Semangat Hindu Belajar Filsafat Hindu Mari Berbagi Artikel Singkat Aktivitas Keagamaan, Sosial Budaya, Adat Istiadat, Suka dan Duka, Social Bookmarking
OM. SA, BA, TA, A, I, NA, MA, SI, WA, YA, AM, UM, OM
PRAKATA
Selamat Datang
Semangat Hindu merupakan blog bersama umat Hindu untuk berbagi berita Hindu dan cerita singkat. Informasi kegiatan umat Hindu ini akan dapat menumbuhkan semangat kebersamaan. Semangat Hindu semangat kita bersama.
Bersama Semangat Hindu kita berbagi berita dan cerita, info kegiatan, bakti sosial dan kepedulian, serta kegiatan keagamaan seperti ; pujawali, Kasadha, Kaharingan, Nyepi, Upacara Tiwah, Ngaben, Vijaya Dhasami dan lain sebagainya.
Marilah Berbagi Berita, Cerita, Informasi, Artikel Singkat. Bagi yang mempunyai Web/Blog, dengan tautan URL maka dapat meningkatkan SEO Web/ blog Anda.
Sebagai penghobby ng-blog atau yang lebih keren disebut blogger selalu ingin sesuatu yang baru. Walaupun sebenarnya itu bukanlah sesuatu yang benar-benar baru, hanya saja karena sang blogger baru menemukan atau mengetahuinya. Seperti halnya Bloggeroid ini, admin mencoba menjajalnya dulu, sebelum dipergunakan. Pastinya secara program Bloggeroid itu sudah teruji, namun tidak demikian halnya dengan admin yang masih gagap teknologi alias gaptek....
Masih banyak yang dibutuhkan untuk bisa mahir posting dengan app Bloggeroid ini, seperti memasukkan tagline, image, link, atau adsense. Padahal ini adalah hal yang patut dan harus bisa dikerjakan oleh blogger dimanapun kita akan posting.
Sekian uji coba posting dari bloggeroid... semoga berhasil...
Di hadapan Sang Pandita yang sedang " Nyurya Sewana " tertata benda-benda yang menarik perhatian kita : bunga harum warna-warni, toya (tirtha), bija, rumput suci, dupa dan dipa. Benda-benda terpilih ini memang tidak banyak jumlahnya, namun makna yang dikandungnya begitu dalam. Bunga harum semerbak warna-warni tidak saja dapat dijadikan simbol kebahagiaan hati, kegembiraan dan mekarnya hati, tetapi adalah sari tumbuh-tumbuhan; toya yang hening adalah sarana penyucian, bija adalah padi, adalah benih kesucian, dupa dengan asapnya yang harum dan menyusup di angkasa bagaikan fikiran suci yang menyusup ke dalam alam, dan dipa, api yang tenang namun memberi cahaya yang cemerlang, bagaikan fikiran yang tenang namun memancarkan sinar cemerlang. Sebuah nyanyian rokhani yang dipopulerkan dalam masyarakat menyebutkan : "Asep menyan majagau, candana nuhur dewane ........" asap harum yang keluar dari kemenyan gaharu dan sendana, bagaikan mengundang kehadiran para dewa (yang berbadankan cahaya) .... Dupa harum bagaikan mengundang para dewa, kekuatan Tuhan sebagai Maha Cahaya. Asap dan bau harum yang menyusup ke angkasa bagaikan mengundang cahaya-cahaya cemerlang di langit untuk menyinari dunia, menyinari sang pemuja yang dengan pikiran suci, hati yang suci, diri yang suci mengharap kehadirannya. Sedangkan dipa, api yang tenang namun memancarkan sinar cemerlang menjadi perhatian para kawi. Susastra sering diumpamakan sebagai dipa yang memancarkan sinar cemerlang. Susastra dipanikang bhuwana sumeno prabhaswara ; Ilmu pengetahuan yang utama adalah bagaikan dipa-nya dunia yang bersinar cemerlang. Dalam kakawin Ramayana ada disebutkan bagaikan gua yang gelap pikiran yang dikuasai oleh kemabukan, kesombongan, dan kebusukan, dan keserakahan bagaikan ilar berbisa yang menempati gua itu, namun susastra, pengetahuan kesucian dapat dijadikan obor penerang memasuki gua itu.
