memberikan suatu perlindungan yang teliti kepada kami. Kahyangan (sorga) dan bumi, siang dan malam dikembangkan oleh kebajikan kebenaran. Semua makhluk yang bergerak bertempat tinggal di dalam kebenaran. Sungai-sungai mengalir dan matahari terbit setiap hari dengan memjalankan hukum alam.


Artikel Terkait Vasudhaiva Kutumbakam :


Ulasan

Bahwa dalam suatu kehidupan apabila selalu menjalankan kebenaran niscaya semua masalah dapat teratasi dengan campur tangan Hyang Widhi. Karena hanya dengan kebenaran dan kebajikan dalam hidup di dunia ini yang mampu menyelamatkan umat manusia dari segala macam rintangan di dunia ini.


Untuk itu jalankan kebenaran ini dalam setiap langkah kehidupan yang kita jalani karena hanya inilah jalan yang mampu membebaskan kita dari marabahaya. Demikian dengan melaksanakan kebenaran dan kebajikan dalam hidup ini tentu akan memudahkan langkah kita menuju yang lebih baik.

Om Santih Santih Santih Om


Aris Widodo

Penyuluh Agama Hindu

Kota Seramg




Rabu, 18 Mei 2022

Percikan Dharma Catur Asrama

 Percikan Dharma Catur Asrama  (Empat tahapan hidup manusia)

Om Swastyastu

Umat sedharma, dalam kehidupan ini ada empat tahapan kehidupan yang disebut Catur Asrama.

1. Brahmacasri Asrama, artinya suatu tingkatan atau tahapan untuk menuntut ilmu pengetahuan. Dalam kitab manawa dharma sastra disebutkan bahwa umur untuk mulai belajar adalah semasa ansk-anak yaitu dimulai dari umur 5 tahun dam selambat-lambatnya umur 8 tahun. Pada masa ini wajib menuntut ilmu pengetahuan untuk mempersiapkan diri menuju masa depan yang gemilsng, "taki katining sewaka guna widya". Artinya seorang siswa wajib menuntut mu samasa muda.


2. Grhasta, artinya suatu tingkatsn atau tahapan hidup berumah tangga. Grhasta berasal dari dua kata grha dan stha. Grha  artinya rumah, stha artinya berdiri atau membina. Jadi Grhasta artinya masa membina rumah tangga. Pada masa grhasta tujusn hidup yang diprioritaskan adalah mendapatkan artha dan memenuhi kama. Adapun tujuan grhasta yang utama adalah mencari harta benda untuk dapat memenuhi hidup (kama) dengan berdasarkan dharma. Kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan oleh seorang grhasta adalah

1. Bekerja mencari harta

2. Menjadi pemimpin rumah tangga

3. Menjadi anggota masyarakat yang baik

4. Melanjutkan keturunan.


3. Wanaprastha, artinya suatu tingkatan atau tahapan hidup manusia pada masa persiapan untuk melepaskan diri dari ikatan keduniawian. Wanaprastha artinya mengasingkan diri ke dalam hutan dengan mendirikan pertapaan. Pada masa ini kewajiban sudah tidak ada lagi di dunia seperti anak-anaknya sudah pada berumah tangga.tujuan hidup pada masa grhastha adalah persiapan mental dan fisik untuk dapat menyatu dengan Hyang Widhi.


4. Bhiksuka atau Sannyasin, artinya peminta-minta, maksudnya pada masa ini orang sudah tidak mampu lagi untuk mencari kehidupannya sendiri, sehingga mereka hidup dari belas kasihan dari anak-anaknya. Bhiksika atau Sannyadin adalah tingkatan atau tahapan kehidupan telah lepas sama sekali dari segala ikatan keduniawian (Moksa) dan hanya mengabdikan diri kepada Hyang Widhi.


Demikian umat sedharma bahwa dalam Catur Asrama yang harus dijalaninya sesuai tahapan-tahapan yang sudah diberikan dari Hyang Widhi melalui para Maharsi kita sehingga kita tinggal menjalaninya.