Dupa dan Dipa yang merupakan api pemujaan, yang ditempatkan dihadapan sang pandita yang tengah menguncarkan mantra-mantra memuja Hyang Widhi, adalah api yang dimaksud untuk memberikan kebahagiaan kepada seluruh jagat. Kadi bahni ring pahoman, dumilah mangde sukaning rat, bagaikan api di tungku pedupaan, menyala-nyala membuat bahagianya seluruh dunia. Setiap pagi para pandita memuja melakuak Surya Sewana, dengan sarana dupa dan dipa dihadapannya, untuk kerahayuan dan kebahagiaan seluruh jagat, seluruh bhuwana. Dupa dengan asapnya yang harum menyusupkan kebahagiaan ke seluruh jagat, juga mengundang kehadirian para dewa, pembawa cahaya yang akan memberikan kebahagiaan kepada seluruh jagat, dipa dengan cahayanya yang menyinari, memberikan suluh di kala kegelapan, juga menuntun kita ke jalan kebahagiaan. Tamaso ma jyotir gamaya ; Semoga Hyang Widhi menuntun kita dari kegelapan ke jalan yang disinari.
Sumber bacaan buku Wija Kasawur 2 Ki Nirdon. (RANBB)
Ada sebuah karya sastra kakawin berjudul Arjuna Wiwaha Karya Mpu Kanwa namun ada pula yang memakai judul Arjuna Wijaya Karya Mpu Tan Tular. Karya yang lain memakai judul Abhimanyu Wiwaha, Subhadra Wiwaha, disamping karya sastra kakawin berjudul Pretu Wijaya, Hari Wijaya, Kresna Wijaya, Ratna Wijaya, Rama Wijaya dan yang lain. Baca artikel Perempuan dalam Dunia Kakawin.
Wiwaha dan Wijaya menjadi menarik perhatian kita. Wiwaha di dalam kamus biasa diterjemahkan dengan "perkawinan" atau "membawa pergi"; sedangkan Wijaya diterjemahkan dengan "kemenangan", "keberhasilan". Namun makna dalam kamus tentu tidak sama dengan makna simbolik. Baca artikel Sudahhkah Dharma Mengalahkan Adharma?
Ada sebuah jawaban yang diberikan oleh Sang Arjuna kepada Bhatara Indra yang menyamar sebagai pandita ketika menggodanya : .......hana pinaka kakangkwan Sri Dharmatmaja karengo, sira ta pinatapaken mahyun digjaya wijaya. "............. ada kakak hamba Sang Dharmawangsa, kepadanyalah hamba mengabdikan diri demi kejayaannya ". Dan ketika Mpu Kanwa menggambarkan perasaan Sang Arjuna setelah bertemu dengan saudara-saudaranya disuratkan dalam kakawin Arjuna Wiwaha sebagai berikut : ...........Saksat wah suka ramya rakwa kadi megha manuruni tasik, sangsiptan ri huwus nikang samaya digwijaya gati nira .".........bagaikan air bah kesenangan beliau atau bagaikan mendung menjatuhkan hujan di samudera; singkatnya mereka telah berikrar untuk mencapai kemenangan yang dilang gemilang."
Bahwa Jaya, Wijaya, Digjaya, itulah yang menjadi tujuan Sang Arjuna melakukan pertapaan. Dan semua itu dilukiskan dengan indah dalam sebuah karya sastra kakawin Arjuna Wiwaha. Arjuna dalam karya sastra yang digubah oleh Mpu Kanwa dari itihasaMahabharata (pada bagian Wana-parwa) itu memang melukiskan perkawinan antara Arjuna dengan para bidadari setelah ia berhasil mengalahkan maharaja sakti namun sombong Niwatakawaca, para bidadari yang sebelumnya ternyata telah gagal menggodanya. Tetapi di balik itu Mpu Kanwa sesungguhnya ingin melukiskan perkawinan antara sang pertapa Arjuna dengan sakti yang diterimanya atas anugerah Hyang Siwa.
Setelah Sang Arjuna berhasil mengalahkan segala godaan yang ditimpakan kepada dirinya, Hyang Siwa, Dewata Penganugerah hadir dihadapannya. "Ananda ternyata telah berhasil menemukan segala kehendakmu; ada anugerah berupa Cadu Sakti (empat kekuatan) dalam bentuk senjata, panah Pasupati namanya sangat terkenal, lihatlah !". Arjuna mendapat anugerah berupa "senjata" Cadusakti, empat sakti. Dalam kitab-kitab Siwa-tattwa dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan Cadusakti tiada lain adalah Wibhusakti, Prabhusakti, Jnanasakati dan Kriya sakti. Wibhusakti bermakna maha ada, menyusup pada semua yang ada (bagaikan api dalam kayu, minyak dalam santan), Prabhusakti bermakna maha kuasa, Jnanasakti bermakna maha mengetahui, dan Kriya sakti bermakna maha karya.
Itulah sakti yang diterima oleh ksatria pertapa Arjuna. dan Arjuna manunggal, bersatu atau kawin (samyoga, samgama wiwaha), dengan keempat sakti itu. Maka Arjuna pun kemudian disebut sebagai "manusia sakti". Baca artikel Seberapa Dekatkah Anda dengan Tuhan Anda ? Ketika Daitya Niwatakawaca mendapat anugerah Hyang Siwa karena kuatnya tapa yang dilakukannya, anugerah berupa kekuatan utama yaitu tidak akan terbunuh oleh dewa, yaksa dan raksasa, Hyang Siwa berpesan kepadanya, "nghing yan manusa sakti yanta juga ko !" (tetapi jika ada manusia sakti, hati-hati engkau). Dan ternyata "manusia sakti" yang harus dihadapinya tiada lain adalah Sang Arjuna yang telah mendapat anugerah senjata Cadusakti. Maka Arjuna telah melakukan Wiwaha dengan mencapai Wijaya.
Sumber bacaan buku Wija Kasawur 2 Ki Nirdon. (RANBB)
Jalan Menuju Kemenangan. Sabda Sathya Sai. Dengan usaha dan keyakinan yang mantap, kemenangan adalah jaminannya. Pendekatan disiplin menghasilkan panen yang berlimpah. Kita harus terus melangkah maju meskipun mengalami sedikit kemunduran dan hambatan. Ketika latihan yang kita lakukan sesuai dengan aturan dan kita mendapatkan rahmat Tuhan, maka hadiah dari usaha yang kita lakukan akan diberikan.
Hanya dengan keyakinan yang mantap yang dapat memberikan kemenangan. Engkau tidak dapat merubah kesetiaanmu sesuka hatimu. Peganglah dengan kuat sampai kesadaran itu diberikan.
Keyakinan membantu kita dalam mengejar tujuan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Tuhan menganugrahkan keyakinan dengan rahmat Beliau. Tuhan penuh dengan rasa kasih sayang sehingga Beliau tidak akan mengecewakan bagi para pencari spiritual yang bersungguh-sungguh. Kepastian dari harapan kita adalah seperti kekuatan dari gemuruh ombak yang besar, ini akan menyapu bersih semua rintangan yang menghalangi jalan.
Keyakinan dapat bekerja sangat menakjubkan, ini dapat mendorong Tuhan untuk mengejewantahkan diri-Nya sendiri dan memberikanmu apa yang engkau yakin yang akan Beliau berikan.
Sabda Sathya Sai 2, halaman 216.
Keyakinan yang mantap tidak tumbuh dalam waktu satu malam. Keyakinan ini tiba dengan kareta yang lambat, ditarik oleh banteng-banteng kekuatan dan ketetapan hati. Tidak ada lagi objek lain yang penting untuk dicari selain dari menyadari kehadiran Tuhan yang ada dimana-mana. Keyakinan yang kita miliki memberikan kepada kita kesabaran ketika kita mengembangkan kemampuan membedakan dalam bidang spiritual. Kemampuan ini memungkinkan bagi kita untuk mengetahui mana yang nyata dan nilai-nilai yang kekal. Ketika kita merasakan rasa manis dari nilai spiritual, perjalanan itu menjadi sebuah kesenangan, sampai tiba waktunya, keyakinan menyokong penglihatan.
Keyakinan hanya dapat datang secara perlahan, melalui bergaul dengan orang-orang yang baik, membaca kehidupan dan pengalaman dari orang-orang yang baik, dan mendapat pengalaman sendiri.
Sabda Sathya Sai 7 , halaman 124.