Om Santih Santih Santih Om


Aris Widodo

Penyuluh Agama Hindu

Kota Serang

Sabtu, 16 April 2022

Apakah Tumimbal Lahir itu ada ?

Apakah Tumimbal Lahir itu ada ?

Swami Sivananda menulis dalam majalahnya “Divine Life”, bahwa Tumimbal Lahir itu benar-benar ada. Swamiji mengatakan, bahwa 20 tahun yang lampau Delhi (India) telah gempar oleh karena ada kejadian yaitu seseorang gadis kecil dapat mengingat kehidupannya (inkarnasi) yang telah lewat.

 


Gadis kecil itu bernama Shanti Dewi, lahir pada tanggal 12 Oktober 1962 di Delhi. Ia dapat menceritakan berbagai pengalaman dalam kehidupannya yang lalu itu secara jelas samai pada kejadian-kejadian yang kecil.

 

Ia hidup dahulu di India juga, yaitu di Kota Muttra, suaminya bernama Pandit Kedar Nath Chaubey. Suaminya dahulu itu masih hidup pada saat itu dan masih menetap di tempat itu. Orang tua yang sekarang dari gadis itu tidak percaya akan cerita gadis itu mengenai pengalaman-pengalaman dalam hidupnya yang lalu. Mereka menganggapnya hanya sebagai obrolan anak-anak belaka (cerita khayalan). Tetapi kemudian gadis kecil itu diijinkan juga untuk berkunjung ke Kota Muttra. Kepada orang yang disebut sebagai bekas suaminya, yaitu Pandit Kedar Nath Chaubey dikirim sepucuk surat. Kemudian bekas suaminya itu yang masih terdiam di Muttra membalas surat itu. Bahkan ia menyarankan agar gadis kecil tersebut itu menemui keluarganya yang bernama Pandit Kanji Mal dan bekerja pada Messers Bhana Mal Gulseri Mal di Delhi, serta mengadakan tanya jawab dengannya. Oleh karena pembicaraan yang dilakukan tadi memang benar menunjukkan adanya hubungan keluarga dari hidupnya yang lampau, maka bekas suaminya, Kedar Nath Chaubey, berkunjung ke Delhi dengan mengajak putranya yang berumur sepuluh tahun serta istrinya yang baru untuk menemui Shanti Dewi.

 

Demikian Shanti Dewi berhadapan dengan Pandit Kedar Nath Chaubey, segera dapat mengenalnya; bahwa pria yang baru datang itu adalah bekas suaminya dan sangat terharu melihat putranya itu, sehingga bekas istrinya dan ibu mencucurkan air mata.

Setelah Shanti Dewi mengadakan percakapan dengan Pandit Kedar Nath, tak dapat diragukan lagi bahwa Shanti Dewi benar-benar adalah penjelmaan dari roh bekas istrinya yang pertama.

 

Bekas suaminya menyatakan, bahwa segala sesuatu yang diutarakan oleh Shanti Dewi semuanya tepat. Shanti Dewi kemudian diijinkan pula berkunjung ke Muttra. Sebelum sampai di tempat itu terlebih dahulu ia sudah dapat menceritakan mengenai warna rumah yang pernah didiaminya di Muttra itu, serta nama-nama jalan yang menuju ke rumah tersebut, tentang Mandira (temple) di Dvarakadeesh dan lain-lain, yang hanya dapat diketahui oleh bekas istri Pandit Kdar Nath.

 

Shanti Dewi menceritakan pula tentang uang yang dipendam di kamar loteng rumahnya di Muttra sebanyak seratus Rupee, yang sedianya akan disumbangkan kepada Mandira (temple) di Dvarakadeesh. Perjalanan ke Muttra itu disertai oleh suatu Panitia Penyelidik, termasuk pula ibu bapaknya yang baru. Ketika kereta api memasuki stasiun Muttra, Shanti Dewi meloncat-loncat kegirangan. Sambil senyum-senyum bahwa mereka telah tiba di Muttra. Seorang laki-laki tua yang ada di antara orang banyak di stasiun itu segera dikenal oleh Shanti Dewi sebagai kakak bekas suami yang bernama Babu Ram Chaubey.

 

Setibanya di Muttra, justru Shanti Dewilah yang menjadi petunjuk jalan dari stasiun ke rumah bekas suaminya. Sepanjang jalan ia menceritakan tentang keadaan jalan di situ. Tatkala Shanti Dewi diajak berkunjung ke Dharmashala di Muttra, ia juga dapat mengenal dengan segera saudara laki-lakinya yang pada saat berjumpa itu berumur 20 tahun dan langsung mengenal pula salah seorang saudara Bapak mertuanya.

 

Waktu tiba di rumah bekas suaminya di Muttra dan menginjakkan kaki di pelataran rumah, ia dapat menunjuk dimana dahulu ada sumur tanpa dinding, yang kemudian ternyata sudah ditutup dengan batu oleh suaminya. Ketika naik ke loteng Shanti Dewi menggali suatu tempat dimana dahulu ia pernah memendam uang, namun uang tersebut sudah tidak ada lagi. Menurut pengakuan Pandit Kedar Nath, bekas suaminya, uang tersebut sudah diambilnya setelah istrinya meninggal.

Ketika diajak berkunjung ke rumah bekas ibu bapaknya yang pada waktu itu masih hidup, Shanti Dewi juga dapat mengenal mereka. Pertemuan itu demikian mengharukan sehingga menimbulkan cucuran air mata. Kisah Shanti Dewi seperti yang diceritakan di atas, bukanlah suatu kisah yang luar biasa di India.

 

Baru-baru ini juga ada kisah-kisah serupa. Misalnya : seorang anak perempuan dapat mengenal ibu bapaknya dari kehidupannya (inkarnasinya) yang lampau. Ketika diselidiki dan ternyata benar, maka bekas ibu-bapaknya itu yang memang adalah keluarga kaya, lalu memberikan tunjangan kepada anak perempuan itu, sebab dalam kelahirannya sekarang ini ia mempunyai orang tua yang kurang mampu.

 

Maka sangatlah disayangkan bila orang tidak percaya adanya Tumimbal Lahir. Tumimbal Lahir itu bukan saja suatu kenyataan (Spiritual fact), tetapi memang penting bagi kemajuan dan kesadaran hidup sesuatu roh (individual soul) dalam perjalanannya menuju kesempurnaan.