Sumber bacaan Buku Jalan Setapak Menuju Tuhan (Pathways to God) Jonathan Roof. Penerbit Yayasan Sri Sathya Sai Baba Indonesia, Jakarta, 2013. (RANBB)
TUTUR dan TUTUD. Tutur dan Tutud tidak berasal dari bahasa Sanskerta, namun keduanya menjadi istilah yang sarat makna dalam ajaran spiritual Hindu yang mengakar di Indonesia. Tutur dan Tutud adalah bahasa Kawi, bahasa yang dipakai oleh para Kawi-Wiku dalam menulis karya-karya sastra dan filsafat. Tutur berarti "sadar" , lawan kata kata lupa (lupa), dalam bahasa Sanskerta disebut Smrti; sementara itu tutud berarti "pusat ati", dalam bahasa Sanskerta disebut hredaya. Apa hubungan kedua kata ini ? Dalam lontar Maha-padma kedua kata ini tersurat dalam suatu deretan kata yang sangat menarik, dalam sebuah tuangan makna yang mendalam : Hana ta ya otot apetak-putih ring tutud. Ya sanghyang Tutur Jati ngaran. Yeka ta paraning matutur, yang mengeta mwang lupa. Apan ing menget matutur, sangkan ing lupa. Apan sangkan in matutur, sangkan ing menget. Apan sangkan ing menget, ya sangkan ing lupa. Ya ta sira ingaranan ta rasa lupa. Rasa lupa, ngaran, yan ta hana karana ring bhuwana, mwang sarira. Apan sira sinangguh Sang Hyang Siwa, apangawak tutur langgeng. Adalah "otot" yang berwarna putih di ari, itu disebut Sang Hyang Tutur-Jati. Itulah pusat kesadaran, ingat dan lupa. Karena ingat dan sadar adalah asal dari lupa. Karena asal sadar adalah juga asal ingat. Karena asal ingat adalah juga asal lupa. Itulah yang disebut rasa-lupa. Yang dimaksud rasa-lupa adalah apabila pikiran telah tidak dibelenggu oleh dunia (bhuwana) adan badan (sarira). Kesimpulannya : Kesadaran Abadi itulah yang "Kuasa", karena Beliau disebut Sang Hyang Siwa, yang berbadankan ("kesadaran Abadi") Hyang Siwa bersthana di dalam "tutud" yang berwarna putuh. Bagi seorang Sadhaka, seorang yogi, tutud berada dalam diri di ati, namun bagi masyarakat luas, mereka perlu membuat "tutud" di luar dirinya. Maka mereka lalu mendirikan tempat suci, mendirikan Padmasana untuk mensthanakan lalu memuja Hyang Siwa. Dan para Kawi menjadikan karya sastranya sebagai "tempat suci" lalu mensthanakan Hyang Siwa di tempat suci yang disusun dengan untaian indah batu-bata kata itu. Mpu Kanwa misalnya dalam candi bahasa kakawin Arjunawiwaha, secara khusus menempatkan kata tutur dalam konteks yang sangat menarik, yaitu dalam kidung pujaan ke hadapan Hyang Siwa : .... sang maksat metu yang hana wwang amuter tutur pinahayu. "Hyang Siwa akan nampak dengan nyata apa bila ada orang memerah "tutur" dengan benar ". Sebelumnya Mpu Kanwa menyusun kata-kata sebagai berikut: Yang langgeng ikan Siwasmrti dateng sredhha Bhatareswara . "Kalau langgeng kesadaran Siwa di hati tentu Beliau akan memberikan anugerah". Siwasmrti sama dengan Siwatutur, maka kalimat itu dimaksudkan juga untuk mengatakan : Sang Hyang Siwa apangawak tutur langgeng, sebagaimana tersurat dalam lontar Maha-padma diatas. Maha-padma juga menyuratkan bahwa tutud yang menjadi pusat tutur adalah juga berada di rongga dalam bunga kadali atau kadalipuspa (mareng kuwung dalem ing kadali puspa, nga, tutud). Sementara itu Lontar Nawaruci menyatakan bahwa tutud adalah ujungnya bunga kadali (ring kadali puspa tungtung ing tutud). Dan menurut Jnanasiddhanta akasara suci OM ketika diuncarkan oleh seorang sadhaka, oleh orang suci, jalannya melewati tutud (sang hyang Pranawa makahawan tutud) Demikianlah tutud dan tutur menjadi bahan renungan bagi para pemuja Hyang Siwa. Renungan yang juga seharusnya dilakukan pada hari Raya Siwaratri. Sumber bacaan buku Wija Kasawur, Ki Nirdon. (RANBB)
KALA DAN KALI. Setiap kita mengadakan acara Dharma Santi, acara yang terangkai dengan penyambutan Tahun Baru Saka atau Hari Raya Nyepi, kita senantiasa ingin merenungkan makna perjalanan "waktu", yang disebut sebagai Kala. Dalam kita Santi Parwa. Kala mendapat uraian penting dari Maharesi Wyasa, uraian yang disampaikan kepada Maharaja Yuddhistira : Bila menjadi kehendak Sang Kala, maka ilmu pengetahuan, mantra dan japa, demikian juga obat-obatan tidak akan membawa hasil.
Setelah menjelaskan secara mendalam tentang Sang Kala, juga Sang Kala Mretyu (Waktu Kematian, baca artikel terkait Menyadari Datangnya Kematian) yang mengerikan, Maharesi Wyasa membuat sebuah kesimpulan : " An mangkana purih niking janma, kinawasakening kala, sangsara swabhawanya, haywa ta pramada, pahahening ikang budhhi, heneben wehen remegepang moksamarga " Demikianlah keadaannya menjadi manusia dikuasai oleh waktu, dan biasanya menderita, oleh karena itu janganlah alpa, sucikanlah budi anda, tenangkan, berilah kesempatan untuk bermeditasi untuk mencapai alam "kebebasan". Dalam karya-karya sastra, khususnya mahakawya Mahabharata dan Ramayana, senantiasa kita diajak untuk merenungkan hakikat Waktu itu, kita juga disarankan untuk "bersahabat" dengannya. Suatu kali Sri Rama bercakap-cakap dengan Sang Kala, ketika beliau mengunjungi Ayodhya, dan Sang Kala hadir berwujud seorang pandita (tapa-sarupa). Setelah bercakap-cakap dengan pandita siluman ini, tidak lama kemudian Sri Rama meletakkan kerajaan. Agaknya para pemimpin diajarkan untuk memahami hakikat waktu itu. Maka dalam kitab Niti Sastra, sebuah kitab sastra-filsafat yang secara khusus ditulis untuk para pemimpin (niti) diuraikan secara mendalam dan menarik apa yang disebut zaman Kali, bagian keempat dari tahapan waktu atau zaman (Kali-Yuga). Menurut kitab ini siklus waktu ada empat tahapan disebut Catur Yuga; Kreta, Dwapara, Treta dan Kali. Kali-yuga adalah zaman kehancuran, ketika krisis terjadi dimana-mana. Ciri-ciri zaman Kali menurut kitab tersebut : ketika orang yang berkuasa adalah orang-orang kaya, dan semua lapisan masyarakat mengabdi kepada orang-orang kaya (dhaneswara). "Apabila zaman Kali tiba pada akhir masa, hanya kekayaan yang dihargai orang; kaum pejuang dan pemberani akan mengabdi kepada orang-orang kaya ( guna sura pandita widagdha pada mangayap ing dhaneswara ); semua pelajaran para pandita yang rahasia menjadi hilang, keluarga-keluarga yang baik dan para anak menipu dan mengumpat orang tuanya, orang-orang jahat mendapat penghargaan dan kepandaian ". Selanjutnya dengan sangat mengesankan disuratkan : " Negara guncang dan diselubungi kebingungan, para pemimpin tidak lagi memberikan sedekah, melainkan disedekahi oleh orang-orang kaya ( ratu hina dina dinananing dhaneswara ). " Sementara itu struktur dan sistem alam menjadi kacau : pohon-pohon cempaka, cendana, nagasari yang harum ditebang untuk memagari pohon-pohon belatung yang berduri dan gatal; angsa, merak dibunuh untuk memanjakan burung gagak dan bangau, burung-burung pemakan daging. Sungguh mengerikan gambaran yang diberikan terhadap zaman Kali itu, ketika Sang Kala (Mretyu) semakin mengicar manusia. Manusia tidak dapat menghindar dari Dewa Maut itu, karena waktu merupakan tubuhnya ( kala pinakawaknira ), ia memakan semua mahluk hidup yang ada ( sira ta amangan iking sarwabhawa ). Itulah Sang Kala, yang secara simbolik-religius adalah putra Hyang Siwa. Sumber bacaan buku Wija Kasawur (2) Ki Nirdon. (RANBB)
Guru Nanak (1469-1538) merupakan pendiri agama Sikkh, lahir di Distrik Lahore yang sekarang merupakan Pakistan Barat. Sejak kecil Guru Nanak sangat cerdas dan memiliki pengetahuan mengenai masalah-masalah kerohanian tanpa ada yang mengajarinya.