CHANNEL YOUTUBE SAYA - MOHON DI SUBSCRIBE

Cari Artikel di Blog ini

Berita Terkait Semangat Hindu

Artikel Agama Hindu

108 Mutiara Veda 3 kerangka agama hindu advaita visistadviata dvaita Agama Hindu Dharma agama islam Ajaran Hindu aksara suci om alien menurut hindu Apa yang dimaksud Cuntaka Apa yang dimaksud dengan Japa Apa yang dimaksud dengan Puja arcanam nyasa aris widodo artikel hindu arya dharma Arya Wedakarna Asta Brata Atharvaveda Atman avatara sloka babad Badan Penyiaran Hindu bagian catur weda bahasa jawa kuno bahasa kawi bahasa sanskerta Banggalah Menjadi Hindu banten hindu bali Belajar Hindu BELAJAR ISTILAH AGAMA HINDU bhagavad gita Bhagawadgita bhagawan bhuta yadnya Bimas Hindu BPH Banten brahma wisnu siwa Brahman Atman Aikyam brahmana ksatriya wesia sudra budaya bali budha kliwon sinta Bukan Heroisme buku hindu terpopuler Canakhya Nitisastra cara sembahyang hindu catur asrama Catur Brata Catur Cuntakantaka Catur Purusha Artha Catur Purusharta catur veda Catur Warna Catur Weda Cendekiawan Hindu Cinta Kasih Dalam Perspektif Hindu Dana Punia Deva adalah sinar suci Brahman Deva Brahma Deva Indera dewa dewi hindu dewa yadnya dewata nawa sanga dewi kata-kata dewi saraswati dharma artha kama moksa Dharma Santi dharma wacana Doa Anak Hindu donasi buku hindu epos mahabharata ramayana filosofi pohon bambu filsafat agama hindu ganesha Gayatri Sebagai Mantra Yoga Hari Raya Galungan Hari Raya Kuningan Hari Raya Nyepi Hari Raya Pagerwesi Hari Raya Saraswati Hari Raya Siwaratri HINDU adalah ARYA DHARMA HINDU ADALAH SANATHANA DHARMA HINDU ADALAH VAIDHIKA DHARMA Hindu Agama Terbesar di Dunia Hindu Banten Hindu beribadah di Pura Hindu Festival Hindu Indonesia hindu nusantara Hindu Tengger Hinduism Facts Hinduism the Greatest Religion in the Word Hukum Karma Ida Pedanda sakti isi catur weda Jadilah Manusia Setia Japa dan Mantram Jiwa jual buku hindu kakawin Kamasutra Keagungan Aksara Suci OM Kekawin Lubdhaka kepemimpinan jawa kuna Kerajaan Hindu Keruntuhan Agama Hindu kesadaran diri kidung dewa yadnya Kitab Suci Weda lontar Lontar Kala Maya Tattwa Maharsi Atri Maharsi Bharadvaja Maharsi Gritsamada Maharsi Kanva Maharsi Vamadeva Maharsi Vasistha Maharsi Visvamitra manawa dharma sastra Mantra Mantra Yoga manusa yadnya Meditasi Matahari Terbit Mengapa Kita Beragama menghafal sloka Mimbar Agama Hindu Moksha Motivasi Hindu Mpu Jayaprema nakbalibelog Naskah Dialog Nuur Tirtha Om or Aum one single family opini hindu moderat Panca Sradha panca yadnya Panca Yajna pandita Panglong 14 Tilem Kepitu parahyangan agung jagatkartta paras paros segilik seguluk Pasraman Pasupati Pembagian Kitab Suci Veda Pemuda Hindu Indonesia pendidikan hindu pengertian catur weda Pengertian Cuntaka penyuluh agama hindu Peradah percikan dharma Percikan Dharma Dewa Yajna phdi pinandita Pitra Yadnya Ngaben Pitrapuja potong gigi Principle Beliefs of Hinduism Proud To Be Hindu Puja dan Prathana Pujawali purana purnama tilem Purwaning Tilem Kapitu Radio online Bali rare angon nak bali belog Reinkarnasi Rgveda ritual hindu Roh Rsi yadnya sabuh mas sad darsana sad guru Samaveda sanatana dharma sang hyang pramesti guru Sang Kala Amangkurat Sang Kala Dungulan Sang Kala Galungan Sang Kala Tiga sapta rsi Sapta Timira Sarassamuscaya Sarassamuscaya Sloka sattvam rajah tamah sejarah agama hindu Sekta Hindu Semangat Hindu seni budaya hindu Sex and Hinduism siwa budha waesnawa siwa ratri Sloka sloka bhagawad gita sloka bhatara sloka Rgveda sloka yayurveda Slokantara Sloka Spiritual Bersifat Misterius spiritualitas hindu spma ribek sradha dan bhakti sri rama krishna paramahansa Sri Sathya Sai Baba Sri Svami Sivananda sumpah dalam perkara tabuh gesuri tabuh kreasi baru tabuh telu lelambatan tantri kamandaka tat twam asi tattwa susila upakara Tempat Suci Hindu tiga hubungan harmonis tri hita karana Tri kaya parisudha tri kerangka agama hindu tri mala tri pramana Triji Ratna Permata tujuan perkawinan tujuh penerima wahyu tumimbal lahir upacara hindu upacara menek deha Upanisad upaweda Utsawa Dharma Gita vaidhika dharma Vasudhaiva Kutumbakam VEDA ADALAH ILMU PENGETAHUAN SUCI vedangga Vijaya Dashami Wasudewa Kutumbhakam widhi tatwa wija kasawur wiwaha agama hindu Yajna dan Sraddha yajna dan sradha Yayurveda Yoga Kundalini