Ketika disuruh mengembalakan sapi oleh orang tuanya, Guru Nanak sering kedapatan sedang tenggelam dalam samadhi. Suatu hari ia mendapat wahyu dari Tuhan untuk pergi ke dunia ramai mengajarkan jalan cinta kasih serta toleransi.
Guru Nanak menjelajah seluruh pelosok India dan mancanegara, antara lain Mekah, Medinah, Persia, Kabul dan sebagainya, serta melakukan berbagai mukjizat. Wejangannya antara lain : Tuhan itu Maha Esa, tapi mempunyai wujud yang tidak terhingga. Tuhan itu kasih. Tuhan berada dalam Pura, Masjid, dan dimana-mana. Semua manusia sama pandangan Tuhan. Bakti kepada Tuhan dan pelayanan kepada sesama manusia tanpa membedakan kasta, kepercayaan, dan warna kulit merupakan kewajiban setiap manusia.
Ketika Guru Nanak wafat, kelompok pengikutnya yang beragama Islam dan Hindu bertengkar karena mereka ingin melakukan upacara sesuai dengan tradisi masing-masing. Pada waktu itu kain putih penutup jenazah beliau dibuka dan semuanya tercengang mendapati bahwa jenazah itu sudah lenyap, yang ada hanya seonggok bunga. Ajaran Guru Nanak dituliskan dalam kitab Guru Granth Sahib. Sumber bacaan buku Pancaran Dharma (Dharma Vahini) Wejangan Bhagawan Sri Sathya Sai Baba. (RANBB)
Si Bhanggala membeli secutak tanah milik Si Jarembha. Setelah mendirikan rumah si Bhanggala membuat sumur di pojok pekarangan. Tanah pun digali, dan ternyata segumpal emas ia temui dalam galian itu.
Mengetahui hal itusi Jarembha mendatangi si Bhanggala dan meminta emas tersebut. Alasannya ia tidak menjual emas yang ada di tanah itu, tetapi hanya menjual tanahnya saja. Si Bhanggala menolaknya karena ia beranggapan apapun yang terdapat di dalam secutak tanah yang ia beli adalah miliknya.
Maka perdebatan pun terjadi. Orang-orang pada berdatangan, lalu menganjurkan supaya mereka menyampaikan persoalannya kepada maharaja Dharmawangsa.
Sang Dharmawangsa yang telah memerintah hampir empat puluh tahun sejak kemenangannya dalam peranbf besar Bharatayuddha melihat persoalan ini sebagai tanda-tanda zaman, terlebih lagi ciri-ciri alam pun menunjukkan bahwa zaman kehancuran akan tiba, zaman kali sanghara.
Ida Pedanda Made Sidemen mengolah cerita tersebut ke dalam bentuk kakawin yang indah. Kakawin Kalpha Sanghara, dikarang pada tahun Saka 1866 atau tahun 1944 Masehi. Tidak jelas dari mana pengarang besar Bali tersebut mendapatkan sumbernya. Tetapi dalam kitab Mosalaparwa, kitab ke-enambelas yang membangun Mahabharata kita menemui cerita lain yang maknanya sama.
Tiga puluh enam tahun setelah perang besar Bharata Yuddha berakhir, terjadilah pertanda alam yang buruk. Maharaja Dharmawangsa menyadari akan adanya tanda-tanda itu. Angin kering bertiup kencang. Debu, pasir dan bahkan batu-batu kerikil berterbangan dari berbagai penjuru. Cirit bintang berjatuhan menghantam bumi dengan bara panas berpijar. Matahari selalu bagaikan tertutup debu. Pada saat terbit dan terbenam bundaran matahari seolah-olah disilang oleh tubuh-tubuh tanpa kepala. Dan memang benar. Sang Dharmawangsa mendapat kabar tentang kehancuran bangsa Wresni. Bangsa ini hancur karena saling bunuh, yang merupakan perwujudan dari kutuk para pandita. Baca Sudahkah Dharma Mengalahkan Adharma ?
Bermula dari tindakan yang dilakukan oleh para ksatria untuk mengelabui para pandita : Sang Samba menyamar sebagai wanita hamil, labu beramai-ramai diarak dan diantar menghadap sang pandita. Salah seorang mengajukan pertanyaan apakah yang akan lahir dari kandungan tersebut. Dengan sangat marah para pandita tersebut menyatakan bahwa wanita hamil tersebut sesungguhnya adalah Sang Samba, dan ia akan melahirkan bom yang akan meledak dan menghancurkan bangsa-bangsa Wresni dan Andakasa. "Kalian semua sungguh berhati jahat, kejam mabuk kesombongan. Kalian akan saling bunuh dan bom-bom besi akan memusnahkan seluruh bangsa ini", kutuk para pandita.
Maka hancurlah bangsa Wresni dalam perang saudara itu. Memang mereka diselimuti oleh kemabukan, kesombongan, asusila. Dalam kitab ini disebutkan hanya Janardhana atau Sri Kresna di antara bangsa Wresni yang bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan norma-norma kesusilaan. Maka Beliaupun terbebas dari kehancuran itu.
Tjokorda Mantuk Dirana, raja Badung yang melakukan puputan mengolah cerita itu dalam sebagian karya besarnya Geguritan Purwa Sanghara. Raja yang pengarang produktif ini menulis; Reh kocap tan saking sastra, tan mantra tatan mas manik, sida manulak sanghara, kewala sane asiki, kasusilaning budi, punika kangken perau, kukuh kaliwat-liwat, tuara keweh tempuh angin, sida mentas saking sanghara sagara. Sebab bukan sastra, bukan pula mantra atau emas permata, yang mampu menolak sanghara, hanya satu, yaitu kesusilaan budi, yang bagaikan perahu yang kukuh, yang tiada goyah diterpa angin, yang akan mampu menyebrangi lautan sanghara.
Sebuah perbandingan yang sangat berkesan, tetapi juga sebuah penegasan yang amat penting; hanya dengan kesusilaan budi kita dapat menyebrangi lautan zaman kehancuran. Sumber bacaan buku Wija Kasawur Ki Nirdon 1992. (RANBB)
Om wise we asthitim jagatuh Athaturrubhayasya yo wasi sano dewah Sawitaya triwaruthamam bhasah
Hyang Widhi, Engkau yang selalu mengunjungi rumah, mengamati hakikat_-Mu, sahabat yang murah hati. Hamba memuja-Mu dengan penuh penghormatan dalam ucapan maupun perbuatan, agar kamu mendapatkan ketenangan.
Doa Mengheningkan Cipta
Om mata bhumih putro aham prtiwyah
Hyang Widhi, semoga hamba semakin mencintai tanah air ini sebagai ibu, dan hamba adalah putra-putranya siap sedia membela seperti pahlawan.
Doa Melayat Orang Meninggal Dunia
Om swargantu, mokshantu, sunyantu, murcantu Om ksama sampurna ya namah swaha
Hyang Widhi, semoga arwah yang meninggal mendapat tempat di sorga, bersatu dengan-Mu, dalam keheningan tanpa derita. Hyang Widhi, ampunilah segala dosanya, semoga ia mencapai kesempurnaan atas kekuasaan dan pengampunan-Mu.
Doa Mengujungi Orang Sakit
Om sarwa wighna sarwa klesa
Sarwa lara roga winasa ya namah
Hyang Widhi, semoga segala halangan, segala penyakit, segala penderitaan dan gangguan Engkau lenyapkan semuanya.
Doa untuk Pedagang
Om a wiswani amrta saubhagani
Hyang Widhi, semoga Engkau menganugerahkan segala keberuntungan dan memberikan kebahagiaan kepada hamba.
Isopanisad menyatakan, "Orang yang sibuk dalam kultur kegiatan yang bersifat kebodohan akan masuk daerah kebodohan yang paling gelap." Terdapat dua jenis pendidikan, material dan spiritual. Pendidikan material disebut jada-vidya. Jada berarti "yang tidak dapat bergerak," atau material (zat). Roh dapat bergerak. Badan kita adalah gabungan antara roh dan zat. Selama roh berada di dalam badan, maka badan dapat bergerak. Sebagai contoh, jaket dan celana seseorang berpindah tempat selama ia memakainya. Nampak seolah jaket dan celana itu bergerak sendiri, namun sebenarnya badanlah yang menggerakkannya. Contoh yang lain adalah mobil. Mobil bergerak sebab pengemudi menggerakkannya. Hanya orang bodoh ( =belog ? ) yang berfikir bahwa mobil bergerak dengan sendirinya. Meskipun merupakan sebuah pengaturan mekanis yang mengagumkan, mobil tidak dapat bergerak dengan sendirinya.
Oleh karena mereka hanya diberikan jada-vidya, pendidikan yang materialistik, orang berfikir bahwa alam material ini bekerja, bergerak, dan mewujudkan begitu banyak hal mengagumkan secara otomatis. Ketika kita berada di tepi pantai, kita melihat ombak-ombak bergerak. Tetapi ombak tidaklah bergerak secara otomatis. Udaralah yang menggerakkan ombak tersebut. Dan sesuatu yang lain menggerakkan udara. Dengan cara demikian, jika Anda menelusuri ke belakang sampai penyebab tertinggi, Anda akan menemukan Krsna, sebab dari segala sebab. Itulah pendidikan yang sejati, yaitu untuk mencari penyebab tertinggi. Sumber bacaan buku Karma Keadilan Tertinggi oleh Sri Srimad A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada. (RANBB)
Di Dalam Hindu, anda dapat mengajukan semua pertanyaan yang anda inginkan tanpa dianggap orang yang ragu.
Ini satu hal yang banyak dari kita tidak memikirkannya. Namun demikian, di dalam beberapa agama lain anda tidak dapat mengajukan banyak pertanyaan tanpa keyakinan anda diragukan. Di dalam agama-agama itu, bila anda mengajukan banyak pertanyaan maka itu akan dianggap sebagai tantangan, yang berarti bahwa anda meragukan agama itu. Sementara di dalam Agama Hindu anda dapat mengajukan semua pertanyaan yang anda inginkan. Karena ini dianggap sebagai bagian dari proses pemahaman spiritual anda.
Banyak bagian pustaka suci Veda ditulis di dalam bentuk tanya jawab antara murid dengan guru. Demikianlah, di dalamnya kita menemukan ratusan ribu pertanyaan dan jawaban, semuanya berkaitan dengan tak terhitung banyaknya topik mengenai berbagai pandangan tentang pemahaman dan penjelasan tentang Tuhan atau Kebenaran Yang Mutlak dan cara-cara untuk merasakannya. Mendapat jawaban atas pertanyaan anda adalah satu jalan alamiah untuk meningkatkan pemahaman spiritual dan keyakinan anda, dan menghilangkan keraguan anda.
Namun, di dalam agama lain mengajukan terlalu banyak pertanyaan adalah tabu, atau tidak pantas, hal ini mengungkapkan bagaimana sedikitnya yang dapat dipahami di dalam agama fundamental atau elementer itu, dan bagaimana mereka masih menganggap keyakinan buta atau kualitas utama dari para pengikut mereka. Jadi, pemahaman spiritual yang murni di dalam agama semacam itu tidak akan ditingkatkan kecuali para pengikutnya mencari di tempat lain untuk mendapat jawaban penuh atas pertanyaan-pertanyaan yang lebih dalam. Sumber buku Hindu Agama Terbesar di Dunia 'Hinduism, the Greatest Religion in the World oleh Stephen Knapp dkk, editor Ngakan Made Madrasuta, penerbit Media Hindu. (RANBB)
Jasa 3D Rendering Interior Dan Eksterior
-
I worked as a drafter 3d, good build 3d autocad, 3d rendering and
impressions. I am proficient program to build 3d autocad, using 3dmaxs to
render and fin...
KALI INI ADSENSE CAIR LAGI
-
UNTUK KEDUA Kali ini *Rare Angon Nak Bali Belog* akan berbagi pengalaman
saat-saat menegangkan, menunggu pencairan Adsense. Setiap blogger biasanya
terta...